*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 31-02*
Karya. : SH Mintardja
Ternyata bukan saja orang tua dan anak muda yang telah semakin meningkat dalam olah kanuragan. Para remaja pun telah mulai mengenal beberapa unsur gerak dengan baik, Bahkan mereka telah dapat mengingat dan melakukan unsur-unsur gerak pokok yang diberikan oleh Mahisa Bungalan.
Karena itulah, maka Mahisa Bungalan pun telah mulai dengan tahap berikutnya dari latihan-latihannya yang diberikan kepada para remaja. Mahisa Bungalan membagi mereka dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil. Jika sekelompok kecil melakukan latihan khususnya, maka yang lain harus melakukan latihan-latihan seperti biasanya di tempat yang terpisah. Sekedar menirukan dan mengulang tata gerak yang pernah diberikan. Beberapa kali sampai mereka benar-benar dapat melakukan tanpa mengingat-ingat lagi.”
Yang mendapat giliran latihan khusus dari kelompok yang kecil itu, Mahisa Bungalan mengajar mereka memperdalam tata gerak yang sudah mereka hafal itu. Mereka harus melakukannya beberapa kali. Kemudian Mahisa Bungalan mulai menerangkan hubungan yang satu dengan yang lain.
Beberapa kali setiap kelompok mendapat petunjuk-petunjuk tentang hubungan itu. Namun karena jumlah kelompoknya menjadi lebih banyak, maka giliran setiap kelompokpun menjadi semakin jarang.
Meskipun demikian, ketekunan dan kesungguhan para remaja itu tidak berkurang. Waktu-waktu yang terluang mereka pergunakan untuk melatih diri dalam tata gerak yang harus mereka hafal itu.
Ketika hubungan tata gerak yang satu dari yang lain sudah mulai mereka pahami, maka Mahisa Bungalan mulai memperkenalkan kegunaannya, dihadapkan pada orang lain. Mahisa Bungalan mulai dengan sentuhan yang paling sederhana pada anak-anak itu. Dan iapun menunjukkan tata gerak, yang manakah yang harus dipergunakan untuk menghindar atau melindungi diri masing-masing.
Dalam waktu yang agak panjang, maka mulailah latihan-latihan yang lebih rumit. Mereka mulai dihadapkan yang satu dengan yang lain, meskipun masih dalam keterbatasan yang sempit.
Tetapi karena anak-anak remaja itu dengan sungguh-sungguh mengikuti semua petunjuk dan latihan-latihan yang diberikan oleh Mahisa Bungalan, maka dalam saat-saat tidak terlampau lama, merekapun mulai mengenal olah kanuragan yang sebenarnya, meskipun dalam tingkat permulaan sekali.
Dengan demikian ketika latihan-latihan itu mulai menjadi semakin rumit, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mendapat tugasnya pula. Bahkan beberapa orang prajurit telah diminta pula untuk mengawasi kelompok-kelompok yang terpisah.
Sementara anak-anak remaja itu mulai meningkat ilmunya, maka perhatian semua orang kemudian seakan-akan tertuju kepada mereka, karena hari depan padukuhan itu kelak akan terletak ditangan mereka. Sebentar lagi anak-anak remaja itu akan menjadi anak-anak muda yang dewasa penuh. Di tangan mereka lah terletak ketenangan padukuhan-padukuhan yang sedang tumbuh semakin subur itu.
Bahkan para perwira dan prajurit Singasari tidak segan memberitahukan kepda orang-orang tua yang berada dibawah bimbingan mereka, bahwa anak-anak remaja itu perlu mendapat dorongan dan pengarahan yang lebih cermat.
Demikianlah maka padukuhan-padukuhan itu berkembang semakin pesat. Sawah dan ladang yang semakin hijau dan rimbun. Parit yang semakin panjang dan mengalir semakin ajeg. Jalan-jalan yang rata dan bersih, yang menghubungkan padukuhan yang satu dengan padukuhan yang lain serta dengan padepokan Empu Sanggadaru.
Semakin lama ternyata bahwa padukuhan baru itu akan dapat berkembang menjadi padukuhan yang benar-benar dapat memberikan tempat untuk menumpukan harapan bagi masa depan dan bagi anak cucu mereka.
Namun pada suatu saat, seperti yang setiap kali dikatakan oleh prajurit-prajurit Singasari, bahwa prajurit-prajurit itu tidak selamanya akan berada dipadukuhan itu.
“Sebelum aku pergi” berkata pemimipin prajurit itu, “kalian harus sudah mampu menjaga diri sendiri”
“Kami akan berusaha” jawab orang-orang di padukuhan itu.
“Para remaja pun harus sudah dapat dipercaya” berkata pemimpin prajurit itu, “sebentar lagi mereka akan menjadi perisai yang dewasa, bagi padukuhan ini.”
Anak-anak remaja itu menjadi semakin bersungguh-sungguh. Mereka melakukan apa saja yang diperintahkan Mahisa Bungalan kepada mereka dengan patuh. Kelompok-kelompok kecil yang dibentuk kemudian, selalu mengadakan latihan pada saat-saat yang di tentukan. Bahkan pada saat-saat lain kapan saja mereka sempat.
Mahisa Pukat dan Mahisa Murti seakan-akan telah luluh di antara mereka. Karena kedua anak-anak muda ini merasa dirinya mendapat kawan bermain. Meskipun ilmu keduanya jauh terpaut, tetapi umur yang sebaya, telah membuat mereka berada dalam satu lingkungan.
Justru karena itulah, maka anak-anak remaja di padukuhan yang baru itu dapat banyak menyadap dari Mahisa Pukat dan Mahisa Murti. Justru karena ia adik-adik Mahisa Bungalan yang mempunyai sumber ilmu yang sama.
Dalam pada itu, tiga puluh orang remaja yang langsung berada di bawah asuhan Empu Sanggadaru pun meningkat dengan cepat. Kesempatan yang lebih luas telah menjadikan mereka memiliki kemampuan yang lebih baik dari kawan-kawannya. Meskipun demikian, anak-anak remaja yang lainpun telah mulai menunjukkan kemampuan yang memadai.
Semua kemajuan itulah yang tidak diperhitungkan oleh Empu Baladatu sebelumnya. Ia hanya mempertimbangkan kemungkinan kedatangan prajurit Singasari yang pada suatu Saat tentu akan ditarik kembali.
Dalam pada itu, Mahisa Bungalan, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang ada di antata para remaja itu telah mulai segalanya dari permulaan. Namun dalam pada itu, ternyata bahwa mereka tidak hanya sekedar mengajarkan ilmunya. Tetapi mereka seakan-akan telah mengulang kembali apa yang pernah mereka terima sejak permulaan. Dengan demikian maka seakan-akan mereka telah memperbaharui seluruh ilmu mereka dengan melihat semua unsur gerak yang ada.
Ternyata ketiga anak-anak muda itu mampu memanfaatkan keadaan. Disaat-saat yang senggang, bahkan kadang-kadang dimalam hari, ketiganya telah menyendiri. Mereka mulai menilai setiap tata getak yang mereka kuasai, kemudian memperbandingkannya dengan sumber yang mereka kenal pada saat mereka mempelajari ilmu itu.
Bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat penilaian kembali tata gerak pada olah kanuragan yang dikuasainya bersama kakaknya itu, ternyata sangat menguntungkan. Meskipun mereka sekedar mengulang, yang telah mereka miliki tetapi rasa-rasanya yang mereka miliki itu menjadi semakin dewasa, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat seiolah-olah menjadi semakin mengenal dirinya sendiri dan setiap gerak yang pernah mereka lakukan. Yang semula seakan-akan sekedar melakukan gerak naluriah, kemudian ternyata bahwa mereka mulai mengenal sifat dan watak gerak itu sendiri dan dalam hubungnya dengan ilmunya dalam keseluruhan.
Bagi Mahisa Bungalan pun bukannya tidak berarti sama sekali. Kadang-kadang pada celah-celah tata gerak yang diberikannya kepada anak-anak remaja yang dimulainya dari permulaan sekali itu, ia menemukan sesuatu yang bermanfaat dan disempurnakannya di saat ia berada sendiri di halaman belakang, dari pondoknya.
Sementara itu, Empu Baladatu yang menempa diri bersama anak buahnya itupun sampai pada suatu saat, dimana mereka teringat kepada padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang.
“Ada beberapa orang di antara mereka yang dapat kita ambil dan kita tempa disini” berkata Empu Baladatu, “meskipun jumlahnya tidak banyak, tetapi berguna bagi kita, karena mereka akan mengembangkannya di antara mereka sendiri.”
Beberapa orang anak buahnya yang terdekat mengangguk-angguk.. Namun ada di antara mereka yang bertanya, “Apakah, kita dapat mempercayai mereka? Nampaknya mereka telah kehilangan semua sifat dan watak mereka yang keras. Jiwa mereka benar-benar telah hancur bersama hancurnya pasukan mereka sehingga mereka sama sekali tidak dapat berbuat apapun selain pasrah dan perlahan-lahan membiarkan diri mereka binasa.”
“Kita akan mengajar mereka, bagaimana mereka harus bangkit. Kita akan mengambil beberapa orang yang akan kita coba untuk mengingatkan mereka kepada ilmu yang pernah mereka miliki.”
“Berapa orang Empu” bertanya yang lain
“Ambillah lima orang di antara mereka. Jangan yang sudah terlalu tua. Tetapi ambillah yang masih muda. sehingga jerih payah kita tidak akan sia-sia. Jika kita berhasil, maka kita akan mengambil lebih banyak lagi. Sepuluh atau duapuluh, sehingga pada suatu saat, kita akan mempunyai sepasukan prajurit yang terlatih baik dari kedua padepokan itu. Bahkan mungkin ratusan orang.”
Para pengawal terdekat itu mengangguk-angguk. Sementara Empu Baladatu meneruskan, “Pergilah. Bawa empat orang pengawal bersamamu sehingga semuanya akan berjumlah lima orang. Setiap orang diantara kalian akan membawa seorang anak muda menjadikan mereka percobaan bagi kemungkinan yang bakal datang,”
“Tetapi apakah itu bukan berarti tanda bahaya bagi mereka, sehingga mereka akan mengambil suatu sikap”
“Mereka tidak akan berani berbuat apa-apa. Tetapi seandainya di padukuhan mereka masih ada prajurit Singasari. maka kalian harus berusaha mengambil anak itu di luar pengawasan para prajurit itu. Namun dengan demikian akan dapat berarti, bahwa hadirnya para prajurit itu akan menjadi bertambah panjang. Tetapi itu tidak akan mendatangkan kesulitan. Mereka tidak akan dapat bertahan sampai bilangan tahun.”
Orang-orang berilmu hitam itu pun kemudian menyiapkan lima orang yang terpercaya. Seorang di antara mereka adalah yang yang sudah mengenal kedua padepokan itu dengan baik.
“Jangan takut. Orang-orang Serigala Putih dan Macan Kumbang telah menjadi jinak seperti seekor kucing sakit-sakitan Tetapi ingat, bahwa mungkin ada prajurit Singasari, atau para cantrik dari padepokan kakang Sanggadaru. Mereka adalah Serigala dan Macan Kumbang yang sebenarnya. Karena itu kalian harus berhati-hati terhadap mereka.”
Kelima orang yang akan berangkat itu pun mengangguk-angguk. Mereka menyadari bahwa tugas mereka cukup berat jika dipadepokan itu ada beberapa orang prajurit atau cantrik dari padepokan Empu Sanggadaru. Tetapi jika mereka tidak ada dikedua padepokan itu, maka tugas mereka tidak ubahnya seperti menginjak buah ranti
Demikianlah, setelah semuanya siap, maka kelima orang itupun segera berangkat. Mereka tidak mempunyai tujuan lain kecuali mengambil lima orang anak muda dari kedua padepokan itu. Mungkin tiga dari padepokan Serigala Putih dan dua dari Macan Kumbang atau sebaliknya.
“Jika kelima orang itu berhasil ditempa dalam waktu singkat, maka yang lima itu akan segera menjadi berlipat ganda.” berkata Empu Baladatu.
Di perjalanan kelima orang itu sama sekali tidak menjumpai kesuilatn apapun juga. Tidak ada: seorang pun yang mengganggu mereka apalagi berusaha menghalangi
Untuk mencapai padepokan itu, maka kelima orang itu harus bermalam di perjalanan meskipun mereka berkuda. Tetapi bermalam bukannya persoalan bagi mereka berlima.
Demikianlah mereka pun telah menempuh seluruh perjalanan dengan selamat. Namun mereka tidak tergesa-gesa mendekati padepokan Serigala Putih maupun Macan Kumbang. Mereka harus mengetahui lebih dahulu, apakah yang terdapat dikedua padepokan itu.
“Kita sudah terlalu lama berpisah dari kedua padepokan itu” berkata salah seorang dari mereka yang sudah mengenal kedua padepokan yang mereka tuju.
“Ya, Agaknya sejak Empu Baladatu pergi ke Mahibit.” sahut seorang kawannya.
“Dan itu sudah terjadi berbulan-bulan lampau.” desis yang lain pula.
“Empu Baladatu memang menunggu para prajurit Singa sari menjadi jemu dan meninggalkan padepokan-padepokan itu.” jawab pemimpin dari kelompok kecil itu. Ia adalah satu-satunya orang yang sudah mengenal padepokan-padepokan yang pernah menggemparkan itu.
Kawan-kawannya tidak menjawab. Mereka hanya mengangguk-angguk saja. Karena mereka merasa bahwa pengetahuan mereka tentang kedua padepokan itu sangat sedikit.
“Kita akan berhenti disini” berkata pemimpin kelompok itu, “kita akan menyelidiki keadaan.”
Kelima orang itupun kemudian beristirahat di pinggir sebuah hutan kecil. Mereka menambatkan kuda mereka di tempat yang terlindung. Demikian pula mereka mencari tempat untuk beristirahat di balik gerumbul-gerumbul perdu.
“Beristirahlah” berkata pemimpin kelompok itu., “tetapi seorang dari kalian akan pergi bersamaku menyelidiki padepokan Serigala Putih itu.”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak begitu memikirkan apa yang sedang mereka hadapi, karena mereka masih harus menunggu keterangan dari kedua kawannya yang masih akan menyelidiki keadaan.
Dalam pada itu, ketika malam menjadi gelap, maka kedua .orang yang akan menyelidiki padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang itupun mulai bergerak. Dengan sangat hati-hati mereka mendekati padepokan yang pernah berada di bawah pengaruh Ernpu Baladatu meskipun untuk waktu yang tidak terlalu lama.
”Apakah kau tidak keliru?.” bertanya salah seorang dari keduanya.
“Tentu tidak. Aku mengenal jalan menuju kepadepokan itu sebaik-baiknya” jawab yang lain. Lalu tiba-tiba, “Nah, aku sudah menemukan lorong itu”
Tetapi keduanya termangu-mangu sejenak. Lorong itu terlampau kotor dan ditumbuhi rerumputan liar. Tidak ada jalur walaupun, hanya setapak.
“Jalan ini seolah-olah sudah lama sekali tidak dijamah kaki” desis yang seorang, yang memang belum pernah mengenal daerah itu.
“Ya. Tetapi aku tidak akan keliru. Jalan menuju kepadepokan itu adalah jalan ini”
Kawannya mengerutkan keningnya. Namun ia tidak membantah, karena Ia tahu, bahwa, kawannya itu sudah mengenal padepokan yang akan mereka dekati.
“Kita akan melihat” desis yang seorang, yang pernah mengenal daerah itu.
Mereka maju lagi beberapa puluh langkah. Tetapi lorong itu masih saja tidak menunjukkan bekas kaki manusia untuk waktu yang lama.
Semakin dekat mereka dengan padepokan Serigala Putih, hati mereka menjadi semakin berdebar-debar. Mereka sama sekali tidak melihat tanda-tanda apapun juga pada padepokan yang pernah dikunjunginya beberapa saat yang lewat.
“Apakah kita dijebak oleh hantu” desis orang yang pernah datang kepadepokan Serigala Putih itu.
“Kenapa?” bertanya kawannya.
“Kita sudah berada dihadapan padepokan itu. Tetapi kita tidak melihat seberkas sinar pun.”
Kawannya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kita akan mendekati. Mungkin mereka masih saja dicengkam ketakutan.”
“Waktunya sudah cukup lama untuk menenangkan diri meskipun seandainya mereka masih tetap cemas. Namun agaknya kita perlu melihat lebih dekat lagi.”
Keduanya pun kemudian merangkak semakin dekat dengan dinding padepokan. Tetapi mereka sama sekali tidak melihat maupun mendengar tanda-tanda kehidupan didalam padepokan yang sunyi itu.
“Apakah benar yang kita lihat itu sebuah padepokan?” desis salah seorang dari keduanya.
“Aku belum gila. Aku tahu pasti, ini adalah padepokan Serigala Putih.” Sahut yang lain.
“Tetapi padepokan ini kosong” Jawab kawannya.
“Mungkin mata kita sudah rabun, atau barangkali seperti yang kita sangka semula, kita sudah dijebak oleh hantu-hantu.
“Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?” Yang lain termenung sejenak. Namun kemudian ia menggeram, “Kita akan masuk kedalamnya. Kita akan melihat apakah aku sudah gila atau kita memang dijebak oleh hantu yang manapun.”
Kawannya nampak ragu-ragu. Tetapi yang pertama sudah siap untuk melangkah memasuki halaman padepokan yang sepi itu.
“Tunggu” desis kawannya.
“Kau takut?”
“Bukan takut. Tetapi siapa tahu bahwa kita telah dijebak. Bukan oleh hantu-hantu. Tetapi oleh orang-orang Serigala Putih. Mereka sudah mengetahui kedatangan kita, dan mereka sengaja membuat padepokan mereka seperti padepokan yang sudah tidak dipergunakan lagi.
“Mungkin mereka dapat berbuat demikian dengan padepokannya. Tetapi mereka tidak akan dapat berbuat demikian dengan lorong yang sudah menjadi padang alang-alang dan perdu itu.”
Kawannya termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “Baikiah. Kita akan masuk. Tetapi hati-hatilah. Siapa tahu ada sesuatu yang dapat mencelakai kita”
Sejenak keduanya termangu-mangu. Namun yang seorang segera mencabut pedangnya sambil berkata “Apapun yang akan aku hadapi, aku tidak akan lari”
Keduanyapun kemudian telah menggenggam senjata di tangan. Dengan penuh kewaspadaan keduanya melangkah melintasi tlundak regol.
“Gila” desis yang seorang.
“Kenapa?” bertanya yang lain.
“Regol ini sama sekali tidak pernah disentuh tangan. Kotor dan hampir roboh.”
Yang lain tidak menyahut Mereka maju melangkahi tlundak dan turun dihalaman yang luas.
Betapapun gelapnya malam, tetapi mereka dapat melihat bahwa halaman itu. ternyata kotor dan tidak terjamah.
Sejenak kedua orang itu termangu-mangu. Yang nampak di hadapan mereka adalah bayangan yang hitam, kelam bagaikan seonggok kayu yang silang melintang. Tidak ada secercah cahaya lampu yang nampak di dalam kegelapan malam itu.
“Kita masuk ke sarang hantu” desis yang seorang, yang pernah mengenal padepokan itu sebelumnya.
“Ya. Kita akan di sergap dan dibantai di dalam sarang mereka yang mengerikan itu” Sahut yang lain.
Untuk sementara keduanya masih bertahan. Tetapi sejenak kemudian yang seorang berkata, “Padepokan ini telah menjadi kuburan raksasa. Tidak ada mahkluk yang hidup didalamnya. Jika kita memasukinya, mungkin kita akan menginjak bangkai yang sudah menjad kerangka, atau kita sendiri akan terjerat sarang labah-labah raksasa yang akan menghisap darah kita sampai kering.”
“Jadi?”
“Kita tinggalkan padepokan hantu ini. Kita terpaksa menunggu sampai siang Besok kita akan meyakinkan penglihatan kita ini. Jika besok kita melihat padepokan ini ramai dihuni oleh orang-orang Serigala Putih, dan halaman ini nampak bersih dan berbekas sapu lidi, maka malam ini kita benar-benar telah kena hantu penjaga simpang tiga disudut hutan itu”
Terasa bulu-bulu tengkuk mereka meremang.
“Marilah” desis yang seorang.
Maka dengan kaki yang gemetar keduanya pun melangkah surut perlahan-lahan. Ketika mereka sampai di pintu regol. maka keduanya pun telah meloncat dengan tergesa-gesa.
“Tidak, ada gunanya kita memasuki padepokan itu dalam kebingungan seperti ini” desis yang seorang.
Kawannya tidak menjawab. Tetapi keduanya pun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu dan kembali kepada kawan-kawannya yang lain
Ketika mereka sampai di tempat ketiga orang kawannya beristirahat, maka terasa nafas mereka yang berkejaran menjadi agak teratur. Sehingga hatinya pun menjadi agak tenang.
“Bagaimana?” Bertanya seorang kawannya.
“Kami hanya menemukan sarang hantu” desis salah seorang dari kedua orang yang menyelidiki padepokan itu.
“Kenapa?” bertanya yang lain
“Kami tidak melihat seorangpun di padepokan itu” jawab kawannya yang datang kepadepokan. Dengan singkat ia pun menerangkan apa yang telah dilihatnya.
“Apakah mereka sudah mengungsi?” Tiba-tiba salah seorang dari mereka bertanya.
Kedua orang yang datang kepadepokan itu saling berpandangan sejenak Pada saat-saat yang mencengkam karena ketakutan mereka sama sekali tidak memikirkan kemungkinan itu, sehingga tiba-tiba salah seorang dari mereka berdesis, “Ya. Mungkin mereka memang telah mengungsi.”
Yang lain mengangguk-angguk. Katanya, “Itu adalah kemungkinan yang masuk akal. Bukan sekedar bayangan hantu sajalah yang telah mencengkam kita.” Kawan-kawannya tersenyum. Namun orang yang datang kepadepokan itu berkata, “Jika bukan aku yang datang, tentu akibatnya akan sama saja. Justru aku yang sudah mengenal padepokan itu sebelumnya.”
“Jadi bagaimana dengan kita sekarang?”
“Kita akan menunggu sampai pagi. Besok kita akan melihat padepokan itu. Barulah kita akan mendapatkan kesimpulan.”
Orang-orang itu pun tidak mempunyai pilihan lain kecuali menunggu sampai matahari terbit. Karena itulah, maka mereka pun segera membaringkan diri dan berusaha untuk tidur, kecuali seorang dari mereka harus berjaga-jaga dan dilakukan berganti-ganti.
Ketika fajar menyingsing, maka kelima orang itu pun segera bersiap-siap. Tetapi merekapun tidak akan pergi bersama-sama. Dua orang yang semalam pergi mengunjungi padepokan itulah yang akan kembali meyakinkan, bahwa mereka tidak masuk kedalam sarang hantu.
Dengan hati-hati mereka melintasi lorong yang semalam mereka lalui. Lorong itu benar-benar lorong yang kotor dan tidak terjamah kaki.
“Kita tidak rabun, dan kita tidak ditenung hantu” desis salah seorang, dari keduanya, “lorong ini memang sudah lama tidak dilalui orang.”
Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Mereka pun kemudian menjadi semakin tidak ragu-ragu lagi, bahwa padepokan itu memang sudah kosong. Mereka tidak lagi bersembunyi dan merangkak. Tetapi mereka langsung menuju regol yang rusak dan kotor.
“Kosong” desis yang seorang, “kita benar-benar menjumpai padepokan orang-orang Serigala Putih yang sudah kosong.”
“Tetapi apakah mereka mengungsi atau karena sesuatu hal mereka telah ditumpas habis” jawab yang lain
“Marilah, kita akan menyaksikannya. Di siang hari kita tidak usah cemas bahwa kita sedang dijebak oleh hantu yang paling jahat.”
Kawannya mengerutkan keningnya. Namun ia pun melangkah maju perlahan-lahan. Yang ada dihatinya kemudian bukannya ketakutan, tetapi keragu-raguan bahwa mereka akan me nyaksikan sesuatu yang mengerikan
Tetapi kedua orang itu telah memaksa diri untuk melangkah mendekati barak-barak yang kotor dan tidak terjamah. Sarang LLabah-labah yang kehitam-hitaman menyangkut di sudut-sudut dan tiang serambi.
Sejenak keduanya termangu-mangu. Namun hampir dijuar sadar keduanya telah menarik senjatanya. Dengan hati-hati mereka melangkah mendekati intu yang terbuka.
Dengan ujung pedang yang teracung, keduanya menjenguk dengan ragu-ragu.Tetapi karena mereka tidak melihat sesuatu maka mereka pun segera melangkah masuk.
Sejenak mereka tertegun sambil memandang berkeliling Mereka tidak menghiraukan pendapa yang senyap. Sementara mereka langsung memasuki barak di sebelah pendapa.
Dengan penuh kewaspadaan mereka semakin dalam masuk ke dalam ruang yang ada di dalam barak itu Namun mereka tidak melihat sesuatu.
“Kita melihat di barak yang lain, di bagian belakang dari padepokan ini” desis yang seorang.
Kawannya mengangguk meskipun ragu-ragu. Dengan hati yang berdebar-debar mereka berdua pun kemudian pergi ke bagian belakang dari padepokan yang kosong itu. Ketika mereka memasuki sebuah barak yang lain, maka barak itu pun telah kosong pula. Tidak ada seorang pun dan bahkan dengan heran yang seorang berkata, “Aku tidak melihat barang-barang di dalam padepokan ini.”
“Ya” jawab yang lain.
“Dengan demikian kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa mereka telah mengungsi. Bukan karena mereka tertumpas habis.”
“Kesimpulan yang paling tepat. Jika mereka telah tertimpa malapetakan dan tertumpas habis, maka aku kira barang barang mereka tentu masih ada yang tertinggal. Sekelompok orang yang menyerang dan menang, tidak akan sempat membawa semuanya yang ada.”
Keduanya mengangguk-angguk karena mereka mendapatkan kesimpulan yang sama tentang barak-barak dan padepokan itu. Orang-orang Serigala Putih tentu sudah mengungsi.
“Benar-benar di luar dugaan Empu Baladatu” berkata yang seorang, “jika mereka mengungsi, apakah memungkinkan bagi mereka untuk mendapatkan lapangan kehidupan dengan mudah?”
“Mungkin mereka ditampung oleh para prajurit?”
“Tidak mungkin. Mereka tidak hanya seorang dua orang. Tetapi mereka lebih dari seratus orang. Dengan keluarganya, jumlah mereka akan berlipat. Lihatlah padepokan ini seolah-olah telah penuh sesak dengan barak-barak. Kehidupan yang susah dari keluarga yang besar ini telah memberikan pupuk pada sifat dan usahanya selama mereka masih menyebut dirinya gerombolan Serigala Putih. Mereka adalah perampok yang disegani.”
“Tetapi kekalahan yang hampir mutlak saat mereka menyerang padepokan Empu Saggadaru telah mematahkan ke beranian mereka. Berapa puluh orang di antara mereka yang terbunuh. Hanya sebagian kecil saja dari mereka yang sempat pulang.”
“Sebenarnya mereka belum lumpuh sama sekali. Yang lumpuh adalah sifat kejantanan mereka. Dan itu berpengaruh sekali bagi cara hidup mereka selanjutnya. Mereka kemudian tidak lebih adalah petani-petani miskin yang kurus kering. Mereka makan apa-apa yang dapat mereka petik dari pategalan mereka yang tandus”
Kawannya mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Agaknya semuanya itulah yang justru mendorong mereka untuk mengungsi.”
Yang lain tidak menjawab. Tetapi ia pun menganguk-anguk pula.
Untuk beberapa saat lamanya mereka menjelajahi padepokan itu. sehingga mereka benar-benar yakin bahwa padepokan itu memang telah kosong. Satu dua pucuk senjata masih tertinggal, tersangkut di dinding.
“Kita akan melihat padepokan yang lain. Padepokan gerombolan Macan Kumbang, yang mempunyai sifat yang sama dengan orang-orang Serigala Putih, tetapi yang sepanjang hidup mereka selalu bersaing dan bermusuhan. Keduanya bersumber pada dasar ilmu yang sama, cara hidup yang sama dan kegemaran yang sama.”
“Apakah mereka juga mengalami keadaan yang sama?”
“Tidak dapat diduga. Semuanya memang mungkin.” Kedua orang itu pun kemudian kembali kepada kawan-kawannya dengan ceritera yang mengecewakan, karena mereka tidak dapat melakukah pekerjaan mereka. Kelima orang itu harus membawa lima orang anak muda dari kedua padepokan itu, sebagai bahan percobaan, apakah kedua padepokan itu masih berguna bagi mereka. Tetapi ternyata bahwa padepokan ternyata telah mengalami perubahan.
Namun demikian orang-orang dari padepokan Empu Baladatu itu masih ingin mencoba untuk melihat padepokan Macan Kumbang. Mungkin orang-orang Macan Kumbang telah memilih jalan lain dari orang-orang padepokan Serigala Putih.
“Marilah, kata akan segera melihat”
“Tetapi kita masih harus tetap berhati-hati. Jika padepokan itu masih ada, kita akan membawa kelima orang anak muda itu dari sana. Dan mungkin Empu Baladatu harus mengambil sikap yang lain dari rencananya semula. Agar semuanya tidak sia-sia.”
Demikianlah kelima orang itu pun segera berpacu menuju kepadepokan Macan Kumbang. Mereka ngin melihat, apakah peristiwa yang terjadi pada padepokan Serigala Putih itu telah terjadi pula pada padepokan Macan Kumbang.
Namun agaknya mereka masih mempunyai harapan. Orang-orang padepokan Macan Kumbang dan orang-orang padepokan Serigala Putih pada dasarnya tidak akan dapat bekerja bersama.
Tetapi kekecewaan telah melonjak di hati orang-orang itu ketika mereka menjumpai kenyataan, bahwa padepokan Macan Kumbang pun telah kosong. Padepokan itu ditinggalkan oleh penghuninya dengan segala macam isi dan perabotnya.
“Gila. Mereka juga telah mengungsi” desis salah seorang dari kelima orang itu.
“Ini tentu usaha prajurit-prajurit Singasari” geram yang lain, “mereka tidak dapat berada di padepokan ini terlalu lama. Tetapi mereka tidak membiarkan bencana menimpa orang-orang dari kedua padepokan ini sehingga mereka pun telah membawa orang-orang dari kedua padepokan itu ke Singasari.”
“Gila” teriak salah seorang dari mereka yang dadanya bagaikan sesak, “jadi perjalanan kami sia-sia?”
“Empu Baladatu tidak akan percaya” yang lain lagi berkata lantang.
“Tetapi apa yang akan kita lakukan kenyataan ini memang demikian? Apakah kita harus mencari mereka dan mengembalikan mereka kepadepokan ini dan padepokan Serigala Putih?”
Sejenak mereka termangu-mangu. Namun kemudian salah seorang yang marah itu berteriak, “Kita bakar padepokan terkutuk ini.”
“Ya, kita bakar sampai menjadi abu” teriak yang lain. Tetapi orang yang tertua di antara mereka berkata “Apakah ada gunanya? Dibakar atau tidak dibakar, kita tidak akan dapat membawa lima orang, anak muda kembali ke padepokan”
“Apakah kita akan mencarinya sepanjang jalan?” Tiba-tiba salah seorang dari mereka berpendapat.
“Kau kira anak-anak muda itu tidak dapat berbicara? Kita dapat mengancamnya agar mereka mengatakan bahwa mereka berasal dari padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang. Tetapi dalam pembicaraan yang perkepanjangan kemudian, Empu Baladatu tentu akan dapat mengambil ‘kesimpulan bahwa mereka bukan anak muda dari kedua padepokan yang telah kosong itu.”
“Jadi? Apakah yang akan kita lakukan?”
“Kembali. Mengatakan apa yang telah kita lihat kepada Empu Baladatu.”
Yang lain termangu-mangu. Kembali kepada Empu Baladatu tentu tidak akan menyenangkannya. Empu Baladatu tentu akan memaki-maki, dan mungkin tidak percaya.
“Jika ia tidak percaya” orang itu melanjutkan, seolah-olah mengerti perasaan kawan-kawannya, “biarlah ia membuktikannya. Kita tidak bersalah, karena yang kita katakan adalah kenyataan ini.”
“Sia-sialah perjalanan kami yang jauh.”
“Tidak sia-sia mutlak. Kita dapat mengetahui bahwa padepokan ini telah kosong.”
“Tetapi tidak sepadan dengan perjalanan kami beberapa hari.”
“Kita tidak dapat menentang kenyataan yang kita hadapi.”
Yang lain tidak dapat membantah lagi. Kenyataan itu memang mereka hadapi. Dan mereka tidak dapat menentang atau ingkar, bahwa kedua padepokan itu memang telah kosong.
Dengan dada yang sesak oleh kegelisahan, kecemasan dan bahkan kebimbangan bahwa Empu Baladatu akan menghukum mereka, maka kelima orang itu pun segera kembali. Perjalanan kembali itu rasa-rasanya berlangsung ber-abad-abad meskipun tidak lebih dari perjalanan mereka ke padepokan-padepokan yang telah kosong. Ketika malam tiba di perjalanan, mereka se-olah-olah tidak ingin bermalam di perjalanan. Itulah sebabnya mereka berjalan terus sampai malam menjadi pekat. Tetapi agaknya kuda mereka pun menjadi lelah dan perlu beristirahat, sehingga mereka terpaksa bermalam di perjalanan.
Dalam pada itu, kedatangan mereka kembali di padepokannya telah menimbulkan ketegangan pula. Mula-mula Empu Baladatu tidak mempercayainya Ia benar-benar memaki-maki dengan wajah yang merah membara.
“Kalian adalah pengecut” teriak Empu Baladatu,”kedua padepokan itu sudah tidak berdaya sama sekali. Jika kalian memasuki padepokan itu atas namaku, mereka semuanya tentu sudah pingsan. Tetapi jika ada prajurit-prajurit Singasari, maka kalian dapat mengambil jalan lain, karena kalian akan dapat memungut anak-anak muda itu di luar pengawasan prajurit-prajurit Singasari itu.”
“Empu” orang tertua dari kelima orang itu mencoba menjelaskan, “kami sudah memasuki kedua padepokan itu. Bahkan kami sudah berniat untuk membakarnya. Tetapi niat itu kami urungkan agar tidak menarik perhatian atau mengundang persoalan sebelum kami melaporkan kepada Empu.”
Empu Baladatu menghentakkan tangannya. Lalu, “Aku akan melihat sendiri. Jika membohongi aku, kalian berlima harus dibunuh. Satu demi satu kalian akan menjadi korban saat purnama naik.”
Kelima orang itu menegang. Rasa-rasanya kulit mereka telah meremang. Tetapi mereka yakin akan kebenaran kata-kata mereka tentang padepokan yang telah menjadi sepi itu. Meskipun Empu Baladatu sendiri akan melihat, ia tentu akan menemukan keadaan yang serupa seperti yang pernah dilihatnya.
Untuk membuktikan kebenaran kata-kata kelima orang yang telah pergi ke kedua padepokan itu. maka Empu Baladatu pun segera mempersiapkan diri. Kecuali kelima orang yang telah menemukan padepokan Serigala Putih dan Padepokan Macan Kumbang itu kosong, maka Empu Baladatu telah membawa lima orang pengawal yang lain sehingga jumlah mereka seluruhnya menjadi sepuluh orang.
“Kita akan membuktikan apakah penglihatan mu itu bukan penglihatan seorang pengecut” berkata Empu Baladatu.
Demikianlah pada saat yang ditetapkan, mereka pun segera berangkat menuju ke padepokan yang telah kosong itu. Untuk tidak menimbulkan perhatian orang lain, maka kesebelas orang itu telah memecah diri menjadi tiga buah kelompok kecil.
Seperti perjalanan sebelumnya maka Empu Baladatu dan para pengawalnya harus bermalam pula di perjalanan, meskipun separuh dari malam itu dipergunakannya untuk berjalan terus.
Di hari berikutnya menjelang senja, mereka telah sampai di padepokan Serigala Putih. Berdasarkan keterangan yang pernah didapat oleh Empu Baladatu dari kelima orang yang pergi mendahului, maka mereka pun langsung menuju ke padepokan yang benar-benar telah menjadi kosong.
“Gila” Empu Baladatu menggeram, “padepokan ini benar-benar telah kosong.”
“Sudah aku katakan Empu.” sahut salah seorang pengawal.
“Aku sudah mendengar” teriak Empu Baladatu yang marah.
Pengawal itu pun segera terdiam.
Diiringi oleh pengawalnya Empu Baladatu memasuki padepokan itu dan menjelajahinya dari ujung sampai keujung. Kesimpulan yang didapatnya adalah, bahwa penghuni padepokan itu tentu sudah mengungsi-
“Prajurit-prajurit Singasari memang gila” teriak Empu Baladatu yang tidak mengira bahwa padepokan itu pada suatu saat akan ditinggalkan oleh penghuninya. Perhitungannya adalah bahwa prajurit-prajurit Singasari itu akan memberikan perlindungan sementara kepada kedua padepokan itu. Mereka akan segera pergi setelah untuk waktu yang lama kedua padepokan itu tidak mengalami gangguan apapun juga.
Tetapi yang dilihatnya sekarang adalah bahwa padepokan itu telah ditinggalkan oleh penghuninya.
Dengan hati yang panas, Empu Baladatu pun segera membawa para pengawalnya untuk pergi ke padepokan Macan Kumbang pula. Namun yang dijumpainya adalah barak-barak yang kosong membeku di keremangan malam.
“Gila. Prajurit-prajurit Singasari telah menjadi gila. Mereka membawa penghuni dua padepokan. Apakah prajurit-prajurit Singasari itu memang telah menyediakan barak-barak pengungsian sehingga mereka dapat menampungnya?” geram Empu Bala datu.
Tetapi Empu Baladatu tidak segera meninggalkan padepokan itu. Dengan nada yang tinggi ia berkata, “Aku akan mencari orang-orang dari kedua padepokan ini sampai aku pasti, dimana mereka tinggal.”
Para pengawalnya mengerutkan keningnya. Mereka men jadi berdebar-debar dan gelisah. Apakah dengan demikan berarti bahwa mereka akan memasuki kota Singasari?
“Malam ini kita tidur di sini” berkata Empu Baladatu kemudian.
Meskipun mereka berada di padepokan, tetapi rasa-rasanya badan mereka justru menjadi gatal-gatal. Padepokan yang sepi iiu telah berubah menjadi sarang segala macam binatang melata dan serangga, sehingga rasa-rasanya tubuh merekapun telah dikerumuni oleh berbagai jenis binatang kecil.
Bahkan beberapa orang yang tidak tahan lagi, telah keluar dan duduk di halaman terbuka, di samping kuda-kuda mereka tertambat. Meskipun di sana-sini rerumputan tumbuh subur, namun mereka menemukan juga tempat yang baik untuk berbaring setelah mereka membersihkannya dengan segenggam ilalang kering.
“Disini agaknya lebih baik” desis salah seorang dari mereka.
“Empu Baladatu pun tentu tidak akan dapat tidur. Ia betah duduk saja semalam suntuk.” Sahut yang lain.
Namun mereka pun terdiam .karena ternyata Empu Baladatu pun pergi juga keluar dan duduk di halaman.
Tetapi malam tidak lagi tersisa terlalu panjang. Sejenak kemudian, maka langit pun menjadi semburat merah oleh cahaya fajar.
“Kalian akan tinggal di padepokan ini sampai senja. Aku ingin menyelidiki kemana kira-kira penghuni padepokan ini pergi. Ingat, tidak seorang pun boleh meninggalkan padepokan ini tanpa ijinku.”
“Empu pergi kemana?” bertanya salah seorang dari mereka.
“Aku akan berusaha melihat-lihat daerah di sekitar tempat ini. Mungkin aku akan sampai didekat pedepokan kakang Sanggadaru. Jika kalian perlu, kalian dapat mencari sejenis binatang di sekitar daerah ini. Tetapi kalian harus segera kembali lagi ke padepokan.”
Anak buah Empu Baladatu itu hanya dapat mengangguk-angguk saja. Mereka pun kemudian melihat Empu Baladatu berkemas. Salah seorang pengawalnya terpercaya telah diajaknya pergi bersamanya.
“Siapa yang meninggalkan padepokan ini. bukan sekedar berburu binatang di sekitar tempat ini, akan mempertanggung jawabkan tindakan itu. Apalagi jika kemudian akan membawa kesulitan bagi kita semuanya.” berkata Empu Baladatu ketika ia meninggalkan padepokan itu.
Karena itu, maka tidak seorang pun diantara mereka yang ditinggalkan itu berniat untuk pergi kemanapun. Mereka hanya berani melangkah keluar padepokan dengan busur dan anak panah. Beberapa puluh langkah mereka mengintai jika ada seekor kijang atau menjangan. lewat di semak-semak yang sudah lama tidak tersentuh kaki, sehingga belukar yang tumbuh di sela-sela padang ilalang, menghubungkan daerah itu dengan hutan perdu dipinggir hutan yang lebat.
Sementara itu Empu Baladatu telah menyelusuri jalan setapak yang telah lama tidak dirambah kaki manusia lagi. Diikutinya jalan yang menuju ke daerah yang terbuka meskipun jaraknya masih panjang sekali.
“Gila” ia bergumam” tidak ada tanda-tanda apapun yang dapat aku ikuti.”
Pengawalnya hanya mengangguk saja.
“Padepokan terdekat dari daerah ini adalah padepokan kakang Sanggadru. Di padepokan itu terdapat beberapa orang prajurit Singasari. Mungkin sekali padepokan itu menjadi daerah penampungan sementara sebelum mereka dibawa ke Kota Raja atau ketempat-tempat lain.” ia berhenti sejenak, lalu, “selain padepokan itu, maka padukuhan-padukuhan kecil di sekitar tempat ini tidak akan dapat menampung orang sejumlah dua padepokan sekaligus.”
Pengawalnya mengerutkan keningnya. Lalu jawabnya, “Mungkin Empu. Tetapi apakah masih ada kepentingan kita untuk melacaknya. Jika mereka sudah berada di tangan prajurit Singasari, maka mereka tidak akan berarti apa-apa lagi bagi kita, Bahkan mereka tentu akan menjadi orang-orang yang berbahaya,
“Mungkin mereka berbahaya bagi kita. Tetapi kita masih akan dapat melihat kemungkinan lain. Jika mereka meninggalkan padepokan itu dengan cara lain, dipaksa misalnya, sehingga mereka akan menjadi tawanan, sedangkan perernpuan dan anak-anak akan menjadi budak-budak yang akan melakukan kerja paksa, maka kita akan melihat suatu kesempatan.”
Pengawalnya mengangguk-angguk pula. Tetapi yang nampak olehnya diwajah Empu Baladatu adalah bayangan kebencian dan dendam, sehingga karena itu, maka menurut dugaan pengwal itu, jika Empu Baladatu menemukan orang-orang Serigala Putih dan Macan Kumbang, maka kemungkinan yang paling besar dalam usaha untuk membinasakan mereka sama sekali.
Dengan hati-hati mereka maju terus. Akhirnya Empu Baladatu memang mengambil arah, menuju kepadepokan Empu Sanggadaru.
Perjalanan menuju kepadepokan itu bukannya perjalanan yang terlalu dekat. Karena itu, maka mereka memerlukan waktu yang cukup lama meskipun kuda mereka berlari cukup cepat, namun tidak dapat berpacu karena jalan yang penuh dengan belukar dan pohon-pohon perdu.
(Ketika mereka mulai mendekati hutan yang menjadi daerah pengaruh Empu Sanggadaru karena menjadi daerah perburuannya, maka Empu Baladatu menjadi semakin berhati-hati.
“Kakang Empu Sanggadaru gemar sekali berburu” berkata Empu Baladatu, “karena itu, kita harus menghindari kemungkinan bertemu dengan kelompok perburuannya”
“Apakah kita akan mengambil jalan lain?”
“Ya. Kita akan melingkari hutan itu. Hutan ini bukannya hutan yang besar. Karena itu, maka Empu Sanggadaru kadang-kadang menjadi jemu dan berburu di hutan yang lebat pepat, meskipun agak jauh. Namun untuk mengisi waktu senggangnya, maka hutan ini merupakan taman yang cukup memberikan ketenangan baginya.”
Pengawalnya mengangguk-angguk.
Namun dalam pada itu, agaknya Empu Sanggadaru tidak mereka jumpai di dalam hutan itu. Dengan sangat hati-hati keduanya mulai mendekati padepokan Empu Sanggadaru.
“Kita akan meninggalkan kuda kita di tempat yang aman meskipun di luar hutan agar tidak diterkam harimau” berkata Empu Baladatu.
“Didekat padepokan?”
“Ya.”
Pengawalnya menjadi ber debar-debar. Tetapi ia tidak menjawab.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar