"PRINCESS OF MADANI"
Hari pertama masuk sekolah masih menyisakan hal-hal yang menyenangkan selama liburan. Cerita kami tidak habis-
habisnya tentang apa yang telah dikerjakan dan akan kami lakukan. Semua senang bertemu teman lagi, tapi juga agak malas harus kembali ke kelas lagi.
“Selamat datang kawan-kawan, ayo mana oleh-oleh kalian untukku yang telah menjaga kamar kalian selama dua minggu?” sambut Kurdi dengan senyum lebar kepada anak-anak yang terus berdatangan setelah libur. Beberapa orang memberinya makanan seperti jenang, dodol Garut, dan kerupuk tempe.
Kurdi seorang anak bermuka bundar dan berperut lebih bundar dengan pembawaan riang gembira. Dia kawan satu kamarku dan memilih tidak liburan karena orang tuanya jauh di Kalimantan. Dia sangat menyukai seni lukis dan matematika. Dan dia bertekad menggunakan liburan di PM ini untuk mendalami lukisan minyak. Bosan melukis, dia ke perpustakaan untuk membaca buku-buku teori matematika. Kombinasi hobi yang unik.
Tidak hanya kami yang liburan saja yang punya cerita menarik. Kurdi juga tidak mau kalah. Selama ini dia memang tidak pernah kehabisan cerita-cerita lucu dan gosip terbaru
seputar PM. Kakak pertamanya seorang ustad dan kakak keduanya duduk di kelas enam. Tidak heran dia punya informasi yang lebih banyak daripada kami. Kami selalu merubungnya begitu dia mulai menceritakan hal-hal yang membuat kami terbahak-bahak sampai sakit perut. Tapi kali ini ceritanya tidak mengocok perut.
“Saya baru dapat info kalau kita akan punya warga baru yang istimewa di sini. Seorang gadis caaaantik.” Kata cantik diucapkannya dengan hiperbolik. Kontan kami yang masih
sibuk membongkar koper masing-masing berhenti, menoleh ke dia, menunggu cerita selanjutnya.
“Nah, kalau cantik aku bilang, baru kalian tertarik mendengar,” kata Kurdi terbahak menikmati leluconnya sendiri.
“Keluarga Ustad Khalid baru pulang dari Mesir, dan mereka akan tinggal di rumah dosen, tidak jauh dari sini.”
“Lalu, apa hebatnya!” kata kami protes.
“Nah, ini yang kalian tak tahu. Telah jadi legenda di kalangan kakak kelas bahwa ustad ini punya anak gadis cantik yang tidak jauh umurnya dengan kita.”
“Wah!”
“Iya, jadi gosipnya kita akan punya “putri” di sini.”
“Masih ingat tuan putri yang aku ceritakan kemarin? Yang anak Ustad Khalid?” tanya Kurdi retoris di tengah kamar suatu sore.
Saat itu hampir semua anggota kamar ada. Kami mengangguk-angguk sambil sibuk menutup lemari masing-masing, bersiap-siap ke masjid.
“Aku kemarin melihat dia di depan rumahnya,” lanjut Kurdi bangga. Kami meliriknya iri.
“Kalau melihat sih biasa. Banyak yang sudah pernah melihat, dari jauh. Tapi yang tahu namanya baru aku,” kata Kurdi berbinar-binar.
Seketika itu juga terdengar bunyi pintu-pintu lemari ditutup buru-buru. Kami segera merubung di sekitarnya dengan penasaran. Barulah setelah kami janjikan berbagai konsesi makanan serta traktiran, Kurdi akhirnya bersedia menyebutkan rahasia yang dia klaim hanya dia yang tahu.
“Nama tuan putri itu Sarah,” katanya puas dengan imbalan yang dia dapat dari informasi ini.
Sa-rah… Sa-rah. Nama itu seperti bersenandung memasuki kupingku. Indah dan enak didengar. Sejak di PM, semua nama
yang kudengar adalah punya laki-laki. Kalau ada yang perempuan, paling banter adalah nama para mbok-mbok di dapur umum seperti Tinem, Sugiyem, dan Jumirah. Tapi Sarah, hmmmm indah sekali didengar.
Di kamar aku bertemu mereka, di kelas aku bertemu mereka lagi, di lapangan bola juga, bahkan di depan kaca, aku pun bertemu makhluk yang sama: laki-laki. Sekolah kami
adalah keraja-an kaum lelaki. Tidak ada perempuan di areal belasan hektar ini kecuali mbok-mbok di dapur umum dan kantin, keluarga para guru senior yang kebetulan tinggal di dalam kampus, dan para tamu yang datang dan pergi.
Karena itulah, mohon dimaklumi dengan sepenuh hati, bahwa kami agak norak kalau bertemu lawan jenis. Senang tapi gugup. Yang jelas, suatu kebahagiaan tersendiri kalau bisa melihat gadis sebaya apalagi kalau sampai dapat kesempatan mengobrol. Amboi nian rasanya. Kesempatan seperti ini akan terkenang terus sampai berminggu-minggu
dan menjadi bahan obrolan di kelas, di kamar, ketika lari pagi, dan di masjid.
Tapi aturannya amat jelas: Mamnu’. Terlarang. Selama di PM, kami tidak diizinkan untuk berpacaran dan berhubungan akrab dengan perempuan. Jangankan saling bertemu, bersurat-suratan saja dilarang. Hukumannya tidak main-main, paling rendah dibotak, dan bisa naik kategori menjadi
dipulangkan.
Sore itu ketika akan ke masjid, kami Sahibul Menara yang penasaran ingin melihat Sarah, mengambil jalan memutar sehingga lewat di depan rumahnya. Dan betapa beruntungnya
kami, sekilas kami melihat seorang gadis berkerudung hijau di tangkan rumah baru Ustad Khalid. Bersama dengan seorang ibu, dia merapikan beberapa kardus yang bertuliskan Arab. Sambil tetap berjalan lurus ke arah masjid, kami menoleh takut-takut ke arah rumah itu. Walau hanya sekilas wajahnya, tapi aku setuju dengan gosip dari Kurdi, gadis ini seperti seorang putri.
Di bawah menara, kami berlima sering membahas masalah yang satu ini.
“Apa kamu pernah pacaran Lif?” tanya Atang dengan pandangan agak merendahkan umurku. Dia tahu pasti, sebagai anak yang lebih muda tiga tahun dari dia, tentulah aku tidak punya pengalaman.
“Tentu saja,” jawabku pendek membela diri. Dalam pikiranku tergambar peristiwa waktu aku saling pinjam buku pelajaran dengan teman perempuan sekelas. Malu berbicara,
aku menyelipkan surat pendek berisi pujian di halaman tengahnya. Sejak itu teman itu menjauh dariku.
“Aku setamat di sini akan mengawini Najwa, dari keluarga pamanku,” sahut Said dari ujung, terpancing pembicaraan kami. Waktu libur kemarin Said telah memperlihatkan fotonya
kepada kami.
“Alah, masih tiga tahun lagi kok disebut-sebut sekarang. Sudah keburu direbut orang,” timpal Raja sambil terkekeh-kekeh. Said merengut mendengarnya, tapi membalas.
“Orangtua kami telah setuju. Dan kami telah sepakat…” sergahnya.
Menurut Said, sejak dia masuk PM, keluarga calonnya semakin kesengsem. Aku kira Said punya semuanya untuk menjadi menantu idaman para mertua. Anak muda yang tampan, berbadan tegap dan baik hati, kaya, punya nasab keluarga yang baik, dan sekarang belajar di PM pula. Ketika melepas kami liburan Kiai Rais pernah mengatakan bahwa semakin lama kami di PM, semakin kami berharga. “Dulu jual
paku sekarang jual rambutan, dulu tidak laku sekarang jadi rebutan,” seloroh beliau yang disambut gelak tawa satu aula.
Aku biasanya tidak banyak bicara. Apalagi memang tidak banyak yang bisa aku ceritakan tentang hal ini. Tapi nama Sarah yang bersenandung itu membuat aku memberanikan diri berkata, “Kalau aku ingin berkenalan dengan Sarah,” kataku. Semua mata memandang kepadaku. Pertama dengan sorot kaget, lalu dengan pasti berubah menjadi mengejek.
“Wah, ada punguk merindukan bulan nih,” kata Atang sambil terkekeh tanpa suara. Senioritasnya sebagai lulusan SMA muncul.
“Sarah adalah idaman semua orang. Dan dia berada di tempat yang paling tidak bisa ditembus. Bapaknya, Ustad Khalid adalah salah seorang guru yang paling tegas dan
disegani. Bagaimana mungkin kau akan bisa?” tanya Raja.
“Tapi, kan kalau ada niat ada jalan. Man jadda wajada, kan?” kataku sekenanya.Dalam hati, aku juga tahu, jauh panggang daripada api.
“Aku traktir makrunah sebulan kau kalau sampai kenal dengan dia,” tantang Raja menggebu-gebu seperti biasa.
Makrunah adalah menu khas kantin PM berupa mie gemuk-gemuk bergelimang kecap, bawang goreng dan rajangan cengek. Menu favorit di kantin kami.
“Oke, aku tidak takut tantanganmu. Akan kubuktikan aku bisa. Akhi semua, kalian dengar kan ya?” jawabku agak kesal. Mataku mengedarkan pandangan.
“Oke, janji. Tapi dengan syarat, ada gambar kau dengan dia,” tambah Raja cengengesan.
“Hah, bilang saja kau tidak berani. Kok pakai syarat aneh segala macam.”
“Kalau gak mau ya sudah. Artinya gak berani. Titik. Take it or leave it.”
“Kita lihat saja nanti siapa yang menang!” kataku mulai sengit. Aku agak tersinggung dengan gaya bicara Raja yang me-remehkanku. Aku tahu dia memang lebih pintar dan lebih
tua. Tapi bukan berarti dia bisa selalu lebih baik.
Banyak keajaiban terjadi di dunia karena orang telah memasang tekad dan niat, dan lalu mencoba merealisasikannya. Aku pun percaya dengan man jadda wajada itu. Dan aku akan membuktikan bahwa Raja salah dan tidak boleh meremehkan aku seperti itu. Aku akan membuat pembuktian. Kita lihat saja nanti.
Sementara aku dibakar emosi untuk membuktikan Raja salah, isu tentang Sarah semakin merajai pembicaraan sehari hari di PM. Dia dibicarakan di mana-mana, tapi sekaligus tidak ada di mana-mana. Dia seperti hantu, sosok yang terus dibicarakan dan dibayangkan, tapi tidak ada wujudnya. Obrolan tentang Sarah bahkan kini mengalahkan popularitas Rosadi, penyerang tim sepakbola PM yang bisa lari seperti kijang dan Teguh, juara pidato bahasa Inggris yang baru
memenangkan piala gubernur di Surabaya.
Rumah Ustad Khalid dan beberapa guru senior tepat berada di pusat kampus kami. Setiap akan masuk kelas dan ke dapur umum, pasti kami bisa melihat rumahnya. Sering kami
mengambil jalan memutar untuk sengaja melewati rumahnya. Dan setiap lewat itulah aku dan ribuan kawan lainnya berkompetisi bebas untuk mencuri pandang ke arah beranda rumahnya dengan harapan: Sarah sedang ada di luar rumah menyiram bunga.
Sayang seribu kali sayang, harapan kolektif kami ini jarang terjadi. Yang kadang terjadi, Sarah sekelebat turun dari mobil dan langsung masuk rumah. Yang kami lihat adalah sekilas
punggungnya ketika menuju pintu rumah, dan kalau beruntung, sekilas wajahnya ketika dia menutup pintu dan melihat ke arah luar. Dan walau pemandangan ini hanya sekelebat, setiap penampakan Sarah adalah berita
menggemparkan bagi kami semua.
Siapa pun yang bisa melihat penampakan sekelebat itu akan dengan royal bercuap-cuap kepada semua orang, di kamar, di kelas, di bulis lail dan sebagainya. Tentu tidak ada
yang bisa menjamin kalau cerita ini juga telah dibumbui berbagai hal dramatis.
Tiga minggu setelah liburan, dengan pakaian “dinas” ke masjid, kami seperti biasa berkumpul di bawah menara. Dari kejauhan, kami melihat Dulmajid berlari-lari. Mukanya merah, mulutnya seperti mas koki, megap-megap mencari udara, tapi matanya bersinar.
“Ya akhi, tau gak, hari ini aku dapat rezeki besar!” teriaknya kepada kami berempat. Aku yang sedang dalam penantian abadi terhadap wesel berharap dia mendapat wesel atau
kiriman makanan. Lumayan bisa meminjam atau dapat makan gratis.
“Makanan atau wesel?” tembakku langsung.
“Bukan… yang ini lain,” katanya mengerlingkan mata.
“Tadi, ketika aku jadi piket asrama siang, aku melihat pemandangan yang sangat jarang. Tidak lain dan tidak bukan, si Sarah berkeliling PM dengan keluarganya. Bahkan sempat melihat asrama kita!” lapornya semangat.
Terus?” perhatian kami semuanya sekarang tersedot. Semua kepala merapat ke Dulmajid.
“Ya aku lihat saja…”
“Kamu tidak berusaha senyum, menyapa, atau
berkenalan?”
“Iya, itu dia, kenapa aku tidak melakukannnya,” kata Dulmajid dengan muka masygul. Dia menyesali dengan amat dalam kekeliruannya.
“Bagus nasib kau. Tapi artinya tetap saja kau tidak bisa memenangkan makrunah sebulan dariku. Tak ada fotonya,” sergah Raja cepat dengan iri.
Bukan dia saja yang iri. Kami semua, bahkan semua penduduk PM melihat siapa saja yang beruntung melihat penampakan Sarah dengan penuh benci dan iri. Kok bisa mereka sebe-runtung itu. Walau penuh dengan benci dan iri,
kami tetap dengan antusias duduk melingkar mendengarkan si Dulmajid yang sekarang mengulang detik-detik dia melihat Sarah. Walau dalam arti senyatanya memang hanya hitungan beberapa detik. Sekelebat saja.
Kalau dihimpun cerita beberapa saksi mata dan pengalamanku sendiri, Sarah adalah gadis muda berumur 15 tahun yang sangat menarik. Alisnya hitam kelam dan tebal. Ujung kedua alisnya nyaris bertemu saking suburnya. Mungkin ini yang dimaksud dengan ungkapan semut beriring. Mukanya putih dan lonjong dibalut jilbab.
Kini, setiap melewati rumahnya, tidak pernah aku lewatkan untuk menengok ke beranda rumahnya. Apa daya, upaya melengos ke kanan jalan tidak menghasilkan apa-apa. Sarah tidak pernah tampak. Beberapa kali yang muncul adalah Ustad Khalid yang berkumis lebat. Cepat-cepat aku palingkan wajah
ketakutan.
Aku mulai menyusun berbagai rencana yang mungkin untuk menembus tembok Cina ini. Ada beberapa kemungkinan yang aku pertimbangkan. Pertama dengan cara paling jantan, datang bertamu ke rumah Ustad Khalid untuk bertanya tentang pelajaran. Di PM, kapan saja seorang murid boleh mengetok pintu rumah ustad untuk bertanya tentang pelajaran. Aku membayangkan, ketika asyik berdiskusi hangat dengan Ustad Khalid di beranda rumahnya, Sarah muncul menating secangkir teh hangat dan pisang goreng. Tapi aku segera menghapus lamunan itu, karena Ustad Khalid tidak mengajar kelasku.
Cara yang kedua yang lebih mungkin adalah memanfaatkan kedudukanku sebagai wartawan majalah kampus Syams. Aku
bisa mengajukan surat untuk wawancara panjang dengan Ustad Khalid, untuk dimuat sebagai rubrik “Mengenal Guru Kita”. Wawancara seperti ini sudah beberapa kali aku melakukannya dengan ustad senior.
Tapi aku ragu-ragu. Apakah wawancara ini benar? Apakah sebetulnya motivasiku? Ingin mewawancarai seorang tokoh PM yang baru kembali sekolah, atau mencari peluang untuk
kenal dengan anaknya, untuk kemudian membuktikan kepada Raja kalau aku bisa? Aku terus terang bingung menjawabnya. Tapi bukankah niatku benar ketika berniat mewawancarai Ustad Khalid? Kalau dari wawancara itu aku bisa kenal Sarah, berarti itu bonus saja? Bolak-balik aku menimbang-nimbang. Keputusanku: wawancara perlu dilakukan.
Aku segera membuat persiapan. Dengan kop surat majalah kampus, aku tulis surat permohonan wawancara, lengkap dengan alasan wawancara dan beberapa pointer pertanyaan. Intinya aku ingin menggali lebih jauh tentang motivasi, semangat dan nasihat dari Ustad Khalid. Aku ingin tahu bagaimana suka duka menuntut ilmu di Mesir, dan bagaimana kami para siswa PM bisa belajar dari pengalamannya.
Semoga Ustad Khalid punya waktu.
Bersambung....
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar