BAB LVII
VALENTINE belum lagi sembuh. Dari Nyonya de Villefort dia mendengar tentang kejadian di rumah Danglars, tentang kaburnya Eugenie dan tentang tertangkapnya Andrea. Tetapi dia masih begitu lemah sehingga tidak dapat memberikan tanggapan apa apa.
Cerita itu hanya menimbulkan pikiran dan pandangan yang kabur dan senantiasa berubah-ubah, yang pada suatu saat bercampur-aduk dengan pikiran aneh dan bayangan-bayangan yang sering melintas dengan cepat di hadapan otak dan matanya yang masih lemah.
Siang hari Valentine berada dalam kesadaran yang penuh, berkat kehadiran kakeknya yang setiap hari datang ke kamar Valentine menjaga dengan tatapan kasih sayang.
Bila Villefort pulang dari kantornya pada sore hari, dia selalu datang menjenguk dan mereka selama satu jam atau kadang-kadang sampai dua jam berkumpul bertiga. Jam enam Villefort masuk ke kamar kerjanya.
Jam delapan malam, Dokter d'Avrigny datang memeriksa dan memberi Valentine obat untuk malam itu, dan Noirtier kembali ke kamarnya sendiri. Selanjutnya Valentine diserahkan kepada seorang perawat yang dipilih oleh dokter sampai dia jatuh tertidur, biasanya menjelang jam sepuluh malam. Maximilien Morrel datang mengunjungi Noirtier setiap
pagi untuk menanyakan tentang keadaan kekasihnya.
Semakin hari kerisauannya semakin berkurang. Pertama, karena sekalipun Valentine masih lemah namun kesehatannya sedang berangsur pulih. Dan keduanya, Monte Cristo pernah mengatakan, kalau dalam dua jam sejak serangan tidak terjadi apa-apa, nyawa Valentine akan selamat.
Sekarang sudah empat hari berlalu dan Valentine masih tetap hidup. Jiwa Valentine yang tergoncang itu terbawa ke dalam tidurnya, atau lebih tepat lagi ke dalam keadaan antara tidur dan jaga. Pada saat-saat itulah dalam keheningan malam dan dalam cahaya remang-remang yang berasal dari
lampu yang ditempatkan dekat tungku pemanas, sering Valentine melihat sosok tubuh berdatangan silih berganti.
Kadang-kadang dia seperti melihat ibu tirinya datang mengancam, kadang-kadang Maximilien yang kelihatan datang mengulurkan kedua belah tangannya untuk merangkul, terkadang orang yang tidak dikenali.
Dalam keadaan seperti Itu bahkan semua perabotan yang ada dalam kamarnya itu kelihatan seperti berpindah-pindah. Biasanya
hal ini berlangsung sampai jam tiga atau empat dinihari, sebelum dia betul-betul jatuh tertidur sampai pagi.
Malam hari setelah pagi harinya mendengar berita tentang Eugenie dan Andrea, suatu kejadian yang tidak terduga berlangsung di kamar Valentine. Perawat baru sepuluh menit yang lalu meninggalkan kamar, dan Valentine sedang diserang demam.
Dalam cahaya remang-remang dia melihat pintu yang menuju ke ruang perpustakaannya terbuka tanpa bersuara. Dalam keadaan sehat, pasti Valentine akan segera membunyikan bel atau berlari meminta tolong. Tetapi dalam keadaannya seperti sekarang, hal itu sama sekali tidak mengejutkannya. Dia mengira itu hanyalah akibat dari demamnya saja.
Sesosok tubuh muncul dari balik pintu. Karena sudah terbiasa, Valentine sama sekali tidak merasa takut, bahkan dia membuka matanya lebih lebar dengan harapan mudah-mudahan
Maximilienlah yang datang itu. Sosok tubuh itu
mendekatinya, lalu berhenti seperti yang sedang mendengarkan sesuatu dengan penuh perhatian.
