*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 33-01*
Karya. : SH Mintardja
Sementara itu orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu dari jauh menjadi berdebar-debar. Pisau belati di tangan anak muda yang seakan-akan telah menjadi mabuk itu akan dapat menjadi sangat berbahaya.
Apalagi di antara orang-orang yang berkerumun di kejauhan itu sama sekali tak mengerti dan tidak dapat menilai apa yang sudah terjadi. Mereka tidak mengerti bahwa selama itu Mahisa Bungalan sengaja tidak berbuat apa-apa, selain mengelak. Mereka menyangka bahwa Mahisa Bungalan memang tidak memiliki kesempatan untuk membalas serangan yang datang beruntun dan terus menerus.
Tetapi, bagi mereka yang mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi, di antaranya para prajurit Singasari dan beberapa orang kawan anak muda yang kesurupan itu sendiri justru menjadi berdebar-debar, bahwa Mahisa Bungalan akan mempergunakan senjata pula.
Namun Mahisa Bungalan sama sekali tidak menarik senjatanya. Ia masih tetap berdiri dengan tenang menunggu serangan lawannya yang bakal datang.
Sejenak kemudian, anak muda yang sudah bersenjata pisau belati itu melangkah satu-satu mendekati Mahisa Bungalan yang telah bersiap.
Seperti yang sudah diperhitungkan oleh Mahisa Bungalan, maka pada suatu saat anak muda murid Empu Purung itu pun lelah meloncat menerkam. Pisaunya diangkatnya tinggi-tinggi dan kemudian terayun langsung menusuk bahu Mahisa Bungalan.
Namun seperti yang sudah dilakukannya, maka Mahisa Bungalan telah menghindarinya. Selangkah ia beringsut sambil memiringkan tubuhnya.
Pisau belati yang terayun itu telah kehilangan sasaran. Namun anak muda yang marah itu tidak kehilangan akal. Ia telah merubah arahnya mendatar, sehingga ujungnya pun kemudian menyambar perut.
Tetapi sekali lagi Mahisa Bungalan mengelak. Pisau itu meluncur pada jarak tidak lebih setapak di depan perut Mahisa Bungalan.
Sementara pisau itu meluncur, maka Mahisa Bungalan pun segera menangkap pergelangan tangan anak muda itu. Sekali ia melingkar sambil merendahkan diri, menarik tangan itu di atas pundaknya dan sambil menghentakkan tangan itu Mahisa Bungalan mengangkat tubuh anak muda itu dengan pundaknya.
Anak muda itu pun terlempar ke udara. Kakinya berputar dan kemudian terlempar sementara tangannya masih dalam genggaman tangan Mahisa Bungalan.
Anak muda murid Empu Purung itu bagaikan berputar di udara. Badannya yang kuat kekar itu bulat-bulat telah jatuh di tanah pada punggungnya.
Mahisa Bungalan melepaskan tangan anak muda itu. Tetapi anak muda itu tidak segera dapat bangkit. Sambil menyeringai ia menekan punggungnya dengan telapak tangannya.
Baru sejenak kemudian, murid Empu Purung itu tertatih-tatih berdiri sambil mengumpat-umpat. Meskipun punggungnya terasa sakit, tetapi ia tidak mau melihat kenyataan itu. Dengan wajah yang merah membara ia masih tetap mengacungkan senjata nya kepada Mahisa Bungalan.
“Anak gila” salah seorang prajurit Singasari justru membentaknya, “kau masih akan melawan?”
“Persetan” geram anak muda itu, “aku akan membunuhnya.”
“Anak yang tidak tahu diri. Kau sangka bahwa kau akan dapat berbuat sesuatu dengan kegilaanmu itu?”
“Aku akan membunuhmu pula.”
“Jangan membuat lelucon semacam itu” desis prajurit yang seorang lagi “pada suatu saat kami akan kehilangan kesabaran kami “
“Aku tidak memerlukan kesabaranmu. Marilah, majulah bersama-sama. Aku akan membunuhmu semuanya.”
“Kau sudah hampir mati” desis prajurit Singasari itu
“Kau yang hampir mati “
Prajurit muda itu tiba-tiba saja tidak dapat mengendalikan kemarahannya. Selangkah ia meloncat maju. Hampir saja tanganya meraih tangan murid Empu Purung yang menggenggam senjata itu.
Untunglah bahwa Mahisa Bungalan cepat bergerak dan mencegahnya.
“Jangan marah” desis Mahisa Bungalan.
“Anak itu memang pantas untuk disumbat mulutnya. Dalam keadaan serupa itu, ia masih saja tetap mengingau “
“Biar sajalah ia berkata apa saja.” jawab Mahisa Bungalan.
“Tentu tidak, ia memaki dan mengumpati kami. Kita adalah prajurit-prajurit Singasari yang bertugas di sini. Ia tidak boleh menghina kita yang membawa limpahan kekuasaan Singasari atas daerah ini.”
“Setiap orang tidak boleh menghina pihak lain. Anak muda itu memang tidak boleh menghina siapapun. Tetapi biarlah ia menyadari kesalahnya itu jika ia sudah mempunyai waktu untuk mengendapkan perasaannya. Kini ia sedang di bakar oleh kemarahan dan kekecewaan.”
“Tetapi ia tidak boleh berbuat sekehendak hati. Aku dapat memukulinya sampai mati tanpa urusan apapun juga” desis seorang prajurit muda.
“Tentu tidak” sahut Mahisa Bungalan” justru karena kita seorang prajurit. Apapun yang kita lakukan harus kita pertanggung jawabkan. Bukan sebaliknya, bahwa karena kita seorang prajurit, kita dapat berbuat apa saja.”
Prajurit muda itu agaknya tidak dapat mengerti keterangan Mahisa Bungalan yang juga masih muda. Tetapi seorang prajurit yang lebih tua menggamitnya sambil berbisik” Jangan diseret oleh perasaan yang keliru. Dengarlah pendapat Mahisa Bungalan. Ia adalah Orang yang justru menjadi sasaran kedunguan anak gila itu. Tetapi ia tetap dapat menguasai perasaan dan tingkah lakunya.”
Prajurit muda itu menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ingin mengendapkan kembali perasaannya yang sudah bergejolak sampai ke kepala.
Dalam pada itu, Mahisa Bungalan melangkah mendekati murid Empu Purung itu sambil berkata” Cobalah mengerti apa yang telah terjadi. Jika aku mencegah kawanku menghukummu, bukan karena aku takut akan akibatnya. Setiap prajurit tidak akan gentar menghadapi apapun juga. Tetapi kami pun sadar bahwa yang kami lakukan adalah suatu tindakan yang harus dipertanggung jawabkan. Nah, sekarang pulanglah. Dan jangan mencoba lagi, agar kau tidak terperosok ke dalam kesulitan. Aku tahu, kau tentu seorang anak muda yang baru mendapat latihan-latihan olah kanuragan. Barangkali kau baru menerima sejenis ilmu yang kau anggap mumpuni. Tetapi kau harus sadari, tidak ada ilmu yang tidak terkalahkan. Aku sekarang tidak dapat kau kalahkan. Tetapi tentu ada orang yang dapat mengalahkan aku. Dan barangkali orang-orang itu justru pada suatu saat kau kalahkan.”
Murid Empu Purung yang masih membawa senjata itu memandang wajah Mahisa Bungalan dengan sorot mata yang membara. Dan karena sorot mata itulah Mahisa Bungalan merasa prihatin. Anak muda itu ternyata sama sekali tidak mau mengakui kesalahan yang telah dilakukannya. Meskipun ia kemudian hanya berdiri mematung, namun nampak pada matanya, bahwa ia menyimpan dendam yang membara didalam hati.
“Ki Sanak” berkata Mahisa Bungalan” mungkin saat ini kau masih dibakar oleh kemarahan. Tetapi aku harap kau cukup dewasa menanggapi keadaan. Kaulah yang telah mulai membuat persoalan. Aku tahu, tentu bukannya tanpa maksud. Tetapi kau dapat menilai, apakah hasil dari tingkahmu yang aneh itu?”
Anak muda itu tidak menyahut. Tetapi senjatanya masih tetap tergenggam.
“Serahkan senjata itu” desis Mahisa Bungalan, “meskipun aku tahu bahwa kau masih menyimpan senjata serupa dirumahmu. Bahkan mungkin tidak hanya satu. Dan bahkan mungkin kau juga menyimpan pedang, tombak dan senjata-senjata yang lain.”
Wajah anak itu menjadi semakin membara.
“Serahkan Ki Sanak. Itu adalah suatu pertanda bahwa kau mengakui kesalahanmu.”
Anak muda itu masih tetap berdiri dengan tegang.
Tetapi dengan tenang Mahisa Bungalan melangkah semakin dekat.
Prajurit-prajurit Singasari yang menyaksikan menjadi tegang pula. Bagaimanapun juga anak muda itu masih tetap bersenjata.
“Jangan mempersulit diri sendiri” berkata Mahisa Bungalan.
Sejenak anak muda itu memandang Mahisa Bungalan dengan tatapan mata penuh dendam. Namun tiba-tiba saja ia meloncat maju dengan garangnya. Dengan sisa tenaganya ia menusuk lambung Mahisa Bungalan dengan senjatanya.
Yang menyaksikan serangan itu terkejut bukan buatan. Para prajurit itu pun serentak telah bergeser maju. Merek telah siap melakukan apa saja menghadapi segenap kemungkinan.
Tetapi, yang mereka lihat kemudian adalah, bahwa Mahisa Bungalan telah menangkap pergelangan tangan anak muda itu. Dengan satu pukulan sisi telapak tangannya, maka pisau belati di tangan anak muda itu telah terlepas.
Ternyata bahwa genggaman tangan Mahisa Bungalan bagaikan himpitan besi baja di pergelangan tangan anak muda itu. Sambil menyeringai ia pun menggeliat menahan kesakitan.
“Ambil pisau itu” geram Mahisa Bungalan yang masih mencoba menahan kemarahan yang hampir tidak terbendung.
“Ambil” bentaknya, “dan serahkan kepadaku. Aku minta kau menyerahkan senjata itu.”
Para prajurit menjadi semakin tidak mengerti tingkah laku Mahisa Bungalan. Mereka melihat Mahisa Bungalan justru melepaskan anak muda itu.
“Ambil pisau itu dan serahkan kepadaku.” wajah Mahisa Bungalanpun menjadi merah.
Ketika anak muda itu masih belum beranjak dari tempatnya, tiba-tiba saja tangan Mahisa Bungalan terayun di wajahnya. Terdengar anak muda itu berdesah ketika ia terdorong selangkah surut, dan bahkan kemudian jatuh terlentang ditanah.
Ketika tangannya mengusap mulutnya, maka ia melihat warna merah dijari-jarinya.
“Cepat bangkit dan ambil pisau itu” perintah Mahisa Bungalan semakin keras.
Tiba-tiba wajah anak muda itu menjadi pucat. Mulutnya terasa betapa sakitnya. Sedangkan darah mengalir semakin deras. Sebuah giginya telah patah dan justru telah tertelan.
Ketika Mahisa Bungalan melangkah maju, maka dengan tergesa-gesa anak muda itu bangkit, betapapun tubuhnya merasa sakit. Dengan tergesa-gesa pula ia memungut pisau belatinya yang terjatuh.
“Serahkan kepadaku. Atau kau ingin aku benar-benar membunuhmu?” geram Mahisa Bungalan.
Anak muda itu ragu-ragu. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan untuk berpikir lebih lama. Ketika Mahisa Bungalan bergerak setapak, maka ia pun dengan serta merta mengacungkan pisaunya.
“Seharusnya kau tidak gila” geram Mahisa Bungalan “aku dapat kehabisan kesabaran dan membuat wajahmu berubah. Pegang pisau itu pada tajamnya, dan ulurkan tangkainya.”
Anak muda murid Empu Purung itu tidak berani membantah. Iapun kemudian memegangi pisaunya pada tajamnya dan mengulurkan tangkaianya kepada Mahisa Bungalan.
“Jadilah pertanda bahwa kau sudah mengakui kesalahan dan kekalahanmu. Jika kau mengulangi tingkah lakumu yang gila itu, maka aku atau prajurit Singasari yang lain, akan mengambil sikap yang barangkali lebih tidak menyenangkan lagi bagimu” berkata Mahisa Bungalan, “untuk kali ini prajurit-prajurit Singasari masih dapat menahan diri.
Murid Empu Purung itu tidak menjawab
“Sekarang pergilah” geram Mahisa Bungalan.
Anak muda itu melangkah surut. Dengan tegang ia masih tetap memandang Mahisa Bungalan yang kemudian membentaknya” Pergi Cepat.”
Anak muda itupun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan Mahisa Bungalan. Sekali-kali ia masih berpaling dengan cemas. Rasa-rasanya Mahisa Bungalan itu menyusulnya dan menghantam punggungnya sampai patah.
Tetapi Mahisa Bungalan tidak beranjak dari tempatnya. Dibiarkannya anak itu pergi meninggalkannya dan kemudian meninggalkan tempat itu.
Beberapa orang kawannya memandanginya dari kejauhan. Ternyata prajurit Singasari itu tidak beramai-ramai memukulinya. Bahkan Mahisa Bungalan telah mencegahnya ketika ada seorang prajurit muda yang hampir kehilangan kesabarannya
Namun dalam pada itu, anak-anak muda, murid Empu Purung itu dapat melihat bahwa kawannya yang paling mereka banggakan itu sama sekali tidak berarti apa-apa bagi prajurit Singasari. Dengan mudah prajurit itu dapat mengalahkannya, bahwa dengan hampir tidak menitikkan keringat sama sekali, prajurit Singasari itu berhasil menguasainya mutlak.
Tetapi kawan-kawan anak muda yang gagal memancing persoalan dengan prajurit-prajurit Singasari itu tidak segera mendapatkannya. Mereka melingkar dan menunggu di balik padukuhan kecil di seberang bulak sempit.
Namun sementara itu, semuanya yang telah terjadi, ternyata tidak terlepas dari pengamatan petugas sandi Singasari. Dari kejauhan seorang petugas sandi telah melihat apa yang terjadi.
Karena itulah, maka iapun selalu mengawasi anak muda yang kemudian dengan tergesa-gesa pergi meninggalkan Mahisa Bungalan itu.
Dari kejauhan pula, petugas sandi itu dapat melihat, bahwa di balik padukuhan kecil, beberapa anak muda yang lain telah menemuinya. Meskipun petugas sandi itu tidak mendengar, tetapi ia dapat memperhitungkan, bahwa anak muda itu sedang, menceriterakan apa yang telah dialaminya.
Ketika anak-anak muda itu melanjutkan perjalanan, maka petugas sandi itu tidak melepaskannya. Ia mengikutinya terus dan melihat-melihat anak-anak muda itu ternyata menuju kepadepokan Empu Purung.
Tidak banyak kesimpulan yang dapat diambil oleh petugas sandi itu kecuali dengan demikian ia mengetahui bahwa anak-anak muda itu memang berasal dari padepokan Empu Purung yang tidak terlalu jauh letaknya dari barak para prajurit Singasari.
Dalam pada itu, peristiwa itu pun telah didengar pula oleh Empu Purung.
Sebenarnya ia tidak berkeberatan dengan cara yang diambil oleh muridnya. Tetapi kegagalan itu telah membuatnya menjadi prihatin.
“Jadi kau berhasil memancing perkelahian?“ bertanya Empu Purung.
“Ya Empu. Aku telah berkelahi atas namaku sendiri. Maksudku, aku ingin memancing kemarahan para prajurit itu sehingga mereka akan memukuli aku beramai-ramai. Itu akan dapat aku jadikan alasan untuk menyerang barak itu tanpa membawa nama padepokan ini, karena yang terjadi adalah sekedar benturan antara anak-anak muda. Tetapi ternyata bahwa prajurit Singasari itu telah kepanjingan hantu. Jangankan beberapa orang, sedangkan sebuah pukulan telah membuat aku hampir pingsan.
Empu Purung mengangguk-angguk. Yang telah terjadi dapat dibuatnya ukuran, bahwa yang telah mereka capai sama sekali belum berarti apa-apa bagi prajurit-prajurit Singasari.
“Meskipun jumlah kami jauh lebih banyak, tetapi kami tidak dapat berbuat apa-apa jika kemampuan kami masih saja terbatas seperti ini” berkata Empu Purung kemudian.
“Ya Empu. Mereka bagaikan mendapat kekuatan dari iblis jawab anak muda yang mulutnya berdarah itu.
“Baiklah” berkata Empu Purung, “yang kalian dapatkan dari padaku memang baru sedikit. Tetapi aku tidak cemas. Masih ada waktu bagi kalian untuk melatih diri lebih baik dan tekun, sambil menunggu keterangan dari Empu Baladatu.Jangan takut. Jika dengan kekuatan wadag kita tidak mampu melawan, maka aku akan membuat mereka menjadi gila, karena sebenarnya aku sendiri akan dapat membuat mereka tidak berdaya.”
Murid-muridnya mengangguk-angguk. Bagi mereka Empu Purung adalah orang yang luar biasa. Yang mampu meruntuhkan gunung dan mengeringkan lautan.
Itulah sebabnya, maka murid-muridnya pun segera melupakan apa yang telah terjadi. Anak muda yang tidak berdaya menghadapi Mahisa Bungalan itu pun kemudian sambil mengangkat dadanya berkata didalam hati, “Pada suatu saat aku akan datang lagi. Dengan sebuah sentuhan jari telunjukku, kau akan menjadi debu.”
Sejak saat itu, maka murid-murid Empu Purung itu pun dengan tekun mulai memperdalam ilmunya. Meskipun ilmu kanuragan Empu Purung sama sekali tidak mengajari mereka dengan ilmunya yang dahsyat. Tidak mengajari mereka, bagaimana caranya meruntuhkan gunung dan mengeringkan lautan dengan sentuhan jari.
Meskipun demikian, mereka telah menjadi bangga dengan kemajuan yang mereka capai dalam olah kanuragan.
Bahkan bukan saja anak-anak muda murid Empu Purung itulah yang harus meningkatkan ilmunya. Tetapi setiap orang laki-laki yang berada di bawah pengaruhnya Empu Purungpun telah dengan tekun berusaha menambah ilmunya, karena mereka pun mendengar bahwa prajurit-prajurit Singasari memiliki ilmu kanuragan yang tinggi.
Namun setiap kali murid-murid Empu Purung selalu memperingatkan, agar mereka tidak menjadi cemas. Empu Purung mempunyai kemampuan yang tidak terbatas.
“Jika kita tidak mampu melawan mereka, maka Empu Purung akan menggiring mereka dengan ilmunya ke lembah. Kemudian tebing di sebelah menyebelah pun akan runtuh menimbun tubuh mereka, sehingga mereka akan menjadi lumat karenanya.”
Orang-orang yang berada di bawah pengaruh Empu Purung, itu menjadi gembira. Mereka berharap bahwa hal itu akan segera terjadi
Dalam pada itu, para petugas sandi dari Singasari yang berhasil melihat dan mengikuti anak-anak muda murid Empu Purung itupun mengikuti setiap perkembangan dengan saksama. Mereka selalu mengawasi latihan-latihan yang diadakan setiap saat. Di padepokan Empu Purung, di banjar-banjar padukuhan dan hampir disetiap rumah.
“Perkembangan mereka mulai mencapai suatu tingkat yang berbahaya Ki Lurah” berkata petugas sandi itu kepada pemimpin prajurit Singasari.
Pemimpin prajurit Singasari itu mengangguk-angguk. Beberapa orang terpenting dari pasukannya segera dipanggilnya untuk berbicara. Termasuk Mahisa Bungalan.
“Perkembangan yang serupa terjadi dibeberapa tempat” berkata Mahisa Bungalan” kita harus memperhatikan perkembangan itu secara menyeluruh.“
“Ya” sahut pemimpin prajurit Singasari itu” kita tidak dapat bertindak sendiri.”
“Apakah kita menunggu mereka berkembang semakin luas?” bertanya seseorang.
“Semua masalah harus kita perhatikan” berkata pemimpin prajurit itu” jika kita tergesa-gesa bertindak disatu tem pat, maka hal itu akan merupakan peringatan bagi tempats lain yang menghadapi persoalan serupa.“
“Tetapi ada persoalan lain disini” sahut Mahisa Bungalan” jika keadaan memang memaksa, kita dapat mengembangkan persoalan yang membatasi lingkungan yang kecil ini “
“Maksudmu?”
“Persoalan diantara kita. Tegasnya, aku dan anak-anak muda yang telah dengan sengaja memancing persoalan. Jika perlu hal itu dapat dikembangkan sebagai alasan kita untuk bertindak tanpa menyentuh persoalan yang sebenarnya dari tugas kita disini.”
Pemimpin prajurit itu mencoba melihat kemungkinan yang dikatakan oleh Mahisa Bungalan. Baginya, cara itu nampaknya memang akan lebih mempersempit persoalan, seakan-akan yang terjadi bukannya karena kecurigaan prajurit Singasari terhadap semakin majunya ilmu orang-orang dipadepokan Empu Purung itu.
Meskipun demikian, pemimpin prajurit Singasari itu masih tetap berhati-hati. Karena itu maka katanya, “Kita harus membuat pertimbangan-pertimbangan tersendiri. Tetapi baiklah. Hal ini akan aku perhatikan. Barangkali akan merupakan pemecahan yang paling mungkin kita lakukan.”
Dengan demikian, maka prajurit-prajurit Singasari itu masih harus menahan diri. Mereka masih harus tinggal dibarak dengan cara yang serupa. Namun dibalik bukit, sekelompok prajurit, yang lain tinggal dalam satu perkemahan yang menjemukan. Terapi karena mereka membagi waktu sebaik-baiknya. maka kejemuan itu pun sebagian dapat diatasi.
Sementara pihak Singasari dan mereka yang berada di bawah pengaruh Empu Baladatu sedang berada dalam satu lingkaran kecurigaan, maka Linggapati di Mahibit merasa, bahwa usahanya telah berhasil. Dengan demikian maka ia tinggal menunggu benturan kekuatan yang akan segera terjadi.
Jika kedua belah pihak telah menjadi parah, maka Linggapati akan tampil dan berdiri di atas keduanya.
“Baladatu akan hancur oleh prajurit-prajurit Singasari. Dan prajurit-prajurit Singasari yang menjadi lemah itu akan aku hancurkan pula bersama para Akuwu yang telah bersedia berdiri di barisanku” berkata Linggapati kepada dirinya sendiri dengan penuh kebanggaan.
Namun dalam pada itu, Singasari tidak lengah menghadapi perkembangan keadaan. Meskipun nampaknya para prajurit dan petugas menurut penglihatan Linggapati hanyalah ditujukan kepada para pengikut Empu Baladatu, namun karena Mahibit pernah terlibat dalam hubungan yang erat dengan Empu Baladatu, khususnya saat mereka menyerang padepokan Empu Sanggadaru, maka kecurigaan Singasari terhadap Linggapati tidak segera pudar.
Perlahan-lahan namun dengan penuh ketekunan, akhirnya para petugas sandi berhasil menemukan jejak Linggapati di Mahibit. Karena bagaimana pun juga, Linggapati tidak dapat berdiam diri. Ia pun selalu berusaha dapat mengikuti perkembangan di padepokan-padepokan yang disangkanya telah jatuh kedalam pengaruh Empu Baladatu. Sambil tersenyum Linggapati atau orang-orang kepercayaannya menyaksikan barak-barak yang dibuat oleh prajurit Singasari di beberapa tempat yang dianggapnya perlu.
“Benturan itu tidak akan dapat dihindari lagi” desis Linggapati.
Namun diluar dugaan, maka kegiatan penyelidikannya itu setelah tertangkap oleh jaringan petugas sandi dari Singasari.
“Orang-orang Mahibit pun berkeliaran terutama di daerah Timur” para petugas sandi itu melaporkan.
Dengan demikian, maka para perwira tertinggi di Singasari telah telah berusaha memecahkan keadaan secara keseluruhan.
Mereka telah mengambil kesimpulan, bahwa laporan yang pernah mereka terima tentang kegiatan Empu Baladatu, justru datangnya dari Mahibit. Orang-orang di Mahibit ingin melihat pasukan Singasari berbenturan melawan orang-orang yang terpengaruh oleh Empu Baladatu.
Karena itulah, maka Singasari pun kemudian dengan hati-hati berusaha, untuk menguasai persoalannya dalam keseluruhan.
“Kita tidak boleh tergesa-gesa” berkata Mahisa Agni, yang meskipun sudah menjadi semakin tua, tetapi ia masih tetap seorang yang berpengaruh di kalangan keprajuritan di Singasari.
Dan ternyata kemudian, bahwa perintah yang keluar dari para perwira prajurit pun berbunyi senada dengan pendapat Mahisa Agni, meskipun beberapa orang perwira muda kadang-kadang merasa terlalu lamban.
“Kita menunggu setelah mereka menjadi kuat dan menyerang kita lebih dahulu” berkata seorang perwira muda.
“Siapakah yang menjadi kuat? Empu Baladatu atau Linggapati?”
“Kedua-duanya.”
“Tetapi bagaimana akibatnya jika kita dengan tergesa-gesa bertindak atas salah satu pihak? Kekuatan kita akan berkurang, sementara kekuatan Linggapati masih tetap utuh.”
“Itu akan lebih baik. Kita bertempur melawan kekuatan terbagi. Kita hancurkan dahulu Empu Baladatu. Baru kemudian Linggapati. Tetapi jika harus menghadapi mereka bersama-sama, apalagi setelah mereka menjadi kuat, maka tugas kita akan terasa berat sekali.”
“Tetapi itu lebih baik kita lakukan dengan beradu dada. Setelah semuanya jelas, kita akan menghadapinya. Tetapi dalam keadaan seperti sekarang ini, kekuatan Linggapati masih tersembunyi. Jika kekuatan yang tidak kita ketahui itu ternyata cukup besar dan menghanam kita dari punggung maka kita akan mengalami kesulitan pula.”
Perwira muda itu mencoba untuk mengerti. Tetapi darah kemudaannya banyak berpengaruh atas segala pertimbangannya.
Meskipun demikian, ia tidak menjawab lagi. Ia tahu, bahwa hal itu tidak akan dapat diperdebatkan. Jika para pemimpin tertinggi Singasari memerintahkan untuk bertahan pada keadaan seperti yang sedang berjalan, maka itu adalah keputusan yang tidak dapat dirubah-rubahnya menurut selera masing-masing.
Karena itulah, maka para prajurit Singasari terpaksa tetap berada di tempatnya, meskipun kadang-kadang terasa sangat menjemukan. Namun sementara itu, para petugas sandi sajalah yang bekerja dengan tidak mengenal waktu.
Namun dalam pada itu, di luar dugaan Linggapati, sebenarnyalah prajurit-prajurit Singasari telah membuat beberapa pemusatan prajurit untuk menghadapinya. Beberapa orang Akuwu yang mencurigakan tidak luput dari pengamatan Singasari. Karena Singasari telah menangkap jaringan hubungan para Akuwu itu dengan Linggapati.
“Tugas kita memang berat” berkata para perwira, “di satu pihak kita harus mengamati setiap padepokan yang di duga mempunyai sangkut paut dengan Empu Baladatu. Peningkatan yang menyolok dalam olah kanuragan merupakan pertanda yang dapat dijadikan pegangan sementara. Namun dalam pada itu, juga kegiatan para Akuwu yang dalam pengamatan para petugas sandi mengadakan hubungan dengan Linggapati.
“Jangan sandarkan pada kekuatan para prajurit semata-semata” berkata para perwira yang sudah berpengalaman, “hadapi kegiatan di padepokan itu dengan kegiatan serupa di padukuhan sekitarnya. Demikian juga kegiatan oleh kanuragan di beberapa daerah yang langsung dilakukan oleh para Akuwu.”
Ternyata bahwa perintah itu mendapat sambutan yang baik dari para pemimpin kelompok di tempat-tempat yang terpencar. Mereka berusaha untuk membuat hubungan dengan para Buyut di padukuhan-padukuhan di sekitarnya.
“Kami menawarkan tenaga kami yang seakan-akan sia-sia saja” berkata seorang prajurit yang seolah-olah sekedar ingin menghapuskan kejemuan.
Buyut padukuhan di sebelah padepokan yang meningkat kan kegiatannya, semula sama sekali tidak bercuriga. Jika ada orang-orang dari padukuhan-padukuhan yang termasuk wilayahnya, ikut serta dalam latihan-latihan di padepokan itu, Ki Buyutpun tidak menaruh prasangka apa-apa. Menurut pengertiannya, di padepokan-padepokan memang sering diadakan peningkatan ilmu, yang kasar dan yang halus. Bahkan sebelumnya ada beberapa orang Buyut yang justru merasa berterima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada beberapa orang dari padukuhannya untuk ikut serta mendapatkan ilmu kanuragan.
Namun pengaruh padepokan yang semakin meluas, kadang-kadang memang menjadi persoalan bagi Ki Buyut. Orang-orang yang berada di bawah pengaruh salah seorang pemimpin padepokan, seharusnya hanyalah dalam tataran ilmu kanuragan maupun kajiwan. Tetapi dasar-dasar pemerintahan bagi padukuhan mereka akan tetap berlaku seperti seharusnya di bawah pimpinan seorang Buyut.
Tetapi kadang-kadang orang-orang yang telah memiliki kemampuan dan ilmu kanuragan, tidak lagi mau tunduk kepada Ki Buyut di padukuhannya. Ia lebih dekat dengan pemimpin padepokannya.
Demikian pula padukuhan Alas Pandan yang berada di bawah bayangan pengaruh Empu Purung.
Ki Buyut kadang-kadang merasa bahwa pengaruhnya sudah jauh terdesak dari pengaruh Empu Purung dengan cantrik-cantriknya. Anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan yang, termasuk wilayah Ki Buyut mulai mengabaikan peraturan-peraturan seharusnya berlaku. Mereka lebih senang menurut perintah Empu Purung dari pada Ki Buyut meskipun dalam tata kehidupan di padukuhannya.
Karena itulah ketika Mahisa Bungalan dengan diam-diam datang kepada Ki Buyut bersama seorang perwira prajurit Singasari dalam pakaian orang kebanyakan sehingga tidak mudah diketahui, Ki Buyut telah menyampaikan semuanya yang dirasakannya janggal.
“Apakah prajurit Singasari dapat membantu aku?” bertanya Ki Buyut.
Mahisa Bungalan dan perwira muda itu mengangguk-angguk.
Dengan hati-hati Mahisa Bungalan berkata, “Apakah masih ada beberapa orang anak-anak muda yang tidak berada di bawah pengaruh Empu Purung “
“Aku kira masih ada Ki Sanak. Tetapi pada umumnya mereka adalah anak-anak muda yang tidak mengenal apapun selain langkah ke sawah dan ladang. Dalam pergaulan sehari-hari mereka sama sekali tidak memiliki wibawa apapun juga jika berhadapan dengan anak-anak muda yang sudah mempelajari ilmu kanuragan di padepokan Empu Purung.”
“Apakah diantara anak-anak muda itu pernah timbul perselisihan.” bertanya Mahisa Bungalan.
“Hampir tidak pernah. Anak-anak muda yang tidak memiliki ilmu kanuragan itu tidak berani membantah, apapun yang di katakan dan kehendaki oleh mereka yang sering berada di padepokan. Bahkan mengenai urutan mempergunakan air dari parit yang kurang mencukupi itu pun, anak-anak muda yang merasa dirinya memiliki ilmu kanuragan itu, berbuat sekehendak hati mereka. Itulah sebabnya kadang-kadang tanaman di satu kotak sawah menjadi layu, sedangkan di sebelahnya nampak subur dan hijau.”
“Apakah Ki Buyut pernah berbuat sesuatu?”
“Aku pernah mengumpulkan mereka. Tetapi anak-anak muda yang berada dibawah pengaruh Empu Purung itu merasa diri mereka terlalu kuat. Mereka merasa satu dengan anak-anak muda dari padukuhan yang lain, diluar kekuasaanku. Tetapi Bayut dari daerah itupun merasa berprihatin seperti aku pula.’“
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Ki Buyut. Kami adalah prajurit Singasari yang mendapat tugas di daerah ini. Selama ini kami hanya duduk-duduk, makan dan hidup dalam suasana yang menjemukan.”
Perwira muda di sebelah Mahisa Bungalan itu bergeser. Tetapi ketika ia akan mengucapkan sesuatu, Mahisa Bungalan telah menggamitnya, sehingga perwira muda itu mengerutkan keningnya dan mengurungkan kata-kata yang sudah hampir meloncat dari mulutnya.
“Karena itu Ki Buyut” berkata Mahisa Bungalan, “kami ingin melepaskan kejemuan kami dengan kerja yang barangkali berguna bagi padukuhan ini “
“Maksud Ki Sanak?”
“Bagaimana jika kami membantu anak-anak muda itu di dalam kerja dan kehidupan mereka sehari-hari.”
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itu memang dapat memberikan imbangan atas sikap anak-anak muda yang merasa dirinya kuat dalam olah kanuragan itu. Tetapi peristiwa itu hanyalah peristiwa sesaat. Jika kalian di tarik dari daerah ini, maka yang tinggal adalah dendam. Dendam dari anak-anak yang berada di bawah pengaruh Empu Purung itu terhadap anak-anak muda yang selama ini bekerja bersama kalian.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian, “Meskipun demikian Ki Buyut, tetapi sudah barang tentu Ki Buyut tidak akan dapat membiarkan kepincangan ini terjadi untuk seterusnya.”
“Ya. Namun jika mungkin aku ingin mendapatkan, pemecahan yang lestari. Bukan sekedar penyelesaian sementara, tetapi yang justru akan menimbulkan kesulitan dikemudian. hari.”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ki Buyut ternyata memang persoalan itu dalam keseluruhan dan bagi masa depan yang panjang. Sebenarnyalah menurut penilaian Mahisa Bungalan, Ki Buyut adalah orang yang memiliki kemampuan berpikir. Tetapi ia tidak sempat melakukannya.
Karena itu, maka menurut perhitungan Mahisa Bungalan, Ki Buyut akan dapat diajaknya bekerja bersama untuk mengatasi kesulitan yang dialami oleh anak-anak muda yang justru sejalan dengan rencananya.
Dengan sungguh-sungguh Mahisa Bungalan pun kemudian bertanya kepada Ki Buyut, “Ki Buyut, apakah jumlah anak-anak muda yang berada dibawah pengaruh Empu Purung itu cukup banyak?”
“Ya Ki Sanak. Mungkin lebih banyak dari mereka yang tidak berada dibawah pengaruhnya. Pada umumnya anak-anak muda senang dengan kebanggaan jasmaniah. Di padepokan Empu Purung mereka mendapat latihan-latihan olah kanuragan “
“Apakah Ki Buyut mengetahui, apakah maksud Empu Purung memberikan latihan-latihan itu?”
Ki Buyut menggelengkan kepalanya. Katanya, “Menurut pendengaranku mereka tidak mendapat tugas apa-apa dari Empu Purung.”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa tentu hanya orang-orang terpenting sajalah yang mengetahui maksud sebenarnya dari Empu Purung. Seperti yang pernah didengar oleh petugas sandi Singasari, bahwa sikap Empu Purung dan beberapa padepokan yang tersebar lainnya, berada dibawah pengaruh Empu Baladatu.
Namun dengan demikian Mahisa Bungalan telah mendapat sedikit gambaran tentang kehidupan anak-anak muda dipadukuhan-padukuhan yang berada disekitar padepokan Empu Purung, sehingga dengan beberapa orang pemimpin prajurit Singasari ia akan dapat menentukan sikap yang sebaik-baiknya.
Ketika Mahisa Bungalan dan perwira muda itu meninggalkan rumah Ki Buyut, barulah perwira itu bertanya, “Kenapa tidak diberitahukan sama sekali maksud kedatangan kita ke tempat ini dan barangkali kita dapat memberikan sekedar petunjuk dalam olah kanuragan kepada anak-anak muda itu?”
“Kita belum tahu pasti sikap Ki Buyut yang sebenarnya” berkata Mahisa Bungalan.
Namun setelah di saat lain Mahisa Bungalan bertemu dan berbicara lagi dengan Ki Buyut, maka yakinlah ia bahwa Ki Buyut sendiri sama sekali tidak berdiri dipihak Empu Purung meskipun ia tidak berani menentang sikapnya.
“Ia adalah menusia yang luar biasa. Ia dapat mengeringkan lautan dan menggugurkan gunung dengan jari telunjuknya” berkata Ki Buyut, “dan ia dapat membuat seseorang menjadi gila dan lumpuh tanpa menyentuhnya.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Bagi orang di padukuhan-padukuhan kecil yang terpisah, kelebihan yang mereka lihat pada Empu Purung telah cukup untuk membangkitkan dongeng-dongeng yang dapat mencengkam mereka kedalam pengaruhnya-
“Baiklah Ki Buyut” berkata Mahisa Bungalan, “aku akan berusaha untuk berbuat sesuatu yang akan dapat berarti bagi padukuhan ini.”
“Apa yang akan Ki Sanak lakukan?” ‘
Mahisa Bungalan masih ragu-ragu. Tetapi kemudian iapun berkata, “Aku akan memberikan dasar olah kanuragan pula kepada anak-anak muda yang tidak bersedia menempatkan dirinya dibawah pengaruh Empu Purung.”
“O” tiba-tiba saja Ki Buyut menggeleng, “jadi dengan demikian Ki Sanak akan mengadu anak-anak muda kami agar saling berkelahi di antara mereka? Jika mereka masing-masing memiliki ilmu kanuragan, maka kedua belah pihak akan mempunyai kekuatan untuk saling mempertahankan diri dan sikap. Yang akan terjadi kemudian adalah perkelahian yang tidak ada henti-hentinya dipadukuhan ini. Apakah dengan demikian ke adaan padukuhan ini akan bertambah baik?”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Ki Buyut. Imbangan kekuatan memang dapat menimbulkan bencana. Mungkin akan terjadi benturan kekuatan di antara mereka. Tetapi tanpa imbangan kekuatan, yang terjadi adalah penindasan semata-mata. Akan lebih baik jika kita dapat menilai sikap dan tingkah laku mereka yang mungkin akan dapat memiliki imbangan kekuatan. Jika mereka yang mengerti arti yang sebenarnya dari tugas kemanusiaan memiliki kekekuatan yang lebih besar, maka akan segera terjadi ketenangan di dalam padukuhan ini.”
“Tetapi jika sebaliknya? Maka dendam akan bertambah, dan kesulitanpun akan menjadi-jadi.”
“Selama kami berada disini, kami akan selalu mengawasi perkembangan keadaan. Kami akan berusaha sehingga kekuatan itu sedikitnya akan berimbang. Biarlah para prajurit yang jemu untuk sekedar duduk-duduk dan makan sambil bergurau itu mendapat tugas yang lebih menarik. Membimbing anak-anak muda itu untuk berlatih dalam olah kanuragan. Tentu para prajurit tidak akan kalah dari para cantrik di padepokan Empu Purung.”
“Tetapi ada satu dua orang anak muda yang langsung berada di bawah asuhan Empu Purung sendiri. Mereka tentu memiliki ilmu yang tidak terkalahkan. Bahkan mungkin berada di atas kemampuan prajurit-prajurit Singasari sendiri.” berkata Ki Buyut.
Tetapi Mahisa Bungalan menggeleng, Katanya, “Tidak Ki Buyut. Bahkan Empu Purung tidak akan dapat mengalahkan pemimpin kami yang bertugas disini. Jika Empu Purung merasa mampu mengalahkan, ia tentu sudah berbuat sesuatu. Karena pemimpin kami pun dapat mengeringkan lautan dan menggugurkan gunung, bukan saja dengan jarinya, tetapi hanya dengan tatapan matanya.”
Ki Buyut tampak ragu-ragu. Namun kemudian ia menarik nafas sambil berkata, “Terserah kepada kebijaksanaan Ki Sanak.”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Dengan susah payah ia sudah berhasil meyakinkan Ki Buyut, bahwa dengan memberikan imbangan kekuatan, maka anak-anak muda yang telah menyadap ilmu di padepokan Empu Purung, apakah dengan langsung atau lewat cantrik-cantriknya, akan terpaksa mempertimbangkan tingkah lakunya di padepokannya.
“Ki Buyut” berkata Mahisa Bungalan kemudian, “baiklah aku akan segera mulai. Pembicaraan ini dapat aku anggap sebagai ijin yang telah Ki Buyut berikan. Aku akan mengatur saat-saat yang paling tepat dan menghubungi orang-orang yang mungkin bersedia. Untuk itu, disaat-saat mendatang, mungkin aku akan sering bertemu dengan Ki Buyut.”
“Dan aku akan telibat dalam kesulitan dengan Empu Purung.” desis Ki Buyut.
“Dengan diam-diam seperti yang selalu aku lakukan. Tidak ada orang yang mengetahui bahwa Ki Buyut telah berhubungan dengan prajurit-prajurit Singasari.”
“Semuanya terserah kepada Ki Sanak. Tetapi aku mohon, bahwa yang akan terjadi adalah ketenangan dan ketenteraman. Bukan sebaliknya.”
Mahisa Bugalan mengangguk-angguk. Ia menyanggupi pesan itu. Katanya, “Aku akan berusaha sebaik-baiknya.”
Ternyata bahwa sikap Ki Buyut itu merupakan sikap kebanyakan tetua padukuhan yang dihubungi oleh prajurit-prajurit Singasari dibeberapa tempat. Pada umumnya mereka segan terlibat dalam kesulitan melawan kekuatan yang seakan-akan telah tersusun di daerah-daerah terpencil yang pengaruhnya sampai kepadukuhan-padukuhan mereka.
Di Alas Pandan Mahisa Bungalan mulai dengan usahanya untuk menghubungi anak-anak muda yang tidak terlibat dalam kegiatan Empu Purung. Apakah mereka dianggap kurang memenuhi syarat, atau dianggap terlampau malas dan lemah, atau dengan alasan apapun juga, namun yang ternyata kemudian telah tersisih dari kawan-kawannya yang ikut serta dalam latihan-latihan olah kanuragan.
“Ternyata jumlah mereka masih cukup” berkata Mahisa Bungalan.
“Tetapi sulit untuk memancing keberanian mereka.”
“Kita akan melindungi mereka dengan panji-panji kebesaran prajurit Singasari.” desis Mahisa Bungalan, “jika mereka menentang rencana kita, maka mereka akan berhadapan dengan prajurit Singasari. Sementara itu, usaha untuk menempa mereka dapat dilakukan dengan terbuka.”
“Kita sudah mulai menantang Empu Purung.” berkata salah seorang perwira.
“Aku kira Empu Purung tidak akan bertindak sendiri sebelum mendapat perintah dari Empu Baladatu.”
Para prajurit Singasari itupun sependapat, bahwa mereka akan melakukannya tanpa bersembunyi lagi. Mereka mempunyai perhitungan tersendiri tentang Empu Purung. Bahkan seandainya Empu Purung langsung betindak atas namanya sendiri, maka prajurit Singasari pun telah siap melawannya.
Di hari-hari berikutnya, maka prajurit Singasaripun mulai memasuki padukuhan-padukuhan kecil di daerah pengaruh Empu Purung, Meskipun demikian, mereka tidak dapat berbuat dengan tergesa-gesa karena kebanyakan anak-anak muda justru menjadi cemas melihat sikap mereka.
Dengan cara yang paling lunak, maka prajurit-prajurit Singasari itu pun mulai memperkenalkan diri kepada anak-anak muda yang menurut petunjuk Ki Buyut tidak termasuk anak-anak muda yang melibatkan diri dalam menyadapan ilmu di padepokan Empu Purung, meskipun Ki Buyut sendiri masih belum bersedia melawannya dendan terbuka, sehingga dengan demikian. maka hubungan dengan Ki Buyut masih tetap dilakukan dengan diam-diam.
Satu dua orang di antara mereka berhasil dihubungi. Mahisa Bungalan yang masuk ke padukuhan kecil itu, dapat ber temu dengan seorang anak muda yang bertubuh kurus dan lemah. Namun menurut penglihatan Mahisa Bungalan, tatapan mata anak itu membayangkan betapa kuat hatinya dan betapa teguh keyakinannya.
“Siapa namamu?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Padon” jawab anak muda itu.
“Kau tidak ikut dalam latihan-latihan di padepokan Empu Purung itu Padon?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Aku tidak ikut diminta. Mungkin karena aku sakit-sakitan saja selama ini “
“Dan kau menyesal?”
Padon termangu-mangu sejenak. Namun sambil tersenyum Mahisa Bungalan berkata, “Seharusnya kau mengucap sukur.”
“Tetapi aku mengalami banyak kesulitan dari kawan-kawanku itu. Mereka merampas air yang seharusnya mengairi sawahku. Mereka merampas padang rumput daerah penggembalaan ternakku dan masih banyak lagi yang dilakukan justru karena mereka sama sekali tidak takut mengalami akibat apa pun dari perbuatannya.”
“Dan kau terima nasib itu sampai dihari tuamu. Juga anak-anakmu dan cucu-cucumu?”
Padon mengerutkan keningnya. Pertanyaan itu se-olah-olah telah menggugah pertanyaan serupa di dalam hatinya yang paling dalam, “Ya, apakah demikian?”
“Pikirkan Padon. Nasib masa depanmu dan masa depan keluargamu akan selalu terancam.”
“Lalu apa yang, dapat aku kerjakan “
“Kau masih sakit-sakitan?”
“Ya. Aku memang sakit-sakitan.”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Anak-anak yang tidak ikut serta berlatih ilmu kanuragan di padepokan Empu Purung adalah anak-anak muda yang sakit-sakitan atau yang dianggap pengecut.
“Kau sudah berusaha mengobati sakitmu?”
Padon menggeleng. Jawabnya, “Tidak ada gunanya. Aku. selalu merasa tidak berdaya.”
“Kau kekurangan bukan saja makanan bagi jasmanimu, tetapi juga rohanimu. Seseorang, dapat terasa dirinya sakit meskipun ia sehat.”
“Tetapi aku benar-benar sakit.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Seandainya kau sehat, apakah kau juga akan ikut serta pergi kepadepokan Empu Purung?”
Pertanyaan itu telah membingungkannya.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar