Selasa, 02 Februari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 35-02

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 35-02*

Karya.   : SH Mintardja

“Sementara memang memerlukan perhatian.” berkata Empu Sanggadaru, “Kami telah mencoba untuk mengikuti setiap perkembangan. Tetapi kami di padepokan kecil ini tidak banyak mengetahui apa yang terjadi. Tapi agaknya adikku itu kembali telah menimbulkan kegemparan yang lebih merata lagi.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Empu. Agaknya Empu sudah mengetahui beberapa hal tentang kekalutan yang terjadi. Ternyata bahwa Singasari akan mengalami kesulitan jika Singasari hanya menumpukan kekuatannya pada prajurit-prajuritnya saja.”

Empu Sanggadaru tersenyum. Ia justru meneruskan, “Karena itu maka rakyat Singasari pun berkewajiban untuk ikut serta membantu dan bersama-sama dengan para prajurit mempertahankan keseimbangan keadaan, karena tanpa kekuatan rakyat Singasari, prajurit-prajurit Singasari tidak aka banyak dapat berbuat.”

Mahisa Agni pun tersenyum pula. Jawabnya, “Kau benar Empu. Dan kini kami datang untuk mendengarkan prasetya Empu sebagai rakyat Singasari yang baik, yang melihat dan mengetahui kekalutan yang terjadi di seluruh negeri.”

Empu Sanggadaru masih tersenyum. Katanya, “Sebenarnyalah kami sudah menyiapkan diri. Kami telah menunggu perintah yang menurut perhitungan kami tentu akan dilimpahkan kepada kami.”

“Baiklah Empu.” jawab Mahisa Agni, “Agaknya aku tidak perlu memberikan banyak petunjuk dan penjelasan. Empu telah banyak mengetahui keadaan ini.”

“Kami memang telah mempersiapkan diri. Apapun perintah yang akan diberikan kepada kami untuk ikut menegakkan keutuhan Singasari, kami telah siap melakukannya.”

Tidak banyak kesulitan dalam pembicaraan itu. Empu Sanggadaru telah mendapat perintah untuk mempertahankan Kota Raja. Sepasukan prajurit akan memancing pasukan induk Empu Baladatu yang kuat yang akan menyerbu Kota Raja mendahului serangan yang akan menyusul dari Mahibit. Agaknya Linggapati pun telah memperhitungkan setiap kemungkinan.

“Untuk menghadapi Mahibit, kami telah mengambil langkah-langkah tertentu.” berkata Mahisa Agni, “Di antaranya pengampunan yang luas kepada pengikut-pengikut Baladatu yang tidak menyadari keterlibatannya dalam pengertian jiwani.”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Ia mengerti, tugas apakah yang harus dilakukannya. Membantu prajurit-prajurit Singasari mempertahankan Kota Raja. Kemudian dengan pasukan cadangannya berbuat serupa menghadapi pasukan Mahibit.

Dalam pada itu, selama Mahisa Agni berada di padepokan Empu Sanggadaru, ia sempat menyaksikan kesiagaan padepokan itu. Bersama orang-orang yang semula menyebut dirinya gerombolan Macan Kumbang dan Serigala, Putih Empu Sanggadaru telah membentuk satu pasukan yang kuat.

Anak-anak muda yang sebelumnya masih belum diikut sertakan karena umurnya, kemudian telah mendapatkan latihan-latihan yang berat untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan pribadinya. Di masa-masa datang yang dekat, mereka akan segera memikul tanggung jawab seperti angkatan sebelumnya. Bahkan mereka mempunyai dasar jiwani yang lebih bersih dan kuat.

“Inilah yang dapat kami sediakan bagi Singasari.” berkata Empu Sanggadaru, “Mudah-mudahan mereka dapat memenuhi tugasnya dengan baik, sesuai dengan kedudukan mereka sebagai rakyat Singasari.”

“Terima kasih.” berkata Mahisa Agni, “Pada saatnya kami menghubungi Empu. Kami telah menyediakan segalanya di Singasari. Barak-barak dan persediaan senjata yang mungkin dapat dipergunakan.”

“Kami membuat senjata kami sendiri di padepokan ini. Mereka dapat membuat senjata sesuai dengan keinginan masing-masing. Yang lebih kuat dapat membuat pedang yang lebih besar dan berat. Yang kurang kuat, perlu membuat senjata yang tipis tetapi tajamnya dapat diandalkan.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Ia percaya bahwa Empu Sanggadaru sanggup membuat semuanya yang diperlukannya.

Demikianlah sepeninggal Mahisa Agni, Empu Sanggadaru menjadi semakin tekun mempersiapkan pasukannya. Anak-anak muda di padepokan itu telah menempa diri dengan sungguh-sungguh. Mereka menyadari tugas apakah yang akan segera dibebankan di pundak mereka.

Karena itulah, maka mereka pun telah berlatih sesuai dengan kemungkinan yang bakal terjadi. Mereka selain mempertinggi kemampuan setiap pribadi, maka mereka pun telah berusaha untuk berlatih perang di dalam gelar yang besar.

Dalam pada itu. pasukan Empu Baladatu yang kuat telah bergerak mendekati Kota Raja. Ia sadar, bahwa di beberapa tempat, pasukan orang-orang yang berada di bawah pengaruhnya telah dapat diatasi oleh prajurit-prajurit Singasari. Namun ia pun mengetahui, bahwa kekuatan Singasari benar-benar telah terpecah belah. Beberapa daerah telah memerlukan kekuatan yang cukup besar untuk mengatasi kekalutan yang sengaja ditimbulkannya.

Namun Empu Baladatu sadar, bahwa jika ia berhasil, maka ia masih mempunyai persoalan dengan Mahibit. Mungkin Linggapati dapat dibujuknya. Tetapi mungkin pula tidak. Itulah sebabnya, maka ia harus segera menguasai Kota Raja dan memaksa para Senapati untuk mempergunakan sisa prajurit yang ada dengan jaminan pengampunan.

“Mereka harus mempunyai harapan, bahwa setelah perang melawan Mahibit itu berakhir, keadaan mereka akan tetap baik. Sementara mereka harus diberi gambaran yang parah jika Mahibit yang akan memegang kekuasaan di Singasari.” berkata Empu Baladatu kepada orang-orang yang paling dekat dengan dirinya.

Meskipun kekalahan-kekalahan di beberapa tempat yang terpisah telah sampai ketelinganya, namun Empu Baladatu masih tetap berpengharapan, karena pusat pemerintahan ada di Kota Raja. Jika ia dapat menguasai pemimpin-pemimpin pemerintahan di Singasari, maka semuanya akan berjalan sesuai dengan rencananya.

Sementara itu. Singasari telah mempersiapkan pasukan yang akan memancing Empu Baladatu untuk langsung mendekati, Kota Raja dan menjebaknya dalam jaringan yang telah di siapkan.

Mahisa Agni yang memimpin langsung perlawanan terhadap Empu Baladatu telah membuat Singasari seolah-olah benar-benar tidak berdaya, sehingga para petugas sandi, baik yang dikirim oleh Empu Baladatu, maupun orang-orang Mahibit, menganggap bahwa Singasari benar-benar telah kosong.

Namun dalam pada itu, Mahisa Agni telah menempatkan pasukannya yang kuat terpercar di beberapa padukuhan di luar gerbang Kota,Raja. Namun dalam keadaan tertentu mereka akan dapat dikumpulkan dalam waktu yang dekat.

Sementara itu, maka pasukan Empu Sanggadaru pun telah dihubunginya pula. Mereka diminta bersiap untuk datang setiap saat di Kota Raja.

Dalam pada itu, pasukan yang telah disiapkan untuk memancing pasukan Empu Baladatu telah berada di hadapan hidung pasukan Empu Baladatu yang kuat. Dengan keterangan-keterangan yang masak, maka pasukan kecil itu telah memperhitungkan setiap kemungkinan yang harus dilakukan.

Sesuai dengan kemampuannya, maka Mahisa Bungalan sudah di tempatkan pula pada pasukan kecil itu mendampingi seorang Senapati muda. Ia harus melawan pasukan Empu Baladatu dengan gerak surut mendekati .Kota Raja sesuai dengan keinginan. Empu ,Baladatu sendiri. Sementara para pemimpin di Singasari telah mempersiapkan kekuatan yang akan langsung menghancurkan.

Dengan perhitungan yang cermat, maka akhirnya pasukan Singasari itu pun telah bertemu dengan pasukan Empu Baladatu yang dipimpinnya sendiri. Dengan penuh nafsu maka pasukan Empu Baladatu itu pun segera menghadapi lawannya yang menurut keterangan para petugas sandinya, tidak cukup kuat untuk menghentikan gerakannya.

“Singasari sudah kehabisan prajurit.” laporan itu memberikan harapan yang besar kepadanya.

Sentuhan pertama antara pasukan Empu Baladatu dengan pasukan Singasari telah terjadi di sebuah padukuhan kecil di ujung sebuah hutan. Dengan tiba-tiba saja pasukan Singasari telah menyergap pasukan Empu Baladatu yang sedang terhenti di padukuhan itu dalam gerakannya mendekati Kota Raja.

Meskipun pasukan Empu Baladatu terbagi dalam tiga padukuhan, namun ternyata pasukan yang besar itu tidak perlu menggerakkan seluruh kekuatannya. Dengan pasukan yang ada di satu padukuhan, saja, Empu Baladatu telah berhasil mengusir pasukan Singasari.

“Untunglah bahwa gerakan itu dilakukan menjelang malam.” berkata Empu Baladatu, “Jika tidak, kita akan mengejar pasukan itu sampai ke ujung hutan dan menghancurkan mereka sampai orang terakhir.”

Kemenangan kecil itu telah membuat Empu Baladatu semakin bernafsu. Di hari berikutnya pasukannya telah bergerak lebih jauh mendekati Kota Raja.

“Di depan kita terdapat sebuah pertahanan yang kuat Empu.” seorang pengawas melaporkan kepada Empu Baladatu.

“Apakah kekuatan mereka melampaui kekuatan kita?” bertanya Empu Baladatu.

“Aku kurang yakin bahwa mereka memiliki ketahanan yang dapat menghentikan gerakan kita. Tetapi mereka berada di sebuah padukuhan yang besar dan banjar panjang. Mereka telah menyiapkan senjata-senjata jarak jauh. Agaknya mereka ingin menghentikan gerakan kita dengan anak panah dan busur.”

Empu Baladatu tertawa. Katanya, “Prajurit Singasari ternyata telah menjadi kebingungan. Meskipun mereka berhasil memenangkan pertempuran di beberapa tempat yang terpisah, tetapi mereka benar-benar telah kekurangan prajurit, sehingga yang ada hanyalah pasukan-pasukan kecil yang tidak memiliki ketahanan sama sekali. Dengan bingung mereka berusaha menghentikan gerak maju kita. Tetapi semuanya tentu tidak akan berarti apa-apa.”

“Kita akan sampai ke Kota Raja.” berkata seorang pengawalnya.

“Ya. Tetapi itu belum berarti bahwa perjuangan kita selesai. Kita akan berhadapan dengan orang-orang Mahibit. Jika mereka sengaja menunggu kita kehabisan tenaga melawan orang-orang yang setia kepada Ranggawuni, maka ia akan menyesal. Justru kita akan memanfatkan prajurit-prajurit Singasari itu sendiri dengan memberikan harapan kepada mereka, meskipun pada saatnya mereka akan kita binasakan juga kelak setelah kita tidak memerlukan mereka lagi.”

Para pemimpin pasukan Empu Baladatu itu mengangguk-angguk. Mereka mengerti rencana itu dan merekapun sama sekali tidak berkeberatan.

Di hari berikutnya, pasukan Empu Baladatu yang kuat telah dipersiapkan untuk menyerang kedudukan pasukan Singasari. Namun ternyata bahwa seorang petugas sandi berhasil mendapat beberapa keterangan dari seorang petani yang berada di sawahnya.

“Kau dari padukuhan sebelah?” bertanya petugas itu.

“Ya. Ki Sanak.”

“Apakah kau justru menjadi yakin akan keselamatan padukuhan karena rasukan Singasari ada di padukuhan mu.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Pertempuran apakah yang kau maksud?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Prajurit itu telah pergi. Kami mohon mereka meninggalkan padukuhan kami. Mereka merupakan beban yang tidak tertanggungkan oleh orang-orang miskin seperti aku.”

“Kenapa?” bertanya pengawas itu.

“Mereka adalah orang-orang besar. Mereka makan dengan kebiasaan mereka di Kota Raja, sehingga ternak kami hampir habis punah bagi mereka.”

“O. Lalu?”

“Kami mohon mereka mencari tempat lain yang lebih baik dari padukuhan kami. Tetapi adalah kebetulan sekali bahwa petugas mereka melihat pasukan yang besar di padukuhan lain. Pasukan yang akan dapat membebaskan kami dari kesulitan itu.”

“Apakah mereka tidak mempersiapkan pertahanan?”

Petani itu tertawa. Katanya, “Itulah yang aneh. Mereka dengan tergesa-gesa meninggalkan padukuhan kami. Namun dengan demikian kami merasa tenang, bahwa di tempat ini tidak akan terjadi pertempuran. Sejauh-jauh penderitaan kami, adalah padukuhan kami akan menjadi jalur jalan yang akan dilewati pasukan yang besar itu. Tetapi kami tidak akan berkeberatan.”

Laporan itu segera sampai ketelinga Empu Baladatu. Sepasukan kecil kemudian meyakinkan keterangan itu. Dan ternyata bahwa padukuhan itu benar-benar telah dikosongkan dengan tergesa-gesa. Pasukan Empu Baladatu yang kemudian datang, masih menemukan beberapa busur dan anak panah yang masih tertimbun di sebuah bilik kecil di banjar padukuhan itu.

“Inilah yang kita temukan pada prajurit-prajurit Singasari. Beberapa hari lagi, kita akan memasuki Kota Raja dengan tanpa perlawanan sama sekali seperti yang kita alami sekarang ini. Kita akan melihat, apakah kita akan memasuki lewat satu pintu gerbang, atau lebih. Jika mereka mencoba mempertahankan Kota Raja, maka mungkin kita akan menyerang mereka dari beberapa arah.”

Pengawal-pengawal Empu Baladatu menjadi semakin yakin akan kemenangan yang sudah berada diambang pintu. Mereka tidak mau menghiraukan lagi, pasukan-pasukan mereka yang terserak-serak oleh prajurit Singasari di beberapa daerah terpencil. Bahkan di beberapa daerah, anak-anak muda yang, semula terbius oleh harapan-harapan yang kosong, telah menyadari kesalahan mereka dan menempatkan diri pada alas yang; benar. Mereka telah menerima pengampunan dan bahkan telah bergabung dengan prajurit-prajurit Singasari, mengatasi kekalutan yang terjadi di daerah-daerah terpencil karena sisa-sisa pengikut Empu Baladatu yang segan menyerah.

Dalam waktu yang singkat, prajurit-prajurit Singasari yang terpencar itupun ditarik kembali. Tetapi tidak semua prajurit dapat, meninggalkan tempatnya. Beberapa daerah masih dicengkam oleh kekalutan dan bahkan di beberapa tempat yang lain keadaannya cukup parah.

Namun prajurit Singasari yang ada, telah siap menghadapi segala kemungkinan yang timbul. Juga seandainya Mahibit tiba-tiba saja mengangkat senjata.

Tetapi perintah yang mereka terima adalah, bahwa mereka harus menempati padukuhan-padukuhan yang telah ditentukan. Mereka harus memasuki pedukuhan itu dengan hati-hati dan tersamar. Mereka harus hilang berbaur dengan penduduk padukuhan yang telah disiapkan untuk menjebak pasukan Empu Baladatu. Padukuhan yang sebagian besar penduduknya yang sebenarnya telah diungsikan.

Namun padukuhan-padukuhan itu dalam keadaan sehari-hari masih nampak hidup. Masih ada suara pande besi menempa alat-alat. Pertanian. Masih terdengar lembu melenguh dan kambing mengembik.

Pasukan Singasari yang mundur ketakutan menurut penilaian Empu Baladatu itupun telah menentukan akhir dari permainan mereka. Mereka segera memasuki daerah pertahanan yang benar-benar akan mereka pergunakan sebagai alas untuk menghentikan gerak maju pasukan Empu Baladatu.

“Di sini kita akan berhenti.” berkata Mahisa Bungalan, “Kita tidak akan mundur lagi. apapun yang akan terjadi. Di padukuhan-padukuhan sebelah, prajurit Singasari telah menunggu kedatangan lawan yang berhasil kita pancing mendekati Kota Raja dari arah ini.

Demikian cermatnya rencana yang disusun oleh prajurit-prajurit Singasari, maka petugas sandi yang disebar oleh Empu Baladatu tidak melihat, bahwa yang bertebaran di padukuhan-padukuhan itu adalah prajurit-prajurit Singasari yang siap menunggu kedatang an mereka.

“Singasari tidak berhasil menyusun penahanan yang kuat.” seorang pengawas melaporkan kepada Empu Baladatu.

“Apakah kau tidak melihat prajurit-prajurit Singasari di luar dinding Kota Raja?” bertanya Empu Baladatu.

“Tidak. Kami melihat beberapa kelompok prajurit di pintu gerbang kota. Tetapi mereka sama sekali tidak berarti bagi pasukan kami yang besar ini.”

“Mungkin Singasari ingin mengelabuhi kita. Mungkin di dalam rumah-rumah yang besar di dalam Kota Raja, prajurit Singasari bersembunyi.” desis Empu Baladatu.

“Tidak. Mereka justru mencoba mengelabui kita dengan cara yang lain. Beberapa orang prajurit berkuda berkeliling kota. Seolah-olah beberapa kelompok peronda sedang mengamati keadaan. Tetapi kami tidak dapat dikelabui. Dimana kami menjumpai empat prajurit berkuda yang sama, sehingga kami mengambil kesimpulan, bahwa jumlah prajurit Singasari memang sangat kecil.”

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, kita akan bersiap untuk memasuki Kota Raja. Aku memberikan waktu sehari lagi bagi para petugas sandi untuk meyakinkan keadaan, sementara petugas-petugas sandi yang pergi ke Mahibit akan memberikan laporan pula, apakah orang-orang Mahibit bersiaga untuk mengambil keuntungan dati pertempuran ini.”

Seperti yang diperintahkan oleh Empu Baladatu, maka di hari berikutnya beberapa orang petugas sandi ingin meyakinkan, apakah Kota Raja Singasari itu benar-benar tidak memiliki prajurit cukup untuk mempertahankan diri.

Seperti penglihatan mereka di hari-hari sebelumnya, Singasari benar-benar tidak memiliki kekuatan cukup. Meskipun para petugas sandi itu melihat Senapati-senapati yang lengkap. Mahisa Agni sendiri turun untuk mengawasi beberapa kelompok kecil prajuritnya.

“Tetapi jumlah mereka terlalu kecil.” berkata petugas sandi itu.

Sementara itu, menilik sikap dan gelar pasukan Empu Baladatu maka petugas-petugas sandi Singasari sudah dapat membaca, bahwa mereka telah bersiap-siap untuk memasuki kota. Karena itu, maka Mahisa Agni pun segera memerintahkan untuk menghubungi pasukan Empu Sanggadaru. Mereka mendapat petunjuk untuk menyelusuri kembali gerak pasukan Empu Baladatu, sehingga pada saatnya, jika pasukan Empu Baladatu mundur, mereka harus bertindak cepat.

“Pasukan Empu Sanggadaru tidak perlu terlibat langsung. Kecuali karena Empu Baladatu adalah adiknya, pasukannya kita perlukan untuk menghadapi orang-orang Mahibit.” berkata Mahisa Agni kepada para Senapati, “Mudah-mudahan prajurit-prajurit Singasari yang tersembunyi dapat menyelesaikan lawan. Hanya dalam keadaan yang terpaksa, kita memerlukan sebagian dari pasukan Empu Sanggadaru. Namun mereka sudah disiapkan sehingga tidak akan terjadi bencana karena salah perhitungan.”

Para Senapati Singasari menyadari bahwa mereka menghadapi tugas yang berlapis-lapis. Itulah sebabnya maka mereka harus membuat perhitungan yang cermat. Penggunaan pasukan harus dipertimbangkan dua tiga kali sebelum mengambil keputusan.

Sementara itu, Empu Sanggadaru yang telah menerima pesan Mahisa Agni, segera menggerakkan pasukannya. Pasukan yang telah dipersiapkan sebaik-baiknya.

Ternyata bahwa pasukan Empu Sanggadaru benar-benar merupakan pasukan yang kuat. Para cantrik dari padepokannya. Orang-orang yang berguru kepadanya khusus dalam kanuragan. Ditambah dengan orang-orang dari bekas gerombolan Mancan Kumbang dan Serigala Putih yang telah mendapat banyak pengalaman dan unsur-unsur ilmu kanuragan dari para prajurit Singasari yarg sengaja berada di aratara mereka, sehingga dengan demikian, maka mereka hampir tidak ada bedanya dengan prajurit Singasari sendiri.

Seperti yang dipesankan oleh Mahisa Agni, maka Empu Sanggadaru telah membawa pasukannya ke jalur jalan pasukan Empu Baladatu. Seakan-akan mereka dengan sengaja mengikuti pasukan itu dari belakang.

Namun Empu Sanggadaru pun menyadari, bahwa mereka hanya akan bertindak, jika ada perintah khusus dari para Senapati di Singasari, atau jika pasukan Empu Baladatu menarik diri untuk menghindari tekanan pasukan Singasari.

“Mereka tidak boleh lolos.” berkata Empu Sanggadaru kepada pengikut-pengikutnya, “Jika pasukan Singasari gagal menjebak mereka, sehingga mereka sempat mengundurkan diri, maka tanpa perintah khusus, kita harus bertindak cepat.”

Para pemimpin kelompok di dalam pasukan Empu Sanggadaru telah menyadari apa yang harus mereka lakukan. Namun sebagian dari orang-orang Serigala Putih dan Macan Kumbang, hampir tidak dapat menahan diri lagi. Betapapun prajurit Singasari berusaha untuk mengaburkan dendam di dalam hati mereka namun rasa-rasanya dalam keadaan yang gawat itu, hati mereka telah tergerak lagi untuk melepaskan sakit hati.

Tetapi mereka merasa terikat kepada perintah Empu Sanggadaru sehingga mereka tidak dapat berbuat menurut kehendak mereka sendiri.

Dalam pada itu, ketika sampai pada saatnya, menurut perhitungan Empu Baladatu, pasukannya telah disiapkan sebaik-baiknya. Setelah kesempatan terakhir diberikan kepada petugas sandinya untuk melihat sekali lagi keadaan Kota Raja, dan laporan yang diterimanya masih saja seperti laporan sebelumnya, maka Empu Baladatu pun segera menempatkan pasukannya pada tindakan terakhir yang akan menentukan.

Empu Baladatu sadar, bahwa Linggapati mempunyai kekuatan di banyak daerah. Namun ia masih tetap mempunyai harapan, bahwa pada saatnya ia akan dapat mempergunakan prajurit Singasari yang tersisa dari pertempuran yang telah berlangsung, di daerah-daerah dan di Kota Raja.

Ketika fajar menyingsing, di ujung Timur, Empu Baladatu telah berada di induk pasukannya. Ia sudah memutuskan, bahwa hari itu adalah hari yang akan sangat menentukan. Ia akan membawa pasukannya memasuki Kota yang hanya di pertahankan oleh kekuatan kecil saja.

“Kita sadar, bahwa prajurit yang ada di Kota Raja di bawah para Senapati yang terkenal itu tidak akan mau menyerah.” berkata Empu Baladatu kepada pemimpin-pemimpin kelompoknya sebagai pesannya terakhir. “Tetapi jangan ragu-ragu. Binasakan saja mereka. Karena mereka adalah ular-ular berbisa yang setiap saat dapat menggigit tumitmu dan membinasakanmu. Mereka sadar, bahwa yang mereka lakukan adalah membunuh diri di Kota Raja. Bahkan mungkin Ranggawuni dan Mahisa Ccmpaka pun akan membunuh diri mereka pula bersama para Senapatinya.”

Para pemimpin kelompok di dalam pasukan Empu Baladatu yang, besar itupun menyadari, bahwa mereka akan menghadapi prajurit-prajurit yang meskipun hanya sedikit, tetapi mereka tentu bagaikan orang-orang gila yang memilih mati dari kesempatan-kesempatan yang manapun juga.

Demikianlah, maka sebelum matahari naik ke punggung cakrawala, Empu Baladatu telah mengerahkan pasukannya. Ia membagi pasukannya dalam tiga kelompok yang cukup besar. Mereka akan bersama-sama menuju ke dinding yang melingkari Kota Raja. Induk pasukan mereka akan memasuki Kota Raja yang pertama-tama. Jika prajurit yang ada di regol kota itu melawan dan menutup jalan, maka yang lain akan meloncat dinding dan kemudian menyergap gerbang justru dari dalam.

Dalam keremangan cahaya fajar, maka tiga kelompok pasukan yang cukup besar itu nampak bagikan awan yang hitam, bergulung-gulung di atas tanah persawahan menerkam dinding Kota Raja yang sepi senyap.

Saat-saat yang memang sudah diperhitungkan oleh para prajurit Singasari itu datang. Di pintu gerbang prajurit Singasari siap menyongsong lawan yang mendekat. Jumlah prajurit yang ada di pintu gerbang itu memang tidak banyak.

Di hadapan pintu gerbang, adalah prajurit Singasari yang selalu mundur dan menghindar. Selain seorang Senapati, maka Mahisa Bungalan pun ada di dalam pasukan itu pula.

Namun jumlahnya yang sangat kecil benar-benar tidak dipehitungkan oleh Empu Baladatu. Mereka tentu hanya dapat menghambat jalan seperti seonggok sampah. Tetapi dengan sekali dorong, maka sampah itu tentu akan berhamburan dan lenyap ditiup angin.

Karena itulah, maka pasukan Empu Baladatu itu maju dengan penuh kepastian, bahwa sebentar lagi, mereka akan memasuki Kota Raja.

Namun dalam pada itu, berita tentang gerak pasukan Empu Baladatu itu telah merambat dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain. Hampir setiap orang laki-laki yang ada di padukuhan-padukuhan itupun segera mempersiapkan diri. Meskipun tidak mengenakan pakaian seorang prajurit, tetapi setiap orang telah mengenakan tanda-tanda yang menyatakan tentang diri mereka.

“Mereka terbagi dalam tiga kelompok.” berkata seorang penghubung kepada seorang yang berada di gerbang padukuhan.

Segala gerak pasukan Empu Baladatu pun ternyata telah di ketahui oleh setiap orang di padukuhan yang akan dilaluinya. Karena itulah, maka di setiap padukuhan itu pun telah timbul segala macam persiapan untuk menghadapi setiap kemungkinan.

Mahisa Bungalan dan pasukan kecilnya telah mempersiapkan diri. Mereka akan berada di padukuhan yang ada dihadapan pintu gerbang, sehingga padukuhan itu tentu akan dilalui oleh induk pasukan Empu Baladatu.

Sesaat kemudian, maka di setiap padukuhan yang berpencaran agak jauh itupun telah siap beberapa kelompok pasukan yang akan menyongsong kedatangan pasukan Empu Baladatu.

Di sebuah padukuhan, Mahendra telah menunggu bersama sekelompok prajurit Singasari dalam pakaian sandi, sehingga tidak diketahui oleh para petugas lawan. Di padukuhan yang lain Witantra telah menunggu perintah untuk bertindak. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berada di sebuah padukuhan, bersama seorang Senapati yang, telah agak lanjut usia. Seperti yang lain, maka merekapun tidak menyatakan diri sebagai prajurit-prajurit Singasari. Sedangkan di paduhan yang lain lagi, Lembu Ampal siap bertindak cepat bersama pasukannya.

Sementara itu. Di pintu gerbang Kota Raja, Mahisa Agni bersama sekelompok prajurit telah bersiap pula. Mereka ternyata tidak hanya terdiri dari beberapa orang seperti yang dilihat oleh petugas-petugas sandi. Tetapi mereka terdiri dari sepasukan prajurit pilihan yang berada di beberapa rumah sebelah menyebelah jalan yang memanjang melalui gerbang, dinding Kota Raja itu.

Ranggawuni-dan Mahisa Cempaka ternyata tidak dapat dipaksa untuk tetap tinggal di dalam istana dengan pengawalan yang kuat. Di saat-saat yang menentukan, mereka telah berada di pintu gerbang bersama sekelompok pengawal pilihan.

“Tuanku.” desis Mahisa Agi.

Ranggawuni tersenyum. Katanya, “Aku merasa lebih aman berada di sini daripada di dalam istana. Selebihnya, aku akan dapat melihat langsung apa yang akan terjadi. Bukan sekedar sebuah laporan yang barangkali tidak akan dapat sejelas jika aku menyaksikannya sendiri.”

“Tuanku.” berkata Mahisa Agni, “Pasukan Empu Baladatu kali ini adalah pasukan yang kuat dan buas. Mereka terdiri dari kumpulan orang-orang yang tidak mengenal batasan antara peradaban, karena sebagian besar dari mereka adalah orang-orang berilmu hitam.”

Tetapi Rangsrawuni masih tetap tersenyum Katanya, “Bukankah aku seorang prajurit paman.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berhasil mempersilahkan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka berada di dalam istana.

Namun dengan demikian, maka tanggung jawab Mahisa Agni yang menjadi semakin tua itu menjadi bertambah berat. Kedua orang pemimpin tertinggi dari Singasari itu berada di dalam lingkungan pasukannya.

Dalam pada itu. Empu Sanggadaru ternyata telah berada di belakang pasukan Empu Baladatu. Mereka siap untuk bertindak, jika perintah datang. Setiap saat, demikian perintah itu sampai kepadanya, maka Empu Sanggadaru langsung dapat menikam pasukan Empu Baladatu dari belakang.

Sementara itu, tanpa prasangka atas kesiagaan pasukan Singasari yang tersembunyi itu, Empu Baladatu telah membawa pasukannya maju dalam tiga jalur. Ternyata Empu Baladatu masih juga berhati-hati. Ia menghentikan pasukannya beberapa ratus langkah dari pintu gerbang.

Sejenak Empu Baladatu mengawasi pasukan-pasukan yang mulai menjadi terang. Ia sudah menerima laporan, bahwa di padukuhan itu tidak ada rintangan yang pantas diperhitungkan. Beberapa orang petani tinggal di dalam gubug-gubug kecil tanpa menghiraukan pertentangan yang timbul di Singasari.

“Setiap laki-laki akan dapat menjadi hambatan gerakan kita.” berkata Empu Baladatu.

“Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Seandainya mereka mencoba, menunjukkan kesetiaannya kepada Singasari maka jumlah mereka tidak cukup banyak.”

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Sejenak ia melihat beberapa puluh langkah sebelah menyebelah, kelompok-kelompok pasukan yang seakan-akan merupakan sayap dari gelar yang belum berbentuk itu, siap melakukan segala perintahnya.

Tetapi Empu Baladatu tidak perlu memasang gelar, karena lawan yang dihadapinya tidak akan banyak berarti.

Sejenak kemudian, maka Empu Baladatu pun telah memerintahan pasukan kecilnya untuk mendahului pasukannya dalam keseluruhan. Pasukan kecil itu akan melalui jalan yang akan dilewati oleh pasukan induk yang dipimpin langsung oleh Empu Baladatu.

Namun agaknya, para pengawas dari Singasari telah melihatnya, sehingga merekapun segera melaporkannya kepada setiap pemimpin pasukan di padukuhan-padukuhan tertentu.

Pengawas-pengawas itupun memberikan laporan terperinci tentang gerakan pasukan Empu Baladatu yang menjadi tiga kelompok yang terpisah.

“Menurut perintah, maka setiap kelompok pasukan harus menyesuaikan diri. Pertempuran tentu akan segera pecah. Pasukan Empu Baladatu belum memasang gelar, sehingga yang akan terjadi adalah perang yang terpisah.” berkata pengawas itu kepada para Senapati yang terpisah-pisah.

“Kita akan bertempur dalam perang brubuh.” berkata salah seorang Senapati, “Dengan demikian maka kita harus mempercayakan setiap tingkah laku di medan atas dasar kepercayaan kepada diri sendiri.”

“Demikianlah agaknya yang akan terjadi.”

Sepeninggal pengawas itu, maka setiap Senapati memberikan beberapa keterangan singkat kepada setiap pemimpin kelompok. Masing-masing diri, berusaha untuk menjaga keselamatan diri sendiri, karena yang akan terjadi adalah perang brubuh.

“Jumlah pasukan gabungan yang dipimpin oleh Empu Baladatu itu cukup banyak. Kita harus berhati-hati dan memperhatihan setiap keadaan yang berkembang.” berkata seorang Senapati kepada pemimpin kelompok di dalam pasukannya.

Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mepersiapkan diri. Rasa-rasanya tidak sabar menunggu perintah untuk menyergap pasukan Empu Baladatu. Dari kejauhan keduanya telah melihat, pasukan yang datang mendekati pintu gerbang.

“Pasukan itu adalah sayap sebelah kanan dari pasukan Empu Baladatu.” berkata Mahisa Pukat.

“Kita akan bertempur di sayap kanan. Siapakah yang berada di induk pasukan?” bertanya Mahisa Murti.

“Kakang Mahisa Bungalan.”

“Kenapa kita tidak ikut kakang, Mahisa Bungalan saja?”

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Katanya, “Sebenarnya kita lebih senang berada di dalam pasukan kakang Mahisa Bungalan. Kita akan berada di induk pasukan dan bertempur melawan induk pasukan lawan.”

Mereka terkejut ketika mereka mendengar suara di belakangnya, “Tetapi Senapati Besar. Mahisa Agni memerintahkan kalian berdua di sini.”

Mahisa Pukat dan Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Tetapi mereka tidak menjawab. Sementara Senapati itu meneruskan sambil tersenyum, “Aku kira tidak ada bedanya. Bertempur di sayap atau di induk pasukan. Kita akan melakukan perang brubuh. Karena itu kau berdua harus berhati-hati. Kita masing-masing tidak akan dapat mempercayakan diri pada kerjasama di antara setiap orang di dalam pasukan kita. karena pertempuran akan menjadi kacau dan bercampur baur. Kita hanya dapat mengenal ciri-ciri dan sekedar memberikan tekanan pada titik-titik tertentu dimana kita bertempur. Memang mungkin hal itu akan berakibat memberikan bantuan kepada kawan kita. Namun dalam hal tertentu kita akan terpisah dan bertempur dengan kekuatan sendiri. Tetapi itu bukan berarti bahwa apabila ada kesempatan kita akan tetap membiarkan seorang kawan kita mengalami kesulitan.”

Mahisa Pukat dan Mahisa Murti mengangguk-angguk. Mereka sadar bahwa perang yang akan mereka hadapi adalah perang yang sangat ribut.

Dalam pada itu, pasukan kecil yang dikirim Empu Baladatu telah mendekati gerbang. Prajurit yang ada di sebuah padukuhan yang dilalui oleh sekelompok kecil itu sengaja membiarkan mereka lewat tanpa gangguan. Bahkan sebagian besar dari prajurit yang ada di padukuhan itu bersembunyi di balik dinding-dinding batu halaman.

“Empu Baladatu tetap berhati-hati.” desis Senapati yang ada di padukuhan itu. Tetapi kemudian, “Namun ia akan terkejut jika induk pasukannya akan menghadapi pasukan yang tidak tergoyahkan.”

Mahisa Bungalan yang ada di padukuhan itu pula, mengangguk-angguk. Katanya, “Pasukan kecil itu tidak akan pernah bertemu lagi dengan induk pasukannya.”

Seperti yang dikatakan oleh Mahisa Bungalan, maka di padukuhan yang cukup besar, mendekati gerbang kota, maka pasukan Singasari tidak membiarkan mereka lewat. Meskipun mereka tidak langsung menyergapnya, namun seorang penghubung telah memberikan isyarat kepada prajurit yang berada di pintu gerbang untuk bersiap-siap menghadapi segala ke mungkinan.

Pasukan kecil itu melalui padukuhan demi padukuhan dengan tanpa gangguan. Mereka mendengar isyarat yang di lontarkan dari padukuhan yang baru saja mereka lewati.

Pasukan kecil itu termangu-mangu sejenak, ketika mereka melihat pintu gerbang masih terbuka. Agaknya setelah mendengar isyarat itu, barulah beberapa orang berusaha untuk dengan tergesa-gesa menutupnya.

Tetapi gerakan prajurit-prajurit Singasari terlalu lamban. Masih ada beberapa orang yang berada di luar, sehingga mereka masih harus menunggu.

“Kita akan mencegahnya.” berkata pemimpin kelompok kecil yang dikirim oleh Empu Baladatu. Lalu, “Lontarkan isyarat agar Empu Baladatu menyerang. Kita akan berusaha mencegah gerbang itu ditutup dan diselarak dengan sebatang kayu yang besar. Dengan demikian pasukan kita akan dengan mudah memasuki gerbang Kota Raja.”

Dengan demikian, maka pasukan kecil itu pun telah berlari langsung menuju ke pintu gerbang, sementara seorang di antara mereka telah membunyikan isyarat. Sebuah kentongan kecil yang melengking-melengking.

Suara kentongan kecil itu ternyata melengking terdengar sampai ke tempat yang jauh. Apalagi ternyata bahwa ada penghubung yang ada di antara pasukan kecil itu dengan induk pasukan yang dapat menyambung isyarat itu dengan suara kentongan pula.

Para prajurit Singasari sengaja telah membiarkan suara itu bersambung, agar terdengar oleh induk pasukan Empu Baladatu. Namun dengan demikian, mereka pun telah bersiap menghadapi kemungkinan yang bakal terjadi.

Empu Baladatu yang berada di dalam induk pasukan mendengar isyarat itu. Karena itu, maka ia pun segera memerintahkan orang-orangnya untuk maju dengan cepat, menuju langsung ke pintu gerbang.

Sementara itu, pasukan kecil yang mencoba untuk mencegah agar pintu gerbang itu tidak tertutup, telah menyerang para prajurit. Tetapi prajurit-prajurit Singasari yang ada di pintu gerbang itu tidak mempertahankan diri. Mereka segera terdesak masuk ke dalam gerbang Kota Raja Singasari.

Dengan penuh gairah perjuangan pengikut-pengikut Empu Baladatu merasa bahwa mereka berhasil mendesak lawan-lawannya. Itulah sebabnya, mereka telah mengejar para prajurit memasuki pintu gerbang untuk mencegah agar pintu itu tidak tertutup dan diselarak dengan kuat dari dalam.

Ketika pengikut-pengikut itu memasuki gerbang, mereka merasa bahwa kemenangan telah mulai mereka miliki dengan menguasai gerbang Kota Raja itu. Sebentar lagi, induk pasukan mereka akan memasuki-Kota Raja dan menguasai seluruh isinya, termasuk tahta.

Tetapi yang kemudian terjadi, benar-benar telah mengejutkan para pengikut Empu Baladatu itu. Demikian mereka memasuki pintu gerbang, maka tiba-tiba saja sekelompok prajurit yang kuat telah menyerang dan mendesak mereka kesamping, sehingga mereka telah tergeser dari pintu gerbang itu.

Ketika sepasukan prajurit menyerang, mereka dengan anak panah bagaikan hujan dari balik dinding batu di sebelah pintu gerbang itu. maka mereka telah bergeser. Apalagi ketika kemudian berloncatan prajurit-prajurit Singasari dengan tombak di tangan.

Sejenak kemudian pertempuran telah terjadi .di dalam pintu gerbang Kota Raja itu. Sekelompok prajurit yang lain telah berusaha untuk menutup pintu itu dilindungi oleh prajurit-prajurit yang lain dari serangan para pengikut Empu Baladatu.

“Licik.” geram pemimpin kelompok pengikut Empu Baladatu.

Tetapi tidak seorang prajurit pun yang menjawab. Mereka dengan keras telah menekan pengikut-pengikut Empu Baladatu itu sehingga mereka benar-benar telah terdesak.

Tetapi mereka tidak dapat lagi keluar dari pintu yang telah tertutup rapat dan diselarak kuat-kuat dari dalam.

Namun demikian para pengikut Empu Baladatu itu tidak cemas. Jumlah prajurit Singasari terlalu sedikit. Jika Empu Baladatu tidak dapat memecahkan pintu, maka mereka akan meloncati dinding tanpa kesulitan apapun juga.

Karena itu dengan suara lantang pemimpin kelompok pasukan yang memasuki pintu gerbang itu berteriak, “Bertahanlah. Sebentar lagi, induk pasukan akan memasuki pintu gerbang ini, dan memusnakan segalanya. Kota Raja akan rata dengan tanah. Menjadi Karang .abang dan tidak berbekas. Kita akan membangun Kota Raja yang baru, yang jauh lebih besar dan agung dari Kota Raja ini.”

Para pengikutnya pun telah bersorak. Mereka ternyata benar-benar telah dibakar oleh hasrat untuk memenangkan pertempuran dengan membunuh lawan sebanyak- banyaknya.

Pertempuran di dalam gerbang Kota Raja itu pun segera berkobar dengan sengitnya. Prajurit-prajurit Singasari ternyata tidak terlalu sedikit sebagai yang mereka perhitungkan. Mereka muncul seorang demi seorang dari balik setiap daun dan bebatuan.

Tetapi para pengikut Empu Baladatu yang menganggap bahwa sebentar lagi induk pasukannya akan memasuki pintu itu, sama sekali tidak gentar menghadapi jumlah lawan yang semakin banyak.

Dalam pada itu, di atas regol dinding Kota Raja itu, dua orang prajurit berdiri mengawasi keadaan, Mereka seolah-olah tidak memperdulikan, apa yang terjadi di dalam pintu gerbang itu. Dengan saksama mereka mengamati keadaan, terutama jika ada gerakan yang mencurigakan, atau kedatangan pasukan Empu Baladatu.

Namun dalam pada itu, ketika semua pimpinan prajurit Singasari menerima keterangan mengenai keadaan di pintu gerbang, maka merekapun sadar, pengikut Empu Baladatu harus diserang sebelum mereka mendekati pintu gerbang itu dan memberi kesempatan orang-orangnya memanjat dinding.

Di padukuhan yang terletak langsung di hadapan pintu gerbang itu, Mahisa Bungalan telah bersiap. Pasukannya yang semula tersembunyi telah muncul di sebelah jalan yang akan dilalui pasukan Empu Baladatu.

“Demikian mereka memasuki padukuhan ini, kita akan menyergapnya.” berkata Mahisa Bungalan kepada Senapati yang ada di padukuhan itu pula, “Sementara itu, isyarat harus dibunyikan. Setiap pasukan akan keluar dari menyamaran mereka dan menyergap ketiga kelompok pasukan Empu Baladatu sesuai dengan arah masing-masing.”

Senapati itu pun mengangguk. Diperintahkannya pasukannya bersiap dan seorang penghubung dengan panah sendaren yang akan meluncur kesegala arah.

Sejenak kemudian suasana pun menjadi semakin tegang. Pasukan Empu Baladatu yang tergesa-gesa menjadi semakin dekat. Mereka akan melintasi padukuhan itu menuju langsung ke pintu gerbang.

Sementara itu, prajurit Singasari lelah berada di balik dinding padukuhan. Jika ujung pasukan Empu Baladatu memasuki padukuhan itu, maka merekapun akan segera bertoncatan keluar dan menyerang pasukan Empu Baladatu dari segala arah.

Empu Baladatu sama sekali tidak menyangka, bahwa prajurit Singasari akan menyergapnya. Menurut perhitungannya maka prajurit Singasari tidak akan cukup banyak untuk menahan serangannya.

Tetapi prajurit Singasari yang sebagian telah ditarik dari daerah-daerah yang telah dikalahkan, telah siap menunggu mereka. Justru suasana peperangan yang masih bergejolak di dalam dada mereka, membuat prajurit-prajurit Singasari itu bersiap dengan darah yang panas.

Demikian ujung pasukan yang tergesa-gesa itu memasuki padukuhan, maka Senapati yang memimpin prajurit Singasari di dalam padukuhan itupun telah melambaikan tangannya. Isyarat itu kemudian telah diikuti dengan meluncurnya panah sendaren. Tidak hanya sebatang, tetapi disusul oleh yang lain, berurutan.

Ketika anak panah sendaren yang pertama meraung di udara maka para pemimpin kelompok tidak menunggu lagi. Mereka pun segera meneriakkan aba-aba, yang melepaskan setiap prajurit untuk menyerang lawannya dengan senjata di tangan.

Empu Baladatu yang memimpin langsung pasukannya terkejut. Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa di balik dinding itu telah bersembunyi prajurit Singasari yang menunggunya.

Karena itu, maka langkahnya pun terhenti. Dengan serta merta ia memberikan isyarat, agar pasukannya melangkah surut, keluar dari mulut lorong yang memasuki gerbang padukuhan.

Pertempuran tidak dapat dihindarkan lagi. Kedua pasukan itupun segera berbenturan. Prajurit-prajurit Singasari berlari-larian di luar dinding padukuhan menyerang pengikut Empu Baladatu yang berada di ekor iring-iringan itu.

Sementara itu .pasukan Empu Baladatupun tidak menunggu. Mereka pun segera menghambur menebar menyongsong prajurit yang menyerang mereka dari balik dinding batu.

“Inikah cara prajurit Singasari bertempur.” teriak Empu Baladatu, “Aku kira prajurit Singasari akan bersikap menunggu kedatangan kami dalam gelar dan dengan dada terbuka. Ternyata kalian telah bersembunyi seperti perempuan, kemudian dengan licik telah menyergap kami.”

Tidak seorangpun yang menjawab. Tetapi prajurit-prajurit Singasari itu menyergap mereka dengan garangnya.

Dalam benturan itu ternyata bahwa prajurit Singasari jumlahnya memang terlalu kecil dibandingkan dengan jumlah pengikut Empu Baladatu. Bukan saja di induk pasukan. Tetapi di kedua kelompok yang lain, yang telah disergap pula oleh prajurit-prajurit Singasari dari padukuhan terdekat, pasukan Empu Baladatu merasa bahwa tugas mereka akan segera selesai.

Tetapi Empu Baladatu menjadi tegang, ketika ia melihat dari padukuhan-padukuhan yang lain, kelompok-kelompok kecil prajurit Singasari lelah berlari-larian menuju ke arena pertempuran yang menjadi semakin panas.

Sekali lagi Empu Baladatu berteriak, “Licik. Singasari telah kehilangan sifat kesatrianya. Kalian tidak lebih dari berandal-berandal kecil yang menunggu pedagang lewat untuk menyamun barang-barang dagangan mereka.”

Prajurit-prajurit Singasari tidak menjawab. Akan tetapi kata-kata Empu Baladatu itu telah membuat darah mereka menjadi semakin panas.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...