BAB LVI
SEKALIPUN masih muda, Andrea Cavalcanti seorang yang cerdas dan panjang akalnya. Ketika bahaya pertama sudah mulai tercium di rumah Danglars, dia sudah bergeser setepak demi setapak mendekati pintu, berjalan cepat
melalui dua buah ruangan lain dan akhirnya menghilang dari rumah itu.
Salah satu ruangan yang dia lalui adalah
ruangan tempat memajangkan pakaian calon pengantin perempuan lengkap dengan segala perhiasannya.
Sambil lewat Andrea tidak lupa mengambil perhiasan-perhiasan yang paling berharga.
Dengan mengantongi itu perasaannya terasa lebih tenang ketika dia melompati jendela dan
menyelinap agar tidak ketahuan oleh para penjaga.
Sekali dia berada di luar, ia berlari tanpa berhenti, tanpa mengetahui ke mana tujuannya. Yang mendorongnya hanyalah keinginan untuk segera berada di tempat yang sejauh mungkin dari rumah Danglars.
Dia berhenti kehabisan napas di ujung jalan Lafayette. Jalanan sangat sepi. Tak lama
kemudian dia melihat sebuah kereta mendekat Dihentikannya kereta itu dan bertanya kepada saisnya,
"Apakah kudamu masih kuat?"
"Masih," jawab kusir.
"Dia belum bekerja sama sekali hari ini. Saya baru menarik empat orang saja dalam jarak dekat sehingga penghasilan masih belum cukup untuk setoran kepada pemilik."
"Mau kau menerima dua puluh frank?"
“Mau sekali. Apa yang harus saya lakukan?"
"Aku ingin mengejar kawan yang berjanji akan berburu bersama besok pagi. Sebenarnya dia harus menungguku di sini dengan kereta kabrioletnya sampai jam setengah delapan.
Sekarang telah tengah malam, jadi mungkin sekali karena jemu menunggu dia sudah berangkat lebih dahulu.
Mau kau mencoba mengejarnya?"
"Tak ada yang lebih saya sukai, Tuan."
Andrea naik dan kereta segera berjalan dengan kecepatan tinggi. Mereka tentu saja tak akan pernah berhasil mengejar kawan yang diciptakan Andrea itu, namun demikian sewaktu-waktu Andrea menyuruh sais berhenti menanyakan kepada orang lewat kalau-kalau mereka ada melihat sebuah kereta hijau ditarik dengan kuda abu-abu.
Hampir setiap yang ditanya menjawab bahwa mereka baru saja melihat sebuah kereta hijau lewat, sebab hampir sembilan puluh persen dari kereta jenis kabriolet memang berwarna hijau.
"Cepat! Cepat!" kata Andrea.
"Sudah hampir tersusul!"
Dan kuda malang itu makin diperas tenaganya sampai mereka meninggalkan Paris masuk ke kota Louvres.
"Rupanya kita tidak akan berhasil, dan kalau diteruskan kudamu bisa mati kepayahan," kata Andrea.
"Lebih baik aku berhenti saja di sini Ini uangmu. Aku akan menginap di hotel du Cheval Rouge dan meneruskan besok pagi saja. Selamat malam."
Setelah menyerahkan uang, Andrea turun.
Kereta kembali ke arah Paris dan Andrea berpura-pura seperti menuju ke hotel. Setelah agak lama berdiri di muka gerbangnya dan melihat kereta sudah hilang dari pandangannya, dia segera berjalan lagi cepat-cepat. Kemudian dia berhenti, bukan karena letih, tetapi karena hendak berpikir merancang suaru rencana.
Turut dengan kereta pos, tidak mungkin, karena akan diminta paspor. Juga tidak mungkin untuk tinggal dekat-dekat di sekitar Paris karena daerah itu merupakan daerah yang paling ketat dijaga di seluruh Perancis.
Dia duduk di pinggir jalan memutar otaknya.
Sepuluh menit kemudian dia sudah dapat membuat keputusan.
Andrea merapikan dan membersihkan jas yang sempat dia gaet dari ruang tunggu rumah Danglars dan mengancing-kannya sampai menutupi seluruh pakaian malamnya.
Lalu berjalan lagi sampai tiba di Chapelle-en-
Serval, sebuah penginapan kecil. Diketuknya pintu. Pemilik penginapan keluar membuka pintu.
"Saya terlempar dari kuda dalam perjalanan dari Montrefontaine ke Senlis," katanya.
"Saya harus kembali ke Compiegne malam ini juga supaya keluarga saya tidak khawatir.
Apakah Tuan mempunyai kuda untuk disewa?"
Pemilik penginapan itu memanggil tukang istalnya dan memerintahkan mempelanai seekor kuda. Setelah itu dia membangunkan anaknya yang masih berumur tujuh tahun
dan menyuruhnya mengendarai kuda lain berjalan di belakang Andrea untuk menerima kembali kuda yang disewa.
Andrea memberi pemilik penginapan itu dua puluh frank.
Ketika mengeluarkan uang, sebuah kartu nama terjatuh, kartu nama seorang kawan barunya di Paris. Setelah Andrea berangkat lagi, pemilik penginapan itu memungutnya dan percayalah dia bahwa penyewa kudanya bernama de Mau leon, bertempat tinggal di Rue-dw’kz Saint-Dominique No. 25.
Jam empat pagi Andrea sampai di Compiegnes. Kuda diserahkannya kembali kepada anak pemilik hotel. Setelah itu dia mengetuk pintu penginapan de la Cloche.
Sebelum melanjutkan perjalannya dia bermaksud makan dahulu dan beristirahat.
Seorang pelayan menemuinya.
"Saya datang dari Saint-Jean-au-Bois," kata Andrea.
"Saya bermaksud menumpang kereta pos yang lewat tengah malam tetapi saya tersasar berputar-putar di hutan. Saya minta satu kamar dan ayam goreng dan sebotol anggur."
Ayam gorengnya sedap, anggurnya sudah tua, api di tungku terang dan menghangatkan. Andrea sendiri merasa heran dapat makan dengan lahap seakan-akan tidak menghadapi
persoalan gawat. Selesai makan dia pergi tidur dan segera pula pulas, seperti layaknya pada anak-anak muda sekalipun hatinya lagi risau.
Tetapi, memang Andrea tidak mempunyai alasan untuk risau karena dia telah mempunyai
rencana yang matang.
Dia akan bangun pagi, membayar sewa hotel dan lain-lainnya, kemudian akan pergi ke hutan dan bermaksud membayar tidur di rumah petani dengan mengaku dirinya sebagai pelukis. Selanjutnya akan menyamar sebagai tukang kayu dan berjalan dari hutan ke hutan sampai mencapai perbatasan yang terdekat.
Berjalan di malam hari dan tidur di siang hari dan memasuki desa sekali-sekali saja pada
waktu perlu membeli makanan. Setelah melintasi perbatasan ia akan menjual permatanya yang diperkirakan akan menghasilkan dua puluh ribu frank, cukup untuk membawanya ke suatu tempat yang aman.
Selebihnya ia mengandalkan kepada keinginan Danglars untuk menutup-nutupi peristiwa yang memalukan keluarganya itu. Inilah sebabnya dia dapat tidur dengan nyenyak, di samping
karena keletihannya. Untuk menjaga jangan sampai kesiangan sengaja dia membiarkan tirai jendela terbuka.
Sedang untuk menjaga segala kemungkinan dia memalang pintu kamarnya dan meletakkan sebilah pisau tajam yang tak pernah ditinggalkannya di atas meja di sebelah tempat
tidur. Sekira jam tujuh pagi dia terbangunkan oleh cahaya matahari yang jatuh pada mukanya.
Segera ia sadar bahwa ia tidur terlalu lama. Ia meloncat dan berlari ke jendela. Seorang tentara sedang berjalan-jalan di pekarangan hotel, yang lain berdiri menjaga di bawah tangga, dan yang ketiga duduk di atas kudanya sambil memegang sebuah senapan kuno menjaga pintu keluar, satu-satunya pintu keluar
pekarangan hotel.
"Mereka mencariku," pikir Andrea. Rasa takutnya bangkit.
Jendela kamarnya menghadap ke pekarangan.
"Mati aku!" pikirnya lagi.
Memang bagi orang yang berada dalam keadaan seperti Andrea, tertangkap berarti hukuman mati. Untuk sejenak dia memegang kepala dengan kedua belah tangannya, dan
dalam keadaan yang sejenak itu dia hampir gila karena takut.
Tiba-tiba sebuah harapan muncul kembali di benaknya. Secercah senyum tersungging di bibirnya. Pandangannya berputar ke sekeliling kamar. Barang-barang yang dicarinya lengkap tersedia di atas sebuah meja tulis. Pena, dawat dan beberapa lembar kertas. Dengan menahan tangannya untuk tidak gemetar dia menulis:
Saya tidak mempunyai uang untuk membayar sewa kamar, tetapi saya bukan orang yang curang. Saya tinggalkan peniti dasi Ini sebagai jaminan. Harganya paling sedikit sepuluh kali hutang saya. Maafkan saya berangkat pagi-pagi sekali tanpa pamit karena saya merasa malu.
Dia melepaskan peniti itu dan meletakkannya di atas surat. Setelah itu dia membuka pintu dan membiarkannya terbuka sedikit. Kemudian naik ke atas cerobong asap setangkas orang yang sudah biasa dengan pekerjaan itu.
Pada saat yang bersamaan tentara yang tadi berjalan di pekarangan menaiki tangga disertai seorang perwira polisi.
Pada dinihari sekali kantor kawat telah menyebarkan berita tentang Andrea ke seluruh pelosok. Setelah menerima berita itu semua penguasa setempat mengerahkan tentara dan polisi mencari pembunuh Caderrouse.
Hotel de’kz la Cloche adalah hotel terbesar di Compiegne dan itulah sebabnya mengapa hotel itu yang diperiksa paling dahulu. Ketika tentara dan perwira polisi itu sampai di kamar
Andrea mereka menemukan pintunya terbuka.
Tentara itu berkata keras,
"Aha! Pintu yang terbuka berarti tidak baik.
Saya lebih suka menemukannya terkunci dan berpalang sekali."
Surat dan peniti dasi membuktikan kebenaran
prasangka mereka. Andrea sudah terbang. Namun tentara itu bukan orang yang biasa begitu saja menyerah kepada hanya satu petunjuk. Dia memeriksa kolong ranjang, balik
tirai, lemari dan akhirnya berhenti dekat tungku pemanas.
Berkat kecermatan Andrea, di sana tidak tertinggal bekas-bekas bahwa ia lari melalui cerobong asap. Walau demikian, tentara itu mengambil sejemput jerami dan kayu bakar lalu membakarnya di tungku pemanas. Asap hitam tebal mengepul melalui cerobong, tetapi tentara dan polisi itu tidak mendapatkan orang terjatuh dari dalam cerobong seperti yang diharapkannya.
Andrea yang sejak masa kecilnya bertentangan dengan masyarakat, mempunyai akal yang sama panjangnya dengan tentara yang berpangkat brigadir itu.
Karena ia memperhitungkan akan dinyalakannya api, dia tidak mau tetap bersembunyi dalam cerobong, melainkan keluar lalu bertiarap di atas atap. Untuk sejenak timbul rasa aman pada dirinya karena dia mendengar brigadir itu berteriak kepada
rekan-rekannya di bawah,
"Dia tidak ada di sini! "
Tetapi ketika dia mengangkat kepalanya dengan hati-hati, dia melihat kedua orang tentara yang di bawah itu bukannya pergi meninggalkan pekarangan, melainkan malah
meningkatkan kewaspadaannya.
Andrea melihat ke sekitarnya. Tampak di sebelah kanannya Hotel de Ville yang bertingkat enam belas menjulang. Setiap celah atap tempat dia berada kelihatan jelas dari setiap jendela hotel itu.
Andrea memperkirakan wajah brigadir itu akan segera kelihatan di salah satu jendela. Dia memutuskan untuk masuk kembali ke dalam hotel melalui cerobong asap yang lain. Dia memilih cerobong yang tidak mengeluarkan asap. Dengan merangkak-rangkak dia mendekati cerobong itu lalu masuk ke dalamnya. Beberapa saat kemudian sebuah jendela kecil dari hotel de Ville terbuka dan muncullah wajah brigadir. Hanya beberapa
menit saja, lalu menghilang lagi dan pasti dengan rasa kecewa.
Brigadir yang tenang dan anggun seanggun hukum yang diwakilinya berjalan menerobos kerumunan orang yang menonton tanpa mau menjawab pertanyaan mereka yang bertubi-tubi. Dia masuk kembali ke dalam hotel.
"Bagaimana?" tanya kawan-kawannya.
"Rupanya dia sudah kabur sejak pagi tadi," jawabnya.
"Tetapi jalan ke Villers-Cotterets sudah kita awasi dan kita akan menjelajahi hutan-hutan. Kita pasti akan dapat menangkapnya di sana."
Belum lagi brigadir itu selesai berbicara terdengar teriakan ketakutan disertai bunyi bel berdering-dering.
"Ada apa?" tanya brigadir terkejut.
"Rupanya ada tamu yang ingin bergegas," jawab pemilik hotel.
"Dari kamar berapa?"
"Kamar tiga," jawab seorang pelayan.
"Siapa yang menginap di sana?" tanya brigadir.
"Seorang anak muda dengan adik perempuannya yang datang tadi malam dan meminta kamar dengan ranjang dobel"
Sekali lagi bunyi bel terdengar. Sekarang lebih keras dan kerap.
"Ikuti aku," kata brigadir kepada perwira polisi.
"Dan kalian di luar. Tembak kalau dia lari! Menurut berita kawat ia penjahat yang nekad."
Brigadir dan perwira polisi berlari menaiki tangga. Dengan cekatan Andrea telah berhasil menuruni dua pertiga dari cerobong. Pada saat itulah kakinya tergelincir, dan sekalipun dia berusaha keras dia tidak dapat menahan
dirinya meluncur ke bawah dengan kecepatan dan kegaduhan yang tidak diinginkannya.
Kejadian ini tidak akan menjadi soal apabila kamar yang dimasukinya kosong. Namun
malang baginya kamar itu berisi. Suara jatuhnya Andrea telah membangunkan dua orang wanita yang sedang tidur seranjang.
Mereka melihat ke arah tungku pemanas dan tiba tiba melihat seorang laki-laki muncul dari dalamnya. Wanita yang berambut piranglah
yang berteriak ketakutan yang suaranya terdengar sampai ke luar. Sedang kawannya, yang berambut gelap, menarik tali lonceng dengan sekuat tenaganya.
"Maaf,"
kata Andrea dengan cemas tanpa memperhatikan kepada siapa dia berbicara.
"Jangan minta tolong! Selamatkanlah saya! Saya tidak akan menganggu."
"Andrea!" teriak salah seorang terkejut.
"Eugenie! Nona Danglars!" Andreapun lebih terkejut.
"Tolongl Tolong!"
Nona d'Armily berteriak-teriak, lalu merebut tali lonceng dari tangan Eugenie dan menarik-nariknya lebih kuat daripada yang dilakukan kawannya.
"Tolong saya! Mereka mengejar saya!" Andrea meminta-minta.
"Jangan serahkan saya!"
'Terlambat," jawab Eugenie yang sudah mulai tenang.
"Mereka sudah ke mari."
"Sembunyikan saya, di mana saja. Katakan bahwa kalian ketakutan tanpa alasan. Mereka akan percaya, dengan begitu engkau telah menyelamatkan jiwa saya."
"Baik," jawab Eugenie,
"Masuklah kembali ke dalam cerobong, dan kami akan menutup mulut."
"Itu dia!" teriak seseorang di luar pintu.
"Itu dia!"
Brigadir mengintip dari lubang kunci dan melihat Andrea sedang membujuk kedua wanita itu;
Sebuah ledakan keras yang keluar dari senapan kuno menghancurkan kunci dan terbukalah pintu itu. Andrea berlari ke pintu lainnya yang berhubungan dengan serambi
yang mengitari pekarangan. Tiba-tiba ia terhenti karena dua moncong senapan diarahkan ke dadanya. Tangannya memegang pisau yang sudah tidak berguna lagi. Brigadir
menghampirinya dengan pedang terhunus.
"Masukkan kembali pedang itu," kata Andrea.
"Saya menyerah"
Dia menyerahkan kedua belah tangannya rapat-rapat untuk menerima borgol.
Sambil melirik kepada kedua wanita itu dia tersenyum tanpa malu dan berkata,
"Apakah ada pesan yang harus saya sampaikan kepada ayah, Nona Eugenie? Saya yakin akan kembali ke Paris sekarang."
Eugenie menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ah, mengapa harus malu? Saya sama sekali tidak berkeberatan Nona mengejar saya. Lagi pula, bukankah saya ini suami Nona?"
Andrea keluar kamar meninggalkah kedua wanita yang merasa dipermalukan karena ejekannya itu ditambah dengan ocehan ocehan orang-orang lain yang mendengar.
Sejam kemudian Eugenie dan d'Armily menaiki keretanya melanjutkan perjalanan. Sekarang keduanya berpakaian perempuan.
Andrea dibawa kembali ke Paris dan dipenjarakan.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar