Selasa, 02 Februari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 33-03

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 33-03*

Karya.  : SH Mintardja

“Kita akan melihat” berkata salah seorang dari mereka, “apakah benar-benar mereka membawa pusaka seperti yang disebut-sebut orang.”

“Jika mereka benar-benar membawa?”

“Beruntunglah kita” sahut yang lain sambil tertawa berkepanjangan.

“Kau akan membelinya? Apakah kau mempunyai cukup uang atau barang-barang lain?”

Kawannya tertawa semakin keras. Katanya, “Tidak ada seorang pun dan dapat mencegah apapun yang akan aku lakukan. Juga terhadap pedagang pusaka-pusaka itu.”

Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Namun, merekapun mengerti apakah yang dimaksud oleh kawannya itu sehingga merekapun kemudian tertawa pula berkepanjangan.

Dengan tanpa menyadari, siapakah sebenarnya yang sedang mereka hadapi, maka anak-anak muda itu pun kemudian telah pergi ke banjar. Ki Buyut yang mendapat laporan tentang anak-anak muda itu menjadi berdebar-debar. Tetapi ia merasa berkewajiban untuk berbuat sesuatu jika anak-anak muda itu memang bermaksud buruk, karena hal itu terjadi di daerah kekuasaannya.

Dengan tanpa ragu-ragu, maka anak-anak muda itupun telah memasuki halaman banjar padukuhan. Kemudian dengan tanpa ragu-ragu pula mereka mencari orang yang menyebut dirinya pedagang batu permata itu.

Tetapi langkah mereka tiba-tiba saja tertegun ketika mereka mendengar seseorang memanggil dari regol halaman banjar itu.

Ketika mereka berpaling, maka merekapun telah melihat Ki Buyut yang berjalan tergesa-gesa memasuki halaman. Dengan wajah yang tegang Ki Buyut itupun memberi isyarat, agar anak-anak muda itu berhenti di tempatnya.

“Ki Buyut” desis salah seorang dari anak-anak muda itu, “ia adalah orang yang paling memuakkan bagiku“

“Ya” sahut yang lain, “lebih baik kita lemparkan saja ia ke luar halaman.”

“Tunggu” yang lain lagi memotong, “apakah yang akan dikatakannya.”

Anak-anak muda itu pun kemudian berdiri tegang di depan pendapa banjar padukuhan itu.

Seorang anak muda yang bertubuh kekar sambil bertolak pinggang bertanya dengan kasar, “Ada apa Ki Buyut tua?”

“Apa yang akan kalian lakukan disini?” bertanya Ki Buyut.

“Aku akan menemui pedagang barang-barang bertuah itu. Aku memerlukan pusaka-pusaka atau batu-batu akik yang dapat membuat aku kebal.”

“Apa kalian akan membelinya?”

“Tentu” jawab yang lain, “Ki Buyut jangan takut, bahwa aku akan merampasnya begitu saja.”

Ki Buyut termangu-mangu. Namun tiba-tiba ia bertanya” Apakah kalian mempunyai uang?”

Anak-anak muda itu tertawa Jawabnya, “Kami mempunyai uang cukup untuk membeli seluruh Singasari “

Ki Buyut termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku juga memerlukan barang serupa itu, Marilah. Kita bersama-sama mendapatkan pedagang itu.”

Anak-anak muda itu termangu-mangu sejenak. Dengan wajah tegang merekapun saling berpandangan. Namun anak muda yang bertubuh kekar itu menjawab, “Marilah jika Ki Buyut juga memerlukan. Barangkali kami dapat membeli satu dua buah akik buat Ki Buyut.”

Ki Buyut mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian mendahului naik kependapa.

Kedatangan anak-anak muda itu memang sudah mendebarkan hati Mahendra. Ialah yang pertama-tama keluar untuk mendapatkan anak-anak muda itu di pendapa. Tetapi kehadiran Ki Buyut telah agak menenteramkan hatinya, karena Ki Buyut akan dapat menjadi saksi, bahwa jika sesuatu terjadi, maka alasanya akan dapat dilihat oleh Ki Buyut itu.

“Ha, inikah pedagang itu” desis salah seorang dari anak anak muda itu.

Mahendra mengangguk hormat sambil menjawab, “Ya anak muda. Akulah pedagang yang ingin menjajakan dagangannya dipadukuhan ini “

“Perlihatkan kepada kami, semua barang-barang yang kau bawa dan akan kau jual” desis anak muda yang bertubuh kekar, “mungkin kami akan membelinya.”

Mahendra mengangguk-angguk. Lalu jawabnya, “Sayang, bahwa aku tidak membawa banyak barang-barang dagangan. Memang ada beberapa contoh yang aku bawa. Tetapi hanya sedikit.”

Anak-anak muda itu mengerutkan keningnya. Mereka kecewa mendengar jawaban Mahendra, bahwa ia hanya membawa barang- sedikit saja sebagai contoh.

Meskipun demikian, anak muda yang bertubuh kekar itu pun berkata, “Cepat. Bawa semuanya kemari “

Mahendra termangu-mangu sejenak. Sikap anak muda bertubuh kekar itu tidak menyenangkan sekali.

Tetapi Mahendra masuk juga kedalam bilik dibagian belakang banjar itu untuk mengambil beberapa macam barang yang dibawanya. Tetapi karena agaknya ia berhadapan dengan anak-anak muda yang sulit dikendalikan, maka yang dibawanya hanyalah sebagian kecil dan yang kurang berharga.

Namun sementara itu ia sudah memberikan isyarat kepada Mahisa Agni dan Witantra, bahwa agaknya mereka berhadapan dengan anak-anak muda yang dicemaskan oleh Ki Buyut

Ketika Mahendra kembali ke pendapa sambil membawa beberapa jenis barang dagangan, maka anak-anak muda itupun segera berdesakan maju.

“Cepat tunjukkan kepada kami” berkata anak muda bertubuh kekar itu.

Mahendra pun kemudian meletakkan barang-barangnya di atas tikar di hadapan anak-anak muda itu.

Ki Buyut yang memperhatikan dengan berdebar-debar itu pun bergeser maju pula, seolah-olah ia ingin melihat dengan saksama, apakah yang akan dilakukan oleh anak-anak muda itu.

Sebenarnyalah, bahwa seperti berebutan anak-anak muda itu meraih barang-barang yang diletakkan oleh Mahendra. Mereka memperebutkan barang-barang yang mereka anggap paling baik. Tetapi karena yang dibawa Mahendra memang hanya beberapa contoh saja, maka tidak semua anak muda mendapatkan sesuatu ketika mereka berebutan. Bahkan yang sudah mendapatpun menjadi kecewa ketika yang ada didalam genggaman mereka hanyalah batu akik yang, buram atau sebilah keris kecil yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda tuah apapun.

Sejenak anak-anak muda itu termangu-mangu. Namun kemudian anak muda yang bertubuh kekar itupun menggeram, “Hanya inikah barang-barang yang kau punya?”

“Ya Ki Sanak. Hanya ini. Jika Ki Sanak menghendaki, kami akan menyediakan sesuai dengan contoh ini.”

Wajah anak muda itu menegang. Namun kemudian geramnya, “Aku tidak percaya. Kau tentu membawa lebih banyak dan lebih baik.”

“Tidak Ki Sanak. Inilah jenis dagangan kami.” Sejak anak-anak muda itu saling berpandangan. Namun kemudian anak muda yang bertubuh kekar itu berkata dengan wajah merah, “Kau akan menipu kami. Kau kira kami tidak akan dapat membayar barang-barangmu yang terbaik jika kau tunjukkan kepada kami?”

Mahendra benar-benar menjadi berdebar-debar. Dengan nada yang dalam ia menjawab, “Memang hanya itu Ki Sanak “

“Bohong.” anak muda itu hampir berteriak.

Ki Buyut yang sudah mencemaskan hal yang tidak dikehendaki itu terjadi, segera menyahut, “Sudahlah anak-anak muda. Jika memang hanya itu yang dipunyainya, apakah yang akan dapat ditunjukkan lagi kepadamu. Nah, sekarang, lihatlah. Manakah yang kalian sukai. Beli dan bayarlah menurut harganya “

“Aku tidak sudi dengan barang-barang ini. Aku ingin yang lebih baik.”

“Tetapi yang lebih baik itu tidak ada.” jawab Ki Buyut

“Bohong. Ia hanya tidak percaya kepada kami “

“Nah” berkata Ki Buyut kemudian, “jika kau memang ingin mendapat kepercayaannya, tunjukkan bahwa kau membawa uang cukup biarlah pedagang itu kemudian kembali pada saat yang lain dengan barang-barang yang lebih baik.”

“Itu tidak perlu. Aku tahu bahwa ia membawanya sekarang. Ia hanya tidak percaya saja kepada kami “

Mahendra menjadi semakin cemas. Karena itu maka kata nya, “Ki Sanak. Sebenarnyalah kami adalah pedagang yang hanya sekedar menjajakan barang-barang yang barangkali memang kurang berharga. Tetapi itulah keadaan kami yang sebenarnya.”

“Persetan. Ambil semua barang-barangmu di dalam bilikmu. Jika tidak, kami akan mengambil sendiri. Banjar ini adalah banjar kami. Dan kami sudah berbaik hati memberikan tempat bermalam bagi kalian.”

“Kami berterimakasih atas kebaikan hati Ki Buyut Dan kalian. Tetapi barang-barang itu memang tidak ada.”

Anak muda bertubuh kekar itu menjadi marah. Wajahnya menjadi merah. Namun sebelum ia berkata sesuatu, Ki Buyut sudah mendahului, “Sudahlah. Jangan berbuat sesuatu yang dapat menumbuhkan kecemasan orang lain. Biarlah ia merasa tenang tinggal dibanjar. Jika ia sudah mengatakan tidak mempunyai yang lain, jangan kau paksa ia mengadakan yang tidak ada.”

“Aku akan membuktikan bahwa ia berbohong Ki Buyut” sahut anak muda itu.

“Itu tidak perlu. Seandainya ia masih mempunyai, tetapi dengan sengaja memang, tidak ditunjukkan kepada kalian, itupun sudah menjadi haknya. Mungkin ia sudah menjanjikan kepada orang lain atau barang-barang itu memang sudah dipesan oleh orang-orang yang terdahulu dari kalian“

“Persetan. Aku akan mengambil semua yang ada di dalam biliknya. Aku tidak peduli. Dan tidak seorang pun dapat mencegah aku.”

“Aku Buyut dipadukuhan ini anak muda “

Anak-anak muda itu terkejut mendengar kata-kata Ki Buyut yang keras itu. Mereka tidak pernah melihat atau mendengar sikap Ki Buyut seperti itu, apapun yang mereka lakukan terhadap kawan-kawan serta orang-orang padukuhan itu sendiri. Tetapi kini agaknya Ki Buyut benar-benar ingin melindungi orang-orang asing di pedukuhannya.

“Ki Buyut” berkata anak muda bertubuh kekar, “apakah ruginya Ki Buyut jika kita mengambil barang-barang orang ini.?”

“Kita, seisi padukuhan ini merasa malu, bahwa tingkah laku anak-anak muda dipadukuhan ini benar-benar telah menurunkan martabat kita sebagai manusia.”

Anak muda bertubuh kekar mengerutkan keningnya. Namun kemudian terdengar ia tertawa berkepanjangan. Katanya, “Oh, Ki Buyut yang luhur budi. Orang asing ini tentu akan sangat berterima kasih terhadap Ki Buyut, bahwa Ki Buyut telah mencoba melindunginya. Tetapi sayang. Aku sama sekali tidak menghargai orang-orang asing ini. Aku lebih senang mengambil barang-barangnya meskipun dengan demkian ia menganggap bahwa martabat kami sebagai manusia telah merosot sampai serendah martabat apapun.”

“Anak yang malang” desis Ki Buyut, “jangan kau lakukan itu. Aku berhak melarangmu dan kau berkewajiban untuk mentaatinya “

“Sayang Ki Buyut. Kau tidak mempunyai cukup wibawa untuk mencegah kami melakukan menurut keinginan kami.”

Wajah Ki Buyut menjadi merah padam. Ia benar-benar tidak dapat memaksakan maksudnya kepada anak-anak muda itu. Namun seperti yang dikatakan oleh anak-anak muda itu, bahwa memang tidak mempunyai cukup wibawa atas mereka.

“Apakah yang dimaksud dengan wibawa itu adalah krmampuan memperlakukan orang lain dengan kekerasan agar mereka tunduk kepada niat seseorang?” pertanyaan yang pahit itu telah bergelora di dalam dada Ki Buyut.

Sementara itu Mahendra memperhatikan sikap anak-anak muda itu dengan saksama. Ia sadar, bahwa anak-anak muda itu tidak akan dapat dicegah lagi, sehingga benturan kekerasanpun tidak akan dapat dicegah pula.

“Agaknya peristiwa ini akan dapat menjadi sebab dan persoalan yang lebih besar yang melibatkan padepokan Empu Purung dan prajurit-prajurit Singasari” berkata Mahedra di dalam hati., “Namun, dengan demikian, maka tanggapan Empu Baladatu atas hal ini akan berbeda jika pertempuran ini langsung terjadi karena benturan kekuasaan prajurit Singasari atas daerahnya yang akan dibersihkannya.”

Karena itulah, maka menurut pendapat Mahendra, nama dari orang-orang yang ada di banjar dan mengaku sebagai pedagang barang-barang bertuah itu benar-benar harus dirahasiakan, sehingga Empu Baladatu tidak langsung mengetahui, siapakah yang sebenarnya dihadapi.

Ternyata bahwa dugaan Mahendra itu benar. Anak-anak muda itu sama sekali tidak menghiraukan Ki Buyut lagi. Bahkan ketika Ki Buyut mencoba mencegahnya, maka Ki Buyut itu sudah didorong oleh anak muda bertubuh kekar itu, sehingga jatuh terguling.

“Kau gila” geram Mahendra sambil menolong, Ki Buyut, “orang ini adalah pemimpinmu di padukuhan ini. Kau telah berlaku kasar dan benar-benar menurunkan martabatmu sebagai manusia.”

Anak muda itu tertawa. Jawabnya, “Kau tentu berlaku baik terhadapnya, karena ia sudah memberikan tempat dan makan bagimu selama kau berada disini “

Mahendra yang marah itu kemudian berdiri sambil berkata, “Anak-anak muda. Aku adalah seorang pedagang keliling. Aku memang sudah mempersiapkan diri menghadapi sikap seperti sikap kalian di sepanjang jalan. Bukan saja sikap anak-anak muda yang tidak tahu adat seperti kalian. Tetapi aku sudah terbiasa menghadapi perampok dan penyamun di sepanjang jalan. Nah, apa katamu sekarang? Apakah masih tetap akan merampok aku?”

Anak-anak muda itu tertegun sejenak. Kata-kata Mahendra benar-benar telah meyentuh perasaan mereka. Bahkan satu dua orang, di antara mereka mulai menimbang-nimbang. Apakah niatnya akan di teruskan.

Tetapi anak muda bertubuh kekar itu kemudian tertawa sambil berkata, “Kau akan menakut-nakutii kami he? Mungkin sebagian ceritamu benar. Tetapi yang pernah kau hadapi adalah pencuri-pencuri kecil yang berkeliaran disepanjang bulak yang sepi, atau orang-orang panjang tangan di pasar-pasar “

“Mungkin. Tetapi juga anak-anak muda yang tidak tahun adat seperti kalian.”

“Tutup mulutmu” bentak anak muda bertubuh kekar itu.

Sementara itu, pertengkaran itu telah didengar oleh orang-orang yang ada di dalam bilik mereka. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir tidak dapat menahan diri lagi untuk berlari menghambur keluar. Untunglah Mahisa Agni masih dapat menyabarkannya.

Tetapi tiba-tiba saja mereka mendengar Mahendra berkata “Anak muda. Akupun datang bersama dua orang anak muda. Mereka adalah pedagang-pedagang muda yang ingin memperluas pengalaman mereka dan minta dapat pergi bersama aku. Jika kalian mencoba memaksa, maka anak-anak muda itu tentu tidak akan berdiam diri.”

“Persetan. Siapakah mereka? Prajurit-prajurit Singasari?”

“Sama-sekali bukan. Keduanya adalah kawan-kawanku dalam hubungan jual beli. Tetapi mereka pun masih muda. Dan mereka pun kadang-kadang seperti kalian. Mudah membiarkan darahnya menjadi panas.”

Anak muda bertubuh kekar itu tiba-tiba tertawa berkepanjangan. Dengan nada tinggi ia kemudian berkata, “Berapa jumlah mereka? Dua orang? Apa artinya dua orang muda itu bagiku? Jika ia berkeras seperti yang kau katakan, bahkan berdarah panas dan ingin melawan aku, maka mereka akan menyesal. Sebaliknya beritahukan kepada mereka, bahwa akulah yang datang bersama kawan-kawanku. Kau menghitung sendiri, berapa orang yang sekarang ada di sini? Tujuh orang.”

“Tetapi kami adalah pedagang keliling Ki Sanak. Yang karena pengalaman maka kami telah mempersiapkan diri menghadapi segela kemungkinan. Demikian pula kedua anak-anak muda itu.”

“Persetan. Aku akan melemparkan mereka keluar banjar ini.”

Kata-kata itu benar-benar telah memanaskan telinga Mahisa Pukat dan Mahisa Murti yang merasa seakan-akan kata-kata Mahendra itu sebagai isyarat agar mereka mulai bertindak.

Mahisa Agni dan Witantra menjadi ragu-ragu pula. Mereka menyangka bahwa Mahendra memang memberikan isyarat ke pada kedua anak-anaknya untuk bertindak. Namun ketika mereka melihat kedua anak-anak muda itu meloncat, mereka ingin mencegahnya. Tetapi ternyata keduanya telah terlambat.

“Ampun tuanku” desis Mahisa Agni, “agaknya yang tidak kita harapkan telah terjadi.”

Ranggawuni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apa boleh buat. Dan agaknya aku telah melihat yang sebenarnya di daerah ini.”

“Mudah-mudahan persoalannya dapat diatasi, sehingga tidak menjalar menjadi semakin luas“

Ranggawuni yang termangu-mangu mengangguk. Ketika ia memandang Mahisa Cempaka, maka anak muda itu pun mengangguk pula.

Dalam pada itu, Mahisa Pukat dan Mahisa Murti telah berada di pendapa. Hampir saja mereka berdua melanggar anak-anak muda yang mengikuti kawannya yang bertubuh kekar measuki bilik di belakang banjar itu.

“He” anak muda bertubuh kekar itu mundur selangkah, “siapa kalian?”

Namun sebelum dijawab anak muda bertubuh kekar itu sudah melanjutkan kata-katanya sendiri, “O, agaknya inilah anak-anak muda yang dikatakan oleh pedagang batu yang dungu itu.”

Mahisa Pukat dan Mahisa Murti menggeretakkan giginya. Dengan geram Mahisa Pukat berkata, “Aku mendengar semua kata-katamu yang memanaskan hati.”

“O, syukurlah, sehingga aku tidak perlu mengulanginya.”

“Memang tidak. Dan kau pun tidak perlu pergi kebilik itu. Aku sudah menyembunyikan, semui daganganku yang paling bagus dan paling berharga, sehingga kau tidak akan dapat menemukannya meskipun banjar ini akan kau bongkar “

“Persetan” geram anak muda bertubuh kekar itu, “apakah kau memang akan mempertahankan milikmu seperti yang dikatakan oleh pedagang tua itu?”

“Tentu saja, meskipun hanya dengan cara, yang paling sederhana. Menyembunyikan barang-barang itu.”

“Bohong. Kau merasa dirimu mampu mempertahankannya. Kau merasa bahwa kau sudah mempunyai bekal cukup sebagi seorang pedagang keliling menghadapi perampokan di bulak-bulak panjang.”

Mahisa Murti lah yang menjawab, “Tepat. Kami memang sudah siap menghadapi perampok-perampok yang tangguh di bulak-bulak panjang. Apalagi perampok-perampok kecil dari padukuhan kecil seperti kalian.”

Jawaban itu membuat wajah anak muda bertubuh kekar itu menjadi merah padam. Kemarahannya telah membakar jantungnya. Bahkan seorang anak muda yang bertubuh kecil di belakangnya telah menjadi marah pula dan berteriak, “Kita sumbat mulutnya dengan bara.”

Anak betubuh kekar itu menggeram, “Jangan menghina kami pedagang-pedagang gila. Kau sangka bahwa kau dapat mempermainkan kami? Jangan kau sangka bahwa kami belum pernah membunuh perampok-perampok besar yang berkeliaran di sekitar padukuhan kami, sehingga karena itu, maka ceriteramu tentang bekal kemampuan diri itu sama sekali tidak berharga bagi kami.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat menahan diri lagi. Karena itu, maka mereka pun justru maju selangkah. Mahisa Murti menyahut dengan suara gemetar menahan marah, “Sekarang kau mau apa? Kami akan mempertahankan milik kami dengan segenap tenaga dan kemampuan yang ada pada kami. Karena milik kami adalah hak yang memang harus kami pertahankan “

Anak muda bertubuh kekar itu masih sempat berkata, “Kita akan melihat, apakah kau memang mampu melawan aku. Marilah kita lihat. Aku akan berkelahi seorang diri. Kalian boleh bertempur berpasangan.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun tiba-tiba saja Mahisa Pukat menjawab, “Baik. Jika itu yang kau kehendaki.”

“Marilah, kita turun kehalaman.”

Anak muda bertubuh kekar itu tidak menunggu jawaban Mahisa Murti atau Mahisa Pukat. Ia langsung melangkah turun ke halaman banjar sambil bergumam, “Aku akan membenturkan kepala kalian berdua sehingga pecah. Aku tahu, kalian menyembunyikan batu-batu bertuah itu di dalam kepala kalian.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menyahut. Mereka berdua mengikuti anak bertubuh kekar itu, sementara Mahendra menarik nafas dalam-dalam.

Anak muda bertubuh kekar yang sudah berada di halaman itu pun kemudian berdiri tegak menghadap kepada Mehisa Pukat dan Mahisa Murti yang sudah turun pula. Beberapa orang anak muda yang lain berdiri beberapa langkah agak jauh.

“Jangan ganggu aku” berkata anak muda bertubuh kekar itu, “Aku akan membuat kedua anak muda yang sombong ini menyesal bahwa ia telah menghina anak-anak dari padepokan Empu Purung.”

“O” berkata Mahisa Murti, “jadi kalian, berasal dari padepokan Empu Purung?”

“Kau sudah mengenal nama itu?”

“Tentu. Setiap anak kecil mengenalnya. Padepokan Empu Purung adalah padepokan yang terkenal. Bukan karena olah kanuragan atau olah kajiwan, apalagi kesusasteraan. Tetapi padepokan itu terkenal karena pada cantriknya pandai membuat permainan anak-anak yang dijual dengan harga sangat murah sekedar untuk mendapatkan sesuap nasi.”

Jawaban itu benar-benar bagaikan bara yang menyengat telinga anak muda bertubuh kekar itu. Bahkan Mahendra terkejut mendengar jawaban Mahisa Murti. Ternyata Mahisa Murti sudah cukup lama menyimpan kemarahan di dadanya saat anak-anak muda itu mengancam akan merampas barang-barangnya meskipun barang-barang itu benar-benar tidak ada pada mereka.

Karena jawaban yang membakar jantung itulah, maka anak muda bertubuh kekar itu tidak berkata lagi. Dengan serta merta ia menyerang Mahisa Murti dengan garangnya.

Tetapi Mahisa Murti memang sudah bersedia. Karena itu maka dengan mudah sekali ia menghindari serangan yang tidak sempat mendapat pertimbangan yang panjang itu.

Demikian anak muda bertubuh kekar itu merasa serangnya gagal, maka iapun segera mempersiapkan dirinya untuk menyerang kembali.

Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berpencar. Mereka berdiri di tempat yang berseberangan, sehingga anak muda yang kekar itu harus memperhatikan keduanya ditempatnya masing-masing.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berdiri tegak dan siap menghadapi segala kemungkinan. Namun ternyata pada serangan pertama keduanya telah dapat menilai kemampuan anak muda bertubuh kekar itu.

Namun kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ternyata mempunyai sikap yang lain dari sikap Mahisa Bungalan menghadapi anak-anak muda dari padepokan Empu Purung. Mahisa Bungalan masih dapat menahan diri sehingga mencegah kemungkinan yang berkepanjangan sebelum suasananya menjadi wajar untuk melakukannya sesuai dengan perkembangan keadaan.

Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bersikap lain. Ia masih terlalu muda untuk membuat pertimbangan-pertimbangan yang masak. Yang mereka inginkan adalah justru sebaliknya. Mereka ingin membuat lawannya jera menurut cara mereka

Karena itulah, maka ketika anak muda bertubuh kekar itu menyerang, maka Mahisa Pukat telah siap untuk melakukan rencananya. Meskipun ia belum membicarakannya dengan Mahisa Murti, namun karena mereka sudah terbiasa dengan perangai masing-masing, maka agaknya keduanya telah bersepakat untuk mempermainkan lawannya.

Dengan mudah Mahisa Pukat dapat menghindari serangan lawannya. Bahkan dengan cepatnya, ia telah berdiri selangkah di sebelah anak muda bertubuh kekar itu bertentang arah dengan Mahisa Murti. Untuk membalas serangan lawannya, Mahisa Pukat sama sekali tidak menyerangnya dengan kekuatannya. Tetapi seperti anak-anak yang sedang bermain-main, maka anak muda bertubuh kekar itu didorongnya ke arah Mahisa Murti yang seakan-akan sudah menunggunya.

Ternyata kekuatan Mahisa Pukat adalah jauh di luar dugaan anak muda bertubuh kekar itu. Dorongan Mahisa Pukat sama sekali tidak dapat dilawannya. Seperti seonggok kayu ia telah terlempar ke arah Mahisa Murti yang sudah menunggu dan bersiap mendorongnya kembali ke arah Mahisa Pukat.

Permainan itu benar-benar telah menyakitkan hati. Bagaimanapun juga, anak muda bertubuh kekar itu bukan sekedar sebatang kayu. Ketika ia sadar, maka dengan sekuat tenaga ia menggeliat dan justru menjatuhkan diri kearah yang lain. Dengan sigapnya ia segera melenting berdiri di atas kedua kakinya.

Tetapi ia terkejut kerika Mahisa Pukat dan Mahisa Murti justru telah berdiri di sebelah menyebelahnya. Dengan sigapnya, kedua anak muda itu menangkap lengan anak muda bertubuh kekar dan mengguncangnya tanpa dapat dicegah lagi. Semakin lama semakin kuat dan cepat, sehingga akhirnya anak muda bertubuh kekar itu meronta sambil menjerit keras-keras.

Untuk beberapa saat kawan-kawannya menjadi bingung. Tetapi akhirnya mereka pun menyadari, bahwa kawannya yang bertubuh kekar itu sama sekali tidak dapat mengimbangi kedua lawannya yang masih sangat muda itu. Karena itulah maka mereka sama sekali tidak menunggu perintah. Ketika salah seorang dari mereka memberikan isyarat, maka mereka pun segera bersama-sama menyerbu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang sudah menunggu. Demikian mereka berdatangan, maka anak muda bertubuh kekar itu pun segera dilemparkannya ke arah kawan-kawannya, sehingga beberapa orang di antara mereka pun telah berjatuhan saling menimpa.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih sempat tertawa ketika mereka melihat anak-anak muda itu tertatih-tatih berdiri. Keduanya seolah-olah menunggu agar mereka bersiap dan menyerang kembali.

Mahendra yang melihat perkelahian itu menahan nafasnya. Sementara Ki Buyut mendekatinya sambil berbisik, “Ke dua anak muda itu akan dikeroyok beramai-ramai.”

Teiapi Mahendra menjawab, “Jika hanya tujuh orang itu Ki Buyut, aku kira kedua anak muda itu masih akan dapat bertahan. Tetapi yang mencemaskan jika anak-anak muda itu kembali ke padepokan dan memanggil kawan-kawannya. Apalagi apabila Empu Purung ikut terlibat pula.”

Ki Buyut mengerutkan keningnya. Perkelahian di antara anak-anak muda itu sudah mulai. Mahisa Pukat dan Mahisa Murti harus bertempur melawan ke tujuh orang anak-anak muda dari padepokan Empu Purung. yang akan merampas barang-barang dagangan yang mereka sangka dibawa oleh keduanya.

Ternyata bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memilih cara yang paling menguntungkan. Keduanya berdiri dekat-dekat dan bertempur berpasangan.

Tujuh orang lawannya mencoba mengepung keduanya dan menyerang dari segala arah. Namun kedua anak-anak muda itu benar-benar mampu menjaga diri mereka dengan pertahanan yang sangat rapat.

Anak-anak muda dari padepokan Empu Purung itu benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan bertemu dengan anak-anak muda memiliki kemampuan yang tinggi.

Meskipun demikian mereka merasa bahwa mereka berjumlah jauh lebih banyak dari kedua anak muda itu. Bagaimanapun juga, maka mereka akan mempunyai lebih banyak kesempatan pula untuk memenangkan perkelahian itu.

Karena itulah, maka perkelahian itu pun semakin lama menjadi semakin seru. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar tidak mau mengekang diri. Mereka ingin menunjukkan kepada lawan-lawannya, bahwa tingkah laku mereka yang sombong dan tidak tahu adat itu akan dapat mencelakakan mereka sendiri tanpa pertimbangan yang lebih jauh tentang akibat yang dapat timbul.

Dengan tegang, Ki Buyut menyaksikan, perkelahian itu. Ia tidak dapat menyembunyikan perasaan cemasnya tentang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang seakan-akan telah tenggelam dalam kepungan.

Namun sekali-kali Ki Buyut melihat, satu dua orang dari anak-anak muda murid Empu Purung itu terlempar dari lingkaran kepungan dan terjatuh di tanah. Namun merekapun berusaha untuk segera bangkit kembali dan terjun kedalam lingkaran perkelahian itu pula.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang harus mempertahankan diri dari ketujuh lawannya, harus mengerahkan tenaganya pula. Mereka harus bergerak cepat dan tangkas. Mereka harus menghindari serangan dan kemungkinan menyerang kembali.

Ternyata bahwa keduanya memiliki ilmu yang lebih tinggi dari lawan-lawan mereka. Dengan kemampuan yang ada, mereka kadang-kadang membuat lawan-lawan mereka menjadi bingung. Tata gerak kedua anak muda itu sulit untuk ditebak dan apalagi di ketahui dengan pasti.

Karena itulah, maka ketujuh orang itu justru mengalami kesulitan untuk mendekatinya.

Anak muda yang berubuh kekar dengan penuh dendam dan kebencian berusaha untuk mendapat peluang menyerang

Mahisa Pukat yang sedang sibuk menghindarkan diri dari serangan kawan-kawannya. Dengan sepenuh tenaga ia mengayunkan kakinya mengarah ke lambung.

Hatinya berdebar ketika terasa kakinya menghantam sasaran. Sekilas ia memperhatikan Mahisa Pukat. Namun tiba-tiba saja matanya terbelalak. Mahisa Pukat sama sekali tidak menyeringai menahan sakit. Tetapi seorang kawannyalah yang terpekik, karena pada saat yang tepat, Mahisa Pukat berhasil menangkap lengannya dan menariknya tepat pada garis serangan anak muda bertubuh kekar itu.

“Gila” geram anak muda bertubuh kekar itu. Ia tidak dapat berbuat apa-apa ketika seorang kawannya terduduk sambil memegang perutnya yang justru terkena serangan kakinya.

“Aku tidak sengaja” desis anak muda bertubuh kekar, itu, “aku akan berusaha membalas hinaan ini.”

Anak muda bertubuh kekar itupun kembali mencari kesempatan, sementara kawannya yang terduduk itu sudah berusaha untuk berdiri lagi meskipun perutnya masih tetap terasa mual.

Namun betapapun juga ketujuh orang itu berusaha, tetapi mereka harus melihat kenyataan bahwa mereka tidak akan dapat memenangkan perkelahian melawan kedua orang anak anak muda itu.

Apalagi setelah hampir setiap orang dari ketujuh orang itu merasakan, betapa sakitnya bekas tangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar telah mempergunakan segala kesempatan. Beberapa orang dari lawan-lawannya telah menjadi merah biru wajahnya, sementara yang lain matanya menjadi bengkak. Anak yang bertubuh kekar itu, mulutnya sudah berdarah. Sedangkan yang lain lagi, hidungnyalah yang berdarah.

“Anak-anak ini benar-benar harus ditangani oleh para cantrik” desis anak-anak muda itu di dalam hati, “dengan demikian mereka baru akan menjadi jera“

Bagi anak-anak muda yang mendapat tuntunan ilmu dari padepokan Empu Purung, maka para cantrik adalah orang-orang yang luar biasa di dalam olah kanuragan. Para cantriklah yang memberikan bimbingan kepada mereka disaat-saat mereka mulai mempelajari olah kanuragan. Hanya orang-orang tertentu sajalah yang beruntung, mendapat tuntunan langsung dari Empu Purung sekali dua kali dalam sepekan.

Karena itu dalam kesulitan yang tidak teratasi, maki anak-anak muda itu berharap, agar mereka dapat menyampaikan persoalan mereka kepada para cantrik

Untuk beberapa saat ketujuh anak muda itu masih mencoba bertahan. Tetapi ternyata bahwa wajah mereka menjadi merah biru, sedangkan mata mereka menjadi bengkak. Apalagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang muda itu tidak lagi menahan diri. Keduanya dengan sengaja telah membuat lawan mereka benar-benar bahwa mereka tidak mampu melawan kedua nya lagi.

Ketika Mahisa Murti melihat salah seorang, dari ketujuh anak-anak muda itu menarik pisau belati, maka iapun menggeram, “Jangan mempergunakan senjata. Senjata dapat mengundang bahaya yang lebih parah bagi kalian, karena untuk melawan senjata, akupun akan mempergunakan senjata. Nah. kalian akan tahu akibatnya jika kedua tanganku menggenggam pisau. Wajah kalian tidak akan hanya sekedar merah biru, tetapi wajah kalian akan tatu arang kranjang.”

Ancaman itu benar-benar telah menggetarkan setiap jantung. Karena itulah, maka anak muda yang telah menggenggatu tangkai pisau belatinya itu pun mengurungkan niatnya untuk mempergunakannya.

Namun dalam pada itu, ketujuh anak muda itu sudah benar-benar tidak mampu bertahan lagi. Tenaga mereka bagaikan dihisap oleh kelelahan dan kesakitan.

Karena itulah maka sejenak kemudian ketujuh orang itu pun menjadi semakin terdesak dan akhirnya, ketika anak muda yang bertubuh kekar itu memberikan isyarat, maka ketujuh orang itu pun serentak berlari menghambur meninggalkan kedua lawannya.

Tetapi agaknya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mau melepaskan mereka. Mereka pun segera meloncat ingin mengejar lawan-lawannya.

Tetapi Mahendra telah memanggil kedua anaknya dan menahan mereka agar melepaskan ketujuh lawannya pergi dari banjar.

“Luar biasa” desis Ki Buyut yang menyaksikan perkelahian itu dengan berdebar-debar. Lalu katanya, “Kedua anak muda itu benar-benar memiliki kemampuan diluar kewajaran.”

“Keduanya hanyalah karena keras kepala saja Ki Buyut” jawab Mahendra.

Ki Buyut mengangguk-angguk. Namun diwajahnya membayang kepahitan yang mencengkam perasaannya. Bahkan kemudian katanya dalam nada berat, “Permulaan dari kekisruhan itu sudah terjadi.”

“Maksud Ki Buyut?” Bertanya Mahendra.

“Mereka tentu tidak akan menerima kekalahan mereka begitu saja. Di padepokan itu ada berpuluh-puluh cantrik yang memiliki kemampuan yang tinggi. Mereka akan dapat menjadi sakit hati karena kawan-kawannya mengalami perlakuan yang dapat mereka artikan, menyinggung perasaan mereka.”

“Apakah para cantrik di padepokan Empu Purung itu akan membenarkan tingkah laku ketujuh anak-anak muda itu?” Bertanya Mahendra.

Ki Buyut termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawab nya, “Mungkin mereka tidak mau mendengar alasan-alasan lain dan sebab dari perkelahian itu. Mungkin mereka membenarkan tindakan kawan-kawannya, atau mungkin mereka tidak membenarkan, tetapi mereka tetap ingin mempertahankan harga diri.”

Mahendra menarik nafas dalam-dalam.

“Ki Sanak” berkata Ki Buyut, “jika Ki Sanak sependapat dengan aku, tinggalkan tempat ini.”

“Kenapa Ki Buyut?”

“Kalian dapat menghindarkan diri dari akibat yang lebih parah. Jika mereka datang kembali, maka mereka tentu tidak hanya bertujuh atau bersepuluh atau duapuluh.”

“Lalu?”

“Mereka tentu tahu, bahwa dua di antara kalian telah mampu mengalahkan tujuh orang. Tentu mereka sudah mendengar bahwa, kalian sekarang mempunyai beberapa orang kawan di banjar ini.”

“Jadi menurut pertimbangan Ki Buyut, kami sebaiknya meninggalkan banjar ini?”

“Untuk keselamatan kalian. Tinggalkan banjar ini dan pergilah ke barak di seberang bulak. Di sana ada sepasukan prajurit-prajurit yang ada di barak itu, sehingga mereka tidak akan meng ganggumu. Kecuali jika apabila kalian dapat mereka ketemukan di sepanjang jalan saat kalian meninggalkan barak itu. Aku tidak akan dapat membayangkan, apa yang akan terjadi atas kalian. Apalagi jika Empu Purung sendiri ikut serta menemukan kalian. Ia dapat menggugurkan gunung dan mengeringkan lautan dengan tangannya.”

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. la melihat kecemasan benar-benar telah mencengkam Ki Buyut.

“Lalu apa yang akan Ki Buyut lakukan?” bertanya Mahendra.

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Aku tidak tahu. Mungkin aku harus berkemas-kemas untuk meninggalkan padukuhan ini jika Empu Purung menghendaki “

Mahendra termangu-mangu sejenak, ia mulai membayangkan bahwa akibat kehadirannya di padukuhan itu, maka Ki Buyut harus mengalami kesulitan bukan saja untuk mencegah keributan yang timbul, tetapi juga kesulitan bagi dirinya sendiri.

Namun tiba-tiba saja dituar sadarnya Mahendra berkata, “Tetapi Ki Buyut, kenapa Ki Buyut sendiri tidak minta perlindungan kepada prajurit-prajurit Singasari itu? Bukankah prajurit-prajurit itu akan dapat mencegah tingkah laku orang-orang di padepokan Empu Purung, apalagi jika mereka akan mengusir Ki Buyut?”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Tidak Ki Sanak. Dengan demikian aku sudah membenturkan anak-anakku sendiri dari padukuhan ini pada kekuatan yang akan dapat menggilas dan bahkan menumpas mereka.”

“Tetapi bukankah mereka berdiri dipihak yang salah menurut penilaian Ki Buyut sendiri?”

“Dan aku harus menjerumuskan mereka ke dalam kemusnahan tanpa ampun? Ki Sanak. Betapapun nakalnya, mereka adalah anak-anakku. Mungkin aku harus pergi meninggalkan mereka. Tetapi tentu aku tidak akan sampai hati mendorong mereka kedalam kebinasaan.”

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Ki Buyut, baiklah aku membicarakannya dengan kawan-kawanku. Tetapi jika sekiranya kami harus mempertahankan diri kami dari siapapun juga yang akan mengganggu kami, maka kami minta maaf sebelumnya, karena di antara mereka mungkin terdapat anak-anak muda yang Ki Buyut sebut sebagai anak-anak Ki Buyut itu.”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Karena itu, pergilah. Dengan demikian maka benturan yang lebih keras itu akan terhindar “

Mahendra pun kemudian dengan tergesa-gesa menghadap Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang gelisah. Mereka mendengar pendapat Ki Buyut dan mendengar pula, bagaimana ia bersikap terhadap anak-anak muda di padukuhannya.

“Apakah kita sebaiknya meninggalkan padukuhan ini tuanku” bertanya Mahendra.

“Memang sulit untuk menentukan” jawab Ranggawuni, “tetapi barangkali hal-hal semacam inilah yang memang ingin aku lihat.”

“Kami mohon tuanku menentukan keputusan?” ber kata Mahisa Agni kemudian.

“Bagaimana menurut pendapat paman atas padepokan Empu Purung itu?”

“Bagi hamba tuanku” jawab Mahisa Agni, “padepokan ini adalah salah satu dari beberapa buah padepokan yang, menurut laporan yang diterima oleh pimpinan prajurit Singasari sebagai padepokan yang secara bersama-sama telah mempersiapan diri melawan kekuasaan tuanku”

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka merenung sejenak. Kemudian terdengar Ranggawuni bertanya, “Bagaimana menurut pertimbanganmu adinda Mahisa Cempaka?”

“Bagi hamba, tidak ada pilihan lain. Kita sudah melihat, bagaimana bentuk dan sikap padepokan ini.”

Ranggawuni mengangguk-angguk. Lalu kalanya, “Paman. Setelah aku melihat sendiri keadaan di daerah ini, maka tidak ada pilihan lain daripada memadamkan api yang akan dapat berkobar lebih besar lagi. Tetapi karena padepokan ini tidak berdiri sendiri, maka semuanya harus diselesaikan secara menyeluruh di seluruh daerah yang sudah dipersiapkan itu.”

“Hamba tuanku” jawab Mahisa Agni, “hamba akan memerintahkan prajurit penghubung untuk menyampaikan laporan peristiwa di daerah ini kepada pucuk pimpinan prajurit di Singasari serta perintah untuk mengambil sikap menghadapi setiap padepokan yang telah berada di bawah pengaruh Empu Baladatu itu.”

“Baiklah. Dan apakah yang akan kita lakukan sekarang menurut pertimbanganmu?”

“Kita akan meninggalkan padukuhan ini dan pergi ke Barak para prajurit. Kita akan menghadapi pasukan Empu Purung dengan kekuatan Singasari. Sementara itu prajurit penghubung segera menghubungi pimpinan prajurit yang akan menyebarkan perintah tuanku ke segenap penjuru yang mengalami keadaan serupa“

“Tetapi perintah itu harus meliputi daerah Mahibit dan para Akuwu yang sudah diketahui mempersiapkan pasukan pula” sahut Witantra.

“Ya” jawab Ranggawuni, “mungkin mereka akan mempergunakan kesempatan. Tetapi menurut pertimbanganku, mereka akan menunggu meskipun hanya sesaat yang pendek.”

“Tetapi harus dipersiapkan pasukan khusus untuk menghadapi mereka” berkata Mahisa Cempaka.

“Baiklah. Sampaikan perintah yang jiwanya seperti yang kita maksudkan atas padepokan-padepokan dan daerah-daerah yang berbahaya bagi Singasari.”

“Jika demikian, maka kita akan berkemas meninggalkan padukuhan ini tuanku. Sebentar lagi anak-anak itu tentu akan datang dengan jumlah yang lebih banyak, sebelum seluruh padepokan akan bergerak.”

Demikianlah Ranggawuni dan Mahisa Cempaka pun memutuskan meninggalkan padepokan itu seperti yang dikehendaki oleh Ki Buyut. Mereka mengucapkan terima kasih atas kesediaan Ki Buyut menerima mereka, sehingga menimbulkan kesulitan bagi Ki Buyut sendiri.

“Kami akan pergi ke barak itu Ki Buyut” berkata Mahendra kemudian.

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia merasa lega bahwa orang-orang yang ada di banjar itulah yang akan menghindar sehingga anak-anak muda padukuhan itu tidak akan terlibat dalam benturan kekuatan dengan para prajurit.

Namun dalam pada itu Mahendra bertanya, “Ki Buyut. Kami memang akan meninggalkan tempat ini. Tetapi meskipun demikian, apakah tidak akan terjadi akibat yang sama jika anak-anak Ki Buyut lah yang mengejar kami dan menyerang barak itu?”

“Ah” Ki Buyut mengerutkan keningnya, “itu tentu tidak akan terjadi. Mereka tidak akan menyerang prajurit Singasari yang kuat dan terlatih.”

“Belum tentu Ki Buyut. Mungkin dibantu para cantrik dan Empu Purung sendiri, mereka merasa kuat.” sahut Mahendra.

“Jika demikian, nasib prajurit-prajurit memang sangat malang. Mereka tentu akan musnah karena kesaktian Empu Purung” jawab Ki Buyut. Namun katanya selanjutnya, “Tetapi aku kira Empu Purung tidak akan melakukannya.”

“Jika Empu Purung tidak melakukannya, tetapi anak-anak muda itu sendiri yang, datang dan dihancurkan oleh para prajurit yang melindungi kami?” bertanya Mahendra mendesak.

Ki Buyut termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya, “Jika demikian, itu adakah salah mereka sendiri.”

Bersambung.......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...