Selasa, 02 Februari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 35-01

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 35-01*

Karya. : SH Mintardja

Kawan-kawannya sependapat bahwa Sempati tentu sudah bertindak tergesa-gesa tanpa perhitungan. Akhirnya, ia telah terbunuh.

“Apa yang dapat kita lakukan?” bertanya Laleyan kepada kawan-kawannya.

Kawan-kawannya saling berpandangan. Mereka sadar, bahwa ilmu mereka tentu terpaut banyak. Tetapi salah seorang dari mereka berkata, “Kita dapat bekerja bersama.”

“Sudah tentu.” jawab Laleyan, “Tapi apakah kita akan mencari mereka, atau membiarkan mereka datang kepada kita?”

“Kita mencari mereka. Aku kira sikap kedua orang itu bukannya sikap para cantrik di padepokan itu.”

“Ya. Masih ada satu dua orang cantrik yang ditinggalkan di padepokan itu.”

Tetapi Laleyan berkata, “Aku meragukan. Apakah para cantrik itu tidak sependapat dengan kedua penghubung itu. Jika kita datang ke padepokan itu, ternyata para cantrik yang ada di sana sependapat dengan kedua penghubung itu maka kita akan masuk perangkap. Dan kita akan mereka bantai di padepokan.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Tetapi tiba-tiba saja salah seorang dari mereka berkata, “Kita akan minta bantuan anak-anak muda yang selama ini terpisah dari kita. Tetapi mereka sudah menerima kita kembali.”

Laleyan menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Kita akan memperluas korban. Mereka sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu untuk mempertahankan diri. Meskipun seandainya mereka berada dalam satu kelompok, namun mereka tidak akan mampu melepaskan diri dari maut seandainya kedua orang penghubung itu datang kepada mereka.”

Kawan-kawannya yang menyadari keadaan itu pun mengangguk-angguk. Apalagi anak-anak muda yang, selama itu tidak pernah mendapat kesempatan untuk mempelajari ilmu kanuragan, sedangkan mereka yang serba sedikit pernah belajar ilmu kanuragan, mereka tidak berani menentang kedua penghubung itu secara langsung.

Namun. Laleyan kemudian berkata, “Bagaimana kalau kita mencoba menghubungi prajurit-prajurit yang ada itu?”

Seorang kawannya melonjak sambil berkata, “Itu pikiran yang baik. Aku sebenarnya sudah mereka-mereka untuk berkata seperti itu. Tetapi aku ragu-ragu.”

Ternyata kawan-kawannya sependapat. Mereka harus secepatnya pergi ke banjar menjumpai prajurit-prajurit itu.

“Tetapi, kedua orang itu tentu akan mendendam kita jika mereka tahu, kita telah melaporkan kepada mereka.” desis seseorang.

“Mereka akan mendendam kita, lapor atau tidak lapor.” sahut Laleyan.

Tetapi ternyata bahwa mereka masih juga ragu-ragu. Mereka tidak akan dapat berbuat banyak, jika kedua orang itu telah memperhitungkan bahwa mereka akan pergi ke banjar. Sementara itu kedua orang itu sengaja menunggu mereka sebelum mereka mencapai banjar.

“Kita mencari jalan yang menurut perhitungan mereka tidak akan kita lalui.” berkata salah seorang dari mereka.

“Tetapi mereka pun telah memperhitungkan pula.” desis yang lain.

Sejenak mereka termangu-mangu. Namun memang sulit bagi anak-anak muda itu untuk menemukan pemecahan.

Akhirnya seseorang di antara mereka berkata, “Kita akan memecah diri. Kita akan bersama-sama pergi ke banjar menurut jalan yang berbeda-beda. Jika ada di antara kita yang bertemu dengan kedua orang itu, adalah nasib kita yang ternyata sangat buruk. Teapi dalam pada itu, yang lain akan segera dapat mencapai banjar, dan memberitahukan apa yang telah terjadi. Sementara itu, kita yang bernasib buruk akan dapat memberikan isyarat, agar prajurit-prajurit itu datang membantu kita.”

Sejenak anak-anak muda itu berpikir. Kemudian mereka mengangguk-angguk sambil berkata di antara mereka, “Pendapat yang baik. Kita akan melakukannya.”

Telapi ternyata mereka tidak perlu melaksanakan rencana itu. Tiba-tiba saja rumah Sempati itu menjadi sibuk karena kedatangan lima orang prajurit Singasari yang untuk sementara tinggal di banjar.

Orang tua Sempati menerima mereka dengan ratap dan tangis. Diluar sadar, mereka seakan-akan telah menuntut kepada para prajurit itu untuk membalaskan dendam dan sakit hati mereka terhadap pembunuh anaknya.

“Kita harus menemukan pembunuh itu.” berkata salah seorang prajurit itu, “Sementara kita belum mengetahui siapakah pembunuhnya, kita tentu masih belum dapat menentukan sikap apapun.”

“Tuan harus mencarinya.” teriak ibu Sempati.

Prajurit-prajurit itu menarik nafas. Sambil mengangguk-angguk salah seorang, dari mereka menjawab, “Baiklah. Kami akan berusaha sejauh dapat kami lakukan. Tetapi sudah tentu bahwa kami tidak akan dapat menyanggupinya dengan pasti.”

Orang tua Sempati menjadi kecewa. Dengan tatapan mata yang basah ibu Sempati berkata, “Jika tuan tidak menemukan, maka tidak ada gunanya tuan berada di sini. Tuan hanya merusakkan suasana yang telah mulai mapan di padukuhan ini beberapa saat yang lalu. Apapun yang dilakukan oleh anakku dalam lingkungan Empu Purung, namun saat itu tidak ada yang akan dapat dan berani membunuhnya. Tetapi ternyata kemudian prajurit Singasari telah mengguncang sendi-sendi kehidupan itu. Mungkin menjadi baik bagi orang lain, bagi padukuhan ini, tetapi alangkah buruknya bagiku karena anakku harus mati karenanya.”

“Tidak hanya Sempati yang harus mati.” jawab salah seorang prajurit itu, “Tetapi saat pertempuran itu terjadi, banyak anak-anak muda yang mati lebih dahulu dari Sempati. Saat terjadi goncangan atas tata kehidupan yang semula dikuasai oleh padepokan Empu Purung, korban telah jatuh. Tetapi dengan demikian maka yang tinggal hidup akan mengalami perubahan. Tata kehidupan akan menjadi jauh lebih baik. Terutama bagi masa depan anak cucu kita.”

“Tetapi kenapa korban itu harus anakku?” bertanya ayah Sempati.

“Tidak hanya anakmu. Tetapi juga anak beberapa orang yang jauh mendahuluinya.”

Kedua orang tua Sempati tidak menjawab. Mereka juga mendengar bahwa beberapa orang telah terbunuh dalam geseran kehidupan yang terjadi di padukuhan itu.

Bagi Singasari, yang terjadi sebenarnya bukannya sekedar sebuah geseran tata kehidupan di daerah kecil itu. Tetapi yang terjadi adalah suatu rangkaian peristiwa yang tidak berdiri sendiri. Tetapi merupakan persoalan yang memerlukan penanganan yang menyeluruh di seluruh wilayah kekuasaannya.

Laleyan yang melihat, para prajurit itu berbicara panjang dengan orang tua Sempati, masih belum memotong dan memberikan penjelasan tentang peristiwa yang diketahuinya ada sangkut pautnya dengan kehadiran kedua orang penghubung itu. Baru kemudian, ketika kedua orang tua Sempati telah menjadi agak mengendap, Laleyan datang kepada para prajurit itu untuk menyampaikan pendapatnya.

“Aku yakin, bahwa kedua penghubung itulah yang melakukannya.” katanya kemudian setelah ia menceriterakan apa yang diketahuinya.

Prajurit-prajurit itu mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka bertanya, “Jadi, apakah mereka berada di padepokan itu menurut dugaanmu?”

“Sulit bagi kami untuk mengatakannya.” jawab Laleyan. “Tetapi mungkin juga cantrik yang tersisa di padepokan itu mengetahuinya.”

Prajurit-prajurit yang ada di rumah keluarga Sempati itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka sadar, bahwa yang terjadi itu merupakan sebuah tantangan bagi mereka.

Demikianlah ketika mereka meninggalkan rumah keluarga Sempati, kelima orang prajurit itu telah bersepakat untuk langsung pergi ke padepokan, bekas tempat tinggal Empu Purung.

“Mungkin kita akan menghadapi mereka dengan kekerasan.” berkata prajurit teretua di antara mereka.

Yang lain mengangguk-angguk. Salah seorang menyahut, “Mungkin. Tetapi itu merupakan tanggung jawab kita semuanya.”

Kelima prajurit itupun menjadi berhati-hati ketika mereka mendekati regol padepokan yang sepi itu. Padepokan yang tidak lagi nampak ramai oleh para cantrik, oleh anak-anak muda yang sedang berlatih olah kanuragan hampir tidak ada hentinya siang dan malam.

Tetapi kini padepokan itu menjadi sepi.

Sejenak para prajurit itu termangu-mangu di depan regol. Namun kemudian mereka memutuskan untuk memasuki regol yang lengang itu.

Dengan tangan di hulu senjata masing-masing, kelima prajurit itu memasuki regol padepokan. Tidak ada seorangpun yang nampak di halaman depan. Halaman yang biasanya penuh dengan para murid.

Sejenak kelima orang prajurit itu termangu-mangu. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata. “Aku akan masuk.”

“Tunggu.” berkata yang, tertua, yang menjadi pemimpin dari kelima orang prajurit itu, “Kita memanggil cantrik yang tersisa di padepokan ini.”

Sejenak kemudian, maka terdengarlah suara prajurit itu, “He, siapakah yang ada di dalam?”

Suara bergema di seluruh padepokan. Sejenak tidak terdengar jawaban. Namun kemudian seorang cantrik telah muncul dari balik regol longkangan. Cantrik itupun nampak ragu-ragu, bahkan agak ketakutan.

Pemimpin prajurit itu melambaikan tangannya memanggil cantrik yang ragu-ragu itu untuk mendekat. Kemudan dengan pendek bertanya tentang kemungkinan datangnya orang-orang yang masih belum dapat menerima perubahan yang terjadi di sekitar padepokan itu.

Cantrik itu menjadi semakin ragu-ragu. Nampak sesuatu terbersit di sorot matanya, sehingga pemimpin prajurit itupun langsung bertanya, “Apakah ada dua orang penghubung yang baru datang dari padepokan Empu Baladatu yang tidak mau mengerti perkembangan keadaan di padepokanmu ini?”

Cantrik itu termangu-mangu. Namun kemudian ia tidak dapat mengelak lagi.

Kedua orang yang dimaksud tentu kedua orang yang berusaha mencari dukungan atas usahanya untuk membalas dendam kematian kawan-kawannya, termasuk pemimpin tertinggi padepokan itu.

Betapapun ia ragu-ragu, namun iapun kemudian menjawab, “Ya tuan. Dua orang kawanku yang bertugas sebagai penghubung telah datang. Mereka tidak melihat peristiwa yang telah terjadi di sini. Ketika aku menceriterakannya, maka mereka sama sekali tidak mau menerima keadaan itu. Hatinya telah memberontak sehingga ia telah dicengkam oleh dendam dan kebencian.”

Prajurit-prajurit Singasari itu mengangguk. Salah seorang dari mereka berkata, “Tentu orang itu yang kami maksud. Apakah kau sudah mendengar peristiwa yang terjadi di padukuhan hari ini?”

Cantrik itu mengangguk. Jawabnya, “Ya tuan. Aku sudah mendengar. Sempati telah terbunuh.”

“Apakah kau melihat hubungan antara Sempati dengan kedua orang kawanmu yang datang itu?”

Cantrik itu mengangguk. Jawabnya, “Aku melihat tuan. Justru karena itu, aku tidak datang menengok keluarganya. Aku takut jika terjadi salah paham. Keluarganya tentu akau menganggap bahwa aku terlibat dalam pembunuhan itu.”

Tetapi prajurit itu menggeleng. Katanya, “Keluarganya tidak tahu menahu tentang kedua orang penghubung yang datang itu.”

“Tetapi darimana tuan tahu?” bertanya cantrik itu.

“Seseorang telah memberitahukan kepadaku, bahwa ada dua orang penghubung dari padepokan ini yang berusaha untuk mengeruhkan suasana di padepokan ini.”

Cantrik itu menangguk-angguk. Katanya, “Sebenarnyalah memang telah terjadi demikian. Terserah kepada tuan, apa yang sebaiknya dilakukan dalam keadaan seperti ini.”

Prajurit-prajurit Singasari itu termenung. Namun salah seorang dari mereka tiba-tiba bertanya, “Apakah kau sendiri di padepokan ini?”

Cantrik itu menggeleng sambil menjawab, “Tidak. Aku tidak sendiri. Aku bertiga di padepokan ini.”

“Apakah kedua kawanmu itu tidak akan berbuat sesuatu atas kalian bertiga?”

Cantrik itu menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Memang mungkin. Tetapi di samping kami bertiga, masih ada beberapa orang penghuni padepokan ini. Meskipun mereka bukan cantrik dan murid Empu Purung, tetapi mereka akan dapat kami jadikan kawan jika terjadi sesuatu. Bukankah maksud tuan ingin bertanya, apakah mungkin pada suatu saat, kedua orang itu akan membunuh kami?”

Prajurit-prajurit itu mengangguk.

“Kami telah bersiap menghadapi kemungkinan itu tuan. Agaknya mereka berdua tidak banyak mempunyai kelebihan daripada kami. Jika perlu kami harus mempergunakan kekerasan, maka kami tidak akan ingkar.”

Prajurit-prajurit itu mengerti, bahwa kemampuan para cantrik pada umumnya tidak banyak berbeda. Namun demikian yang dicemaskan oleh prajurit-prajurit itu, mungkin kedua orang penghubung itu akan berbuat licik.

Namun demikian, prajurit-prajurit itu masih lebih banyak dicemaskan oleh kemungkinan-kemungkinan lain di padukuhan. Kali ini Sempati. Mungkin saat lain anak-anak muda yang lain lagi.

Karena itu, maka prajurit-prajurit itupun kemudian berpesan agar para cantrik menjadi lebih berhati-hati.

“Kami akan berusaha menjaga diri tuan. Memang mungkin dalam keputusan atasan dan ketidak tentuan, mereka dapat berbuat apa saja dengan cara yang paling licik sekali pun. Aku yang telah lama berada di dalam lingkungan ini memang dapat melihat, bahwa kami mempergunakan segala cara untuk mencapai tujuan kami, meskipun cara itu adalah cara yang sangat licik.”

“Baiklah. Kami akan meninggalkan padepokan ini. Kami berharap bahwa para cantrik yang tersisa akan dapat membantu kami memelihara ketenangan yang sudah mulai kita rintis ini.”

“Baiklah tuan. Kami akan berusaha sejauh dapat kam lakukan.” jawab cantrik itu.

Prajurit-prajurit itupun kemudian minta diri meninggalkan padepokan yang telah menjadi sepi itu.

Di sepanjang jalan mereka berbincang apakah yang sebaiknya mereka lakukan untuk menghadapi kemungkinan yang memburuk di hari-hari mendatang.

“Kita harus berada di antara anak-anak muda itu.” berkata salah seorang dari prajurit-prajurit itu, “Kita akan membantu mereka menambah kemampuan mereka untuk membela diri.”

“Aku sependapat. Tetapi kami harus berusaha, menangkap keduanya. Sebelum keduanya tertangkap, kita masih akan banyak mengalami kesulitan.”

Para prajurit itu mengangguk-angguk. Mereka bersepakat untuk segera menangkap keduanya. Tetapi yang sulit adalah, bagaimana caranya. Keduanya tentu tidak akan menetap di tempat yang mudah diketemukan.

Tetapi yang pertama-tama dapat mereka lakukan adalah memperingatkan anak-anak muda agar berhati-hati, terlebih-lebih mereka yang pernah mempunyai hubungan dengan padepokan yang dipimpin oleh Empu Purung, karena peristiwa yang terjadi pada Sempati akan dapat terjadi pada anak-anak muda yang lain, yang menolak niat kedua penghubung itu.

Prajurit-prajurit Singasari itu pun kemudian selalu mengadakan perondaan di sekitar padepokan dan padukuhan-padukuhan di sekelilingnya. Tetapi mereka tidak pernah bertemu dengan orang yang sesuai ciri-cirinya dengan penghubung yang sedang mereka cari, seperti yang diberitahukan kepada mereka oleh. para cantrik.

Tetapi sekali lagi padukuhan Alas Pandan digemparkan, ketika di tengah bulak diketemukan lagi sesosok mayat anak muda yang dikenal sebagai salah seorang yang pernah menjadi pengikut Empu Purung. Mayat itu diketemukan dengan beberapa luka tusukan senjata di tubuhnya.

“Gila.” Laleyan menggeram, “Korban akan berjatuhan sebelum kedua orang itu dapat kami tangkap.”

“Apakah kau berani menangkap mereka?” bertanya seorang kawannya.

“Tidak, tidak jika aku seorang diri. Tetapi jika kita bersama-sama, maka pekerjaan itu tentu akan dapat kita selesaikan.”

“Tetapi kemana kita harus mencari keduanya?” bertanya yang lain.

Semuanya terhenti pada pertanyaan itu. Kedua orang itu ternyata tidak pernah menampakkan diri pada saat-saat yang tidak menguntungkan bagi mereka, karena mereka pun mempunyai perhitungan yang cermat pula.

Kematian anak muda yang kedua itu telah membuat anak-anak muda yang lain menjadi marah, tetapi juga ketakutan. Tidak ada di antara mereka yang berani keluar dari rumah mereka di malam hari. Apalagi keluar, sedangkan di dalam rumah masing-masing anak-anak muda itu selalu menyediakan senjata di sampingnya dengan hati yang cemas.

Yang pertama-tama mereka lakukan adalah menyimpan alat alat yang, dapat mereka jadikan penghubung yang satu dengan yang lain apabila keadaan memaksa. Hampir setiap anak muda telah menyimpan kentongan di dalam rumahnya. Jika satu dari kentongan itu berbunyi, maka di seluruh padukuhan akan menjadi riuh karena berpuluh-puluh kentongan lainnya akan berbunyi pula.

Sementara itu para prajurit Singasari menjadi gelisah pula oleh peristiwa semacam itu. Mereka mulai membayangkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di daerah lain, yang tentu mulai menjadi panas pula. Empu Baladatu yang sudah mendapat pemberitahuan tentang peristiwa yang terjadi di padepokan Empu Purung oleh kedua penghubung itu sebelum mereka mengetahui bahwa Empu Purung telah mereka hancurkan.

“Mungkin kedua penghubung itu telah pergi.” berkata salah seorang anak muda pada suatu saat kepada kawannya.

“Kenapa mereka pergi?”

“Mungkin mereka melaporkan apa yang terjadi di daerah ini kepada Empu Baladatu.”

“Mungkin. Tetapi masih ada kemungkinan lain. Mereka bersembunyi sebaik-baiknya. Jika kita lengah, pada suatu saat mereka akan menerkam kita. Justru lebih parah lagi.”

Sementara itu, para prajurit yang membawa beberapa orang tawanan telah berada di Singasari. Beberapa orang petugas telah menampung mereka pada suatu tempat yang telah ditentukan. Orang-orang yang terluka telah mendapat perawatan. Sedangkan yang tidak berbahaya lagi, mendapat perlakukan khusus sehingga mereka lebih banyak mendapat kesempatan berada di luar dinding bilik yang sempit.

Namun dalam pada itu, para penghubung prajurit Singasari telah berpencar. Mereka telah menghubungi barak-barak yang tersebar, karena mereka pun telah mendapat keterangan, bahwa Empu Baladatu tentu akan segera bertindak pula, karena peristiwa yang, telah meledak di padepokan Empu Purung.

Seperti yang telah diperhitungkan, maka di beberapa tempat segera pecah pula pertempuran-pertempuran seperti yang telah terjadi di Alas Pandan. Beberapa orang, yang telah siap, dan bahkan mereka menunggu terlalu lama, telah menggerakkan pengikut-pengikutnya menyerang barak-barak yang mereka anggap terpencil. Namun barak-barak itu sebenarnya telah diperkuat dengan beberapa orang prajurit pilihan pada saat-saat terakhir, karena menurut perhitungan mereka, petempuran- petempuran tentu akan segera pecah.

Namun bagaimanapun juga, Singasari merasa gelisah juga atas pecahnya pertempuran-pertempuran di beberapa tempat yang tersebar. Dengan demikian, maka Singasari harus mengirimkan pasukannya ke beberapa tempat. Singasari tidak dapat dengan acuh tidak acuh membiarkan pasukan mereka yang tersebar itu berusaha menolong diri sendiri jika mereka berada didalam kesulitan.

Seorang Senapati yang memimpin sepasukan prajurit di hadapan sebuah padepokan di pantai Selatan, telah mengirimkan dua orang penghubung untuk memberitahukan, bahwa pasukannya tidak mungkin dapat menghadapi kekuatan di padepokan itu, karena jumlah mereka terlalu banyak.

Dengan hitungan angka-angka yang terperinci, maka Singasari merasa wajib untuk mengirimkan sepasukan lagi prajuritnya ke tempat itu, tepat sebelum pertempuran meletus.

Namun dalam pada itu, pada umumnya Singasari dapat menguasai keadaan. Perlawanan yang berarti di beberapa tempat telah dapat dilumpuhkan.

Meskipun demikian, tugas para prajurit belum berarti selesai seluruhnya. Lima orang prajurit di Alas Pandan masih dipusingkan.

Selain mereka, maka Singasari tidak boleh melepaskan pengawasan mereka terhadap Mahibit.

Sementara itu, Linggapati mengikuti perkembangan keadaan dengan seksama. Ia merasa berhasil membenturkan pasukan Singasari dengan orang-orang yang, berada di bawah pengaruh Empu Baladatu. Linggapati yang menganggap bahwa Singasari telah mempercayai laporan-laporan yang dengan sandi diberikan oleh pengikut Linggapati, sehingga Singasari telah mengirimkan pasukannya kebeberapa tempat yang berada di bawah pengaruh Empu Baladatu.

“Perhatian Singasari kini telah tertumpah kepada pasukan Empu Baladatu.” berkata Linggapati kepada orang-orang kepercayaannya.

“Saatnya kini telah tepat.” berkata salah seorang dari kepercayaannya itu.

Linggapati tidak segera mengambil keputusan. Namun katanya kemudian, “Kita harus memperhitungkan keadaan dengan sebaik-baiknya. Empu Baladatu agaknya telah terpancing untuk dengan tergesa-gesa membenturkan kekuatannya, sehingga sebelum persiapannya masak, ia sudah terlibat dalam pertempuran yang menyeluruh.”

Para pengawal kepercayaan mengangguk-angguk. Merekapun mengerti bahwa pada mulanya, Linggapatilah yang memancing prajurit Singasari untuk pergi ke tempat-tempat yang sedang di persiapkan. Kemudian ternyata bahwa pasukan Singasari telah berhasil memancing pertempuran sebelum Empu Baladatu siap seluruhnya.

Linggapati yang tidak mau gagal lagi, setelah adiknya terbunuh dalam serangan yang tergesa-gesa atas sebuah padepokan yang dikuasai oleh kakak Empu Baladatu.

“Kita harus mengirimkan petugas-petugas terpercaya ke Kota Raja untuk melihat keadaan. Aku sendiri lah yang akan memimpin mereka. Jika keadaan memungkinkan, karena Kota Raja telah menjadi kosong, kita akan langsung bertindak, sementara pengikut-pengikut kita di daerah-daerah yang jauh harus bergerak lebih dahulu, agar pasukan Singasari menjadi semakin kalang kabut.”

Para pengawalnya mengangguk-angguk. Mereka memang melihat keadaan yang paling tepat untuk melakukannya. Jika pasukan Empu Baladatu sudah dihancurkan, maka prajurit-prajurit Singasari tentu akan segera kembali ke Kota Raja, sehingga usahanya tentu akan gagal.

Linggapati pun kemudian telah menyiapkan sekelompok kecil pengawal-pengawal pilihan. Mereka akan pergi ke Kota Raja untuk melihat keadaan. Agar tidak menarik perhatian, maka merekapun telah mengenakan pakaian orang kebanyakan. Seakan-akan mereka adalah orang-orang padesan yang akan pergi ke kota untuk menjual hasil sawahnya dan membeli kebutuhan mereka sehari-hari.

Dalam pada itu, Kota Raja memang sedang sepi. Sebagian besar pasukan Singasari berada di medan yang terpencar. Dengan demikian, maka Kota Raja seakan-akan telah dikosongkan, tanpa pengawasan atas kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi.

Yang nampak di Kota Raja hanyalah satu dua orang prajurit yang, meronda, menjaga agar tidak ada pencuri ternak atau perampokan di malam hari oleh tiga atau empat orang penyamun.

“Tetapi mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa, jika. kita datang dengan pasukan segelar sepapan.” berkata Linggapati.

Pengawal mengangguk-angguk. Katanya, “Kita harus bertindak cepat. Jangan terlambat. Sekarang kita akan kembali ke padepokan, dan besok lusa kita akan memasuki Kota Raja.”

Linggapati mengerutkan keningnya.

“Jika kita terlambat sehari saja, maka mungkin sekali sepasukan prajurit telah kembali, seperti mereka yang telah kembali dari Alas Pandan. Tetapi agaknya mereka telah dikirim kembali ke tempat-tempat lain yang memerlukan.” desak pengawalnya.

Linggapati akhirnya menjawab, “Pada dasarnya aku sependapat. Tetapi kita belum melihat Kota Raja ini seluruhnya.”

“Apalagi yang akan kita lihat?”

Tetapi Linggapati masih tetap pada pendiriannya untuk melihat kota itu dalam keseluruhan.

Pengawalnya tidak dapat membantah lagi. Ia pun dengan tidak sabar mengikuti Linggapati yang berjalan mengelilingi Kota Raja.

“Kau sangka bahwa pengamatan semacam ini akan selesai dalam sehari?” bertanya Linggapati kepada pengawalnya.

“Dalam keadaan yang wajar memang tidak. Tetapi kita sudah dapat mengetahui, apakah yang sedang bergejolak di Singasari sekarang.”

“Jangan tergesa-gesa. Aku sudah pernah tersungkur terantuk oleh ketergesa-gesaan itu. Kau tahu. adikku terbunuh karena kebodohan kami.” jawab Linggapati, lalu, “Selebihnya jangan takut terlambat. Jika pasukan Singasari itu selesai dengan parapengikul Empu Baladatu, maka orang-orang kita sendiri baru mulai dengan gerakan mereka yang mengundang prajurit Singasari lebih banyak lagi.”

“Jika kita memanfaatkan keadaan ini, maka sebagian dari mereka dapat kita tarik untuk membantu kita menduduki Kota Raja.”

“Mereka dapat mengacaukan rencana kita. Biarlah mereka saling membunuh dengan prajurit-prajurit Singasari di tempat yang jauh. Semakin banyak di antara mereka terbunuh bersama prajurit Singasari, akibatnya tentu akan lebih baik.”

Pengawalnya menjadi heran. Mereka tidak segera dapat menangkap maksud Linggapati.

Agaknya Linggapati mengetahui keragu-raguan para pengikutnya, sehingga ia menjelaskan, “Mereka hanyalah aku perlukan dalam pertempuran-pertempuran yang akan terjadi dengan prajurit-prajurit Singasari. Selebihnya mereka hanya akan mengganggu karena setiap orang menghendaki untuk mendapat tempat yang paling baik, sehingga lebih baik jika merekapun dimusnahkan oleh prajurit-prajurit Singasari. Tetapi dengan demikian akan berarti bahwa prajurit-prajurit Singasari akan menjadi lemah dan tidak akan berdaya lagi menghadapi pasukan Mahibit yang sebenarnya.”

Pengawalnya mengangguk-angguk. Tetapi cara itu baginya terlalu lambat, meskipun mungkin hasilnya akan lebih sempurna.

Demikianlah akhirnya Linggapati pun yakin, bahwa Kota Raja Singasari memang dalam keadaan sepi. Prajurit-prajuritnya telah dikirim keluar untuk menghadapi perlawanan pasukan-pasukan yang berada di bawah pengaruh Empu Baladatu.

Tetapi ternyata Linggapati benar-benar ingin mengetahui terlalu banyak. Itulah sebabnya, ia tidak segera kembali ke Mahibit. Tetapi ia bermalam di tempat yang sepi di luar Kota Raja. Di hari berikutnya, ia telah kembali memasuki Kota Raja untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang keadaan yang berkembang.

Di Kota Raja, Linggapati mendengar beberapa orang prajurit yang telah menjadi korban di beberapa tempat. Pada umumnya korban-korban itu dibawa kembali ke Kota Raja sebagai pahlawan, kecuali mereka yang tidak lagi dapat diselamatkan jasmaninya. Tetapi prajurit-prajurit yang sebelumnya bertugas dan berasal dari daerah-daerah lain pun dikembalikan pula ke daerahnya.

“Korban telah jatuh semakin lama semakin banyak.” berkala Linggapati, “Pertempuran tidak hanya terjadi sehari semalam. Ada daerah yang mengalami pergolakan sampai sepekan. Tetapi ada yang. selesai sebelum matahari terbenam di hari pertama.”

Pengawal-pengawalnyapun mengangguk-angguk. Tetapi mereka tetap berpendapat bahwa saat itu adalah saat yang paling baik untuk menduduki Kota Raja. Tetapi ternyata Linggapati mempunyai perhitungan lain. Ia membiarkan Singasari menyelesaikan tugasnya. Kemudian di saat prajurit-prajurit Singasari yang parah itu mulai beristirahat, maka pasukan-pasukan yang sudah disiapkan Linggapati akan mulai bergerak. Sisa prajurit Singasari akan dihancurkan, sementara para pengikutnya pun akan berkurang cukup banyak seperti yang dikehendakinya.

Sementara itu, di tempat yang terpencar prajurit Singasari pada umumnya berhasil menguasai keadaan, meskipun seperti yang dikehendaki oleh Linggapati, mereka menjadi lemah karena korban yang berjatuhan. Bahkan ada daerah yang tidak terduga-duga telah berhasil mendesak pasukan Singasari untuk beberapa lamanya, sehingga prajurit Singasari terpaksa mundur sambil menunggu bantuan yang datang, beberapa hari kemudian.

Dalam pada itu, di Kota Raja kesulitan-kesulitan itupun telah mulai terasa. Barang-barang tidak lagi mengalir seperti masa-masa tenang. Prajurit-prajurit tidak lagi banyak nampak di sepanjang jalan di Kota Raja, karena mereka tidak berada di tempat.

Tetapi yang tidak diduga oleh Linggapati, dalam keadaan yang demikian, Singasari tetap memperhatikan kegiatan yang terjadi di Mahibit. Meningkatnya kegiatan yang nampak memang sangat menarik perhatian Singasari. Mereka pun mulai memperhitungkan, bahwa pada suatu saat, Linggapati akan mengambil keuntungan dari keadaan itu.

Karena itu, maka para pemimpin di Singasari telah membuat perhitungan yang sangat cermat terhadap keadaan yang pada suatu saat akan dapat menghimpit kekuatan Singasari dari dua arah.

Tetapi para pemimpin prajurit Singasari cukup berhati hati menghadapi keadaan. Mereka tidak sekedar berbuat, tanpa pertimbangan-pertimbangan yang panjang.

Dalam pada itu, di Alas Pandan, lima orang prajurit Singasari masih merasa terganggu oleh dua orang penghubung yang tersembunyi. Hampir saja mereka berhasil membunuh korban berikutnya. Untunglah anak muda yang hampir saja terbunuh itu sempat berteriak keras-keras, sehingga beberapa orang yang mendengarnya berlari-larian mendekat. Meskipun anak muda itu terdapat dalam keadaan luka-luka, tetapi ia masih dapat diselamatkan. Ia sempat memberikan perlawanan meskipun hanya sekedar memperpanjang saat-saat yang mengerikan. Tetapi agaknya teriakannya dapat membantunya, menyelematkannya dari maut.

Agaknya peristiwa itu telah membuat seluruh padukuhan menjadi prihatin. Anak-anak muda baik yang pernah bersinggungan maupun yang belum dengan padepokan Empu Purung, telah menyerahkan persoalannya kepada prajurit-prajurit Singasari yang ada di padukuhan mereka.

“Kita tidak boleh sekedar menunggu.” berkata prajurit-prajurit itu, “Karena itu, kita harus mulai berbuat sesuatu. Kita akan membuat diri kita masing-masing cukup kuat untuk menghadapi kedua orang itu.”

Agaknya anak-anak muda Alas Pandan mendukung pendapat itu sepenuhnya. Mereka yang sudah pernah mempelajari olah kanuragan telah berusaha memperdalam lagi ilmunya, dengan alas dan tujuan yang berbeda. Sedang yang lain mulai dengan unsur-unsur gerak yang permulaan sekali, dibawah petunjuk para prajurit Singasari.

Ternyata usaha prajurit-prajurit Singasari itu telah menumbuhkan kegelisahan di hati kedua orang penghubung itu. Mereka dengan cemas mengikuti perkembangan keadaan meskipun secara tersembunyi.

Ternyata bahwa padepokan Empu Purung telah menjadi ramai kembali. Beberapa orang anak muda telah berkumpul di padepokan itu. Tetapi bukan Empu Purung dan para cantriklah yang memberikan bimbingan kepada mereka dalam ilmu yang keras dan kasar, tetapi para prajurit Singasari lah yang memberikan ilmu olah kanuragan.

Beberapa orang cantrik yang masih ada di padepokan itu pun berusaha membantu para prajurit. Tetapi karena pada dasarnya ilmu merekapun adalah ilmu yang keras dan kasar, maka mereka justru berusaha untuk ikut serta mempelajari beberapa unsur gerak yang lebih baik dengan sifat-sifat kejantanan seorang kesatria.

Perasaan kedua penghubung itu bagaikan terbakar menyaksikan perkembangan keadaan itu. Bagi mereka sumber segala kerusakan dan kehancuran perguruan Empu Purung itu adalah para prajurit Singasari.

Tetapi keduanya tidak mempunyai cara yang paling baik untuk melenyapkan mereka. Jika hanya berdua saja, tentu mereka tidak akan berhasil.

“Kita akan mencari kesempatan, saat mereka terpisah yang satu dengan yang lain.” berkata salah seorang, dari keduanya.

“Itu tidak pernah terjadi. Sedikitnya, tentu ada dua orang di antara mereka. Apakah mereka berada di sepanjang jalan atau di banjar padukuhan.” sahut yang seorang.

Yang lain mengangguk-angguk. Namun mereka bertekad untuk membuat kegemparan-kegemparan baru dengan melakukan pembunuhan-pembunuhan lagi. Mereka telah kehilangan dasar usaha mereka untuk berbuat sesuatu berdasarkan atas suatu tujuan. Yang mereka lakukan kemudian adalah sekedar membuat kerusuhan dan melakukan perbuatan-perbuatan beralasan dendam dan nafsu semata-mata. Mereka tidak lagi memikirkan apakah yang dilakukan itu berarti bagi diri mereka sendiri atau bagi lingkungan mereka.

Sementara itu, para prajuritpun tengah mencari jalan bagaimanakah sebaiknya memancing kedua orang itu keluar dari persembunyiannya.

“Aku akan berada di sawah di malam hari.” berkata salah seorang dari prajurit itu, “Dengan sengaja aku akan menyusuri parit. Mungkin aku akan bertemu dengan mereka, karena mereka akan menganggap bahwa aku adalah seorang dari anak muda padukuhan Alas Pandan.”

Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Sejenak mereka mencoba untuk menilai rencana itu. Namun kemudian salah seorang dari mereka menjawab, “Mereka berdua. Kita belum mengetahui tingkat kemampuan mereka sebenarnya.”

“Aku akan memberikan isyarat, jika mereka berdua datang. Kalian akan berada di sudut padukuhan kecil di sebelah padepokan itu. Aku akan menyusuri parit yang mengalir melalui padukuhan kecil itu sampai beberapa puluh langkah.”

“Apakah keduanya berada di sana?”

“Kita tidak tahu pasti. Mungkin keduanya berkeliaran. Mudah-mudahan pada suatu saat mereka melihat aku, karena aku akan melakukannya beberapa malam sampai suatu saat mereka datang.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Salah seorang menjawab, “Kita akan mencobanya.”

Di malam berikutnya, seorang prajurit telah menyamar seperti anak-anak muda yang lain. Dengan cangkul di pundak ia berjalan menyelusuri parit dan berhenti beberapa puluh langkah dari sudut padukuhan. Beberapa saat ia berdiri di tempatnya, kemudian melangkah hilir mudik. Namun orang yang di harapkannya tidak datang pada malam pertama itu.

Di malam berikutnya, prajurit itu mengulanginya kembali. Kawan-kawannya bersembunyi di sudut padukuhan dan siap bertindak apabila diperlukan.

Tetapi yang terjadi sangat mengejutkan padukuhan itu. Dipintu padepokan, seorang anak muda terdapat luka-luka parah terbaring dengan senjata di tangan. Agaknya ia masih sempat melawan. Tetapi ia tidak mampu bertempur melawan kedua orang lawan. Seperti yang pernah terjadi, ia sempat berteriak, sehingga kedua orang yang menyerangnya itu lari meninggalkannya.

Prajurit-prajurit itu hanya dapat menggeretakkan gigi. Adalah sulit sekali untuk dapat menangkap mereka berdua. Keduanya bagaikan iblis yang dapat lenyap seperti asap. Kemudian muncul dengan tiba-tiba di tempat yang mereka kehendaki.

Tetapi prajurit-prajurit itu tidak menjadi jemu dan putus asa. Anak-anak muda padukuhan itupun berlatih semakin tekun, karena mereka merasa perlu untuk melindungi diri mereka sendiri.

Tetapi yang terjadi di padukuhan itu, tanpa disengaja telah berjalan seperti yang direncanakan oleh para pimpinan prajurit di Singasari.

Untuk menanggapi perkembangan keadaan, dengan digunakannya prajurit Singasari di medan yang luas, maka para pemimpin telah memerintahkan agar diberikan pengampunan kepada anak-anak muda yang diluar sadarnya telah terlibat dalam perlawan terhadap Singasari. Mereka justru mendapat kesempatan untuk mengabdikan dirinya bagi keselamatan Singasari menanggapi kesiagaan orang-orang di Mahibit.

Diberbagai tempat yang telah berhasil dikuasai keadaannya oleh pasukan Singasari, maka prajurit-prajurit Singasari telah mengumpulkan anak-anak muda yang masih mungkin, dipercaya untuk ikut serta menegakkan kewibawan Singasari.

Mereka mendapat bimbingan terutama jiwanya untuk mengenali diri sendiri dan tingkah laku mereka.

Yang telah terjadi itu ternyata dapat menolong keadaan. Singasari tidak dipenuhi oleh tawanan-tawanan yang, berjejalan. Tetapi justru memberikan bentuk jiwani pada anak-anak muda yang telah tersesat.

Ternyata bahwa Linggapati pun memperhatikan semua yang telah dilakukan oleh Singasari. Dengan saksama ia mendengarkan laporan-laporan yang beruntun datang dari beberapa daerah oleh penghubung-penghubung yang di tempatkannya khusus utuk mengamati keadaan.

“Kita terlambat.” berkata salah seorang pengawalnya yang sejak semula telah mendesaknya untuk bertindak.

Linggapati menggeleng. Jawabnya, “Tidak. Singasari masih belum dapat menangkap Empu Baladatu. Ia masih berkeliaran dan memberikan perlawanan di mana-mana.”

“Tetapi kekuatan Empu Baladatu telah hampir dapat di lumpuhkan di segala tempat.”

“Biarlah yang tersisa itu memeras kekuatan Singasari. Yang tersisa itu masih sempat membunuh beberapa puluh orang korban di medan yang tersebar.”

Pengawalnya hampir-hampir tidak telaten lagi menunggu perintah Linggapati. Dengan cemas ia mengikuti setiap laporan mengenai perkembangan keadaan di daerah-daerah. Apalagi jika ada di antara para penghubung itu memberikan laporan tentang kemungkinan terbentuknya satu kekuatan cadangan dari anak-anak muda yang justru semula berpihak kepada Empu Baladatu.

Dalam pada itu, prajurit-prajurit Singasari telah benar-benar bertindak tegas terhadap para pengikut Empu Baladatu.

Dibeberapa tempat korban menjadi terlalu banyak. Namun hal itu tidak dapat dihindarinya dalam keadaan yang gawat bagi Singasari.

Apalagi ketika Singasari mendapat laporan dari para petugas sandinya tentang kegiatan yang semakin meningkat di Mahibit, maka mereka pun menjadi semakin banyak memperhatikan kemungkinan untuk meningkatkan ketahanan prajurit Singasari yang semakin lemah karena perlawan Empu Baladatu.

“Perlawanan itu harus diakhiri segera.” berkata Manisa Agni ketika ia berada di dalam sidang para pemimpin Singasari.

“Ia berada di tengah-tengah induk pasukan yang kuat yang bergerak mendekati Kota Raja.” berkata seorang petugas sandi yang mengikuti gerakan di induk pasukan Empu Baladatu.

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka mulai menjadi cemas karena perkembangan keadaan yang gawat. Mereka sadar, bahwa setelah mereka menyelesaikan dan mematahkan kekuatan Empu Baladatu, mereka masih harus berhadapan dengan kekuatan yang sudah tersusun di Mahibit.

“Tuanku.” berkata Mahisa Agni, “Menurut pertimbangan hamba, biarlah kekuatan induk pasukan Empu Baladatu itu mendekat Kota Raja. Kita harus menjebaknya dan membinasakannya. Sebelum Empu Baladatu sendiri dapat dilumpuhkan, maka perkembangan keadaan masih akan tetap memburuk. Menurut pertimbangan hamba, Mahibit sengaja menunggu segalanya selesai, karena dengan demikian Singasari menurut perhitungan mereka telah menjadi lemah.”

Linggapati menggeleng. Jawabnya, “Tidak. Singasari masih belum dapat menangkap Empu Baladatu. la masih berkeliaran dan memberikan perlawanan di mana-mana.”

Ranggawuni mengangguk. Katanya, “Pasukan Singasari memang, telah terpencar. Kesatuan-kesatuan yang ditarik dari daerah-daerah yang jauhpun telah terlibat. Tetapi pasukan cadangan di Kota Raja masih tetap kuat untuk melawan induk pasukan Empu Baladatu jika mereka benar-benar memotong perlawanan mereka langsung ke Kota Raja.”

“Hamba tuanku. Namun masih harus diperhitungkan kekuatan Linggapati yang akan menyusul kemudian.”

“Jadi bagaimana menurut pertimbangan paman?”

“Kita dapat mempercayakan kepada para prajurit yang telah menyelesaikan tugasnya untuk menghadapi kekuatan yang akan digerakkan oleh Mahibit tuanku. Tetapi induk kekuatan Mahibit itu tentu akan melanda Kota Raja juga seperti yang akan dilakukan oleh Empu Baladatu. Justru beruntun, karena Linggapati memiliki perhitungan yang baik. Lebih dari Empu Baladatu.”

“Aku dapat mengerti.”

“Untuk menghadapi kekuatan Mahibit tentu diperlukan kekuatan yang segar. Bukan dari pasukan yang telah telah bertempur melawan pasukan Empu Baladatu.”

“Apakah pasukan cadangan itu harus dibagi? Bukankah dengan demikian berarti kekuatan Singasari akan nampak terlalu kecil?”

“Tuanku. Masih ada kekuatan yang tersimpan. Untuk menghadapi Empu Baladatu hamba kira kira dapat berhubungan dengan Empu Sanggadaru. Padepokan itu kini menjadi besar. Kekuatan yang ada di padepokan itu adalah kekuatan dari padepokan Empu Sanggadaru sendiri, dari padepokan Macan Kumbang, dan Serigala Putih. Bersama sekelompok kecil prajurit, mereka akan dapat kita hadapkan, kepada pasukan Empu Baladatu. Beberapa orang Senapati Singasari akan menyertai mereka. Dengan demikian maka seperti kekuatan anak-anak muda yang berpencaran di setiap daerah perlawanan, maka kekuatan Empu Sanggadaru akan berada di Kota Raja.”

Ranggawuni mengangguk-angguk. Ia mengenal kekuatan dan kesetiaan Empu Sanggadaru, sehingga jika anak buahnya diserahi tugas tertentu, maka Empu Sanggadaru akan melaksanakannya dengan sepenuh hati. Sementara Ranggawunipun mengetahui, bahwa jumlah pasukan Empu Sanggadaru cukup besar, apalagi ditambah dengan Serigala Putih dan Macan Kumbang.

Dalam pada itu Mahisa Agni pun berkata, “Tuanku, jika kita berhubungan dengan Empu Sanggadaru, maka ia akan merasa mendapat kehormatan atas kepercayaan kita. Sedangkan hal itu bukanlah sesuatu yang berlebihan kita bebankan kepada mereka, karena mereka pun mempunyai kewajiban untuk ikut serta mempertahankan dan menyelamatkan seluruh Singasari dari kemunduran.”

“Baiklah.” jawab Ranggawuni kemudian, “Tetapi jangan beri beban terlalu berat kepada mereka. Apalagi beban yang tidak terpikulkan.”

“Baiklah tuanku. Kita akan segera mengatur segala sesuatu menghadapi keadaan yang akan berkembang dengan cepat. Tetapi penghubung-penghubung kita pun mampu bergerak cepat untuk menyesuaikan segala gerakan dengan keadaan yang berkembang terus.”

“Kita harus melihat Singasari dalam keseluruhan paman.” berkata Mahisa Cempaka, “Bukan bagian-bagian kecil yang diselesaikan dalam potongan-potongan kecil pula.”

“Hamba mengerti tuanku. Dan hamba pun selalu mencoba memperhatikan setiap gejala yang berkembang, seperti yang terjadi di Mahibit di samping kerusuhan yang timbul karena tindakan Empu Baladatu.”

Demikianlah, maka atas ijin Ranggawuni dan Mahisa Cempaka maka Mahisa Agni pun telah memerlukan pergi ke padepokan Empu Sanggadaru yang telah menjadi sebuah padepokan yang besar dan ganda. Seolah-olah ada tiga buah padepokan yang berkembang menjadi padukuhan- padukuhan terpisah.

Kedatangan Mahisa Agni telah disambut dengan kegembiraan di padepokan Empu Sanggadaru. Mahisa Agni tidak dapat mengenal lagi orang-orang Serigala Putih dan Macan Kumbang sebagai dua kelompok yang, hampir tidak akan pernah dapat bertemu. Namun ternyata bahwa akhirnya keduanya yang memiliki aliran dari satu sumber itu, kembali menggenang dalam satu pelimpahan.

Sebenarnyalah Empu Sanggadaru bukannya sama sekali tidak acuh terhadap perkembangan keadaan. Ia pun selalu mengikuti pergolakan yang terjadi. Ia menyebar petugas-petugas sandi sampai ke tempat yang jauh sekedar untuk mengetahui apakah yang sebenarnya telah terjadi, dan apakah yang telah di lakukan oleh adiknya yang telah berkhianat terhadap pemerintahan Singasari itu.

Oleh karena itu maka Empu Sanggadaru sama sekali tidak terkejut ketika Mahisa Agni membeberkan keadaan di beberapa tempat di Singasari.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...