RONGGENG DUKUH PARUK JILID 02
Selesai dengan pekerjaan malam itu, Santayib berangkat tidur. Sepi. Dukuh Paruk dengan semua penghuninya larut bersama malam yang dingin dan lembab. Srintil yang masih bayi acap kali terjaga bila popoknya basah. Bila kainnya sudah diganti Srintil lelap kembali di ketiak ibunya.
Tetes-tetes air yang tersisa di pucuk-pucuk daun jatuh ke bawah. Bunyi keletak-keletik terdengar bila butir air itu menimpa daun pisang atau daun keladi. Seekor burung celepuk hinggap tenang pada sebuah dahan yang rendah. Matanya yang awas menatap ke permukaan air di kubangan. Bila melihat katak,
burung malam itu menukik tanpa suara, hinggap di dahan lagi dengan korban di mulutnya. Perburuan baru akan berhenti bila tembolok burung celepuk itu telah penuh daging segar. Pertanda telah kenyang, dia akan mengeluarkan suara berat: guk-guk-guk, hrrrrr. Suara hantu. Suara yang membuat setiap anak yang mendengarnya segera mencari selangkangan ibunya.
Sinar bulan tidak mampu menembus tirai awan. Di langit timur bulan hanya membuat rona kuning. Kilat acap kali membuat benderang sesaat, meninggalkan garis kemilau yang patah-patah. Gema guruh berkepanjangan. Hilang gaungnya, Dukuh Paruk kembali didaulat suara bangsa kodok. Hujan yang kemudian turun kembali membuat Dukuh Paruk semakin kecil dan beku.
Tak seorang pun di Dukuh Paruk tahu.
Segumpal cahaya kemerahan datang dari langit menuju Dukuh Paruk. Sampai di atas pedukuhan cahaya itu pecah, menyebar ke segala arah. Seandainya ada manusia Dukuh Paruk yang melihatnya, dia akan berteriak sekeras-kerasnya. “Antu tawa. Antu tawa. Awas ada antu tawa! Tutup semua tempayan!
Tutup semua makanan!”
Namun semua orang tetap tidur nyenyak. Cahaya alarm yang dipercaya sebagai pembawa petaka datang tanpa seorang pun melawannya dengan tolak bala. Kecuali kambing-kambing yang mengembik di kandang. Kecuali keributan kecil di kurungan ayam. Dan burung hantu yang mendadak berbunyi bersahutan. Dari rimbun beringin di atas makam Ki Secamenggala itu burung-burung hantu meneriakkan gema berwibawa.
Beku dan kebisuan berjalan sampai fajar menjelang. Makin sering terdengar suara tangis bayi. Juga embik kambing yang mulai lapar. Hujan yang tinggal rinai gerimis menciptakan bianglala di timur. Hanya suara kodok yang sejak sore hari tetap ramai. Kokok ayam dan cericit tikus busuk yang mencari
sarangnya di balik batu-batu besar Meski Santayib orang yang paling akhir pergi tidur, namun dia pulalah yang pertama kali terjaga di
Dukuh Paruk. Disusul kemudian oleh istrinya. Srintil, bayi yang manis. Dia biasa tergolek sendiri meskipun kedua orang tuanya mulai sibuk bekerja. Suami-istri Santayib menyiapkan dagangannya; tempe bongkrek. Sebelum matahari terbit akan datang para tetangga yang akan membeli bongkrek. Kecuali hari
pasaran Santayib hanya menjual dagangannya kepada para tetangga.
Hari mulai terang. Di halaman rumah Santayib seekor kodok melompat satu-dua mencari tempatnya yang gelap di kolong balai-balai. Sekelompok lainnya masih berenang dan kawin di kubangan. Kampret dan kalong berebut masuk ke sarangnya kembali. Boleh jadi mereka masih lapar karena hujan mengacau perburuan mereka. Namun binatang mengirap itu taat kepada alam. Atau mereka akan dikejar dan dimangsa burung gagak bila pulang terlambat.
Beberapa anak telah turun dari balai-balai, lari ke depan pintu bambu dan kencing disana. Atau lari ke kakus terbuka di belakang rumah. Lalat berhamburan. Seekor burung sikatan mencecet menyambar makanannya, lalat hijau. Sesekali burung kecil yang gesit itu terbang menyambar agas yang berputar-putar di atas kepala si bocah.
Liang kumbang tahi ada di mana-mana di sekitar kakus. Serangga kotor ini mempunyai cara yang aneh bila hendak membawa tinja ke liangnya. Ia berjalan mundur sambil menolak bulatan kotoran manusia sebesar buah jarak dengan kaki-kaki belakangnya. Alam yang bijaksana, telah mengajari bangsa kumbang tahi. Walaupun ia berjalan mundur, lintasan jalannya akan berakhir persis di mulut liang. Disana gumpalan tinja itu ditolak ke dalam tanah. Disana pula bangsa kumbang tahi menaruh telur bagi kelangsungan hidup jenisnya.
Satu-dua orang telah datang membeli bongkrek. Istri Santayib melayani mereka. Celoteh antar-perempuan terdengar akrab. Kemanisan pergaulan kampung yang lugu.
“Srintil belum bangun?”
“Belum,” jawab istri Santayib. “Srintil bayi yang tahu diri. Rupanya dia tahu aku harus melayani sampean setiap pagi.”
“Ah, sungguh beruntung kalian mempunyai seorang bayi yang anteng.”
“Betul. Kalau tidak, wah, sungguh repot kami.”
“Bongkrekmu tidak dicampur dedak, bukan?”
“Oalah, tidak. Kemarin Kang Santayib mendapat bungkil yang baik. Kering dan harum. Cobalah, bongkrekku manis sekali hari ini.”
“Syukur. Pagi ini kami seisi rumah makan nasi padi bengawan. Simpanan terakhir buat benih kami tumbuk. Apa boleh buat, kami sudah sebulan makan nasi gaplek. Hari ini kami menanak nasi.”
“Wah. Sayur bongkrek campur toge dengan nasi padi bengawan. Hidangkan ketika masih hangat. Boleh aku makan di rumahmu?” seloroh istri Santayib.
“Pasti boleh. Ayolah.”
“Terima kasih. Aku hanya berolok-olok.”
Dukuh Paruk mulai hidup. Dentum lesung berisi gaplek yang ditumbuk. Bunyi minyak panas di wajan yang dikenai adonan tepung pembungkus tempe bongkrek. Atau gemerencing keliningan di leher anak kambing yang menyusu tetek induknya yang merekah. Seekor induk ayam berkotek keras-keras karena burung elang menyambar seekor anaknya. Anak-anak merengek minta makan. Seorang perempuan di dapur menghardik anaknya yang tidak sabar menunggu nasi gaplek masak ditanak.
Bila anak-anak Dukuh Paruk sudah lari ke luar dan menyobek sehelai daun pisang, berarti sarapan pagi telah siap. Hanya beberapa di antara mereka yang biasa menggunakan piring. Mereka makan di emper rumah, di ambang pintu atau di mana pun mereka suka. Semua makanan enak sebab perut anak-anak
Dukuh Paruk tidak pernah benar-benar kenyang.
Matahari naik. Panasnya mulai menyengat. Panas yang telah mengubah warna rambut orang dan anak Dukuh Paruk menjadi merah. Kulit kehitaman bersisik. Dukuh Paruk yang tadi malam basah kuyup kini terjerang. Panas dan lembab. Namun selamanya Dukuh Paruk menurut pada alam. Orang-orang dewasa tetap bekerja di ladang atau sawah. Anak-anak pergi dengan binatang gembalaannya. Hari itu tak terjadi kelainan di pemukiman terpencil itu.
Namun semuanya berubah menjelang tengah hari.
Seorang anak berlari-lari dari sawah sambil memegangi perut. Di depan pintu rumahnya dia muntah, terhuyung dan jatuh pingsan. Ibunya yang sudah mulai merasakan sakit menyengat kepalanya, menjerit dan memanggil para tetangga. Sebelum para tetangga datang, anak itu telah meregang nyawa. Bahkan ibunya pun jatuh tak sadarkan diri dengan rona biru di wajahnya. Ibu dan anak terkulai di tanah. Jerit dari rumah pertama memulai kepanikan di Dukuh Paruk.
Orang-orang yang bekerja di luar rumah bergegas pulang. Mereka mendengar suara jerit minta tolong. Atau mereka sendiri mulai merasa dunia berputar-putar. Seorang lelaki bahkan digendong oleh temannya karena dia tidak lagi mampu berjalan. Di perkampungan, suara minta tolong terdengar dari setiap rumah. Pada akhirnya setiap keluarga terlibat dalam hiruk-pikuknya sendiri, kengeriannya sendiri. Tolong-menolong antar keluarga tak mungkin dilakukan. Bahkan sementara ibu harus melihat anak atau suaminya menggeliat mempertahankan nyawa tanpa bisa berbuat apa pun karena dirinya sendiri berada antara hidup dan mati.
Kebodohan memang pusaka khas Dukuh Paruk. Namun setidaknya orang-orang disana bisa berfikir mencari sebab malapateka hari itu. Tidak semua warga Dukuh Paruk pusing, muntah lalu terkulai. Ada sementara mereka yang tetap segar. Dan mereka adalah orang-orang yang tidak makan tempe bongkrek
buatan Santayib.
Jadi.
Dalam haru-biru kepanikan itu kata-kata “wuru bongkrek” mulai diteriakkan orang. Keracunan tempe bongkrek. Santayib, pembuat tempe bongkrek itu, sudah mendengar teriakan demikian. Hatinya ingin dengan sengit membantahnya. Namun nuraninya juga berbicara, “Santayib, bongkrekmu akan membunuh banyak orang di Dukuh Paruk ini.”
Pergulatan berkecamuk sendiri di hati ayah Srintil itu. Karena ketegangan jiwa, tubuh Santayib gemetar. Bibir memucat dan nafas memburu. Istrinya yang mulai dirayapi perasaan sama, malah mulai menangis
ketakutan. Suami istri itu memang tidak ikut makan tempe buatan sendiri karena sudah bosan. Istri Santayib mendekati suaminya yang sedang duduk gelisah di atas lincak.
“Kang, orang-orang itu geger. Banyak tetangga yang sakit dan pingsan. Ini bagaimana, Kang?”
Santayib membisu. Ketegangannya makin menjadi-jadi. Melihat laki-laki itu diam, istrinya berseru lagi.
“Kang, apa tidak kaudengar orang-orang mengatakan mereka keracunan tempe bongkrek? Bongkrek yang kita buat? Ini bagaimana, Kang?”
Sekali ini pun Santayib tetap membeku. Hanya dadanya turun-naik lebih cepat. Perang antara suara hati dan suara nuraninya semakin seru. Fitrahnya sebagai manusia ingin menolak keburukan yang akan datang menimpanya. Santayib mengerti kenyataan yang dihadapi hampir mustahil terbantah. Dia akan dituntut
tanggung jawab sebagai pembuat bongkrek yang mendatangkan petaka. Nuraninya sendiri akan menuntut demikian pula.
Di tengah kebimbangan demikian, muncullah Sakarya, ayah Santayib sendiri. Di belakang Sakarya menyusul tiga orang laki-laki lain. Ketiganya dengan wajah berang.
“Oalah! Oalah! Santayib, anakku. Orang-orang itu mabuk keracunan bongkrek. Bongkrekmu
mengandung racun.”
Berkata demikian, Sakarya hendak berjalan ke dalam rumah anaknya, ingin melihat bongkrek yang tersisa. Tiba-tiba Santayib berdiri. Perang antara perasaan menolak dan menerima tuduhan bertanggung jawab muncul menjadi momen murka. Santayib tegak pada kedua kakinya yang bergetar. Suara lantang
ditujukan kepada empat laki-laki di hadapannya.
“Tidak! Bongkrekku tidak mungkin beracun. Bahannya bungkil yang kering. Tidak bercampur apa pun. Ayah, engkau jangan mengajak orang menuduh anakmu sendiri dengan keji!”
“He, Santayib. Bukti yang berbicara. Lihat, anakku, istriku, emakku, semua tergeletak. Mereka makan bongkrekmu pagi ini,” bentak seorang laki-laki di belakang Sakarya.
“Tidak bisa! Siapa tahu kejadian ini adalah pageblug. Siapa tahu kejadian ini karena kutuk roh Ki Secamenggala yang telah lama tidak diberi sesaji. Siapa tahu!”
“He, barangkali engkau merambang bungkil dengan bokor tembaga,” seru laki-laki lainnya. Sehabis bertanya demikian laki-laki itu berlari ke sumur. Benar. Disana dia menemukan sebuah bokor tembaga. Ada lapisan membiru, warna asam tembaga. Bokor ini dibawanya ke depan orang banyak. Dia berteriak bagai orang gila.
“Santayib. Engkau anjing! Asu buntung. Lihat, bokor ini biru karena beracun. Asu buntung. Engkau telah membunuh semua orang. Engkau... engkau aaasssu... ”
Laki-laki yang hendak melempar Santayib dengan bokor itu tak kuasa meneruskan niatnya. Kepalanya berputar. Ususnya terasa melilit. Wajah dan dadanya terasa panas. Gemetar dan jatuh terjerembab. Kepanikan masih ditambah dengan munculnya seorang perempuan yang berlari sambil mengangkat kain tinggi-tinggi. Tudingan jari telunjuknya mengarah lurus ke arah bola mata Santayib.
“Oalaaah, Santayib. Dua orang cucuku tergeletak karena makan bongkrekmu. Mereka akan segera mati. Hayo, bagaimana Santayib! Aku minta tanggung jawab. Engkau hutang nyawa padaku. Tolong cucu-cucuku sekarang. Hayo!”
Rasa getir, kelu, dan bimbang mencekam hati Santayib. Dia bingung, amat bingung. Kekacauan hatinya tergambar pada roman muka yang tidak menentu. Istri Santayib berlari hilir-mudik, menangis dan memeluk Srintil. Seperti mengerti segalanya, Srintil pun ikut menangis keras-keras. Boleh jadi kesadaran
Santayib hanya tinggal sebagian ketika dia lari masuk ke dalam. Keluar lagi dengan seonggok bongkrek di kedua tangannya. Lengking suaranya membuat siapa pun meremang bulu kuduk.
“Bajingan! Kalian semua bajingan tengik! Betapapun bongkrekku tak bersangkut-paut dengan malapetaka ini. Lihat! Akan kutelan bongkrek ini banyak-banyak. Kalau benar ada racun, pasti aku akan segera sekarat!”
Secara menyolok Santayib memasukkan bongkrek ke dalam mulutnya. Tanpa mengunyah, makanan itu cepat ditelannya. Pada mulanya, istri Santayib terpana. Tetapi rasa setia kawan menyuruhnya segera
bertindak. Sambil membopong Srintil, perempuan itu ikut mengambil bongkrek dari tangan Santayib dan langsung menelannya.
Sejenak Sakarya terbelalak. Di depan matanya sendiri Sakarya melihat anak dan menantunya
menentang racun. Tergagap laki-laki tua itu meratap.
“Jangan. Oalah, Santayib, jangan. Engkau anakku, jangan menantang kematian. Jangan!”
Sakarya hendak melompat ke depan. Ingin ditepiskannya tangan Santayib yang menggenggam bongkrek. Malah ingin dikoreknya mulut anak dan menantunya agar makanan beracun itu keluar kembali. Itu kehendak Sakarya. Tetapi ambang pintu rumah Santayib lain kemauannya. Sakarya yang ingin
bergerak secepatnya tersandung ambang pintu, jatuh dengan kepala membentur tiang kayu. Tubuhnya terjajar bersama laki-laki pertama yang gagal melempar Santayib dengan bokor tembaga.
Dua tubuh laki-laki terkapar. Satu di antaranya adalah Sakarya, ayah Santayib sendiri. Laki-laki
pertama lunglai oleh racun tempe bongkrek, dan yang kedua pingsan karena kepalanya terbentur tiang kayu. Dua laki-laki lainnya berlalu meninggalkan rumah Santayib. Mereka tentu mempunyai kenangan berkesan atas dua tubuh yang tergolek di tanah dan sepasang suami-istri yang sengaja menelan tempe
beracun.
Gumpalan bongkrek terakhir sudah lewat melalui kerongkongan Santayib. Dia menoleh istrinya yang semula berdiri di sampingnya ikut mengunyah bongkrek. Tetapi perempuan itu telah menghilang ke dalam bilik sambil membopong Srintil.
Kebekuan yang mencekam meliputi rumah Santayib. Dia termangu. Dia tidak berbuat apa pun terhadap dua tubuh laki-laki yang melingkar di tanah. Tidak. Santayib pun membiarkan ayah kandungnya dalam keadaan tak sadarkan diri.
Apa yang terjadi kemudian hanya bisa diperbuat oleh orang tidak waras. Santayib tertawa terbahak-bahak lalu berlari ke luar rumah. Sambil berjalan melompat-lompat, dicacinya semua orang dengan ucapan yang paling kasar dan cabul. Dukuh Paruk dikelilinginya. Santayib tidak peduli atas
kepanikan luar biasa yang sedang melanda para tetangga. Tatapan matanya jalang. Teriakannya membabi buta.
“Kalian, orang Dukuh Paruk. Buka matamu, ini Santayib! Aku telah menelan Seraup tempe bongkrek yang kalian katakan beracun. Dasar kalian semua, asu buntung! Aku tetap segar-bugar meski perutku penuh tempe bongkrek. Kalian mau mampus, mampuslah. Jangan katakan tempeku mengandung racun. Kalian terkena kutuk Ki Secamenggala, bukan termakan racun. Kalian memang asu buntung yang sepantasnya mampus!”
Lelah berteriak-teriak, Santayib pulang. Di depan rumahnya dia berpapasan dengan beberapa orang yang menggotong laki-laki yang tadi hendak melempar Santayib dengan bokor tembaga. Sakarya masih pingsan, terkulai dekat ambang pintu.
Sejenak Santayib tertegun. Digoyangnya tubuh Sakarya yang tetap pingsan. Kemudian Santayib berlalu. Tetapi kepalanya serasa melayang ketika dia bangkit. Kelap-kelip seribu kunang-kunang di matanya. Sengatan pertama terasa menusuk lambungnya.
Santayib terus melangkah menuju bilik tidurnya. Derit daun pintu bambu. Tampak istrinya tidur tengadah dengan keringat membasahi badannya. Wajahnya pucat kebiruan. Terkadang perempuan itu meringis bila merasa urat-urat di perutnya menegang.
Tetapi Srintil berceloteh lucu sekali di samping tubuh ibunya.
Meskipun terasa rumah berayun-ayun, istri Santayib tahu suaminya datang. Dengan menggigil perempuan itu berusaha duduk di bibir balai-balai.
Suami-istri saling pandang. Mereka, dua manusia yang telah menerima sasmita dari pencipta Dukuh Paruk. Keduanya berpandangan dengan cara aneh. Keduanya membisu. Bayangan Santayib diterima oleh lensa mata istrinya, kemudian dijabarkan secara kacau-balau oleh syaraf mata. Maka istri Santayib tidak melihat sosok suaminya, melainkan sebuah bayangan bergerak yang amat menakutkan.
Wajah istri Santayib semakin pucat. Rona kengerian. Kelopak matanya membuka lebar-lebar sehingga retina hanya berupa titik hitam di tengah bulatan putih. Mulutnya ternganga seperti dia hendak berteriak keras.
Santayib pun demikian. Sesungguhnya gendang telinganya menangkap suara celoteh Srintil yang lucu menawan. Tetapi Santayib mendengarnya sebagai hiruk-pikuk suara ribuan monyet di pekuburan Dukuh Paruk. Santayib juga melihat beratus-ratus mayat bangkit, dengan kacau-balau memukuli calung sampai tulang-tulang mereka rontok. Mata Santayib terbeliak dengan mulut ternganga. Ketika Santayib melihat bayangan Ki Secamenggala menjulurkan tangan hendak mencekik lehernya, dia hendak berteriak.
Namun semua urat di lehernya kaku.
Beku yang mencekam. Santayib sudah berdiri goyah. Istrinya duduk menggigil. Keduanya tidak saling pandang. Hanya daya manusiawi terakhir memungkinkan suami-istri itu masih sempat berbicara. Suara mereka terdengar dari tenggorokan yang hampir tertutup.
“Kang,” kata istri Santayib dengan mata terbeliak lurus ke depan.
“Hhh?”
“Srintil, Kang, Bersama siapakah nanti anak kita, Kang?”
“Hhhh?”
“Aku tak tega meninggalkannya, Kang.”
Santayib hanya kuasa menelan ludah. Sementara itu Srintil meronta manja di atas tikar. Santayib ingin memandangnya. Tetapi penglihatannya telah baur. Srintil yang bergerak lucu hanya tampak sebagai hantu
yang menakutkan. Santayib menikmati kesadarannya yang terakhir ketika melihat istrinya roboh ke belakang. Dia pun segera terkulai setelah dari mulutnya keluar umpatan; “bongkrek asu buntung. “ Istri Santayib meninggal ketika dia berusaha memiringkan badannya hendak memeluk Srintil.
Bau kematian telah tercium oleh burung-burung gagak. Unggas buruk yang serba hitam itu terbang berputar-putar di antara pepohonan di Dukuh Paruk. Suaranya yang serak hanya mendatangkan benci. Tetapi hari itu burung-burung gagak bersuka-ria di Dukuh Paruk. Mereka berteriak-teriak dari siang sampai malam tiba.
Maut bekerja dengan sabar dan pasti. Maut telah berpengalaman dalam pekerjaannya sejak kematian yang pertama. Tanpa terganggu oleh jerit dan ratap tangis, maut terus menjemput orang-orang Dukuh Paruk. Hari itu sembilan orang dewasa meninggal. Dua di antaranya adalah suami-istri Santayib. Juga sebelas anak-anak tidak tertolong. Jumlah itu merupakan lebih dari separo anak di pedukuhan itu. Belasan anak lainnya menjadi yatim-piatu pada hari yang sama.
Meski Santayib dan istrinya meninggal ketika hari masih siang, mayat mereka tidak segera ditanam. Semua orang di Dukuh Paruk sibuk dengan mayat keluarga masing-masing. Atau merawat orang-orang yang masih bertahan hidup. Orang-orang Dukuh Paruk mempunyai cara sederhana menolong orang termakan racun. Air kelapa bercampur garam menjadi pencahar yang lumayan mujarab. Juga air yang
bercampur abu dapur. Kalau orang keracunan bisa muntah setelah minum pencahar ini, ada harapan hidup baginya. Celakanya, penggunaan pencahar yang tak terkendali sering pula membawa kematian. Orang Dukuh Paruk sendiri tak tahu, banyak teman mereka bukan mati oleh racun bongkrek, melainkan karena kekurangan cairan pada tubuh mereka, akibat terlalu banyak muntah.
Malam hari, Sakarya bersama istrinya menunggui mayat anak mereka; Santayib suami-istri. Srintil sering menangis. Bayi itu belum merasakan sedih. Srintil menangis karena air susu tak lagi diperolehnya. Oleh
Nyai Sakarya, Srintil diberi hidup dengan air tajin. Walaupun sedang menunggu mayat anak dan menantunya, tengah malam Sakarya keluar menuju makam Ki Secamenggala. Laki-laki itu menangis seorang diri disana . Dalam kesedihannya yang amat sangat, Sakarya mengadukan malapetaka yang terjadi kepada moyang orang Dukuh Paruk. Sakarya tidak lupa, dirinya menjadi kamitua di pedukuhan
itu.
Keluar dari pekuburan Sakarya berkeliling pedukuhan. Dijenguknya setiap rumah. Setiap kali membuka pintu Sakarya mendapat kesedihan. Bahkan tidak jarang Sakarya mendapat perlakuan yang tidak enak. Seolah-olah dia harus ikut bertanggung jawab atas dosa anaknya, Santayib. Meskipun demikian tak sebuah rumah dilewati oleh Sakarya.
Selesai berkunjung ke setiap rumah, Sakarya kembali mengelilingi pedukuhan. Kali ini dia berjalan di tepian kampung. Di kaki bukit kecil di pekuburan Dukuh Paruk, Sakarya berdiri bersilang tangan. Dalam keheningan yang mencekam, laki-laki tua itu mencoba menghubungkan batinnya dengan ruh Ki
Secamenggala atau siapa saja yang menguasai alam Dukuh Paruk. Sarana yang diajarkan oleh nenek moyangnya adalah sebuah kidung yang dinyanyikan oleh Sakarya dengan segenap perasaannya;
Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh ayu luputing lara
Luputa bilahi kabeh
Jin setan datan purun
Paneluhan datan ana wani
Miwah penggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah mring mami
Guna duduk pan sirna...
Adalah gita penjaga sang malam. Tetaplah selamat, lepas dari segala petaka. Luputlah segala mara bencana. Jin dan setan takkan mengharu-biru, teluh takkan mengena. Serta segala perilaku jahat, ilmu para manusia sesat. Padam seperti api tersiram air. Pencuri takkan membuatku menjadi sasaran. Guna-guna serta penyakit akan sirna...
Alam membisu mendengar ratap Sakarya. Dukuh Paruk bungkam. Hanya kadang terdengar keluh sakit. Atau tangis orang-orang yang menyaksikan saudara meregang nyawa. Bau bunga sedap malam dikalahkan oleh asap kemenyan yang mengepul dari semua rumah di Dukuh Paruk, pedukuhan yang berduka ketika Srintil genap berusia lima bulan.
*****
Bersambung....
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar