Selasa, 16 Maret 2021

NEGERI 5 MENARA BAGIAN 42

"TRAFALGAR SGUARE"




London, Desember 2003 


Bunyi gemeretak terdengar setiap sepatuku melindas onggokan salju tipis yang menutupi permukaan trotoar. Tidak lama kemudian aku sampai di Trafalgar Square, sebuah lapangan beton yang amat luas. Dua air mancur besar 
memancarkan air tinggi ke udara dan mengirim tempias dinginnya ke wajahku. Square ini dikelilingi museum berpilar tinggi, gedung opera, dan kantor-kantor berdinding kelabu, 
tepat di tengah kesibukan London. Menurut buku tourist guide yang aku baca, National Gallery yang tepat berhadapan dengan square ini mempunyai koleksi kelas dunia seperti The 
Virgin of the Rocks karya Leonardo Da Vinci, Sunflowers karya Van Gogh dan The Water-Lily Pond karya Monet. Hebatnya, semua ini bisa dilihat dengan gratis. 

Gigiku gemeletuk. London yang berangin terasa lebih menggigil daripada Washington DC. Tapi langitnya biru benderang dan buminya bermandikan warna matahari sore yang kekuning-kuningan. Uap panas berbentuk asap-asap putih menyelinap keluar dari lubang-lubang drainase di trotoar, jalan besar dan di belakang gedung-gedung. Deruman dan decitan dari mobil, bus merah bertingkat dua, dan taksi hitam khas London bercampur baur dengan suara warga kota dan turis yang lalu lalang. Hampir semuanya membalut diri 
mereka dengan jaket, sweater dan syal tejjal. Termometer digital raksasa yang menempel di dinding sebuah gedung berpendar menunjukkan minus 3 derajat celcius. Napasku bagai asap putih. 

Yang paling mencolok dari square ini adalah sebuah menara granit yang menjulang lebih 50 meter ke langit. Pondasinya dijaga empat ekor singa tembaga sebesar perahu. Di pucuk menara berdiri patung pahlawan perang Inggris Admiral Horatio Nelson yang bertangan satu dan bermata satu. Sosok ini memakai jubah militer angkatan laut yang bertabur bintang dan tanda pangkat. Celananya mengerucut ketat di lutut. Kepalanya disongkok oleh topi yang mirip kipas tangan anak yang di pelaminan. Masih menurut buku tourist guide, menara ini didirikan untuk mengenang kematiannya ketika berperang melawan Napoleon Bonaparte pada tahun 1805. 

Kaki menara dengan empat singa ini adalah tujuanku, tempat kami berjanji bertemu. 

Seorang anak kecil berambut jagung dengan jaket merah hati ayam tiba-tiba berlari di depanku. Arahnya adalah puluhan merpati yang sedang merubung remah-remah roti 
yang ditebar seorang pengemis. Dalam sekejap, kawanan merpati ini buncah, membumbung ke udara, menutupi pemandanganku. Walaupun dihalangi kepakan kawanan merpati ini, mataku tetap bisa mengenalinya. Gaya jalannya tidak berubah, energik dan meledak-ledak, hanya lebih gendut. Aku lambaikan tangan kepada Raja yang baru saja turun dari bus double decker merah menyala dan menuju ke landmark termashyur di London ini. Dia tergesa-gesa melepaskan sarung tangan kulitnya. “Kaifa haluk, ya akhi” katanya sambil menggenggam tanganku keras. Kami lalu 
berpelukan erat melepas kangen 11 tahun perpisahan.

Selang beberapa menit kemudian, sebuah kepala yang sangat aku kenal seakan tumbuh dari tanah, ketika dia keluar dari pintu exit stasiun kereta bawah tanah, atau tube Charing 
Cross. Gayanya masih dengan kacamata melorot. Hanya kali ini lensanya lebih tebal dan framenya lebih tipis dan trendi. Dan dia kini memelihara jenggot yang meranggas dan tumbuh jarang-jarang. Tidak salah lagi, dia Atang. Dia memeluk kami dan menepuk-nepuk punggungku yang dilapisi jaket tebal. Senyum lebar tidak lepas-lepas dari wajahnya yang 
kedinginan. “Pertemuan bersejarah, di tempat yang bersejarah, di jantung Kota London! Alhamdulillah,” katanya. 

Aku menunjuk ke langit sambil bergumam. 

“Ternyata ini dia Nelson’s column yang disebut-sebut di buku reading kita waktu kelas tiga dulu. Lebih besar dan lebih tinggi dari yang aku bayangkan.” 

Atang dan Raja ikut menengadah. Menatap Admiral Nelson yang tegak kukuh dengan pedang di tangan kiri dan gundukan tambang kapal di belakangannya. Bayangannya jatuh di badan kami Beberapa gumpal awan tersisa di langit yang semakin sore. 

Sebuah menara dan sebuah senja! Suasana dan pemandangan yang terasa sangat lekat di hatiku. Belasan tahun lalu, di samping menara masjid PM, kami kerap menengadah ke langit menjelang sore, berebut menceritakan impian-impian gila kami yang setinggi langit: Arab Saudi, Mesir, Eropa, Amerika dan Indonesia. Aku tergetar mengingat segala kebetulan-kebetulan seperti ini. 

Malam itu kami menginap di apartemen Raja di dekat Stadion Wembley, stadion kebanggaan tim sepakbola nasional Inggris. Raja tinggal berdua dengan Fatia, istrinya yang lulusan pondok khusus putri di Mantingan.

Sudah sebelas tahun kami tidak bertemu sambil ngopi. Tidak ada seember kopi, makrunah, dan kacang sukro. Penggantinya, Fatia menyuguhi kami kopi panas ditemani 
kofta, kebab dan kacang pistachio. 

Malam kami habiskan bercerita tiada henti tentang apa yang kami jalani setelah tamat di PM. Atang, kawanku yang dulu selalu rajin mencatat alamat orang, mempunyai informasi 
lengkap tentang kabar Sahibul Menara yang lain. Yang jelas, kami tidak berenam lagi. Kami semua sudah menikah. Atang mendapat kabar kalau kini Said meneruskan bisnis batik keluarga Jufri di Pasar Ampel, Surabaya. Sesuai cita-cita mereka dulu, Said dan Dulmajid bekerja sama mendirikan sebuah pondok dengan semangat PM di Surabaya. 

Atang bahkan punya kabar tentang Baso, si otak cemerlang yang mengundurkan diri dari PM karena ingin merawat neneknya dan menghapal Al-Quran untuk almarhum orang 
tuanya. Allah memperjalankan Baso yang brilian ini kuliah di Mekkah. Dengan modal hapal luar kepala segenap isi Al-Quran, dia mendapat beasiswa penuh dari pemerintah Arab Saudi. 

Sedangkan Atang sendiri telah delapan tahun menuntut ilmu di Kairo dan sekarang menjadi mahasiswa program doktoral untuk ilmu hadist di Universitas Al-Azhar. Sementara Raja berkisah kalau dia telah satu tahun tinggal di London, setelah menyelesaikan kuliah hukum Islam dengan gelar “License” di Madinah. Dia akan berada di London selama dua tahun memenuhi undangan komunitas Muslim Indonesia di kota ini untuk menjadi pembina agama. Raja, dengan dibantu Fatia, antara lain bertanggung jawab menjalankan kegiatan 
masjid, madrasah akhir pekan dan pengajian rutin. Dia juga mengambil kelas malam di London Metropolitan University untuk bidang linguistik. “Sebuah kebetulan yang menyenangkan. Bisa mengabdi membantu umat di sini, sekaligus kuliah di tempat yang dulu aku impikan,” katanya. 

Alangkah indah. Senda gurau dan doa kami di bawah menara dulu menjadi kenyataan. Aku tidak putus-putus membatin, “Terima kasih Allah, Sang Pengabul Harapan dan Sang Maha Pendengar Doa”. 

Bercerita dengan kawan-kawan lama membuat kami tidak ingat waktu. Tiba-tiba, laptop kepunyaan Raja mengumandangkan azan Subuh. Kami bertiga segera mengambil wudhu. Aku ragu-ragu, tapi Atang telah memulai 
apa yang juga aku pikirkan. Dia mulai mengalunkan syair itu… 

“Ilahi lastu lil firdausi ahla, wala saqwa ala nari jahimi…” Syair Abu Nawas yang mendayu-dayu ini menyiram hatiku. 

Dengan penuh haru kami bertiga dan disusul Fatia yang telah bangun, bersama-sama melantunkan syair yang menegakkan bulu roma itu, seperti yang biasa kami lakukan di 
PM sebelum shalat berjamaah. Permohonan tobat atas dosa kami yang sebanyak pasir di laut di hadapan satu-satunya Sang Pengampun.

Syair ini juga terasa menarik-narik jiwaku untuk melihat kelebatan-kelebatan kenangan tentang kampungku yang permai di Maninjau, PM yang berjasa, orangtuaku tercinta, dan Indonesia. Setelah selesai shalat, aku bergumam tak tentu kepada siapa. 

“jadi ingin pulang ya.” Raja dan Atang langsung mengangguk-angguk mengiyakan. 

“Negaraku surgaku, bila tiba waktunya, kita wajib pulang mengamalkan ilmu, memajukan bangsa kita,” balas Atang. Aku yakin kami semua sepakat dengan Atang.

Di luar apartemen, gelap dan angin dingin terus menggigit. Salju tipis kembali luruh dari langit. Hinggap di rumput dan daun. 

Dulu kami melukis langit dan membebaskan imajinasi itu lepas membumbung tinggi. Aku melihat awan yang seperti benua Amerika, Raja bersikeras awan yang sama berbentuk 
Eropa, sementara Atang tidak yakin dengan kami berdua, dan sangat percaya bahwa awan itu berbentuk benua Afrika. Baso malah melihat semua ini dalam konteks Asia, sedangkan Said dan Dulmajid sangat nasionalis, awan itu berbentuk peta negara kesatuan Indonesia. Dulu kami tidak takut bermimpi, walau sejujurnya juga tidak tahu bagaimana merealisasikannya. Tapi lihatlah hari ini. Setelah kami mengerahkan segala ikhtiar dan menggenapkan dengan doa, Tuhan mengirim benua impian ke pelukan masing-masing. Kun fayakun, maka semula awan impian, kini hidup yang nyata. Kami berenam telah berada di lima negara yang berbeda. Di lima menara impian kami. Jangan pernah 
remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar. Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan 
berhasil….. 


Alhamdulillah 


Bintaro, 27 April 2009, 7.30 pagi. 



                             0o—MB—o0

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...