Secercah cahaya lampu menerangi wajahnya. "Bukan Maximilien," keluh Valentine.
Valentine menunggu dan mengharap supaya bayangan Itu segera menghilang dan berganti dengan bayangan orang lain lagi. Dia masih sempat ingat bahwa jalan terbaik untuk
menghilangkan bayangan-bayangan yang tidak
disenanginya adalah minum obat penenang yang disediakan oleh dokter.
Tangannya bergerak untuk mengambil gelas yang berada di atas meja di sebelahnya.
Bersamaan dengan itu bayangan tersebut maju lagi dan begitu dekat rasanya seperti Valentine dapat mendengar tarikan napasnya dan merasakan rabaannya pada tangannya sendiri.
Dengan perlahan-lahan sekali Valentine
menarik tangannya. Sosok tubuh itu, yang kelihatannya bersikap melindungi, mengambil gelas dari atas meja dan memeriksanya dengan teliti. Pemeriksaan dengan mata rupanya dirasa masih kurang sempurna.
Diambilnya cairan dalam gelas itu sesendok
penuh lalu ditelannya. Valentine mengira bayangan itu akan segera berganti dengan bayangan lain. Tetapi tidak. Bahkan dia kembali lagi mendekat, menyerahkan gelas
kepadanya dan berkata dengan lembut,
"Silakan minum sekarang."
Barulah Valentine merasa terkejut. Baru sekali ini salah satu dari sekian banyak bayangan yang sering datang berbicara begitu nyata kepadanya. Valentine membuka mulutnya
untuk berteriak. Tetapi orang itu lebih cepat meletakkan telunjuknya ke bibirnya.
"Count of Monte Cristo” Valentine berbisik.
"Jangan berteriak dan jangan takut" kata Monte Cristo.
"Yang di hadapanmu sekarang bukanlah bayangan, Valentine, melainkan seorang sahabat yang tulus."
Valentine tidak menjawab, tetapi matanya yang masih ketakutan seakan-akan hendak berkata,
"Bila maksud Tuan baik, mengapa berada di sini?"
Dengan pandangannya yang tajam, Monte Cristo dapat menebak apa yang berada dalam hati Valentine.
"Dengarkan baik-baik," katanya,
"atau lebih tepat, pandanglah saya baik-baik. Lihat mata saya yang sudah merah ini dan muka saya yang telah menjadi lebih pucat dari biasa. Saya tidak tidur selama empat malam.
Empat malam lamanya saya menjaga dan melindungimu untuk sahabat kita Maximilien."
Arus darah mengalir ke wajah Valentine karena gembira. Nama yang baru didengarnya telah menghapuskan semua kecurigaan.
"Maximilien!" katanya mengulang.
"Dia menceriterakan semua kepada Tuan?"
"Semua. Dia mengatakan bahwa hidupmu adalah miliknya dan saya telah berjanji mengusahakan agar engkau tetap hidup."
''Apakah Tuan seorang dokter?"
"Ya, dan yang terbaik dan mungkin ada pada saat ini. Percayalah."
"Tuan mengatakan telah menjaga saya selama ini, tetapi baru sekarang saya lihat Tuan di sini."
Monte Cristo menunjuk ke arah ruang perpustakaan.
"Saya bersembunyi di balik pintu itu. Pintu itu berhubungan dengan rumah di sebelah yang saya sewa."
Valentine mengalihkan matanya dari Monte Cristo dan berkata dengan angkuh,
”Yang Tuan lakukan adalah perbuatan gila.
Perlindungan yang Tuan berikan hampir-hampir
menyerupai penghinaan!"
"Valentine," kata Monte Cristo,
"inilah hasil dari penjagaan dan perlindungan saya yang melelahkan itu. Saya tahu siapa yang masuk ke kamar ini, makanan dan minuman apa yang disediakan untukmu. Kalau minuman itu saya anggap berbahaya, saya masuk seperti sekarang ini, membersihkan
gelasmu dari racun yang mematikan dan menggantinya dengan cairan yang justru menyembuhkan."
"Racun dan mati!"
Valentine terkejut. Dia berharap betul bahwa dia sedang dipengaruhi demam.
"Apa yang Tuan katakan?"
Monte Cristo memberi isarat lagi dengan telunjuknya untuk diam.
"Ya, saya katakan racun. Tetapi minumlah ini
dahulu."
Dia mengambil sebuah botol yang berisi cairan
berwarna merah dari saku bajunya, meneteskan isinya beberapa tetes ke dalam gelas.
"Setelah minum ini, jangan minum apa-apa lagi sampai besok."
Valentine mengulurkan tangannya tetapi segera menariknya kembali setelah tangannya menyentuh gelas. Monte Cristo mengambil gelas itu, meneguknya sampai setengahnya
lalu memberikan gelas itu kepada Valentine yang menerimanya dengan tersenyum dan lalu meminumnya sampai habis.
"Saya ingat sekarang," kata Valentine.
"Inilah rasa obat yang selalu menurunkan demam dan menenangkan pikiran. Terima kasih, Tuan."
"Sekarang engkau tahu, mengapa engkau tetap hidup, Valentine. Tetapi engkau tak akan mungkin membayangkan betapa perasaan takut berkecamuk dalam dada saya ketika
melihat racun dikucurkan ke dalam gelas dan bagaimana pula perasaan saya sebelum sempat membuangnya lagi ke tungku pemanas!"
"Kalau Tuan melihat racun dikucurkan, tentu Tuan melihat juga siapa yang mengucurkannya," tanya Valentine.
Matanya gelisah cemas.
"Siapa pembunuh itu!"
"Pernahkah engkau melihat orang masuk ke mari pada malam hari?”
"Saya sering melihat sosok tubuh datang dan menghilang. Tetapi saya selalu menganggapnya sebagai bayangan karena demam. Bahkan ketika Tuan tadi masuk pun, lama sekali saya mengira begitu."
"Artinya, engkau tidak tahu siapa orang yang berniat mengambil jiwamu itu?"
"Tidak. Mengapa ada orang menghendaki kematian saya?"
"Engkau akan segera mengetahuinya," Monte Cristo memasang kupingnya tajam-tajam seperti mendengar sesuatu.
"Sekarang engkau tidak demam atau bermimpi. Saya minta, kerahkan semua kekuatanmu. Pura-pura tidur dan engkau akan melihat nanti."
Valentine memegang tangan Monte Cristo.
"Saya kira saya mendengar suara. Cepat keluar!"
Dengan senyuman yang menenteramkan hati Valentine, Monte Cristo berangkat menuju pintu perpustakaan. Sebelum dia keluar dan menutupnya kembali, ia membalikkan
badan dan berkata lagi perlahan-lahan,
"Ingat, jangan bergerak dan bersuara. Kalau diketahuinya engkau tidak tidur, engkau mungkin sudah dibunuhnya sebelum saya sempat menolong."
Setelah meninggalkan peringatan yang menyeramkan ini Monte Cristo menghilang di balik pintu.
Valentine tinggal seorang diri. Terdengar jam berbunyi dua belas kali. Kecuali suara kereta yang bergerak di kejauhan semuanya sunyi-sepi. Pikiran Valentine hanya berpusat kepada satu soal saja:
ada orang yang pernah mencoba membunuhnya dan yang akan mencobanya sekali lagi.
Ketukan yang hampir-hampir tidak kedengaran datang dari pintu perpustakaan. Valentine lega hatinya karena dengan itu dia yakin bahwa Monte Cristo berada di dekatnya.
Dari arah lain, artinya dari arah kamar Edouard
rasanya Valentine mendengar suara. Dia menahan napas.
Pintu mulai terbuka, hampir saja Valentine tidak sempat menyembunyikan matanya di bawah lengannya. Dengan hati yang dicekam takut, dia menunggu.
Seorang datang ke dekat tempat tidurnya.
"Valentine!"
orang itu memanggil perlahan-lahan. Valentine gemetar sampai ke dasar jantungnya, tetapi dia menahan diri tidak menjawab.
''Valentine."
Valentine tetap diam. Lalu dia mendengar suara barang cair dikucurkan. Pada saat itulah dia berniat membuka matanya yang tersembunyi di bawah lengannya.
Valentine melihat seorang wanita bergaun tidur putih sedang mengucurkan sesuatu dari sebuah botol ke dalam gelasnya. Rupanya Valentine bergerak atau mengeluarkan suara sedikit, sebab tiba-tiba saja perempuan itu berhenti, lalu mendekat ke ranjang untuk meyakinkan apakah Valentine tidur atau tidak.
Perempuan itu, Nyonya de Villefort.
Ketika mengenali ibu tirinya, Valentine tidak dapat menahan kejutan hatinya yang bergetar ke seluruh tubuhnya, dan getaran tubuhnya itu menggetarkan lagi ranjangnya.
Nyonya de Villefort berdiri merapat ke dinding di dekatnya dan mengawasi setiap gerakan Valentine dengan cermat.
Valentine ingat kepada kata-kata Monte Cristo yang menyeramkan tadi. Rasanya dia melihat sebilah pisau panjang di tangan nyonya de Villefort. Dia memaksakan diri menutup matanya kembali. Pekerjaan yang sangat sederhana itu pada saat-saat seperti demikian merupakan pekerjaan yang hampir tidak mungkin dilakukan.
Sementara itu, setelah diyakinkan oleh tarikan napas Valentine yang sudah teratur kembali, Nyonya de Villefort meneruskan memindahkan isi botol ke dalam gelas Valentine.
Setelah itu dia keluar. Bukan suara yang meyakinkan Valentine bahwa dia sudah pergi. Valentine hanya melihat menghilangnya tangan segar dan gempal dari seorang wanita berumur dua puluh lima tahun, yang baru saja
mengucurkan racun kematian.
Suara dari pintu perpustakaan membuat Valentine tenang kembali. Dia mengangkat kepalanya dengan susah payah. Pintu terbuka dan Monte Cristo muncul.
"Masih sangsi?" tanya Monte Cristo.
"Oh, Tuhan!"
"Kenal dia?"
"Ya, tetapi saya tetap tidak bisa percaya."
"Rupanya engkau lebih suka mati yang dapat menyebabkan kematian Maximilien juga, daripada mempercayai apa yang kaulihat sendiri."
"Ya Tuhan! Tuhan!"
Monte Cristo mengambil gelas dan mencicipi isinya.
"Sekarang brucine lagi, tetapi yang lebih kuat. Kalau engkau minum ini, Valentine, habislah sudah riwayatmu."
"Mengapa dia mau membunuh saya?"
"Masih juga belum mengerti? Apakah engkau begitu baik, begitu halus, begitu sukar mempercayai kejahatan orang lain sehingga tidak dapat menduga alasan-alasannya?"
"Tidak. Saya tidak pernah menyakitinya,"
"Kesalahanmu hanyalah, karena engkau kaya. Engkau berpenghasilan dua ratus ribu frank setahun yang bisa menjadi milik anaknya sendiri. Tuan dan Nyonya de Saint-Meran
meninggal, engkau mewarisi semua hartanya. Tuan Noirtier harus mati ketika dia mengangkatmu sebagai ahli waris tunggalnya, dan itulah sebabnya mengapa engkau
harus mati, Valentine, supaya ayahmu dapat mewarisi semua harta kekayaanmu dan dengan demikian terbukalah jalan bagi Edouard untuk memilikinya, karena dialah yang
akan menjadi ahli waris tunggal ayahmu."
"Edouard! Untuk diakah semua kejahatan ini" dilakukan?"
"Ah, akhirnya engkau paham juga."
"Mudah-mudahan saja dia tidak menderita karena ini!"
"Engkau memang seorang bidadari, Valentine."
"Apakah dia masih merencanakan membunuh Kakek?"
"Rupanya sudah terpikirkan, kalau engkau mati kekayaan kakekmu akan jatuh juga kepada Edouard lewat ayahnya.
Sebab itu membunuhnya, hanyalah merupakan tindakan yang tidak berguna dan berbahaya."
"Sukar dimengerti bahwa seorang wanita dapat
merancang suatu rencana setan seperti ini."
"Ingatkah engkau ketika Ibu tirimu berbicara dengan seorang laki-laki tentang racun di Perguia? Pada waktu itu engkau sedang menanti kereta. Ketika itulah rencana ini
timbul di benaknya."
"Oh!"
Teriak gadis itu, air matanya seakan-akan muncrat.
"Saya mengerti sekarang. Saya mengerti mengapa saya harus mati!"
"Tidak, Valentine, musuh kita sudah tidak berdaya lagi karena kita telah mengetahui siapa dia. Engkau akan hidup untuk mencintai dan dicintai, untuk membuat seorang laki
laki berhati mulia berbahagia. Tetapi, untuk bisa selamat, hendaknya engkau mempercayaiku sepenuhnya."
"Saya percaya, Tuan. Saya mau menjalankan apa saja untuk tetap dapat hidup, oleh karena dalam dunia ini ada dua orang yang sangat mencintai saya dan akan mati kalau saya mati. Kakek dan Maximilien Morrel."
"Apa pun yang kan terjadi, Valentine, janganlah takut. Kalau engkau kehilangan penglihatanmu, pendengaranmu atau daya rasamu, janganlah takut. Kalau engkau terbangun tanpa mengetahui di mana engkau berada jangan takut, bahkan sekalipun engkau terbangun di dalam kubur atau dalam peti mati, tegakkan kepalamu dan katakanlah kepada dirimu sendiri dengan penuh keyakinan, 'Pada saat ini, seorang laki-laki yang sangat mendambakan kebahagiaanku dan kebahagiaan Maximilien sedang melindungiku'"
"Mengerikan sekali."
"Apakah engkau lebih suka mengadukan ibu tirimu?"
"Lebih baik mati daripada melakukan itu!"
"Engkau tidak akan mati, Valentine. Tetapi saya minta engkau berjanji bahwa engkau tidak akan berputus asa, apa pun yang akan terjadi.
Percayalah kepada maksud baikku, seperti engkau percaya kepada kebaikan Tuhan dan
kecintaan Maximilien kepadamu."
Valentine menatap wajah Monte Cristo dengan penuh rasa terima kasih. Monte Cristo mengeluarkan kotak jamrudnya, membukanya dan memberikan kepada Valentine sebuah pil bundar sebesar kacang.
Valentine memandang bertanya.
"Apakah aku harus menelannya? "
"Betul" kata Monte Cristo.
Valentine memasukkan pil itu ke dalam mulutnya lalu menelannya.
"Sekarang, selamat tinggal, Valentine," kata Monte Cristo,
"saya akan mencoba tidur, karena engkau telah selamat."
Monte Cristo mengawasi Valentine yang segera jatuh tertidur, terpengaruh oleh obat bius yang baru saja ditelannya.
Lalu dia mengambil gelas, membuang sebagian besar isinya ke dalam tungku api supaya tampak seperti telah di minum,
meletakkannya kembali di tempatnya di sebelah ranjang, kemudian pergi melalui pintu rahasianya. Sebelum pergi, sekali lagi dia menatap Valentine yang pulas dan tenang,
setenang bidadari yang bersimpuh di hadapan Tuhannya.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar