BAB LXVII
HATINYA terasa berat ketika ia meninggalkan
Mercedes, Ia mengira kemungkinan untuk dapat bertemu kembali sangat kecil.
Sejak kematian Edouard banyak perubahan terjadi pada diri Monte Cristo. Setelah dengan segala susah-payah sampai kepada akhir pembalasannya, dia terpaksa menoleh lagi ke belakang dan ternyata menemukan banyak hal yang menimbulkan keraguan.
Tambahan lagi pembicaraan dengan Mercedes membangkitkan beberapa pikiran dan
perasaan yang harus ditekannya.
Untuk seorang seperti Monte Cristo tidak boleh terlalu lama berada dalam keadaan seperti itu. Kepada dirinya sendiri terus-menerus dia katakan, kalau sampai menyalahkan diri sendiri, berarti ada beberapa kesalahan di luar
perhitungannya.
"Mungkin aku kurang tepat menuai masa laluku," pikirnya.
"Bagaimana mungkin aku membuat kesalahan seperti ini? Apakah usahaku ini sia-sia? Mungkinkah selama sepuluh tahun ini aku menuruti jalan yang kurang benar? Tidak,
aku tak dapat menerima pikiran itu ...
Menerima itu berarti hatiku gelisah terus.
Alasan mengapa aku sekarang menjadi
ragu, karena aku menilai masa lalu tidak seperti dahulu lagi ketika aku mulai berangkat melaksanakan sumpah. Masa lampau itu hilang bersama waktu, seperti hilangnya sebuah benda ditelan jarak.
Apa yang terjadi pada diriku sekarang sama dengan yang terjadi pada orang yang bermimpi
melihat dan merasakan sesuatu luka tetapi tidak ingat bila mendapatkannya."
Monte Cristo berjalan sepanjang Rue Saint-Laurent menuju pelabuhan. Sebuah perahu sewaan kebetulan lewat.
Monte Cristo memanggil pemiliknya yang datang segera dengan harapan mendapatkan upah yang baik.
Hari sangat baik. Tetapi langit yang cerah, perahu-perahu pesiar yang berlayar kian ke mari dengan lemah gemulai, dan cahaya matahari yang menyirami alam sekeliling, semua itu sama sekali tidak menarik perhatian
Monte Cristo.
Pikirannya sedang kembali ke beberapa tahun yang lalu, ketika dia menjalani perjalanan yang tidak menyenangkan melalui jalur ini. Masih jelas terbayang dalam ingatannya semua kejadian waktu itu.
Gedung d’If yang memberitahu ke mana dia akan dibawa, pergulatannya dengan para pengawal ketika dia mencoba menceburkan diri ke laut, keputus-asaannya ketika merasakan dirinya tidak berdaya dan rasa dingin yang menggigil ketika dia merasakan laras senapan ditekankan pada dahinya.
Sedikit demi sedikit Monte Cristo merasakan
kembali kepahitan yang pernah merendam hati Edmond Dantes. Bersamaan dengan itu terulanglah baginya langit dan cahaya matahari yang cerah. Langit seakan-akan berubah
menjadi gelap, hitam bagaikan berkabung.
Gedung d'If yang mulai membayang di kejauhan membuat dia terperanjat seperti melihat hantu musuh yang sangat berbahaya.
Ketika mendekati pantai, secara naluriah Monte Cristo kembali ke buritan kapal.
"Kita hampir sampai, Tuan,"
Kata pemilik perahu.
Monte Cristo ingat betul di tempat itu jugalah dia dahulu didaratkan dengan paksa oleh para pengawal dan dipaksa pula menaiki lereng dengan ujung bayonet di punggungnya.
Sejak Revolusi Juli gedung itu sudah tidak dipergunakan lagi sebagai penjara. Sekarang diisi oleh sebuah detasemen tentara yang bertugas menjaga jangan sampai gedung itu
dipergunakan oleh para penyelundup.
Ada seorang penunjuk jalan menunggu di gerbang untuk membantu para pengunjung yang ingin melihat-lihat gedung yang pernah
menyeramkan itu dan sekarang sudah berubah menjadi obyek pariwisata.
