Karena Jun terus mendesak, aku mengaku sedang terbawa oleh kenangan masa silam. Kenangan itu mendadak terhenti pada peristiwa dramatis ketika Kiram mengeksekusi
Mantri Karsun. Lalu, mimpi atau tak mimpi, kisah masa silam itu terulang lagi dalam pembicaraan di dalam gua itu. Tak kuduga sebelumnya, Kiram dan Jun juga kelihatan bersemangat dalam bernostalgia.
“Waktu itu kamu marah karena aku langsung menghabisi Mantri Karsun, bukan?” kata Kiram.
“Ya, sebab tugas kita adalah menyerahkan dia kepada pasukan Republik. Kamu telah berbuat melebihi tugasmu.”
“Ah, kamu kan tahu. Daripada lolos, lebih baik dia kuselesaikan. Lagi pula, waktu itu aku tak begitu peduli tentang siapa yang memberi aku tugas. Pokoknya Mantri Karsun harus diambil. Juga, rasanya memang tak perlu menyerahkan Mantri Karsun hidup-hidup. Buktinya, komandan pasukan Republik sudah puas ketika tahu yang kubawa hanya kepala mantri itu. Iya apa tidak?”
Kami tertawa.
“Bukan hanya puas, komandan itu juga memuji kamu. Dan anak-anak yang dulu menghinamu merasa kehilangan muka di hadapan komandan mereka sendiri.”
Kiram tersenyum. Mungkin puas karena permintaannya mengambil Mantri Karsun berhasil baik. Komandan pasukan Republik meminta agar kami bergabung. Bagiku, tawaran itu sangat menyenangkan. Dan aku mengira Kiram dan Jun akan memenuhi tawaran yang sangat simpatik itu. Tetapi ternyata aku salah sangka, Kiram dan Jun menolak. Mereka tetap ingin bertempur sebagai tentara Tuhan, Hizbullah.
Sebenarnya waktu itu aku merasa mendapat peluang yang baik sekali untuk menyampaikan wejangan Kiai Ngumar kepada Kiram dan Jun; bahwa dengan nawaitu yang ikhlas, menjadi
anggota pasukan Republik pun sama dengan menjadi anggota Hizbullah. Namun entahlah, aku memang pengecut. Aku selalu merasa kecil bila sedang berdekatan dengan Kiram. Maka aku pun tak bisa berbuat lain kecuali mengikuti Kiram dan Jun. Mungkin karena pertolongan Kiram aku bisa mempunyai
senjata?
“Ah, bukan hanya Amid yang suka terkenang peristiwa masa lalu,” kata Jun. Dia meringis ketika berusaha memperbaiki posisi duduknya. Luka di pahanya mungkin membuatnya nyeri.
“Aku teringat pertempuran di pinggir jalan raya di daerah Gombong, sebuah pertempuran yang mengingatkan aku pada permainan kucing-kucingan. Tentara Belanda gagah betul dengan baret merahnya. Ya, seragam mereka membuat aku merasa ciut,” kata Jun.
“Oleh karena itu kamu hampir terjepit?” sela Kiram. “Kalau tak kubantu waktu itu, pasti kamu sudah mampus.”
“Tetapi aku berhasil melemparkan granat. Apa pun hasilnya, granat itu meledak.”
“Lemparan granat yang pertama!” leceh Kiram. Dan kami pun tertawa. Lalu sepi. Kulihat Kiram dan Jun sama-sama menerawang. Kukira keduanya, seperti aku, sedang tergoda oleh
kenangan masa lalu.
Ya. Setelah menyerahkan kepala Mantri Karsun, kami kembali ke basis kami sendiri. Namun dua hari kemudian kami mendapat perintah dari kalangan Hizbullah sendiri untuk secepatnya bergerak ke timur, ke Somalangu di pedalaman Kebumen. Di sana ada konsentrasi kekuatan Hizbullah dengan pelindung seorang kiai yang sangat berpengaruh. Banyak anak-anak Hizbullah maupun pemuda-pemuda biasa yang meminta kekuatan sakti kepada kiai itu. Bedil-bedil, senjata tajam, dan bambu runcing dimintakan sebul kepada Kiai agar bertuah. Kiram dan Jun juga menyerahkan senjata masing-masing untuk diberkati dalam antrean yang lumayan panjang. Tetapi belum selesai disusuk, kami harus mengambil senjata kami kembali. Ada kabar, Belanda datang dari arah timur. Kami diminta bersiap bersama pasukan Republik untuk melawan mereka di Kebumen.
Dan itulah pertempuran kami yang terakhir dan paling melelahkan, melawan tentara Belanda. Sebuah pertempuran yang meminta banyak korban. Banyak sekali anak-anak Hizbullah yang gugur. Tetapi kukira tentara Belanda pun banyak yang mati. Maka aku heran kenapa kami berempat, aku, Kiram, Jun,
dan Kang Suyud, dapat bertahan dan kembali ke kampung dengan selamat. Kami mundur dan siap bertempur kembali sewaktu-waktu. Namun di luar dugaan kami, suasana sangat
cepat berubah. Pada bulan Desember 1949, Belanda mengakui kedaulatan Republik dan kami, anggota Hizbullah, secara resmi tak punya musuh lagi. Namun di sinilah kemudian muncul masalah baru karena kami harus memilih membubarkan diri atau menerima seruan pemerintah untuk dilebur ke dalam tentara Republik.
Aku sendiri sangat gembira mendengar seruan pemerintah agar semua laskar bersenjata, termasuk Hizbullah, melebur ke dalam satu wadah resmi. Pikiranku sangat sederhana dan praktis: setelah Belanda pergi, buat apa pegang senjata kalau tidak mau jadi tentara? Bahkan dari wejangan Kiai Ngumar aku percaya, kewajiban berjihad sudah selesai dengan kepergian kekuatan kafir Belanda. Namun Kiram dan Jun berpendapat lain. Juga Kang Suyud. Mereka murung ketika mendengar seruan pemerintah itu dan aku tahu sebab yang sebenarnya. Terdengar selentingan, bahwa tidak semua anggota Hizbullah bisa
melimpah ke dalam tentara Republik. Pelimpahan itu hanya berlaku bagi mereka yang punya ijazah minimal sekolah rakyat. Kiram dan Jun tak punya apa-apa. Sementara Kang Suyud tak pernah tertarik untuk menjadi tentara resmi karena merasa sudah terlalu tua dan terutama karena tak mau berdekat-dekat
dengan anak-anak buah Siswo Wuyung. Tetapi aku merasa, baik Kiram, Jun, maupun Kang Suyud, malas menyerahkan senjata masing-masing. Bahkan aku mendengar selentingan
lain bahwa Kang Suyud tidak ingin setia kepada Republik karena diam-diam dia menyimpan cita-cita sendiri.
Karena merasa tak bisa memutuskan sendiri mengenai masalah ini, aku mengambil inisiatif mengumpulkan teman-teman di rumah Kiai Ngumar yang sudah kembali dari pengungsian. Orang tua itu terlihat letih setelah hidup dalam kesulitan selama berbulan-bulan. Namun kegembiraannya muncul dengan sangat jelas begitu ia berhadap-hadapan dengan kami.
Dan suasana yang sudah kembali aman membuat pembicaraan terasa lebih bebas karena kami tak perlu khawatir ada orang
menguping.
Kiai Ngumar lama terdiam setelah masalah yang kami hadapi kami sampaikan kepadanya. Dipandangnya kami satu demi satu, lalu Kiai Ngumar diam lagi. Namun setelah menggulung tembakau dan menyalakannya. Kiai Ngumar berkata sambil tetap menunduk.
“Dulu sudah kukatakan, perjuangan Hizbullah itu lillahi taala untuk menghilangkan kekuatan yang merusak negeri ini. Perjuangan yang demikian wajib hukumannya secara syar’i dan
kalian sudah selesai melaksanakannya. Semoga Allah menerima amal perjuangan kalian. Lalu apa lagi masalahnya?”
“Kiai, sekarang ini kami harus bagaimana?” aku bertanya.
“Kalau tak salah, terhadap pertanyaan ini pun aku dulu sudah memberikan jalan keluar. Kalian meletakkan senjata dan kembali ke tengah masyarakat, atau kalian bergabung dengan tentara resmi pemerintah. Sebetulnya kalian memilih yang mana?”
Aku tidak ingin menjadi orang pertama yang menjawab pertanyaan Kiai Ngumar. Tetapi lama kutunggu, semuanya diam.
“Kiai, saya ingin bergabung dengan tentara,” akhirnya aku bicara. “Saya kira, Kiram dan Jun juga. Entahlah Kang Suyud.”
Kiai Ngumar mengangguk-angguk.
“Itu baik, baik sekali. Kalian memang harus segera mencari kegiatan baru setelah selesai dengan kegiatan lama. Dan pekerjaan yang cocok buat kalian sekarang ini adalah menjadi
tentara. Apa lagi?”
“Kiai, ada selentingan hanya mereka yang punya ijazah yang dapat menjadi tentara....”
“Kamu punya?”
“Ya, Kiai,” aku menjawab. “Ijazah sekolah rakyat. Tetapi Kiram dan Jun tidak.”
Kiai Ngumar menunduk lagi.
“Kukira ada cara untuk menembus peraturan itu,” kata Kiai Ngumar akhirnya. “Di saat-saat seperti ini, aku kira tak ada peraturan yang berlaku mutlak. Dan kebetulan aku punya beberapa kenalan di kalangan tentara Republik.”
“Jadi Kiai merestui kami bergabung dengan tentara?” aku bertanya tak sabar.
“Lho, bukan hanya merestui. Akan kuusahakan agar Kiram dan Jun bisa tetap bersama-sama kamu.”
“Nanti dulu, Kiai,” tiba-tiba Kang Suyud memotong pembicaraan. “Izinkan saya bertanya, mengapa Kiai merestui anak-anak itu menjadi tentara Republik?”
Terasa ada tegangan tertentu dalam pertanyaan Kang Suyud. Kiai Ngumar menegakkan kepala, mungkin untuk menangkap ke mana arah pertanyaan itu.
“Menjadi tentara Republik itu halal, karena Republik memang sah. Hadratus Syekh takkan berfatwa bahwa berperang melawan Belanda wajib hukumnya apabila beliau meragukan
keabsahan Republik. Dan ingatlah pelajaran dalam Kitab, terhadap pemerintah yang sah kita wajib menaatinya.”
“Ya, Kiai. Lalu bagaimana seandainya selain Republik ada pilihan lain? Apalagi jika menurut saya pemerintah yang lain itu juga sah, atau bahkan lebih sah?”
Kulihat Kiai Ngumar agak terkejut. Dengan sinar matanya Kiai Ngumar meminta Kang Suyud menjelaskan maksud kata-katanya.
“Begini, Kiai. Ada berita dari seberang Citandui bahwa Kartosuwiryo dan kawan-kawannya bermaksud membangun sebuah negara Islam.”
“Maksudmu, Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo?”
“Betul.”
“Kamu dengar dari siapa?”
“Pokoknya saya mendengar berita itu. Dan saya memilih Kartosuwiryo daripada Bung Karno-Bung Hatta.”
Wajah Kiai Ngumar mengeras. Kedua matanya membulat.
“Apa alasanmu?”
“Bung Karno-Bung Hatta menyusun pemerintahan bersama segala macam orang, sementara Kartosuwiryo hanya bekerja sama dengan orang Islam untuk mendirikan sebuah negara Islam.”
“Sabarlah, Suyud. Aku ingin kembali mengingatkanmu akan kandungan Kitab. Di sana disebutkan, hanya ada satu kekuasaan yang sah dalam satu negara. Dengan kata lain, bila Republik sudah diakui sebagai kekuasaan yang sah, lainnya otomatis menjadi tidak sah.”
“Meskipun Kartosuwiryo orang Islam dan berjuang di bawah bendera dua kalimat syahadat?”
“Bung Karno dan Bung Hatta pun orang Islam. Mereka menyusun kekuasaan pemerintah atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa serta dasar-dasar lain, yang semuanya merupakan pokok-pokok dan prinsip-prinsip ajaran Islam. Dan lebih dari itu, kekuasaan mereka sudah diakui keabsahannya oleh masyarakat. Pengakuan ini akan membuat kekuasaan lain yang muncul belakangan jadi tidak sah.”
“Namun mereka juga bekerja sama dengan orang-orang di luar Islam. Sementara Kartosuwiryo tidak.”
“Suyud, dengarlah. Sudah pernah kujelaskan kepada Amid bahwa Nabi pun pernah melakukan kerja sama dengan orang di luar Islam untuk menjamin keamanan Negeri Madinah.”
“Jadi Kiai memilih Republik daripada Islam?”
Wajah Kiai Ngumar terlihat menegang. Terasa betul bahwa Kiai Ngumar sesungguhnya tak suka terlibat perdebatan. Alisnya turun-naik. Kemudian terdengar ucapannya dalam nada
yang lebih rendah.
“Suyud, sudah kubilang Bung Karno dan Bung Hatta pun orang Islam. Mereka memimpin negeri ini di atas landasan yang telah disepakati para pemimpin, termasuk para pemimpin Islam. Maka pertanyaan seperti yang kamu ajukan itu tidak perlu ada. Kita tak perlu memperhadapkan Islam dan Republik.”
“Jawab dengan jelas, Kiai!” kata Kang Suyud kasar. Aku mulai cemas. “Kiai memilih Islam atau Republik?”
“Baik. Nah, Anak-anak, saksikanlah jawabanku ini: dalam rangka melaksanakan ajaran Islam sendiri, aku memilih Republik. Aku makmum kepada Hadratus Syekh!”
Kulihat wajah Kang Suyud berubah menjadi merah. Urat pada kedua pipinya menegang. Lalu ia bangkit sambil memukul meja dengan tinjunya dan pergi tanpa pamit. Membuatku
terperangah terkejut...
Lamat-lamat kudengar Kiram dan Jun tertawa.
“Mid, kamu mimpi sambil duduk?” tanya Kiram.
Kepalaku pusing. Jun meringis-ringis, tetapi kemudian dia ikut tertawa.
“Masih melamun tentang zaman kuno, Mid?”
Aku tersenyum. Sulit rasanya mengembalikan pikiran ke alam nyata. Kuhirup kopi dingin dari cangkir logam.
“Tentang apa lagi, Mid?” tanya Kiram lagi.
“Kamu ingat dulu ketika Kang Suyud berdebat dengan Kiai Ngumar?” aku balik bertanya.
“Tentang Islam dan Republik?”
“Ya.”
Kiram tersenyum.
“Rasanya aneh ya,” kata Jun. “Dulu kita berada pada pihak Kiai Ngumar dan karena anjurannya pula kita bertiga hampir menjadi anggota tentara.”
Hampir jadi tentara! Jun benar. Dulu, atas anjuran dan restu Kiai Ngumar, kami bertiga pergi meninggalkan kampung dengan tujuan Kebumen untuk bergabung dengan mereka
yang akan ditarik menjadi tentara. Di sana kami bertemu dengan ratusan anggota Hizbullah. Anehnya, dalam waktu yang
tidak terlalu lama, aku merasakan adanya nuansa perpecahan. Kang Suyud, meski tidak ikut pergi bersama kami, ternyata tidak sendirian. Tidak sedikit anak Hizbullah yang tidak mau meleburkan diri ke dalam tentara Republik dan tidak mau meletakkan senjata. Kata-kata sindiran mulai terdengar antara
mereka yang mau dan tidak mau melebur. Tetapi aku, Jun, dan Kirim sudah membulatkan tekad: menjadi tentara, punya pangkat, punya gaji. Dan kami merasa berhak memilih masa
depan kami sendiri, yang menurut Kiai Ngumar halal-halal saja.
Pagi-pagi ratusan anggota Hizbullah yang memilih melebur ke dalam tentara Republik berhimpun di suatu tempat di tepi rel kereta api. Malam sebelumnya ada berita resmi, kami akan diangkut dengan kereta api menuju Purworejo untuk dilantik resmi menjadi anggota tentara Republik. Aku dan Jun saat itu memang belum pantas disebut tentara karena pakaian kami masih seadanya. Namun Kiram sudah gagah. Pakaiannya pantas dan sudah pakai topi baja. Di pinggang kanannya tergantung granat. Pantas betul dia. Dan aku selalu digoda oleh pertanyaan konyol: melihat sosoknya yang demikian meyakinkan, siapa akan mengira Kiram buta huruf?
Jam sembilan pagi terdengar suara lokomotif dari arah tilokomotifnya kelihatan bergulung ke udara. Dengus mesin uapnya terdengar jelas. Ketika kereta api mulai melambat, kami bersiap. Namun kami mendadak tertegun karena tiba-tiba terdengar rentetan tembakan. Naluriku berkata, ada bahaya datang. Maka aku, Kiram, dan Jun lari dan menjatuhkan diri dalam sebuah parit. Ya Tuhan, detik berikutnya aku menyadari bahwa tembakan itu diarahkan kepada kami. Aku melihat kelebat senjata berat dari salah satu gerbong kereta. Lalu, apakah arti semua ini? Pengkhianatan? Bila benar, pengkhianat mana yang bisa berbuat sekotor itu?
Kulihat ke samping, wajah Kiram merah padam menahan murka. Ia mengajak aku dan Jun membalas tembakan, siapa pun yang bersembunyi dalam gerbong yang baru datang itu. Sebenarnya Kiram tak usah menyuruh aku seperti itu karena perang memang sudah mulai. Anak-anak Hizbullah, kecuali yang tewas pada berondongan pertama dari dalam gerbong, bertempur serempak. Waktu itu aku melihat sendiri siapa Kiram sebenarnya. Ia memang jagoan. Ia merangkak sepanjang
parit sampai ke dekat gerbong dari mana tembakan-tembakan dimulai. Kulihat Kiram menggigit kunci granat dan melemparkannya masuk gerbong lewat jendela. Gerbong itu terguncang oleh ledakan granat yang dilemparkan Kiram. Aku yakin, siapa dan berapa pun manusia yang berada dalam gerbong itu, pasti tewas bersama kepulan asap hitam yang membubung.
Pertempuran terus berkecamuk dan berubah menjadi tawuran, karena kami tak tahu dengan pasti siapa kawan dan siapa lawan. Bahkan siapa Hizbullah dan siapa bukan, tidaklah kami ketahui dengan pasti karena kami baru satu hari berkumpul dengan mereka. Kami hanya tahu bahwa seseorang adalah kawan bila dia menembak ke arah kereta api yang sudah lumpuh. Dan suasana menjadi sangat kacau ketika datang ratusan anak Hizbullah yang sejak semula tidak mau dilebur ke dalam tentara Republik. Mula-mula mereka menembaki kami. Namun setelah terjadi komunikasi melalui teriakan-teriakan, dan terutama melalui seruan takbir, anak-anak Hizbullah yang baru datang itu bergabung dengan kami menyerang mereka yang bertahan dalam gerbong-gerbong kereta api.
Suara tembakan berhenti setelah berlangsung pertempuran hampir dua jam. Tak ada lagi tanda-tanda kehidupan terlihat dari mereka yang bertahan. Kereta api benar-benar lumpuh, bahkan kemudian dibakar. Kukira korban yang tewas mencapai seratus orang, baik dari pihak kami maupun dari pihak mereka. Atau entahlah. Saat itu aku tak berpikir macam-macam karena aku sedang dilanda ketidakpastian: apa sebenarnya yang baru terjadi? Siapa yang mendadak menyerang kami dari dalam gerbong? Dan mengapa kami akan diangkut ke Purworejo dengan kereta itu untuk dilantik?
Tak ada jawaban yang pasti. Juga tak ada jawaban yang jelas mengapa mereka berani menyerang, padahal kami pasti memiliki kemampuan membalas setiap tembakan mereka. Kecuali jika mereka adalah pasukan bunuh diri yang dikirim sekadar untuk menyulut api permusuhan antara kekuatan Republik dan Hizbullah. Dan kalau memang demikian, siapa yang berada di belakang mereka? Sungguh membingungkan. Yang jelas, apa pun latar belakang penyerangan itu, di antara ratusan anak Hizbullah yang seluruhnya bersenjata lengkap meletup perasaan yang sama: dikhianati. Aku, Jun, dan Kiram pun sama: me-
rasa dikhianati. Dan dalam kebersamaan rasa itu berkembang sikap yang sangat cepat dan dramatis. Seluruh anak Hizbullah, baik yang pro maupun yang kontra terhadap peleburan, bersatu kembali untuk menghadapi lawan baru: siapa lagi kalau bukan mereka yang menyerang kami dari dalam gerbong kereta
itu, serta kekuatan yang berada di belakangnya.
Seluruh pasukan Hizbullah kemudian mengundurkan diri ke Somalangu. Di sana terjadi perbincangan, atau perdebatan,
tentang siapa sebenarnya mereka yang menyerang kami. Ada yang percaya, pasukan Republik tak mungkin punya perilaku sekotor itu. Menurut pendapat ini, para penyerang memang oknum-oknum yang berasal dari kalangan pasukan Republik, namun mereka bekerja untuk kepentingan golongan tertentu. Mereka adalah pengkhianat yang mencatut nama pasukan Republik dan tidak suka terhadap masuknya anak-anak bekas Hizbullah ke pasukan pemerintah. Pendapat ini sebenarnya gamblang dan mengarah kepada tuduhan terhadap oknum-oknum komunis. Dan semua orang tahu bahwa pembersihan terhadap oknum-oknum itu, terutama setelah terjadi makar Madiun di tahun 1948, belum sempat dilaksanakan secara intensif.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar