Selasa, 23 Maret 2021

LINTANG KEMUKUS DINI HARI BAB 07

Bagian keempat 01




Kuda hitam itu sudah berbusa mulutnya. Suara kuk-kuk terdengar setiap kali binatang jantan itu melangkahkan kaki: suara kantung buah zakarnya yang tergesek-gesek kulit paha. Lebih dari tiga puluh kilometer telah ditempuhnya, menarik andong dengan kusir dan seorang penumpang. Sentika, satu-satunya penumpang di atas andong itu adalah laki-laki usia enam puluhan. Subur badannya, berwajah bulat dan tenang. Bajunya hitam. Celananya yang longgar menutup lutut juga berwarna hitam. Ikat kepalanya melilit rapi. Dengan bibir merah karena makan sirih lengkaplah penampilan Sentika sebagai laki-laki sisa masa lalu, dan hidup bertani di daerah pegunungan.

"Kudamu sudah letih rupanya," kata Sentika kepada Sartam, kusir. "Itu, di depan ada warung. Kita mengaso dulu."

"Bukan hanya kudaku yang minta islirahat, Pak."

"Lha iya. Kamu juga lapar. Mulutku asam. Makan sirih sambil berayun-ayun di andongmu terasa kurang nyaman."

Sartam menghentikan andongnya di bawah lindungan pohon johar. Kudanya meringkik. Di sana ada andong lain, kudanya betina. Sementara Sartam memberi makan kudanya dengan rumput bercampur dedak yang dibawanya dari rumah. Sentika berjalan gontai ke warung. Dipesannya dua gelas kopi. Ketika Sartam datang menggabungkan diri Sentika sudah menggulung daun sirih dengan bumbu-bumbunya; kapur, gambir, dan biji pinang kering. Gerahamnya bekerja.

"Dawuan masih jauh?" tanya Sentika kepada perempuan pemilik warung.

"Oh, sampean hendak pergi ke sana? Jauh, masih jauh. Kukira tengah hari nanti sampean baru sampai ke sana."

"Dari Dawuan aku mau terus ke Dukuh Paruk. sampean mengerti arahnya?"

"Aku belum pernah pergi ke Dukuh Paruk. Tetapi sudah sering mendengarnya. Pedukuhan itu terkenal ronggengnya bukan? sampean mau mengundang ronggeng?"

"Lha iya. Kira-kira begitulah."

"sampean dari mana?"

"Alaswangkal."

"Alaswangkal? Dan sampean naik andong dari sana?"

"Lha iya. Aku orang kuno, tidak biasa naik bus. Tidak pernah."

"Kalau begitu andong itu milik sampean sendiri?"

"Aku menyewanya. Ini dia pemiliknya," jawab Sentika sambil menoleh kepada Sartam. Yang dilirik tersenyum karena teringat besarnya sewa andong yang bakal diterimanya. Ah, tetapi Sartam mengerti siapa Sentika. Kebun singkongnya hampir seluas tanah pegunungan di Alaswangkal. Dua-tiga pabrik tapioka
tergantung kepada singkong hasil perkebunannya. Untuk itu Sartam tak usah ragu memilih makanan terbaik yang disajikan di warung itu. Toh Sentika yang akan membayarnya. Setelah perut kenyang Sartam 
kembali ke andongnya, duduk sambil merokok. Rokok itu terus mengepul di mulutnya meskipun Sartam tertidur karena lelah. Dan tersentak bangun ketika Sentika menepuk pundaknya.

"Lha iya. Dasar ular koros kamu! Bila perut penuh, mata mengantuk. Ayo berangkat!"

Perempuan warung itu benar; menjelang tengah hari Sentika dan andongnya sampai ke Dawuan. Setelah bertanya kepada seseorang di pinggir jalan dia meneruskan perjalanan. Andong itu berhenti di sudut pematang panjang yang menuju Dukuh Paruk. Sartam mendapat waktu istirahat panjang karena harus tinggal bersama andongnya di pinggir jalan sementara Sentika berjalan seorang diri ke Dukuh Paruk.

Laki-laki itu berjalan mantap meskipun matahari terik berada tepat di atas kepalanya. Perjalanan selama setengah hari pun tidak memberikan kesan lelah kepadanya. Sentika sudah terbiasa berjalan jauh. Turunan dan tanjakan di Alaswangkal melatih kakinya sejak masa kanak-kanak.

Di tepi Dukuh Paruk seorang anak kecil memberi tahu arah rumah Srintil yang sejak peristiwa Marsusi tinggal bersama kakeknya, Sakarya. Nyai Sakarya yang pertama menemuinya. Kemudian menyusul suaminya.

"Namaku Sentika dari Alaswangkal. Betulkah di sini rumah ronggeng Srintil?"

"Ya, benar. sampean tidak keliru." jawab Sakarya.

"Lha iya. Dari jauh aku datang kemari karena aku mempunyai kepentingan."

"Tentulah soal menanggap ronggeng, bukan?"

"Lha iya. Apalagi kalau bukan itu. Tetapi masih ada lainnya..."

"Nanti dulu."

Sakarya menyuruh istrinya pergi memanggil Kartareja. Sementara itu Srintil muncul sambil membopong Goder. Mata Sentika menatapnya lama. Bibir Sentika bergerak-gerak tanpa mengeluarkan kata. Matanya terus menatap hingga Srintil tertunduk malu. Kalau benar ini Srintil, oh, benar kata orang. Cantik. Tetapi 
mengapa ada bayi di tangannya?

"Nah, inilah cucuku, Srintil. Dan bayi itu tentu saja bukan anaknya. Anak tetangga."

"Ah, memang tidik salah."

"Tidak salah?"

"Lha iya. Aku tidak salah telah datang kemari."

"Ya, ya. Lalu kapan sampean punya kepentingan?" Nah, ini Kartareja, kamitua ronggeng di sini," kata Sakarya sambil mengenalkan rekannya.

"Aku menyediakan dua pilihan. Kalau tidak Kemis Manis, pilihlah Ahad Pon mendatang."

"Kebetulan dua-duanya kosong." kata Kartareja sambil menarik kursi.

"Tetapi jangan Ahad Pon. Jangan. Pakailah hari Kemis Manis."

"Lha iya. Itu terserah sampean berdua."

"Berapa malam?"

Sentika terdiam.

"Eh, Srintil, buatkan minuman. Bapak ini datang dari jauh."

"Berapa malam?" ulang Sakarya. Tetapi Sentika tidak segera memberi jawaban. Malah laki-laki dari Alaswangkal itu mengeluarkan kotak sirihnya.

"Sebetulnya begini," kata Sentika akhirnya. "Aku memerlukan Srintil bukan hanya untuk meronggeng."

Diam.

"Lalu?" tanya Sakarya dan Kartareja hampir bersamaan.

"Baiklah. Tetapi aku akan memulai dengan sebuah cerita."

"Lho, silakan."

"Anakku berjumlah empat belas orang, tetapi hanya dua yang laki-laki. Itu pun seorang di antaranya meninggal ketika masih kecil. Jadi tinggal si Waras seorang, anak laki-lakiku. Semata wayang. Si Waras kini sudah tujuh belas tahun."

"Ya, ya."

"Aku terlanjur mengucap kaul: bila si Waras memang waras sampai dewasa, aku akan mementaskan ronggeng terbaik baginya."

"Oh ya, ya."

"Dan, aku akan mengundang baginya seorang gowok yang cantik."

Sakarya dan Kartareja saling berpandangan.

"Sampean berdua jangan khawatir. Aku menyediakan upah yang tidak bakal mengecewakan. Asal gowok itu memang cantik seperti Srintil itu."

"Bukan itu masalahnya. Kami memang pernah mendengar tentang pergowokan. Tetapi belum jelas karena di sini tidak berlaku adat seperti itu."

"Lha iya. Aku mengerti. Di kampungku pun gowok mulai ditinggalkan orang. Dan kalau bukan kaul aku takkan melakukannya. sampean mengerti bukan?"

"Ya, ya. Tetapi tolong terangkan."

Srintil duduk di samping neneknya, ikut mendengarkan penjelasan Sentika. Orang Alaswangkal ini tidak biasa menerangkan sesuatu lebih dari beberapa kalimat. Kata-katanya tidak lancar. Namun demikian para 
pendengarnya bisa mengerti. Bahwa gowok adalah seorang peremputan yang disewa oleh seorang ayah bagi anak lelakinya yang sudah menginjak dewasa. Dan menjelang kawin.

Seorang gowok akan memberi pelajaran kepada anak laki-laki itu banyak hal perikehidupan berumah tangga. Dari keperluan dapur sampai bagaimana memperlakukan seorang istri secara bak misalnya, bagaimana mengajak istri pergi kondangan dan sebagainya. Selama menjadi gowok dia tinggal hanya berdua dengan anak laki-laki tersebut dengan dapur yang terpisah. Masa pergowokan biasanya berlangsung hanya beberapa hari, paling lama satu minggu. Satu hal yang tidak perlu diterangkan tetapi harus diketahui oleh semua orang adalah hal yang menyangkut tugas inti seorang gowok. Yaitu 
mempersiapkan seorang perjaka agar tidak mendapat malu pada malam pengantin baru.
Menyangkut gowok ini persoalan rumit akan muncul bila si anak laki-laki tidak mau berpisah lagi dari gowok-nya. Padahal secara pasti dia sudah mempunyai calon istri pilihan orang tua. gowok selalu berdiri di atas angin karena biasanya dia janda atau perempuan penjaja diri. Memang ada suami yang merelakan istrinya menjadi gowok, namun yang demikian ini amat jarang terjadi.

"Jadi sesudah meronggeng nanti, Srintil kuminta tinggal beberapa hari lamanya menemani anakku, Waras. Soal upah, aku ulangi, sampean tak perlu khawatir."

Sakarya dan Kartareja kembali bertukar pandang. Tetapi Srintil tertawa terpingkal-pingkal. "Lucu, ya, Nek, lucu!"

"Lucu? Baiklah. Tetapi kamu, Wong Ayu, bersedia menjadi gowok bagi anakku, bukan?" kata Sentika sambil menatap jenaka kepada Srintil.

"Wah, bagaimana ya?" gelak Srintil pecah lagi. "Bagaimana, Nyai Kartareja?"

"Terserah sampean sajalah. Tetapi bagiku, bagaimana upahnya."

"Tetapi aku belum pernah menjadi gowok."

"Maka sampean akan mendapat pengalaman," sela Sentika. Sementara itu tangan laki-laki Alaswangkal itu merogoh sakunya.

"Lha iya. Ini uang untuk panjer meronggeng. Dan ini buat panjer menjadi gowok. Ambil semua, tetapi nyatakan dulu kesanggupan sampean."

Sekiranya orang-orang Dukuh Paruk itu mengerti siapa Sentika sebenarnya mereka tidak usah terkejut. Uang yang diletakkan di atas meja tertumpuk setebal jari. Cincin emas di dekatnya berbentuk iris penjalin setebal drenges, bunga sirih. Srintil sendiri terperangah. Disadarinya atau tidak, mulutnya bergumam, 

"Jadi anak Bapak sudah disunat?"

"Disunat oleh seorang lelaki dukun sunat, sudah. Lha iya. Tetapi disunat oleh sampean, belum! Lha iya."

Semuanya tertawa. Kecuali Srintil yang hanya tersipu. Di dalam hatinya muncul keraguan. Sanggup meronggeng sekaligus menjadi gowok, atau tidak. Soal meronggeng tidak jadi masalah, tetapi jadi gowok? Srintil sudah bersumpah dalam hati tidak akan melayani laki-laki yang memburunya. Laki-laki yang 
menganggap tak ada sisa nilai lagi setelah terjadi transaksi jual-beli, di mana Srintil sama sekali tak berperan dalam penentuan. Marsusi misalnya. Srintil ingin memiliki hak memilih dan ikut menentukan dalam setiap urusan yang menyangkut dirinya. Memiliki dirinya. Atau Srintil akan meminjamkan dirinya bila hal itu menjadi kepentingannya, bukan kepentingan orang lain semata.

Siapa pun di Dukuh Paruk tahu pikiran demikian menyimpang dari kebiasaan seorang ronggeng. Srintil juga. Tetapi pada usia delapan belas tahun itu Srintil tahu bahwa penyimpangan demikian harus dilakukan bila dia ingin mempunyai andil dalam dirinya sendiri.

"Lha iya. Kok semuanya diam. Aku menunggu jawaban kalian, jawabanmu, Jenganten," ujar Sentika. Dan meludah merah. "Kalian tahu aku harus cepat pulang agar tidak kemalaman di tengah jalan, Alaswangkal jauh, lho! Dan andongku sudah lama menunggu di Dawuan."

Semua mata memandang ke arah Srintil. Ini juga penyimpangan. Biasanya Kartareja atau Sakarya berani mengambil keputusan tanpa melihat roman muka Srintil lebih dulu. Tetapi kini bahkan wibawa Srintil mampu mencegah siapa saja yang ingin berkata sugestif. Tiba-tiba mata Srintil memancarkan cahaya kuasa. Wajahnya melukiskan citra keangkuhan.

"Aku akan datang ke Alaswangkal pada hari Kemis Pahing untuk meronggeng. Lihat saja nanti apakah aku juga bersedia menjadi gowok bagi anak Bapak. Hanya itu kesanggupanku."

Selesai berkara demikian Srintil dengan wajah beku, bangkit hendak meninggalkan ruangan. Goder yang merengek dalam embanan diciuminya puas-puas. Sentika cepat-cepat menyemburkan remah sirih dari mulutnya ke tanah. 

"Nanti dulu, Wong Ayu! Lha iya. Aku kan orang tua. Masakan aku tidak mengerti perasaanmu, kemauanmu. Duduklah sebentar. Aku belum selesai." Oleh cara pendekatan Sentika hati Srintil meleleh. Dia menurut, duduk kembali di samping neneknya. 

"Coba dengarkan, Jenganten. Aku sudah senang sampean bersedia meronggeng di rumahku. Soal menjadi gowok aku setuju; bagaimana nanti saja bila sampean sudah berada di Alaswangkal. Lha iya. Maka ambillah uang ini. Dan pakai juga cincin ini. Aku sungguh tidak rugi memberikan cincin ini kepada sampean. Tak peduli apakah sampean mau atau tidak mau menjadi gowok. Lha iya. He-he-he."

Suasana yang kemudian berkembang adalah bukti kecakapan Sentika: orang-orang hampir tidak mungkin berkata "tidak". Srintil pasif saja ketika Sentika datang mendekat dan memegang telapak tangannya. Uang dan cincin itu sekejap saja sudah berada dalam telapak tangan ronggeng itu. Sentika sendiri yang meletakkannya di sana. Dan mengatupkannya sekalian dengan remasan. "Nah, gampang, kan? Lha iya!"

Sentika meninggalkan Dukuh Paruk dengan hati yang entah mengapa, puas. Padahal tujuannya pergi ke pedukuhan itu tidak sepenuhnya berhasil. Dia masih harus mencari seorang perempuan sebagai cadangan 
bilamana Srintil benar-benar tidak bersedia menjadi gowok. Boleh jadi Sentika bukan laki-laki kekecualian, yang menganggap kembang dari Dukuh Paruk demikian mengesankan sehingga orang merasa lebih suka menuruti kehendaknya daripada marah atau kecewa terhadapnya.

Matahari membuat bayang-bayang sepanjang setengah badan. Sentika mempercepat jalannya. Dalam perhitungannya dia akan sampai ke rumah setelah malam jatuh. Tak mengapa, pikirnya. Aku telah menemukan seorang ronggeng yang belum pernah kulihat sepanjang hidup; kecantikannya. Kemis Pahing nanti dia akan menari di rumahku. Kini dia telah menggenggam uangku dan cincinku.

Selama seminggu menunggu kedatangan Kemis Pahing tak ada sesuatu yang berkesan tercatat di Dukuh Paruk. Atau, katakanlah, Srintil menjadi lebih ketat mendekap Goder karena Tampi bunting lagi. Sementara Dukuh Paruk yang tua kelihatan makin renta oleh udara yang lebih dingin. Kemarau datang lagi
ke Dukuh Paruk buat kesekian juta kali. Dan Dukuh Paruk selalu menyambutnya dengan ramah. Kepiting membuat lubang lebih dalam di tepi pematang agar dirinya masih bisa mendapat air tanah. Siput mengunci diri dalam rumah kapurnya, pintunya dilak dengan lendir beku agar tidak setitik uap air pun bisa
keluar. Siput dan binatang-binatang lunak sejenisnya akan beristirahat panjang hingga musim penghujan mendatang.

Burung-burung air pergi meninggalkan Dukuh Paruk. Tak seekor bluwak pun masih kelihatan di sana. Trinil dan hahayaman sudah lebih dulu lenyap menuju rawa-rawa di muara Sungai Serayu dan Citandui. Kerajaan mereka yang kini menjadi lumpur kering dikuasai oleh puyuh dan branjangan. Burung-burung ini membuat sarang dari rumput kering atau sisa batang padi yang telah renyah termakan terik matahari. Puyuh akan memperdengarkan suaranya yang samar dan berat. Samar, 
sehingga bagi telinga yang tidak terbiasa takkan bisa membedakan mana suara puyuh dan mana suara desau angin.

Sementara puyuh mengeluarkan suaranya dari balik penyamarannya di antara rerumputan kering, maka branjangan beriang-gembira sambil kejer di angkasa. Kelincahannya menantang terik matahari. Kicaunya adalah gabungan suara hampir semua jenis burung. Kadang dia berkicau seperti kutilang, kadang seperti jalak, podang, bahkan cucakrawa. Boleh jadi hanya suara burung gagak yang tidak berhasil ditiru oleh branjangan.

Di tanah Dukuh Paruk semua pepohonan mulai mengurangi kerimbunan daun. Beringin di puncak pekuburan melepaskan ribuan daun kuning bila angin berembus. Daun pisang dan keladi muda tumbuh lebih sempit. Rumpun-rumpun bambu meranggas. Alam telah mengajar mereka bahwa untuk mempertahankan hidup mereka harus hemat air selama kemarau. Yang agak menyendiri adalah pohon mangga dan bungur. Keduanya malah mulai berbunga ketika kemarau menjelang.

Ketika Dukuh Paruk mulai meranggas itulah suatu pagi Srintil berangkat ke Alaswangkal. Dari Dawuan mereka naik bus tua yang hanya datang ke kota kecamatan itu. Perangkat calung serta gendang tertumpuk di atap kendaraan itu. Para penumpang yang semula terkantuk atau pusing oleh bau asap motor mendadak jadi bersemangat ketika melihat Srintil beserta rombongan naik. Kebanyakan penumpang sudah tahu siapa Srintil. Mulut mereka mulai usil. Ada yang bangkit dari tempat duduk agar dapat lebih jelas melihat 
Srintil: masih cantikkah dia atau bahkan menjadi lebih cantik lagi. Mereka hanya sekedar ingin melihat karena mereka sadar menggunakan jasa Srintil dalam arti apa pun juga memerlukan banyak uang.

Mestilah celoteh cabul itu bisa berkepanjangan apabila Srintil melayaninya. Nyatanya Srintil tidak memberi tanggapan apa pun. Melihat mereka yang bermulut usil pun tidak. Diam dan diam. Apabila Srintil harus menoleh maka hal itu dilakukan demi Nyai Kartareja yang duduk di sampingnya. Ini pun berlangsung dalam gerakan yang bermartabat. Sesuatu telah muncul ke permukaan dalam hubungan antara Srintil dan Nyai Kartareja. Selama enam tahun Srintil menjadi anak asuhan yang patuh sepenuhnya kepada Nyai Kartareja. Kini mulai kelihatan Nyai Kartareja surut ke belakang oleh martabat yang secara pasti mulai dimiliki oleh Srintil.

Dua jam dalam kendaraan, kemudian rombongan dari Dukuh Paruk turun di daerah sepi berhutan jati. Seorang laki-laki tua bercawat lancingan tergopoh-gopoh menjumpai Kartareja.

"Saya Mertanakim," katanya. "Saya utusan Pak Sentika untuk menjemput sampean semua."

"Ah, ya. Terima kasih." jawab Kartareja.

"Apakah ada tenaga buat mengangkut bawaan kami?"

"Lha, orang-orang ini! sampean semua tinggal berjalan bersama saya."

"Jauh?"

"Paling-paling dua jam perjalanan." jawab Mertanakim tanpa perubahan emosi pada wajahnya.

Para pembawa barang berjalan di depan. Lama-kelamaan mereka jauh meninggalkan rombongan. Jalan itu sempit, naik-turun dan berlapis batu cadas yang besar dan kasar. Selama perjalanan rombongan tak putus-putusnya berpapasan dengan orang-orang yang mengangkut singkong. Yang laki-laki memikul dan yang perempuan menggendong. Semua mereka adalah orang-orang upahan Pak Sentika, kata Mertanakim. Mereka mengangkuti singkong dari Alaswangkal sampai ke pangkalan di tepi jalan besar. Dari sana singkong akan dibawa ke pabrik tapioka dengan pedati atau truk.

Hingga setengah jam perjalanan rombongan belum melihat satu pun rumah penduduk. Jalan yang mereka lalui masih berpagar ladang singkong dan hutan jati. Beberapa kali Srintil minta dituntun karena harus meliwati titian pohon nyiur sebatang. Di suatu tikungan, di bawah sebatang pohon angsana yang besar, 
Srintil melihat sebuah warung. Meski jauh dari pemukiman penduduk warung kecil itu kelihatan laris. Para pelanggan adalah pemikul-pemikul singkong. Yang dijual di sana tidak lebih dari air asam yang dimaniskan dengan gula merah serta tape singkong. Lagi-lagi singkong.

Srintil menghabiskan dua gelas air asam. Keringat terbit di sekujur tubuhnya. Dua orang laki-laki berlomba memberikan tempat duduknya kepada Srintil.

"Iya, kalian bangkit semua. Ini tamu-tamu dari Dukuh Paruk," ujar Mertanakim mengusir para pemikul yang semula duduk tenang.

Lima laki-laki, semuanya bercawat lancingan, bangkit bersama. Mereka menyingkir lalu bergerombol di dekat pikulan singkong masing-masing. Tetapi mata mereka tetap tertinggal di warung; pada diri Srintil yang sedang memijit-mijit betisnya. Mereka adalah laki-laki gunung dalam arti yang sebenar-benarnya. Di mata mereka Srintil adalah perempuan paling cantik yang pernah mereka lihat. Dan keramaian yang sudah sekian lama mereka nantikan akan terlaksana nanti malam; pentas ronggeng di rumah Sentika.

Kegembiraan yang terpendam muncul dalam garis-garis harapan pada wajah mereka.

"Apa kira-kira masih jauh lagi, Kang Kartareja?" kata Sakum yang merasa paling sengsara bila 
melangkahkan kaki pada jalan yang belum dikenalnya.

"Memang masih jauh," kata Mertanakim.

 "Tetapi sampean tak perlu berkecil hati. Majikan kami sudah mempersiapkan sambutan yang istimewa bagi sampean. Semua."

Perjalanan diteruskan dan matahari mulai terik. Tetapi udara bertiup sejuk. Nyamannya udara gunung. Mereka berjalan beriringan, Mertanakim menjadi kepala barisan. Bila perjalanan melintasi punggung bukit terpaparlah pemandangan luas ke bawah. Lereng-lereng yang hijau oleh tanaman singkong atau sama sekali merah bila ubi kayu itu telah dicabuti. Jauh di sana hutan jati yang sunyi. Dan di sana-sini kelihatan pohon wangkal yang tegar. Jalan setapak kelihatan mengular melingkar bukit dan hilang-tampak oleh lebatnya pepohonan. Kelengangan suasana pegunungan hanya digoda oleh kicau burung kacer yang bersembunyi dalam kerimbunan perdu di lereng jurang.

Satu-dua rumah mulai kelihatan. Beratap ilalang yang kelabu. Kandang-kandang kambing yang terpisah. Atapnya tertutup tanaman rambat, waluh, atau labu. Anak-anak lelaki dan perempuan keluar. Semuanya 
telanjang. Laki-laki dewasa juga keluar. Semuanya menyandang parang. Dan kelihatan sekali mereka bangga dengan parangnya. Ada juga anak laki-laki, meski masih telanjang tetapi menyandang parang di pinggang. Mereka, baik yang dewasa maupun yang anak-anak, hanya melihat dan membisu. Toh wajah 
mereka menampilkan kesan kegembiraan. Nanti malam akan ada pertunjukan luar biasa di rumah Sentika. Pentas ronggeng dari Dukuh Paruk.

Hampir tengah hari ketika rombongan dari Dukuh Paruk memasuki kampung Alaswangkal. Pemukiman penduduk berupa kelompok-kelompok rumah yang terdiri atas paling banyak lima gubuk ilalang. Setiap 
kelompok terpisah oleh tegalan yang luas.
Srintil mulai dihinggapi perasaan kecil hati. Jauh dari Dukuh Paruk, akankah dia berpentas dalam rumah ilalang yang kecil dan kusam itu?

Tetapi perasaan Srintil berubah cepat ketika Mertanakim mengacungkan tangan ke depan.

"Kita hampir sampai. Itulah rumah Pak Sentika, majikan kami, majikan semua orang di sini."

Rumah yang ditunjuk oleh Mertanakim belum jelas kelihatan. Namun dari jauh sudah tampak pekarangan yang berpagar pohon puring. Di halamannya tumbuh pohon-pohon sawo yang rindang. Ada juga pohon kemuning. Halamannya berlantai batu kerikil yang rata dan teratur rapi.

Makin dekat ke sana sosok keseluruhan rumah itu makin nyata. Pintu masuk ke halaman berupa gapura tembok. Memang tidak bagus buatannya tetapi cukup memberi kesan wibawa. Bangunan rumah terdiri atas tiga bubungan bergaya tingasan, beratap genting dengan hiasan ukiran seng. Dindingnya kayu jati yang mengkilap oleh pernis baru. Pekarangannya amat luas dengan rumah-rumah yang lebih sederhana di kiri dan kanan bangunan utama. Dalam rumah-rumah tambahan ini terlihat tumpukan karung-karung 
gaplek; dagangan utama lainnya milik Sentika.

Ketika langkah Srintil sampai di bawah pohon sawo di tengah halaman hatinya berbisik; inilah rumah yang sebenar-benarnya rumah. Rumah yang memberi kesan selaras dengan selera alam, rumah yang tidak menjadi tuan bagi pepohonan dan bebatuan di sekitarnya. Bahkan Srintil melihat dua ekor burung layang-layang keluar masuk ke beranda. Pada dahan yang bercabang, dalam kerimbunan pohon sawo, dilihatnya keluthuk, kandang lebah madu yang terbuat dari batang kelapa dibelah. Pada ujung-ujung pelepah kelapa di samping rumah bergantungan sarang burung manyar. Keluarga unggas yang cerewet. Namun suara riuh mereka tidak menjadi nada sumbang. Suara burung-burung di alam bebas; suara yang hanya patuh kepada aba-aba alam.

Sentika muncul di pintu depan bersama istrinya. Wajahnya kelihatan demikian hidup, apalagi dengan geraham yang tidak berhenti mengunyah sirih. Mata Nyai Sentika terpaku pada Srintil yang meski tampak lelah namun daya tariknya tak sedikit pun berkurang.

"Saudara-saudaraku dari Dukuh Paruk! Mari, mari. Kami sudah lama menunggu. Dan kami sudah khawatir; jangan-jangan kalian tidak suka datang ke gubuk kami yang terpencil ini."

"Wah, kasihan, Jenganten yang cantik ini," ujar Nyai Sentika sambil menyalami Srintil. 

"Maafkan kami yang telah memaksa sampean berjalan demikian jauh. Aduh, anakku wong ayu, mari masuk."

Tujuh orang dari Dukuh Paruk, tak seorang pun bisa menyambut keramahan suami-istri Sentika dengan kata-kata. Kehangatan tuan rumah malah membungkam mulut Kartareja dan teman-temannya. Mereka hanya tersenyum dan tertawa. Dalam senyum mereka tergambar rasa segan, atau rendah diri, setelah melihat kenyataan Sentika sungguh seorang yang kaya. Sentika seperti raja kecil di kampung pegunungan itu. Ketika memasuki rumah Sentika orang-orang Dukuh Paruk berjalan sedikit membungkuk. Kecuali Srintil. Sikapnya sangat biasa. Dia memang seperti yang lain: mengakui bahwa Sentika memiliki kelebihan tertentu. Tetapi Srintil merasa tidak harus menekuk tulang punggung di hadapan laki-laki yang serba dituakan di Alaswangkal itu.

Kartareja duduk berhadapan dengan Sentika di meja utama yang berbentuk bundar. Istrinya ditemani Nyai Sentika duduk di atas balai-balai besar di pinggir ruangan. Sakum dan tiga penabuh lainnya mengelilingi meja di sebelah kiri. Srintil tidak mau duduk. Dengan penampilan yang penuh martabat Srintil langsung meminta kamar buat beristirahat. Kartareja kelihatan tidak menyukai tindakan Srintil. Bagi Kartareja bertamu berarti siap menjadi barang. Soal pengaturan menjadi hak tuan rumah.

"Eh, lha iya. Anakku, kami sudah menyediakan tempat bagimu. Nyai, bawalah anakmu ini ke sana." Mertanakim tidak bohong. Sentika memang telah menyiapkan sambutan yang hampir berlebihan bagi rombongan ronggeng Dukuh Paruk. Kopi segera keluar bersama dodol, kue lapis, dan ketan. Rokok dibagikan sebungkus tiap orang. Buahnya, pisang ambon dan salak. Bahkan juga kelapa muda. Dan karena hari memang sudah siang maka waktu makan pun tiba. Sekali lagi orang-orang Dukuh Paruk itu merasa terlalu dimanjakan. Nasi dari padi gogo dengan lodeh rebung dan gulai ayam. Sambal terasi dengan cabai merah.

Selesai makan siang hanya tinggal Sentika dan Kartareja yang masih duduk di beranda. Sakum dan tiga rekannya boleh memilih sendiri tempat beristirahat. Ada beberapa hal yang harus dibicarakan antara tuan rumah dengan kepala rombongan ronggeng.

"Aku akan menyelenggarakan tayub, Kang," kata Sentika mengawali bicaranya." Bagaimana pendapat sampean?"

"Ah, ya. Sebetulnya ronggeng tak bisa dipisahkan dengan tayuban. Malah tanpa tayuban sebenarnya pentas ronggeng kehilangan daya tariknya. Tetapi beberapa tahun terakhir ini kami dilarang mengadakan acara tayuban. Larangan resmi, Kang."

"Tetapi aku sudah bertekad melaksanakannya. Lha iya. Aku jamin tak ada sesuatu kesulitan yang akan sampean hadapi. Lagi pula, Alaswangkal ini sangat jauh dari perkampungan lain. Lurah di sini bisa saya 
atur. Dan tayuban itu khusus bagi si Waras, anakku yang lelaki satu-satunya itu. Lha iya. Bagaimana, Kang?"

"Kalau begitu sampean sudah bisa menebak jawaban saya."

"Dan aku sudah mendapat satu peti minuman keras dari tauke-ku di kota."

"Wah, bisa semringah permainan nanti malam."

"He-he-he, lha iya. Tetapi masih ada satu lagi, Kang. Dan ini yang terpenting; apakah Srintil sudah bersedia menjadi gowok? Aku akan sangat kecewa bila Srintil datang kemari hanya buat meronggeng."

Kartareja tersenyum dengan nada kecewa. "sampean harus memaafkan aku, Kang. Soalnya meskipun sudah sampai kemari, tetapi aku tidak bisa memberi kepastian. Aku persilakan sampean berbicara langsung dengan Srintil. Siapa tahu."

"Siapa tahu?"

"Ya, Kang. Siapa tahu Srintil mengubah pikirannya setelah sampai di Alaswangkal ini. Siapa tahu malah Srintil sendiri yang ingin menjadi gowok setelah melihat anak laki-laki sampean."

Sentika tidak berkata lebih lanjut. Pikirannya buntu. Apabila Srintil menolak menjadi gowok, memang, Sentika sudah menyiapkan seorang perempuan lain. Tetapi perempuan itu dalam segala hal bukan tandingan Srintil. Boleh dikatakan perempuan itu tidak akan memberikan gengsi.

Sementara itu di kamarnya Srintil sama sekali tidak beristirahat. Sejak masuk ke kamar itu pikiran pertama yang muncul di kepala adalah bagaimana dia bisa mengintip anak perjaka tuan rumah. Bagi Srintil, ini perlu sebelum dia memutuskan menerima atau menolak menjadi gowok. Apabila anak Sentika itu rakus dan semena-mena seperti Marsusi, atau bermata keropos seperti Sakum, Srintil pasti akan 
menolaknya. Masalahnya siapa tahu Waras mirip laki-laki berdasi kupu-kupu itu: Tri Murdo. Atau bila benar kata Sentika bahwa anaknya baru berusia tujuh belas. Yang ini mengesankan. Bila menjalani peran sebagai gowok adalah yang baru bagi Srintil maka melayani laki-laki yang berusia lebih muda adalah hal baru lainnya. Dua hal baru sekaligus. Bagaimana juga Srintil merasa ditantang.

Tetapi sampai bosan mengintip lewat jendela Srintil belum juga melihat seseorang yang dipanggil dengan nama Waras. Tadi ketika pergi ke sumur Srintil memperhatikan setiap laki-laki muda yang pantas sebagai anak Sentika. Tidak ada. Yang kelihatan adalah laki-laki pekerja, perempuan-perempuan pekerja, serta perempuan-perempuan bergiwang dan berkalung besar. Yang terakhir ini tentulah anak-anak Sentika sendiri. Toh penantian itu berakhir juga. Nyai Kartareja buru-buru masuk ke kamar Srintil danmengajaknya lebih dekat ke jendela.

"Aku sudah melihatnya," katanya.

"Mana dia?"

"Sebenar lagi Waras akan terlihat dari jendela ini."

"Nyai yakin?"

"Tentu. Aku sedang berada di belakang rumah bersama beberapa perempuan ketika seorang anak muda datang dari arah hutan jati. Orang-orang memberi tahu aku bahwa dialah Waras, anak majikan yang sedang dikauli."

"Bagaimana dia?"

"Lihat sendiri nanti. Aku malah belum melihatnya dengan jelas. Nah, itu. Itu!"

Di sana, kira-kira dua puluh meter dari jendela, Srintil melihat seorang anak muda datang diiringi seorang anak kecil. Kesan pertama langsung membuyarkan angan-angan Srintil. Waras bertubuh tipis, jangkung. Dan kelihatan lebih jangkung dengan pakaiannya yang terdiri atas kaus singlet dan celana setinggi lutut. 
Rambumya dipotong model polka, membuat leher dan kepalanya lebih memanjang ke atas. Pundaknya kurus dan sempit. Tangannya mirip sepasang seruling, kuning pucat dan tanpa otot. Dan rupanya sepasang kaki itu hanya tumbuh memanjang dan memanjang, tidak pernah bertambah besar.

Makin dekat, Srintil makin jelas melihat. Bila benar Waras berusia tujuh belas maka wajahnya jauh lebih muda. Belum jelas gambar kelelakiannya. Dan yang hampir tak bisa dimengerti oleh Srintil adalah sesuatu yang kelihatan amat disayang oleh perjaka Alaswangkal ini. Seekor anak burung podang. Di Dukuh Paruk, Srintil biasa melihat anak burung dipelihara oleh manusia. Tetapi manusia kecil sepuluh tahunan, bukan perjaka jangkung seperti Waras. Ketika melihat bagaimana Waras menyuapi burungnya dengan seekor belalang, Srintil lalu berbalik. Diam sesaat sambil menatap Nyai Kartareja. Bibirnya bergerak-gerak dan menyusul ledakan tawanya.

"Eh, jangan keras-keras, Jenganten!"

Srintil terus tertawa sambil membenamkan wajahnya ke pangkuan Nyai Kartareja. Istri dukun ronggeng ini terpaksa menekan kepala Srintil agar suara tawanya tidak menerobos ke luar jendela.Akhirnya Srintil bangkit. Sambil mengusap matanya dia berkata lirih.

"Nyai, sekarang ajari aku bagaimana menjadi gowok. Ajari aku!"

"Eh, Jenganten sudah mau menjadi gowok? Tetapi aku tak bisa mengajari sampean. Aku sendiri tak pernah menjadi gowok."

"Kira-kira saja."

"Nanti dulu, Jengaten. Mengapa baru sekarang sampean menyatakan kesediaan menjadi gowok?"

Sekarang bukan hanya Srintil yang tertawa melainkan Nyai Kartareja. Mata mereka basah karena tawa yang berlebihan. Entah mengapa mereka lupa sedang berada di rumah orang. Nyai Kartareja masih berusaha memperpanjang suasana lucu itu dengan berkata, "Dulu ketika sampean menjalani malam bukak-klambu, sampean terkena ruda paksa. Kini tiba saat bagi sampean membuat perhitungan terhadap kaum lelaki!"
 



                                     *****


Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...