Sekalipun Monte Cristo sudah mengenalnya dengan baik, namun ketika dia menuruni tangga gelap yang menuju ke sel bawah tanah, tak urung keringat dinginnya keluar dari dahi. Hatinya serasa hendak membeku.
Monte Cristo bertanya kalau-kalau ada bekas pegawai penjara yang masih tinggal di sana.
Dia mendapat jawaban bahwa semua telah pensiun atau pindah bekerja di tempat lain. Penunjuk jalan yang mengantarnya sekarang mulai bekerja di sana sejak tahun 1830.
Monte Cristo diantar memasuki selnya dahulu. Dia melihat secercah cahaya remang-remang masuk melalui jendela yang sempit. Terlihatlah bekas ranjangnya. Sekalipun sudah diperbaiki namun lubang yang dibuat oleh Padri Faria masih jelas tampak. Monte Cristo merasakan lututnya melemah.
Dia terduduk di atas sebuah bangku kayu.
"Apa ada ceritera yang berhubungan dengan penjara ini, kecuali ceritera tentang penahanan Mirabeau?" tanya Monte Cristo.
"Ada, Tuan" jawab penunjuk jalan.
"Salah seorang sipir pernah berceritera kepada saya tentang sel ini. Maukah Tuan mendengarnya?"
"Ya. Coba ceriterakan,"
Monte Cristo menekankan tangan kanannya di tentang jantungnya untuk menahan debarnya, karena ada semacam rasa takut untuk mendengar cerita itu.
"Sel ini," kata pengantar memulai,
"pernah diisi seorang tahanan yang sangat berbahaya. Begitu kata orang, sekurang-
kurangnya. Dan di dalam sel yang berdekatan ada lagi seorang pesakitan yang lain, yang sama sekali tidak berbahaya. Ia seorang padri miskin yang menjadi gila di sini."
"Oh," kata Monte Cristo.
"Gila bagaimana?"
"Dia selalu menawarkan jutaan frank untuk ditukar dengan kemerdekaannya."
"Bisakah kedua orang pesakitan itu bertemu?"
''Tidak, Tuan. Dilarang sama sekali. Tetapi, mereka berhasil membuat lubang di bawah lantai yang dapat menghubungkan kamar masing-masing."
"Yang mana yang membuat lubang itu?"
''Tentu saja yang muda. Dia seorang yang kuat dan bersemangat, sedangkan padri miskin itu telah tua dan lemah.
Lagipula, otak padri itu sudah tidak waras lagi untuk dapat membuat jalan semacam itu."
"Bodoh!" pikir Monte Cristo.
"Tak seorang pun tahu bagaimana caranya pesakitan muda itu bekerja," lanjut pengantar,
"tetapi tak dapat disangkal dialah yang membuatnya. Lihat, Tuan, masih melihat bekas bekasnya."
Dia menerangi dinding dengan obornya.
"Ya, ya "
kata Monte Cristo sambil memendam berbagai
perasaan.
"Dengan adanya jalan ini kedua pesakitan itu dapat berhubungan satu sama lain. Tidak pernah diketahui berapa lama mereka berbuat begitu. Pada suatu hari pesakitan tua itu sakit, lalu mati. Dapatkah Tuan mengira-ngira apa yang diperbuat pesakitan muda itu?"
"Tidak."
"Dia memindahkan mayat kawannya yang sudah dikarungi ke ranjangnya sendiri. Lalu, dia sendiri kembali ke sel padri tua dan masuk ke dalam karung mayat bekas kawannya, setelah menutup lubang rahasia."
Monte Cristo menutup matanya, seperti sedang merasakan sekali lagi dinginnya karung mayat itu menyentuh wajahnya.
"Begini rupanya rencana anak muda itu: Dia mengira bahwa mayat pesakitan dikubur di bukit ini, oleh karena dia yakin Pemerintah tidak bakal mau menyediakan peti mati.
Dia bermaksud membongkar kuburnya sendiri dari dalam. Tetapi sial sekali baginya, kebiasaan di penjara ini menghancurkan semua rencananya.
Mereka tidak pernah mengubur mayat. Mereka hanya memberati kaki mayat dengan peluru meriam lalu melemparkannya ke dalam laut.
Itulah nasib anak muda itu. Keesokan harinya, para pengawal penjara menemukan mayat padri tua di ranjang pesakitan muda.
Selanjutnya dengan mudah mereka dapat
menduga segala-galanya, terutama sekali ketika petugas yang melemparkan mayat ke laut menceritakan sesuatu yang tidak pernah berani dia katakan sebelumnya.
Katanya, ketika melemparkan karung itu mereka mendengar jeritan yang sangat mengerikan yang segera menghilang begitu
karung itu menyentuh air."
Monte Cristo menarik napas berat sekali, amarahnya bangkit di hatinya.
"Tidak!" katanya dalam hati.
"Aku ragu akan kebenaran tindakanku karena aku sudah mulai lupa kepada masa laluku. Kini, luka dalam hatiku merekah lagi dan dahaga balas dendam kembali bangkit."
Lalu dia berkata kepada pengantarnya,
"Apakah setelah itu ada terdengar lagi berita mengenai pesakitan itu?"
"Tidak, Tuan. Dia dilemparkan dari ketinggian lima puluh kaki, dan kakinya dahulu yang mengenai permukaan air. Jadi peluru meriam yang berat itu pasti meluncurkannya langsung ke dasar lautan. Kasihan dia."
"Apa engkau merasa kasihan?"
"Tentu saja, Tuan, sekalipun dia mati dalam dunianya sendiri."
"Apa maksudmu?"
"Menurut ceritera orang, dia seorang pelaut yang dipenjarakan karena terlibat dalam gerakan Bonaparte."
"Siapa namanya?"
"Dia hanya dikenal dengan Nomer 34."
"Villefort, Villefort!" katanya lagi dalam hati.
''Itulah tentu yang berteriak-teriak dalam hati nuranimu setiap kali hantu diriku mengganggu tidurmu!"
"Apakah Tuan mau melihat yang lain-lainnya, Tuan?"
“Ya, terutama sel padri tua itu."
"Mari ikuti saya, Tuan."
"Sebentar," kata Monte Cristo.
"Aku ingin melihat kamar ini sekali lagi."
"Baik, Tuan, dan kebetulan saya harus mengambil dahulu kunci sel padri itu. Silakan Tuan melihat-lihat selama saya pergi."
"Ambillah!"
"Saya tinggalkan obor ini."
"Biar, tidak usah."
"Tetapi di dalam gelap sekali."
"Saya dapat melihat dalam gelap."
"Seperti Nomer 34 saja. Kata orang, dia dapat menemukan peniti dalam sudut yang tergelap dalam sel ini."
''Diperlukan sepuluh tahun latihan untuk itu," jawab Monte Cristo dalam hatinya.
Pengantar itu pergi dengan membawa obor.
Hanya dalam beberapa detik, Monte Cristo sudah dapat melihat segala sesuatu dalam sel dengan jelas sekali.
"Ya," katanya sendiri,
"inilah batu yang biasa kududuki, dan itu bekas darah dari dahiku ketika aku mencoba memecahkan kepala pada tembok! Angka-angka ini . . . ya, aku ingat.
Aku membuatnya ketika aku menghitung usia ayahku untuk mengira-ngira apakah mungkin aku menjumpainya lagi, dan umur Mercedes untuk mengira-ngira apakah mungkin aku menemuinya masih belum kawin.
Aku mempunyai harapan ketika selesai menghitung itu. Aku tidak pernah memperhitungkan kelaparan dan ketidaksetiaan ketika itu!"
Tawa pahit tersembur dari bibirnya. Seperti dalam mimpi dia melihat ayahnya diusung ke kuburan-dan Mercedes diiringi berjalan ke altar.
Perhatiannya tertarik kepada sebuah tulisan di tembok lain:
"OH TUHAN, LINDUNGILAH INGATANKU!"
"Itulah satu-satunya do'aku menjelang akhir penyekapan," pikirnya.
"Aku sudah tidak lagi meminta kemerdekaan,
aku hanya minta dipelihara ingatanku karena aku takut gila dan lupa akan segala hal.
Engkau telah mengabulkan doa ku, Ya Tuhan! Terima kasih, terima kasih, Tuhanku!"
Cahaya obor membayang ditembok. Pengantar itu telah kembali dan Monte Cristo keluar.
"Silakan ikuti saya, Tuan."
Monte Cristo melihat sisa-sisa ranjang kematian Padri Faria. Melihat ini, bukan amarah yang timbul dalam hatinya seperti ketika dia melihat bekas selnya sendiri,
melainkan perasaan haru dan terima kasih sehingga matanya berlinang-linang.
"Inilah kamar padri gila itu."
Sambil menunjuk sebuah lubang yang masih terbuka dia melanjutkan,
"Dari situlah datangnya pesakitan muda kalau berkunjung. Menilik kepada keadaan batunya, orang arif memperkirakan bahwa kedua orang itu telah berhubungan sekitar sepuluh tahun,
Waktu yang lama sekali tentu bagi mereka itu! Kasihan!"
Dantes mengambil beberapa buah uang logam dua puluh frank dari saku bajunya dan memberikannya kepada orang yang telah dua kali menyebut kasihan tanpa mengenal siapa
yang dikasihaninya.
Pengantar itu menerimanya dengan mengira bahwa dia hanya menerima beberapa uang receh saja. Tetapi setelah melihatnya dalam sinar obor dia baru menyadari nilai sebenarnya.
"Mungkin Tuan keliru."
"Apa maksudmu?"
"Ini uang emas."
"Aku tahu."
"Benarkah Tuan bermaksud memberikannya kepada saya?"
"Ya."
Pengantar itu menatap wajah Monte Cristo penuh keheranan,
''Tuan," katanya.
"Saya tidak dapat memahami kemurahan hati Tuan."
''Tidak sukar sebenarnya. Aku pun bekas pelaut, jadi aku sangat terpengaruh oleh ceriteramu tadi."
"Oh! Karena Tuan telah bermurah hati, saya wajib menawarkan sesuatu."
"Apa yang dapat kautawarkan?"
"Sesuatu yang ada hubungannya dengan cerita tadi."
"Betul?"
kata Monte Cristo ingin segera tahu.
"Apa itu?"
"Begini. Pada suatu hari saya berkata kepada diri saya sendiri: 'Kita akan dapat menemukan sesuatu di dalam sel yang pernah dihuni seorang pesakitan selama lima belas tahun.'
Saya mulai mencari-cari dan akhirnya, di dalam lubang perapian yang tertutup sebuah batu, saya menemukan..”
''Tangga tali dan beberapa perkakas?" tanya Monte Cristo cepat.
"Bagaimana Tuan mengetahuinya?"
tanya pengantar itu bertambah heran.
"Aku tidak tahu, aku hanya menduga saja. Itu kan barang-barang yang biasa disembunyikan seorang pesakitan dalam selnya .. . Masih kausimpan barang-barang itu?"
''Tidak, Tuan, saya telah menjualnya kepada seorang pengunjung. Tetapi saya masih mempunyai sesuatu yang lain."
"Apa?" Monte Cristo sudah tidak sabar.
"Semacam buku yang ditulis pada beberapa lembar kain."
"Masih ada buku itu?"
"Saya tidak tahu bahwa itu sebuah buku, tetapi masih ada pada saya."
"Ambil dan berikan kepadaku!"
Pengantar itu meninggalkan sel. Monte Cristo berlutut di depan ranjang yang untuk Monte Cristo sekarang sudah berubah menjadi sebuah altar.
"Oh, Bapakku yang kedua," katanya,
"yang arif bijaksana, engkau telah memberikan
kepadaku kemerdekaan, ilmu dan kekayaan . . . seandainya setelah wafat, Bapak masih dapat memberikan sesuatu yang dapat menggembirakan atau membangkitkan semangat, wahai hati yang mulia, yang arif bijaksana, wahai jiwa yang tenang, berikanlah isaratnya kepadaku. Hapuskanlah rasa
ragu dalam hatiku ini yang bisa berubah menjadi rasa dosa dan akhirnya menjadi penyesalan!"
Monte Cristo menundukkan kepala dan merapatkan kedua belah tangannya.
"Inilah, Tuan," kata suara di belakangnya.
Monte Cristo terperanjat dan membalik. Pengantar menyerahkan sobekan-sobekan kain tempat Padri Faria mencurahkan semua
kekayaan ilmunya. Ini merupakan karya besarnya mengenai kerajaan di Italia.
Monte Cristo menerima dengan gairah. Yang pertama-tama terbaca ialah motto yang berbunyi: "Engkau wajib mencabut taring-taring ular naga dan menginjak-injak kaki singa, begitulah sabda Tuhan."
"Ah!" kata Monte Cristo memekik gembira.
"Inilah jawaban untukku! Terima kasih, Bapak, terima kasih!"
Monte Cristo mengeluarkan dompet kecil yang berisi sepuluh lembar uang kertas seribuan.
"Ini," katanya kepada pengantar,
"ambillah dompet ini."
"Untuk saya?"
"Ya, tetapi dengan syarat, jangan dahulu dilihat isinya sampai aku pergi."
Sambil menekankan benda berharga itu ke dadanya Monte Cristo berlari meninggalkan sel, kembali ke perahu yang menunggunya.
"Kembali ke Marseilles," perintahnya.
Selama dalam perahu matanya tidak pernah lepas dari penjara yang menyeramkan itu, yang makin lama makin menjauh.
"Terkutuklah mereka yang menjebloskanku ke
dalam lubang penderitaan itu dan mereka yang lupa bahwa aku pernah berada di dalamnya!"
Kemenangannya telah lengkap. Monte Cristo telah berhasil mengalahkan keraguannya untuk kedua kalinya.
Setelah mendarat dia pergi ke pekuburan di mana ia menemukan Maximilien. Sepuluh tahun yang lalu dia pun pernah berkunjung ke pekuburan ini, namun, kendati dengan jutaan frank di tangannya dia tidak berhasil menemukan kuburan ayahnya yang mati karena kelaparan.
Keadaan ayah Maximilien lebih baik. Dia meninggal dalam pelukan putra-putrinya, dia dibaringkan di sisi istrinya yang meninggal dua tahun lebih dahulu. Nama-nama mereka terukir pada batu pualam, diletakkan berdampingan,
berpagar besi dan diteduhi oleh empat batang pohon sip res.
Maximilien bersandar kepada salah satu pohon itu dan menatap kedua kuburan dengan wajah dungu.
''Maximilien,” kata Monte Cristo,
"dalam perjalanan kemari pernah engkau mengatakan mau tinggal di Marseilles untuk beberapa hari. Apakah masih ada keinginan itu?"
"Saya sudah tidak mempunyai keinginan apa-apa lagi. Tetapi, rasanya menunggu di sini akan lebih ringan dibandingkan dengan di tempat lain."
"Baik, kalau begitu. Aku akan meninggalkanmu untuk beberapa lama, tapi kuharap engkau teguh memegang janji!"
Anak muda itu membiarkan kepalanya terkulai ke dada.
"Saya ingat janji itu,"
katanya setelah diam beberapa - saat.
''Tetapi, ingat . . .”
"Aku menunggumu di Pulau Monte Cristo pada tanggal 5 Oktober. Tanggal empat, sebuah kapal pesiar akan menunggumu di pelabuhan Bastia. Nama kapal pesiar itu Eurus. Sebutkan namamu kepada kaptennya, dia akan
membawamu kepadaku.”
"Saya akan bertindak seperti yang saya janjikan, tetapi ingatlah bahwa pada tanggal 5 Oktober . ."
"Sudah kukatakan lebih dari dua puluh kali bahwa apabila engkau masih bersikeras mau mati pada hari itu, aku sendiri yang akan membantumu. Sekarang, selamat tinggal."
''Tuan mau berangkat sekarang?"
"Ya. Ada sesuatu yang harus kukerjakan di Italia. Aku harus berangkat sekarang juga. Mau engkau mengantarku sampai ke pelabuhan?"
"Siap, Tuan."
Maximilien mengawani Monte Cristo ke pelabuhan. Asap hitam sudah mengepul dari cerobong kapal ketika mereka tiba. Satu jam kemudian kapal itu sudah menghilang di kaki langit timur.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar