37
MENUNGGU CINTA BERSEMI
Setelah akad nikah di Central Oxford Mosque, pesta walimah di Magdalen College Oxford, lalu menginap semalam di Oxford Thames Four Pillars Hotel, Hulya membawa Fahri berbulan madu dengan menginap di kamar mewah yang ada di The Savoy Hotel yang terletak di pinggir sungai Themes, London. Ya, Hulya yang mengatur untuk bulan madu di tepi sungai Thames.
"Aku suka sungai. Bulan madu di pinggir sungai bersejarah seperti ini bagiku sangat romantis. Aisha pernah cerita, katanya kalian dulu bulan madu di apartemen mewah di pinggir sungai Nil. Aku tidak mau kalah.
Kemarilah, peluk aku sambil menikmati panorama sungai Thames membelah London."
Fahri tersenyum mendengar kata-kata Hulya yang sedang berdiri di balkon hotel menikmati panorama sungai Thames.
Fahri mendekati istrinya itu lalu memeluknya dari belakang. Bau tubuh istrinya itu begitu segar dan harum.
Angin dingin berbembus, namun Fahri hanya merasakan kehangatan tubuh istrinya. Dan memeluk istri yang sah adalah ibadah. Sudah bertahun-tahun Fahri tidak merasakan kehangatan seperti itu. Fahri merasakan kenyamanan dan kebahagiaan bermesraan seperti itu.
Hanya saja ia merasakan ada sesuatu yang tidak ia inginkan telah terjadi pada dirinya. Sudah tiga hari ia dan Hulya bermesraan di tepi sungai Thames itu tetapi ia belum bisa menjalankan kewajibannya sebagai suami.
Ia bahkan merasakan keanehan itu sejak menginap di Oxford Thames Four Pillars Hotel. Dan ia selalu berkata kepada Hulya untuk tidak tergesa-gesa.
"Memetik buah jangan tergesa-gesa jika ingin hasil terbaik, petiklah buah itu di puncak
kematangannya, istriku!" Kata Fahri menasihati istrinya sambil tersenyum mengembang.
Hulya merasa bahwa ia harus ikut sepenuhnya kata-kata suaminya. Di samping memang ia sangat percaya dan cinta kepadanya, ia sangat menyadari suaminya jauh lebih berpengalaman dari dirinya.
Setelah tujuh malam di The Savoy Hotel London, mereka memulai hidup bersama di Stoneyhill Grove.
Mereka tinggal di rumah yang selama ini di tempati Fahri. Rumah itu kini menjadi milik Hulya sebab telah dijadikan mahar ketika akad nikah. Sabina telah menyiapkan kamar Fahri sebagai kamar yang sangat nyaman untuk keduanya. Kini Sabina ikut tinggal bersama Fahri dan Hulya. Sabina bersikeras memilih untuk tinggal di basement, meskipun Hulya memaksa agar tinggal di bekas kamar Paman
Hulusi.
Sejak Fahri membawa Hulya tinggal di rumah itu, Paman Hulusi dan Misbah pindah ke bekas rumah Nenek Catarina.
Dan agar gerakan Hulya tidak terbatasi di rumah, Fahri membelikan Hulya sebuah mobil Mini Cooper berwarna merah. Hulya untuk sementara menunda keinginannya untuk melanjutkan kuliah.
Orang-orang melihat Fahri dan Hulya adalah pasangan muda yang serasi dan bahagia. Para tetangga di Stoneyhill Grove memuji keharmonisan keduanya. Hanya Keira yang terang-terangan berkata kepada Hulya bahwa seharusnya Hulya tidak menikah dengan Fahri.
"Kau cantik, cerdas, berbakat, juara dunia main biola. Kalau kau mau sedikit sabar kau bisa
mendapatkan lelaki hebat sekelas Beckham. Aku sudah cukup mengenal Fahri, dia lelaki yang konvesional. Kau akan bosan punya suami seperti dia. Kau salah pilih, Hulya!" Kata Keira pada Hulya suatu hari.
Hulya tersenyum dan menjawab,
"Aku tidak salah pilih. Memang yang aku cari lelaki seperti dia. Lelaki yang konvensional tapi modern. Yang tidak disukai oleh wanita pada umumnya, tetapi jika seorang wanita tahu dia yang sesungguhnya maka ia tidak akan melepaskan genggaman tangannya sedikit pun."
Hubungan Hulya dengan Keira cukup dekat. Karenanya Hulya sama sekali tidak tersinggung atas keterus-terangan Keira itu.
Mereka kerap makan siang Bersama dan berlatih biola bersama.
Hulya rela meminjamkan biola mahal hadiah dari ayahnya kepada Keira untuk bertanding di London. Hulya sempat minta izin kepada Fahri agar dibolehkan ikut kompetisi di London menemani Keira. Tetapi Fahri tidak
mengizinkan.
"Kau inginnya jadi apa istriku sayang? Mau jadi pemain biola profesional yang kerjaannya memainkan biola dari konser ke konser, atau apa?"
"Tidak. Aku ingin menjadi seorang guru, pendidik yang baik untuk anak-anakku dan anak-anak yang lain."
"Kalau itu yang kau inginkan maka fokusmu bukan main biola. Tapi fokusmu adalah mendidik dirimu sendiri dulu. Mengisi dirimu dengan Al Qur'an. Perbaiki cara membaca Al Qur'an, memahami isi Al Qur'an dan mengamalkan Al Qur'an. Al Qur' an adalah tuntunan terbaik untuk para pendidik."
Hulya mengikuti saran suaminya. Sejak itu setiap ba'da Shubuh, Hulya belajar tahsin kepada Fahri.
Dengan sangat sabar, Fahri membimbing istrinya. Beberapa kali Sabina memergoki Fahri mengajari Hulya di ruang tamu. Melihat hal itu, Sabina meneteskan air mata kecemburuan.
Hanya ia yang tahu kenapa ia menangis dan kenapa ia cemburu.
*****
Salju mulai turun. Jalanan, atap gedung, pepohonan dan rerumputan disepuh salju tipis. Semua serba putih. Ozan, Claire dan putrinya Laila sore itu berkunjung ke rumah Fahri di Stoneyhill Grove.
Mereka berniat menginap tiga malam di sana. Claire ingin merayakan tahun baru di Edinburgh.
Malam itu salju turun agak deras. Fahri dan Ozan sepakat membatalkan niat mereka untuk mengajak keluarga makan malam di luar.
Dengan sigap Sabina menyiapkan makan malam. Hulya hendak membantu, tapi Sabina meminta agar Hulya menemani keluarganya berbincang-bincang.
Sabina menyiapkan nasi khas Turki, Kofte goreng, sayur Mulukhiya, Cacik [1] dan Manti [2] khas Kayseri.
Makan malam itu disempurnakan dengan teh khas Turki yang disajikan dalam dua teko yang disusun bertingkat. Gelas-gelas kecil berlekuk disiapkan untuk menuang teh itu. Kedua mata Ozan berbinar lebar melihat hidangan yang tersaji.
"Wow ada Manti khas Kayseri."
Seru Ozan penuh nafsu. Kakak kandung Hulya itu mencomot sedikit makanan kesukaannya itu dan mencicipinya.
"Rasanya persis aslinya. Fahri, kau punya pembantu sangat pandai memasak. Beruntung sekali kau!" Sambung Ozan.
"Kayaknya sepulang dari Stoneyhill Grove, perut bakal tambah buncit!" Sindir Claire.
Fahri hanya tersenyum. Sabina tersenyum di balik cadarnya.
"Aku mau ayam goreng!" Teriak si kecil Laila. la meminta yang tidak ada.
"Sayang, jangan minta macam-macam ya! Makan yang ada, pilih yang kau suka!" Bujuk Claire.
"Tidak ada yang kusuka. Aku mau ayam goreng!" Sengit Laila.
"Sebentar, bibi siapkan ya." Ucap Sabina dengan suara serak.
"Sayang, kasihan bibi, dia capek. Makan yang ada saja ya. Itu kofte goreng enak." Rayu Claire.
"Tidak apa-apa. Saya siapkan sebentar. Ayamnya ada, hanya tinggal menggoreng saja."
"Terima kasih, Bibi Sabina."
Sabina mengangguk dan beringsut ke dapur.
Malam itu acara makan malam begitu hangat dan menyenangkan. Ozan benar-benar menyukai menu yang dihidangkan. Laila makan sampai benar-benar kenyang. Claire sepertinya belum pernah melihat anaknya itu makan sedemikian banyak. Claire penasaran, ia mencicipi sedikit ayam goreng itu.
Terasa gurih dan enak. Fahri juga tampak bersemangat, terutama melihat kofte dan sayur mulukhiya.
Semua tampak riang bahagia. Hanya Hulya yang tampak dingin. Ia berusaha ikut bergembira tapi Hulya tidak berhasil menyembunyikan ketidakbahagiaannya malam itu. Claire dan Ozan tidur di kamar yang
dulu ditempati Paman Hulusi. Si kecil Laila tidur sendirian di kamar yang dulu ditempati Misbah. Semua telah lelap tertidur.
Di luar, salju tipis masih turun dari langit. Hulya tidak bisa tidur. Ia keluar dari kamarnya menuju dapur. la ingin minum air hangat. Pada saat yang sama Claire keluar dari kamarnya, juga ke dapur. Claire mengajak Hulya berbicara dari hati ke hati.
"Ada apa? Kau tidak bahagia, Hulya ?"
"Tidak ada apa-apa. Saya bahagia."
"Kau tidak usah bohong, kalau kau perlu teman untuk bicara, aku siap mendengarkan. Awal-awal hidup berumah tangga memang perlu adaptasi."
Sebenarnya Hulya ingin mencurahkan satu hal yang sangat mengganjal di hatinya, tapi ia teringat nasihat ibunya. Agar ia tidak mudah mengajukan persoalan rumah tangganya kepada keluarga.
"Carilah seribu cara untuk menyelesaikan persoalan rumah tanggamu dengan suamimu! Cari sejuta alasan untuk tetap setia pada suamimu, selama suamimu taat kepada Allah!,"
Begitu pesan ibunya sebelum ia akad nikah. Hulya mengurungkan keinginannya mengadu pada Claire.
" Saya bahagia hidup di sini bersama Fahri. Tidak ada masalah apa-apa, Claire Percayalah!"
"Alhamdulillah."
Di basement Sabina mendengar pembicaraan itu. Dengan kedua mata terpejam, Sabina mendoakan agar Hulya dan Fahri hidup bahagia, sakinah, mawaddah, war rahmah.
Salju terus turun. Langit selalu kelam. Matahari menggigil entah di mana. Jalanan penuh salju. Hari berganti hari. Tahun telah berganti. Waktu terus berlari meskipun musim dingin semakin berat.
Hulya merasa tidak kuat menanggung beban batinnya. Ia telah berusaha semampu yang ia bisa untuk membuat Fahri membara dalam kodratnya sebagai pria. Tetapi dua bulan lebih hidup bersama, tidur bersama, ia masih utuh sebagai seorang perempuan yang masih gadis.
"Kenapa, Fahri? Apa kau tidak mencintaiku?"
"Aku mencintaimu Hulya."
Wajah Fahri pias dan pucat.
"Tapi kenapa seperti ini? Aku ingin jadi perempuan yang sejati. Aku ingin jadi ibu, Fahri. Apa sesungguhnya yang terjadi pada dirimu, suamiku?" Hulya terisak-isak didera Iara.
"Aku juga tidak tahu, Hulya. Sejak kita bermalam di Oxford itu, entah kenapa aku merasa mengkhianati Aisha. Lalu terjadilah seperti ini. Aku tidak tahu. Aku ingin membara. Aku ingin bergairah.
Aku ingin membahagiakanmu lahir batin, Hulya. Tapi ini kenyataan yang terjadi. Hulya."
"Bukankah pernikahan kita sah? tidak menyalahi aturan agama? Kenapa kau merasa berdosa, merasa mengkhianati Aisha. Kenapa?"
Fahri diam tidak menjawab. la tidak bisa sepenuhnya menjelaskan segala kecamuk jiwanya kepada Hulya. Ia tiba-tiba merasa berdosa kepada Hulya. la merasa menzalimi gadis yang baik hatinya itu.
"Aku telah menzalimimu Hulya. Maafkan aku. Kalau kau menginginkan pisah, aku pasrah."
"tidak! Aib bagi keluargaku kata-kata pisah dan talak Aku tidak akan menyerah! Kita harus ke
psikolog!"
"Apakah tidak ada jalan lain sebelum ke psikolog?"
"Jalan itu ada asal kau sungguh-sungguh mau menempuhnya."
"Apa itu?"
"Kalau aku ungkapkan kau akan bilang aku kejam."
"Katakan saja apa itu?"
"Buanglah Aisha dari hatimu, Fahri! Please!"
Ucap Hulya dengan tubuh bergetar. Ia lalu pergi sambil terisak. Fahri tidak bisa menahan gerimis di dada dan matanya. Ia mencela dirinya sendiri, bahwa dirinya sungguh keterlaluan. Seharusnya ia yang tahu diri, begitu akad nikah dengan Hulya, maka hatinya ia sucikan untuk Hulya. Ia tahu Hulya sangat menghormati Aisha, kalau sampai istrinya itu
berkata sedemikian kerasnya, itu bukan karena Hulya membenci Aisha.
Tetapi karena ia yang keterlaluan terus menghadirkan Aisha sehingga tidak bisa menunaikan kewajibannya sebagai suami dalam memberikan nafkah batin kepada Hulya.
Tetapi apakah benar ia secara sengaja terus menghadirkan Aisha? Fahri duduk dengan air mata meleleh. Ya Allah, tidak dengan sengaja menghadirkan Aisha untuk menjadi penghalang mencintai Hulya dengan sepenuh jiwa. Itu terjadi begitu saja. Dan ia telah berusaha mencintai Hulya.
Bahkan, sungguh, ia telah sangat mencintai istrinya itu. Tapi inilah yang terjadi, ia tidak tahu kenapa perasaan berdosa kepada Aisha itu selalu hadir begitu saja saat ia hendak beribadah dalam kemesraan dengan Hulya. Ia tahu dirinya bukan melakukan tindakan berdosa secara syariat, ia bermesraan dengan istri yang halal. Tetapi perasaan berdosa kepada Aisha hadir begitu saja.
*****
Hulya akhirnya tidak kuat menahan lara seorang diri. Ia perlu teman bicara. Tetapi yang ia bicarakan adalah aib yang ada pada suaminya. la sesungguhnya ingin terus menutupinya.
Fahri telah memberikan kebebasan sepenuhnya kepadanya jika memang ia ingin pisah. Beberapa kali Fahri menyampaikan itu
setelah ikhtiar suaminya untuk menyalakan dirinya tidak berhasil juga.
"Aib itu ada pada diriku, Hulya. Bukan pada dirimu. Kau berhak mendapatkan suami yang sehat yang lebih baik dariku. Kewenangan menjatuhkan talak aku letakkan ditanganmu. Aku tidak ingin menzalimimu."
"Ya Allah, jangan uji diriku dengan kegagalan membangun rumah tangga." Doa Hulya berulang kali dalam sujud-sujudnya.
Sudah tiga bulan ia bersabar. Tetapi ia perlu orang yang rnendengarkan jerit batinnya. Dan orang itu haruslah orang yang bisa ia percaya, sebab yang akan ia ceritakan adalah laranya dan aib suaminya.
Awalnya ia mau bicara pada ibunya. la mau pulang ke Turki beberapa masa. Tetapi ia merasa jika itu yang akan ia lakukan, perceraian dan talak akan jadi penyelesaiannya.
Dan ia tidak mau itu terjadi. la
mencari orang yang bisa ia ajak bicara. Tiba-tiba ia menemukan nama itu. Yaitu Sabina. Ya Sabina adalah orang yang sangat baik padanya dan sangat sabar atas apa saja.
Keputusannya bulat, ia ingin mencurahkan perasaan-perasaannya pada Sabina, sampai ia merasa lega.
Dan di suatu pagi yang dingin, Hulya mengajak Sabina bicara, ketika itu Fahri sedang berada di tempat kerjanya. Dengan kedua mata berkaca-kaca, ia ceritakan semuanya kepada Sabina.
Segala lara dan beban batinnya. Termasuk sikap Fahri yang meletakkan hak mentalak di tangannya.
"Aku telah betikhtiar semampuku. Segala pengetahuanku tentang cara membahagiakan suami telah aku kerahkan. Tapi sia-sia. Dan dia tampaknya semakin tersiksa, aku tahu dia terus berjuang dan berusaha tetapi juga sia-sia.
Sejak aku menikah sampai saat ini, aku masih perawan Sabina. Apa yang harus aku lakukan Sabina? Apa Sabina? Semua orang bilang kami adalah pasangan yang serasi, harmonis dan
bahagia. Ya tampaknya memang begitu, tetapi sesungguhnya kami sangat menderita.
Aku tidak mungkin membenci Aisha, tetapi penyakit psikologis suamiku itu bermula dari rasa berdosanya kepada Aisha. Apakah menurutmu kami harus bercerai Sabina? Atau kau punya saran Sabina?"
Satu jam Jebih Sabina mendengarkan cerita Hulya dan segala curahan batinnya. Tak terasa perempuan bermuka buruk itu justru ikut menangis.
"Ini semua karena dosaku." Gumam Sabina
Hulya terhenyak, "Apa maksudmu Sabina, aku tidak paham?" Sabina tergagap menyadari apa yang baru saja ia ucapkan.
"Oh tidak maksudku, ini semua bisa diselesaikan tanpa harus ada yang menyesal dan merasa berdosa."
"Bagaimana itu Sabina?"
"Kau harus sabar Hulya. Sekali lagi sabar. Siapa yang sabar dia akan meraih apa yang diinginkannya.
Paman Hulusi pernah cerita kepadaku bahwa Tuan Fahri pernah mau punya anak dengan Aisha, tetapi keguguran. Artinya Tuan Fahri sesungguhnya secara fisik tidak ada masalah.
Jadi kemungkinan besar akar masalahnya adalah psikis. Kau harus mampu pelan-pelan secara alamiah membuat Tuan Fahri merasa nyaman denganmu, sehingga namamu terus menerus akan bercokol di hatinya.
Jika bertemu dengannya jangan bicarakan masalah nafkah batin itu, sementara bisa membicarakan yang lain yang membuat Tuan Fahri merasa nyaman denganmu dan lama-lama kecanduan suaramu dan seterusnya.
Akhinya pelan-pelan menggeser Aisha di hatinya. Jika sudah demikian, barulah kau ikhtiar supaya dia bisa menyala. Sabar. Paman Hulusi pernah cerita, dulu Tuan Fahri saat menikah katanya bulan madu di tepi sungai Nil. Dan kalian bulan madu di tepi sungai Themes.
Tempat dan suasana yang mirip itu justru
akan mengingatkan Tuan Fahri pada Aisha. Carilah tempat dan suasana bermesraan yang berbeda.
Sehingga Tuan Fahri punya file istimewa yang berbeda."
"Misalnya di mana Sabina?"
"Banyak, misal di tengah hutan Afrika. Atau di tengah pulau terpencil. Atau bisa juga di tanah suci Makkah dan Madinah."
Hulya mengangguk-angguk. Ia merasa lega telah mengeluarkan beban batin yang selama ini menyesak di dadanya. la juga lega mendapatkan saran dan pencerahan yang logis dari Sabina.
"Sabina, tolong jaga rapat-rapat rahasia ini. Orang lain hanya kau yang tahu, ibuku saja tidak tahu."
"Insya Allah."
*****
Sejak itu cara Hulya berinteraksi dengan Fahri berubah. Hulya yang selama ini lembut, lebih terasa lembut. Yang selama ini telah sabar, lebih terasa sabarnya. Hulya tidak lagi menuntut atau membicarakan ketidak berdayaan Fahri dalam menyalakan dirinya.
Fahri heran melihat perubahan itu. Hulya seperti telah melupakan masalah yang dihadapi Fahri.
"Kau benar Hulya, rasanya aku perlu ke psikolog."
"Tidak usah."
"Kenapa?"
"Itu memang penting, tetapi ada banyak hal lain yang sangat penting dalam dirimu suamiku. Aku terlalu naif dan egois. Kalau hanya karena satu aib itu aku marah, padahal kau memiliki ribuan kelebihan dan kebaikan, sungguh aku ini istri macam apa. Kita tidak usah ke psikolog ke tempat lain saja."
"Ke mana?"
"Mengunjungi Rasulullah saja. Kita umroh."
Kedua mata Fahri berkaca-kaca haru.
Hulya tahu bahwa Fahri pernah umroh dengan Aisha. Maka Hulya menanyakan hotel apa yang pernah diinapi mereka. Hulya yang mengatur semuanya, mulai dari memilih travel dan hotelnya.
Dulu Fahri dan Aisha memulai umroh dari Madinah, maka Hulya memilih umroh dari Makkah dulu baru ke Madinah.
Hotel yang dipilih juga berbeda. Selama umroh Hulya mulai merasakan perbedaan. Fahri terasa lebih hangat dan lebih sayang. Terutama setelah Hulya mengalami kejadian sedikit pelecehan oleh pedagang pakaian di Madinah. Pedagang lelaki itu sambil memberikan contoh abaya yang ia inginkan, tapi tangannya juga mengelus punggungnya.
Fahri melihat itu dan marah luar biasa. Pedagang itu nyaris ditonjok oleh Fahri jika tidak dilerai pedagang yang lainnya. Sejak itu Fahri semakin sayang padanya.
Sampai pulang kembali ke Edinburgh, Hulya tidak menuntut apa-apa dari Fahri. Hingga musim semi tiba. Hulya mengajak Fahri camping di alam terbuka, hanya berdua.
Mereka berangkat ke stasiun Waverly pakai mobil, setelah itu pakai kereta, lalu disambung pakai bis. Hulya membawa suaminya camping di pinggir danau yang terletak jauh di dalam pedesaan di daerah Cornwall.
Hulya dan Fahri mendirikan tenda di situ. Suasana sangat tenang dan sepi. Hanya mereka berdua di pinggir danau itu.
Untuk ke pemukiman orang desa terdekat perlu berjalan kaki lima belas menit. Hulya ternyata pandai memancing, dan ahli camping. Saat sekolah di Turki dulu ia aktif di kepanduan.
*****
______________________________________________
[1] Jenis kuah dari yogurt khas Turki, yaitu Yogurt dicampur air dan buah mentimun.
[2] Makanan khas Turki terbuat dari daging Cincang dibumbui dan dibungkus dengan kulit berupa ulenan lalu di panggang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar