Rabu, 31 Maret 2021

LINGKAR TANAH LINGKAR AIR BAB 04

BAGIAN PERTAMA 04





“Kalau hanya itu pertimbangan kamu, apakah tidak bisa dipikirkan lagi? Pertama, sepanjang yang aku tahu, tidak semua anggota tentara Republik beraliran komunis. Kedua, aku ingin 
mengajak kamu berpikir tentang masa depan kalian sendiri. Tak ada perang yang tanpa akhir, dalam hal ini aku cenderung lebih suka kalian bergabung dengan tentara resmi.”

“Tidak,” jawab Kiram dan Kang Suyud hampir bersamaan. 

“Niat kami sudah bulat. Membentuk Hizbullah,” sambung Kiram.

“Baik. Itu pun, sudah kukatakan, aku merestuinya. Asal jangan kalian lupakan, nawaitu-nya lillahi taala dan kembalilah ke desa bila kelak keadaan sudah aman. Dalam pengertian seperti itulah dulu aku justru menyebut kalian Hizbullah.”

Aku merasa pertemuan itu berakhir dalam suasana agak kaku. Mungkin karena Kiai Ngumar, di luar dugaan, tidak serta-merta mendukung keinginan Kiram dan Kang Suyud, 
malah mengaku lebih suka jika kami bergabung dengan tentara resmi.

Kiram, Kang Suyud, Jun, dan Jalal langsung bubar, aku tinggal berdua dengan Kiai Ngumar. Aku bahkan menawarkan diri untuk mengawalnya ketika orang tua itu mengatakan 
ingin tidur di luar rumah. Kiai memilih sebuah surau kecil di kampung pengungsian itu sebagai tempat istirahatnya malam ini.

Kiai Ngumar keluar dengan iringan irama detak terompahnya yang khas. Bunyi terompah kayu itu selalu menjadi pertanda kehadirannya. Aku mengikutinya. Terbit rasa bangga karena aku menjadi pengawal yang benar-benar bersenjata bagi orang yang dihormati. Rasanya aku memang gagah.

Tentulah malam sudah cukup larut karena bulan tanggal tua sudah agak tinggi di timur. Aku mengira Kiai Ngumar akan segera masuk untuk tidur dalam surau kecil itu. Tetapi pikiranku salah. Kiai Ngumar mengajakku duduk pada sebuah bangku kayu di emper depan. Sepi sekali. Apalagi tak seorang pun 
penduduk yang menyalakan lampu minyak di beranda rumah mereka. Bahkan denging nyamuk pun tak terdengar. Musim kemarau yang kering tak memberi tempat basah untuk menetaskan telur nyamuk. Bulan tampak demikian tenang, membuat bayang-bayang temaram di halaman surau yang berpasir.

“Mid,” kata Kiai Ngumar mengusik keheningan.

“Ya, Kiai.”

“Sebenarnya, tadi masih banyak yang ingin aku katakan kepada Suyud dan kawan-kawannya. Tetapi aku melihat mereka sudah demikian kuat pada keputusannya.”

“Kalau Kiai masih ingin bicara, saya bersedia mendengarkannya dengan senang hati.”

“Ya, mumpung kita hanya berdua.”

“Kiai ingin cerita apa lagi?”

“Sebenarnya aku ingin mengajak mereka melihat masa lalu. Hal ini berkaitan dengan ucapan Suyud yang tak mau bekerja sama dengan orang-orang yang tidak taat bersembahyang.”

“Maksud Kiai?”

Kiai Ngumar tidak segera menjawab pertanyaanku. Aku merasa orang tua itu sedang memikirkan suatu hal yang penting dan mendalam.

“Mid, kamu tahu bahwa dulu orang Cina, orang Portugis, juga orang Inggris menyebut semua penduduk Indonesia dari Aceh sampai Sunda Kecil sebagai orang Selam?”

“Orang Selam?”

“Ya.”

“Lalu apakah hubungannya dengan sikap Kang Suyud yang hanya mau bergabung dengan orang-orang yang taat bersembahyang?”

“Dengarkan dulu dengan sabar. Orang-orang asing menyebut kita semua Selam.”

“Bukan ‘pribumi’?

“Bukan. Kata ‘pribumi’ belum lama lahir. Mungkin Ki Hajar Dewantara yang menciptakannya.”

“Lalu dengan istilah Selam?”

“Maksudnya jelas, Islam. Kamu mengerti apa artinya?”

“Tidak,” jawabku.

“Artinya, Selam adalah sebutan untuk semua orang yang tinggal di Aceh sampai Sunda Kecil tadi. Ya, pribumi itulah. Dulu, di mata orang asing, juga dalam perasaan kita semua, Selam dan Tanah Air adalah dua sisi dari satu mata uang, seperti Pandawa dan Amarta. Orang-orang tua kita di sini, yang sembahyang atau tidak, yang santri atau yang abangan, bahkan 
juga orang dul-dulan, sama-sama merasa sebagai orang Selam. Mereka bersaksi bahwa Gusti Allah adalah Tuhan Yang Esa, Kanjeng Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Mereka sejak lama hidup rukun dan bergotong-royong. Jadi aku tak paham mengapa si Suyud kini tak mau bergabung dengan tentara resmi hanya karena di sana banyak anggota yang tidak sembahyang.”

Sepi lagi. Kiai Ngumar menyalakan pemantik dan wajahnya yang tua tampak sesaat. Aku tepekur untuk mencoba mengikuti wawasan baru yang diuraikan Kiai Ngumar.

“Mid.”

“Ya, Kiai.”

“Sejak zaman dulu para ulama hidup damai dengan para santri dan juga damai di tengah orang-orang abangan. Para ulama dulu bahkan tidak pernah membuat garis pemisah antara keduanya. Memang istilah santri dan abangan, bahkan juga wong dul-dulan, sudah lama ada. Namun dalam kehidupan sehari-hari mereka hidup dalam kebersamaan yang tak dapat 
diragukan.”

Rokok Kiai Ngumar padam lagi. Ada bayi menangis dari rumah yang paling dekat dengan surau. Ada suara tokek dari bubungan sebuah rumah. Dan Kiai Ngumar kembali menghidupkan pemantik api.

“Mid, para ulama dulu bahkan tidak menjauhi para bromocorah, kecuali jika mereka benar-benar membuka permusuhan. Mengapa? Karena para ulama dulu menganggap para bromocorah, atau orang-orang sebangsa mereka, tetap orang Selam meski mereka meninggalkan sembahyang.”

“Nanti dulu, Kiai. Maafkan, saya memotong. Dari kata-kata Kiai tadi, bolehkah saya menarik kesimpulan bahwa sebenarnya sembahyang tidak penting?” aku bertanya dengan suara 
tertekan.

Kiai Ngumar tertawa tertahan. Sayang, dalam gelap aku tak bisa melihat ekspresinya.

“Mid, kamu keliru. Para ulama seperti Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, dan sebagainya, bahkan aku sendiri misalnya, tak pernah lupa mengajari orang untuk bersembahyang. Bukan 
hanya mengajarkan bacaan dan tata caranya, melainkan juga, dan ini yang paling penting, mengajari jiwa agar setiap orang bisa mewajibkan diri mereka sendiri untuk bersembahyang.

“Ya. Sembahyang adalah kewajiban yang datang dari Tuhan untuk setiap pribadi yang percaya. Ya. Kewajiban sembahyang tidak datang dari seseorang untuk orang lainnya. Maka secara pribadi aku tak berani mewajibkan apa-apa kepada orang lain karena aku juga tak mungkin memberinya pahala, 
tak pula berhak menghukumnya. Lalu bagaimana dengan si Suyud yang seakan-akan mau mewajibkan suatu yang jadi hak Allah, yaitu sembahyang, kepada orang lain?”

Aku menarik napas panjang dan membiarkan Kiai Ngumar istirahat. Orang tua itu sudah bercakap panjang-lebar tentang sesuatu yang baru kuketahui dan kukira sangat penting. Dalam hati aku memuji keluasan pandangan kiai bekas tokoh SI itu. Bahkan sebenarnya aku tak pernah mengira, dalam diri Kiai Ngumar tersimpan pengalaman serta pengetahuan yang demikian luas.

“Masih ada satu hal lagi, Mid.”

“Ya, Kiai.”

“Dalam riwayat dikatakan. Nabi sendiri pernah mengikat perjanjian untuk bekerja sama dengan kaum Yahudi dan Nasrani dalam menyelenggarakan pertahanan kota Madinah. Nabi setia dengan perjanjian itu dan baru menarik diri setelah pihak lain berkhianat. Nah, Mid, dalam kaitannya dengan sikap Suyud itu, bagaimana?”

“Kiai…”

“Apa?”

“Saya jadi bingung. Saya memahami apa yang sudah Kiai katakan. Kini saya tahu, kewajiban berjihad untuk memerangi kekuatan yang membuat kerusakan di negeri ini sesungguhnya bisa juga dilakukan melalui ketentaraan resmi. Maksud saya tidak semata-mata harus melalui Hizbullah.”

“Ya. Memang begitu. Lalu kenapa bingung?”

“Kalau begitu, Kiai setuju bila saya sendiri yang bergabung dengan ketentaraan?”

“Memisahkan diri dari Kiram dan teman-temannya?”

“Ya.”

“Jangan, Mid. Nanti bisa timbul perpecahan di antara kalian dan fitnah. Sebaiknya kamu tetap bersama mereka membentuk barisan Hizbullah agar kamu semua tetap bersatu. Tetapi aku berwasiat bila sudah aman kelak, kembalilah ke desa dengan ikhlas. Atau ya itu tadi, bergabunglah dengan tentara. Tetapi kelak.”

“Kelak itu kapan, Kiai?”

“Begini, Mid. Belanda takkan lama di sini. Dalam ramalan orang-orang tua, sudah tak ada lagi jangka bagi mereka untuk tinggal di negeri ini. Percayalah, sesuatu ada masanya. Dan segala sesuatu tak akan hadir di luar masa yang tersedia baginya.”

“Tidak lama lagi?”

“Pada perasaanku, ya."

Aku lega karena jelas sekali apa yang harus kuputuskan besok. Aku juga sangat menghormati sikap Kiai Ngumar yang menaruh masalah kekompakan kami di atas hal-hal lain, termasuk pemikiran Kiai sendiri.

Bulan sudah tergelincir ketika Kiai Ngumar bangkit dan berjalan ke perigi. Detak terompah kayu setia mengiringinya. Terdengar kecipak air ketika Kiai Ngumar mengambil air sembahyang. Ada suara burung hantu dari arah selatan. Dan sinar bulan tiba-tiba lenyap karena segumpal awan bergerak menghalanginya.

Kiai Ngumar masuk ke surau dan bersembahyang. Aku merebahkan diri dekat pintu, bergulung kain sarung. Senjata tersembunyi di antara kedua kakiku. Karena perasaan lega dan udara malam yang dingin, aku segera terlena. Namun rasanya baru sesaat aku lelap ketika samar-samar aku mendengar suara terompah kayu Kiai Ngumar kembali berjalan ke perigi. Dan kokok ayam 
jantan bersahutan. Tokek di bubungan surau, bahkan keresek kelaras pisang tersentuh kelelawar yang pulang pagi.

Di pertengahan tahun 1948, Barisan Pemuda, nama asal-asalan yang kami berikan buat kelompok kecil pasukan kami sendiri, sah menjadi Hizbullah. Tetapi tak ada upacara, tak ada pencatatan anggota. Kami hanya berkumpul di rumah Kang Suyud, dan membaiat-nya menjadi tetua bagi kami: Kiram, 
Jun, Jalal, dan aku. Kiram menjadi wakilnya. Banyak pemuda ingin masuk, namun Kang Suyud hanya menjadikan mereka anggota cadangan karena mereka tak punya senjata. Maka dalam kenyataannya anggota Hizbullah dari kampung kami hanya ada lima orang, termasuk Kang Suyud.

Aku segera merasakan adanya perubahan: kami menjadi lebih terikat kepada Kang Suyud karena Kiram kelihatan mulai renggang dengan Kiai Ngumar. Memang, Kang Suyud boleh 
dibilang seorang kiai juga, namun ia lebih muda dan kukira tak punya pengalaman berorganisasi seperti Kiai Ngumar. Perubahan juga terasa terjadi di bidang lain. Dulu, ketika kami masih menggunakan nama Barisan Pemuda, kami lebih leluasa meminta bantuan kepada masyarakat. Kami bisa minta makan, 
minum, atau rokok kepada orang santri, orang abangan, atau para pedagang. Sekarang, entah mengapa kami hanya berani minta sumbangan logistik kepada orang-orang yang tinggal di 
sekitar masjid. Terasa pandangan mataku makin menyempit.

Perubahan yang lebih terasa terjadi pada segi yang menyangkut hubungan dengan kelompok-kelompok tentara resmi. Jelas sekali mereka seperti mengambil jarak dengan kami. Dalam berbagai operasi melawan tentara Belanda, mereka tidak mengajak kami. Masing-masing bertempur dalam garis komando sendiri-sendiri. Bahkan beberapa kali terjadi salah 
pengertian antara kami dan mereka, sehingga hampir terjadi baku tembak.

Suasana dingin dan tegang antara kami dan pasukan Republik mungkin akan bertambah buruk apabila mereka tidak mendapat komandan baru. Dengan pergantian komandan itu terasa ada angin segar. Bahkan suatu hari datang kurir membawa surat buat kami. Tentara minta bantuan kami (dalam surat 
itu khusus disebut nama Kiram dan namaku) untuk membawa Mantri Karsun ke Karangtalun. Ya. Kukira mereka sudah mendengar cerita tentang Kiram, tentang keberanian dan kenekatannya.

Mantri Karsun adalah pemungut cukai pasar desa kami, teman Hianli, dan keduanya kami kenal sebagai mata-mata Belanda. Surat itu menjadi bahan pembicaraan di rumah Kang 
Suyud. Dan sebelum ada kata putus apa pun, Kiram sudah begitu bernafsu hendak melaksanakan permintaan bantuan itu, 
yaitu mengambil Mantri Karsun.

“Nanti dulu,” kata Kang Suyud. “Kita punya perhitungan sendiri dengan mantri itu. Tanpa surat ini pun kita akan mengambil dia. Jadi…”

“Sebentar, Kang Suyud. Meskipun benar kita punya urusan sendiri dengan Mantri Karsun, apa salahnya jika tindakan terhadap dia kita atas namakan tentara?”

“Lho, buat apa?”

“Buat kerja sama. Aku percaya, suatu saat kita akan memerlukan bantuan mereka, obat-obatan misalnya. Atau siapa tahu, malah senjata. Kita hanya punya empat bedil, bukan?” kataku.

“Tetapi di sana banyak anak Pesindo, anak buah Siswo Wuyung yang komunis. Kamu mau bekerja sama dengan kafir komunis?”

Aku bingung. Pertanyaan Kang Suyud tak bisa kujawab. Untung aku teringat Kiram yang pernah dihina karena buta huruf.

“Kang, aku hanya melihat komandan mereka bukan komunis. Dia baik, dan kini malah minta bantuan kepada kita. Apa ini bukan pertanda iktikad baik dia? Juga, Kiram pernah mendapat penghinaan. Apabila permintaan mereka dapat kita penuhi, Kiram bisa membuktikan diri bahwa dia seharusnya dipuji, bukan dihina.”

Kang Suyud diam. Ketika dia tampak hendak berbicara, Kiram mendahuluinya.

“Pokoknya Mantri Karsun harus kuambil, tak peduli atas nama Republik atau atas nama Hizbullah.”

“Ya, ambil dulu dia. Soal atas nama siapa pengambilan itu, adalah urusan nanti,” kataku.

Tak tahulah, akhirnya semua sepakat bahwa aku dan Kiram yang akan mengambil Mantri Karsun. Aku lega karena aku merasa jurang yang memisahkan kami dengan pasukan Republik akan terjembatani. Apalagi bila aku dan Kiram terbukti berhasil membawa mata-mata Belanda itu ke hadapan koman dan pasukan Republik.

Seperti ketika menyergap Hianli, kali ini pun aku mengekor saja kepada Kiram. Seperti Hianli, kabarnya Mantri Karsun pun tak pernah tinggal di rumah pada malam hari. Maka 
kami memilih saat yang lain. Setelah memperhitungkan segala sesuatu, pagi-pagi kami sudah bersembunyi di balik semak sepi 
di pinggir jalan ke arah pasar. Mantri Karsun selalu lewat di situ setiap pagi hari pasaran untuk menarik uang retribusi dari para pedagang. Pukul setengah tujuh kudengar suara sepeda datang, dan tak salah lagi: Mantri Karsun. Kiram melompat keluar dari semak dan tanpa ucapan apa pun ia menarik Mantri Karsun dari atas sepedanya. Kendaraan itu roboh dan pemiliknya tak berdaya dalam cekalan Kiram. Lebih-lebih lagi setelah aku membelenggu kedua tangannya ke belakang dan mendorongnya agar cepat bergerak meninggalkan jalan besar.

Aku dan Kiram berjalan bergegas sambil mendorong-dorong Mantri Karsun. Kami harus segera menjauh karena tadi kulihat ada beberapa orang menyaksikan operasi kami. Sampai di pinggir sungai kami berhenti. Kiram menyuruh Mantri Karsun jongkok. Kukira dia akan langsung menembak tawanan itu, tetapi ternyata tidak.

“Kita ke mana?” tanya Kiram.

“Kok tanya. Ke Karangtalun, bukan?” balasku. 

“Ke markas tentara?”

“Ya.”

“Kang Suyud tidak setuju.”

“Aku sudah tahu sikap Kang Suyud. Tetapi kamu perlu membuktikan kepada tentara bahwa kamu tak pantas dihina.”

Sebagai jawaban, Kiram menyuruh Mantri Karsun bangkit. Kulihat wajah pesakitan itu sangat pucat. Kedua kakinya gemetar. Malah celananya basah. Mulutnya menggumamkan 
sesuatu, mungkin permintaan ampun, tapi Kiram tak peduli. 

Sebagai seorang mata-mata, Mantri Karsun memang menjengkelkan. Kabarnya, tentara Republik beberapa kali gagal mencegat pasukan Belanda karena rencana mereka tercium mantri itu dan ia bocorkan ke pihak lawan. Ada kabar juga, suatu pos rahasia pasukan Republik diserang Belanda atas petunjuk Mantri Karsun. Jadi tentara, dan kami juga, memang jengkel terhadap mata-mata itu. Namun ketika mantri itu tak berdaya dan terkencing-kencing, aku hampir tak tega melihatnya.

Tukang perahu tambang ikut gemetar ketika Kiram memintanya menyeberangkan kami. Apalagi ia segera menyadari bahwa kami membawa seorang tahanan yang terbelenggu. Dengan wajah ketakutan tukang perahu itu memenuhi permintaan kami. Mantri Karsun yang pertama naik, kemudian menyusul Kiram dan aku. Perahu tambang bergerak dengan segalanya kelihatan lancar. Kiram tetap berdiri. Dalam posisi seperti itu, dia mudah oleng.

Kemudian terjadilah peristiwa itu. Aku tak tahu persis bagaimana awalnya; yang kulihat sekilas adalah kedua tangan Mantri Karsun terlepas dari belenggu dan sedetik kemudian 
dia sudah terjun lalu menghilang di bawah permukaan air. Aku dan Kiram gugup, apalagi perahu tambang menjadi oleng ketika Mantri Karsun terjun ke air. Dengan senjata siap tem-
bak, aku dan Kiram menunggu tawanan itu muncul. Senjata Kiram meledak lebih dulu ketika ada kepala muncul sepuluh meter arah hilir. Luput. Kepala Mantri Karsun kembali lenyap.

Seperempat menit kemudian kepala itu timbul lagi dan dua ledakan terdengar hampir bersama. Kami yakin, kali ini pun luput karena tampak jatuhnya peluru-peluru itu meleset.

Akhirnya Kiram menyerahkan senjatanya kepadaku. Ia sendiri menghunus pisaunya lalu terjun ke air. Soal berenang, Kiram sulit ditandingi oleh siapa pun karena sejak bocah ia akrab dengan air. Rumah Kiram terletak di punggung tanah, hanya beberapa jengkal dari sungai.

Kiram mengambang seperti bangkong, tetapi matanya awas. Ketika Mantri Karsun muncul agak di sebelah timur, Kiram malah menyelam. Ya Tuhan. Kemudian aku melihat air di sana berbuih-buih dan berwarna merah. Aku yakin ada pertempuran di bawah permukaan air. Kedua kaki tukang perahu tambang gemetar. Aku pun berusaha memalingkan muka, tak 
sanggup melihat air sungai menjadi merah. Celakanya, ketika aku kembali melihat ke sana, dua kepala muncul bersama. Satu kepala Kiram, yang lain kepala Mantri Karsun yang sudah terlepas dari tubuhnya. Aku menjerit dan melompat, lalu jatuh terduduk di lantai perahu. 

Aku linglung. Kulihat kiri-kanan. Ada nasi panas dengan ikan asin bakar dan secangkir kopi di dekatku. Di sana ada Kiram sedang makan berdua dengan Jun. Mereka tertawa ketika memandang aku. Ya. Aku kemudian sadar, soal Mantri Karsun sudah lama berlalu, sudah hampir sepuluh tahun berselang.

Dan kini aku sedang duduk merenung dalam sebuah pos rahasia Darul Islam, dalam sebuah gua.

“Kamu mimpi?” tanya Jun masih sambil tertawa. Ia seperti tak merasakan luka yang merobek kulit pahanya. Aku tak bisa 
menjawab. Kepalaku pening. Lagi pula aku sangat tergoda oleh nasi, ikan asin bakar, dan cabai rawit. Dan secangkir kopi panas itu. 



                              *****

______________________________________________

LINGKAR TANAH LINGKAR AIR BAB 03

BAGIAN PERTAMA 03




“Sabar. Dan biarlah aku menjamin, senjata yang dipegang Kiram hanya akan digunakan untuk membantu tentara Republik, ya sampean-sampean itu. Lagi pula, senjata itu bisa menjadi modal penggugah semangat anak-anak muda di kampung ini,” katanya menengahi.

Wibawa Kiai Ngumar ternyata mampu meyakinkan keempat tentara itu. Dengan wajah yang kurang jernih mereka merelakan salah satu senjata rampasan itu menjadi milik Kiram.

Kiram tampak bingar. Dan jadilah dia anak muda pertama di desaku yang menyandang senjata, sebuah Lee Enfield buatan Amerika. Kiram sangat bangga, dan memang, Kiram 
menjadi tambah gagah. Tapi Kiram juga baik hati, setidaknya terhadap aku dan Jun. Ia memberi kesempatan padaku dan Jun untuk mengenal senjatanya dan berlatih menggunakannya meski tanpa peluru. Dalam beberapa kali pencegatan terhadap pasukan Belanda, kami menggunakan senjata Kiram itu secara bergantian.

Dengan modal satu bedil itu Kiram, aku, dan Jun, dan Jalal membentuk barisan pemuda. Orang kampung menyebut kami “pemuda” saja, sebutan baru yang secara ajaib membuat kami merasa gagah dan bangga. Tetapi sebutan itu juga yang membuat kami jadi urakan. Kiai Ngumar menyebut kami Hizbullah. Tak tahulah, pokoknya kami senang sebab merasa dianggap penting. Tetapi Kiram, mungkin karena sudah punya senjata sehingga merasa paling gagah, sering nakal. Kiram sering menggoda Asui, gadis Cina pemilik toko di depan pasar. Ulah Kiram mengundang kebencian Hianli, paman Asui. Kata orang, karena kebencian itu Hianli membalas dendam kepada Kiram. Caranya, dia menjadi mata-mata Belanda untuk memberi pelajaran kepada Kiram yang sering menggoda Asui.

Semua orang percaya bahwa karena Hianli pula, barisan pemuda suatu malam digerebek di rumah Kiram. Untung mereka salah masuk, sehingga kami punya sedikit waktu untuk kabur. Tapi aku sendiri hampir mati oleh tembakan yang dilepaskan penyergap yang siap di halaman rumah. Tangan kananku terasa tersentak, namun aku tak segera menyadari apa yang terjadi karena aku harus lari dan lari. Setelah berlari cukup jauh, aku 
baru sadar bahwa tangan kananku kena. Mestinya tak parah, karena aku merasa tulang tanganku tidak patah. Namun aku tak dapat menggerakkan telapak tangan dan kelima jariku. Dan kain sarung, satu-satunya pakaian yang kebetulan sedang melekat di badanku, terasa kuyup oleh cairan yang amis: darah. Lalu aku ingat ngelmu pemberian Kiai Ngumar: bila sedang diburu bahaya seperti itu, segala pakaian yang melekat harus dibuang agar para pengejar terkecoh. Jadi malam itu aku lari kocar-kacir tanpa kain sepotong pun.

Meskipun rasanya tak membahayakan jiwa, tembakan yang mengenai tangan kanan itu memberi aku pengalaman yang tak mudah kulupakan. Setelah lepas bahaya, rasa sakit mulai menyengat lukaku. Dalam kegelapan malam aku tahu ternyata banyak darah keluar. Lagi pula aku mulai kedinginan. Maka aku segera sadar apa yang seharusnya kulakukan, yaitu mencari pertolongan secepatnya. Aku bergegas sambil melawan rasa sakit, melintas ladang dan menyusur belukar untuk mencapai kampung di seberang sungai. Aku tahu, di sana ada beberapa rumah penduduk yang sudah kukenal. Sampai ke rumah pertama aku berhenti dan termangu. Tak sedikit pun ada cahaya dari dalam rumah itu. 

Aku ragu, tetapi aku sangat sadar aku harus segera mendapat pertolongan. Maka dengan suara sesantun mungkin aku memanggil, tetap sepi. Maklum, suasana memang tak aman dan pemilik rumah pasti mendengar rentetan tembakan yang membuat mereka ketakutan. Setelah si pemilik rumah mengenali suaraku, mungkin baru ada tanggapan dari dalam. Kulihat ada pelita dinyalakan. Lalu suara pintu terbuka. Ternyata yang keluar adalah seorang perempuan.

Tak akan kulupakan bagaimana reaksi perempuan itu ketika melihat diriku yang telanjang dan berlumur darah. Ia terpana dengan mulut ternganga. Tangannya bergerak menggapai-gapai. Mulutnya bergerak-gerak tanpa suara. Lalu dengan tergagap-gagap ia memanggil suaminya.

Keesokan harinya Kiram muncul. Katanya, ia mudah menemukan aku karena mengikuti bekas tetes-tetes darah. Kiram membawa cerita macam-macam. Malam itu rumah orangtuaku, cerita Kiram, dibakar. Dan ada dua penduduk ditembak mati. Semua orang mengungsi, kecuali Kiai Ngumar yang merasa tak kuasa meninggalkan suraunya. Orang tua itu ingin bertahan sejauh ia masih melihat peluang, tak peduli sekecil apa pun.

“Kedua orangtuamu sangat cemas, jangan-jangan kamu mati. Kain sarungmu yang tertinggal sungguh berlumur darah.”

“Jadi?”

“Ah, gampang. Mereka kuhibur. Kalau kamu benar mati, tentulah mayatmu tergeletak dekat kain sarung itu. Karena mereka tak melihat mayat, mereka percaya kamu masih hidup. Jadi lupakan saja.”

Kiram tertawa.

“Mid, kukira kita benar-benar sudah pernah perang.”

“Apanya yang perang?”

“Ya, kita sudah berperang. Tadi malam.”

“Belum.”

“Sudah. Buktinya, kamu tertembak. Untung kamu tak mati.”

“Perang itu tembak-menembak. Nah, merekalah yang sudah menembak kita. Kamu, belum satu peluru pun kamu ledakkan. Jadi kamu belum pernah perang.”

Kiram kecut.

“Mid, bedilku kosong. Aku tak punya pelor, tahu?”

“Jadi bedilmu cuma buat gagah-gagahan?”

Kami tertawa.

Pada malam kelima Kiram datang lagi. Semula aku menduga Kiram datang hanya untuk memamerkan bedilnya yang sudah berisi peluru. Dia juga punya granat. Rasanya, Kiram 
memang tampak hebat. Tetapi malam itu Kiram datang dengan rencana yang kupikir edan.

“Mid, kamu ingin punya senjata seperti aku, bukan? Di zaman seperti ini, seorang pemuda yang tak punya senjata adalah anak bawang. Pemuda seperti itu bukan apa-apa. Iya, kan?”

Aku ciut. Senyumku pahit karena ada penghinaan yang tak bisa kusanggah. Lalu Kiram mengutarakan rencananya. Ternyata Kiram tahu Hianli menyimpan sebuah senapan di tokonya. Rahasia itu diperolehnya dari perempuan yang bekerja sebagai pembantu di rumah pedagang itu. Bukan hanya menyimpan senjata, setiap malam Hianli diketahui bergabung dengan kelompok mata-mata Belanda dan baru pulang menjelang fajar.

“Ketika Hianli pulang, itulah saatnya kita bertindak.”

“Ah, yang benar! Kamu mau mengambil Asui, bukan senjata kepunyaan pamannya.” Aku balas mencemooh untuk membayar sakit hatiku.

Kiram terlihat tawar.

“Tidak, Mid. Asui memang menarik. Tetapi kali ini aku tidak main-main. Malah yang kuinginkan bukan hanya senjata milik Hianli, tapi juga nyawanya. Ia mata-mata. Setuju?”

Aku diam. Tapi aku tak membantah ketika Kiram mengajakku pergi dari rumah persembunyianku malam itu juga. Meski belum pulih benar, namun luka di tangan kananku tak 
terasa sakit lagi. Malam itu kami keluar kampung dan tidur di sebuah dangau di tengah sawah.

Ketika kaki langit timur mulai memerah, aku dan Kiram sudah keluar dari dangau dan berjalan ke arah kampung. Sepagi itu perutku sudah kenyang oleh singkong bakar. Kami 
menginjak rumput pematang yang sangat basah oleh embun. Dari belakang terdengar kokok ayam hutan. Suara jangkrik. Suara burung cabak. Selebihnya, sepi. Sebelum masa perang dulu, sepagi itu sudah banyak orang gunung turun hendak ke pasar. Mereka memikul kayu atau daun jati sambil membawa 
obor. Suara derit pikulan selaras dengan irama langkah mereka. Namun sejak ada perang, suasana sangat berubah. Awal pagi adalah kepanjangan sepi yang mencekam sejak matahari terbenam. Tak ada lagi obor orang-orang gunung. Tak ada embik kambing yang sedang dituntun hendak dijual di pasar. 
Sampai di pasar, kami pun hanya menemukan sepi. Padahal biasanya perempuan penjual serabi sudah datang mendahului kokok ayam pertama. Dengan waktu kerja seperti itu, pedagang serabi sudah siap melayani pembeli pada jam lima pagi. Tapi sudahlah. Perang memang memaksakan banyak sekali perubahan. Tetapi Kiram dan aku lebih senang menemukan pasar yang masih gelap dan lengang. Hanya sialnya, anjing Hianli menggonggong. Pada saat yang sama kudengar bunyi sepeda mendekat. Kiram menarik tubuhku agar terlindung di balik pokok beringin yang tumbuh di depan pasar. Hianli pulang naik sepeda ditemani dua orang bersenjata. Kiram mengenali mereka sebagai polisi yang pro-Belanda.

Kulihat kedua polisi itu memutar sepeda mereka. Kiram menunggu sesaat, lalu melompat dari tempat persembunyiannya dan bersicepat menodongkan senjatanya ke perut Hianli. Paman Asui itu, yang masih berdiri memegangi sepedanya, terpaku. Anjingnya menggonggong dan terus menggonggong. 
Kiram menyuruhku mengambil bedil Hianli yang sudah diletakkan di tanah atas perintahnya. Tanganku gemetar. Anjingnya tak henti-hentinya menggonggong. Kiram menyuruh Hianli jongkok dan berbalik. Tiba-tiba pintu terbuka. Asui keluar bersama anjingnya. Senjata Kiram meledak. Aku memejamkan mata. Gonggongan si anjing padam. Dan Hianli masih jongkok. Kiram kembali mengokang senjata dan langsung mengarahkannya ke tengkuk Hianli. Aku menutup telinga. Asui yang lama terpaku tiba-tiba maju menerkam tangan Kiram. Lalu, tak tahulah. Kiram menurunkan senjatanya dan 
mengajakku pergi. Asem! Kukira memang benar, Kiram menyukai Asui. Atau entahlah, yang jelas aku bergegas meninggalkan toko di depan pasar itu.

Setelah beberapa saat berjalan aku menengok ke belakang. Karena suara tembakan, seisi rumah Hianli keluar. Aku mempercepat langkah agar mereka tak sempat mengenaliku. Tetapi Kiram malah sengaja berhenti dan berbalik untuk mengucapkan kata-kata ancaman.

Ketika matahari muncul, aku dan Kiram sudah menyeberangi sungai. Sebetulnya aku ingin terus menjauh, namun Kiram tak setuju. Kiram bahkan mengambil beberapa tangkai kelaras pisang, menggelarnya di atas hamparan pasir pelataran sungai, lalu merebahkan diri. Tak lama kemudian Kiram benar-benar tertidur. Bukan main. Sebenarnya, aku pun sangat 
mengantuk karena semalam hanya tidur sebentar. Tapi untuk lelap di pelataran sungai hanya seperempat jam sesudah merebut senjata dari seorang mata-mata Belanda, sungguh tak mungkin kulakukan.

Jadi aku hanya duduk bersandar pada batang randu di samping Kiram yang sudah mendengkur. Kulihat di pucuk sana, seekor burung srigunting bertengger dan sesekali berkicau. Bulunya yang hitam pekat tampak berkilat oleh cahaya matahari pagi. Ekornya yang terbelah menyerupai sebuah gunting, ter-
buka bergerak-gerak mengikuti irama kicauannya. Para petani tahu, kicau srigunting adalah pertanda datangnya mangsa kapat, masa keempat dalam pranata mangsa atau kalender pertanian tradisional. Itulah saat yang baik untuk menebar benih di lahan kering, karena musim hujan sudah menjelang.

Sementara Kiram tidur pulas, hatiku gelisah. Mengapa Kiram demikian yakin bahwa Hianli tak akan melapor kepada teman-temannya lalu mengejar kami? Karena rasa cemas yang 
tak bisa kutahan, kuputuskan untuk membangunkan Kiram. Tenang sekali ia membuka matanya, menggeliat sambil melenguh lalu duduk.

“Sudah siang. Kita mau terus ke mana?”

“Ke mana? Di sini dulu, duduk. Kita istirahat dan bicara.”

“Bicara?”

“Ya. Dan aku ingin tanya padamu: sesudah terlaksana punya senjata, bagaimana perasaanmu? Senang, bukan?”

Aku malu.

“Pasti senang,” sambung Kiram, “sebab kamu tak mungkin lagi dibilang orang anak bawang.”

Aku tersenyum lagi dan bertambah malu.

“Mid, karena sudah bersenjata, kita harus mengambil jarak dengan orangtua kita, juga dengan Kiai Ngumar.”

“Bagaimana?”

“Orangtua kita dan Kiai Ngumar akan mendapat kesulitan bila kita kelihatan tetap akrab dengan mereka. Kita harus selalu bergerak. Bila kita tetap tinggal di kampung, orangtua kita bisa menjadi bulan-bulanan tentara Belanda.”

Aku mengangguk, aku mengerti kebenaran yang ada dalam kata-kata Kiram. Dengan senjata yang ada di tangan, aku pun segera sadar bahwa kini aku sudah terang-terangan menjadi musuh tentara Belanda. Orang-orang seperti Hianli, juga Karsun, mantri pasar, yang sudah dikenal sebagai mata-mata Belanda, tentu akan selalu mengintip gerak-gerikku.

“Lalu apa rencanamu?”

“Aku ingin membentuk kelompok yang lebih baik.”

“Hanya berdua?” 

“Kamu tolol. Jun dan Jalal sudah kuajak bicara dan mereka setuju. Juga Kang Suyud, biarpun ia sudah banyak anak. Kamu bagaimana?”

Aneh, aku merasa tak mudah menjawab pertanyaan Kiram. Namun setidaknya aku mempunyai keinginan membalas mereka yang telah membakar rumah orangtuaku dan melukai tanganku: Belanda.

“Bagaimana?”

“Ya. Tentu aku ikut kamu, asalkan bicarakan dulu hal ini di hadapan Kiai Ngumar.”

“Ya.”

Dari pelataran itu kami bergerak ke utara seperti yang diminta Kiram. Ada seorang petani yang ketakutan ketika melihat aku dan Kiram yang menyandang senjata. Namun setelah mengenali wajah kami, petani itu urung lari. Ia malah menawarkan cerek airnya. Kami minum sepuas hati. Keringat menitik hampir di seluruh permukaan kulit dan menjadi pendingin tubuh ketika angin bertiup.

Pada malam yang sudah direncanakan, aku dan Kiram mengunjungi Kiai Ngumar di rumah pengungsian. Di sana ternyata sudah ada Jun, Jalal, dan Kang Suyud. Kami berkumpul dalam ruangan yang remang-remang, bahkan kami menaruh seorang penjaga di luar. Sambil makan kacang rebus yang disuguhkan oleh pemilik rumah, Kiram mengutarakan maksudnya kepada Kiai Ngumar.

Hening sesaat. Dalam ruangan yang remang-remang itu hanya terdengar bunyi jemari memijiti kulit kacang rebus, dan pemantik api yang dinyalakan oleh Kang Suyud.

“Baik,” ujar Kiai Ngumar setelah lama terdiam.

 “Jadi kalian hendak membentuk barisan Hizbullah.”

“Benar. Dan kami hanya tinggal menunggu doa restu Kiai,” jawab Kiram.

“Aku tentu memberimu doa restu. Tetapi aku juga ingin bertanya, apakah tidak lebih baik kalian bergabung dengan tentara Republik?”

“Tidak,” jawab Kiram cepat. “Kami lebih suka membentuk barisan sendiri.”

“Ya, Kiai. Lebih baik kami bekerja sendiri,” dukung Kang Suyud.

“Baik. Tetapi aku ingin bertanya, apa kalian sudah paham perbedaan antara tentara Republik dan Hizbullah?”

Tak ada yang menjawab. Dalam kelengangan yang sejenak kembali terdengar kulit-kulit kacang yang pecah terbelah.

“Soal persamaannya kalian tentu sudah tahu,” ujar Kiai Ngumar. “Tentara Republik dan Hizbullah sama-sama pasukan bersenjata yang berjuang melawan tentara Belanda untuk 
mempertahankan kemerdekaan negara kita.”

“Dan perbedaannya?” aku bertanya.

“Bedanya?” ujar Kiai Ngumar. “Begini. Meskipun sama-sama bertempur melawan Belanda, ada perbedaan yang cukup mendasar antara tentara Republik dan Hizbullah. Tentara Republik adalah pasukan resmi. Artinya, mereka adalah bagian sah Republik. Maka selama Republik berdiri, mereka mutlak diperlukan kehadirannya. Republik pun wajib memberi mereka gaji, setidaknya kelak bila negeri sudah normal. Lalu, apa Hizbullah?”

Kiai Ngumar memberi jeda, mungkin agar ada kesempatan bagi kami untuk memahami penjelasan yang telah diucapkannya.

“Hizbullah adalah gerakan perlawanan rakyat yang bersifat sukarela. Dasar niatnya lillahi taala, tujuannya melaksanakan wajib memerangi kafir yang membuat kerusakan di negeri ini seperti sudah difatwakan Hadratus Syeikh. Dan tidak seperti tentara resmi, Hizbullah tidak dibentuk oleh pemerintah. Mereka lahir karena keserta-mertaan para ulama. Karena niatnya lillahi taala, anak-anak Hizbullah tidak akan menerima gaji dan kukira harus membubarkan diri setelah keadaan aman. Itulah, maka aku tadi bertanya, apakah tidak lebih baik kalian bergabung dengan tentara resmi?”

“Ya, saya setuju,” jawabku. “Sebaiknya kita bergabung dengan mereka karena jumlah kita tak banyak.”

“Mid! Kamu jangan macam-macam. Kalau tak kuberi, kamu tak akan punya bedil. Kamu akan tetap anak bawang,” kata Kiram tajam.

“Kami tahu kamu tamat sekolah lima tahun. Kamu ingin jadi tentara demi gaji,” tambah Kang Suyud tak kalah pedas.

“Nanti dulu,” Kiai Ngumar menengahi, mungkin karena melihat aku sudah ciut. “Jadi kalian tidak ingin bergabung?”

“Ya, kami tidak ingin bergabung dengan tentara Republik,” jawab Kang Suyud. “Kami ingin membentuk pasukan sendiri dengan anggota yang semuanya mau sembahyang. Kiai, saya 
melihat banyak tentara tak melakukannya. Malah saya tahu dengan jelas, beberapa anak buah Siswo Wuyung ada dalam barisan tentara Republik. Jangan lupa Siswo Wuyung adalah 
pendiri persatuan komunis di wilayah ini sejak 1938.”

Kiai Ngumar mengangguk-angguk.

“Dan mereka pernah menghina saya karena saya buta huruf,” sela Kiram.

“Tentang Siswo Wuyung, kukira aku lebih tahu daripada kalian. Dia pernah bersama-sama dengan aku dalam Sarekat Islam sebelum perkumpulan itu pecah jadi SI Putih dan SI Me-
rah. Dia memang komunis.”

“Itulah. Maka kami tak bisa bekerja sama dengan anak buahnya dalam ketentaraan.”





Bersambung... 

______________________________________________

Selasa, 30 Maret 2021

LINGKAR TANAH LINGKAR AIR BAB 02

BAGIAN PERTAMA 02




Kiram diam, menunduk dan kecut.

“Terus terang lagi, aku sudah jenuh. Aku sudah lelah karena sudah hampir sepuluh tahun aku hidup selalu diburu seperti ini, bahkan sebenarnya boleh dibilang kita sudah kehilangan harapan. Maka tolonglah dimengerti bila aku mulai berpikir tentang hidup normal, hidup biasa di desa, menjadi petani atau pedagang. Istriku dan anak yang sedang dikandungnya tentu lebih menyukai hidup yang wajar, hidup yang biasa saja.”

“Istri dan anak memang sering membuat hati lelaki lemah,” 

Potong Kiram. Terasa ada nada sindiran dalam kata-katanya, tetapi aku tak peduli karena aku sedang sibuk dengan istriku, yang bayangannya tiba-tiba hadir. Istriku memang sedang hamil enam bulan. Kini ia kusembunyikan dalam keluarga seorang kerabat di Dayeuh Luhur, jauh dari tempat aku berada. Kasihan dia. Sejak menjadi istriku dua tahun lalu, belum sekali pun ia mengalami suasana tenang. Ia hampir selalu ikut pon-
tang-panting lari dan lari, pindah dan pindah. Bahkan dalam kenyataannya kini, istriku menempati sebuah gubuk mirip kandang kambing yang terpuruk di belakang rumah kerabatnya, di lereng jurang.

“Kiram, kamu akan membocorkan omonganku ini?”

Kulihat Kiram menarik napas dalam-dalam.

“Begini, Mid. Aku bukan tidak memahami hal-hal yang kamu katakan tadi. Tetapi masalahnya tidak gampang. Bahkan seandainya kamu menyerahkan diri dengan cara baik-baik pun, masalahnya tetap tidak gampang. Kamu lupa cerita tentang teman-teman yang tertangkap? Mereka dibunuh. Bahkan yang menyerahkan diri pun tidak lebih baik nasibnya. Aku akan bersikap lain andaikan ada jaminan bahwa kita dapat meletakkan senjata dan boleh turun gunung tanpa kesulitan apa pun. Nah, belum pernah kamu dengar ada jaminan seperti itu, bukan?”

Kiram tak melanjutkan kata-katanya. Tetapi bagiku cukup-lah aku sudah tahu apa yang ada dalam hati temanku itu. Dan benar dugaanku, Kiram pun tetap seorang manusia yang kenal 
rasa bosan dan rasa jenuh.

Lamunanku terputus karena aku dan Kiram sudah sampai di tujuan: sebuah pos rahasia kelompok kami. Pos itu berada dalam gua batu kapur yang tersembunyi pada sebuah lereng 
terjal. Sesungguhnya gua itu terletak tidak jauh dari lintasan jalan tikus yang biasa dilalui oleh para pencuri kayu, namun tidak mudah tampak karena terlindung di balik akar-akaran yang menggantung serta segerumbul gelagah. Dari gua itu ada jalan setapak turun ke jurang, tersembunyi oleh semak. Pada dasar jurang ada sumur sederhana, tetapi jernih airnya.

Tanpa istirahat lebih dulu, Kiram menyiapkan api untuk merebus air dan menanak nasi. Karena merasa sangat letih, aku ingin merebahkan diri pada satu-satunya balai-balai bambu yang ada di dalam pos itu. Sekelilingku remang, maka aku tidak bisa melihat dengan jelas: ternyata Jun sudah tergeletak di sana. Pahanya diperban. Aku tak tahu siapa yang merawatnya. Mungkin Jun mengobati lukanya sendiri. Akhirnya aku merebahkan diri di lantai gua, beralaskan dedaunan. Aku sungguh letih. Anehnya, mataku tetap terbuka. Bahkan lamunanku melayang, mula-mula pada kematian Kang Suyud, kematian orang-orang Cigobang, lalu melompat jauh ke belakang, ketika aku masih remaja dan hidup biasa bersama orangtua.

Maret 1946. Ketika itu usiaku 18 atau 19, sudah empat tahun tamat Vervolk School. Bersama beberapa teman, satu di antaranya Kiram, saat itu aku sedang menjadi murid Kiai 
Ngumar, belajar silat. Suatu malam Kiai Ngumar memanggil aku dan Kiram. Hatiku berdebar karena mengira kiai itu akan 
memberi kami rahasia-rahasia ilmu silat.

“Duduklah. Aku punya cerita penting dan kukira kamu berdua sangat perlu mendengarnya. Kalian tahu kemarin ada rapat besar di alun-alun Purwokerto?”

Aku dan Kiram berpandangan.

“Tidak, Kiai,” jawabku jujur.

“Sungguh sebuah rapat yang besar dan sangat penting. Banyak sekali ulama dan kiai hadir. Tetapi bukan itu yang perlu kalian ketahui, melainkan adanya fatwa yang hebat.”

“Fatwa?”

“Ya. Dalam rapat itu Hadratus Syekh dari Jawa Timur mengeluarkan fatwanya. Beliau bilang, berperang melawan tentara Belanda untuk mempertahankan negeri sendiri yang baru 
merdeka, wajib hukumnya bagi semua orang Islam. Dan siapa yang mati dalam peperangan melawan tentara Belanda yang kafir, dialah syahid.”

Aku kembali berpandang-pandangan dengan Kiram. Ya, kukira aku sudah mendengar bahwa di Surabaya terjadi perang besar. Sebelumnya kudengar bahwa Indonesia sudah merdeka 
dan Bung Karno jadi presiden. Tetapi terus terang aku tak sepenuhnya paham karena di desaku belum terjadi perubahan yang nyata, kecuali waktu itu kulihat orang-orang Jepang 
tiba-tiba pergi dari kota kecamatan kami. Hal itu pun aku tak melihatnya sendiri.

Bahkan tentang perang pun aku sangat sulit membayangkannya. Aku hanya bisa meraba-raba, perang adalah perkelahian yang melibatkan orang banyak dan menggunakan berbagai senjata. Nah, bila perang memang seperti berkelahi, aku merasa siap karena kami sudah belajar silat. Anehnya, aku merasa ngeri ketika membayangkan bedil yang dulu pernah 
kulihat disandang para tentara Jepang.

“Jadi, begini,” lanjut Kiai Ngumar membuyarkan angan anganku. “Karena sudah difatwakan wajib, aku minta kamu yang masih muda-muda sebaiknya bersiap.”

“Siap berperang, Kiai?”

“Ya.”

“Apa perang akan sampai ke desa kita?”

“Hampir bisa dipastikan, ya. Bagaimana?”

Kiram menyodok igaku dengan sikunya.

“Kiai, tetapi soal perang urusan tentara, bukan?”

“Benar. Tetapi soal melawan tentara Belanda bisa dilakukan oleh siapa saja. Dan fatwa yang diucapkan Hadratus Syekh jelas berlaku untuk semua orang yang sehat, bukan khusus untuk para tentara. Nah, bagaimana?”

“Ya, Kiai. Kami sami’na waatha’na, asal Kiai memberi kami restu.”

“Ah, jangan khawatir. Aku sudah tua, maka justru aku hanya bisa memberi kalian doa dan restu.”

Sejak Kiai Ngumar meminta kami bersiap melaksanakan fatwa jihad, tak terjadi perkembangan apa-apa hingga tiga bu-
lan sesudahnya. Aku dan Kiram mulai berpikir bahwa Kiai Ngumar hanya main-main. Namun pada suatu hari Kiai Ngumar kembali memanggil aku dan Kiram, bahkan langsung menyuruh kami untuk segera bersiap dan berangkat karena ada panggilan mendadak dari Purwokerto. Tanpa bekal yang berarti, aku dan Kiram berangkat, berjalan menempuh jarak 30 kilometer ke Purwokerto. Dalam perjalanan kami bertemu beberapa teman sebaya dengan tujuan sama. Kami berjalan seperti petani pergi ke sawah: satu-satu dan sama sekali tidak teratur.

Sampai di Purwokerto kami dihimpun di sebuah gedung madrasah milik Al Irsyad. Kulihat kira-kira ada dua ratus pemuda berkumpul di sana. Kami beristirahat sejenak dan ketika magrib aku mendengar berita bahwa besok pagi kami akan mulai mendapat latihan ketentaraan. Namun selepas isya berita itu berubah cepat: kami harus segera berangkat untuk membantu pasukan Brotosewoyo yang sedang berusaha merintangi laju tentara Belanda di daerah Bumiayu. Dalam suasana kacau, kami siap berangkat ke Bumiayu yang berjarak 43 kilometer dari Purwokerto. Anehnya, kami bisa tertawa-tawa sepanjang jalan, apalagi karena dalam rombongan kami ada pembawa 
perbekalan makanan dan minuman. Mungkin hanya Kiram yang murung.

“Mid, kita mau perang, bukan?”

“Ya. Mencegat iring-iringan tentara Belanda yang hendak masuk ke Purwokerto dari arah Tegal.”

“Jadi betul kita mau perang?”

“Kok kamu tanya begitu?”

“Perang pakai apa? Kita hanya membawa tangan kosong dan kain sarung?”

Aku tak bisa menjawab pertanyaan Kiram karena aku pun punya pertanyaan yang sama. Perang kok seperti main-main; tak seorang pun membawa senjata, misalnya pedang, apalagi 
bedil. Anehnya, semua orang terus berjalan sambil tertawa-tawa.

Jam delapan pagi kami sampai ke tujuan, suatu wilayah perbukitan di sebelah utara kota kecil Bumiayu. Kulihat ratusan tentara bersiaga di atas bukit di kiri-kanan jalan. Ada juga yang berjaga-jaga di dekat jembatan di lembah. Wilayah pertahanan merentang dua atau tiga ratus meter sepanjang tepi jalan. Dan tidak seperti semua anak muda yang baru datang, 
para tentara tampak benar-benar siap berperang dan semuanya menyandang senjata.

“Mid, kita mau nonton perang.”

“Nonton?”

“Lho, mau apa kalau bukan nonton?”

“Tadi malam kamu tidak dengar apa-apa?”

“Apa?”

“Di sini kita hanya mem-ban-tu. Dengar?”

“Sama dengan nonton, bukan?"

Kiram tersenyum kecut. Ia kelihatan tak begitu bersemangat. Ia bahkan kelihatan kecewa. Kukira Kiram masih akan terus menyindir-nyindir, tetapi tiba-tiba ada suara keras terde-
ngar dari belakang kami.

“Hei, kamu berdua! Cari kapak dan tebang pohon trembesi di sana.” Seseorang berseragam dril dan menyandang pistol 
memberi perintah kepada kami. Tentara itu memakai peci hitam yang dipasang agak miring. Aku dan Kiram kebingungan.

“Kalian dengar? Cari kapak! Itu di sana ada kampung. Pinjam kapak di sana dan tebang pohon trembesi itu. Rintangan dekat jembatan masih terlalu tipis. Hayo! Hayo!”

Baru sekali itu aku mendapat perintah dengan cara demikian keras. Cara tentara? Entahlah. Pokoknya aku dan Kiram jadi limbung, lalu lari ke kampung yang ditunjuk agak jauh di lembah. Kapak yang kami cari sangat mudah kami dapat, barangkali karena aku dan Kiram mengatasnamakan tentara.

“Mid, dalam perang juga ada acara menebang pohon? Bila hanya mengayun kapak seperti ini, di rumah sendiri pun aku biasa melakukannya.”

“Kamu jangan berisik.”

“Mid, aku ingin menyandang senjata seperti mereka.”

“Jangan berisik. Mungkin kamu akan mereka beri senjata bila kamu sudah bisa menggunakannya.”

“Mid, kapan kita mendapat latihan?”

“Kubilang: jangan berisik!”

Kiram tampak kesal, tetapi ia terus menemani aku bekerja. Setelah roboh, batang trembesi besar itu kami jadikan rintangan jalan. Tentara yang tadi memberi perintah datang lagi, dan 
syukurlah, ia kelihatan puas. Berdua dengan Kiram, aku minta izin untuk beristirahat dan mencari minum. Di mataku, para tentara itu semua tampak gagah, meskipun pakaian mereka bermacam-macam. Ada yang pakai topi baja. Ada yang pakai topi kain seperti kopiah. Ada juga yang mengenakan seragam 
mirip prajurit Jepang. Mata Kiram hampir tak pernah lepas dari senjata yang disandang setiap tentara yang lewat di dekatnya.

Makin siang terasa ketegangan makin memuncak. Beredar kabar dari kalangan kami bahwa jumlah pasukan Belanda yang 
diperkirakan lewat sangat besar. Perang pasti seru. Aku sendiri sulit membayangkan sesuatu. Seru, ramai, atau dahsyat, entahlah. Aku belum pernah menyaksikan sebuah peperangan.

Malah aku juga belum pernah melihat mobil lapis baja. Oh ya, aku pernah melihat bekas pemboman. Dulu, di tahun 1942, kota kecil Wangon dibom Jepang dari udara. Sebuah rumah kena, tetapi akibatnya tidak begitu mengerikan. Namun siang ini aku terbawa arus ketegangan yang kian mencekam. Orang-orang tak putus-putusnya memandang ke sebuah bukit kecil agak jauh di utara. Di sana ada dua pengintai yang menancapkan bendera kuning. Bila bendera berganti merah, itulah aba-aba siaga, tanda iring-iringan tentara lawan sudah masuk.

Semua orang terlihat kesal karena sampai saat matahari tergelincir bendera di atas bukit itu masih tetap kuning. Banyak anggota pasukan uring-uringan dan mulai mengendorkan kesiagaan. Ada yang mengumpat dengan kata-kata kotor. Menjelang sore kudengar berita, tentara lawan telah mengubah lintasan perjalanan mereka. Menurut berita yang begitu cepat beredar itu, tentara Belanda mengambil jalan memutar. Dari Slawi mereka bergerak ke timur dan akan masuk Purwokerto melalui Purbalingga setelah menempuh perjalanan mengitari Gunung Slamet.

Suara orang mengumpat makin sering kudengar. Semua orang melepaskan kesiagaan. Komandan pasukan berteriak-teriak meminta anak buahnya berkumpul. Dua buah truk datang dan tentara naik. Tetapi lebih dari separonya tak bisa terbawa. Kudengar mereka harus cepat berbalik dan masuk kembali ke Purwokerto untuk mempertahankan kota yang 
akan mendapat serangan dari arah timur. Kami, para pemuda yang diperbantukan, bergerak hilir mudik karena kehilangan acara. Lesu, merasa tak berguna, dan lapar bukan main. Untung ada orang bicara, entah siapa, bahwa kami boleh pulang. Tetapi, kata orang itu, kami harus selalu siap memberi bantuan apa saja kepada tentara Republik bila mereka beroperasi di desa kami masing-masing. Bubar. Kiram memungut sebongkah batu cadas dan membantingnya dengan keras. Pecah.

“Mid, kita tidak jadi perang?” tanya Kiram sambil bersungut. Ia kelihatan sangat lesu dan kecewa. Aku merasa tak perlu menjawab pertanyaan Kiram. Mungkin karena aku sangat lelah. Demikian lelah sehingga malam itu aku tertidur nyenyak di sebuah masjid, meskipun sebenarnya perutku terasa lapar. Pagi-pagi aku dan Kiram pulang, naik andong sambung-
menyambung, dan sampai di rumah menjelang senja.

 Tak kusangka, perintah untuk siap membantu tentara di desa masing-masing ada kelanjutannya. Setengah bulan kemudian aku dan Kiram menerima surat dari seseorang. Kami diminta datang ke desa seberang bukit. Kami berangkat. Kiram tampak kurang bersemangat. Mungkin ia khawatir akan dikecewakan lagi seperti pengalaman kami di Bumiayu waktu itu. Di seberang bukit kami bertemu dengan empat tentara. Lagi, kami diminta membantu mereka, kali ini pun untuk mencegat tentara Belanda. Pencegatan kali ini, kata mereka, harus berhasil dan yang mereka harapkan terjadi adalah pertempuran kecil dan singkat. Kami mendapat penjelasan mengenai taktik mereka. Sebuah kota kecamatan di arah timur akan diserbu oleh sejumlah gerilya. Namun serbuan ini sekadar siasat untuk 
memancing pasukan bantuan yang diperhitungkan akan datang dari kota lain di arah barat. Pasukan bantuan inilah yang 
akan kami cegat.

Kiram tampak lesu ketika mengetahui tugasnya dan tugasku juga, yaitu minta ransum kepada para penduduk dan ikut mengangkat beberapa peralatan tentara. “Pokoknya, dalam keadaan gawat kami selalu kurang tenaga,” kata salah seorang dari mereka. Anehnya, kelesuan Kiram terlihat sirna bila matanya memandang senjata yang disandang keempat tentara itu.

Pagi sekali kami bergerak meninggalkan desa di seberang bukit, menuju jalan besar di sebelah selatan. Keempat tentara bersembunyi di balik rumpun pandan yang tumbuh di 
sepanjang tepi jalan. Komandan mereka sering melihat jam tangannya. Ketegangan mulai terasa. Aku merasa ingin kencing. Kira-kira jam sepuluh, mulai terdengar suara tembakan 
dari arah timur. Menurut perhitungan, dalam waktu lima belas sampai dua puluh menit, akan datang pasukan bantuan Belanda dari arah barat. Kulihat keempat tentara itu makin siaga.

Mereka memantapkan posisi masing-masing. Yang di tengah mengarahkan senjatanya yang agak berat, aku tak tahu apa namanya.

Kiram berbisik dari samping, “Mid, kamu percaya sekali ini akan benar-benar terjadi perang?”

Aku melenguh. “Jangan berisik.”

Lalu terdengar deru kendaraan dari arah barat. Aku benar-benar takut. Kiram menekan punggungku agar aku lebih rendah bertiarap, namun tindakannya malah membuatku makin takut. Mataku berkunang-kunang. Terasa ada air hangat mengucur di selangkanganku. Samar, karena mataku makin berkunang-kunang, dari balik semak-semak aku melihat dua truk mendekat. Dengan muatan orang-orang berseragam loreng, kedua kendaraan itu terlihat sangat berwibawa. Aku juga masih bisa melihat tentara Republik di depan sana bangkit dari tempat persembunyiannya lalu melemparkan sesuatu ke arah truk yang kedua. Ledakan yang sangat kuat menggema. Baru 
sekali itu aku mendengar ledakan yang demikian keras. Asap membubung. Kukira aku kehilangan sebagian besar kesadaranku untuk menyaksikan apa yang kemudian terjadi. Tetapi setidaknya aku mendengar truk pertama kabur. Kemudian kulihat truk kedua berusaha menyusul, tetapi terhuyung dan membentur pohon johar di tepi jalan.

Apabila benar kemudian terjadi perang singkat, sebenarnya aku tak bisa menjadi saksi yang baik. Semuanya terjadi dalam ruang yang penuh kunang-kunang serta kesadaran yang kurang penuh. Ah, tapi aku melihat Kiram melompat di atas tubuhku, melesat ke tengah jalan. Ya Tuhan. Kiram menyambar sebuah 
bedil yang tergeletak di sisi mayat pemiliknya, seorang serdadu Belanda. Kemudian semuanya baur kembali. Aku hanya mendengar perintah lari. Lari!

Sudah menjadi kesepakatan sebelumnya bahwa kami akan lari ke arah utara. Namun gerakan itu merupakan tipuan untuk mengecoh para pengejar. Setelah mencapai jarak aman kami memutar kembali ke selatan, bahkan menyeberang jalan raya agak ke barat, lalu lari ke arah yang berlawanan dengan perkiraan orang.

Aku, Kiram, dan keempat tentara itu beristirahat di belakang rumah Kiai Ngumar. Kiai memotong ayam. Dari pencegatan hari itu tentara mendapat tambahan tiga senjata, satu 
di antaranya masih berada di tangan Kiram. Juga beberapa granat. Seorang tentara meminta Kiram menyerahkan senjata rampasan yang dipegangnya. Tentara bilang, Kiram hanya seorang pemuda yang diperbantukan, jadi Kiram tidak dibenarkan 
memegang senjata. Aku terkejut ketika melihat Kiram bersikukuh hendak memiliki senjata itu. Kukira ketegangan akan segera terjadi apabila Kiai Ngumar tidak turun tangan.





Bersambung... 

______________________________________________

LINGKAR TANAH LINGKAR AIR BAB 01

BAGIAN PERTAMA 01




Pagi hari musim kemarau di tengah belantara hutan jati adalah kelengangan yang tetap terasa purba. Senyap yang selalu membuat aku merasa terpencil dan asing. Padahal ibarat ikan, hutan jati dan semak belukar yang mengitarinya sudah bertahun-tahun menjadi lubuk tempat aku dan teman-temanku hidup dan bertahan. Sepi yang terasa menyimpan 
ketidakpastian membuat aku dan teman-temanku harus selalu waspada. Atau kewaspadaan adalah darah kami sendiri; sebab tanpa kewaspadaan yang tinggi aku dan teman-temanku bisa habis oleh tembakan para penyergap yang bersembunyi di balik batang-batang jati atau belukar. Malah lebih dari itu, tanpa kewaspadaan yang terus melekat, bahkan ular bedudak yang banyak berkeliaran bisa merampas nyawa kami dengan cara yang begitu mudah. Sudah dua orang teman kami mati sia-sia karena patukan ular yang sangat berbisa itu.

Aku berjalan sendiri, menanjak bukit yang tertutup kelebatan hutan jati, menyusuri jalan tikus yang biasa dilewati para pencuri kayu. Segala indraku siap menangkap setiap suara atau gerakan yang paling halus sekalipun. Bahkan perasaanku sudah sangat terbiasa mengenali datangnya suasana yang berbahaya.

Sekelilingku tetap remang karena sinar matahari hampir tak mampu menembus kelebatan hutan. Hanya pada bagian-bagian tertentu tampak serpih cahaya jatuh lurus dan membuat pendar pada daun-daun kering yang berserakan di tanah. Selebihnya adalah teduh atau bahkan remang.

Kelengangan hanya sedikit terganggu oleh suara langkahku sendiri, yang sering tak terhindarkan jatuh di atas daun dan ranting kering; atau, oleh angin pagi musim kemarau yang menyapu kelebatan hutan dan menimbulkan desah jutaan daun yang saling bergesek. Suaranya adalah desau seluruh bagian hutan, yang kadang terasa menyeramkan. Beberapa daun tua luruh, terlunta di antara cabang-cabang yang rapat, kemudian melayang jatuh ke tanah. Sepi juga sedikit terusik oleh cicit burung-burung kecil dari arah rumpun belukar-belukar dan gelagah di lereng jurang.

Aku terus melangkah dan kini jalan yang kutempuh mulai menurun. Tiba-tiba kusadari tarikan napasku terasa berat. Kulitku meremang. Naluriku mengatakan ada seseorang di dekatku.

“Mid!” sebuah suara terdengar dari samping.

Pada detik yang hampir sama aku melompat ke depan untuk mencapai sebatang jati besar lalu berlindung di baliknya. Tanganku segera bergerak meraba pundak kiri. Namun aku 
segera sadar, tak ada senjata tergantung di sana.

“Mid! Amid!”

Karena diulang aku segera mengenali siapa pemilik suara itu: Kiram. Aku keluar. Kulihat temanku itu juga tak membawa apa-apa. Wajahnya yang lusuh terlihat sangat pahit. Kukira, aku pun tiada beda: lusuh dan getir. Kami berpandangan. Jelas sekali Kiram terlihat lelah. Aku pun sama. Kami berpisah tadi malam untuk menyelamatkan diri masing-masing setelah lolos dari kepungan tentara yang tiba-tiba datang menyerbu.

“Kamu mau mencari Kang Suyud?”

Aku mengangguk. Kiram mendesah. Tanpa banyak kata terucap kami sepakat. Mungkin juga karena aku maupun Kiram punya jalan pikiran yang sama. Setelah kami bisa menyelamatkan diri, hal pertama yang harus kami lakukan adalah mencari Kang Suyud. Orang tua itu terpaksa kami tinggalkan 
meskipun kami tahu dia sedang sakit. Kang Suyud kami sembunyikan dalam semak di balik batu besar, karena kami tak mungkin bertempur sambil memapah dia yang sedang sakit dan sudah lemah.

“Kamu yakin suasana sudah aman?” aku bertanya.

“Ah, kamu. Bagi kita suasana tak pernah aman.”

“Di mana Jun? Kulihat tadi malam dia kena.”

“Memang. Tetapi kukira dia bisa lari. Peluru menembus kulit pahanya.”

“Lalu di mana dia?”

Kiram menggeleng.

Kami meneruskan perjalanan. Sama seperti aku, Kiram pun tak banyak cakap. Ketika kami menapaki jalan tikus yang makin menurun, aku mendengar suara gaduh di atas pepohonan. 
Aku melihat sekawanan monyet berkejaran pada dahan dan ranting jati. Sungguh gaduh. Tetapi kami tak peduli. Apalagi karena kami makin dekat ke tujuan: sebuah kantong hunian yang tersembunyi di tengah hutan. Hunian itu adalah kelompok lima rumah beratap ilalang yang berdiri pada dataran sempit yang dikelilingi tebing-tebing. Penghuni di sana adalah lima keluarga pembuat balok jati. Mereka menjual barang curian itu kepada penduduk desa di sekitar hutan. Kami tidak 
mengusik mereka karena mereka mau bekerja sama. Para pembuat balok itu biasa kami suruh membeli barang belanjaan di pasar.

Tadi malam kami—aku, Kiram, Jun, dan Kang Suyud— berada dalam salah satu rumah ilalang itu. Kami datang untuk menjenguk Kang Suyud yang sedang sakit dan kami titipkan 
kepada salah satu keluarga di sana. Tiba-tiba datang serbuan. Untung ketika itu Jun sedang kencing di luar, sehingga dia dapat memberi peringatan akan datangnya bahaya. Kami ingin menyembunyikan Kang Suyud di kolong, tetapi orang tua itu menolak. Ia bersikeras minta ikut lari. Sementara Kiram dan Jun bertempur, aku menyelinap sambil memapah Kang Suyud. Namun keadaan semakin gawat, sehingga kami putuskan untuk meninggalkannya. Kami yakin Kang Suyud bisa menjaga diri sendiri, setidak-tidaknya dengan tetap berada di dalam persembunyiannya sampai keadaan mereda. Kami bertiga terus 
lari menjauh, tapi tak lama kemudian kami mendengar suara tembakan-tembakan, lalu kami melihat api menyala dan menjulang berkobar-kobar. Hunian itu rupanya mereka bakar.

Kini lokasi hunian itu sudah tampak. Kelima rumah ilalang yang mereka bakar tadi malam sudah jadi abu. Kiram melewati aku, bergegas menuju tempat Kang Suyud kami sembunyikan. Aku, entahlah, tidak pergi mengikuti Kiram. Aku menyimpang dan berjalan lurus menuju bekas hunian itu dan aku tertegun di sana.

Demi Tuhan, sesungguhnya aku sudah terbiasa melihat mayat-mayat dengan luka tembakan, baik dari kalangan lawan maupun kawan. Aku sudah sering menyaksikan tubuh yang hancur atau tengkorak yang pecah oleh gempuran mata peluru. Bahkan aku pernah melaksanakan perintah eksekusi atas dua 
teman sendiri: satu karena kesalahan menggelapkan barang rampasan dan satu lagi karena kesalahan melakukan berahi sejenis. Rasanya, semua itu tak begitu mengerikan. Ya, semua itu tidak terasa begitu menggerus jiwa bila dibandingkan dengan kepiluan yang kurasakan ketika aku menatap mayat para pencuri kayu bersama istri dan anak-anak mereka.

Belasan mayat lelaki, perempuan, dan anak-anak berserakan, semua dengan luka tembak habis-habisan. Ya, tadi malam memang terlalu banyak peluru berhamburan di tempat itu: 
peluru kami dan peluru para penyerbu. Untuk menciptakan peluang meloloskan diri, Jun bahkan sempat melemparkan granatnya. Jadi tidak bisa dipastikan bahwa mayat-mayat yang bergelimpangan itu hancur hanya oleh peluru para penyerbu. Dan aku memang tak ingin tahu siapa sebenarnya yang menyebabkan orang-orang tak bersenjata ini terbunuh. Itu tak penting. Yang jelas jiwaku amat terpukul ketika melihat kelima keluarga pembuat balok itu musnah bersama hunian mereka. Terasa ada tagihan yang mengepung jiwaku: adilkah melibatkan, meskipun tak sengaja, orang-orang lemah itu ke dalam 
gerakan kami sehingga mereka harus ikut menanggung akibat yang tak terperikan? Aku sendiri bisa menjawab dengan mudah: Tidak. Dan kematian mereka yang sangat mengerikan itu justru menjadi bukti ketidakadilan itu.

Ketika aku masih merenungi mayat-mayat itu, Kiram datang seorang diri. Wajahnya beku.

“Mana Kang Suyud? Bagaimana dia?”

Kiram diam.

“Kamu temukan dia?”

“Sudah mati.”

“Ya Tuhan. Mati?”

Aku bergegas meninggalkan hunian yang sudah berubah menjadi tempat mengerikan itu. Kulihat Kiram mencari sesuatu dekat bekas kandang kambing. Ia menemukan apa yang 
dicarinya. Cangkul. Kemudian Kiram menyusul aku pergi ke balik batu besar itu.

Sekali lagi aku tertegun. Di depan mataku, mayat Kang Suyud terkulai melingkar di atas rerumputan. Tak ada luka. Jadi aku percaya Kang Suyud mati karena sakitnya. Mati dengan cara yang terasa begitu nista, begitu hina.

Aku segera teringat, di desa asalnya Kang Suyud meninggalkan istri dan beberapa anak, juga sebuah masjid yang besar. Dulu, sebelum lari ke hutan bersama kami, Kang Suyud sudah menjadi imam di masjid itu. Jamaahnya banyak dan ia dihormati. Kang Suyud punya sawah dan ladang. Tetapi kini yang ada pada Kang Suyud adalah gambaran ketidakberdayaan, bahkan kesengsaraan. Kenistaan. Kesia-siaan. Ya, sia-sia, meskipun aku tahu dalam kelompok kecil laskar gerakan kami, Darul Islam, Kang Suyud adalah orang tua yang kami hormati. Bahkan dalam kelompok kami, Kang Suyud akan menjadi seorang martir tanpa keraguan. Maka mungkin hanya aku seorang yang diam-diam menganggap kematian Kang Suyud sebagai 
kesia-siaan. Juga, diam-diam aku mulai meragukan hal kemartiran atas kematian orang-orang dari gerakan kami, termasuk 
Kang Suyud.

Dalam kebisuan yang mencekam, aku dan Kiram mengurus mayat Kang Suyud. Semuanya serba sahaja. Sempat kubayangkan andai Kang Suyud meninggal di tengah suasana normal di kampungnya, pasti ratusan orang akan mendoakannya dan mengiringkan mayatnya sampai ke kubur. Tapi pagi ini ia kami kubur dalam tata cara seadanya, bahkan hanya dengan doa yang masih bisa kami ingat.

Sebenarnya aku juga ingin menguburkan mayat-mayat yang lain. Namun Kiram tak setuju dan memaksaku segera meninggalkan tempat itu. “Jangan ambil risiko terlalu lama berada di sini. Sewaktu-waktu para penyerbu bisa datang lagi.”

Hampir tengah hari ketika aku dan Kiram meninggalkan Cigobang, hunian yang kini tinggal menjadi onggokan abu dan serakan mayat itu. Aku dan Kiram berangkat. Kami lebih banyak membisu. Kelengangan masih menyelimuti hutan jati, tetapi aku melihat seekor cicak terbang melayang dari pohon 
yang satu ke pohon lainnya. Aku juga melihat sepasang burung kacer terbang berkejaran dalam kebisuan. Pada hari-hari biasa kelengangan hutan sering terusik oleh bunyi kapak para pembuat balok kayu jati. Namun setelah habisnya seluruh penghuni Cigobang, aku yakin dalam waktu yang cukup lama takkan terdengar lagi bunyi kapak membelah kayu. Maka siang itu sunyi terasa sangat mendaulat hutan. Maka ketika ada ranting jati jatuh menimpa daun kering, suaranya terdengar demikian jelas. Kecuali bila angin bertiup, desah hutan jati terdengar begitu menggetarkan suasana.

Aku terus melangkah dan membiarkan Kiram berjalan di depanku. Entahlah Kiram, namun pikiranku tak bisa lepas dari Kang Suyud. Kematian lelaki yang kutuakan itu membuat jumlah anggota kelompok kami makin sedikit. Tiga tahun lalu, di tahun 1945, ketika kami mulai bergerak dari timur untuk menempati wilayah segitiga Gunung Slamet-Gunung 
Ceremai-Muara Citandui, kukira jumlah kami lebih dari seribu orang. Dan satuan kecil yang mendapat perintah menempati sektor hutan di wilayah utara Cilacap sampai ke perbatasan 
Jawa Tengah-Jawa Barat, ada dua ratus orang lebih. Dalam waktu kurang dari tiga tahun berikutnya kami kehilangan lebih dari setengahnya. Ada yang tertangkap atau mati dalam pertempuran, atau, minta bergabung dengan induk pasukan yang lebih kuat, yang beroperasi di sebelah barat Sungai Citandui. Lainnya, dan inilah jumlah yang terbesar, diam-diam meloloskan diri dan menyeberang ke Sumatra lewat Pelabuhan Cirebon. Kudengar mereka menjadi petani dan bisa hidup tenang di tanah yang baru. Maka yang tersisa adalah sedikit laskar pilihan yang memang tangguh seperti Kiram, Kang Suyud, dan Jun. Anehnya, aku adalah satu di antara mereka.

Sambil terus melangkah di belakang Kiram, aku sibuk dengan lamunanku sendiri. Aku harus jujur mengakui bahwa makin merosotnya jumlah anggota dan makin kuatnya perlawanan terhadap kami membuat semangatku terus menurun. Perbekalan pangan makin sulit kami dapat, apalagi amunisi.

Aku merasa bahwa kelompok kami sudah terpencil karena hubungan dengan pemimpin tertinggi Darul Islam sudah lama terputus. Dan kematian Kang Suyud membuat aku merasa makin kehilangan pegangan. Entah teman lain, tetapi aku sendiri mulai digoda oleh kebimbangan, bahkan keraguan akan manfaat gerakan kami. Atau sebenarnya benih keraguan itu sudah lama tertanam sejak lama, misalnya ketika kami menyerbu desa yang mempunyai sebuah madrasah dan masjid besar. Kami mendapat perintah menembak siapa saja, termasuk para ulama di sana, bila mereka tidak mau mendukung gerakan Darul Islam.

Aku ingat, beberapa bulan sebelum ikut menyerbu desa itu aku datang ke sana. Suasana masih normal. Waktu itu Darul Islam belum menarik garis tegas untuk memisahkan siapa ulama kawan dan siapa ulama lawan. Aku sempat berbincang dengan imam masjid di sana. Ternyata kiai itu tak mau mendukung kami. Ia berkeyakinan, pemerintah Bung Karno sah karena didukung para pemimpin Islam dan tidak menganjurkan kekufuran, bahkan mengupayakan kemaslahatan serta kesejahteraan umum. Pemerintah Bung Karno juga dianggapnya sah, sebab kata kiai itu, lebih baik ada pemerintah meskipun jelek daripada tak ada pemerintah sama sekali, setelah Belanda meninggalkan Tanah Air. “Taat kepada pemerintah yang sah adalah kewajibanku, kewajiban menurut imanku, iman kita,” kata kiai itu.

Ya. Maka kiai itulah yang pertama kali kami tembak dalam penyerbuan kami bulan-bulan berikutnya. Waktu itu kami sungguh-sungguh bertempur. Entah dari mana, beberapa pemuda di kampung itu mempunyai senjata untuk melawan kami. Mereka bertahan dalam masjid. Ya, kami bertempur di dalam tempat suci itu. Dan mereka benar-benar menguji ketangguhan kami. Seorang teman mati kena ledakan granat yang dilemparkan orang dari langit-langit kubah masjid. Bukan main!

Itu dulu. Dan perihal pertempuran terakhir tadi malam? Rasanya, hal itu terjadi sebagai balasan operasi yang kami lakukan beberapa hari sebelumnya. Waktu itu aku, Kiram, Jun, 
dan Kang Suyud main-main mencegat kendaraan yang lewat di jalan raya di tengah hutan antara kota kecil Wangon dan Cilacap. Main-main, karena operasi itu kami lakukan tanpa rencana sama sekali. Yang kami harapkan lewat waktu itu adalah bus tua yang biasa membawa orang-orang pulang dari pasar. Kami bermaksud merampas belanjaan yang mereka bawa. Jadi hanya kebetulan bahwa yang datang pertama ternyata sebuah jip militer. Kang Suyud meminta kami membiarkan jip itu lewat, namun Kiram bersikukuh melaksanakan niatnya. Juga Jun, dan aku setuju. Maka hanya dalam waktu yang demikian singkat kami bersiaga. Kiram berada di ujung depan, Jun di tengah, dan aku paling belakang. Kang Suyud, yang tak bersenjata dan kurang enak badan, tidak ikut ambil bagian. Ia 
sudah terlalu lemah.

Jip militer itu makin dekat, makin dekat. Penumpangnya hanya satu, seorang militer yang mengemudikan jipnya dengan gagah. Pada jarak tembak yang cukup dekat, Kiram menembakkan water mantel-nya dari balik semak di pinggir jalan. Entahlah, tembakan Kiram gagal menghentikan jip itu. Giliran Jun menembak dengan Pietro Baretta. Gagal juga. Malah militer itu, sambil mengendalikan kemudi dengan tangan kiri balas menembak dengan pistol. Jadi tibalah giliranku. Aku 
melompat ke tengah jalan, merintang langsung dari depan dengan rentetan Thompson-ku yang tua. Kulihat jip itu oleng karena kemudi tak lagi terkendali, lalu terjungkir ke pinggir jalan. Penumpangnya, seorang letnan, langsung tak bergerak.

Apa yang paling menarik bagiku pada mayat letnan itu adalah pistolnya, sebuah FN buatan Belgia dengan tiga magasin yang penuh peluruh. Aku segera mengambil barang yang 
sangat kami perlukan itu. Tetapi aku juga merogoh kantong celananya yang kombor untuk mencari rokok atau uang. Dan apa yang kudapatkan dari sana amat memukul sanubariku: seuntai tasbih dan sebuah Quran kecil. Kedua benda itu, bahkan dalam suasana dekat mayat pemiliknya, rasanya tak berhenti 
memancarkan kekudusan. Dan mayat pemiliknya, tak peduli ia seorang militer Republik, tergeletak di depan mataku karena 
peluru yang kutembakkan.

Aku merasakan adanya dua kekuatan tarik-menarik, suatu pertentangan yang mulai mengembang dalam hatiku. Seorang lelaki, militer yang baru kubunuh itu, agaknya ingin selalu merasa dekat dengan Tuhan. Dan ia telah kuhabisi nyawanya. Sementara itu aku harus percaya bahwa Tuhan yang selalu ingin 
diingatnya melalui tasbih dan Quran-nya itu pastilah Tuhan-ku juga, yakni Tuhan kepada siapa gerakan Darul Islam ini mengatasnamakan khidmahnya. Hatiku terasa terbelah oleh ironi yang terasa sulit kumengerti.

Sesuai dengan peraturan mengenai barang-barang rampasan, pistol, sepatu, termos air, serta tasbih dan Quran itu kami kumpulkan untuk dibagi dengan adil. Disepakati, pistol 
menjadi milik Kang Suyud, karena dia sudah terlalu lemah untuk menggunakan senjata yang lebih berat. Sepatu untuk Kiram dan termos air untuk Jun. Aku mendapat baju dan celana. Anehnya, tasbih dan Quran tak segera mendapat pemilik. Aneh pula, tak ada yang berani membuangnya. Jadi aku mengambil kedua benda itu untuk menjadi milikku, dan tak seorang pun merasa keberatan. Celakanya, melalui benda-benda itu bayangan letnan yang kubunuh sering muncul dalam rongga mataku. Tasbih dan Quran itu juga seakan selalu mengingat-kan aku bahwa pemiliknya, letnan yang sudah kubunuh itu, adalah orang yang tak seharusnya kuhabisi nyawanya.

Aku merasa Kiram atau Jun bisa menangkap perubahan yang terjadi pada diriku. Kiram misalnya, pernah menegurku. Katanya, aku telah kehilangan semangat. Tidak cukup menegur, Kiram bahkan mengingatkan aku akan hukuman yang akan kuterima bila aku murtad dan mengkhianati Darul Islam. Mati. Aku tidak takut mendengar peringatan itu karena aku percaya, Kiram pun seorang manusia seperti aku. Dia juga punya keinginan pribadi, punya keterbatasan, dan pasti juga 
kenal rasa bosan. Maka aku hanya mengangguk sambil tersenyum ketika mendengar kata-kata Kiram.

“Ya, terus terang aku mulai kehilangan semangat. Aku, dan tentu kamu juga, sudah mendengar bahwa di mana-mana kita terdesak. Di mana-mana kita kalah dan surut. Apalagi sekarang orang kampung beramai-ramai ikut melawan kita dengan 
melakukan gerakan pagar betis. Jadi bagaimanapun juga aku merasa keadaan kita sedang surut. Bukan aku yang mengatakan demikian, melainkan kenyataan. Kiram, kamu adalah kawanku sejak anak-anak. Maka kamu adalah teman kepercayaanku. Lalu, cobalah jawab pertanyaanku. Dengan kecenderungan seperti ini, kita ini mau ke mana sebenarnya?”





Bersambung... 

______________________________________________

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...