Senin, 01 Maret 2021

AYAT-AYAT CINTA 2 JILID 38

38

 PERNIKAHAN

Tetapi Hulya ingin tempat tinggal yang lebih luas. Lebih dari itu ia ingin membawa Sabina. Dan itu tidak bisa Hulya lakukan jika tetap tinggal di dalam Wadham College. Ia benar-benar ingin ditemani Sabina. 

Kini, Sabina seperti jimat baginya. la sangat menyayanginya. Karena saran Sabinalah ia bisa mengatasi masalah sangat krusial dalam rumah tangganya.

Fahri mengabulkan keinginan istrinya. Bekas rumah Nenek Catarina itu dijual untuk menambah biaya membeli rumah dua lantai berdinding bata kemerahan yang indah di St. Margaret's Road, Central North Oxford. 

Itu adalah rumah mewah dengan enam tempat tidur. 

Desain interiornya modern, tetapi bangunannya adalah bangunan klasik model viktoria yang dibangun tahun 1886. Rumah itu empat kali 
lebih mahal dari harga rumah Fahri di Stoneyhill Grove. 

Dari rumah barunya itu menuju kampus University of Oxford bisa ditempuh dengan naik sepeda.

Hulya sangat menyukai rumah barunya, lingkungan barunya dan suasana hidup penuh gairah di kawasan universitas kelas dunia yang sangat prestisius. Setiap pagi usai shalat Subuh dan membaca Al Qur'an dengan disimak Fahri, Hulya mengajak Fahri jalan-jalan pagi keliling Oxford. Ia merasa semakin hari 
semakin mencintai suaminya. Semakin hari semakin ingin terus lengket dengan suaminya.

Seringkali setelah sampai di rumah dan keringat jalan-jalan pagi telah kering ia mengajak suaminya ke kamar untuk beribadah penuh khusyuk sebagai suami istri layaknya para shalihin beribadah. Fahri begitu sabar dan telaten menggiringnya memasuki mihrab-mihrab kenikmatan ibadah yang menggetarkan seluruh syaraf-syarafnya. 

Berulang-ulang kali ia memekikkan tasbih di telinga Fahri dengan kedua mata terpejam. Harum kesturi mengiringi merekahnya jutaan bunga mawar yang indah di dalam batinnya.

Hulya memejamkan kedua matanya. Ia mengatur napasnya. Bibirnya tiada henti memuji Tuhannya. Air matanya meleleh begitu saja. 

"Kenapa menangis, Sayang. Apakah ada kesalahan yang aku lakukan?" Bisik Fahri.

"Tidak. Tidak ada kesalahan yang kau lakukan. Aku menangis bahagia. Tuhan begitu baik, Ia 
memberiku lebih dari yang kudamba. Dekaplah aku, ajaklah aku terus mendekat kepada Tuhan, agar nikmat, anugerah dan ridha-Nya terus menyelimuti kita." 

Jawab Hulya sambil memandangi wajah suaminya dengan air mata di pelupuk mata.

"Allahumma a'inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik.[1] Aamiin."

"Aamin."

Setelah mandi dan berpakaian rapi. Mereka shalat Dhuha. Lalu turun ke dapur untuk menikmati sarapan yang telah dihidangkan oleh Sabina. 

Dari jendela rumah yang lebar, mereka melihat sinar mentari yang mencumbui bunga Middlemist yang sangat cantik berwarna merah peach yang sedang merekah.

Fahri tersenyum.

"Kenapa tersenyum?" Tanya Hulya.

"Kau lebih cantik dari bunga Middlemist merah itu." Hulya salah tingkah.

Tak jauh dari situ, Sabina mendengar pujian indah itu. Ia menghela napas dengan mata terpejam menengadah ke atas. Air matanya meleleh di pipinya. 


                             ****


Berita-berita baik itu terus berdatangan. Brother Mosa Abdulkerim melaporkan keuntungan Agnina yang dalam semester pertama telah melampaui keuntungan tahun lalu. 

Nyonya Suzan melaporkan Kemajuan AFO Boutique. Madam Varenka menelepon dari London, bahwa Keira memenangi kompetisi tingkat dunia sebagai pemenang pertama. 

Lalu ia lihat koran pagi itu ada foto Keira menerima penghargaan.

Misbah telah selesai sidang PhD-nya dan diminta oleh profesornya untuk lanjut postdoctoral. la sempat menyarankan agar menerima tawaran itu, keluarganya di Indonesia bisa dibawa lagi ke Edinburgh. 

Tetapi Misbah memilih untuk pulang ke Indonesia. la sangat mendukung keputusan Misbah itu.

Paman Hulusi mengabarkan ia akan menikahi Madam Barbara, kasir minimarket Agnina yang telah lama menjanda.

"Kau serius Paman?" Tanyanya ketika Paman Hulusi mengunjunginya ke Oxford.

"Serius Hoca. Dia sudah muallaf."

"Alhamdulillah. Nanti kau dan Madam Barbara boleh tetap tinggal di rumah Stoneyhill Grove."

"Iya Hoca, saya akan jaga rumah itu."

Ozan dan keluarganya sering sekali bermain ke rumah Fahri di Oxford. Mereka bahkan sering menginap, terutama di akhir pekan. 

Laila sangat suka dengan taman di belakang rumah itu. Suatu malam ketika mereka menginap. dan makan malam bersama, Claire memberitahukan bahwa Laila akan punya adik. 

Hulya memberitahu bahwa setelah di USG, insya Allah anak pertama mereka adalah laki-laki.

"Saya akan namai dia Umar Al Faruq, nama sahabat Nabi yang mulia. Semoga ia kelak menjadi pembela kemanusiaan dan pembela agama Allah seperti sahabat Nabi yang mulia itu."

Fahri mengamini kata-kata istrinya itu.

Kabar baik juga datang dari Brenda. Tetangga rumahnya itu, kini mendapat pekerjaan yang lebih baik di Newcastle. Brenda ikut organisasi yang membela hak-hak minoritas di UK. 

Brenda juga aktif melakukan aksi menolak gerakan PEGlDA yang sangat anti-Islam di Eropa. Heba akhirnya menikah dengan Uzeir At Tamimi, imam muda Edinburgh Central Mosque. Fahri bahkan diminta menjadi saksi 
dari pihak Heba.

Di kalangan masyarakat Asia Tenggara di Britania Raya, Fahri semakin dikenal. 

Undangan berbagai acara datang silih berganti. Ketika KIBAR mengadakan acara muktamar akbar, Fahri menjadi pembicara utama bersama beberapa tokoh nasional dari Indonesia dan tokoh- tokoh Muslim terkemuka di Britania Raya. 

Dalam waktu tidak lama, Fahri menjadi salah satu dosen yang paling menyedot perhatian mahasiswa Oxford.

Kelasnya penuh sesak oleh mahasiswa. Acara-acara debatnya mendapat sambutan luar biasa. Acara televisi yang memintanya menjadi nara sumber tentang Islam, tentang perdamaian, dan tentang agama dan masyarakat global meraih rating yang sangat tinggi. Artikelnya yang hangat menghiasi banyak media di UK, Eropa dan Amerika.

Anak pertama Fahri dan Hulya, lahir dengan selamat di sebuah rumah sakit terbaik di Oxford. Fahri menamainya Umar Al Faruq, sesuai permintaan Hulya. Kehadiran bayi lelaki yang bermata bening itu membuat ikatan cinta Fahri dan Hulya semakin kokoh. 

Fahri seolah sudah lupa kepada Aisha. Justru 
Hulya yang selalu mengingatkan kepada Fahri agar tidak lupa sering-sering bersedekah, pahalanya untuk Aisha.

Hulya meminta Sabina menjadi ibu angkat si kecil Umar Al Faruq. Perempuan bermuka buruk itu sampai ingin menciumi tangan Hulya karena merasa sangat tersanjung mendapatkan kehormatan itu. 

Hulya menarik tangannya ketika Sabina mau menciumi tangannya. 

"Justru aku yang harus menciumi tanganmu, Sabina. Nasihatmu yang tulus dan baik itu yang menyelamatkan rumah tanggaku, hingga kini aku sebahagia ini. Sebagai rasa terima kasihku kepadamu aku ingin melakukan sesuatu yang semoga membuat hidupmu menjadi lebih indah ke depan." Kata Hulya.

"Apa itu?"

"Aku sudah bicara dengan suamiku. Aku ingin, mohon maaf, memperbaiki wajahmu. Itu pasti karena kecelakaan yang serius. Aku ingin mengembalikan wajahmu seperti sedia kala, seperti saat kau masih cantik. Aku yakin kau pasti cantik Sabina, secantik batinmu." Sabina menunduk. Air matanya merembes.

"Apa mungkin bisa kembali lagi seperti dulu?"

"Mungkin. Dunia kedokteran sekarang sudah sangat canggih. Dengan operasi plastik itu sangat mungkin. 

Kau tidak perlu memikirkan biayanya. Aku dan suamiku yang akan menanggung semuanya. Pekan depan kita ke rumah sakit terbaik di London, ada ahli bedah plastik terbaik dari Korea yang bekerja di sana. 

Kalau kau punya fotomu yang dulu, itu bisa jadi patokan. Atau kalau kau tidak punya, kita datangkan pelukis terbaik. Kau tinggal katakan seperti apa wajahmu, pelukis itu akan melukiskannya dengan sepersis-persisnya."

Sabina terdiam sesaat, ia berpikir dan mencerna kata-kata Hulya itu baik-baik. 
Tiba-tiba ia menggelengkan kepala.

"Kenapa?"

"Tidak usah. Biarkan aku seperti ini, aku sudah babagia bisa beribadah dengan tenang. Dan hidup bersama keluarga yang baik dan taat kepada Allah seperti kalian. Jika kalian berkenan, biaya operasi plastik itu tolong kirimkan saja untuk pengobatan anak-anak dan perempuan-perempuan di Palestina. Mereka lebih membutuhkan dari pada aku."

Hulya langsung memeluk Sabina sambil terisak.

"Kau bisa operasi plastik, dan tetap akan kita kirim sebesar biaya itu untuk anak-anak Palestina."

"Tidak usah Hulya. Aku bahagia. Apalagi menjadi ibu angkat Umar Al Faruq, aku sangat bahagia."

"Umar ingin melihat wajah ibu angkatnya yang asli." Lirih Hulya tanpa melepas pelukannya pada Sabina. 

Mendengar hal Itu tangis Sabina meledak. Namun Sabina tetap menolak operasi plastik yang ditawarkan Hulya.

Hubungan Sabina dengan Umar Al Faruq begitu dekatnya. Hulya sendiri membahasakan Sabina sebagai ibu kepada si kecil Umar Al Faruq. 

Musim dingin memudar berganti musim semi. Umar Al Faruq tumbuh subur dan menggemaskan hati. 

Jika tidak sedang bersama Hulya dan fahri, bisa dipastikan bayi itu berada dalam gendongan Sabina. Sambil menggendongnya Sabina membacakan ayat-ayat AI Qur'an yang 
dihafalnya. Dan mata bayi itu berbinar-binar seperti mengerti apa yang dibaca Sabina. 

Jika Sabina tersenyum, bayi itu tersenyum padanya. Sore itu udara sejuk mengalir. Bunga-bunga merekah menebar sihir. Sabina menggendong Umar Al Faruq dan membawanya jalan-jalan di kompleks perumahan elit yang indah, hijau dan terasa klasik itu.

Begitu tahu Sabina membawa Umar jalan-jalan keluar rumah, Hulya langsung berbisik kepada Fahri yang duduk di ruang tamu. 

"Kita punya waktu dua puluh menit. Bau bunga-bunga musim semi ini membuatku ingin ibadah seperti yang dilakukan para penghuni surga. Ayo cepatlah, Sayang''

Fahri tersenyum, ia bangkit mengikuti langkah istrinya naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar. 

Di dalam kamar, setelah Fahri dan Hulya berwudhu, keduanya lalu menyatu begitu khusyuk dan mesra dalam ibadah bersama.

Sebelum mengakhiri ibadah itu, Hulya membisikkan sebuah puisi ke telinga Fahri, 

agar dapat melukiskan hasratku,
kekasih,
taruh bibirmu seperti bintang di langit kata-katamu,
ciuman dalam malam yang hidup,
dan deras lenganmu memeluk daku
seperti suatu nyala bertanda kemenangan
mimpiku pun berada dalam benderang dan abadi [4]

Fahri kaget mendengar puisi yang dibaca Hulya itu.

"Dari mana kau dapai puisi itu, Sayang?"

"Rahasia, yang penting kau suka." Senyum Hulya menggoda.

Fahri tidak jadi mengakhiri ibadah itu, ia memperpanjang ibadah itu. la menghadirkan ribuan tasbih paling menggetarkan dalam setiap pori-pori dan syaraf-syaraf Hulya. 

Kalimat-kalimai suci membuncah-buncah menetas kebahagiaan yang penuh dalam batinnya. Ibadah sore itu terasa lebih semerbak dibanding ibadah musim semi tahun sebelumnya, malam-malam di dalam tenda di bawah temaram sinar bulan.

Hulya merasa Allah begitu sayang, begitu pemurah, begitu penuh perhatian, begitu pengasih kepadanya. Subhanallah wa bihamdihi, subhanallah. Wa bihamdihi, subhanallah wa bihamdihi ...

Wiridan Fahri paling utama adalah membaca Al Qur'an baik dengan melibat mushaf atau dengan hafalan, setiap hari lima juz. Dalam kondisi sesibuk apa pun wiridan itu ia jaga mati-matian. Jadi setiap enam hari sekali Fahri khatam Al Qur' an. Itu cara terbaik baginya untuk menjaga hafalan Al Qur'annya. Itu juga cara yang dipraktikkan oleh gurunya, Syaikh Utsman.

Setiap selesai shalat Shubuh dan berdzikir, Fahri selalu melihat agendanya hari itu. Jika ia melihat akan padat sekali sampai malam, maka pagi itu usai shalat Shubuh ia akan langung mengejar wiridan membaca Al Qur'an terkadang, ia tidak akan berdiri dari duduknya sebelum selesai lima juz.

Pagi itu, Fahri menyelesaikan dua juz. Kegiatan siang dan malamnya agak longgar. Yang akan sedikit menyita pikirannya adalah rapat mendiskusikan proposal seorang calon mahasiswa Ph.D. dari India. 

Mahasiswa itu menyelesaikan S1 dan S2-nya di bidang sastra Arab di Aligarh, ia akan menulis tentang interpretasi ayat ayat Al Qur'an dalam novel-novel Najib Mahfudz. la sampai geleng-geleng kepala, bagaimana mungkin calon mahasiswa itu menempatkan Najjb Mahfudz sebagai seorang mufassir? 

Sebagai sastrawan besar iya, tetapi sebagai mufassir yang didengar interpretasinya atas ayat-ayat suci Al Qur'an jelas tidak. 

Repotnya, ia akan diminta menjadi pembimbing keduanya jika proposal itu disetujui.


"Abul Faruq, ayo sarapan!"

Hulya memanggilnya dari pintu ruang kerjanya. Ruang kerjanya itu sekaligus perpustakaan, dan sekaligus tempat untuk shalat. Ia dan Hulya sudah sepakat untuk saling memanggil memakai kunyah dalam keseharian. Mengikuti cara Rasulullah Saw. Memanggil istri dan para sahabatnya. 

Karena nama anaknya Umar Al Faruq, maka ia memanggil Hulya dengan Ummul Faruq. Artinya ibunya Al Faruq. 

Sementara Hulya memanggil dirinya Abul Faruq, bapaknya Al Faruq. Awalnya mau memakai Ummu Umar atau Abu Umar, tetapi kunyah itu sudah terlalu banyak dipakai orang.

"Iya Ummul Faruq yang cantik."

Senyum Fahri sembari bangkit dari tempat duduknya di atas sajadah. Hulya menunggu di pintu sampai Fahri mendekat. Hulya lalu memegang tangan Fahri dan menggandengnya sambil turun tangga. Dari dapur Sabina melihat adegan mesra itu.

Hidangan sarapan pagi cara Inggris terhidang di atas meja. Hulya menuangkan teh ke dalam cangkir dan meletakkan di hadapan suaminya.

"Sudah baca surat kabar pagi ini?" Hulya bertanya dengan pertanyaan yang sesungguhnya tidak perlu dijawab. 

Sebab Hulya tahu, sejak pulang dari shalat Shubuh di masjid, suaminya itu langsung masuk ke ruang kerjanya dan wiridan membaca Al Qur'an.

"Kalau membaca Al Qur'an, alhamdulillah sudah, tetapi membaca surat kabar belum. Ada apa?"

"Ada berita menarik, tentang tetangga kita di Stoneyhill Grove."

"Siapa?"

"Keira dan adiknya Jason. Keduanya menjadi berita dengan judul 'Kakak Beradik yang
Mengukir Prestasi !‘ "

"Alhamdulillah. Mana surat kabarnya, jadi ingin baca."

Hulya mengambilkan surat kabar yang telah ia baca dan menunjukkan berita yang ia maksud. Di halaman itu terpampang foto Keira sedang memainkan biola di sebuah gedung kesenian di Praha, dan foto Jason yang tampak sangat dramatik menendang bola. 

Keira telah disejajarkan dengan para pemain 
biola muda terkemuka dunia. la menjadi selebritis yang sering masuk koran. Konser-konsernya ramai oleh pengunjung. Ketenaran dan pesona keartisan Keira dianggap menyamai artis lnggris peraih Oscar, Kate Winslet. Album pertamanya yang diterbitkan oleh label music Red Hill, meledak di Amerika dan Eropa. Kini Keira sudah teken kontrak dengan Columbia Records.

Sementara Jason sudah mulai debutnya sebagai pemain profesional di Liga Premier lnggris. Dengan seragarn West Ham, meskipun masuk sebagai pemain pengganti, Jason langsung menunjukkan tajinya dua gol kemenangan tandang West Ham karena ketajaman kaki kanan dan kaki kirinya. 

Kelincahannya membawa bola sambil berlari seperti melayang mengingatkan para penonton pada gaya Johan Cruyf. 

Media-media Inggris sontak memuji-muji Jason sebagai titisan Johan Cruyf dari Skotlandia.

"Mereka kakak beradik, tetapi kenapa itu nama keluarganya tidak sama?" Tanya Hulya. 

Fahri membaca ulang sekilas. Koran itu menulis nama lengkap Keira dengan Keira B. Walsh, sementara Jason ditulis dengan Jason W. Goddard.

"Ya mereka kakak beradik, sama ibu tapi beda ayah. Ayah Keira setahuku bernama Brad Walsh, sementara ayah Jason bemama William Goddard."

"Oh begitu."

"Ummul Faruq coba kau telepon Keira!"

"Untuk apa?"

"Mengucapkan selamat, juga ingin tahu apa dia masih ingat kamu ketika sudah jadi selebritis."

"Ide bagus." Hulya tersenyum.

Ia langsung meraih ponselnya dan menelepon Keira. Tidak diangkat. la menelepon lagi, tidak diangkat. la menelepon lagi tidak diangkat.

"Kenapa tidak diangkat ya?"
Fahri tersenyum.

"Padahal dia meminjam biolaku itu sampai sekarang belum dikembalikan." Sewot Hulya.

"Coba telepon Madam Varenka, kenapa ia menelepon Keira tidak diangkat. Bilang mau mengucapkan selamat atas kontraknya dengan Columbia Records. Juga minta biola itu dikembalikan!" Saran Fahri.

Hulya mengikuti saran suaminya. la menelepon Madam Varenka, langsung diangkat dan disambut dengan hangat. 
Hulya menyampaikan persis yang disarankan suaminya.

"Saya akan bicara dengan Keira, sepuluh menit lagi coba kontak dia." Kata Madam Varenka di 
seberang.

Sepuluh menit kemudian Hulya menelepon. Kali ini diangkat. Keira berbicara dengan nada dingin. 

"Ada apa Hulya? Soal biola itu besok aku minta mamaku untuk mengirimkannya ke rumahmu di Stoneyhill Grove. Ada perlu apa lagi? Maaf, waktuku sempit, ini aku sedang di Los Angeles."

"Maaf kalau mengganggu waktumu. Saya hanya mau mengucapkan selamat atas prestasi-prestasimu. Kapan ada waktu makan bersama, aku sudah punya anak, kau mau lihat?"

"Maaf aku sedang sibuk. Maaf ya. Kita sambung lain waktu."

Dan, klik! Keira menutup teleponnya. Wajah Hulya memerah, 

"Sombong sekali dia sekarang! Coba aku 
ikut kompetisi di London itu, dia tidak bakalan menjadi pemenang pertama! Sombong!"
Fahri tersenyum melihat tingkah istrinya. 

"Besok dia akan Iive di GGTV bersama Jason. Dia sedang di London, bukan Los Angeles."

"Bagaimana kau tahu?"

"Dari Jason, dia kirim foto lewat WA. Keira sedang berlibur bersama mamanya di apartemennya Jason di London. Lihat ini!".

Hulya melihat layar ponsel suaminya. Istri Fahri itu semakin jengkel.

"Aku telepon dia lagi, benar-benar sombong dia!"

"Tidak usah. Sekarang kau tahu, dunia artis penuh kepalsuan. Banyak yang sandiwara demi menjaga imej dan citra dia. ltulah kenapa aku tidak mengizinkanmu ikut kompetisi di London. Aku ingin kau jadi bidadari yang sesungguhnya, bukan bidadari palsu!"

"Ah indahnya. Setiap pagi dan sore, rasa cintaku kepadamu terus bertambah. Aku yakin, mungkin itu juga yang dulu dirasakan Aisha."


                                *****


Hari berikutnya, Fahri dan Hulya sudah di depan layar televisi. Mereka ingin melihat Keira dan Jason siaran langsung menjadi bintang tamu beberapa menit di program Good Morning Britain, GGTV. Ketika Jason dan Keira muncul, Sabina yang ada di dapur dipanggil oleh Hulya.

Fahri tersenyum melihat penampilan Jason yang sudah berkelas. Keira tampak lebih dewasa, penampilannnya layaknya artis papan atas. Fahri sedikit bersyukur, Keira masih memakai pakaian yang cukup menjaga. 

Bawahan jeans hitam, dan kemeja biru muda kotak-kotak, serta syal biru tua.

"Jason, penampilanmu luar biasa! Lima pertandingan dengan tujuh gol! Kau disebut-sebut seperti Johan Cruyff. Apa pendapatmu?"

"Jujur, aku kurang suka disebut mirip Johan Cruyff. Aku lebih suka jika disebut mirip Gary Lineker!"

"Oh kau penggemar Gary Lineker?"

"Ya."

"Okay, siapa orang yang paling berjasa atas pretasimu ini? Orang tuamu? Gurumu? Pelatihmu?"

"Mereka semua berjasa. Mamaku, guru-guruku, pelatihku dan kakakku ini Keira semua berjasa. 

Tapi yang paling berjasa hingga aku menemukan jalanku, dan benar-benar terus mengawal diriku hingga berprestasi adalah tetanggaku yang sangat baik. Ia malaikat penolongku. Tanpa dia aku mungkin sudah 
jadi kriminil !"

"Kayaknya ada cerita menarik?"

"Iya. Saat itu aku remaja yang nakal. Pada tetanggaku itu bahkan aku memusuhi, aku membencinya! 

Dan aku suka mencuri barang-barang di mall dan di supermarket. Tempat paling sering aku curi adalah sebuah minimarket di Musselburgh. Agnina minimarket. 

Beberapa kali aku mencuri di situ. Suatu hari 
aku ditangkap sekuriti dan dihadapkan pada pemiliknya. Ternyata pemiliknya adalah tetanggaku yang sangat aku benci. 

Herannya dia memaafkan aku, bersikap baik padaku. Dia bilang kalau perlu apa-apa bilang saja, tidak usah mencuri. Singkat cerita aku jadi dekat dengannya. Ia jadi teman baikku. 

Dan ia yang membiayai aku sekolah bola di Edinburgh."

Pembawa acara itu manggut-manggut. 

"Sebentar, saya ingin tahu kenapa dulu kau membencinya ?"

"Karena dia Muslim!"

"Oh kau membencinya karena dia Muslim?"

"Jujur saja ya. Saya terpengaruh berita. Muslim itu teroris maka aku benci dia. Ternyata anggapanku itu salah. Sama sekali salah. Dan saya minta maaf kepada seluruh Muslim yang pernah saya benci."

"Okay, saya jadi ikut terharu. Kalau boleh tahu, siapa nama tetangga Muslimmu yang baik itu? Di mana dia sekarang? Mungkin dia sedang menonton acara ini?"

"Dia namanya Fahri Abdullah. Saya biasa memanggilnya Fahri. Dia sekarang ada di Oxford. Mengajar di Oxford."

"Oh dia, sebentar, dia pembicara dan intelektual muda dari Oxford itu, pakar islamic Studies?"

"Benar!"

"Oh, selamat untuk Oxford, kalian tidak salah memilih dosen!"

Hulya dan Sabina yang menonton acara itu dipenuhi rasa haru. Tanpa malu pada Sabina, Hulya menciumi Fahri.

"Aku bangga padamu, Sayangku!"

Pembawa acara itu kini mewawancarai Keira. 

"Kalau kau bagaimana Keira? Apakah juga punya kisah dramatic seperti Jason?"

"Kisahku jauh lebib dramatic dari Jason."

"Sungguh?"

"Saya tidak mengada-ada."

"Bagaimana itu?"

"Sejak kecil saya sudah bercita-cita ingin jadi pemain biola kelas dunia. Karena itu sejak kecil saya belajar di sekolah musik.

Saya lulusan terbaik St. Mary's Music School, sekolah music tingkat high school terbaik di Edinburgh. 

Saya ingin lanjut ke London's Royal College of Music atau The Yehudi Menuhin School di Surrey. Supaya bisa jadi pemain biola tingkat dunia. Tapi semua mimpi itu hilang, karena ayah saya mati terkena bom di London yang diledakkan oleh teroris. 

Sejak itu saya benci Muslim, karena teroris yang ngebom itu katanya Muslim. Jason, adik saya ini, saya doktrin untuk membenci Muslim. 

Saya putus asa tidak bisa lanjut kuliah. Saya nyaris bunuh diri. Tapi tidak jadi. Saya lalu nekad pasang iklan di internet, saya mau 
menjual keperawanan saya, semahal-mahalnya. Dengan hasil menjual diri itu saya mau kuliah. Sudah banyak penawaran yang masuk, nyaris saja saya benar-benar menjual diri saya."

"Tiba-tiba ada malaikat tak dikenal datang. la menanyakan kepada saya kenapa menjual barang paling berharga itu? Saya jawab terus terang. Dia lalu bilang, siap untuk membiayai saya hingga memenangkan kompelisi tingkat dunia. 

Malaikat itu mengirim seorang tutor kelas dunia yang membimbing saya, sampai saya menang juara tiga di Italia. 

Biaya tutor itu, dan semua biaya ke Italia dia tanggung. Dia juga membantu ibu saya melunasi cicilan rumah yang kami tempati, katanya agar saya bisa konsentrasi. 

Tidak hanya itu, dia terus membiayai saya sampai saya menang juara satu di kompetisi tingkat dunia di London. Lalu jadilah saya seperti sekarang ini. Saya harus berterima kasih kepada malaikat penolong saya, dan terima kasih kepada tutor saya yang baik yaitu Madam Varenka!"

"Dramatis sekali!"

"Siapa malaikat itu ?"

"Ini dia puncak dramatisnya, saya sampai sekarang tidak tahu siapa dia '?"

"Tidak tahu? Serius?"

"Iya. Ia tidak mau diketahui jati dirinya."

"Seperti Robinhood saja."

"Bagi saya dia jauh lebih baik dari Roobin hood."

"Sebentar, kalau Madam Varenka, apakah dia juga tidak tahu siapa malaikat itu?"

"Mungkin saja dia tahu, tapi dia tidak mau membuka rahasianya saya kira?"

"Coba kita undang dan kita tanya Madam Varenka."
Madam Varenka datang dengan senyum mengembang.

"Madam, Anda pasti sudah tahu segala hal di balik kisah keberhasilan Keira."

"ya boleh dikatakan begitu. Tapi harus diketahui oleh dunia, Keira ini memang berbakat dan pekerja keras."

"Pasti, itu ciri khas para juara dunia. Tetapi Keira mengakui ada yang sangat berjasa padanya, seorang malaikat penolong yang meminta Anda menjadi tutor bagi Keira hingga meraih juara dunia. Siapa dia?"

"Saya tahu, tapi maaf saya tidak mungkin membocorkan siapa dia."

"Tolonglah Madam, jangan biarkan saya hidup dihantui penasaran, siapa dia?" Pinta Keira.
Madam Varenka menggeleng..

"Keira, kalau misalnya kau tahu orang yang menjadi malaikat penolongmu, apa yang akan
kau Jakukan?"

"Yang jelas, aku sudah sangat mencintainya."

"Serius" Padahal kau belum tahu dan belum bertemu dengannya."

"Tapi aku sudah merasakan perhatian dan kebaikannya."

"Jadi apa yang akan kau lakukan untuknya?"

"Jika dia perempuan dan masih muda, dia akan aku jadikan saudara. Jika perempuan dan sudah tua dia akan aku anggap sebagai ibu kedua."

"Jika laki-Jaki?"

"Kalau dia mau, aku siap menikah dengannya?"

"Serius? lni dilihat dan didengar seluruh dunia."

"Serius. Sudah aku katakan, aku sudah jatuh cinta padanya."

"Bagaimana kalau wajahnya jelek, dan sudah tua bangka?"

"Tidak masalah. Jiwa dan kepribadiannya telah membuatku jatuh cinta."

"Kalau dia kakek-kakek apakah kau juga akan rela menikah dengannya?"

"Iya"

"Tidak masuk aka!?"

"Kenapa tidak? Bukankah Chaterine Zeta-Jones juga menikahi kakek-kakek? Itu kenyataan, bukan hal yang tidak masuk akal."

"Ini seperti hidup di dalam dongeng."

"Perjalanan hidupku memang dramatik seperti dongeng. Tapi ini bukan dongeng. Anda mungkin bertanya kenapa sampai saya mau menikahi dengan malaikat penolong saya kau dia mau menikahi saya, seandainya dia sudah kakek-kakek sekalipun. 

Begini, saat ini, setiap malam saat saya mau tidur saya sering membayangkan, kalau dia tidak menolong saya mungkin, maaf, saya sudah jadi pelacur, bukan pemain biola profesional yang terhormat. 

Awalnya memang saya berniat menjual keperawanan saya untuk kuliah, setelah itu mungkin saya akan kecanduan. Dan saya akan jadi perempuan sampah. 

Jadi pertolongan Tuhan, lewat malaikat penolong saya itu sangat-sangat berarti. Jika saya mau menikah dengannya, saya merasa saya tidak merendahkan diri saya sedikitpun. Saya menikah dengan terhormat, dengan orang terhormat."

"Madam Varenka, ini jadi sangat menarik. Kalau seandainya Anda mau menceritakan siapa orang yang menolong Keira itu? Saya yakin para pemirsa di seluruh Britania Raya dan dunia, semuanya penasaran. Tolong Madam!"

"Saya tidak bisa!"

"Cobalah kau telepon, siapa tahu dia mau membuka jati dirinya."

"Tidak bisa!"

''Telepon saja, kalau dia tidak mau, saya tidak akan memaksa lagi"

Madam Varenka mengambil napas, dan meraih ponselnya lalu menelepon.

Hulya dan Sabina memperhatikan dengan saksama di layar kaca. Tiba-tiba ponsel Fahri yang ada di atas meja berdering. Hulya kaget bukan kepalang. Di layar ponsel itu, tertera Madam Varenka memanggil. 

Hulya memandangi Fahri dengan tidak percaya. Fahri diam saja. Hulya mengambil ponsel itu dan memberikan kepada Fahri.

"Mereka memaksa saya untuk membuka jati diri Anda, bagaimana Tuan?"

Jangan!"

"Baik Tuan."

"Bilang pada Keira, dia dan mamanya boleh berjumpa dengan orang yang menolongnya. Saya dan istri saya akan mengaturnya. Dari studio ITV tolong Madam Varenka langsung ke Oxford menemui saya untuk membicarakan teknisnya. Selebihnya, tidak boleh ada rahasia yang dibocorkan."

"Baik Tuan."

Tiba-tiba Hulya dibakar api cemburu luar biasa. 

"Jadi kau yang selama ini menolong Keira?"
Fahri mengangguk.

"Kau menolong dia karena suka pada dia?"
Fahri tersenyum.

"Kau akan menikahi dia?"

"Belum pernah aku melihat mukamu secantik ini. Kalau kau cemburu ternyata kau semakin cantik!"

"Fahri! Jawab, kau akan menikahi dia?!"

Hulya benar-benar dibakar cemburu, ia tidak lagi memanggil suaminya dengan kata 

"sayang" atau "Abul Faruq" tapi langsung nama aslinya.


                            ******


______________________________________________
[1] Ya Allah tolonglah kami untuk bisa terus mengingat-Mu. mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah dengan sebaik-baik ibadah 
kepada-Mu.
[2] Dipetik dari puisi berjudul kekasih karya Paul Eduard, Penyair Prancis abad ke-19 paling terkemuka dari golongan surealis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...