Selasa, 02 Februari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 31-01

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 31-01*

Karya.    : SH Mintardja

Demikianlah, maka pada saat-saat tertentu para pemimpin prajurit dari ketiga padepokan itu bertemu. Pada waktu pemimpin prajurit yang berada di padepokan Macan Kumbang mengemukakan kesulitan orang-orang Macan Kumbang tentang peralatan, maka Empu Sanggadaru berkata, “Ada seorang pande besi yang cakap di padepokan kami. Dibantu oleh dua orang pembantunya mereka dapat membuat alat-alat yang diperlukan.”

“Jadi untuk membuka hutan itu kita akan mulai dari permulaan sekali,” berkata Mahisa Bungalan, “dari membuat alat-alat untuk membuka hutan itu.”

Pada hari berikutnya, tiga orang pande besi di padepokan Empu Sanggadaru telah sibuk membuat alat-alat untuk membuka hutan. Kapak-kapak yang besar dan kecil. Sebelum pande besi itu menghasilkan, maka orang-orang Macan Kumbang dapat meminjam lebih dahulu apa adanya dari padepokan Empu Sanggadaru.

Demikianlah, ternyata orang-orang dari kedua padepokan. itu bukannya orang-orang yang malas. Bersama para prajurit mereka telah membuka hutan sesuai dengan tempat yang sudah direncanakan. Mereka membuka hutan di tempat yang terpisah, meskipun menurut perhitungan para pemimpin prajurit dan Empu Sanggadaru bahwa perkembangannya kelak keduanya tentu akan berpaut juga. Apalagi apabila ada pihak lain yang bersedia ikut pula membuka hutan dan bergabung dengan orang-orang Serigala Putih dan Macan Kumbang, meskipun kemungkinan itu hanya akan datang dari orang-orang yang berada di padukuhan Empu Sanggadaru.

“Mereka akan mendapatkan kesempatan yang lebih baik,” berkata Empu Sanggadaru, “karena itu aku tidak ber keberatan jika mereka ikut serta membuka hutan itu.”

Beberapa saat kemudian, maka hutan yang semula sepi itu telah menjadi riuh. Pepohonan satu-satu telah roboh, dan tanah pun dijinakkan. Binatang-binatang hutan merasa terdepak masuk ke dalam hutan yang lebih lebat menghindari sentuhan dengan makhluk yang disebut manusia. Makhluk yang bagi mereka sangat berbahaya. Lebih berbahaya dari binatang yang manapun juga.

Sementara itu, maka pande besi di padepokan Empu Sanggadaru pun telah menghasilkan alat-alat yang mencukupi, bukan saja bagi orangr-orang dari padepokan Macan Kumbang, tetapi juga padepokan Serigala Putih dan orang-orang dari padepokan Empu Sanggadaru sendiri, yang angin membuka tanah lebih luas lagi. Persediaan yang paling berharga bagi anak cucu mereka,

Dengan tekun orang-orang dari kedua padepokan yang telah, dengan sadar merubah cara hidupnya, bekerja bagi hari depan mereka dan keturunan mereka. Sepatok demi sepatok mereka menghasilkan tanah baru yang masih harus digarap dengan kerja keras. Tatapi dengan demikian maka mereka telah meletakkan harapan bagi diri mereka sendiri. Mereka tidak lagi bekerja dengan ketegangan hati dan jantung yang berdebaran. Dengan menggarap sawah, maka mereka ,tidak lagi harus mempertaruhkan nyawa.

Prajurit-prajurit Singasari ternyata tidak hanya dapat mengatur dan merencanakan. Mereka pun ikut serta menebang pepohonan, menyingkirkan kayu-kayu yang telah roboh dan menyiapkan tanah garapan, meskipun tidak bagi mereka sendiri.

Namun demikian para prajurit itu tidak lengah. Meskipun kadang-kadang satu dua diantara mereka tidak membawa senjata di lambung, namun mereka yakin bahwa kapak ditangan mereka telah merupakan senjata yang berbahaya bagi lawan, jika setiap saat mereka harus bertempur dengan siapapun. juga.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang masih sangat muda itu seolah-olah mendapat arena baru untuk bermain-main. Jika orang-orang lain sibuk menebang batang-batang kayu besar atau kecil, maka keduanya membawa busur dan anak panah masuk kedalam hutan yang tidak dijamah oleh orang-orang dari kedua padepokan itu.

Tetapi kepergian kedua anak-anak muda itu kadang-kadang menyenangkan juga bagi orang-orang yang sedang sibuk menebang pohon dan menebas perdu, karena kadang-kadang keduanya membawa dua atau tiga ekor rusa yang dapat mereka buru dalam waktu sehari semalam.

Namun sekali-sekali Mahisa Bungalan memperingatkan kedua adiknya yang nakal itu, karena hutan yang lebat mengandung banyak sekali bahaya bagi mereka.

“Yang ada hanyalah binatang-binatang hutan.” jawab Mahisa Pukat ketika kakaknya Mahisa Bungalan mengunjunginya.

“Mungkin seekor binatang buas?”

“Kebetulan sekali. Kami mendapatkan dagingnya sekaligus kulitnya.”

“Tetapi berbahaya sekali bagi kalian berdua”

“Apakah kami berdua harus takut terhadap seekor harimau?”

Mahisa Bungalan menjadi bingung. Tetapi kemudian katanya,” Mungkin bukan sekedar seekor harimau atau sekelompok serigala. Tetapi mungkin kalian akan bertemu dengan Empu Baladatu.”

“He, bukankah itu yang kami harapkan?” bertanya Mahisa Murti.

“Tetapi Empu Baladatu tidak sendiri. Ia datang bersama puluhan orang pengawal. Nah, apakah yang akan kalian lakukan berdua?. Berteriak-teriak? Menangis? Atau bertempur?”

“Bertempur” jawab Mahisa Pukat lantang.

“Nah akan sia-sialah pengorbanan kalian, karena jika kalian kalah, adalah karena kalian mempertahankan sesuatu atau memperjuangkan sebuah cita-cita. Tetapi kalian terperosok kedalam kesulitan karena kalian tidak berhati-hati” Mahisa Bungalan mencoba memberikan nasehat

Kedua adiknya termangu-mangu sejenak. Namun mereka dapat mengerti maksud kakaknya.

“Tetapi apakah itu berarti bahwa kami sama sekali tidak boleh berburu?” bertanya Mahisa Pukat

“Bukan begitu. Kalian mendapat kesempatan untuk berburu. Tetapi berhati-hatilah dan. jangan-terlalu jauh masuk ke dalam hutan yang lebat itu, Apalagi sampai memerlukan waktu sehari semalam. Berburulah untuk semalam saja misalnya Atau kalau di siang hari, sehari, sajalah.”

Kedua adiknya mengangguk-angguk kecil,”Lebih dari itu ada baiknya kau membantu orang-orang padepokan Macan Kumbang, daripada kau seolah-olah tidak mengacuhkannya dan lebih senang bermain-main seperti kanak-kanak”

Kedua adiknya mengangguk. Tetapi kepala mereka semakin menunduk, Agaknya kakaknya benar-benar telah memberikan peringatan, yang cukup keras bagi mereka, sehingga ke duanya tidak berani Lagi untuk membantah.

Tanah yang dibuka itu semakin lama menjadi semakin luas sajalah dengan harapan yang semakin berkembang di setiap hari. Baik bagi orang-orang Macan Kumbang maupun orang-orang dari padepokan Serigala Putih. Dengan membuka hutan itu, maka para prajurit Singasari telah memberikan beberapa petunjuk agar mereka hidup seperti kehidupan sewajarnya. Padepokan Serigala Putih dan padepokan Macan Kumbang yang mempunyai tata kehidupan yang agak asing karena keadaan yang sangat terbatas itu, akan segera berubah. Setiap keluarga akan membangun sebuah rumah meskipun mula-mula sekedar dapat dipergunakan untuk berteduh.

Dengan bekerja keras, maka di tanah yang sudah dibuka itu mulai nampak beberapa buah rumah yang siap. Sedang yang lain masih sibuk dikerjakan bersama-sama, disamping mereka yang masih tetap memperluas tanah, garapan.

Bayangan sebuah padukuhan mulai nampak. Ternyata bagi orang-orang dari kedua padepokan itu, sebuah padukuhan akan memberikan lebih banyak kemungkinan daripada padepokan sempit yang tertutup.

Tetapi karena kebiasaan orang-orang dari padepokan serigala Putih dan Macan Kumbang hidup dalam lingkungan yang dipagari dengan dinding batu maka rasa-rasanya padukuhan yang terbuka sangat mencemaskan hati mereka.

“Buatlah dinding di sekeliling padukuhanmu” berkata pemimpin prajurit Singasari,” padukuhan yang luas akan memberikan udara yang lebih segar. Padepokan adalah sekedar tempat untuk orang yang sangat terbatas jumlahnya, seperti padepokan Empu Sanggadaru. Diluar padepokan itu masih ada beberapa padukuhan yang berada di bawah pengaruhnya. Tidak semua orang berhimpit-himpitan di dalam sebuah padepokan seperti padepokan Serigala Putih dan padepokan Macan Kumbang.”

“Tetapi padukuhan kami yang baru itu akan mudah sekali diserang oleh pihak lain sebelum kami siap melakukan perlawanan.” berkata salah seorang calon penghuni padukuhan baru itu.

“Dinding itu akan dapat sekedar melindungi kalian meskipun bersifat sementara. Banyak batang-batang kayu yang dapat kalian pergunakan, sebelum kalian dapat membangunnya dari batu yang kuat.”

Orang-orang dari kedua padepokan itu pun sependapat. Mereka membagi orang-orangnya untuk melakukan pekerjaan yang berbeda-beda. Dan kini ada satu pekerjaan lagi yang harus mereka lakukan. Memilih dan memotong kayu yang lurus dan cukup panjang untuk ditanam berjajar rapat di sekeliling padukuhan yang sedang mereka siapkan.

Ternyata pagar kayu itu cukup memadai. Balok-balok yang besar dan cukup panjang telah mulai ditanam melingkari padukuhan yang baru tumbuh itu Dibeberapa bagian telah diberi regol-regol berpintu.

“Apakah regol-regol itu perlu diberi berpintu?” Bertanya para prajurit.

“Tanpa pintu maka pagar kayu itu tidak akan banyak gunanya.”

Para prajurit itu tersenyum. Mereka sadar, bahwa orang-orang yang sudah lama tinggal di padepokan tertutup dan khusus seperti padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang, yang seolah-olah menutup diri itu telah terbiasa menutup regol-regol mereka dengan pintu-pintu yang kuat.

Tetapi orang-orang Singasari tidak melarangnya. Kelak jika keadaan berkembang semakin baik. maka pintu-pintu itu tidak akan sempat ditutup lagi.

Ternyata bahwa orang-orang Serigala Putih dan orang-oran Macan Kumbang masih membatasi diri. Mereka masih akan tinggal di dua padukuhan yang terpisah. Masing-masing dengan dinding kayu yang kuat dan regol-regol berpintu.

Namun ternyata bukan hanya orang-orang dari kedua padepokan itu sajalah yang ikut serta membuka hutan itu. Orang-orang dari padukuhan yang berada di bawah pengaruh padepokan Empu Sanggadaru telah ikut pula membuka di bagian terpisah yang tidak begitu jauh. Mereka yang merasa bahwa anak cucunya akan berkembang cepat, telah ikut pula membuka tanah baru bagi hari depan keluarganya

Tetapi mereka harus menyesuaikan diri dengan padukuhan-padukuhan yang lain. Mereka memagari padukuhan mereka dengan kayu-kayu balok dan memberikan regol-regol berpintu untuk sementara.

“Jika keadaan mengijinkan, kami akan membangun dinding batu seperti padukuhan kami yang lama.” berkata salah seorang dari mereka.

Jumlah orang-orang yang ikut serta membuka padepokan itu ternyata banyak juga, meskipun belum sebanyak orang-orang Serigala Putih dan Macan Kumbang. Namun dalam waktu dekat, padukuhan itu akan segera berkembang dengan segala kelengkapannya. Dipadukuhan itu tentu akan segera tumbuh pasar, pande besi. undagi, dan orang-orang yang akan melakukan berbagai macam pekerjaan lain selain bertani.

Ketika padukuhan itu telah siap untuk dihuni, masih nampak pemisahan dari tiga golongan yang akan tinggal di daerah yang baru dibuka itu. Namun dengan demikian akan lahir tiga padukuhan yang pada suatu saat akan dapat menjadi satu daerah bersama-sama dengan padukuhan-padukuhan yang lain didalam lingkungan pengaruh Empu Sanggadaru.

Agaknya para prajurit Singasari yang berada di daerah yang memerlukan perlindungan itu yakin akan hal itu, karena mereka percaya bahwa Empu Sanggadaru termasuk orang yang kuat lahir dan batinnya, sehingga ia akan dapat menerima kepercayaan dari lingkungan di sekitarnya.

Agaknya Empu Sanggadaru pun tidak menolak kepercayaan yang bakal dilimpahkan kepadanya. Tetapi untuk sementara, kehadiran prajurit Singasari masih diperlukan, karena Empu Sanggadaru masih belum dapat menjajagi kebiasaan dan watak orang-orang dari padepokan Serigala Putih dan padepokan Macan Kumbang.

Pada saatnya, maka semuanya telah siap. Padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang tidak akan mereka pergunakan lagì. Mereka akan berpindah ke tempat mereka yang baru dan jaraknya pun tidak terlampau jauh.

Agaknya Empu Sanggadaru dan para prajurit Singasari telah bersepakat untuk mengadakan sekedar upacara peresmian penggunaan padukuhan-padukuhan yang baru itu. Dengan demikian maka mereka akan merasakan suasana kesungguhan, sehingga mereka tidak akan menyia-nyiakan perubahan cara hidup mereka.

Demikianlah maka pada hari yang sudah ditentukan, maka upacara itu pun telah berlangsung. Beberapa orang telah sesorah. Di antaranya adalah Empu Sanggadaru dan Mahisa Bungalan.

Beberapa persoalan telah dikemukakan. Orang-orang dari padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang mendengar masalah-masalah yang sebelumnya belum pernah mereka dengar. Karena itulah maka mereka seakan-akan telah mendapatkan kekuatan baru untuk mulai dengan tata kehidupan yang lain dari tata kehidupan mereka sebelumnya.

Dengan demikian, maka mereka merasa mulai dengan tata kehidupan baru. Mereka merasa telah benar-benar terlepas dari kehidupan yang lama meskipun, bayangan Empu Baladatu masih selalu menghantui mereka.

Namun dalam pada itu, selagi orang-orang dari kedua padepokan itu berkumpul dan mendengarkan beberapa uraian tentang diri mereka di masa mendatang, prajurit Singasari sama sekali tidak menjadi lengah. Sementara beberapa orang perwira berada di antara orang-orang yang akan menghuni padukuhan mereka yang baru bersama Mahisa Bungalan, maka beberapa orang yang lain selalu siap mengawasi keadaan bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Tetapi sementara itu, ternyata tidak ada gangguan apapun juga. Empu Baladatu ternyata tidak datang pada saat itu, sehingga upacara itu dapat berlangsung dengan baik sesuai dengan rencana.

Bahkan, bukan saja sekedar sesorah dan petunjuk-petunjuk sajalah yang mereka dengarkan, tetapi beberapa orang telah meramaikan upacara dengan menyiapkan makan bersama. Mereka telah memotong beberapa ekor lembu dan kambing.

Dengan demikian maka upacara itu pun telah berlangsung dengan meriah. Orang-orang Serigala Putih dan orang-orang Macan Kumbang terlibat dalam satu pertemuan yang akrap justru karena di antara mereka ada pihak lain, yaitu orang-orang dari padukuhan di sekitar padepokan Empu Sanggadaru yang ingin mengembangkan keluarga mereka di daerah yang lebih bebas dan luas.

Sejak saat itu, maka padukuhan yang baru itu telah dihuni, mereka merasa benar-benar berada di dalam dunia yang baru dengan cara hidup yang baru pula. Bahkan seperti yang dianjurkan oleh Empu Sanggadaru, maka mereka mulai mencoba melupakan nama-nama Serigala Putih dan Macan Kumbang Mereka mencoba untuk saling mendekat dan merasa satu nasib meskipun padukuhan mereka masih terpisah. Tetapi di luar padukuhan itu terbentang tanah garapan yang dapat mereka kerjakan bersama.

Beberapa saat kemudian, maka kehidupan di tempat yang baru itu mulai mapan. Tanaman yang mereka tanam di sawah mulai tumbuh, sementara beberapa orang laki-laki bersama para prajurit masih datang ketanah pategalan mereka yang lama untuk memetik sisa hasil yang mereka tinggalkan meskipun tidak begitu banyak, sebagai penyambung hidup mereka, sebelum sawah mereka menghasilkan.

Tetapi sawah yang baru itu memberikan harapan yang jauh lebih baik dari tanah pategalan mereka yang lama, karena sawah mereka yang baru dan luas itu telah dilengkapi dengan parit-parit yang mengalir dari sumber-sumber di daerah hutan yang lebat dan pepat. Beberapa mata air memancar dengan derasnya. Air yang biasanya mengalir tanpa arah dan menyusup di antara timbunan dedaunan kering yang tebal dan menuju kebagian yang rendah, sehingga menjadi arus yang memanjang tanpa disadap gunanya kini telah disalurkan men jadi parit yang panjang membelah tanah persawahan.

Namun, dalam pada itu. Mahisa Bungalan berkata kepada orang-orang yang baru menghuninya, ”Jangan kalian rusakkan padepokan kalian yang lama. Jika padukuhan ini berkembang, maka akan tumbuh padukuhan-padukuhan yang lain yang kita arahkan agar pada suatu saat, akan menjangkau daerah yang kalian tinggalkan, sehingga padepokan itu akan menjadi bagian dari padukuhan yang semakin lama akan menjadi semakin luas. Meskipun daerah yang kalian tidak banyak memberikan harapan, tetapi daerah itu akan selalu mengingatkan kepada kalian, bahwa kalian pernah mengalami hidup yang pahit lahir dan batin. Namun lebih daripada itu, jika daerah itu digarap dalam suasana yang tenang dan tanpa bayangan ketakutan mungkin akan dapat menjadi daerah yang baik pula.”

Karena itulah, ketika mereka meninggalkan padepokan rnereka yang lama, mereka membiarkan padepokan mereka tetap berdiri seperti semula dikelilingi oleh dinding batu yang cukup tinggi. Beberapa barak yang panjang dan kotor, serta kandang, yang sudah rapuh.

Dalam beberapa bulan lagi, padepokan itu akan lenyap dengan Sendirinya” desis salah seorang dari mereka, ”selain dindingnya itulah yang akan tetap berdiri.”

Dalam lingkungan mereka yang baru, meskipun masih harus dibuatkan dinding batu, namun untuk sementara dinding-dinding kayu itu pun sudah memberikan sekedar ketenteraman. Terutama jika mereka mengingat Empu Baladatu.

Tetapi jika mereka menyadari, bahwa pada suatu saat, para prajurit Singasari itu akan meninggalkan padukuhan yang baru itu, maka mereka mulai menjadi cemas, meskipun mereka masih dapat bersandar kepada Empu Sanggadaru,

“Tetapi tanpa prajurit Singasari apakah Empu Sanggadaru akan dapat bertahan jika Empu Baladatu dan Linggapati yang mendendam itu datang lagi dengan segenap kekuatan mereka?” Pertanyaan itu selalu mengganggu orang-orang yang tinggal dipadukuhan baru itu.”

Demikian mendesaknya pertanyaan Itu, sehingga salah seorang dari mereka tidak dapat menahannya lagi, dan menyampaikannya kepada Mahisa Bungalan.

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. namun kemudian iapun bertanya, ”Jika Empu Sanggadaru dan cantriknya yang berada di dalam padepokan dan pengawal-pengawal yang tinggal di padukuhan-padikuhan di luar padepokan tidak dapat bertahan terhadap Empu Baladatu dan Linggapati, apakah kalian cukup mengeluh dan kecemasan? Apakah sepanjang hidup kalian, kalian akan selalu bersandar kepada prajurit Singasari?”

Jawaban yang berupa pertanyaan itu memang terdengar aneh. Namun pertanyaan itupun segera menjalar dari seorang keorang lain.

“Apakah kira semuanya hanya akan tetap bersandar kepada para prajurit Singasari?”

“Lalu apakah yang akan kita lakukan?” Pertanyaan itupun segera menyusul.

Mahisa Bungalan dan para perwira yang mendengar pula gejolak pertanyaan itu di antara orang-orang yang tinggal di padukuhan baru itu sengaja membiarkannya.

“Biarlah mereka mencari jawaban” desis pemimpin prajurit yang ada di padepokan Empu Sanggadaru, yang menjadi pimpinan dari induk pasukan dari ketiga pasukan yang mula-mula dipecah ditiga padepokan, tetapi yang kemudian seakan-akan telah berkumpul pula meskipun setiap saat kelompok-kelompok kecil masih selalu berada di bagian-bagian yang terpisah dari padukuhan baru itu.

Dalam pada itu, orang-orang dipadukuhan baru itu pun seakan-akan mulai mencari jawab atas pertanyaan yang semakin lama semakin keras terdengar di telinga mereka.

Ketika pertanyaan itu seakan-akan telah cukup lama mengganggu perasaan orang-orang yang tinggal di padukuhan yang baru itu, maka mulailah Mahisa Bungalan dan pemimpin prajurit Singasari itu membisikkan jawabnya di luar sadar, seakan-akan mereka telah menemukan jawab dari dalam hati mereka sendiri.

“Kenapa kita sendiri tidak mencoba untuk melindungi diri sendiri? Bukankah Kita juga orang-orang yang pernah memiliki kemampuan untuk mempergunakan senjata?”

Jawaban itu semakin lama menjadi semakin tersebar di antara mereka. Orang-orang yang semula berasal dari padepokan serigala Putih dan orang-orang yang berasal dan padepokan Macan Kumbang.

Baru beberapa saat kemudian. Mahisa Bungalan dan para pemimpin prajurit Singasari dengan hati-hati mulai menumbuhkan di hati mereka kepercaayaan kepada diri sendiri, setelah para prajurit itu yakin, bahwa orang-orang itu agaknya telah menyukai dengan cara hidup mereka yang baru. Apalagi setelah tanaman mereka mulai nampak akan menghasilkan. Padi yang mulai berbuah di tanah persawahan, dan tanaman-tanaman lain yang hijau subur di tanah pategalan.

“Ki Sanak” berkata prajurit yang berada di padepokan Empu Sanggadaru, ”kalian telah memiliki tanah yang banyak memberikan harapan. Karena itu, selanjutnya tergantung kepada kalian untuk memeliharanya dan mempertahankannya. Tanah itu adalah hak kalian, sehingga orang lain tidak akan kalian biarkan mengganggunya. Meskipun orang lain itu bernama Empu Baladatu.”

Orang-orang di padukuhan itu mengangguk-angguk Tetapi salah seorang dari mereka bertanya ”Yang dibutuhkan oleh Empu Baladatu bukannya sawah dan ladang kami, tetapi bagaimanakah sikap kami jika yang dibutuhkannya adalah tenaga kami?”

“Sebenarnya jawabnya sama saja. Untuk menentukan sikap kalian terhadap diri kalian adalah hak kalian pula. Apakah kalian akan bersedia meninggalkah padi yang sedang bunting, hijaunya daun kacang rambat dan pohon buah-buahan yang sedang mulai rimbun. Kemudian pergi untuk waktu yang tidak terbatas bersama Empu Baladatu, mengembara meninggalkan keluarga yang mulai kalian hargai sebagai imbangan hidup, bukan sebagai budak yang tidak bermartabat?”

Orang-orang itu mulai berpikir. Dan pemimpin prajurit itu meneruskan, “Kalian dapat menolak, meskipun akibatnya mungkin benturan kekerasan. Tetapi apakah kalian juga menyadari, bahwa jika kalian tidak berani menolak dan tidak berani menentukan sikap, itupun juga berarti kalian akan diumpankan pada ujung tombak prajurit Singasari? Aku yakin bahwa tujuan paling akhir dari Empu Baladatu adalah sesuatu perlawanan terhadap Singasari bersama orang-orang Mahibit yahg dipimpin oleh Linggapati,”

Orang-orang padukuhan baru itu semakin dalam berpikir, Ia melihat kebenaran kata-kata pemimpin prajurit Singasari Itu. Juga keterangan para pemimpin yang lain dan Mahisa Bungalan

“Pikirkan” berkata Mahisa Bungalan kemudian, “kalian adalah orang-orang bebas yang dapat menentukan diri sendiri”

Orang-orang yang tinggal di padukuhan baru itu mulai berpikir. Para prajurit Singasari dan Mahisa Bungalan tidak minta mereka menjawab. Tetapi membiarkan mereka membicarakan dengan kawan-kawannya.

Tetapi karena dalam pergaulan sehari-hari, mereka juga saling berhubungan dengan orang-orang dari padukuhan yang lain, yang dihuni oleh orang-orang yang semula berasal dari padukuhan yang berada di bawah pengaruh Empu Sanggadaru, maka merekapun saling membicarakannya.

Orang-orang yang semula berasal dari padepokan yang berada di bawah pengaruh Empu Sanggadaru. yang tidak didera oleh peristiwa pahit yang hampir melumpuhkan keluarga besar mereka, tidak kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri, sehingga mereka merasa wajib untuk mempertahankan kebebasannya.

“Kita harus tetap berdiri di atas pendirian kita sendiri” berkata salah seorang dari mereka.

Orang-orang yang berasal dari padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang dengan ragu-ragu mencoba bertanya kepada diri sendiri, “Apakah aku juga dapat bersikap seperti itu.?”

Orang-orang yang berada di padukuhan baru itu mulai disentuh oleh gejolak di dalam diri mereka masing-masing. Sentuhan di antara mereka dalam pergaulan sehari-hari telah saling mempengaruhi bukan saja hubungan lahiriah tetapi juga perasaan dan nalar.

“Katakan, berapakah jumlah orang-orang Empu Sanggadaru? Seratus? Duaratus?” Bertanya seorang perwira prajurit Singasari kepada beberapa orang laki-laki yang sedang berkumpul dimuka regol padukuhannya yang baru ketika kerja mereka sudah selesai.

Laki-laki itu termangu-mangu dan saling berpandangan sejenak. Namun tidak ada diantara mereka yang menjawab.

“Seandainya jumlah mereka sekitar duaratus. maka jumlah kalian tentu berlipat.” perwira itu melanjutkan

“Tentu tidak” jawab salah seorang laki-laki itu, “jumlah kami sekarang, laki-laki yang dewasa, tidak ada seratus”

“He?” prajurit itu terkejut, “bagaimana kau menghitung jumlah di antara kalian? Berapa orang yang sekarang berkumpul disini Sepuluh orang lebih. Dan berapa yang duduk-duduk di regol sebelah? Katakan sepuluh orang. Yang berada di ujung lorong yang biasa juga untuk berkumpul di sore hari seperti tempat ini jika kerja sudah selesai berkumpul sepuluh orang? Sebut berapa? Yang ada dirumah masing-masing.”

“Nah, apakah jumlahnya sampai seratus? Jika dihitung dengan anak-anak remaja memang jumlah itu dapat dicapai.”

“Nah. dengan anak-anak remaja dan lebih banyak lagi degan mereka yang sudah melampaui pertengahan umurnya, tetapi masih cukup kuat untuk ikut menentukan ketenteraman padukuhan ini.

“Sebutlah, kami berjumlah seratus. Bukankah masih belum mencapai jumlah dua ratus atau duaratus lima puluh?” desis seorang yang ke-kurus-kurusan.

“Kalian berjumlah seratus orang. Padukuhan yang lain seratus orang, dan padukuhan yang lebih kecil, yang dihuni oleh orang-orang Empu Sanggadaru itu lima puluh orang. Nah, kalian sudah berjumlah seratus ditambah seratus limapuluh. Dalam keadaan yang gawat, maka cantrik di padepokan Empu Sanggadaru yang terlatih sebaik prajurit ada duapuluh lima orang, dan tersebar di beberapa padukuhan dan pategalan. Selain itu padukuhan-padukuhan yang tersebar akan dapat mengumpulkan orang dalam jumlah yang lebih besar. Dalam pada itu, aku sama sekali tidak menghitung prajurit Singasari, karena pada suatu saat mereka akan meninggalkan padukuhan ini.”

Laki-laki yang mendengar keterangan perwira itu mengerutkan keningnya. Salah seorang dari mereka bergumam, “Jumlah itu bukan jumlah yang nyata. Yang dapat kita hitung tentu hanya yang berada dipadukuhan Ini. Didalam lingkungan dinding kayu yang kami buat ini.”

“Itu adalah pikiran yang picik. Kalian sudah tinggal dalam satu lingkungan. Maka pahit getirnya akan kalian tanggungkan bersama. Tetapi jika ada manisnya, kalian bersama juga yang akan mengecapnya. Bukan orang lain. Selama kalian masih berpikir dalam batasan sempit, dinding kayu yang melingkari padukuhan ini, maka kalian merupakan sasaran yang paling lunak untuk dihancurkan dan kemudian jika ada di antara kalian yang hidup, maka kalian adalah budak yang puling hina. Kalian akan benar-benar menjadi umpan dan barang kali jika perlu, setiap bulan terang, kalian harus menyerahkan salah seorang dari antara kalian untuk korban darah bagi murid-murid Empu Baladatu.”

Orang-orang itu merasa ngeri mendengar kata-kata perwira itu. Tetapi perlahan-lahan hati mereka mulai terbuka.

Sementara itu Mahisa Bungalan yang duduk di antara beberapa orang laki-laki yang sedang mengerumuni seekor lembu yang haru lahir mulai membisikkan kepercayaan kepada diri sendiri serupa itu pula, “Anak lembu itu lahir. Tetapi induknya tidak dapat menentukan nasib anaknya, karena lembu tidak mempunyai akal dan nalar. Juga tidak mempunyai rasa tangung jawab akan kelahiran itu. selain dengan nalurinya ia akan menyusui dan mengajari anaknya secara naluri pula” Ia berhenti sejenak, lalu, “tetapi agak berbeda dengan kita manusia. Setiap kelahiran adalah tanggung jawab. Dan kita harus mempertanggung jawabkan anak-anak kita bukan saja pada saat lahir, tetapi bagi masa depannya. Nah, apakah kita mempunyai keberanian untuk melakukannya.”

Demikianlah. perlahan-perlahan orang-orang yang tinggal dipadukuhan itu dan yang berasal dari padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang, mulai menilai diri mereka sendiri. Mereka seakan-akan mulai melihat masa lampau yang bagi mereka merupakan jaman yang gelap terselubung oleh ilmu hitam. Sehingga dengan demikian, maka mereka sama sekali tidak ingin untuk kembali kejaman itu.

Tetapi mereka pun mulai menyadari, bahwa pada masa lampau mereka bukannya orang-orang yang selalu diburu oleh ketakutan. karena justru mereka adalah pemburu-pemburu manusia dan hak miliknya. Mereka tidak pernah mengenal takut dan cemas seperti yang mereka alami.

Dua ciri jaman mereka pada masa yang silam itu merupa kan kenangan yang bertentangan, Di satu pihak mereka sama sekali tidak ingin lagi tenggelam dalam tata cara hidup itu, namun di lain pihak mereka didesak oleh keharusan untuk mengenang kembali tata cara bermain pedang.

“Tetapi untuk mempertahankan diri” berkata Mahisa Bungalan ketika salah seorang dari mereka mengeluh kepadanya tentang kenangan mereka pada masa lampaunya, “kalian bukan lagi pemburu-pemburu manusia. Tetapi kalian sekarang justru diburu oleh Empu Baladatu. Mungkin Empu Baladatu tidak menginginkan harta benda, karena kalian memang tidak mempunyainya cukup banyak. Tetapi Empu Baladatu telah memburu kalian seperti memburu lembu-lembu liar yang akan dapat dipergunakan tenaganya.”

Orang-orang itu mengangguk-angguk.

“Nah, kenapa kalian tidak mempertahankan diri. Kalian dapat bergabung dengan orang-orang dari padukuhan lain dalam lingkungan ini. Bukan saja pedukuhan-pedukuhan yang baru saja tumbuh ini, tetapi juga dengan tetangga-tetangga padukuhan yang sudah lama ada ditempatnya. Dan bahkan dengan para cantrik di padepokan Empu Sanggadaru.”

Orang-orang dari padukuhan baru itu mengangguk-angguk. Perlahan-lahan mereka mulai menyadari bahwa mereka tidak dapat untuk selamanya menggantungkan nasib mereka kepada para prajurit Singasari, sementara merekapun menyadari, bahwa pada masa lampau mereka bukannya pengecut yang merengek-rengek minta perlindungan kepada orang lain.

Kesadaran yang saling bertentangan itu memang membuat mereka kebingungan. Tetapi dengan tuntunan dan pengarahan dari para prajurit dan Mahisa Bungalan, maka mereka pun mulai bangkit dan meelihat jalan lurus yang dapat mereka tempuh.

“Mulailah” berkata Mahisa Bungalan, “mumpung kami masih mempunyai waktu disini. Selama ini mungkin kami akan dapat saling memanfaatkan. Mungkin kalian memerlukan tuntunan yang lain dalam olah kanuragan dari pada tuntunan hitam yang pernah kalian terima dari Empu Baladatu itu. Orang-orang dari padukuhan itupun kemudian seakan-akan mulai bangun kembali saat fajar menyingsing di hari yang baru.

“Marilah” berkata para perwira, “mulailah mengingat cara-cara memegang, pedang. Tetapi jangan mengingat cara-cara bagaimana kalian pernah menumbuhkan ketakutan. Apalagi setelah kalian sendiri mengalami ketakutan itu.

Demikianlah, maka orang-orang dari kedua padukuhan itupun mulai meraba hulu senjata lagi. Tetapi dalam keadaan dan landasan yang berbeda. Karena itulah, maka mereka seakan-akan telah melupakan, tata gerak dan sikap mempermainkan senjata-senjata itu.

Adalah kewajiban para perwira dari Singasari untuk membangkitkan lagi kemampuan orang-orang padukuhan baru itu untuk menguasai olah kanuragan. Namun adalah menjadi kewajiban mereka pula untuk membersihkan orang-orang dari padukuhan itu dari sisa-sisa ilmu hitam yang mengerikan itu.

“Kalian tidak usah bersandar pada korban pihak lain” berkata salah seorang perwira, “korban darah sama sekali tidak berarti dalam peningkatan ilmu kalian secara langsung, Teapi karena korban itu telah mencengkam hati, maka kalian akan benar-benar tenggelam dalam latihan yang bersunguh-sungguh seakan-akan kalian sudah dibius oleh kengerian korban itu. “Perwira itu berhenti sejenak, lalu, “Sebenarnyalah dalam latihan yang demikian kesadaran diri kalian telah sebagian dihisap oleh kengerian itu. Sekarang, berlatih dengan sadar. Bahkan, sadar sepenuhnya bahwa yang kalian kehendaki adalah peningkatan ilmu. Kesungguhan yang demikian nilainya tidak akan kalah dengan kengerian korban darah dimalam purnama itu. Sedangkan nilai yang akan kalian capai tentulah nilai yang lebih tinggi. Karena kalian tidak mengorbankan peradaban dan nilai kemanusiaan.”

Orang-orang dikedua padukuhan itu mengangguk-angguk. Mereka mencoba untuk mengerti dan melaksanakan pesan para perwira itu. Dengan tekun merekapun kemudian berlatih dalam kelompok-kelompok kecil yang dipimpin oleh seorang perwira di setiap kelompok termasuk Mahisa Bungalan.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang meskipun memiliki ilmu yang cukup, namun mereka masih belum masak untuk melimpahkan kemampuan mereka kepada orang lain, sehingga keduanya hampir tidak mempunyai kewajiban tertentu selain ikut berjaga-jaga dan di saat-saat lain pergi berburu di dalam hutan.

Meskipun demikian, kehadiran kedua anak muda itu memang dapat memberikan kesegaran, terutama bagi para remaja dikedua padukuhan itu.

“Ajaklah” berkata Mahisa Bungalan, “jika mereka mulai dengan suatu keinginan memperdalam ilmunya. Maka para prajurit akan menuntun mereka. Anak-anak yang masih sangat muda akan merupakan bibit yang bersih bagi masa depan, karena mereka belum dikotori oleh masa lampau yang gelap dan hitam.”

Pesan kakaknya itu ternyata memberikan kesenangan tersendiri kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dengan sungguh-sungguh ia mengajak anak-anak yang masih seumur mereka atau lebih muda sedikit untuk bermain-main. Kadang-kadang keduanya menunjukkan kemampuan mereka dalam latihan yang seolah-olah bersungguh-sungguh. Keduanya telah tangkas mempermainkan senjata.

Bukan saja dalam latihan tetapi dalam pertempuran yang sebenarnya.

“Menarik sekali” berkata anak-anak remaja itu, “apakah aku boleh ikut?”

Pertanyaan itulah yang mereka harapkan. Dengan senang hati ia menjawab, “Tentu boleh, Siapa mau ikut?”

Ternyata anak-anak ingin memperoleh sekedar ilmu bagi keselamatan diri.

“Jika kalian bersungguh-sungguh, maka aku akan mengatakannya kepada kakang Mahisa Bungalan.” berkata Mahisa Murti

“Kami bersungguh-sungguh” jawab anak-anak itu hampir serentak.

Ketika Mahisa Bungalan mendengar keinginan itu, maka timbullah harapannya. Bahwa padukuhan itu pada suatu saat, tidak akan lagi menggantungkan dirinya kepada perlindungan siapapun. Apalagi jika mereka sudah merasa satu.

Mahisa Bungalan sendirilah yang kemudian menangani anak-anak remaja di padukuhan-padukuhan itu. Bahkan juga di padukuhan yang semula berada didalam lingkungan padukuhan yang memang sudah berkiblat kepada padepukan Empu Sanggadaru.

Keinginan anak-anak itu telah menarik pehatian Empu Sanggadaru pula. Karena itu, sesuai dengan kebiasaannya, maka iapun tidak berkeberatan untuk memberikan latihan kepada siapapun juga, termasuk anak-anak itu. Tetapi ia tidak dapat melakukan untuk jumlah yang terlalu banyak. Karena itu maka ia pun telah memilih tigapuluh orang anak-anak remaja yang harus datang bergiliran ke padepokannya pada waktu yang terbagi masing-masing dalam kelompok yang berjumlah sepuluh orang.

Berbeda dengan Empu Sanggadaru, maka MahisaBungalan telah mengambil jalan lain. Dikumpulkannya anak-anak remaja itu ditempat yang luas. Maka mereka mulai menirukan tata gerak yang paling sederhana. Berulang-ulang setiap hari. Bahkan Mahisa Bungalan menganjurkan mereka melakukannya pagi dan sore.

Setiap tiga hari sekali. Mahisa Bungalan menambah tata gerak yang baru dalam beberapa jenis unsur, Dan tata gerak yang baru itupun harus dihafal pula.

“Mereka tidak akan mengenal apa yang mereka lakukan” desis Mahisa Pukat pada suatu hari, ”mereka hanya menirukan dan menghafalkan. Mereka melakukan tata gerak itu berurutan dengan cepat dan benar. Tetapi apakah pada suatu saat jika mereka berhadapan dengan lawannya, tata gerak itu pula yang akan dipertunjukkan, sementara itu lawannya akan mengambil sudut kelemahannya.”

“Aku mengambil cara yang lain dari cara yang pernah kau tempuh saat kau mempelajari ilmu kanuragan.” jawab Mahisa Bungalan, “di sini aku menghadapi banyak orang. Dari tiga padepokan ini, selain yang mengikuti latihan-latihan dipadepokan Empu Sanggadaru. Tigapuluh orang terpilih, aku hanya membagi mereka menjadi enam kelompok. Setiap kelompok hanya sempat berlatih setiap tiga hari sekali, satu kali pagi dan satu kali sore, sedangkan dikesempatan lain mereka harus melakukan sendiri tanpa aku. Karena itu, aku memper gunakan cara yang paling mudah dan aman Jika aku sudah mulai dengan tata gerak dan penggunaannya, maka di setiap kesempatan mereka akan berlatih tanpa pengawasan, sehingga akan mudah timbul pertengkaran di antara mereka.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya mengangguk-angguk saja. Sementara Mahisa Bungalan meneruskan, “Karena itu, dalam setiap kesempatan aku bukan saja memberikan latihan olah kanuragan, tetapi juga pesan-pesan dan tuntunan kejiwaan. Pada saatnya mereka akan dapat megendap dan mempergunakan pengetahuannya untuk hal-hal yang baik. Meskipun mereka berlatih tanpa aku dan pengawasan oleh siapa pun juga, mereka tidak akan mudah salah paham dan bertengkar di antara mereka.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih mengangguk-angguk. Anak-anak memang sulit bagi kakaknya untuk langsung menuntun anak-anak remaja itu langsung memasuki tata gerak yang sebenarnya dalam pertempuran.

Dengan demikian maka Mahisa Bungalan di setiap hari, pagi dan sore. tentu berada di sebuah lapangan bersama anak-anak muda dalam kelompok yang sudah terbagi. Mahisa Bungalan sengaja mengisi setiap kelompok dari anak-anak muda ketiga padukuhan itu, agar di antara mereka segera terjalin hubungan yang lebih baik, Jauh lebih baik orang-orang tua mereka.

Namun dalam pada itu, Mahisa Bungalan termasuk orang yang keras dan rnemegang teguh peraturan. Ia tidak mau melihat seseorang yang datang terlambat. Jika ada di antara anak-anak muda itu yang memasuki barisannya setelah Mahisa Bungalan mulai, maka anak itu tentu akan mendapat hukuman. Sementara mereka yang tidak datang, akan diketahui pula oleh Mahisa Bungalan. Di kesempatan lain anak itupun akan mendapat hukumannya pula.

Dengan demikian, maka anak-anak remaja yang mengikuti latihan itu menjadi sangat patuh. Tetapi Mahisa Bungalan tidak membuat mereka menjadi takut dan tidak berani menyatakan pendapatnya dan mengajukan pertanyaan kepadanya.

Demikianlah latihan-latihan semacam itu berlangsung beberapa lama sementara, para perwira telah melakukannya pula. dalam kelompok-kelompok orang-orang tua dan anak-anak muda yang sudah meningkat dewasa.

“Pada suatu saat, akupun akan membagi mereka dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil” berkata Mahisa Bungalan, “maka akan datang giliranmu untuk ikut mengawasi mereka.”

Dengan demikian maka padukuhan-padukuhan baru itupun nampak menjadi hidup. Setiap saat nampak kesibukan dari penghuni-penghuninya. Mereka sibuk dengan sawah mereka. Dan mereka pun sibuk dengan latihan-latihan kanuragan, agar mereka tidak menjadi sasaran ketamakan orang lain.

Dengan membagi waktu dan tenaga, di bawah asuhan para prajurit dan Mahisa Bungalan. maka semuanya dapat berjalan lancar. Latihan-latihan dapat berlangsung seperti yang diharapkan, sementara pekerjaan mereka di sawah sama sekali tidak terganggu.

Bahkan di sela-sela waktu yang sibuk itu, masih terdapat kesempatan satu dua orang untuk mempelajari pekerjaan-pekerjaan yang lain kecuali bercocok tanam. Mereka mulai mempelajari pekerjaan-pekerjaan yang semula hanya mereka lakukan karena terpaksa. Namun dengan tuntunan orang-orang dari padepokan Empu Sanggadaru dan para prajurit, maka pekerjaan-pekerjaan yang mula-mula hanya dikenalnya itu, dapat mereka pelajari semakin mendalam.

Tiga orang telah tenggelam dalam kesibukan memperdalam pengetahuannya tentang pande besi. Yang lain dalam keahlian yang lain pula, sehingga pekerjaan kayu, besi dan tenun bukan pekerjaan yang asing lagi bagi mereka. Bahkan perempuan-perempuan dipadukuhan itupun mulai melakukan beberapa macam pekerjaan tidak terlampau berat. Mereka menjadi semakin banyak mengetahui tentang tenun yang lebih baik dan halus dari yang mereka lakukan sebelumnya.

Beberapa orang laki-laki seolah-olah menjadi semakin tergesa-gesa untuk mendalami ilmu kanuragan. Apalagi jika mulai terbayang kehadiran Empu Baladatu. Setiap kejap mata rasa-rasanya sayang dilalui tanpa melakukan sesuatu.

Karena pada dasarnya orang-orang dipadukuhan itu sudah memiliki bekal meskipun dalam jalur ilmu hitam, maka usaha mereka untuk memiliki sekedar ilmu yang akan dapat melindungi diri sendiri, berjalan agak lancar dan cepat. Dalam waktu yang dekat, rasa-rasanya mereka telah mulai mengenal kemampuan diri sendiri meskipun dalam ujud yang agak lain dan dalam jalur yang berbeda. Mereka tidak lagi membasahi senjata mereka dengan darah di setiap purnama. Bahkan jika mereka teringat akan masa lalu, terasa bulu tengkuk mereka meremang.

Itulah sebabnya, mereka tidak lagi mau menyentuh senjata-senjata mereka yang lama. Ketika mereka telah dapat membuat yang baru, maka yang lama itupun telah disingkirkannya. ditanam dalam-dalam di tengah-tengah hutan seakan-akan mereka telah menguburkan masa lampau mereka di tempat yang tidak akan mereka jamah lagi.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...