*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 33-02*
Karya. : SH Mintardja
“Kau tidak usah menyembunyikan sesuatu. Katakan. Aku tidak berkeberatan atas kedua jenis jawaban yang mungkin kau berikan. Ya, atau tidak. Aku tidak berkepentingan apakah kau ingin berada di dalam lingkungan mereka atau tidak.”
Padon masih tetap termangu-mangu. Bahkan iapun pernah mendengar bahwa salah seorang kawannya yang berada didalam lingkungan, padepokan Empu Purung, bahkan termasuk seorang anak muda pilihan, telah berkelahi melawan seorang prajurit Singasari.
“Katakanlah sikapmu sendiri Padon” desak Mahisa Bungalan.
Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya dengan jujur, “Memang semula ada keinginanku untuk ikut serta bersama kawan-kawanku pergi kepadepokan itu di hari-hari tertentu. Dua atau tiga kali setiap pekan untuk mendapakan latihan-latihan olah kanuragan. Namun tenagaku ternyata tidak memungkinkan. Ketika seorang cantrik padepokan itu memilih anak-anak yang, dianggapnya cukup kuat, aku telah disisihkannya.” ia berhenti sejenak, lalu, “namun kemudan ternyata aku merasa berterima kasih bahwa aku telah dibebaskan dari kuwajiban tersebut.”
“Kenapa?”
“Ternyata mereka yang telah mendapat bimbingan dari padepokan itu merasa dirinya dapat berbuat apa saja terhadap orang lain “
“Agaknya tidak. Apalagi jika aku merasa diriku telah tersentuh akibat dari sikap itu. Meskipun demikian aku dan beberapa orang kawan tidak dapat berbuat apa-apa.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak langsung menyatakan maksudnya bahwa ia bersedia untuk memberikan imbangan atas sikap anak-anak muda yang, telah berada didalam lingkungan Empu Purung itu.
Namun dalam pada itu, kunjungan prajurit Singasari pada anak-anak muda di luar lingkungan Padepokan Empu Purung telah menumbuhkan kecurigaan mereka. Meskipun mereka belum melihat sesuatu tindakan yang dapat mengancam kedudukan mereka, namun agaknya mereka merasa perlu untuk mengambil sikap.
Karena itulah, maka beberapa orang diantara mereka telah mendatangi Padon dengan sikap yang kasar.
“Apa yang kau lakukan Padon? Apakah kau sedang merajuk?” bertanya salah seorang dari mereka. ;
“Aku tidak tahu maksudmu” sahut Padon.
“Kau telah melaporkan kepada prajurit-prajurit Singasari itu bahwa kami sering mengganggumu. Begitu?”
“Aku tidak mengatakan apapun kepada mereka. Mereka datang untuk memperkenalkan diri. Dan aku menerima ke datangannya. Apakah itu salah?“
“Jika sekedar seperti yang kau katakan, kau tidak salah. Mungkin prajurit-prajurit itu sedang membujuk agar kau memberikan buah jambu kelutuk dipategalanmu kepada mereka. Atau satu dua orang prajurit itu jatuh cinta kepada adikmu.Tetapi jika kemudian ternyata bahwa prajurit-prajurit itu mengambil sikap lain, akupun akan menentukan apa yang, akan kami lakukan terhadapmu.”
Padon tidak menjawab. Tetapi ia mulai ragu-ragu. Ia tidak akan dapat menentang sikap anak-anak muda itu.
Namun selagi Padon dicengkam oleh kebimbangan, tiba tiba saja Mahisa Bungalan telah datang pula ke rumahnya.
Wajah Padon menjadi merah. Kedatangan Mahisa Bunga lan justru pada saat anak-anak muda itu berada di rumahnya, akan dapat menimbulkan persoalan yang gawat bagi dirinya.
Ternyata seperti yang diduganya, justru Mahisa Bungalan lah yang telah memulainya, “Nah anak-anak Empu Purung. Apakah, kalian telah mencurigai Padon dan mengancamnya?”
Anak-anak muda itu terkejut mendengar pertanyaan Mahisa Bungalan yang berterus terang itu.
Salah seorang dari mereka menjadi panas dan menjawab dengan berterus terang pula, “Ya, Kami mencurigai Padon. Mungkin ia telah memfitnah kami dan memberikan keterangan yang salah terhadap kalian.”
Mahisa Bungalan tertawa. Katanya, “Padon tidak pernah memberikan keterangan apa-apa kepadaku. Justru pengetahuanku tentang kalian sudah jauh lebih banyak dari Padon Aku pernah melayani salah seorang dari kalian berkelahi. Dan itu dapat aku jadikan ukuran tingkah laku kalian.” Mahisa Bungalan berhenti sejenak, lalu, “sekarang, justru akulah yang akan mengancam. Jika terjadi sesuatu atas Padon, siapa pun yang melakukan, aku akan minta pertanggungan jawab kalian. Aku adalah prajurit Singasari yang mempunyai limpahan kekuasaan. Aku dapat bertindak dengan kekuatan yang ada. Jika perlu, aku dapat memanggil pasukan segelar sepapan.”
Anak-anak muda yang berada dalam pengaruh Empu Purung itu termangu-mangu Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa menghadapi Mahisa Bungalan
Karena itulah, maka mereka pun kemudian meninggalkan rumah Padon dengan hati yang bergetar menahan kemarahan
“Empu Purung terlalu lama menunggu” geram salah seorang dari mereka.
“Kita harus melaporkannya kepada Empu Purung.” sahut yang lain lagi.
Demikianlah anak-anak muda itu telah bersepakat untuk menyampaikan sikap Mahisa Bungalan kepada para cantrik dan jika perlu akan mereka sampaikan kepada Empu Purung sendiri.”
Dalam pada itu, selagi anak-anak muda yang tidak termasuk anak buah Empu Purung itu semakin erat berkenalan dengan Mahisa Bungalan, maka Empu Purung menjadi semakin gelisah menghadapi perkembangan keadaan. Sementara itu, anak buahnya sudah hampir tidak dapat dikendalikan lagi.
Dalam kegelisahan itu, Empu Purung mencoba untuk men cari hubungan dengan Empu Baladatu. Apakah persiapannya dipadepokan-padepokan terpencil sudah cukup kuat sehingga saatnya sudah dekat untuk berbuat sesuatu, mengguncang kekuasaan Ranggawuni dan Mihasa Cempaka.
Sementara Empu Purung menunggu, maka di Mahibit Linggapati tidak tinggal diam menghadapi perkembangan keadaan. Ia sudah melihat dua kekuatan yang seakan-akan sudah saling berhadapan. Karena itulah, maka ia pun memperluas jaring-jaringnya. Berbeda dengan Empu Baladatu yang mencari kekuatan kepada kawan-kawannya yang berada di padepokan-padepokan dan menyelenggarakan perguruan ilmu kanuragan, maka Linggapati masih saja sibuk dengan para Akuwu dan pemimpin pemerintahan yang lain. Ia merasa kuat dengan dukungan para kesatria dan para pemimpin di daerah para Akuwu. Dengan demikian, maka pengawal dan prajurit dari daerah seorang Akuwu yang berada dibawah pengaruhnya, akan merupakan kekuatan yang tidak kalah besarnya dari kekuatan para cantrik dipadepokan-padepokan.
Untuk mengikat para Akuwu menghormati wibawanya, Linggapati telah bekerja bersama dengan beberapa orang Senapati yang tersingkir pada masa kekuasaan Tohjaya runtuh. Para Senapati yang sekedar dicengkam oleh perasaan dendam dan kebencian karena mereka telah kehilangan kedudukan dan jabatan mereka.
Dengan licik Linggapati berhasil memikat hati para Akuwu di sekitar Kota Raja, sehingga seakan-akan kota raja Singasari telah terkepung meskipun masih belum nampak sama sekali, karena para Akuwu dan kekuatannya masih berusaha untuk menahan diri seperti juga para pemimpin padepokan
Namun di luar sadarnya, semua tingkah laku para Akuwu itu mendapat pengamatan yang saksama dari para petugas sandi dari Singasari. Meskipun demikian Singasari masih tetap menganggap bahwa saatnya masih harus ditunggu untuk bertindak.
Tetapi dalam pada itu, para akuwu mulai tertarik melihat kegiatan padepokan-padepokan yang harus mereka awasi. Padepokan-padepokan itu seakan-akan telah menghisap setiap laki-laki. bukan saja anak-anak muda untuk memberikan latihan-latihan kanuragan. Sementara prajurit-prajurit Singasari telah siap pula diberbagai tempat untuk mengawasi mereka.
“Bagaimanapun juga, perkembangan kekuatan mereka mencemaskan” para Akuwu mulai membicarakannya dengan para pemimpin pemerintahan yang lain.
“Serahkan mereka kepada prajurit Singasari. Biarlah kekuatan mereka dibenturkan kepada kekuatan Singasari. Kita akan menemukan reruntuhan di atas tebaran mayat di segala penjuru. Dan kita akan bangkit dan berdiri diatas bangkai bangkai itu.”
Para Akuwu yang mulai ragu-ragu mencoba menghibur diri, bahwa mereka masih mempunyai cukup kekuatan. Bahwa prajurit mereka masih tetap patuh dan siap berbuat apa saja.
Demkianlah, maka kekuatan yang ada di Singasari itupun telah saling mengintai. Masing-masing dalam jalurnya yang menjelujur sampai ke daerah-daerah terpencil.
Laporan tentang hal itu agaknya telah menarik perhatian Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, sehingga ia memerlukan mengadakan pembicaraan khusus dengan Mahisa Agni.
“Paman” berkata Ranggawuni, “perkembangan keadaan itu telah mencemaskan sekali. Bukan karena aku tidak percaya akan kemampuan prajurit Singasari, tetapi dengan mengutamakan kekuatan senjata, maka penyelesaian yang demi kian akan menghisap kurban yang tidak terhitung jumlahnya“
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Jawabnya, “Sebenarnyalah demikian tuanku. Sebenarnyalah mencemaskan “
“Jadi menurut paman, apakah yang sebaiknya aku lakukan untuk.mengatasi persoalan ini? Aku tahu bahwa Singasari telah siap dengan prajurit-prajuritnya di daerah-daerah terpencil yang akan sanggup menghadapi Empu Baladatu maupun Linggapati yang berhasil mempengaruhi beberapa orang, pemimpin pemerintahan di daerah para Akuwu. Tetapi apakah hal itu merupakan penyelesaian yang paling bijaksana? Bahkan seandainya kita dapat menumpas mereka sampai orang terakhir?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
“Paman” tiba-tiba Ranggawuni berdesis, “Aku ingin melihat sendiri, apakah yang telah tumbuh di beberapa tempat itu benar-benar merupakan bahaya bagi Singasari.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Ia tidak berkeberatan atas rencana kedua anak muda yang sedang memimpin pemerintahan Singasari. Namun dengan demikian, maka perjalanan ke duanya akan memerlukan perlindungan khusus.
Seperti yang diduga oleh Mahisa Agni, maka keduanya tidak ingin mengadakan perjalanan resmi sebagai seorang Maharaja dengan pengawal pasukan segelar sepapan. Tetapi keduanya lebih senang menempuh perjalanan yang tidak diketahui oleh siapapun juga kecuali orang-orang terpenting dan terpercaya.
Setelah dipertimbangkan dan diperhitungkan dengan masak, maka mulailah kedua orang itu dengan perjalanannya. Tetapi mereka tidak hanya berdua. Mahisa Agni dan Witantra pergi bersama mereka, sementara Mahendra telah pula di panggil untuk merambas jalan.
“Kau bukan seorang prajurit” berkata Mahisa Agni, “dan kau adalah seorang pedagang yang pernah menjelajahi tempat-tempat yang jauh. Karena itu, kau diharap untuk mendahului setiap perjalanan kami.”
Mahendra tersenyum. Jawabnya” Bagaimana cara yang harus aku lakukan dalam tugas ini “
“Kita akan menentukan tujuan pertama, Kau sudah harus datang ketempat itu. Baru kemudian kami menyusul. Di tempat itu, kita akan merundingkan kemana kau harus pergi lagi mendahului perjalanan kami. Dengan demikian maka kita akan menempuh perjalanan yang mungkin panjang.”
“Baiklah. Jika tugas itu memang dibebankan kepadaku.”
Tetapi Mahendra tidak ingin pergi seorang diri. Agar ia tidak kesepian diperjalanan, maka kedua anaknya yang muda telah dipanggilnya untuk menyertai perjalanannya.
“Yang pertama adalah tempat kedudukan Mahisa Bungalan” berkata Mahendra, “aku sudah lama tidak bertemu dengan anakku itu.”
“Baiklah” jawab Mahisa Agni, “kami tidak berkeberatan. Kami dapat mulai dengan tempat yang manapun juga. Tetapi tidak Mahibit dan padepokan Empu Baladatu sendiri.”
Demikianlah, maka sasaran yang pertama kali akan dilihat oleh Ranggawuni dan Mahesa Cempaka adalah daerah yang berada di bawah pengaruh Empu Purung di daerah Alas Pandan.
Kedatangan Mahendra bersama kedua anaknya di daerah kecil itu tidak menarik perhatian, karena mereka datang sebagai pedagang. Dengan kebiasaannya, Mahendra berhasil meyakinkan orang-orang di daerah terpencil itu, bahwa ia memang seorang pedagang keliling. Bahkan Mahendra pun benar-benar telah memanfaatkan perjalanannya dalam kemungkinan memperluas daerah perdagangannya pula.
“Kami adalah orang-orang yang mengkhususkan diri dalam perdagangan pusaka, wesi aji dan batu-batu bertuah” berkata Mehendra kepada orang-orang yang dijumpainya dipadukuhan yang berada di bawah pengaruh padepokan Empu Purung itu.
Memang tidak banyak orang yang menaruh perhatian terhadap barang-barang yang diperdagangkan oleh Mahendra. Apalagi di daerah yang tidak begitu besar seperti daerah Alas Pandan. Namun demikian ada juga satu dua orang yang, tertarik kepadanya.
Atas ijin Ki Buyut Mahendra telah bermalam di banjar padukuhan. Kepada satu dua orang yang datang menjumpainya, Mahendra telah menunjukkan beberapa jenis keris dan patrem, tuweg dan luwuk. Tetapi selain jenis-jenis pusaka, juga beberapa jenis batu bertuah. Akik berbagai jenis dan warna. Bukan saja batu-batu akik yang mempunyai tuah tertentu, tetapi juga batu-batu yang menarik warna dan bentuknya.
Bahkan agaknya Ki Buyut pun telah tertarik pula setelah ia mendengar dari orang-orang yang telah melihat kumpulan barang yang dibawa oleh Mahendra itu.
“Kami bersedia membeli dan menjual” berkata Mahendra, “karena itu, jika Ki Buyut memerlukan, silahkan. Tetapi jika ada barang-barang Ki Buyut dan penghuni padukuhan ini yang tidak memerlukan lagi, kami sanggup membelinya.”
Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya, “kami senang sekali melihat barang-barang ini. Tentu saja kami ingin memiliki barang satu dua. Tetapi kami adalah orang-orang miskin.”
“Ah” Mahendra tertawa, “barang-barang kami bukanya barang-barang yang mahal.”
“Sayang sekali” desis Ki Buyut.
“Tidak apa Ki Buyut. Kami sudah berterima kasih bahwa kami boleh tinggal di banjar ini barang satu dua hari Kami memang sedang menunggu kawan-kawan pedagang yang berkeliling seperti kami bertiga. Jika Ki Buyut tidak berkeberatan, apabila mereka tidak ingkar janji, biarlah mereka tinggal di sini bersama kami barang satu dua malam.”
Ki Buyut menggeleng. Katanya, “Tentu tidak Ki Sanak. Asal mereka datang dengan maksud baik, kami tentu tidak akan berkeberatan.”
Mahendra tersenyum. Jawabnya, “Tentu kami tidak akan berani berbuat jahat disini. Bukankah di sini banyak anak-anak muda yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam olah kanuragan? Apalagi di sini juga banyak terdapat prajurit-prajurit Singasari?”
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Meskipun kepalanya terangguk-angguk namun agaknya ada sesuatu yang memberati perasa annya.
“Justru karena itu Ki Sanak” tiba-tiba saja Ki Buyut berdesis.
“Kenapa Ki Buyut?” bertanya Mahendra.
Ki Buyut termangu sejenak. Namun kemudian katanya dengan nada yang dalam, “Kehadiran kekuatan-kekuatan di daerah ini telah membuat aku menjadi bersedih. Anak-anak muda itu telah mendapat tuntutan langsung dari Empu Purung sendiri. Bahkan satu dua yang dianggapnya terkuat telah mendapat tuntunan langsung dari Empu Purung sendiri. Sementara itu hadir kekuatan lain di daerah ini. Prajuriti Singasari yang menularkan kemampuannya kepada anak-anak muda yang lain.”
Mahendra mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti, kenapa Ki Buyut itu nampak murung. Dengan hadirnya dua kekuatan yang berlawanan itu, maka padukuhan itu terasa seolah-olah sedang dipanggang dalam api ketegangan.
“Ki Buyut” bertanya Mahendra kemudian, “apakah dengan hadirnya kekuatan-kekuatan itu telah pernah terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki?”
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Yang kecil-kecil sudah sering terjadi. Bahkan mereka saling mengancam dan mendendam. Apakah dengan demikian hati orang tua ini tidak selalu cemas dan berdebar-debar. Seakan-akan padukuhan ini telah basah oleh minyak. Setiap saat api yang kecil sekalipun akan dapat mengobarkan api yang dapat membakar kami semuanya menjadi abu “
Mahendra termangu-mangu. Lalu katanya, “Ki Buyut. Manakah yang lebih baik. Kekuatan itu hanya ada disatu pihak, atau berada dikedua belah pihak yang dapat memberikan imbangan bagi kekuatan yang pertama.?”
Ki Buyut memandang Mahendra sejenak. Lalu katanya, “Bagiku Ki Sanak. Lebih baik padukuhan ini tidak dijamah oleh kekasaran olah kanuragan seperti itu dipihak manapun juga. Kenapa kita harus mempergunakan dan menyiapkan kekuatan jasmaniah? Bukankah kita dianugerahi oleh Yang Maha Agung, kemampuan rasa dan pikir yang dapat kita pergunakan untuk menyusun masyarakat yang lebih baik daripada selalu dibayangi oleh dendam dan kebencian? Bukankah setiap persoalan akan dapat kita bicarakan, kita timbang buruk dan baiknya. Kemudian kita terapkan dalam susunan kehidupan yang sesuai dengan keadaan padukuhan ini.?”
Mahendra menarik nafas panjang. Ia dapat mengerti sepenuhnya, betapa jernihnya pendapat Ki Buyut yang tua itu. Dengan sedih ia harus menyaksikan anak-anak padukuhannya saling bermusuhan
“Ki Sanak” berkata Ki Buyut itu pula, “memang mungkin kita saling berbeda sikap dan pendirian. Tetapi kita bukannya titah yang tidak mempunyai nalar budi. Kita dapat berbicara menimbang buruk dan baik. Jika kita mengatakan buruk dan baik, maka itu adalah buruk dan baik bagi kita semuanya. Bukan sekedar buruk dan baik bagi seseorang, satu pihak atau sekelompok orang-orang tertentu. Tetapi baik bagi kita semua.”
Mahendra mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia bertanya, “Bagaimanakah jika tidak diketemukan suatu kesepakatan tentang yang baik dan buruk itu Ki Buyut?”
Ki Buyut mengerutkan keningnya. Sejenak ia memandang Mahendra dengan ragu-ragu. Namun kemudian dengan ragu-ragu pula ia bertanya “Bukankah Ki Sanak seorang pedagang?”
“Ya. Aku seorang pedagang.”
“Ki Sanak tentu sudah beribu kali mengalami, bahwa yang terbaik dalam suatu sentuhan antara manusia adalah suatu persetujuan. Ki Sanak mempunyai barang atau ingin membeli sesuatu dari orang lain. Yang terjadi adalah penawaran dan permintaan. Jika saling bertemu antara dua kepentingan, maka jual beli itupun terjadi. Jika tidak, maka terjadilah persetujuan lain. Jual beli itu dibatalkan. Nah, bukankah tidak terjadi kekerasan? Jika salah satu pihak memaksakan kehendaknya, maka yang terjadi adalah benturan kekuatan.”
Mahendra mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ki Buyut benar. Yang terjadi adalah suatu persetujuan. Tetapi Ki Buyut, pada suatu saat, persetujuan yang demikian tidak terjadi. Dan pada umumnya memang tidak disebut sebagai jual beli. Tetapi terjadi adalah perampasan oleh suatu kekuatan.”
“Itu menunjukkan tinggi rendah martabat kita sebagai manusia Ki Sanak. Jika harus terjadi demikian atas kita, maka kita memang tidak dapat berbuat apa-apa, seperti seekor rusa yang berhadapan dengan seekor harimau yang garang. Kita berhadapan, bahkan berdoa, agar kita dapat mempertahankan, bahkan meningkat martabat kita sebagai manusia yang berakal dan berbudi.”
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat sikap yang damai memancar dari sikap dan kata-kata Ki Buyut. Tetapi, pada suatu saat, betapa hatinya hancur oleh kenyataan, bahwa manusia yang diharapkannya itu tidak terdapat didalam padukuhannya. Yang ada adalah benturan kekuatan dan kekerasan, sehingga di antara penghuni padukuhannya, seakan-akan tidak ada lagi kebijaksanaan. Tidak ada lagi keluruhan hati untuk saling memberi dan menerima.
Tetapi Mahendra. tidak bertanya Lebih banyak lagi. Ia sadar bahwa demikian hati Ki Buyut tentu akan menjadi semakin pahit melihat kenyataan yang dihadapinya.
Namun di luar dugaan, maka tiba-tiba saja Ki Buyut itupun berkata, “Ki Sanak. Tetapi sikap yang telah menodai martabat manusia itu masih saja terjadi disini. Di padukuhan ini. Mudah-mudahan tidak terjadi pada saat Ki Sanak ada di sini.”
Mahendra menjadi berdebar-debar. Tetapi ia menyembunyikan perasaan itu dibalik senyumnya.
Ki Buyut pun kemudian menyadari bahwa pembicaraan tentang hal itu tidak terlalu menarik. Karena itu maka iapun kemudian, kembali pada niatnya. Melihat-lihat yang dibawa oleh Mahendra dan mendengar penjelasannya tentang berbagai macam barang, wesi aji dan batu-batu bertuah lainnya.
“Ki Sanak” berkata Ki Buyut kemudian, “barang-barangmu memang sangat menarik. Mudah-mudahan Ki Sanak mendapatkan rejeki cukup dengan cara yang Ki Sanak lakukan sekarang, “
“Terima kasih Ki Buyut. Dan terima kasih atas kesempatan yang Ki Buyut berikan kepadaku untuk tinggal di Banjar dan kawan-kawanku yang masih akan datang besok atau lusa.”
“Tetapi Ki Sanak. Yang dapat aku berikan adalah sekedar tempat. Selain tempat aku tidak dapat berikan.”
“Cukup Ki Buyut. Sudah terlalu cukup. Di sini banyak kesempatan bagi kami mendapatkan makan dan minum.”
“O” Ki Buyut cepat-cepat memotong, “maksudku bukan tentang makan dan minum. Kamipun mempunyai kelebihan sekedar untuk menjamu Ki Sanak sekarang dan kawan-kawan Ki Sanak yang bakal datang” Ki Buyut berhenti sejenak, lalu, “yang aku maksud adalah, bahwa kami tidak dapat melindungi Ki Sanak jika terjadi sesuatu karena kami di sini masih belum dapat jangankan mengembangkan, bahkan, sekedar mempertahankan martabat manusia yang ada.”
Mahendra menarik nafas. Namun katanya, “Daerah ini cukup tenang, Ki Buyut. Aku harap, tidak akan terjadi sesuatu disini.”
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Sesuatu nampak memberati wajahnya. Namun iapun kemudian minta diri sambil berkata, “Aku akan kembali Ki Sanak. Batu-batumu sangat menarik perhatian. Aku ingin memiliki barang satu atau dua butir “
“Silahkan Ki Buyut. Aku akan sangat berterima kasih.”
Sepeninggal Ki Buyut, Mahisa Pukat dan Mahisa Murti berbisik ditelinga ayahnya, seakan-akan masih ada orang yang ada di sekitarnya, “Apakah itu berarti bahwa keadaan dipadukuhan ini gawat?”
Mahendra menarik nafas. Jawabnya, “Mungkin. Dan Ki Buyut menjadi sangat bersedih atas peristiwa itu. Sikap damai Ki Buyut seharusnya dapat memancarkan ketenangan di padukuhannya. Namun pengaruh dari luar padukuhan, dalam hal ini hadirnya para cantrik padepokan Empu Purung telah menumbuhkan ketegangan.”
“Juga prajurit-prajurit Singasari menurut penilaian Ki Buyut” desis Mahisa Pukat.
Mahendra mengangguk-angguk. Katanya, “Aku dapat mengerti perasaan Ki Buyut. Tetapi sudah tentu bahwa kita tidak akan dapat membiarkan tindakan sewenang-wenang terjadi tanpa hambatan apapun juga.”
“Agaknya Ki Buyut pun dengan hati yang berat telah memperingatkan kita” gumam Mahisa Murti.
Mahendra mengangguk-angguk. Nampaknya Ki Buyut memang menjadi cemas, bahwa orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan mengetahui bahwa Mahendra membawa berbagai macam pusaka dan batu yang berharga, akan melakukan tindakan yang tidak sewajarnya.
“Mudah-mudahan mereka tidak melakukannya” desis Mahendra, “sebab dengan demikian tentu akan timbul benturan kekerasan. Kami tidak akan menyerahkan barang-barang kami sehingga kami harus mempertaruhkannya. Jika keributan itu di dengar oleh prajurit-prajurit Singasari, maka akan terjadi perkelahian yang semakin luas sehingga Ki Buyut pun akan menjadi semakin sedih karenanya.”
Mahisa Pukat dan Mahisa Murti mengangguk-angguk. Dan Mahendra pun berkata selanjutnya, “Karenanya itu jangan berbuat sesuatu yang dapat menarik perhatian mereka. Yang sudah terlanjur diketahui oleh banyak orang, biarlah diketahui Mudah-mudahan tidak menimbulkan rangsang buruk bagi anak-anak muda yang berada di bawah pengaruh Empu Purung itu.”
Karena itulah, maka Mahisa Pukat dan Mahisa Murti telah berusaha mengekang diri sendiri. Betapa inginnya ia berkeliaran sampai ke tempat para prajurit Singasari, menjumpai kakaknya Mahisa Bungalan dengan segera, namun ayahnyalah yang mencegahnya.
“Apakah kita tidak akan menjumpai mereka?” bertanya Mahisa Pukat.
“Biarlah kakakmu datang kemari.”
“Apakah ia mengetahui bahwa kita datang? Ayah tidak menyebut nama ayah yang sebenarnya kepada siapapun juga disini.”
“Tetapi kehadiran seorang pedagang wesi aji dan batu-batu bertuah tentu akan menarik perhatiannya, karena ayahnya juga seorang pedagang barang-barang tersebut.”
Mahisa Pukat dan Mahisa Murti mengangguk-angguk. Mereka mengerti maksud ayahnya. Dan merekapun memperhitungkan seperti perhitungan ayahnya itu pula.
Ternyata bahwa dugaan Mahendra tidak salah. Mahisa Bungalan yang juga mendengar berita tentang kedatangan saudagar wesi aji dan batu-batu bertuah, menjadi sangat tertarik.
“Kau percaya bahwa pusaka-pusaka yang dijual oleh penjual pusaka itu benar-benar bertuah?” bertanya seorang kawannya ketika Mahisa Bungalan minta diri untuk menemui saudagar itu.”
“Aku baru akan melihat.”
“Kau akan ditipunya. Pedagang-pedagang seperti orang itu sangat pandai membujuk dan kemudian memaksamu membayar barang-barang yang dibawanya dengan harga yang tinggi.”
Mahisa Bungalan menarik nafas. Ayahnya juga seorang pedagang wesi aji dan batu-batu bertuah.
Tetapi ia harus membiarkannya kawannya itu berbicara terus, meskipun hatinya menjadi agak jengkel karenanya.
“Jika kau tidak percaya, pergilah. Orang itu akan menunjukkan sebilah keris yang sudah agak lama direndamnya dalam air, dan mengotorinya dengan warangan. Ia akan menyebut kerisnya dengan berbagai macam nama dan berbagai macam jenis pamor.” berkata kawan Mahisa Bungalan itu.
Namun akhirnya Mahisa Bungalan menjawab, “Kau sangka aku tidak mengetahui serba sedikit tentang wesi aji? Tidak seorangpun dapat menipu aku. Jika benar-benar pedagang itu penipu, maka ia tidak akan lebih pandai daripadaku mengenali wesi aji dan batu-batu bertuah.”
Kawan Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Jika kau akan pergi juga, pergilah. Tetapi hati-hatilah.”
Akhirnya Mahisa Bungalan pun pergi ke banjar padukuhan. Ia ingin melihat, siapakah orang yang menyebut dirinya pedagang batu bertuah dan wesi aji itu.
Belum lagi ia naik kependapa banjar, ia sudah melihat dua orang anak muda yang siap berlari menyongsongnya. Tetapi ayahnya telah menggamitnya dan memberinya isyarat agar keduanya tetap duduk di tempatnya.
“Hem” gumam Mahisa Bungalan hatinya, “benar-benar ayah “
Dengan hati yang berdebar-debar Mahisa Bungalan naik ke pendapa. Kemudian iapun duduk di atas tikar dihadapan Mahendra sambil tersenyum. Katanya, “Agaknya benar-benar ayah yang datang kemari bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.”
“Ya” desis Mahendra, “aku mendapat tugas khusus dari Tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka.”
“Tugas penting?”
“Aku harus merambas jalan. Keduanya akan datang dalam satu hari ini.”
“Dengan tanda kebesaran kerajaan Singasari?” Mahendra menggeleng., “Tidak. Ia datang dalam penyamaran “
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sambil bergumam ia memandang kehalaman, “Berbahaya. Dengan siapa keduanya akan datang?”
“Pamanmu Mahisa Agni dan Witantra.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya, “Apakah prajurit Singasari di daerah ini harus dipersiapkan menghada pi segala kemungkinan yang dapat terjadi?”
“Tidak. Itu tidak perlu Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu “
Mahisa Bungalan termenung sejenak. Namun kemudian iapun bergumam, “Mudah-mudahan. Tetapi daerah ini sekarang menjadi daerah yang cukup gawat.”
Mahendra mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti. Tetapi tidak selalu terjadi sesuatu. Mudah-mudahan kali ini tidak ter jadi.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk- Katanya, “Mudahaan. Tetapi jika terjadi sesuatu. prajurit-prajurit ini dapat disiapkan dalam waktu yang singkat.”
“Sebenarnya sudah lama aku ingin mengunjungi kakang” berkata Mahisa Murti, “tetapi ayah tidak memperbolehkan.”
Mahisa Bungalan tersenyum. Katanya, “Ayah tahu, bahwa aku tentu akan datang “
“Dan kakang benar-benar datang” sahut Mahisa Pukat.
“Tetapi kawanku mencegahku” berkata Mahisa Bungalan pula
“Kenapa?”
Mahisa Bungalan tersenyum. Dengan singkat dikatakannya pendapat kawannya tentang seorang pedagang wesi aji dan batu-batu bertuah.
Mahendra tertawa pula berkepanjangan. Katanya, “Memang ada seseorang yang berbuat seperti itu. Tetapi aku kira aku berusaha menghindarinya, sehingga karena itu, orang-orang yang sudah pernah berhubungan dengan aku dapat mengerti, bahwa daganganku adalah barang-barang yang baik.”
Sementara itu, maka Mahisa Bungalan pun kemudian memberikan gambaran tentang keadaan di padukuhan itu. Orang-orang yang sudah jatuh kedalam pengaruh Empu Purung, yang menurut perhitungan Mahisa Bungalan berada di bawah pengaruh Empu Baladatu.”
“Aku akan berhati-hati” berkata Mahendra, “bersama Mahisa Agni dan kakang Witantra mudah-mudahan tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka tidak mengalami sesuatu.”
Demikianlah Mahisa Bungalan tidak terlalu lama berada di banjar. Ia pun kemudian kembali ke barak sambil membawa sebutir batu berwarna hijau bening. Tetapi seakan-akan batu itu merupakan sebuah lautan yang maha kecil, dengan taman laut didalamnya. Lumut yang menjalar berbelit-belit diantara warna-warna batu karang.
Demikian ia memasuki baraknya, kawannya yang sejak semula mencegahnya bertanya, “Apa yang kau dapatkan dari pedagang itu?”
“Batu Sangga Bumi? Apakah tuahnya seperti aji Sangga Bumi? :”
“Tidak ada tuahnya. Pedagang itu mengatakan, bahwa tidak ada tuahnya sama sekali.”
“Jadi apa?”
“Warnanya yang bagus sekali. Seperti dasar lautan dengan taman lautnya yang indah “
Kawannya mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Pedagang itu tidak menipumu?”
“Pedagang yang satu ini tidak. Ia berkata sebenarnya, juga tentang batu akik Sangga Bumi. Tidak ada tuah dan kasiatnya. Tetapi rupanya sangat menarik “
Kawan Mahisa Bungalan itu termangu-mangu sejenak. SeoIah-olah ia tidak percaya, bahwa pedagang batu itu mengatakan dengan jujur bahwa batu akiknya yang dinamainya Sanggabumi itu tidak bertuah.
Sebelum ia mengatakan sesuatu, Mahisa Bungalan telah menunjukkan batu akik yang semula disimpannya pada kantong ikat pinggangnya.
“Inilah batu itu.”
Kawannya menerima batu itu. Ketika ia menerawang isi nya, maka dengan kagum ia bergumam, “Benar-benar batu akik yang bagus sekali. Meskipun batu ini tidak bertuah, tetapi harganya tentu mahal sekali.”
“Ya. Mahal sekali” sahut Mahisa Bungalan.
“Berapa kau beli batu akik ini?” bertanya kawannya.
“Timang emasku.”
“He” kawannya terbelalak, “jadi batu ini kau tukar dengan timang emasmu?”
“Ya “
“Gila. Betapapun mahalnya, tetapi batu ini tentu tidak bernilai sebesar timang emas. Bahkan sepersepuluh pun tidak”
“Kau memang bodoh sekali” sahut Mahisa Bungalan, “akik ini diambil dari pemiliknya dengan nilai seekor kuda jantan berwarna putih mulus “
“O” orang itu memegang dahinya, “apa kataku, kau sudah ditipunya. Ia memang mengatakan dengan jujur, bahwa batu akik ini tidak bertuah. Tetapi ia telah menipumu dari segi yang lain jika dikatakannya bahwa batu ini senilai seekor kuda jantan berwarna putih mulus.”
“He?” wajah Mahisa Bungalan. jadi tegang, “apakah nilai batu ini tidak sebesar itu?”
“Tentu tidak.”
“O” Mahisa Bungalan pun memegang, dahinya pula seperti kawannya, “aku sudah ditipunya.”
Namun kemudian ia berkata, “Tetapi aku tidak menyesal. Aku senang sekali kepada batu akik ini. Dan aku sudah jemu kepada timang emasku “
Kawannya mengerutkan keningnya. Kemudian iapun bergumam kepada diri sendiri, “Kau memang bodoh. Lain kali aku akan ikut pergi bersamamu. Aku akan membuktikan bahwa aku akan mendapatkan batu akik yang jauh lebih bagus dari batu akikmu dengan harga yang jauh lebih murah dari pendok emasmu.”
“Tidak ada batu yang lebih bagus dari batu akikku.” sahut Mahisa Bungalan
Kawannya tidak menjawab lagi. Sambil menyerahkan batu akik itu kembali, maka iapun berkata, “Aku akan membuktikannya, bahwa aku lebih pandai daripadamu “
Mahisa Bungalan tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab lagi.
Namun yang menjadi pikiran Mahisa Bungalan kemudian adalah rencana kehadiran Ranggawuni dan Mahisa Cempaka untuk melihat dari dekat keadaan beberapa daerah Singasari yang sedang dibakar oleh api ketamakan Empu Baladatu.
“Aku harus mengatakannya kepada pimpinan prajurit Singasari di tempat ini” berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya. Meskipun ia harus berpesan bahwa hal itu masih harus dirahasiakan. Prajurit-prajurit Singasari yang ada ditempat itu pun sebaiknya tidak mengetahuinya pula.
Ternyata pemimpin prajurit Singasari itu terkejut ketika ia mendengar keterangan Mahisa Bungalan itu. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Dari siapakah kau mendengar berita itu?
“Ayah Mahendra.”
“Tetapi jika benar, tentu ada perintah lewat pimpinan keprajuritan yang akan sampai kepadaku untuk mempersiapkan pengawalan, khususnya di tempat ini.”
Tetapi Mahisa Bungalan menggeleng. Jawabnya, “Tidak ada perintah itu. Bahkan yang diutus mendahului perjalanan tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka adalah ayah. Bukan seorang prajurit. Pengawal mereka pun bukan prajurit pula. Paman Witantra. Hanya paman Mahisa Agni lah yang resmi mengawalnya dari pihak keprajuritan.”
“Suatu perjalanan yang berbahaya pada masa seperti ini. Agaknya pihak istana belum mendapat laporan yang lengkap tentang keadaan yang sebenarnya.”
“Sudah. Justru karena laporan itulah, maka kedua pemimpin itu akan melihatnya langsung dengan cara mereka.”
Pemimpin prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku adalah Senopati disini, betapapun rendah tingkat tataranku. Aku bertanggung jawab akan keselamatan tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka.”
“Aku sependapat. Tetapi jangan semata-mata. Bahkan seperti yang aku katakan, seorang pun dari prajurit Singasari jangan ada yang mengetahunya.”
Pemimpin prajurit itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku mengerti. Meskipun prajurit-prajurit yang ada disini tidak mengerti, tetapi mereka harus dapat disiapkan dalam waktu pendek.”
“Begitulah. Mudah-mudahan hal itu tidak diperlukan.”
Pemimpin prajurit itu mengerutkan keningnya. Sebagai seorang Senopati, meskipun tidak mendapat perintah langsung ia merasa bertanggung jawab terhadap wilayah yang menjadi daerah pengawasannya. Itulah sebabnya, maka ia justru menjadi cemas. Agaknya kedua pemimpin tertinggi dari Singasari itu tidak mau mendapat pengawalan dalam kebesarannya, sehingga yang harus dilakukannya justru akan sangat sulit apabila benar-benar terjadi sesuatu.
Tetapi ia tidak kurang akal. Perintahnya untuk bersiap-siap dihubungkannya dengan meningkatkan kegiatan para cantrik di padepokan Empu Purung.
Para prajurit Singasari pun merasa perlu untuk menghadapi semua keadaan dengan sebaik-baiknya Itulah sebabnya, maka mereka pun memperhatikan semua petunjuk dari pemimpin nya. Mereka menjadi semakin berhati-hati dan bersiap menghadapi.segala kemungkinan. Jika para cantrik itu mulai meningkatkan kegiatannya bersama anak-anak muda padukuhan di sekitarnya yang telah berada di bawah pengaruh mereka, maka para prajuritpun telah meningkatkan kewaspadaan mereka. Meskipun kerja mereka sehari-hari nampaknya masih saja sekedar makan, tidur dan bersendau gurau, namun kini tidak lagi berpencaran di jalan-jalan. Mereka selalu berada dalam kelompok-kelompok kecil yang siap menghadapi segala kemungkinan. Karena itu lah maka mereka tidak pernah terpisah dari senjata mereka.
Namun demikian, pesan pemimpinnya kepada para pra jurit itu, agar mereka tidak menumbuhkan kegelisahan kepada orang di sekitarnya.
Sementara itu, seperti yang diperhitungkan oleh Mahendra atas isyarat Ki Buyut, maka kedatangannya telah benar-benar menarik perhatian anak-anak muda yang merasa diri mereka dapat berbuat apa saja. Menurut pendapat mereka, maka Mahendra tentu membawa beberapa jenis barang berharga. Pusaka-pusaka itu sangat mereka butuhkan menghadapi keadaan yang semakin gawat. Juga batu-batu bertuah dan batu-batu berharga lainnya.
Namun mereka masih membuat beberapa pertimbangan. Apakah sikap mereka tidak mengundang tindakan para prajurit Singasari.
“Mereka nampaknya tidak menghiraukan sama sekali” seorang anak muda memberikan laporan tentang pengamatanya atas sikap para prajurit itu.
“Kita tunggu sehari dua hari.”
“Kita akan terlambat. Pedagang itu pergi, atau prajurit-prajurit itu akan merampasnya lebih dahulu” sahut yang lain.
“Kita akan mengawasinya. Jika ia pergi, maka kita akan merampasnya di tengah-tengah bulak.” berkata yang lain.
Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Rasa-rasanya mereka tidak sabar lagi menunggu. Mereka benar-benar berharap, bahwa pusaka-pusaka dan batu-batu bertuah itu akan membuat mereka menjadi semakin sakti, setidak-tidaknya barang-barang itu tentu berharga.
Namun mereka lebih tertarik lagi, ketika ternyata sehari kemudian, beberapa orang kawan pedagang itu telah datang pula di padukuhan mereka, sehingga perhatian mereka semakin tertarik. Yang datang itu tentu juga pedagang-pedagang seperti yang telah datang lebih dahulu.
Sebenarnyalah bahwa seperti yang direncanakan, maka Ranggawuni dan Mahisa Cempaka pun telah menyusul Mahendra bersama Mahisa Agni dan Witantra. Mereka berharap untuk dapat melihat perkembangan tempat yang dalam saat-saat tretentu tidak begitu menarik perhatian. Namun yang kemudian ternyata telah digoncangkan oleh kegiatan Empu Purung yang melampaui batas kewajaran.
Pada saat mereka datang, maka Mahendra langsung memberi mereka peringatan, bahwa perhatian anak-anak muda di tempat itu telah tertuju kepadanya, justru karena ia seorang pedagang pusaka.
“Apakah pusaka dan batu-batu bertuah itu telah menarik perhatian mereka?” bertanya Ranggawuni.
“Hamba-tuanku” sahut Mahendra, “ternyata dalam keadaan seperti sekarang di daerah ini, mereka menganggap bahwa pusaka itu sangat perlu “
Ranggawuni mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan berhati-hati.”
Meskipun demikian, Mahendra masih saja selalu berdebar. Dengan sungguh-sungguh ia mengawasi kedua anak-anaknya yang kadang-kadang agak kurang dapat mengendalikan diri.
Namun agaknya mereka dapat mengerti, bahwa keadaan kurang menguntungkan bagi mereka, apabila mereka berkeliaran di padukuhan itu.
Mahisa Bungalan yang mendengar berita kehadiran beberapa orang kawan pedagang itu pun dengan diam-diam telah datang menghadap. Tidak seorang pun yang mengetahuinya. Lawan-lawannya pun tidak. Hanya pemimpin prajurit itulah yang telah dipesan, agar ia menjadi semakin berhati-hati menghadapi keadaan, justru karena kedua orang pimpinan tertinggi Singasari ada di padukuhan kecil itu tanpa pengawalan prajurit segelar sepapan.
Ki Buyut pun dengan tergesa-gesa telah datang pula kebanjar untuk memberikan peringatan sekali lagi, agar mereka menjadi semakin berhati-hati.
“Aku sama sekali tidak berkeberatan Ki Sanak berada di Banjar. Bahkan aku sama sekali tidak berkeberatan untuk menyediakan makan dan minum kalian selama kalian berada disini. Tetapi kami tidak dapat memberikan perlindungan yang barangkali kalian perlukan jika terjadi sesuatu. Meskipun demikian, barangkali aku dapat menghubungkan kalian dengan para prajurit.”
“Terima kasih Ki Buyut” jawab Mahendra, “mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu. Kami sebenarnya justru ingin berhubungan dengan anak-anak muda ,yang barangkali memerlukan pusaka atau barang-barang berharga.”
“Tetapi keadaan di daerah ini agak lain Ki Sanak. Beberapa waktu lampau, mereka masih dapat mengerti, bahwa dalam keadaan seperti ini, dalam hubungan antara yang memerlukan dan yang memiliki ada semacam alat penukar yang memiliki nilai cukup. Maksudku, mereka masih menghargai jual beli sewajarnya. Tetapi saat ini barangkali mereka telah kehilangan pengertian itu. Bahkan dengan sengaja telah memperbodoh diri, karena mereka merasa tidak ada seorang pun yang dapat merintangi niat mereka dalam hal apapun “
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Agaknya Ki Buyut benar-benar telah mencemaskan orang-orangnya yang disebutnya, telah menurunkan martabatnya sebagai manusia.
“Tetapi pada suatu saat Ki Buyut tidak dapat ingkar dari kenyataan itu, bahwa orang-orang yang tidak dikehendakinya itu telah mengganggu dan melanggar hak orang lain.” berkata Mahendra di dalam hatinya.
Namun dalam kecemasannya, ternyata Ki Buyut telah berbuat sangat baik. Ia menjamu makan dan minum orang-orang yang tinggal di banjar itu, meskipun jumlahnya menjadi cukup banyak. Dengan kehadiran Ranggawuni, Mahisa Cempaka beserta Witantra dan Mahisa Agni, maka jumlah mereka menjadi tujuh orang.
Dalam pada itu, kedatangan ke empat orang baru itu telah menarik perbatian. anak-anak muda dipadukuhan Alas Pandan dan sekitarnya. Bahkan satu dua orang cantrik Empu Purung pun telah mulai memperbincangkannya pula.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar