*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 36-01*
Karya. : SH Mintardja
Dalam pada itu, Mahisa Bungalan sendiri menyadari, betapa berbahayanya lawannya yang berilmu hitam itu. Selain kekasaran dan keliarannya, maka pada saat-saat tertentu Empu Baladatu dapat menunjukkan sikap yang aneh dan tidak masuk akal.
Sejalan dengan ilmu hitamnya, dan segala macam usaha yang pernah dilakukan untuk mempertebal ilmunya, di antaranya mengorbankan sesama, maka Empu Baladatu yang licik itu tak segan-segan menggunakan segala macam cara untuk mengelabui lawannya. Ilmunya yang kasar dan liar itu kadang kala dapat menjerumuskan penglihatan lawannya, sehingga seakan-akan Mahisa Bungalan mengalami suatu tekanan jasmaniah yang, tidak terhingga.
Tetapi Mahisa Bungalan memiliki ketahanan jiwani yang tinggi. Dalam keadaan yang sulit, dalam keterlibatannya dalam pusaran ilmu hitam, Mahisa Bungalan selalu berpegangan pada sikap seorang kesatria yang bertandasan pada perjuangan yang jujur dan benar, melawan kejahatan dan segala sifat yang bertentangan dengan tuntutan kemanusiaan.
Karena itulah, maka ia pun seakan-akan mempunyai pandangan yang jernih terhadap kekaburan yang sengaja dibaurkan oleh Empu Baladatu berdasarkan pada ilmunya di saat-saat yang paling gawat.
Mula-mula Mahisa Bungalan tekejut ketika tiba-tiba saja di medan pertempuran itu telah meloncat seekor harimau loreng yang garang. Dengan taring yang tajam dan runcing, harimau itu siap menerkam dan merobek kulitnya.
Namun secara jiwani Mahisa Bungalan sempat mengurai penglihatannya yang tidak wajar itu. Seandainya benar-benar ada seekor harimau yang, garang, ia tentu tidak demikian tiba-tiba ada di hadapannya dan langsung siap menerkamnya dalam kekalutan itu.
Karena itu, maka Mahisa Bungalan pun menyadari, bahwa ia telah berhadapan dengan ilmu hitam yang kasar, sehingga dari kebeningan budinya, akhirnya ia dapat melihat ujud yang sebenarnya dari seekor harimau itu.
Ternyata bahwa yang dilihatnya tetap Empu Baladatu dalam ujudnya yang garang, dalam penumpahan ilmu hitamnya.
Itulah sebabnya, maka Mahisa Bungalan tetap dapat bertempur dengan mapan. Bahkan ketika di hadapannya tiba-tiba saja hadir seekor naga raksasa dengan lidahnya yang terjulur panas api, ia tidak gentar. Penglihatannya dapat mencairkan ujud itu kembali kepada bentuknya yang wajar.
Mahisa Agni yang mengikuti pertempuran itu kadang-kadang terperanjat melihat sikap Mahisa Bungalan, karena pada jarak dan keadaan yang tidak langsung berbenturan ilmu, Mahisa Agni tidak terpengaruh oleh bentuk-bentuk yang tertuang dari ilmu hitam Empu Baladatu.
Yang nampak pada Mahisa Agni hanyalah sikap dan benturan ilmu yang kadang-kadang aneh pada kedua orang yang sedang bertempur itu. Namun ketajaman rabaan batinnya, Mahisa Agni seakan-akan mengetahui dari sikap masing-masing, bahwa ilmu hitam Empu Baladatu telah dipergunakannya tidak dalam keadaan sewajarnya.
Dengan demikian, maka Empu Baladatu pun merasa, bahwa lawannya yang masih muda itu benar-benar memiliki kemampuan bukan saja secara wadag, tetapi juga secara batin, sehingga baginya, Mahisa Bungalan benar-benar merupakan dinding yang; sulit ditembus.
Dalam pada itu, selagi Singasari sibuk melawan pasukan Empu Baladaru yang kuat, baik di Kota Raja, maupun di daerah yang terpencar sehingga prajurit-prajurit Singasari pun terpecah pula, di Mahibit Linggapati sedang mempersiapkan diri.
Agaknya Linggapati bergerak lebih berhati-hati dari Empu Baladatu yang kasar. Ia dapat mengendalikan diri sehingga setiap langkahnya telah diperhitungkan dengan cermat. Kematian adiknya merupakan pelajaran yang sangat berharga baginya, bahwa ketergesa-gesaan tidak akan membawa manfaat apapun juga.
Itulah sebabnya, dengan sabar Linggapati menunggu. Ia telah menyebarkan petugas-petugas sandinya untuk melihat keadaan di Singasari. Baik di sekitar Kota Raja, maupun di daerah-daerah yang sedang bergolak.
Linggapati kadang-kadang diguncang oleh kecemasan, bahwa prajurit Singasari dengan cepat berhasil menguasai daerah yang jauh dari Kota Raja. Namun ia pun masih mempunyai pengharapan, bahwa ia pun mampu menggerakkan beberapa daerah yang jauh untuk menyerap prajurit-prajurit Singasari, sehingga kekuatan di Kota Raja menjadi sangat kecil.
Kepada petugas sandinya ia sudah memerintahkan untuk mengawasi pertempuran yang terjadi antara pasukan Empu Baladatu melawan prajurit-prajurit Singasari. Jika petempuran itu berakhir, maka keadaan keduanya tentu akan sangat parah, siapapun yang memenangkan petempuran itu.
Namun semuanya itu sudah diperhitungkan oleh pimpinan pemerintahan di Singasari. Pertempuran yang terjadi di luar dinding Kota Raja itupun memberikan gambaran yang dianggap kabur bagi Linggapati.
Sebenarnyalah bahwa Singasari telah membuat perhitungan yang cukup cermat menghadapi keadaan yang dapat datang dengan tiba-tiba. Pasukan Empu Sanggadaru yang masih belum dibebani dengan tugas-tugas berat, merupakan suatu alas pertimbangan yang sangat menguntungkan, jika terjadi sesuatu dengan orang-orang Mahibit itu.
Sementara itu pasukan Singasari di daerah-daerah terpencil telah berhasil menguasai keadaan. Mereka telah melakukan perintah pimpinan prajurit Singasari dengan cermat. Mereka tidak boleh menyebarkan dendam di antara lawan, meskipun mereka sebagian besar pernah menyadap ilmu hitam. Namun bagaimanapun juga, mereka adalah masih dilandasi oleh sifat-sifat manusiawi. Jika perasaan mereka tersentuh, maka mereka akan langsung memberikan tanggap. Baik atau buruk.
Sikap prajurit Singasari ternyata sangat mempengaruhi perasaan mereka. Tidak seorang pun di antara orang-orang berilmu hitam yang menjadi korban karena dendam. Jika mereka terbunuh di peperangan, itu memang sudah sewajarnya.
Tetapi bahwa sesudah perang selesai, maka para prajurit itu bersikap baik dan seakan-akan telah memaafkan segala kesalahan mereka, maka merekapun mulai menilai sikap mereka masing-masing.
Keadaan itulah yang tidak diperhitungkan oleh Linggapati. Bahwa prajurit Singasari kemudian menghimpun anak-anak muda yang sesat, meskipun tidak seluruhnya, sama sekali tidak diduganya.
Kelengahan itu ternyata telah memberikan gambaran yang salah pada Linggapati. Juga karena Linggapati tidak mengetahui sikap dan kedudukan Empu Sanggadaru yang kurang di kenalnya sejak kegagalannya. Linggapati menduga, bahwa ada perhitungan tersendiri antara Empu Sanggadaru dan Empu Baladatu yang akan diselesaikan oleh kedua kakak beradik yang berbeda arah hidupnya itu.
Dengan demikian, maka ketika prajurit Singasari mempersiapkan diri dan kemudian bertempur melawan pasukan Empu Baladatu yang kuat, maka persiapan berikutnya sebenarnya telah berjalan dengan diam-diam. Setiap Senapati telah mengenal tugas masing-masing dan melakukannya seperti yang tersirat dalam perintah.
Ternyata bahwa pertempuran itu berlangsung berkepanjangan. Ketika matahari kemudian turun di ujung Barat, maka kedua pasukan yang bertempur itu telah menjadi sangat telah.
Dengan demikian, maka seakan-akan seperti yang memang seharusnya dilakukan, ketika matahari kemudian turun dan tenggelam di balik cakrawala, maka pertempuran itupun temenjadi surut.
Tidak ada pertanda dan isyarat. Tetapi seakan-akan sudah seharusnya demikian. Kedua pihak yang lelah itu, tanpa dilerai, masing-masing telah bergerak semakin lamban, dan akhirnya pertempuran itu terhenti.
Pasukan Empu Baladatu telah menarik diri beberapa puluh langkah dan memasuki padukuhan di belakang medan. Sementara dengan cepat, ia memerintahkan penghubung-penghubungnya untuk memanggil setiap pimpinan kelompok untuk membicarakan keadaan medan yang sangat sulit.
Mahisa Bungalan yang sebenarnya tidak ingin melepaskan lawannya telah dicegah oleh Mahisa Agni. Bahkan Mahisa Agni telah mengirimkan beberapa orang penghubung bagian pertempuran yang lain, untuk memberi kesempatan kepada mereka beristirahat.
“Jangan memaksa diri.” berkata Mahisa Agni, “Di malam hari sudah sewajarnya kita berhenti dan beristirahat. Betapapun jiwa kita bergejolak, tetapi jasmaniah kita sangat terbatas kekuatannya.”
Mahisa Bungalan tidak memaksa. Ia pun kemudian melepaskan lawannya dan seperti yang dikehendaki oleh Mahisa Agni, maka pasukannyapun telah beristirahat.
Tetapi tidak semua orang sempat beristirahat. Ada beberapa orang yang justru masih tetap sibuk menyalakan api dan mulai menanak nasi dan mempersiapkan makan bagi para prajurit.
Seperti juga prajurit Singasari, maka para pengikut Empu Baladatu pun melakukan hal yang serupa. Mereka segera memasuki setiap rumah. Mereka mengambil persediaan apa yang dapat mereka pergunakan sebagai bahan makanan. Jika mereka menemukan kambing, ayam atau binatang peliharaan apa pun juga, maka daginya akan menjadi lauk bagi para pengikut Empu Baladatu.
Beberapa padukuhan menjadi sibuk. Namun prajurit Singasari telah menempatkan diri pada kelompok-kelompok kecil seperti saat mereka belum mulai terjun ke arena pertempuran.
Dengan demikian, maka kedudukan Empu Baladatu seolah-olah telah dilingkari dan terkepung oleh prajurit Singasari. Sementara itu dua orang penghubung telah menyampaikan pesan kedudukan dari kedua belah pihak kepada Empu Sanggadaru.
“Mereka telah memperkuat kedudukan mereka di padukuhan-padukuhan yang berdekatan.” sahut penghubung itu.
“Mungkin sekali pada ujung malam ini tidak ada tanda atau kesan bahwa mereka akan meninggalkan arena. Tetapi itu belum menjamin bahwa mereka akan bertahan sampai matahari terbit esok pagi.”
Penghubung itu termangu-mangu. Namun Empu Sanggadaru berkata, “Sampaikan pesan ini kepada Senopati Besar Mahisa Agni. Seluruh pasukan harus tetap bersiaga.”
Kedua penghubung itu mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka menjawab, “Tetapi nampak perapian di padukuhan yang mereka pergunakan.”
Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Ia akan memberikan kesan sebaliknya dari apa yang akan dilakukannya.”
Penghubung itu mengerti. Karena itu maka ia pun kemudian kembali dan menyampaikan pesan Empu Sanggadaru kepada Mahisa Agni.
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Ia memang tidak dapat mempercayai tanda-tanda yang nampak pada gelar Empu Baladatu, karena mungkin yang dilakukan sangat berbeda dengan tanda-tanda dan kesan yang nampak.
Itulah sebabnya, maka Mahisa Agni telah meneruskan pesan Empu Sanggadaru kepada para Senapati dan pemimpin kelompok agar mereka tetap bersiaga untuk bertindak sesuatu jika perlu.
Dalam pada itu. Empu Baladatu telah berkumpul dengan para pemimpin kelompok di induk dan di sayap pasukannya. Mereka memberikan laporan dan gambaran tentang segala yang terjadi di lingkungan masing-masing.
Empu Baladatu melihat suasana yang suram pada pasukannya. Ternyata perhitungannya telah salah. Para pengamat dan petugas sandi, ternyata tidak memberikan gambaran yang sebenarnya dari keadaan prajurit Singasari. Empu Baladatu pun telah mendapat laporan bahwa sekelompok kecil pengikut yang mendahului memasuki gerbang, tetapi mereka tidak pernah keluar kembali.
Betapa kemarahan meluap di hati Empu Baladatu. namun ia tetap sadar, tidak ada gunanya lagi ia mencari siapakah yang bersalah. Pertentangan dan apalagi pertengkaran di antara mereka justru hanya akan memperlemah kedudukan mereka di hadapan prajurit Singasari.
Dalam pada itu, Empu Baladatu sempat melihat dalam keseluruhan berdasarkan atas laporan para pemimpin di induk dan sayap pasukannya, bahwa harapan untuk dapat menembus pertahanan prajurit Singasari akan sangat tipis.
“Mereka seolah-olah telah tumbuh dari dalam tanah “ berkata seorang petugas sandi, “Sebelumnya kami tidak pernah melihat dan membahayakan, bahwa prajurit Singasari masih cukup banyak sehingga mereka berhasil bertahan dan bahkan memberikan tekanan yang cukup berat kepada kita.”
“Itu adalah suatu kelicikan.” geram Empu Baladatu, “Jika bukan para petugas sandi yang terlalu bodoh, maka prajurit Singasari terlalu cerdik dengan menyamar sebagai orang kebanyakan yang hidup di padukuhan-padukuhan. Sebagaian dari penghuni yang sebenarnya justru telah mereka ungsikan dan mereka masukkan dalam barak-barak di dalam Kota Raja Sementara padukuhan yang mereka tinggalkan, telah menjadi daerah pertahanan yang tersamar dan kuat.”
Para pengikutnya pun merasa bahwa kesalahan para pengamatan dan petugas sandilah yang sebenarnya telah membuat seluruh pasukannya yang besar dan kuat itu mengalami kesulitan.
Tetapi seperti Empu Baladatu, mereka masih berusaha untuk menghindari pertentangan di antara mereka sendiri.
“Sekarang, kita harus mengambil sikap. Seperti keadaan lawan yang tidak kita duga sebelumnya, maka kitapun dapat mengambil sikap yang tidak kita gambaran sebelumnya pula.”
Para pemimpin di dalam pasukan Empu Baladatu mulai menebak, apakah yang akan dilakukan oleh Empu Baladatu. Namun yang hampir sama terbayang di dalam angan-angan masing masing, adalah kesulitan yang tidak teratasi bila besok mereka harus terjun kembali ke arena petempuran yang dahsyat.
“Kita harus mencari jalan.” desis Empu Baladatu.
“Maksud Empu?” bertanya beberapa orang.
Empu Baladatu termangu-mangu. Ia nampak ragu-ragu. Sementara para pengikutnya mulai menebak-menebak.
“Katakanlah dengan jujur.” berkata Empu Baladatu, “Apakah masih ada keberanian di antara kita?”
Beberapa orang di antara mereka menjadi heran. Apakah sebenarnya yang dimaksudkannya. Semula mereka menyangka bahwa jalan keluar dari kesulitan itu adalah menghindar dari pertempuran dan menarik diri selagi malam masih gelap. Tetapi agaknya Empu Baladatu bermaksud lain.
“Katakanlah.” Empu Baladatu mengulangi, “Apakah kalian benar-benar telah meletakkan cita-cita yang luhur itu di atas hidup kalian sendiri?”
“Ya.” tiba-tiba seorang yang bertubuh raksasa menjawab, “Kami telah berniat untuk berjuang merubah tata pemerintahan Singasari. Karena itu. apapun yang akan terjadi akan kita lakukan.”
“Bagus.” berkata Empu Baladatu, “Kita sudah berada di dalam lingkaran maut. Seharusnya hari ini kita sudah berada di dalam istana Singasari dan menguasai tahta. Tetapi yang terjadi agak berbeda. Sementara kita harus sadar bahwa kita telah terkepung.”
“Jadi apa maksud Empu yang sebenarnya?” bertanya seorang yang bertubuh kecil meskipun agak tinggi.
“Kita harus mempercepat penyelesaian agar kita tidak terlalu lama tersiksa. Jika kita berhasil, biarlah cepat berhasil, jika kita gagal, biarlah kita cepat mengetahui bahwa kita akan binasa.”
Terasa sesuatu bergejolak di hati pengikut-pengikutnya. Mereka pun sadar, bahwa jalan untuk menghindari pertempuran berikutnyapun tentu sudah tertutup.
“Kita harus berbuat sesuatu yang tidak mereka perhitungkan, seperti juga kita telah terjebak ke dalam lingkaran maut seperti ini.”
Sementara itu, para pemimpin prajurit Singasari dan pasukan Empu Sanggadaru pun tidak melepaskan pengawasannya atas daerah di sekitarnya. Mereka mempunyai dugaan yang kuat, bahwa Empu Baladatu akan mempergunakan malam itu untuk melarikan diri bersama pasukannya.
“Jika mereka melarikan diri, maka kita akan menghancurkannya.” berkata para Senapati.
Karena itulah maka beberapa orang di antara prajurit Singasari telah menyiapkan obor minyak dan biji jarak. Jika mereka terpaksa bertempur di malam hari, maka mereka mempunyai alat penerangan yang akan dapat membantu pengamatan di medan.
Sementara itu, beberapa orang petugas khusus telah dengan cepat bekerja menyiapkan makan bagi para prajurit. Hampir di setiap padukuhan terdapat perapian.
Seperti juga di padukuhan-padukuhan yang dipergunakan oleh pasukan Empu Baladatu. Beberapa orang dari merekapun telah menyiapkan makan. Beberapa ekor kambing, bahkan lembu telah dipotong. Mereka harus makan sebelum mereka melakukan apa saja di malam itu.
Empu Baladatu masih membuat perhitungan dengan para pembantunya. Mereka harus mempergunakan malam itu sebaik-baiknya.
“Tetapi kita tidak akan lari.” tiba-tiba saja Empu Baladatu berteriak.
Beberapa orang pemimpin kelompok memandangnya dengan ragu-ragu. Namun kemudian teriak mereka hampir berbareng, “Ya kita tidak akan lari.”
“Baik.” berkata Empu Baladalu dengan lantang, “Kita akan merayap ke pintu gerbang. Kita akan memasuki pintu gerbang itu di malam hari dan menghancurkan semua isi. Kita bakar istana Singasari dan kita bunuh semua orang yang, kita jumpai. Tentu saja yang pertama-tama harus mati adalah Ranggawuni, Mahisa Cempaka dan Mahisa Agni.”
Wajah-wajah yang sedang mengadakan pembicaraan itu menjadi tegang. Kata Empu Baladatu ternyata telah membakar hati mereka. Karena itu, dada merekapun telah bergejolak, seolah-olah mereka tidak sabar lagi menunda rencana itu.
Tetapi Empu Baladatu masih dapat memperhitungkan keadaan dengan baik. Katanya, “Biarlah kita beristirahat barang sejenak. Kita menunggu makan bagi kita masak. Baru setelah tenaga kita pulih kembali, kita akan menyergap gerbang itu, sementara lawan menjadi lengah, karena mereka tentu mengira. bahwa kita menunggu dini hari. Tetapi kita akan bergerak justru sebelum tengah malam.”
Para pemimpin kelompok itupun segera kembali ke pasukan masing-masing. Mereka membiarkan oranganya beristirahat, kecuali yang bertugas mengawasi keadaan berganti-gantian.
Ketika makanan mulai masak, maka mereka seolah-olah telah berebutan untuk mendapatkan bagian masing-masing, karena mereka benaar-benar sudah diganggu oleh perasaan lapar.
Tetapi ternyata bahwa makanan yang tersedia cukup banyak bagi mereka. Kawan-kawan mereka yang menyediakan makanan sama sekali tidak memperhitungkan kemungkinan yang lebih panjang. Mereka menganggap bahwa dalam sehari besok, pertempuran tentu akan berakhir. Jika pertempuran tertunda lagi karena malam turun, maka mereka akan mulai kesulitan untuk mendapatkan bahan makanan di padukuhan-padukuhan itu.
Tetapi di sawah di sekitar padukuhan itu, terdapat beberapa kolak tanaman jagung yang sudah berbuah di beberapa bagian dari kebun-kebun di padukuhan terdapat pula tanaman sebangsa ubi dan ketela, sehingga jika terpaksa, semuanya itu merupakan bahan makanan yang mencukupi kebutuhan.
Namun sebenarnyalah bahwa Empu Baladatu sendiri tidak akan memikirkan hari esok dan apalagi malam esok. Ia sedang, disibukkan oleh rencananya untuk memasuki pintu gerbang dengan diam-diam.
Rencana Empu Baladatu memang tidak terduga sama sekali. Para pengawas memperhitungkan arah yang akan dilalui Empu Baladatu jika pasukannya di bawanya melarikan diri, sehingga karena itu kesiagaan tertinggi pada pasukan Singasari justru pada arah yang lain dari arah pintu gerbang Kota Raja.
Setelah semua orang-orangnya selesai makan dan beristirahat sejenak, maka Empu Baladatu telah memanggil para pemimpin kelompoknya sekali lagi. Mereka diperintahkannya untuk mengikuti induk pasukan dalam urutan yang panjang untuk menyusup sela sela padukuhan yang dipergunakan oleh prajurit Singasari dan menghindari pengawasan.
“Kita akan benar-benar merangkak di sepanjang pematang yang panjang.” berkata Empu Baladatu, “Sementara kita akan muncul dekat dengan pintu gerbang itu.”
Para pemimpin kelompok mengangguk-angguk. Mereka menyadari bahwa perjuangan akan menjadi semakin berat. Meskipun menurut perhitungan mereka, pasukan Singasari semuanya telah dikerahkan untuk menahan arus serangan pasukan Empu Baladatu, tetapi di Kota raja itu tentu masih ada beberapa bagian dari prajurit-prajurit Singasari itu.
“Mereka akan bertahan.” berkata Empu Baladatu, “Sementara pasukan yang ada diluar akan ditarik. Karena itu, maka sebagian kecil dari kita akan mengganggu mereka dengan serangan di bagian lain dari arah kita yang sebenarnya.”
Para pemimpin kelompok itu mengerutkan keningnya, tugas bagi kelompok yang, diumpankan itu tentu sengat berat. Tetapi Empu Baladatu melanjutkan, “Bagi mereka aku berikan ijin untuk meninggalkan arena jika tekanan memang tidak dapat dibendung lagi, sementara kami sudah memasuki pintu gerbang. Mereka harus segera menyusul jika kesempatan telah terbuka. Melalui pintu gerbang atau memanjat dinding menurut kemampuan mereka.”
Demikianlah, maka rencana Empu Baladatu itu menjadi matang. Mereka segera membagi tugas. Tidak ada isyarat yang akan diberikan dari induk pasukan. Semua harus berjalan menurut waktu yang hanya dapat saling diperkirkan.
Demikian kalian sampai dipasukan masing-masing. maka rencana ini akan segera dimulai. “Aku akan segera berangkat bersama pasukan yang ada di sini. Sementara yang lain akan menyusul lewat padukuhan ini pula. Aku akan meninggalkan beberapa orang penghubung jika saatnya aku berangkat, pasukan-pasukan yang lain belum ada di padukuhan ini. Tetapi ingat. Berhati-hatilah, sampai saatnya kita akan menghancurkan pintu gerbang.”
Maka kemudian para pemimpin kelompok itu kembali ke padukuhan masing-masing, maka Empu Baladatu pun mulai mengatur pasukannya. Mereka akan menyusur pematang, di jarak yang tidak terjangkau penglihatan prajurit-prajurit Singasari. Jika perlu mereka akan merangkak dalam arti yang sebenarnya.
“Marilah.” berkata Empu Baladatu, “Kita akan mendahului. Yang lain tentu akan segera tiba. Mereka akan segera mengikuti jalan yang kita tempuh.”
Seperti yang diperhitungkan Empu Baladatu, maka pada saat itu, beberapa kelompok pasukannya yang terpisah, telah merayap mendekati padukuhannya untuk ikut serta menyerang pintu gerbang sementara beberapa kelompok yang lain, akan menempuh jalan seolah-olah pasukan itu akan melarikan diri.
Semuanya berjalan seperti yang direncanakan. Tidak ada perintah dan isyarat yang diberikan, agar tidak memberikan isyarat pula kepada para prajurit Singasari.
Namun dalam pada itu, terjadi pula pergeseran pada prajurit Singasari. Ternyata pada malam itu, Ranggawuni dan Mahisa Cempaka tidak berada di padukuhan para prajurit. Atas desakan Mahisa Agni, keduanya telah memasuki pintu gerbang Kota Raja bersama pengawalnya.
“Jika besok tuanku ingin turun kembali ke medan, biarlah hamba mengikuti lagi. Tetapi malam ini tuanku berdua tidak perlu berada di padukan itu. Biarlah para prajurit berjaga-jaga dan mengawasi setiap gerakan Empu Baladatu, karena kemungkinan terbesar mereka akan menarik pasukannya dan menghilang. Dalam keadaan yang demikian, tuanku berdua tidak perlu ikut serta dalam pertempuran meskipun tuanku berdua adalah prajurit Singasari.” berkata Mahisa Agni.
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka sebenarnya segan untuk meninggalkan medan. Mereka merasa dirinya satu dengan prajurit Singasari yang lain. Namun mereka pun harus menyadari kedudukan mereka sebagai pimpinan tertinggi dan pengikut seluruh Singasari, sehingga akhirnya mereka pun dapat menerima permintaan Mahisa Agni, agar mereka berdua kembali memasuki Kota Raja.
Ketika Empu Baladatu merayap mendekati pintu gerbang di dinding Kota Raja, maka Ranggawuni dan Mahisa Cempaka telah berdua di dalam istana. Para pengawal telah menyebar di halaman istana dan bersiaga menghadapi segala kemungkinan.
Dalam pada itu, para prajurit yang berada di dalam lingkaran dinding Kota Raja telah menjadi semakin berhati-hati pada saat Ranggawuni dan Mahisa Cempaka sudah berada di dalam istana. Dalam kemelut yang gawat itu, para prajurit menjadi semakin tekun pada tugasnya. Meskipun para prajurit itu tidak menyangka bahwa akan darang pasukan Empu Baladatu menyerang, namun kemungkinan-kemungkinan yang berbahaya memang dapat terjadi.
Itulah sebabnya, maka para prajurit yang ada di dalam batas dinding kota Raja selalu bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Di segala sudut dan jalan-jalan simpang, nampak para prajurit yang meronda.
Namun demikian, jumlah prajurit yang ada di dalam batas dinding Kota Raja memang tidak terlalu banyak, sehingga perhitungan Empu Baladatu untuk menghancurkan prajurit-prajurit di dalam dinding Kola Raja itu merupakan rencana yang sangat berbahaya bagi Singasari.
Dalam pada itu, Empu Baladatu sudah merayap semakin dekat dengan pintu gerbang. Dengan pasukannya, ia benar-benar telah merangkak di antara batang-batang padi dan jagung. Jika pematang itu harus menyilang jalan, maka Empu Baladatu telah berusaha untuk menghapuskan kemungkinan dapat dilihat oleh para pengawas dan para peronda.
“Jangan terpancang pada pintu.” ia berbisik kepada pengawalnya, “Jika perlu kita akan meloncati dinding. Jika sebagian dari kita sudah berada di dalam, maka pintu itu akan dapat kita buka. Dengan demikian maka kita akan dapat segera memasukinya.”
Para pengawalnya pun mengangguk. Mereka mengerti apa yang harus mereka lakukan.
Sejenak kemudian, maka Empu Baladatu dan para pengikutnya telah berada di hadapan pintu gerbang, meskipun masih belum terlalu dekat tetapi rencana mereka nampaknya akan berjalan dengan lancar.
Agaknya para prajurit Singasari menganggap bahwa Empu Baladatu benar-benar akan menunggu sampai besok, atau akan melarikan diri karena pengawasan yang paling ketat adalah justru pada arah yang memungkinkannya menghilang di malam itu.
Sementara itu. beberapa kelompok pasukan Empu Baladatu yang harus memancing perhatian para prajurit pun telah bergerak pula. Mereka berjalan melalui jalan memanjang di tengah-tengah bulak tanpa berusaha untuk menghindari pengamatan. Justru mereka berharap, bahwa para peronda akan dapat melihat mereka dan memusatkan perhatian mereka kepada kelompok itu.
Untuk beberapa saat kelompok itu berjalan tanpa terjadi sesuatu, sebelum mereka mendekati sebuah padukuhan kecil.
Tetapi para pengawas dari Singasari segera dapat melihat kelompok itu, karena arah itulah yang paling banyak mendapat pengawasan.
Para pengawas itu tidak bertindak dengan tergesa-gesa. Mereka sempat mengamati, berapa besar pasukan yang akan lewat, sehingga laporannya tidak menumbuhkan salah hitung dan menimbulkan tindakan yang merugikan.
Baru setelah mereka dapat mengira-ngirakan jumlah itu, dua orang pengawas segera melaporkan diri kepada induk pasukan, sementara yang lain tetap di tempatnya untuk mengawasi perkembangan keadaan.
Laporan itu menimbulkan teka teki pada pimpinan pasukan Singasari. Jika Empu Baladatu ingin menarik diri, maka tentu tidak hanya beberapa kelompok pasukannya saja. Prajurit Singasari setelah bertempur sehari penuh dapat memperhitungkan jumlah kekuatan lawan.
“Dimanakah pasukan Empu Baladatu yang lain?” pertanyaan itu timbul di antara para Senapati.
“Baiklah.” berkata Panglima pasukan Singasari, “Kita akan bertindak atas beberapa kelompok itu sesuai dengan imbangan kekuatan.”
“Kirimkan pasukan di sayap kanan.” berkata Mahisa Bungalan.
“Paman Lembu Ampal dengan pasukannya sudah cukup untuk menahan beberapa kelompok pasukan Empu Baladatu dan menggiringnya kembali ketempatnya. Jika keadaan berkembang, dan jumlah mereka bertambah, maka pasukan yang lain dari padukuhan yang lain akan ikut bertindak.” sahut Panglima pasukan Singasari.
“Jika itu suatu kebutuhan, maka perintahmu ditunggu.” berkata Mahisa Bungalan kemudian.
Panglima itupun kemudian mengirimkan perintah kepada pasukan yang dipimpin oleh Lembu Ampal. Panglima yang merasa dirinya masih berada di bawah pedukuhan Lembu Ampal itu masih harus mempergunakan cara yang khusus untuk menyampaikan perintahnya.
“Tetapi kau adalah Panglima.” desak Manisa Bungalan.
Namun demikian Panglima yang masih lebih muda, baik umurnya, maupun pengalamannya itu telah menyampaikaa laporan kepada Lembu Ampal dan menyampaikan permintaan untuk dipertimbangkan, bahwa pasukannya dipersilahkan untuk menahan gerakan mundur itu.
Lembu Ampal adalah seorang prajurit. Meskipun ia merasa mempunyai kelebihan, tetapi perintah itupun sudah benar menurut urutan kepemimpinan. Justru kehadirannya, di dalam kelompoknya adalah karena keadaan yang gawat sehingga segala kekuatan yang ada di Singasari perlu dikerahkan.
Karena itulah, maka Lembu Ampal pun segera memerintakkan pasukannya untuk bersiap.
“Kita akan menyerang gerakan mundur dari sebagian pasukan Empu Baladatu.” berkata Lembu Ampal kepada pasukannya, “Kita tidak tahu, apakah yang sudah terjadi, sehingga hanya sebagian saja dari pasukannya yang bergerak. Mungkin mereka sekedar mencari jalan untuk pasukan induknya, atau mereka memang memecah pasukan mereka dalan kesatuana kecil sehingga akan memudahkan usaha mereka meloloskan diri, atau perhitungan- perhitungan yang lain. Namun ternyata yang kita hadapi adalah suatu kenyataan bahwa pasukan yang bergerak itu hanyalah sebagian saja.”
Prajurit-prajurit dalam pasukan Lembu Ampal itu mengangguk angguk. Mereka mengerti bahwa keadaan masih belum jelas, sehingga mungkin akan timbul persoalan-persoalan baru dalam pertempuran yang bakal pecah.
Demikianlah maka pasukan Singasari itu mulai bergerak. Mereka memotong jalan yang akan dilewati oleh pasukan Empu Baladatu. Tugas mereka adalah mencegah usaha melarikan diri dan memaksa mereka kembali ke dalam kepungan pasukan Singasari di luar pintu gerbang Kota Raja.
Ketika tiba-tiba saja muncul pasukan di hadapannya, maka pasukan Empu Baladatu merasa bahwa tugas mereka berhasil. Mereka telah menarik perhatian prajurit Singasari sehingga sebagian dari pasukannya telah memotong jalan yang akan mereka lalui.
Namun ketika kemudian pertempuran pecah, pemimpin pasukan Empu Baladatu menjadi gelisah. Ia sadar, bahwa pasukan Singasari yang ada di hadapan mereka, bukannya sebagian besar dari segenap kekuatannya. Tetapi hanyalah sebagian kecil sesuai dengan kekuatan pasukannya yang akan memancing perhatian itu.
“Gila.” geram pemimpin pasukan kecil Empu Baladatu itu, “Ternyata prajurit Singasari cukup cermat. Tetapi mudah-mudahan yang lain masih tetap di tempat masing-masing.”
Dalam pada itu. Panglima prajurit Singasari telah memperhitungkan keadaan dengan para Senapati dan Mahisa Bungalan. Bahwa sebagian dari pasukan Empu Baladatu telah menarik diri adalah suatu peristiwa yang aneh.
“Seharusnya, seluruh pasukan itu akan bergerak meskipun lewat jalan yang berbeda. Tetapi sampai saat ini, kami tidak mendapat laporan lain dari para pengawas.” berkata Panglima pasukan Singasari itu.
Mahisa Bungalan meng-angguk-angguk. Tetapi ia pun merasakan suatu keanehan. Nalurinya sebagai seorang prajurit telah memberinya peringatan, bahwa ada gerakan lawan yang tidak diperhitungkan sebelumnya.
“Kita lihat perkemahan mereka.” tiba-tiba saja Mahisa Bungalan berdesis.
Beberapa orang perwira yang ada di dalam pasukannya tiba-tiba saja menyadari, bahwa kemungkinan yang sama sekali tidak diperhitungkan itu memang dapat terjadi.
Karena itu, maka beberapa orang di antara merekapun menyahut, “Ya. Kita akan melihat perkemahan mereka.”
“Aku akan pergi. Aku hanya memerlukan seorang kawan.” gumam Mahisa Bungalan.
Senapati, yang memimpin pasukan Singasari di induk pasukan itupun kemudian menyahut, “Aku akan pergi bersamamu.”
“Kau Panglima yang harus berada di antara prajurit-prajurit mu.” sahut Mahisa Bungalan.
Tetapi Senapati itu menjawab, “Ini adalah keputusan Panglima.”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Kita akan pergi keperkemahan induk pasukan Empu Baladatu.”
Setelah menyerahkan pimpinan seluruh medan kepada perwira bawahannya, maka Senapati itupun meninggalkan padukuhan pergi ke perkemahan pasukan lawan yang berada di padukuhan yang tidak terlalu jauh. Dengan hati-hati keduanya mendekati dinding padukuhan dengan terbungkuk-bungkuk di sela-sela gerumbul-gerumbul yang tumbuh di pinggir jalan.
“Masih nampak obor-obor yang terpasang.” berkata Senapati itu di telinga Mahisa Bungalan.
Mahisa Bungalan mengangguk. Jawabnya berdesis, “Kita akan memasuki padukuhan itu. Mungkin kita akan mendapatkan beberapa keterangan penting.”
Senapati itu tidak menjawab. Keduanya berjalan semakin dekat dengan sangat berhati-hati.
Keduanya menjadi berdebar-debar ketika mereka mulai merasakan kesenyapan yang mencengkam. Meskipun obor masih menyala, namun mereka tidak melihat, sesosok tubuhpun yang ada di depan pintu gerbang.
“Apakah mereka semuanya berada di dalam dinding padukuhan?” bertanya Mahisa Bungalan lirih.
“Kita akan meloncat masuk.”
Mahisa Bungalan termangu-mangu. Namun kemudian keduanya sepakat untuk memasuki padukuhan itu.
Demikian mereka meloncat memasuki dinding padukuhan, maka debar jantung mereka serasa menjadi semakin cepat berdetak. Mereka segera menyadari, bahwa padukuhan itu memang sudah kosong.
Meskipun mereka tidak meninggalkan kewaspadaan, namun mereka seakan-akan dengan tergesa-gesa mendekati rumah-rumah yang ada di padukuhan itu.
Ternyata sama sekali tidak seorangpun yang tinggal. Kecuali penduduknya yang telah mengungsi sebelumnya, maka padukuhan itu memang dianggap sebagai daerah yang akan menjadi ajang pertempuran.
Dari penelitian Mahisa Bungalan dan Senapati itu, mereka dapat melihat, bekas-bekas lumbung dan kandang yang rusak. Agaknya orang-orang Empu Baladatu telah membongkar semua sisa milik penghuni padukuhan itu yang tertinggal, termasuk ternak dan binatang-binatang peliharaan yang lebih kecil, seperti ayam, itik dan angsa, disamping bahan makanan.
“Mereka telah pergi. Ternyata sekelompok pasukan yang dilaporkan itu sengaja memancing perhatian.”
“Tetapi pengawasan sangat ketat, sehingga sulit bagi pasukan yang besar itu meninggalkan padukuhan ini tanpa diketahui.”
“Dimanakah pengawas-pengawas itu berada.” bertanya Mahisa Bungalan.
Senapati itu heran. Mahisa Bungalan sudah mengetahui dimana para pengawas itu tersebar. Namun ia pun menjawab, “Di sepanjang garis arah pasukan ini jika mereka mengundurkan diri.”
“Nah, bagaimana jika arahnya justru berlawanan.”
“Maksudmu?”
“Tidak melarikan diri. Tetapi justru ke arah yang berlawanan.”
“Maksudmu?” Senapati itu terbelalak.
“Mereka menyerang Kota Raja di malam ini.” Tiba-tiba saja terasa keringat dingin mengalir di punggung Senapati itu. Dengan serta metta ia berkata, “Kita akan melihat, apakah benar dugaanmu.”
Senapati itu tidak menunggu lagi. Ia pun kemudian berlari-lari menuju ke pintu gerbang.
“Jika benar dugaanmu, mereka tentu tidak akan berjalan melalui jalan. Tetapi mereka akan memotong arah, lewat pematang dan berlindung di balik tanaman-tanaman.”
Betapa darah mereka terasa tersirap ketika mereka berhasil menemukan arah gerak pasukan Empu Baladatu. Mereka memang melihat, batang-batang jagung yang berserakan. Agaknya pasukan Empu Baladatu lelah menyusub lewat beberapa pematang yang sejalan menuju ke gerbang Kota Raja.
Tubuh kedua orang itu bagaikan gemetar. Dengan suara yang tersendat-sendat Senapati itu berkata, “Pasukan di dalam pintu gerbang Kota Raja itu sangat lemah. Jika benar mereka menyerang, maka keadaan tentu akan sangat gawat.”
“Kita dapat meyakininya. Mereka telah menyerang Kota Raja.”
Sesaat keduanya memandang arah Kota Raja yang tidak terlalu jauh. Namun kemudian Mahisa Bungalan berkata lantang, “Kita akan menyusul dengan seluruh pasukan.”
“Bagus.” sahut Senapati itu hampir berteriak.
Keduanya kemudian berlari-lari kembali ke induk pasukan. Mereka harus bergerak cepat, jika masih ada kesempatan.
Kedatangan keduanya disongsong oleh para perwira dengan hati yang berdebar-debar. Sebelum mereka bertanya, Senapati itu sudah meneriakkan perintah, “Semua orang disiapkan. Kita akan menyusul pasukan Empu Baladatu yang menyerang Kota Raja.”
“He?” para perwira terkejut.
“Tidak ada waktu untuk memberikan penjelasan sekarang. Semuanya harus bersiap dalam waktu dekat. Seluruh pasukan induk akan berangkat.”
Para perwira tidak bertanya lagi. Mereka segera pergi ke kelompok masing-masing. Sepeti yang diperintahkan, maka kelompok-kelompok itupun segera dipersiapkan.
Ketika sebuah isyarat berbunyi, maka prajurit Singasari itupun segera berangkat menuju ke pintu gerbang Kota Raja, sementara beberapa penghubung harus menyampaikan perintah Senapati itu kepada pasukan-pasukan yang berada di padukuhan lain.
Sebagian dari mereka harus mengawasi keadaan di seluruh arena dan mengambil sikap dalam keadaan yang mendesak, sementara sebagian harus menyusul memasuki pintu gerbang Kota Raja.
“Jika pintu tertutup oleh pasukan, maka mereka di perintahkan mencari jalan lain.” perintah Senapati itu.
Pemberitahuan yang serupa telah dikirim pula kepada Empu Sanggadaru agar ia mengetahui keadaan dalam keseluruhan.
Induk pasukan yang dipimpin langsung oleh Panglima pasukan Singasari beserta Mahisa Bungalan itu pun dengan tergesa-gesa menuju ke pintu gerbang. Mereka mulai membayangkan kesulitan yang dialami oleh para prajurit yang tidak begitu banyak, yang ada di dalam dinding yang melingkari Kota Raja.
Sebenarnya bahwa pada saat itu pasukan Empu Baladatu sudah memecahkan pintu gerbang. Dengan penuh dendam mereka bertekad untuk menghancurkan apa saja yang mereka jumpai, termasuk pintu gerbang itu sendiri.
Prajurit yang bertugas di Kota Raja tekejut ketika penjaga pintu gerbang memberikan tanda bahaya yang mendatang. Disusul oleh gema kentongan yang menjalar dari satu gardu ke gardu yang lain.
Namun suara kentongan itu tidak cukup keras untuk mencapai arena pertempuran yang terjadi di luar pintu gerbang Kota Raja.
“Kirim seorang penghubung kepada pasukan yang berada diluar Kota Raja.” teriak seorang perwira yang bertugas di dalam pintu gerbang.
“Jalan telah tertutup.” teriak prajurit yang berada di atas pintu gerbang.
“Cari jalan lain. Lewat pintu butulan.”
“Dinding ini sudah dikepung. Pintu-pintu butulan telah di jaga di luar.”
“Loncati dinding.”
Para prajurit termangu-mangu. Mereka tidak akan dapat meloncati begitu saja. Para prajurit yang berada di atas pintu gerbang melihat, bahwa jika seseorang meloncat dari dalam, akan langsung terjun pada ujung tombak pasukan Empu Baladatu.
Dalam pada itu, Empu Baladatu memang memberikan perintah, bahwa tidak seorangpun boleh lolos. Orang-orang di dalam Kota Raja tidak boleh mendapat kesempatan untuk memberikan isyarat berupa apapun kepada induk pasukannya yang berada di luar Kota Raja.
“Bunuh setiap orang yang keluar. Suara kentongan dan panah sendaren tidak akan mencapai mereka. Juga panah api yang akan mereka lontarkan, tidak akan terlihat oleh pasukan Singasari. Itulah kebodohan mereka, karena mereka menganggap bahwa kita tidak akan melakukan hal seperti ini.”
Karena itu, maka kemungkinan untuk mengirimkan seorang penghubung telah tertutup sama sekali. Yang dapat dilakukan oleh para prajurit itupun kemudian adalah berjuang mati-matian untuk menahan, agar para pengikut Empu Baladatu itu tidak dapat memasuki gerbang dan dinding Kota Raja lewat manapun juga.
Prajurit yang jumlahnya sangat terbatas segera memencar. Tetapi sebagian dari mereka berada di depan pintu gerbang. Jika pintu gerbang itu pecah, maka akan terjadi pertempuran yang sangat mengerikan di dalam pintu gerbang itu, sementara beberapa orang yang lain telah memanjat dinding dan menahan lawan dengan panah yang bagaikan hujan meluncur dengan derasnya.
Dengan perisai, para pengikut Empu Baladatu telah melindungi kawan-kawannya yang berusaha memecahkan pintu gerbang. Mereka mengangkat sebatang kayu yang panjang. Dengan serta merta beberapa puluh orang yang mengangkat kayu itupun berlari-lari menghantam pintu gerbang itu dengan pangkal batang kayunya.
Tetapi semakin dekat dengan pintu gerbang, kekuatan mereka menjadi semakin berkurang. Anak panah yang bagaikan hujan itu telah mengurangi seorang demi seorang yang harus tercecer jatuh karena anak panah yang menembus dadanya.
Namun beberapa kali batang kayu itu berhasil menggetarkan pintu gerbang, sehingga selarak yang besar itupun menjadi retak.
“Sebentar lagi pintu akan pecah.” teriak Empu Baladatu.
Teriakan Empu Baladatu telah mendorong, anak buahnya untuk bekerja lebih keras. Jika seseorang jatuh karena anak panah para prajurit, maka yang lainpun segera menggantikannya mendorong kayu yang, panjang untuk nvenghantam-pintu gerbang itu.
Hati para prajurit Singasari menjadi semakin berdebar-debar sejalan dengan retak yang semakin besar pada selarak pintu gerbang itu. Beberapa orang telah menempatkan diri di hadapan pintu itu dengan anak panah siap di busurnya. Sementara yang lain telah mengangkat tombaknya, siap untuk dilemparkannya.
Dalam pada itu, seisi Kota Raja bagaikan tengah dipanggang di atas api. Setiap orang menjadi gelisah. Tetapi sementara itu, setiap laki-laki telah siap dengan senjata di tangan. Bukan saja mereka yang berpakaian prajurit Singasari, tetapi anak-anak muda, dan bahkan anak-anak yang masih sangat mudapun telah menggenggam pedang. Bagi mereka tidak mempunyai pilihan lain daripada turun kemedan perang, karena menurut perhitungan mereka, jika orang-orang yang mengepung, dinding Kota Raja itu berhasil masuk dan menguasainya, maka setiap laki-laki juga akan terbunuh karena keganasan mereka.
Beberapa orang prajurit sibuk mengatur anak-anak muda itu agar mereka bukan sekedar menjadi umpan peperangan. Tetapi anak-anak muda itu akan dibaurkan di antara para prajurit, sehingga mereka akan dapat menempatkan diri dalam perlawanan di antara orang-orang yang, memiliki kemampuan bertempur. Dengan demikian, mereka tidak hanya sekedar bagaikan daun ilalang yang ditebas dengan pedang yang tajam.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar