Selasa, 02 Februari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 35-03

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 35-03*

Karya.  : SH Mintardja

Mahisa Bungalan yang berada di induk pasukan masih berdiri termangu-mangu. Ia sadar, bahwa Empu Baladatu adalah orang yang memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan. Apalagi karena dasar ilmu hitamnya, maka Empu Baladatu adalah orang yang sangat berbahaya.

Karena itu, maka ia merasa mempunyai kewajiban untuk berbuat sesuatu, agar Empu Baladatu tidak dengan garang menghancurkan pasukan Singasari. Ia merasa ikut bertanggung jawab, bahwa keganasan Empu Baladatu itu harus dicegah.

Dengan demikian, maka Mahisa Bungalan pun telah mempersiapkan diri untuk berhadapan dengan pemimpin tertinggi dari mereka yang menganut ilmu hitam dan yang telah terpengaruh olehnya dengan harapan yang disangkanya dapat memberikan kemukten di masa depan.

Dalam pada itu, kelompok-kelompok yang dipersiapkan sebagai sayap pasukan jika mereka harus memasang gelar, telah terlibat pula dalam pertempuran melawan prajurit Singasari. Mahisa Pukat dan Mahisa Murti yang tidak sabar lagi menunggu, telah berlari-lari demikian mereka mendengar isyarat.

“Berhati-hatilah.” Senapati yang berada di dalam kelompoknya mencoba memperingatkannya.

Tetapi kedua anak muda itu tidak mendengarnya lagi. Mereka telah menghambur bersama prajurit-prajurit Singasari yang berada di paling depan.

Di bagian lain. Lembu Ampal menghadapi keadaan dengan tenang. Ia tidak terlalu tergesa-gesa. Dengan tenang pula prajuritnya mempersiapkan diri. Meskipun mereka bertindak cepat namun tidak ada kesan ketergesa-gesaan pada pasukannya.

Namun dalam pada itu, maka sejenak kemudian, maka di depan pintu gerbang. Kota Raja itupun telah terjadi pertempuran yang seru menebar pada arena yang luas.

Induk pasukan Empu Baladatu telah membentur pasukan yang kuat di padukuhan yang terletak langsung di depan gerbang, sementara pasukan yang telah dipersiapkan menjadi sayap pasukan jika kemudian membentuk gelar yang utuh, telah bertempur melawan kelompok-kelompok prajurit yang menyerang mereka.

Ternyata bahwa prajurit Singasari masih cukup banyak dan cukup kuat untuk menahan pasukan Empu Baladatu yang besar. Agaknya pasukan Empu Baladatu yang terkejut itu untuk beberapa saat masih harus menyesuaikan diri dengan medan yang tidak disangka-sangkanya.

Sementara itu, Empu Sanggadaru telah siap pula dengan pasukannya di belakang medan. Jika perintah Senapati prajurit Singasari jatuh, maka pasukannya telah siap untuk melakukan apa saja.

Tetapi Empu Sanggadaru pun menyadari kedudukan pasukannya sebagai pasukan cadangan. Jika tidak ada perintah, maka pasukannya akan tetap berada di tempat. Seperti pesan Senapati prajurit Singasari kepadanya, bahwa pertempuran yang membakar Kota Raja itu bukanlah bencana yang terakhir.

“Kita masih harus tetap berhati-hati terhadap Mahibit.” pesan Senapati Singasari kepada Empu Sanggadaru.

Karena itu, Empu Sanggadaru pun telah menahan diri. Betapapun besar keinginannya untuk ikut serta membinasakan pasukan Empu Baladatu, yang meskipun adik kandungnya sendiri, tetapi yang sudah dilumuri oleh ketamakan dan kedengkian, namun pasukannya tetap berada di tempatnya.

Sebenarnyalah bahwa pimpinan pasukan Singasari masih belum memerlukan bantuan pasukan Empu Sanggadaru. Pasukan induk Singasari tidak terlalu mengalami kesulitan. Kejutan yang ditimbulkan telah berhasil mempengaruhi gairah perjuangan para prajurit untuk membinasakan lawannya. Dalam pada itu, pasukan kecil Empu Baladatu yang terjebak di dalam pintu gerbang Kota Raja tidak dapat bertahan terlalu lama. Mereka segera terdesak dan terhimpit oleh kekuatan yang, jauh lebih besar dari kekuatan mereka.

Dengan gelisah mereka mencoba bertahan sambil menunggu. Namun ternyata pasukan induk mereka tidak segera datang memasuki dinding dengan cara apapun juga.

“Jika mereka tidak dapat memecahkan pintu gerbang, maka tentu tidak akan terlalu sulit untuk memanjat dan meloncati dinding.” berkata pemimpin kelompok kecil itu di dalam hatinya.

Tetapi ternyata bahwa pasukan itu tidak kunjung datang. Sehingga kekuatan merekapun semakin lama menjadi semakin tipis dibandingkan dengan kekuatan prajurit Singasari yang mendesak mereka tanpa ampun.

Namun agaknya pemimpin prajurit. Singasari itu bukannya seseorang yang haus darah. Setiap kali ia masih memberikan kesempatan dan menawarkan agar para pengikut Empu Baladatu itu menyerah saja.

“Kau tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi.” berkata seorang prajurit muda, “Letakkan senjatamu dan menyerahlah. Kami akan memperlakukan kalian sebaik-baiknya, karena kami tahu bahwa kalian tidak sadar apa yang sedang kalian lakukan.”

Para pengikut Empu Baladatu itu menjadi ragu-ragu. Mereka pun menyadari bahwa mereka tidak akan dapat berlahan lebih .ama lagi. Harapan mereka satu-satunya adalah kedatangan induk pasukan yang dipimpin langsung oleh Empu Baladatu. Tetapi ternyata bahwa pasukan itu tidak segera memasuki pintu gerbang.

Bahkan sejenak kemudian prajurit muda yang nampaknya memiliki pengaruh sangat besar di antara prajurit-prajurit Singasari itu berkata pula, “Induk pasukan yang tentu kalian tunggu itu tidak akan pernah memasuki Kota Raja lewat pintu gerbang atau memanjat dinding. Agaknya mereka telah membentur pasukan Singasari yang kuat di depan pintu gerbang.”

Pemimpin kelompok kecil yang masih mencoba bertahan itu berteriak mengatasi kecemasan yang tumbuh di hatinya, “Tidak ada prajurit Singasari di luar pintu gerbang.”

“Kau salah. Aku menawarkan kesempatan. Jika kau ingin mengirimkan seorang, penghubung untuk melihat kenyataan tentang induk pasukanmu, aku akan menjamin, bahwa ia akan dapat melihat induk pasukanmu yang menjelang saat kehancurannya dan kembali dengan selamat memasuki pintu gerbang itu.”

Pemimpin kelompok kecil itu termangu-mangu. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Siapakah kau? Apakah kau benar-benar memiliki wibawa, untuk menjamin keselamatannya jika aku benar-benar mengirimkan seorang penghubung untuk melihat induk pasukan?”

“Aku menjamin.” sahut prajurit muda itu.

Pemimpin kelompok itu termangu-mangu. Namun pasukannya benar-benar sudah tidak berdaya lagi. Sabagian dari orang-orangnya telah terluka dan tidak mampu lagi mengangkat senjatanya. Yang lain terkurung oleh tiga atau empat orang prajurit, sehingga ia terpaksa melepaskan senjatanya.

“Tetapi siapa kau. Sebut kedudukanmu.”

Prajurit muda itu ragu-ragu. Namun ia ingin menghentikan pertumpahan darah lebih lama lagi di dalam pintu gerbang itu. Karena itu, maka iapun segera menjawab, “Aku adalah Ranggawuni.”

Pengakuan itu telah mengejutkan orang-orang yang mendengarnya. Pemimpin kelompok itupun terkejut bukan buatan. Ternyata yang ada di hadapannya itu adalah Ranggawuni. Maharaja di Singasari yang bergelar Wisnuwardhana.

Ia tidak menyangka sama sekali bahwa Maharaja Singasari itu berada di medan dengan pakaian seorang prajurit dan bertempur langsung di medan.

Namun dengan demikian pemimpin pasukan lawan itu dapat mengenal langsung, bahwa Ranggawuni adalah seorang anak muda yang luar biasa. Seorang, anak muda yang memiliki kelebihan bukan saja kemampuan dalam olah kanuragan, tetapi menilik sikapnya, ia tentu seorang yang bijaksana.

Ia bukan saja karena kebetulan lahir dalam kedudukan yang memungkinkannya memegang pimpinan atas Singasari, namun ia memang memiliki kemampuan untuk melakukannya.

Pemimpin pasukan yang terjepit itu masih sempat membuat pertimbangan dengan nalarnya. Pasukannya tidak akan mampu berbuat apa-apa. Sementara induk pasukannya tidak juga kunjung datang memasuki dinding Kota Raja.

“Aku menawarkan kesempatan itu sekali lagi.” berkata Ranggawuni.

Pemimpin pasukan pengikut Empu Baladatu yang ada di dalam regol dinding Kota Raja itu benar-benar telah tersudut ke dalam suatu kenyataan, jika ia tidak menyerah, maka akhirnya pasukannya akan hancur. Mungkin terbunuh atau terluka parah tanpa tersisa seorangpun.

Karena itu, maka tiba-tiba saja pemimpin pasukan itupun melemparkan senjatanya. Pengaruh kehadiran Ranggawuni dan menawarkan kesempatan langsung di medan peperangan itu telah menimbulkan kepercayaannya, bahwa Maharaja Singasari itu tentu akan bertindak bijaksana.

“Hamba menyerah tuanku.” berkata pemimpin pasukan itu, “Hamba mohon ampun.”

Ranggawuni termangu-mangu sejenak. Ia menunggu sikap dari para pengikut Empu Baladatu yang lain.

Ternyata bahwa sebagian dari mereka pun tidak lagi dapat mengingkari kenyataan, bahwa mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari ujung senjata prajurit Singasari jika mereka berkeras untuk tetap melawan.

Sesaat kemudian Ranggawuni pun memberikan isyarat kepada para prajurit untuk menghentikan pertempuran. Ternyata bahwa pasukan yang memasuki regol itu benar-benar sudah tidak berdaya. Satu-satu mereka melepaskan senjata mereka dan menyerahkan diri untuk diperlakukan apapun juga.

Tetapi ternyata bahwa prajurit Singasari bukannya orang orang yang buas seperti yang pernah mereka bayangkan. Prajurit-prajurit Singasari dengan patuh melakukan segala perintah Senapatinya. Juga perlakuan atas para tawanan itupun di landasi pada sikap dan ketentuan yang ada di dalam lingkungan keprajuritan Singasari.

Dalam waktu yang, singkat, maka para tawanan itupun telah dibawa ke tempat yang sudah ditentukan, seolah-olah Singasari memang sudah menyediakan tempat untuk menampung lawan yang akan tertawan.

Beberapa orang prajuritpun segera ditugaskan untuk menjaga mereka dengan ketat, sementara yang lain segera menempatkan diri pada tugas-tugas yang baru sesuai dengan perkembangan keadaan.

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka ternyata tidak sekedar ingin bermain-main di dalam dinding Kota Raja. Setelah pasukan yang memasuki Kota Raja itu menyerah, maka Ranggawuni pun berkata kepada Mahisa Agni, “Paman, agaknya pasukan Empu Baladatu tidak sempat mencapai pintu gerbang. Tetapi kita belum yakin, bahwa induk pasukan kita akan dapat bertahan atas tekanan pasukan Empu Baladatu yang kuat.”

Mahisa Agni segera menangkap maksud Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Karena itu, maka katanya, “Tuanku, di seberang arena pertempuran, pasukan Empu Sanggadaru sudah siap menunggu perintah. Jika induk pasukan itu terdesak dan tidak mungkin lagi bertahan, maka perintah yang akan dilontarkan lewat isyarat akan segera menggerakkan pasukan itu.”

Ranggawuni tersenyum. Jawabnya, “Kita akan membiarkan pasukan Empu Sanggadaru di tempatnya. Bukankah kita masih harus mempertimbangkan kemungkinan yang akan datang? Jika kita tidak mempunyai pasukan yang segar, maka jika Mahibit benar-benar bergerak, maka kita semuanya sudah kehabisan nafas.”

“Seandainya tuanku memerintahkan, biarlah hamba dengan pasukan yang tidak diperlukan di sini, turun kemedan perang di induk pasukan itu.” berkata Mahisa Agni.

“Aku akan berada di medan. Aku tahu kecemasan paman tentang aku dan adinda Mahisa Cempaka. Tetapi aku berjanji bahwa aku akan berlaku sebaik-baiknya, sesuai dengan petunjuk paman.” sahut Ranggawuni.

Mahisa Agni tidak dapat menahannya lagi. Karena itu, maka iapun segera menyiapkan sekelompok pengawal pilihan yang akan pergi bersama Ranggawuni dan Mahisa Cempaka kemedan perang.

Namun Mahisa Agni sendiri tidak dapat melepaskan kedua pemimpin Singasari itu pergi ke medan di luar pengamatannya. Karena itu, maka ia pun telah ikut pula di dalam kelompok pengawal yang menyertai Ranggawuni dan Mahisa Cempaka ke garis pertempuran di depan pintu gerbang.

Karena itu, maka sesaat kemudian, perlahan-lahan pintu gerbang itupun terbuka. Dua orang prajurit yang berada di atas dinding mengawasi keadaan dengan saksama.

Demikian pintu Gerbang itu terbuka, maka sepasukan kecil telah keluar dengan cepat. Tidak ada tanda-tanda kebesaran pada pasukan itu. Tidak ada tanda-tanda umbul-umbul atau panji-panji dan tunggul yang memberikan pertanda bahwa Maharaja Singasari turun kearena pertempuran.

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang dikawal dengan kuat oleh prajurit-prajurit pilihan itu, seakan-akan sepasukan prajurit biasa yang dipimpin seorang Senapati pergi kemedan membantu pasukan yang sedang dalam tekanan lawan.

Mahisa Agni yang sangat berhati-hati karena di dalam pasukannya terdapat Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, telah mengirimkan dua orang pengawas mendahului perjalanan mereka untuk melihat dari dekat, apakah yang telah terjadi di medan, di seberang padukuhan.

“Kita akan berhenti sejenak di muka padukuhan itu tuanku.” berkata Mahisa Agni.

“Untuk apa?” bertanya Ranggawuni.

“Kita menunggu laporan pengawas yang mendahului perjalanan kita.”

Ranggawuni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat memaksa Mahisa Agni berjalan terus, karena ketika Mahisa Agni melihat gelagat itu ia berkata, “Bukankah tuanku akan menurut petunjuk-petunjuk hamba?”

Ranggawuni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sambil tersenyum ia mengangguk. Jawabnya, “Baiklah paman. Aku akan tetap patuh.”

Tetapi mereka tidak menunggu terlalu lama. Pengawas itupun segera datang menghadap untuk melaporkan bahwa pertempuran masih berkobar dengan sengitnya.

“Empu Baladatu sendiri memimpin induk pasukannya.” berkata pengawas itu.

“Bagaimana dengan Mahisa Bungalan?” bertanya Mahisa Agni.

“Mahisa Bungalan telah terlibat dalam pertempuran melawan Empu Baladatu sendiri.”

Ranggawuni yang mendengarkan laporan itu pun segera bertanya, “Bukankah kita dapat meneruskan perjalanan ini paman. Mudah-mudahan Mahisa Bungalan tidak menjumpai kesulitan apapun juga.”

Mahisa Agni mengangguk kecil. Katanya, “Baiklah tuanku. Kita akan melanjutkan perjalanan ke medan yang berada di seberang padukuhan ini.”

Ranggawuni mengangguk kecil, iapun kemudian berjalan bersama Mahisa Cempaka menyusuri jalan induk. Tetapi Mahisa Agni masih tetap berhati-hati dengan menempatkan beberapa orang pengawal di depan pasukannya.

Ternyata bahwa pertempuran di seberang padukuhan masih tetap berjalan dengan serunya. Suara dentang senjata di antara pekik dan erang. Tetapi juga teriakan penuh dendam dan kemarahan.

Empu Baladatu memang sedang bertempur melawan Mahisa Bungalan yang datang menyongsongnya.

Kehadiran pasukan kecil itu semula tidak begitu menarik perhatian. Pasukan Singasari yang sedang bertahan itu nampak berhasil menahan desakan pasukan Empu Baladatu meskipun mereka harus mengerahkan segenap kemampuan. Ketika tubuh mereka telah basah oleh keringat, serta nafas mereka mulai berkejaran, barulah mereka menjadi agak cemas, bahwa mereka lelah memeras terlalu banyak tenaga menghadapi pasukan Empu Baladatu yang kuat.

Yeng terbersit pertama-tama di hati setiap prajurit Singasari adalah kemungkinan untuk memperpanjang perlawanan. Jika mereka kehabisan tenaga, sementara pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya, maka akibatnya akan sangat berat bagi para prajurit Singasari.

Kehadiran sekelompok prajurit itu akan membantu mereka menghemat tenaga meskipun masih belum berarti akan dapat menentukan akhir dari pertempuran itu dalam keseluruhan.

Tetapi ketika Senapati di induk pasukan itu melihat, siapakah yang hadir, hampir saja ia meneriakkan gejolak perasaannya. Namun Mahisa Agni sempat memberikan isyarat, agar Senapati itu tidak berteriak-teriak menyambut kedatangan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka di medan yang sengit itu.

“Kami akan bertempur.” berkata Mahisa Agni, “Tetapi kami akan bertempur sebagai prajurit.”

Senapati itu tidak mengerti, kenapa prajurit Singasari tidak boleh mengerti, bahwa kedua pemimpin tertinggi Singasari berada di antara mereka.

Tetapi Senapati itu tidak berani melanggar pesan Mahisa Agni. Ia benar-benar tidak memberitahukan kepada siapapun bahwa Ranggawuni dan Mahisa Cempaka ada di antara prajurit Singasari yang bertempur dengan garangnya itu.

Untuk beberapa saat, kehadiran pasukan kecil itu memang belum terasa pengaruhnya. Namun kemudian ternyata bahwa prajurit-prajurit pilihan di dalam pasukan kecil itu seolah-olah merupakan gulungan prahara yang menelan setiap lawan yang terlibat ke dalamnya.

Sementara itu, di bagian lain dari pertempuran itu, prajurit Singasari telah bekerja keras untuk menahan tekanan lawan yang jumlahnya cukup banyak. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bertempur seperti burung sikatan. Mereka menyambari dengan tangkasnya. Setiap kali senjatanya berhasil menyentuh lawan dan menitikkan darah.

Namun lawan memang terlalu banyak, sehingga keduanya harus bertempur mati-matian untuk menahan agar prajurit Singasari tidak terdesak.

Tetapi betapa lincahnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat namun kemampuan merekapun terbatas. Mereka tidak dapat bertempur melampaui kemampuan mereka masing-masing, sehingga pada suatu saat, terasa betapa beratnya medan.

Selagi keduanya mengalami kesulitan. Senapati yang sudah agak lanjut usia yang memimpin pasukan Singasari itupun baru memeras kemampuannya. Tiga orang lawan sekaligus harus dihadapinya, sahingga Senapati itu tidak mampu berbuat banyak, selain mempertahankan diri sambil sekali-sekali mengawasi keadaan anak buahnya.

Sekali-sekali terasa dadanya berdesir saat-saat ia melihat cara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bertempur. Di medan yang berat, maka akan sangat berbahaya sekali, jika keduanya bagaikan berterbangan. Suatu saat, tentu ada sekelompok lawan yang jumlahnya memang lebih banyak itu, menjebaknya dan membinasakannya.

Namun dalam pada itu, selagi sekelompok lawan sedang menyusun jaring untuk menjebak kedua anak-anak muda itu, seseorang berdiri mengawasi dengan tajamnya. Sekelompok pasukan Singasari yang lain telah datang membantu meskipun jumlahnya juga tidak terlalu banyak.

Tetapi bahaya bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tetap dapat terjadi setiap saat, sehingga orang yang sedang mengawasinya itu berusaha untuk selalu mengikuti setiap langkah kedua anak muda itu.

Yang dicemaskan oleh Senapati itupun ternyata telah mulai membayang. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, dengan tidak sadar, telah memasuki sebuah putaran lawan yang kuat. Demikian keduanya berada di antara jebakan yang telah disiapkan, maka seakan-akan sebuah lingkaran telah berputar dengan cepat. Semakin lama semakin cepat.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terkejut. Mereka sadar, bahwa mereka telah memasuki putaran orang-orang berilmu hitam. Dan merekapun mengerti, bahwa orang-orang yang terjebak dalam putaran seperti itu, biasanya akan terlempar dengan kulit yang bagaikan terkelupas oleh sentuhan senjata arang kranjang.

Sejenak keduanya menjadi berdebar-debar. Tetapi keduanya sadar, bahwa mereka tidak boleh menjadi bingung dan apalagi berputus asa.

“Kita terseret ke dalam arus pusaran.” desis Mahisa Pukat.

“Kita akan memecahkan dinding pusaran itu.” sahut Mahisa Murti, “Kita akan melihat, di bagian mana kita akan menembus dan memutuskan lingkaran itu, dan bahkan membuatnya terkoyak-koyak.”

Namun ternyata bahwa untuk melakukannya tidak semudah seperti yang dikatakannya. Agaknya sekelompok orang-orang pilihan dari perguruan Empu Baladatu telah mempersiapkan jebakan yang sangat kuat.

Setiap kali keduanya mencoba memecahkan kepungan, terasa sambaran angin bagaikan menyobek kulit. Hanya karena ketangkasan mereka berdua sajalah, maka senjata yang menyambar seperti berpuluh-puluh kelelawar liar itu dapat dihindarkan.

Kegelisahan kedua anak muda itu menjadi semakin mengganggu mereka. Lingkaran itu semakin lama seolah-olah menjadi semakin sempit. Senjata-senjata yang berjuluran bagaikan hampir bertautan.

“Gila.” geram Mahisa Murti, “Kita harus membuat kejutan yang dapat menarik perhatian mereka untuk sesaat, sebelum kita berbuat sesuatu.”

Mahisa Pukat diam saja. Ia sedang memikirkan kemungkinan itu. Tetapi medan bagi mereka berdua menjadi terlalu sempit.

Ternyata bahwa orang-orang berilmu bitam itu yakin, akan dapat menghancurkan kedua anak muda yang luar biasa, yang telah mengoyak pasukan pengikut Empu Baladatu dengan ilmunya yang mengagumkan.

Namun setelah beberapa orang terpilih menjebaknya, maka keduanya benar-benar dalam kesulitan.

Senapati yang memimpin pasukan Singasari itu melihat kesulitan kedua anak muda itu. Karena itu, maka iapun segera meneriakkan aba-aba, karena ia sendiri tidak dapat berbuat banyak.

Beberapa orang prajurit yang mendengar aba-aba itupun telah berusaha mendekati kedua anak muda itu. Tetapi rasa-rasanya lawan bertebaran di segala tempat, sehingga mereka merasa sulit untuk melangkah maju. Ujung senjata teracu-acu di segala tempat, dan maut bagaikan mengintai setiap saat.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar berada dalam kesulitan. Putaran di sekelilingnya menjadi bertambah rapat. Bahkan kemudian kepalanya seolah-olah menjadi pening ketika ia mendengar orang-orang yang berlari-larian berputaran itu bagaikan bergumam dalam irama yang menghentak-hentak tetapi terus menerus.

“Gila. Ilmu ini ilmu iblis.” tiba-tiba saja Mahisa Pukat berteriak.

Yang terdengar adalah suara tertawa. Benar-benar suara tertawa iblis. Di sela-sela suara tertawa itu terdengar jawaban, “Kegelisahanmu adalah pertanda akhir dari hayatmu. Anak manis. Berdoa sajalah agar akhir hidupmu akan kalian jalani dengan baik. Sebutlah nama ayah ibumu.”

Mahisa Murtilah yang kemudian berteriak, “Gila. Iblis gila.”

Suara tertawa itu masih terdengar. Tetapi tiba-tiba saja suara itu terputus oleh suara lain. “Ayahmu ada di sini anak-anak manis. Sebutlah namanya. Mahendra.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat segera mengenal suara itu. Karena itu sambil melonjak kegirangan mereka berbareng menyebut, “Ayah.”

Orang-orang yang mengepungnya terkejut pula. Mereka mencoba untuk melihat, siapakah yang datang.

“Seperti yang kalian kehendaki.” berkata Mahendra, “Kedua anak-anakku sudah menyebut ayahnya. Tetapi jangan mimpi untuk membunuh keduanya. Meskipun mereka anak nakal, tetapi bagi ayahnya, keduanya adalah mutiara yang tidak ternilai harganya. Karena itu, dalam keadaan yang paling gawat seperti sekarang, aku akan mempertahankan kedua anak-anakku.”

“Persetan.” geram salah seorang dari mereka yang mengepung Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Kaupun akan kami bunuh sama sekali.”

“Jika kalian ingin mencoba, baiklah. Aku akan memasuki lingkaran kalian.”

Lingkaran yang tidak berputar lagi karena kejutan itu, bergerak selangkah. Tiba-tiba saja pemimpinnya berkata kasar, “Masuklah Mahendra. Kami akan mencincangmu menjadi bangkai.”

Mahendra mengerutkan keningnya. Sekilas ia melihat peperangan yang sengit. Tetapi ia tidak mencemaskan seluruh pasukan yang sedang bertempur itu, sehingga karena itu, maka ia telah mengikatkan diri. melawan orang-orang yang telah mengepung anaknya.

Ketika lingkaran itu menyibak, maka Mahendra benar-benar melangkah memasukinya meskipun Mahisa Pukat berteriak, “Jangan berada di dalam lingkaran ayah.”

Mahendra tersenyum. Jawabnya, “Aku akan mencoba, apakah putaran angin pusaran itu tidak dapat dipecahkan.”

Sejenak kemudian, demikian Mahendra memasuki lingkaran, maka orang-orang berilmu hitam itupun segera bergerak dan putaran itupun kembali melingkari Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahendra.

“Lingkaran itu berbahaya sekali ayah.” desis Mahisa Murti.

“Ya, memang berbahaya sekali. Karena itu, kita bertiga memang harus berhati-hati.” jawab Mahendra.

Kedua anak-anaknya mengerutkan keningnya. Merekapun kemudian mengerti bahwa yang mereka hadapi benar benar bahaya yang dapat mengancam jiwa mereka bersama ayahnya, sehingga merekapun bergumam di dalam hati, “Pertempuran bukannya arena permainan yang selalu menyenangkan.”

Mahendra memang menghendaki anak-anaknya mengerti, bahwa pada suatu saat, lawan yang tangguh akan dapat mengurung mereka dalam ancaman bahaya maut. Dengan demikian, maka setiap orang yang memasuki arena pertempuran mempunyai kemungkinan yang sama antara dua peristiwa. Hidup atau mati.

Tekanan yang hampir saja merenggut jiwa mereka, telah menjadi pengalaman yang berharga bagi Mahisa Pukat dan Mahisa Murti. Mereka bersukur kepada Yang Maha Agung bahwa ayah mereka masih dapat melihat nasib yang hampir saja mencekik leher mereka. Namun dalam pada itu, merekapun merasa bahwa medan adalah tempat yang harus ditanggapi secara bersungguh-sungguh.

Dalam pada itu, sejenak kemudian orang-orang berilmu hitam itu telah melingkari mereka kembali. Senjata mereka mulai teracu dan menyambar-nyambar. Tetapi lingkaran itu telah menjadi lebih besar.

Namun demikian, setiap orang di dalam pertempuran itu melihat, bahwa lingkaran itu berputar semakin lama semakin cepat dan menjadi semakin sempit seperti yang pernah terjadi. Sementara ketiga orang yang ada di dalamnya akan meng hadapi masa-masa yang sulit untuk mempertahankan diri.

Senapati prajurit Singasari yang melihat kehadiran Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ketiga ayah beranak itu masih akan menghadapi masa-masa yang berat, tetapi mereka bertiga tentu akan menjadi lebih kuat daripada hanya kedua anak-anak muda itu saja.

Lingkaran itu semakin lama memang menjadi semakin sempit. Kehadiran Mahendra seolah-olah tidak banyak memberikan perubahan. Orang-orang berilmu hitam itu masih tetap melingkari lawan mereka dengan sekali-sekali menyerang dengan senjata mereka yang tajam.

Setiap kali Mahisa Murti dan Mahisa. Pukat harus menghindar dan bahkan berdesakan. Mereka tidak dapat meloncat surut, karena di bagian punggung, mereka, senjatapun siap menyobek kulit mereka dari belakang, karena lawan berada dalam putaran.

Mahendra nampaknya tidak berbuat banyak menghadapi putaran itu. Ia masih seperti juga kedua anak-anaknya, bergeser dan beringsut.

Namun Mahendra adalah orang yang luar biasa. Ia memiliki ilmu yang hampir sempurna. Karena itu, maka iapun mulai mempelajari kemungkinan yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan kedua anak-anaknya.

Ketika putaran itu menjadi semakin cepat dan semakin sempit, maka Mahendrapun berkata, “Berhati-hatilah. Jangan terpengaruh oleh pendengaranmu. Mereka mulai berteriak-teriak dan membuat kau bingung.”

Mahisa Pukat dan Mahisa Murti tidak menyahut tetapi mereka telah mencoba untuk melawan pengaruh pendengaran mereka yang kacau karena orang-orang yang mengepungnya mulai mengganggu mereka dengan suara dan kata yang membingungkan.

“Hati-hatilah.” berkata Mahendra tiba-tiba, “Aku akan memecahkan kepungan mereka. Mungkin mereka melakukan suatu sikap dan gerakan yang tiba-tiba pula. Hadapi mereka dengan tenang dan jangan bingung.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menyahut. Tetapi mereka mencoba menyesuaikan diri dengan gerakan ayahnya yang akan memecah kepungan orang-orang berilmu hitam itu, meskipun ia sama sekali tidak memerintahkan anaknya untuk keluar.

Sejenak Mahendra memusatkan inderanya pada pusaran lawannya. Ia berusaha untuk mengenali irama gerakan mereka, yang ternyata berjalan ajeg.

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Seakali-seakali ia telah menemukan jalan untuk keluar dari kepungan itu bersama dengan anak-anaknya.

Sejenak ia masih tetap berdiam diri. Ia hanya bergeser setapak-setapak jika senjata lawan-lawannya menyambarnya.

Namun tiba-tiba saja Mahendra telah meloncat sambil berkata, “Ikuti aku. Hati-hati. Serangan itu akan tetap mengarah ke tubuhmu. Tetapi jika kita berhasil, maka lawan kita hanyalah seorang dari antara mereka.”

Kedua anaknya telah mengikutinya. Ketiganya telah menyusun suatu lingkaran kecil yang berputar seirama dengan putaran lawannya.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengerti maksud ayahnya. Mereka telah memiliki lawan masing-masing dalam putaran itu. sehingga justru kedua anak muda itulah yang mengejar lawannya yang berada, di dalam lingkaran, sehingga dengan demikian maka seakan-akan mereka telah bertempur sambil berlari-lari.

Orang-orang berilmu hitam di dalam putaran itu terkejut melihat gerakan ketiga orang yang berada di dalam lingkaran. Mereka tidak dapat menyerang berurutan dan membuat ketiganya bingung, karena ketiganya ikut pula berlari dengan telah memilih seorang lawan.

Tetapi sejenak kemudian, maka orang-orang berilmu hitam itu dapat menguasai diri. Ketika salah seorang dari mereka memberikan isyarat, maka tiba-tiba saja putaran itu berhenti.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah terdorong beberapa langkah. Hampir saja mereka terjebak dalam senjata lawan yang sengaja menunggu. Untunglah, bahwa Mahendra dapat bertindak cepat. Dengan tangkasnya ia mengatasi keadaaan yang tiba-tiba itu. la sempat menahan kedua anak-anaknya dan memberikan peringatan, “Jaga serangan dari belakang kalian. Aku akan menghadap ke arah lain.”

Kedua anak muda itupun kemudian berdiri beradu punggung dengan ayahnya menghadap lawan-lawan mereka yang tegang. Namun kesempatan itulah yang ditunggu oleh Mahendra. saat putaran itu telah berhenti.

“Sekarang.” geram Mahendra, “Pecahkan dinding lingkaran.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengerti maksud ayahnya. Karena itu, maka ketiganya hampir serentak telah menyerang dinding lingkaran yang sudah tidak berputar lagi itu.

Serangan yang tiba-tiba itupun sudah diperhitungkan oleh orang-orang berilmu hitam itu, sehingga merekapun telah siap untuk menghadapinya.

Namun Mahendra ternyata terlalu kuat bagi mereka. Disaat perhatian mereka terbagi oleh serangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, yang membadai. Mahendra tiba-tiba saja, hampir tidak diketahui apa yang telah dilakukannya, tiba-tiba saja telah berada di luar lingkaran. Tiga orang telah terlempar dengan luka di tubuh mereka.

Oranga berilmu hitam itu benar-benar terkejut. Serentak mereka bagaikan terpukau oleh peristiwa yang sama sekali tidak dapat mereka mengerti itu.

Dalam kebingungan itu. sekali lagi mereka dikejutkan oleh sikap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Merekalah yang kemudian mempergunakan kesempatan untuk melepaskan diri dari kepungan maut itu. Seperti yang dilakukan oleh ayahnya, merekapun telah menyerang serentak, meskipun keduanya tidak dapat melakukannya dalam tataran ilmu Mahendra.

Namun demikian, ternyata bahwa kedua anak muda itu berhasil membuka kepungan di depan mereka. Beberapa orang telah menyibak, meskipun senjata kedua anak-anak muda itu tidak dapat menyentuh mereka.

Sejenak kemudian, maka ketiga orang ayah beranak itu telah berada di luar kepungan orang-orang berilmu hitam itu. Dengan sigapnya ketiganya segera bersikap uniuk menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi atas mereka.

Pecahnya kepungan itu telah membuat orang-orang berilmu hitam itu bingung sesaat. Dengan demikian, maka akan sulitlah bagi mereka untuk mengulanginya, menjebak ketiganya ke dalam lingkaran maut itu.

Sementara itu, Mahisa Murti. Mahisa Pukat dan Mahendra telah bersiap untuk bertempur, sementara pertempuran berjalan semakin lama semakin sengit.

Namun, dengan pecahnya kepungan itu, maka kembali kedua anak-anak muda itu bertempur seperti burung Sikatan. Mereka tidak lagi menjadi cemas jika mereka terjebak. Ayahnya akan selalu mengawasi mereka dalam keadaan yang paling sulit.

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti apa yang terpikir oleh anaknya, sehingga karena itu, maka iapun telah berkata kepada diri sendiri, “Seharusnya mereka tidak berbuat demikian. Mereka mulai menggantungkan keselamatan mereka justru aku berada di sini.”

Namun hal itu merupakan suatu pengalaman baru bagi Mahendra. Ia harus berusaha untuk membuat anak-anaknya lebih berhati-hati dan tidak menggantungkan diri kepada orang lain.

“Mereka masih cukup muda untuk menempuh masa depan yang lebih baik.” berkata Mahendra kepada diri sendiri, sementara ia berusaha untuk menemukan anak-anaknya dan berpura-pura meninggalkan arena pertempuran itu.

Untuk beberapa saat Mahendra masih berada di dalam kancah peperangan. Namun kemudian ketika nampak olehnya Mahisa Pukat dan Mahisa Murti bersama menghalau beberapa orang lawan, maka Mahendra pun mendekatinya sambil berbisik, “Hati-hatilah Aku akan melihat pertempuran di induk pasukan.”

Mahisa Pukat dan Mahisa Murti terkejut. Dengan serta merta Mahisa Pukat bertanya, “Kenapa ayah pergi? Bukankah pertempuran di sini masih cukup sengit?”

“Di sini ada Senapati itu.”

“Ia sudah terlalu tua.” jawab Mahisa Pukat.

“Ada kau ada Murti.”

“Kami masih terlalu muda.” sahut Mahisa Murti.

“Justru ada yang tua ada yang muda. Nah. berhati-hatilah.” Mahendra tidak menunggu jawaban. Iapun kemudian meloncat di antara riuhnya pertempuran dan hilang di balik bayangan lawan dan kawan.

Mahisa Pukat dan Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun mereka pun kemudian menjadi semakin berhati-hati. Ayahnya tidak ada lagi di antara mereka, sehingga jika terjadi sesuatu tidak ada lagi yang dapat membantu.

Tetapi memang sikap itulah yang dikehendaki oleh Mahendra. Dengan demikian ia mengharap bahwa anaknya tidak lagi menggantungkan diri kepada perlindungan orang lain, meskipun dengan diam-diam Mahendra masih harus tetap mengawasi.

Dalam pada itu, di bagian lain dari arena pertempuran yang menebar semakin luas itu. Lembu Ampal bertempur dengan serunya melawan beberapa orang lawan. Tetapi ia adalah Senapati pilihan, sehingga ia sama sekali tidak menjadi gugup meskipun lawannya berada di segala tempat.

Beberapa langkah dari padanya, ternyata Witantra berusaha menghalau lawan-lawannya seperti menghalau ayam yang mengerumuni butiran-butiran nasi.

Sekali-sekali mereka berloncatan menjauh jika senjata Witantra berputar. Namun kemudian mereka dengan hati-hati bergeser mendekat. Bahkan satu dua orang mencoba untuk menyerang. Namun merekapun terhalau lagi beberapa langkah surut jika Witantra bergerak.

Pertempuran itu memang agak menjemukan bagi Witantra. Tetapi ia bukan pembunuh yang buas meski di medan perang sekalipun.

Meskipun sekali-sekali senjatanya menitikkan darah, dan bahkan memungut nyawa lawannya, namun bukan maksudnya untuk menebas lawannya di medan perang meskipun ia dapat melakukannya. Ia lebih banyak berusaha melindungi kawan-kawannya dan hanya jika terpaksa dan bahkan kadang-kadang di luar kehendaknya sendiri, senjatanya mematuk jantung.

Namun demikian, kehadiran Witantra dan Lembu Ampal benar-benar merupakan hantu yang menakutkan, sehingga lawan merekapun bergeser menjauhinya. Hanya jika mereka bersama-sama beberapa orang sajalah mereka berani mendekati dan menyerang keduanya.

Di induk pasukan, pertempuran berlangsung dengan dahsyatnya. Mahisa Bungalan yang bertempur melawan Empu Baladatu seakan-akan mendapat kesempatan untuk benar mengadu tenaga dan ilmu. Tidak seorangpun yang. berusaha untuk mencampurinya, karena mereka tidak ingin hangus tersentuh api pertempuran yang sangat dahsyal itu.

Empu Baladatu yang melandasi kemampuan dan tenaganya pada ilmu hitam, bertempur semakin lama menjadi semakin buas. Wajahnya yang tegang dan berkerut merut itu seolah-olah telah berubah menjadi wajah iblis yang mengerikan.

Sikapnya telah berubah semakin liar dan buas, sementara dari mulutnya sekali-sekali meloncat umpatan yang kasar.

Namun Mahisa Bungalan sama sekali tidak terpengaruh. Ketahanan jiwanya cukup kuat untuk menangkis serangan-serangan yangg tidak bersifat wadag. Bahkan kadang-kadang hentakan ilmu yang tiba-tiba saja bagaikan menyusup ke pusat jantung.

Tetapi jantung Mahisa Bungalan tidak berhenti berdenyut. Bahkan ia masih tetap segar dan tangkas. Ketahanan jiwanya mampu mengatasi segala pengaruh yang tidak bersifat wadag, yang dilontarkan oleh Empu Baladatu.

Sekali-sekali terdengar Empu Baladatu menggeram. Ia tidak mengira bahwa di pertempuran itu ia akan bertemu dengan anak muda yang bernama Mahisa Bungalan, yang pernah mendapat gelar pembunuh orang berilmu hitam bersama Linggadadi. Tetapi ternyata bahwa pada suatu saat. Linggadadi itu telah dibunuhnya pula.

Kini ia harus berhadapan dengan pembunuh orang berilmu hitam dengan landasan ilmu hitam pula. Namun Empu Baladatu yakin, bahwa ilmunya cukup masak untuk melawan ilmu pembunuh saudara-saudara seperguruan yang menyadap ilmu dari sumber yang sama itu.

Namun semakin lama semakin ternyata bahwa Mahisa Bungalan benar-benar seorang yang mumpuni. Ia tidak hanya sekedar membunuh orang-orang yang baru mulai menyadap ilmu hitam, tetapi kini, Empu Baladatu, pimpinan tertinggi dari orang-orang berilmu hitam itu, dapat menjajagi, bahwa anak muda yang bernama Mahisa Bungalan dan bergelar Pemhunuh orang berilmu Hitam itu benar-benar orang yang pilih tanding.

Dengan demikian maka pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin sengit. Masing-masing telah sampai pada puncak ilmu pamungkasnya, sehingga saat yang menentukan agaknya telah hampir tiba.

Agaknya kedua orang yang sedang bertempur itupun menyadari pula, apa yang mereka hadapi.

Dengan demikian, maka baik Mahisa Bungalan maupun Empu Baladatu tidak lagi sempat memperhatikan seluruh arena pertempuran. Mereka berdua telah tenggelam dalam pemusatan ilmu untuk saling menghancurkan.

Pertempuran antara keduanya, benar-benar merupakan perang tanding yang tidak ada taranya. Tidak ada seorangpun yang berani mendekat, apalagi mengganggunya. Seolah-olah para prajurit dan para pengawal Empu Baladatu sedang menyaksikan dua orang raksasa yang sedang bersabung dengan mempertaruhkan nyawanya.

Dalam pada itu, Ranggawuni, Mahisa Cempaka dan Mahisa Agni pun telah berada di sekitar arena pertempuran yang dahsyat itu. Dengan berdebar-debar mereka melihat, betapa Mahisa Bungalan sedang dalam puncak kemampuannya untuk mempertahankan dirinya dari serangan Empu Baladatu yang membadai.

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka menarik nafas dalam-dalam. Mereka melihat, betapa kasarnya Empu Baladatu. Untuk mengalahkan lawannya, Baladatu telah berbuat apa saja yang dapat dilakukan. Kasar bahkan liar sekalipun.

Tetapi Mahisa Bungalan telah cukup berpengalaman menghadapi orang-orang berilmu hitam. Mahisa Bungalan telah mengenal betapa buas dan liarnya mereka. Sejak ia melihat orang-orang yang berada di rumah seorang bekas prajurit yang menguasai sebuah padukuhan terpencil. Mahisa Bungalan telah melihat, betapa buasnya mereka.

Sekilas Mahisa Bungalan sempat membayangkan, orang-orang yang dikorbankan di saat purnama naik untuk memperdalam ilmu yang sedang mereka sadap.

“Gila.” geram Mahisa Bungalan tiba-tiba. Wajah Empu Baladatu benar-benar merupakan wajah hantu yang mengerikan. Bukan karena Mahisa Bungalan menjadi ketakutan melihat wajah itu, namun kebencian yang belum pernah dirasakannya telah melonjak di dadanya, sehingga denyut jantungnya bagaikan semakin keras berdetak.

Dalam arena pertempuran yang semakin dahsyat itu, maka Mahisa Bungalan dan Empu Baladatupun bertempur semakin dahsyat pula. Empu Baladatu telah mencoba untuk membuat lawannya bingung dengan gerakan-gerakan melingkar. Tetapi Mahisa Bungalan yang sudah mengenalnya, tidak membiarkannya dirinya terperosok ke dalam angin pusaran, sehingga setiap kali ia pun harus cepat meloncat memotong usaha Empu Baladatu untuk berputar mengitari Mahisa Bungalan itu.

Setiap kali Empu Baladatu mengalami kegagalan, ia selalu mengumpat dengan kasarnya. Namun ia tidak dapat terbuat apa-apa untuk memaksa Mahisa Bungalan memberikan kesempatan kepadanya. Bahkan Mahisa Bungalanpim berjuang semakin keras untuk mempercepat penyelesaian yang nampaknya masih kabur itu.

Sekali-sekali Empu Baladatu masih saja berusaha untuk membuat Mahisa Bungalan bingung. Kadang-kadang ia menyerang dengan garang dalam kejutan-kejutan ilmu. Sementara Mahisa Bungalan berusaha menghindarinya, maka Empu Baladatu telah meloncat, di sampingnya dan berlari mengitarinya sambil menyerang dengan senjatanya.

Namun Mahisa Bungalan tidak membiarkannya. Ia tidak terputar dengan bingung dan bahkan kehilangan pengamatan diri. Namun setiap kali ia berhasil meloncat di hadapan lawannya sambil menyerang dengan dahsyatnya, sehingga putaran Empu Baladatupun telah terputus.

Dalam keadaan yang demikian Mahisa Bungalan tidak memberikan kesempatan lagi. Iapun segera menyerang dengan garangnya pula. Senjatanya berputar seperti baling-baling. Namun kemudian mematuk ke arah jantung.

Empu Baladatu masih selalu sempat menghindari. Ia mampu bergerak dengan cepat dan tangkas. Namun Mahisa Bungalan tidak membiarkannya. Ketika senjatanya tidak mengenai sasarannya, maka senjatanya segera menebas mendatar.

Empu Baladatu adalah seorang yang buas, liar dan kasar. Sekali-sekali terdengar ia berteriak nyaring. Sambil menghindar ia masih sempat mengumpat, kemudian berteriak keras-keras sambil membalas serangan lawannya.

Sikap Empu Baladatu memang kadang-kadang menggelisahkan Mahisa Bungalan. Bukan karena kemampuan ilmunya, tetapi justru karena kekasaran dan keliarannya.

Sementara itu Mahisa Agni memperhatikan Mahisa Bungalan dengan saksama. Ia telah dapat menghindarkan diri dan lawannya, karena prajurit-prajurit Singasari telah melindunginya. Para pengawal pilihan telah berada di seputarnya, sehingga Mahisa Agni sendiri dapat meluangkan waktu untuk memperhatikan pertempuran itu.

Sepercik kecemasan telah membayang di wajahnya. Mahisa Bungalan yang muda itu, kadang-kadang masih saja diburu oleh perasaannya yang kurang terkendali. Jika kemarahannya memuncak karena sikap kasar dan liar Empu Baladatu, maka ia akan menemui kesulitan. Dalam keadaan marah yang tidak terkendali, maka sikap dan perhitunganpun tidak terkendali pula.

Mahisa Agni sadar, bahwa Empu Baladatu tidak memperhitungkan sampai sekian jauh. Tetapi tanpa sengaja Empu Baladatu telah memancing kemarahan Mahisa Bungalan, sehingga anak muda itu akan dapat terjerumus kedalam keadaan yang gawat dan tidak berperhitungkan.

Akan tetapi Mahisa Agni tidak ingin mengganggunya dalam pemusatan ilmunya melawan pimpinan Ilmu Hitam itu.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...