*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 31-03*
Karya. : SH Mintardja
Namun dalam pada itu, pada waktu mereka menyusuri jalan dipinggir hutan mendekati padepokan, tiba-tiba mereka telah di kejutkan oleh sesuatu yang lain dari yang pernah mereka kenal. Dari kejauhan mereka melihat tanah yang sudah terbuka diujung hutan. Bahkan sudah merupakan daerah persawahan.
“He, apakah aku bermimpi” desis Empu Baladatu. Pengawalnya, yang juga pernah datang kepadepokan Empu Sanggadaru menjadi terheran-heran pula.
Keduanya pun kemudian berhenti dipinggir hutan. Dari kejauhan mereka melihat sawah yang mulai hijau oleh tanaman yang subur. Lamat-lamat mereka melihat padukuhan baru yang mulai berkembang.”
Untuk beberapa saat keduanya hanya termangu-mangu di atas punggung kudanya, seolah-olah mereka tidak yakin akan penglihatan mereka. Namun dedaunan yang hijau yang bertebaran di atas tanah persawahan itu akhirnya meyakinkan keduanya, bahwa mereka tidak sedang bermimpi.
“Kita benar-benar melihat sawah yang terbentang di pinggir hutan itu” berkata Empu Baladatu, “dan kita juga melihat padukuhan baru yang sedang tumbuh.”
“Ya. Padukuhan yang nampaknya dibangun dalam perencanaan yang baik. Bukan tumbuh begitu saja dengan liar. Sawah dan parit, jalan menuju padukuhan itu, pepohononan yang rimbun yang sengaja tidak ditebang untuk melindungi padukuhan yang baru itu, menunjukkan bahwa padukuhan itu benar-benar lahir setelah direncanakan dengan sebaik-baiknya.
“Ini tentu pokal prajurit-prajurit Singasari” geram Empu Baladatu, “aku yakin bahwa padukuhan itu telah dibuka oleh orang-orang dari padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang Mereka bukan saja mengungsi untuk menyelamatkan diri dari kebimbangan dan kelumpuhan jiwani, tetapi agaknya mereka telak mencari suatu bentuk kehidupan baru dibawah tuntunan para prajurit Singasari.”
Pengawalnya mengangguk-angguk. Dengan wajah yang tegang ia berkata, “Empu agaknya benar. Akupun berpendapat demikian.”
Terdengar gemeretak gigi Empu Baladatu. Dengan geram ia berkata, “Suatu jalan .keluar yang gila. Tetapi yang dilakukan itu tidak akan banyak menolong. Yang pindah kepadukuhan itu adalah tetap orang-orang Serigala Putih dan orang-orang Macan Kumbang.”
“Tetapi mereka berada dekat dengan padepokan Empu Sanggadaru. Dengan demikian maka mereka akan selalu berada di bawah pengawasan dan perlindungan Empu Sanggadaru dengan pasukannya yag cukup kuat itu.”
“Tidak. Padepokan itu tidak mempunyai pasukan yang kuat. Yang menjadikan padepokan itu kuat adalah hadirnya prajurit-prajurit Singasari. Jika prajurit-prajurit itu meninggalkan padepokan kakang Sanggadaru, maka padepokan itu tidak akan berarti apa-apa lagi bagiku. Dengan mudah aku akan dapat menyapunya sampai orang terakhir.”
“Tetapi kini didekat padepokan itu telah tumbuh padukuhan-padukuhan itu. Apakah Empu tidak melihat kemungkinan, bahwa kekuatan yang tergabung itu akan merupakah kekuatan yang sulit untuk ditembus.?”
“Aku tidak yakin. Orang-orang Serigala Putih dan orang-orang Macan Kumbang telah lumpuh. Dan mereka tidak akan bangkit kembali untuk waktu yang sangat lama. Bahkan mungkin harus melampaui satu keturunan lagi.”
Pengawal itu tidak menjawab. Tetapi ia tidak yakin, bahwa perhitungan Empu Baladatu itu benar.
“Kita akan mencari keterangan” berkata Empu Baladatu.
“Kepada siapa?”
“Bertanya kepada seorang yang ada di sawah.”
“Mereka akan ketakutan melihat kehadiran kita. Jika prajurit Singasari masih ada di sana, maka persoalannya akan membuat kita mendapat kesulitan.”
“Pengecut, Aku akan melakukannya. Tetapi bukan aku sendirilah yang harus menampakkan diri.”
Pengawalnya mengerutkan keningnya. Ia tidak bergitu mengetahui maksud Empu Baladatu.
“Marilah” berkata Empu Baladatu, “kita mendekati daerah persawahan itu. .Kita akan menemui satu dua orang dari antara mereka. Lebih baik jika kita menemukan sekelompok anaka muda. Kita membawa mereka langsung tanpa mempertimbangkan persoalan-persoalan lain.”
Pengawalnya termangu-mangu. Tetapi ia tidak bertanya lagi, “Kita mencari tempat untuk menyembunyikan kuda kita. Hutan ini tentu tidak banyak dihuni oleh binatang buas.”
Keduanya kemudian mengikat kuda mereka d empat yang mereka anggap aman. Terlindung, tetapi juga tidak terlampau berbahaya.
Sejenak mereka termangu-mangu. Namun Empu Baladatu pun kemudian berkata, “Kita berjalan mendekat. Kau berada di depan. Kau tentu belum dikenal orang. Aku akan berada beberapa langkah dibelakangmu. Aku akan berusaha menyembunyikan wajahku sejauh dapat aku lakukan. Jika kita bertemu dengan sesorang, kau tahu apa yang harus kau tanyakan. Aku akan mengawasi keadaan.”
Pengawalnya mengangguk. Ia pun tahu apa yang dimaksud Empu Baladatu. Karena itu, ia tidak bertanya lagi kepadanya.
Sejenak kemudian, setelah membenahi pakaiannya, maka pengawal Empu Baladatu itupun melangkah menuju ke lorong yang membelah tanah persawahan. Mereka memilih arah, agar kedatangan mereka tidak menumbuhkan pertanyaan, karena mereka seolah-olah muncul dari dalam hutan. Setelah melalui beberapa puluh kotak, maka mulailah mereka melihat beberapa orang yang sedang melintasi pula di tengah-tengah sawah.
“Mereka tidak akan pergi kesawah” desis pengawal Empu Baladatu itu. Ia melihat orang-orang itu membawa busur dan anak panah.
“Mereka akan berburu” Katanya kemudian. Karena itu. maka iapun menunggu Empu Baladatu dan memberinya isyarat untuk mendekat.
Empu Baladatu melihat isyarat itu. Karena itu maka ia pun melangkah lebih cepat lagi mendekati pengawalnya.
“Orang-orang itu tentu akan berburu” berkata pengawal Empu Baladatu serelah ia berada didekatnya.
“Ya” Empu Baladatu menyahut mereka adalah orang-orang yang sebenarnya kita tunggu”
“Kenapa kita menunggu mereka?”
“Kita akan mendapat beberapa keterangan dari mereeka.”
‘“Dan mereka akan kembali kepadukuhan sambil ketakutan karena kehadiran Empu disini.”
“Apakah mereka sudah mengenal aku?” Pengawal Empu Baladatu tidak menjawab. Tetapi nampak kerut merut dikeningnya.
“Mungkin mereka sudah mengenal aku, tetapi mungkin belum” desis Empu Baladatu.
“Apakah kita akan menghentikan mereka?”
“Ya. Kita akan menghentikan mereka.” jawab Empu Baladatu, “kaulah yang bertanya kepada mereka. Aku akan berusaha untuk mendengarkan pembicaraanmu tanpa dapat mereka lihat
“Bagaimana mungkin?”
“Temuilah mereka di pinggir hutan perburuan itu. Aku akan mempunyai kesempatan.”
Empu Baladatu dan pengawalnya itu pun kemudian dengan tergesa-gesa memotong arah. Tetapi mereka rnemperhitung kan setiap kemungkinan sehingga mereka telah berusaha untuk tidak diketahui dan menimbulkan kecurigaan , pada orang-orang yang akan pergi berburu itu.
Seperti yang direncanakan maka pengawal Empu Baladatu itu pun segera menyelinap dan muncul di jalan yang akan dilalui oleh orang-orang dari padukuhan itu, setelah mereka sampai di pinggir hutan. Dengan tidak menumbuhkan kecurigaan maka pengawal itu berjalan pada arah yang berlawanan sehingga memungkinkan mereka berpapasan.
Tetapi bagaimanapun juga, hadirnya seseorang ditempat itu memang sudah menimbulkan suatu pertanyaan dihati orang-orang padukuhan itu. Jarang sekali mereka bertemu dengan orang dari luar padukuhan mereka, karena padukuhan mereka masih merupakan daerah baru. Jika ada orang asing yang lewat, maka mereka tentu berada di jalan yang. melalui padepokan Empu Sanggadaru atau padukuhan-padukuhan lama yang berada di bawah pengaruh Empu Sanggadaru.
Namun demikian semula orang-orang yang akan pergi berburu itu tidak menghiraukannya. Mereka seolah-olah tidak ingin banyak mengetahui tentang orang-orang asing yang kurang mereka kenal, karena bagaimanapun juga, masih mungkin seorang perantau yang berjalan lewat jalan dan daerah yang jarang disentuh kaki orang.
Tetapi ketika mereka melihat orang yang tidak mereka kenal itu berhenti, maka mereka pun mulai memperhatikannya. Apalagi ketika nampak bahwa orang itu agaknya ingin bertanya sesuatu kepada mereka.
“Ki Sanak” bertanya pengawal Empu Baladatu itu, “apakah aku boleh mengajukan beberapa pertanyaan? Aku adalah orang yang tersesat, yang tidak tahu kemana aku harus pergi”
“O” salah seorang dari orang-orang yang akan pergi berburu itu maju selangkah, “siapakah kau Ki Sanak?”
“Aku datang dari jauh sekali. Tetapi aku telah tersesat di hutan yang tidak aku kenal, sehingga aku menjadi bingung dan kehilangan arah.”
“Kau datang dari mana?”
“Singasari.”
“Kota Raja maksudmu?”
“Ya. Aku datang dari Kota Raja.”
“Ki Sanak berada di tempat yang sebenarnya tidak jauh sekali dari Kota Raja.”
“He? Tidak jauh sekali? Aku sudah berjalan beberapa hari. Melingkar-lingkar sehingga bekalku habis di perjalanan.”
“Ki Sanak benar. Agaknya Ki Sanak memang sudah berjalan melingkar-lingkar tanpa arah. Karena itu Ki Sanak sudah merasa berjalan jauh sekali, tetapi sebenarnya daerah ini tidak terlalu jauh dari Kota Raja.”
“Dimanakah aku sebenarnya berada Ki Sanak? Dahulu rasa-rasanya aku pernah melalui daerah ini. Ketika aku menemukan beberapa ciri yang sudah aku kenal, aku merasa senang. Rasa-rasanya aku akan sampai kepadepokan Empu Sanggadaru. Jika demikian, maka aku akan terlepas dari kebingungan. Tetapi ternyata ketika aku muncul dipinggir hutan itu, aku melihat daerah persawahan dan padukuhan yang asing lagi. Bukan padukuhan yang perada dibawah pengaruh padepokan Empu Sanggadaru.”
“Ki Sanak benar” jawab orang itu, “daerah ini memang berada d ibawah pengaruh padepokan Empu Sanggadaru.”
“Tetapi padukuhan itu?”
”Itu adalah padukuhan yang baru.”
“Baru? “Sejak kapan padukuhan itu ada?”
“Belum terlalu lama-”
“Tetapi, apakah penghuninya penghuni padukuhan yang memang sudah ada, tetapi memperluas daerah tempat tinggal mereka.”
Orang itu termangu-mangu. Namun salah seorang dari mereka menjawab tidak. Kami datang dari tempat lain dan tinggal dipadukuhan itu
Pengawal Empu Baladatu itupun mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu iapun kemudian bertanya, “Kalian datang dari mana?”
Orang-orang tiu tidak segera menjawab. Nampak kebimbingan membayang diwajah mereka.
“Apakah kalian datang dari tempat yang jauh?” pengawal itu mendesak.
Orang yang tertua diantara mereka menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Tidak Ki Sanak. Kami tidak datang dari tempat yang jauh. Kami adalah keluarga Empu Sanggadaru yang sudah dianggap dewasa dan wajib memisahkan diri dan mengurus padukuhan ini.”
Wajah pengawal Empu Baladatu menjadi berkerut-kerut-Sepercik kekecewaan telah meloncat ditatapan matanya. Dengan nada datar ia bertanya, “Jadi kalian tidak berasal dari tempat lain?”
Orang itu mengeleng.
“Tetapi tadi kau mengatakan bahwa kau datang dari tempat lain.”
“Kami memang mempunyai kelainan dengan orang-orang yang tinggal dipadukuhan yang berada dibawah pengaruh Empu Baladatu. Kami adalah orang-orang yang dipisahkan daripadanya sementara keluarga kami dari tempat lain telah ikut. Serta membantu kami menebang hutan ini.”
“Keterangan kalian berputar-putar tidak menentu.” pengawal Empu Baladatu itu pun mulai kehilangan kesabaran.
“Aku kira keteranganku cukup jelas.”
“Katakanlah yang sebenarnya. Apakah kalian mempunyai rahasia yang kalian sembunyikan?”
Orang-orang itu menjadi heran. Lalu salah seorang dari mereka bertanya, “Ki Sanak. Bukankah kau telah tersesat dan mencari jalan keluar? Tetapi kini kau memaksa kami untuk menjawab pertanyaab Ki Sanak yang membingungkan itu.”
“Bukan pertanyaanku membingungkan, tetapi jawabmu. Jawab kalian, yang tidak menentu.”
“Aku tidak mengerti. Agaknya kau telah membawa jawab sendiri atas pertanyaan yang kau ajukan, sehingga jawaban kami tidak memberikan kepuasan kepaamu-”
“Persetan” tiba-tiba saja terdengar suara seseorang dari balik pepohonan. Belum lagi kejutan itu mereda di dada orang orang yang mendengarnya, maka orang-orang dari padukuhan itu telah dikejutkan pula oleh munculnya seseorang dari balik gerumbul dipinggir hutan.
“Aku tidak telaten mendegarnya” berkata Empu Baladatu yang telah berdiri dipinggir lorong itu, “jangan ingkar. Bukankah kalian orang-orang dari padepokan Serigala Putih atau padepokan Macan Kumbang.”
Orang-orang itu bagaikan membeku ketika mereka melihat siapakah yang berdiri dihadapan mereka. Hampir setiap orang dari padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang telah mengenal Empu Baladatu. Dan kini Empu Baladatu itu tiba-tiba saja telah berdiri diantara mereka.
“Empu Baladatu” desis salah seorang dari mereka., “Ya. tentu masih mengenal aku.”
Orang-orang itu menjadi pucat ketika mereka melihat Empu Baladatu melangkah maju mendekati mereka.
“Cepat, katakan. Apakah kalian orang-orang Serigala Putih atau Macan Kumbang? Kalian tentu mengenal aku. Tetapi aku tidak dapat mengenal kalian seorang demi seorang.”
Orang-orang itu masih termangu-mangu.
“Cepat, katakan” teriak Empu Baladatu.
Ternyata bahwa pengaruh yang memancar dari bentakan itu telah mencengkam setiap hati. Karena itu, maka hampir di luar kesadaran mereka, beberapa orang menjawab bersama-sama, “Kami orang-orang padepokan Serigala Putih.”
“Ha” Empu Baladatu menyahut, “jadi kalian telah mencoba melarikan diri dari pengaruhku dan pasrah pada perlindungan kakang Empu Sanggadaru” ia berhenti sejenak, tatapan matanya menjadi merah bagaikan bara, “kalian memang bodoh. Kakang Sanggadaru sendiri masih memerlukan perlindungan prajurit-prajurit Singasari.”
Orang-orang itu menjadi semakin pucat. Namun salah seorang dari mereka menjawab, “Ya, prajurit-prajurit itu telah melindungi kami bersama-sama.”
“Gila” teriak Empu Baladatu, “apakah kau kira bahwa aku tidak dapat berbuat apa?” orang-orang itu saling berdiam diri.
“Sekarang kalian tidak akan dapat ingkar. Adalah nasib kalian yang buruk, bahwa kalianlah yang pertama-tama telah bertemu dengan kami.”
Orang-orang padukuhan itu menjadi semakin pucat karenanya.
“Sebenarnya kami memerlukan beberapa orang anak-anak muda yang masih akan dapat dibentuk dengan mudah. Mereka masih mempunyai masa depan yang panjang.” Empu Baladatu berhenti sejenak lalu, “tetapi kalian pun masih cukup muda. Kami akan membawa kalian. Jangan takut. Kalian tidak akan kami korbankan, karena kami ingin kalian akan menjadi penyebar ilmuku di antara orang-orang Serigala Putih. Kalian akan tinggal bersama kami untuk beberapa lamanya. Setelah itu kalian akan kami kembalikan kepada keluarga kalian dengan harapan bahwa kalian akan dapat mewakili kami di antara orang-orang Serigala Putih, karena pada waktunya kami memerlukan bantuan kalian.”
Orang-orang padukuhan yang semula adalah orang-orang padepokan Serigala Putih itu termangu-mangu Mereka sadar, bahwa Empu Baladatu adalah oang yang memiliki kemampuan yang luar biasa,
Tetapi mereka sama sekali tidak ingin untuk ikut serta bersamanya. Orang-orang Serigala Putih yang telah mencoba melupakan masa lampaunya itu, tidak mau masuk lagi kedalam lingkungan yang mengerikan. Mereka tidak ingin setiap purnama melihat darah mengalir dari luka, dan mereka tidak ingin membasahi tubuh mereka dengan titik darah itu dalam pendalaman ilmu yang bersumber dari ilmu hitam itu.
“Jangan menyesali diri” berkata Empu Baladatu, “seharusnya kalian berbangga bati bahwa kalianlah yang akan mendapat kehormatan untuk memperdalam ilmu didalam lingkunganku.”
Orang-orang itu saling berpandangan. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Empu. Biarlah kami hidup menurut jalan kami sendiri. Kita sudah berpisah. Baik secara wadag maupun secara batin. Kita tidak akan dapat menemukan jalur jalan yang sejajar.”
“Aku tidak memerlukan penjelasanmu itu. Dengarlah. Kalian akan ikut bersama kami. Senang tidak senang. Ingin atau tidak ingin. Itu sudah menjadi keputusanku” Empu Baladatu menggeram, “dan kalian tahu akibatnya jika kalian mencoba untuk membantah perintahku ini. Aku dapat berbuat apa saja”
Orang-orang itu menjadi tegang. Mereka tahu bahwa Empu Baladatu memiliki kemampuan yang tidak terlawan. Namun untuk ikut bersamanya pun sama sekali tidak menarik hati. Mereka akan terjerumus sekali lagi dalam genggaman ilmu iblis seperti yang pernah mereka alami.
Karena itulah, maka orang-orang itu menjadi bingung. Namun salah seorang dari mereka tiba-tiba saja menemukan dirinya dan bertekad untuk melepaskan diri dari jerat Empu Baladatu.
“Lebih baik aku tidak mengalaminya meskipun aku akan dibunuhnya disini” berkata orang didalam hatinya.
Karena itu, maka ia pun kemudian berkata, “Empu Baladatu. Aku mengetahui bahwa aku dan kawan-kawanku tidak akan dapat berbuat apa-apa dihadapan Empu Baladatu. Tetapi bagaimanapun juga, kami ingin menghindarkan diri dari niat Empu untuk membawa kami bersama Empu kepadepokan yang belum aku ketahui itu.”
Wajah Empu Baladatu menjadi tegang. Namun ia pun kemudian tertawa sambil berkata, “Jangan bodoh. Kau masih mendapat banyak kesempatan dihari depan. Kau masih cukup muda untuk memahami kehidupan yang sebenarnya. Jangan terbius oleh keadaan sesaat, tetapi tanpa masa depan yang pantas bagi kalian.”
”Empu” jawab orang itu, “biarlah kami dalam keadaaan kami sekarang.”
“Gila” tiba-tiba saja Empu Baladatu berteriak, “apakah kalian tidak mengenal aku lagi? Siapa yang membantah perintahku, akan mengalami nasib yang sangat buruk. Aku akan mengelupasnya seperti mengelupas kulit pisang. Dan tubuh kalian yang merah akan tergolek ditanah tanpa dapat dikenal lagi.”
Terasa bulu-bulu tengkuk orang-orang padukuhan itu meremang. Tetapi ternyata mereka yang telah mendapat tempaan lahir dan batin itu, telah berubah pula. Dengan tegang orang itu menjawab, “Empu. Aku ngeri mendengar ancaman itu. Tetapi apaboleh buat. Kami tidak akan dapat ikut bersama Empu.”
“Jadi kau milih terkelupas kulitmu”
“Empu. Kami telah memiliki beberapa lapis ilmu yang tidak berharga. Bahkan kami telah mendapat bekal dari Empu sendiri. Karena itu biarlah kami yang berjumlah jauh lebih banyak dari Empu berdua ini mencoha mempertahankan diri.”
“Gila, gila. Jadi kalian ingin melawan kami?” Teriak Empu Baladatu semakin keras.
Orang-orang itu mundur setapak. Ternyata bahwa semua di antara merekatelah bertekad untuk mempertahankan diri apapun yang akan terjadi
“O, orang-orang yang malang. Meskipun kalian telah merasa mampu untuk menentukan sikap seperti itu, tetapi kalian tentu akan menyesal bahwa kalian akan mengalami masa-masa akhir yang sangat mengerikan.”
Orang-orang itu melangkah mundur pula beberapa langkah dan melekatkan pada busurnya.
“Sebenarnya kami ingin berburu” berkata salah seorang dari mereka, “tetapi kami terpaksa membela diri dengan senjata-senjata ini.”
“Gila” Empu Baladatu berteriak semakin keras, “kau kira anak panahmu dapat menyelamatkan jiwamu.”
Orang-orang itu menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat tiba-tiba saja ditangan Empu Baladatu telah tergenggam sepasang pisau belati panjang.
“Ingat, ingatlah. Dengan pisau ini aku akan mengelupas kulitmu”
Orang-orang yang bersenjata busur itu tanpa mereka sengaja telah melangkah menjauhi yang satu dengan yang lain. Tangan mereka telah siap untuk melepaskan anak panah di busur mereka.
“Kita bunuh orang-orang ini” geram Empu Baladatu kepada pengawalnya, yang telah menggenggam pisau belati seperti d itangan Empu Baladatu itu pula.
Perintah itu benar-benar telah mendebarkan jantung. Tetapi jumlah mereka yang tiga kali lipat, dan anak panah di busur membuat mereka lebih berani. Apalagi mereka sudah bertekad untuk tidak akan kembali lagi ke dunianya yang lama.
“Empu Baladatu manusia juga seperti kami” berkata orang-orang itu didalam hati.
Karena itu, maka mereka mempunyai harapan, bahwa Empu Baladatu pun akan dapat dikalahkan, setidak-tidaknya diimbangi kemampuannya oleh jumlah yang lebih banyak itu.
Apalagi mereka merasa, bahwa pada saat terakhir mereka telah menempa diri, menambah kemampuan mereka dalam olah kanuragan, meskipun pada jalur yang berbeda dari cabang perguruan yang pernah mereka pelajari sebelumnya,
“Jadi kalian benar-benar akan melawan?” bertanya rnPu Baladatu sambil menahan kemarahannya.
“Kami akan mempertahankan diri” jawab salah seorang dari mereka.
“Apakah kalian sadar, bahwa hal itu akan mempersulit keadaan kalian? Kalian akan mengalami bencana yang tidak terperikan disaat-saat kalian menjelang ajal.” Empu Baladatu semakin marah.
Tetapi busur dan anak panah yang akan mereka pergunakan untuk berburu itu tetap teracu.
“Dengarlah” geram Empu Baladatu, “anak panahmu tidak akan berguna. Aku dapat menangkis dengan pisau belatiku yang dapat berputar seperti baling-baling sehingga akan menjadi perisai yang sangat rapat. Karena itu, aku masih akan mencoba berbuat baik terhadap kalian dengan memberikan kesempatan terakhir bagi kalian untuk meletakkan senjata kalian itu.”
Tetapi tidak seorang pun di antara orang-orang itu yang meletakkan busur dan anak panahnya.
Pengawal Empu Baladatu tidak menunggu lebih lama lagi. Iapun segera meloncat maju sambil memutar pisau belati panjangnya.
Sekejap kemudian, anak panah yang sudah melekat dibusur itu satu persatu meluncur dengan cepatnya. Namun seperti yang dikatakan oleh Empu Baladatu, ternyata bahwa ia mampu menangkisnya dengan kecepatan putaran pisau belatinya. Sambil berloncatan Empu Baladatu memukul setiap anak panah yang mengarah ketubuhnya, namun kadang-kadang juga menghindar dengan lincahnya-
Demikian juga pengawalnya. Iapun mampu menghindari serangan anak panah yang datang beruntun, karena setiap anak panah yang terlepas, segera di susul anak panah yang lain yang dicabut dari endong.
Tetapi tidak sebuah anak panah pun yang dapat mengenai lawannya. Jika sekali anak panah itu menyentuh lawannya, muka anak panah itu tidak mampu menyobek kulit.
Beberapa saat lamanya, orang-orang itu berusaha untuk melawan. Namun ternyata perlawanan itu sia-sia.
Meskipun demikian mereka sama sekali tidak ingin menyerah. Jika anak panah terakhir telah dilepaskan, maka mereka akan mencabut pedang dan bertempur berpasangan seperti yang pernah mereka pelajari dari para prajurit Singasari.
Namun ternyata di antara mereka tidak sekedar mempercayakan keselamatan mereka kepada kemampuan diri. Karena ia mengetahui bahwa Empu Baladatu adalah orang yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan, maka yang paling baik adalah berusaha mencari bantuan dari padukuhan.
Karena itulah, ketika kawan-kawannya sibuk membidik Empu Baladatu dan pengawalnya, maka salah seorang dari mereka telah memasang anak panah sendaren. Anak panah yang dapat memberikan isyarat, bahwa mereka berada dalam kesulitan..
Maka sejenak kemudian, anak panah yang mengarah justru berlawanan dengan anak panah kawannya itu, segera meraung di udara. Demikian anak panah itu lepas dari busurnya, maka suaranya bagaikan jerit yang mengumandang seluas bulak panjang.
“Gila” Empu Baladatu berteriak. Ia sadar, bahwa dengan panah sendaren itu, berarti lawannya akan berlipat. Dari padukuhan tentu akan muncul beberapa orang lagi. Mungkin prajurit-prajurit Singasari.
Kemarahan Empu Baladatu tidak dapat ditahankannya lagi, Dengan wajah yang membara ia mengerahkan kemampuannya. Namun untuk sementara ia hanya dapat menahan serangan anak panah yang meluncur dari segala arah itu sebelum ia dapat berbuat lebih banyak lagi.
“Demikian anak panah mereka habis, maka mereka akan segera menjadi bangkai” geram Empu Baladatu.
Namun orang-orang itu pun menyadari Kesulitan yang bakal terjadi. Itulah sebabnya, maka mereka mencoba untuk mempergunakan anak panah mereka sebaik-baiknya. Mereka tidak saja asal melepaskannya. Tetapi mereka mencoba membidik dan membuat perhitungan.
Meskipun jumlah anak panah yang meluncur itu berkurang namun justru semakin terarah dan semakin berbahaya, sehingga Empu Baladatu harus semakin berhati-hati menghadapinya.
Dalam pada itu, panah sendaren ynng meraung dilangit itupun meluncur dengan cepatnya kearah padukuhan baru yang mulai menjadi semakin tumbuh itu.
Tetapi jarak padukuhan itu tidah terlampau dekat lagi. Dengan demikian, maka Empu Baladatu yang harus semakin berhati-hati menghadapi orang-orang yang semakin lama justru menjadi semakin mapan itu berkata, “Kalian tidak akan mendapat bantuan dari siapapun. Lihat, jarak padukuhan itu tidak dapat dicapai dengan panah sendarenmu. Karena itu, kalian akan tetap mencapai akhir yang Mengerikan. Jika orang-orang padukuhan kalian itu jemu menunggu dan kemudian akan mencari kalian, maka mereka akan menemukan kalian sudah tidak dapat mereka kenal lagi. Apalagi jika mayat kalian diketemukan oleh binatang buas yang berkeliaran di daerah ini”
Orang-orang itu termangu-mangu. Tetapi mereka benar-benar sudah bertekad untuk melawan apapun yang akan terjadi. Mungkin panah sendaren itu tidak mencapai jarak dengar dari padukuhan yang memang sudah agak jauh. Namun mereka masih tetap mempunyai harapan. Jika, anak panah mereka sampai yang terakhir tidak dapat menyentuh lawan, maka mereka dapat mempergunakan pedang yang masih tergantung dilambung.
Empu Baladatu yang melihat orang-orang itu tetap dalam perlawanan yang berani, menjadi semakin marah. Semula orang-orang itu dapat dikejutkannya dan menjadi pucat. Tetapi semakin lama mereka justru menjadi semakin mapan dan berani.
Orang-orang itu pun semakin lama justru menjadi semakin memencar. Mereka membidikkan anak panah mereka dengan hati-hati. Dalam saat-saat yang sudah pasti mereka baru melepaskan anak panah itu meskipun mereka masih saja gagal untuk mengenai lawannya.
Tetapi dengan demikian Empu Baladatu tidak dapat memperpendek jarak. Jika ia melangkah maju, maka anak panah dari salah seorang lawan-lawannya itupun menyambut dengan cepatnya, seakan-akan senjata itu menjadi batas yang tidak dapat dilampauinya.
Kemarahan yang memuncak membuat kedua orang yang merasa dirinya memiliki banyak kelebihan itu menjadi kurang berhati-hati. Bahkan kadang-kadang lebih banyak dikendalikau oleh kemarahannya daripada perhitungan. Karena itulah, maka dalam keadaan yang, hampir tidak terkendali pengawal Empu Baladatu itu mencoba untuk meloncat menyeberangi jarak. Jika ia berhasil, maka ia akan segera dapat melibat lawannya dalam perkelahian pendek, sehingga kawan-kawannya tidak akan berani melepaskan anak panah mereka lagi.
Tetapi dengan demikian, ia merupakan sasaran yang lebih baik. Beberapa anak panah hampir beruntun telah meluncur. Agaknya orang-orang itu telah mulai mempergunakan perhitungan dan menyesuaikan yang satu dengan.yang lain.
Ternyata perhitungan pengawai Empu Baladatu yang, didorong oleh kemarahan itu keliru. Ia masih sempat menangkis dan menghindari satu dua anak panah yang menyambarnya. Namun anak panah itu bagaikan lalat yang terbang disekitarnya. Karena itulah, maka ia menjadi bingung sehingga terasa sesuatu menyengat pundaknya.
Empu Baladatu yang melihat kesulitan pengawalnya itupun tiba-tiba telah berteriak nyaring. Dengan cepat ia berusaha untuk merubah keadaan yang sulit bagi pengawalnya itu. Ia pun kemudian menyusul meloncat maju menyerang dengan tangkasnya.
Karena itulah, maka orang-orang padukuhan itu harus membagi sasaran. Tetapi dengan demikian sejenak mereka, harus menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru.
Empu Baladatu masih sempat menangkis segala serangan dengan senjatanya. Bahkan ia telah berhasil membuat kejutan sehingga pengawalnya sempat meloncat mundur. Tetapi ternyata bahwa pundaknya telah lerluka oleh patukan anak panah.
Kemarahan kedua orang itu justru menjadi semakin, memuncak. Tetapi mereka ternyata harus menahan diri sampat anak panah yang terakhir meluncur dari busurnya.
Semakin lama anak panah dari orang-orang padukuhan itupun menjadi semakin berkurang. Satu-satu meluncur dam hilang ditelan gerumbul-gerumbul perdu. Mereka tidak lagi berhasil melukai baik pengawalnya apa lagi Empu Baladatu.
Karena itu maka hati merekapun menjadi semakin kecut. Mereka sadar, jika anak panah mereka habis dan mereka harus bertempur dengan pedang, maka mereka masih harus menilai keadaan apakah mereka akan dapat bertahan.
Namun setiap kali mereka berusaha untuk menenteramkan hati, karena jumlah mereka memang lebih banyak.
Tetapi meskipun demikian, orang-orang itu mencoba untuk lebih berhemat lagi. Mereka kemudian hanya melepaskan anak panah pada saat-saat tertentu. Jika Empu Baladatu atau pengawalnya siap untuk menerkam maka anak panah itu telah menyambar dengan cepatnya.
“Cepat” teriak Empu Baaladatu, “jika kalian mampu, hujani kami dengan anak panah. Jika satu dari anak panah kalian mengenai kawanku, itu bukannya kalian berhasil, tetapi itu karena kesalahan kawanku sendiri yang menganggap kalian terlalu bodoh. Ternyata kalian dapat juga membidik, meskipun kemudian tidak akan berguna lagi karena kawanku menjadi lebih berhati-hati.”
Orang-orang padukuhan itu tidak menjawab. Tetapi mereka benar-benar menjadi cemas. Satu dua diantara mereka tinggal mempunyai anak panah tidak lebih dari jari sebuah tangan mereka.
Empu Baladatu yang melihat hal itu menjadi semakin bernafsu. Sebentar lagi anak panah orang-orang itu tentu akan habis sehingga akan segera terjadi perang pada jarak jangkau senjata ditangan.
Satu-satu anak panah itu masih meluncur. Semakin berbahaya anak panah diendong itupun semakin lama menjadi semakin tipis.
Dalam pada itu, ternyata anak panah sendaren yang meraung diudara bena-benar tidak dapat mencapai padukuhan. Jaraknya terlalu jauh, melampaui jarak lontaran anak panah.
Tetapi beruntunglah orang-orang yang terlibat dalam kesulitan itu, bahwa ada seseorang yang sedang bekerja di sawah yang mendengar bunyi panah sendaren itu. Dengan sadar maka iapun segera berlari-lari mengambilnya dan membawa kembali kepadukuhan.
Ketika ia bertemu dengan seorang yang lain, dengan suara gagap berkata, “Aku menemukan anak panah sendaren ini”
Kawannya mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Lalu untuk apa?”
“Untuk apa?” orang itu menjadi heran, “bukankah ini berarti tanda bahaya.”
“O. Apakah kau mendengar bunyinya?”
“Ya. panah ini baru saja meraung diudara dan jatuh tidak terlalu jauh dari aku.”
“Kau tahu arahnya.?”
“Ya, Dari pinggir hutan”
“Cepat, laporkan kepada petugas ronda hari ini.”
Orang itu dengan tergesa-gesa melanjutkan langkahnya. Bahkan Iapun berlari semakin cepat langsung menuju kebanjar., “Seseorang diantara para petugas ronda dihari itu mendapatkannya dengan hati yang berdebar-debar. Dengan saksama ia mendengar keterangan dari orang yang menemukan panah sendaren itu.
“Tanda bahaya” desisnya
Seorang prajurit yang mendengar pembicaraan itupun mendekat sambil bertanya, “Apa yang kau dengar?”
“Panah sendaren” jawab orang yang mendengar panah sendaren itu.
Prajurit itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Marilah. Ikut aku.”
Orang itupun kemudian dengan singkat telah melaporkan apa yang didengarnya. Tentang anak panah sendaren dan arah datangnya.
Prajurit yang bertugas meronda hari itupun segera menentukan sikap. Diperintahkannya dua orang untuk melaporkannya kepada pemimpin prajurit dipadukuhan itu, sementara dua orang yang lain langsung menuju kearah anak panah itu meluncur.
“Bawalah isyarat pula” berkata prajurit yang sedang bertugas hari itu, “jika ada sesuatu yang kurang pada tempatnya, kirimkan isyarat dengan anak panah sendaren. Biarlah seseorang berada di sawah untuk menunggu jika anak panah itu benar-benar kau lontarkan.
Kedua prajurit itu pun segera mempersiapkan diri. Sebuah pedang melesak di lambung, sementara busur menyilang di punggung masing-masing.
Sejenak kemudian dua ekor kuda pun telah berpacu. Sedang dua yang lain menuju ke padepokan Empu Sanggadaru karena pemimpin prajurit Singasari sedang berada di padepokan itu.
Sementara itu, anak panah di tangan orang-orang padukuhan yang bertemu dengan Empu Baladatu telah hampir habis seluruhnya. Masih ada satu dua orang yang mensisakan anak panah mereka untuk saat-saat yang benar-benar gawat. Sementara, yang lain telah bersiap memegang pedang ditangan.
“Kalian tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi” geram Empu Baladatu, “saat kematian telah tiba. Kematian yang sangat mengerikan.”
Orang-orang itu tidak menjawab. Mereka mulai berpencar mengambil arah perlawanan masing-masing.
“Ternyata kalian menjadi semakin sigap. He, siapakah yang mengajari kalian?”
Orang-orang itu tidak menjawab. Tetapi merekapun memang merasa bahwa mereka menjadi semakin cepat menyesuaikan diri meskipun mereka tidak lagi memperdalam ilmu hitam. Dengan unsur-unsur gerak yang sebagian besar baru, dilandasi dengan watak dan sifat-sifat yang baru, mereka siap melakukan perlawanan terhadap Empu Baladatu.
Dalam pada itu, maka kedua orang prajurit yang ditugaskan untuk .melihat keadaan itupun telah berpacu di bulak persawahan. Namun mereka tertegun sejenak, ketika mereka melihat dua ekor kuda melintang dijalan
“Kenapa paman tergesa-gesa?” Mahisa Pukat dan Mahisa Murti lah yang. berada di tengah jalan itu.
Dengan singkat prajurit itu menjelaskan tugasnya.
“Aku ikut” teriak Maliisa Murti.
“Jangan ngger. Ini bukan main-main.”
“Aku juga tidak akan main-main”
Kedua prajurit itu saling berpandangan sejenak. Namun salah seorang dari mereka berkata, “Atas kehendak angger sendiri”
Mahisa Pukat dan Mahisa Murtilah yang kemudian, saling berpandangan. Namun kemudian Mahisa Murti menyahut, “Baiklah paman. Atas kehendak dan tanggung jawab, kami sendiri”
“Jika demikian terserahlah kepada angger berdua. Tetapi agaknya ada sesuatu yang gawat.”
“Bukankah lebih baik kita berempat daripada paman hanya berdua?” tiba-tiba Mahisa Pukat bertanya.
Kedua prajurit itu tidak dapat ingkar, bahwa kedua anak anak yang masih sangat muda itupun telah memiliki kemampuan olah kanuragan tidak kalah baiknya dari seorang prajurit pilihan. Itulah sebabnya, maka keduanya tidak mencegahnya lagi. Bahkan salah seorang dari mereka berkata, “Jika demikian, marilah. Kita akan melihat, apa yang telah terjadi”
Keempat orang itu pun kemudian berpacu menuju ke arah yang ditunjukkan oleh orang yang mendengar anak panah sendaren yang menemukannya. Mereka tidak akan membiarkan orang yang dalam kesulitan itu dibiarkan ditelan oleh bahaya.
“Tentu bukan sekedar binatang buas. Mereka membawa perlengkapan berburu” desis salah seorang dari kedua prajurit itu sambil berpacu.
“Apakah ada orang yang mengetahuinya?”
“Ya. Para petugas hari ini melihat mereka, karena mereka singgah sebentar digardu penjagaan. Mereka telah mendapat ijin untuk berburu binatang.”
Kawannya tidak menyahut. Dengan wajah yang tegang mereka mempercepat derap kudanya.
Mendekati arah yang ditunjuk, merekapun memperlambat perjalanan. Mereka harus berhati-hati menghadapi segala kemungkinan. Mereka belum tahu pasti, apakah yang telah dihadapi oleh orang-orang yang sedang berburu itu.
“Mereka berkelompok lebih dari lima orang” desis salah seorang dari kedua prajurit itu.
Yang lain mengangguk-angguk. Jika demikian, maka mereka benar-benar dalam keadaan yang gawat.
Sementara itu, Empu Baladatu telah berusaha untuk memancing anak panah yang terakhir dari setiap orang yang ada di sekitarnya. Kadang-kadang ia menggeram sambil meloncat. Dan dengan demikian ia berhasil memaksa lawannya untuk melepaskan anak panahnya.
Ketika anak panah yang terakhir telah meluncur dari busurnya, maka Empu Baladatu pun tertawa berkepanjangan. Di sela-sela derai tertawanya ia berkata, “Nah, sekarang kalian tinggal menunggu saat-saat yang paling pahit di dalam hidup kalian.
Orang-orang padukuhan itu tidak menjawab. Namun mereka sadar, bahwa mereka akan segera sampai pada saat perjuangan yang berat dan gawat.
“Nah, bersiaplah untuk mati. Jika kalian tidak berkeras kepala, maka kalian akan mengalami suatu masa yang sangat menyenangkan. Kalian akan mendapat tempaan lahir dan batin, sehingga pada suatu saat kalian akan kembali kedalam lingkungan sanak kadang dengan ilmu yang tidak terlawan. Kalian akan menjadi pemimpin dari padukuhan kalian yang baru.” berkata Empu Baladatu sambil tertawa.” tetapi semuanya tinggallah angan-angan. Kalian telah menyakiti hatiku, sehingga kalian memang harus mati seorang demi seorang dengan cara yang sangat menyakitkan hati pula. Bagi kalian sendiri dan bagi siapapun yang akan menemukan mayat kalian.”
Orang-orang itu masih tetap berdiam diri. Tetapi senjata mereka telah berada di dalam genggaman. Mereka telah meletak kan busur mereka, karena anak panah yang terakhir telah terlontar.
Sejenak Empu Baladatu memperhatikan orang-orang itu. Ia pun menyadari, bahwa orang-orang itu menilik sikapnya, telah mendapat bimbingan yang lebih baik dalam olah kanuragan. Lebih baik dari saat mereka ditinggalkannya.
Tetapi Empu Baladatu adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Meskipun orang-orang itu berjumlah tiga kali lipat, namun mereka tidak akan banyak menyulitkannya bersama seorang pengawalnya.
“Marilah. Kita akan membunuh mereka semuanya” geram Empu Baladatu.
Pengawalnya yang telah tergores luka itu tidak dapat menahan diri lagi. Dengan serta merta iapun langsung meloncat menyerang.
Dua orang dari orang-orang padukuhan itu menyongsongnya. Agaknya mereka telah saling berbisik, bagaimana mereka harus mengahadapi dua iblis berilmu hitam itu, sehingga mereka telah bersepakat membagi diri. Dua orang harus menghadapi pengawal Empu Baladatu, sedang yang lain akan menghadapi Empu Baladatu karena menghadapi Empu Baladatu akan jauh lebih berat daripada melawan pengawalnya itu.
Sejenak kemudian pengawalnya Empu Baladatu telah terlibat dalam perkelahian yang sengit. Ternyata kedua orang padukuhan yang telah mendapat bimbingan para prajurit Singasari itu dapat melawannya dengan baik. Keduanya dapat menempatkan diri masing-masing sehingga pengawal Empu Baladatu itu tidak segera dapat menguasainya.
Empu Baladatu masih sempat memperhatikan mereka sejenak namun kemudian iapun menggeram dengan marahnya.
Dipandanginya beberapa orang lain yang sudah siap menghadapinya dengan pedang terhunus.
“He, kenapa tidak segera kau bunuh saja kedua orang itu?” teriak Empu Baladatu yang marah.
Pengawalnya menggeram. Iapun kemudian mengerahkan segenap kemampuannya sehingga kedua orang, lawannya itu mulai terdesak.
Bagaimanapun juga, ternyata kedua orang padukuhan itu masih belum dapat mengimbangi pengawal Empu Baladatu yang ganas itu. Beberapa langkah mereka terdesak meskipun mereka telah bekerja bersama dengan sebaik-baiknya.
Beberapa orang yang lain saling berpandangan. Mereka telah mempersiapkan diri melawan Empu Baladatu. Tetapi karena kedua kawannya itu terdesak, maka salah seorang dari merekapun segera terjun ke dalam perkelahian itu untuk membantu.
Bertiga maka orang-orang padukuhan baru itu agaknya mulai mendapatkan keseimbangan Pengawal Empu Baladatujtu harus mengakui, bahwa untuk melawan ketiga orang itu, ia harus berjuang sekuat tenaganya.
Namun dalam pada itu, Empu Baladatu yang melihat pengawalnya mendapat perlawanan yang berat, iapun mulai bergeser. Ia melihat orang-orang lain yang sudah siap melawannya. Namun bagi Empu Baladatu, jumlah orang-orang itu tidak cukup banyak untuk mencegah, apa saja yang akan dilakukan.
Sejenak kemudian, maka Empu Baladatu pun maju selangkah demi selangkah. Ia tertawa ketika melihat lawan-lawannya itu berpencar. Sambil menyeringai ia bertanya, “He, siapkah yang akan mati lebih dahulu?”
Lawan-lawannya tidak menyahut. Tetapi pedang mereka telah teracu.
“Tangan kalian mulai gemetar” desis Empu Baladatu Tetapi lawan-lawannya bagikan menjadi bisu. Mereka sama sekali tidak menyahut. Yang terdengar adalah desah nafas mereka yang memburu.
Tiba-tiba saja terdengar teriakan Empu Baladatu nyaring. Ia pun kemudian mulai meloncat menyerang salah seorang dari mereka.
Dengan tergesa-gesa orang itu meloncat menjauh, sementara kawan-kawannya maju setapak sambil mengacungkan senjata mereka.
Yang terdengar adalah suara tertawa Empu Baladatu yang menggeletar. Rasa-rasanya suara tertawanya itu telah menggoncangkan jantung.
Bulu tengkuk lawan-lawannya telah meremang, mendengar suara tertawa itu. Bahkan ketiga orang yang bertempur melawan pengawal Empu Baladatu itu telah terpengaruh pula olehnya
Seolah-olah suara tertawa itu meneriakkan kidung maut dari lembah kematian.
Senak kemudian Empu Baladatu pun telah benar-benar bertempur. Lawan-lawannya ternyata segera terdesak. Kedua pisau belati panjang Empu Baladatu seakan-akan telah berubah menjadi berpuluh pasang melingkari dirinya dan menyerang beruntun kesegala arah.
Lawan-lawannya yang melihat tata gerak Empu Baladatu menjadi ngeri. Mereka sadar bahwa mereka tidak akan dapat melawannya, betapapun juga mereka berusaha.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar