Senin, 26 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 24

BAB XXIV


SEMENTARA itu Count of Monte Cristo telah sampai ke rumahnya yang baru di Champs Elysee. Dua orang menyambutnya ketika keretanya berhenti di muka pintu.

Seorang di antaranya Ali, yang hatinya merasa senang bukan kepalang melihat majikannya memandang ramah kepadanya. Yang seorang lagi membungkuk hormat lalu mengulurkan
tangan membantu majikannya turun dari kereta.

"Terima kasih, Tuan Bertuccio," kata Count 

"Apakah Notaris sudah datang?"

"Dia menunggu di ruang tamu, Yang Mulia,"

Count of Monte Cristo menuju ruang tamu diantar oleh Bertuccio.

''Tuankah notaris yang dikuasakan menjual rumah yang ingin saya beli?"

"Benar, Tuan."

"Ada Tuan bawa surat-surat jual-belinya?"

"Ini, Tuan."

"Nah, di mana letaknya rumah yang saya beli itu?" tanya Monte Cristo seenaknya.

Notaris memandangnya heran. 

"Maksud Tuan, belum pernah melihatnya?"

"Bagaimana mungkin saya dapat melihatnya? Baru pertama kali ini saya datang di Paris, tadi pagi. Tegasnya, ini adalah kunjungan saya yang pertama ke Perancis."

"Saya mengerti, Tuan. Rumah yang Tuan beli itu terletak di daerah Auteuil”

Mendengar nama ini wajah Bertuccio menjadi pucat.

"Dan di mana Auteuil itu?"

''Tidak berapa jauh dari sini, Tuan. Sedikit lewat Passy, di daerah yang nyaman di tengah-tengah Bois de Boulogne."

"Begitu dekat? Kalau begitu bukan di luar kota! Mengapa Tuan memilihkan rumah yang bukan di luar kota, Tuan Bertuccio?"

"Yang Mulia," kata Bertuccio terkejut takut,

"saya tidak memilihnya! Sudikah Tuan mengingat-ingat kembali"

"Ah, ya, sekarang saya ingat," kata Monte Cristo, 

"saya membaca iklan dalam sebuah koran dan terpedaya oleh kata-kata, Rumah Luar Kota."

"Masih ada waktu, Yang Mulia," kata Bertuccio, 

"seandainya Tuan menghendaki saya mencari rumah lain di daerah yang lebih baik."

"Ah, tidak, biar saja," jawab Monte Cristo acuh tak acuh.

"Karena sudah jadi, saya akan memanfaatkannya."

''Tuan tidak akan menyesal," kata Notaris dengan sungguh-sungguh. 

"Rumah itu bagus sekali"

Dia menandatanganinya dengan cepat, lalu berkata kepada Bertuccio, 

"Bayarkan kepada Tuan ini lima puluh ribu frank."

Bertuccio meninggalkan ruangan dan kembali lagi dengan membawa setumpuk uang kertas. Notaris menghitungnya dengan cermat. 

"Masih ada lagi yang lain?"

"Tidak ada, Tuan." 

Count of Monte Cristo mengangguk,
Notaris membungkukkan badan lalu pergi.

"Bertuccio,” kata Count, 

"bukankah engkau pernah mengatakan pernah berkeliling di Perancis?"

"Hanya di daerah-daerah tertentu saja, Yang Mulia."

"Kalau begitu pasti engkau mengenal pula kota-kota pinggiran Paris?"

''Tidak, Yang Mulia, tidak," 

jawab Bertuccio sedikit gemetar, yang oleh Monte Cristo, seorang yang ahli menilai
perasaan manusia diartikan sebagai ketakutan.

"Sayang sekali," katanya, 

"karena aku ingin sekali melihat rumah itu malam ini juga dan berharap engkau dapat
memberikan beberapa keterangan yang penting dalam perjalanan ke Auteuil."

“Ke Auteuil?" 

Bertuccio terkejut. Warna kulit mukanya
yang kecoklat-coklatan berubah menjadi kebiru-biruan.

"Tuan menghendaki saya pergi ke Auteuil?”

"Apa yang aneh dalam hal ini? Bukankah engkau anggota rumah tanggaku?"

Bertuccio menundukkan kepala karena pandangan majikannya yang berwibawa. Ia berdiri tanpa menjawab.

"Mengapa engkau, Bertuccio? Apakah engkau bermaksud supaya aku membunyikan bel dua kali untuk memanggil keretaku?"

Bertuccio berlari ke ruang tunggu lalu berteriak dengan suara serak, 

"Kereta Yang Mulia, siapkan!"

Monte Cristo duduk lalu menulis beberapa pucuk surat. Ketika ia sedang merekat sampul surat terakhir, Bertuccio kembali. 

"Kereta telah menunggu di muka pintu, Yang
Mulia"

"Baik. Ambil topi dan sarung tanganmu."

"Apakah saya harus turut?"

'Tentu. Aku berniat tinggal di sana dan supaya aku dapat memberikan beberapa petunjuk."

Bertuccio mengikuti majikannya tanpa membantah lebih lanjut, tetapi Monte Cristo melihat bahwa langkah-langkahnya goyah ketika berjalan dan bibirnya membisikkan doa-doa ketika menduduki tempatnya dalam kereta.

Dua puluh menit kemudian mereka sudah sampai di daerah Auteuil. 

"Kita berhenti di Rue de la Fontaine No.28," 

kata Monte Cristo sambil menatap Bertuccio.

Keringat bercucuran dari dahi Bertuccio, tetapi ia tidak dapat menolak perintah. Ia mengeluarkan kepalanya lewat jendela dan berteriak kepada sais. "Berhenti di Rue de la
Fontaine No.28."

Selagi dalam perjalanan, malam telah tiba. Atau lebih tepat, awan-awan hitam yang bergelantungan di awang-awang sarat dengan bahan-bahan halilintar, memberikan suasana yang khidmat menyeramkan kepada kegelapan yang datang terlampau cepat itu. 

Kereta berhenti, dan pembantu sais meloncat turun untuk membukakan pintu. Monte Cristo dan Bertuccio turun.

"Ketuk pintu dan beritahukan kedatanganku," kata Monte Cristo.

Bertuccio mengetuk, pintu terbuka dan penjaga muncul.

"Majikanmu yang baru," 

kata pembantu sais memberikan surat dari notaris kepada penjaga pintu.

"Jadi rumah ini sudah terjual?" tanya penjaga pintu.

"Betul," jawab Monte Cristo, 

"dan aku akan berusaha agar engkau tidak mempunyai alasan untuk menyesali
kehilangan majikanmu yang lama."

"Oh, saya tidak akan begitu kehilangan, Tuan, karena boleh dikatakan kami tidak pernah melihatnya. Sudah lima tahun beliau tidak datang ke mari."

"Siapa nama majikanmu dahulu?"

"Marquis of Saint-Meran."

"Marquis of Saint-Meran ... Rasanya aku pernah mendengar nama itu."

"Seorang bangsawan tua," kata penjaga pintu,

"pendukung setia dinasti Bourbon. Beliau mempunyai seorang puteri yang menikah dengan Tuan Villefort, Jaksa Penuntut Umum di Nimes kemudian di Versailles."

Monte Cristo melirik kepada Bertuccio. Dia melihat wajah Bertuccio sudah pucat seputih dinding tempat ia bersandar untuk menjaga jangan sampai jatuh.

"Bukankah puterinya itu telah meninggal?" tanya Count. 

"Kalau tidak salah, begitulah kabar yang pernah kudengar."

"Benar, Tuan, beliau meninggal dua puluh tahun yang lalu, dan sejak itu Marquis of Saint-Meran datang ke mari tidak lebih dari tiga kali"

"Terima kasih " 

kata Monte Cristo, menyertai ucapannya
dengan memberikan dua buah uang emas yang menimbulkan ledakan kegembiraan dan serangkaian doa pada si penjaga pintu.

"Ambil salah satu lentera dari kereta, Bertuccio, dan antar aku melihat-lihat rumah ini."

Bertuccio menurut tanpa membantah, tetapi tangannya yang terus-menerus gemetar menunjukkan betapa berat tugas itu baginya.

Setelah memeriksa lantai pertama, mereka naik ke lantai kedua. Dalam sebuah ruangan tidur Monte Cristo melihat pintu yang berhubungan langsung dengan sebuah tangga
spiral. 

"Ini pintu pribadi," katanya. 

"Coba terangi, Bertuccio, kita akan melihat ke mana arah tangga ini."

"Ke kebun, Tuan."

"Bagaimana engkau mengetahuinya, kalau boleh aku bertanya?"

"Saya maksud, barangkali, Tuan."

"Mari kita buktikan."

Bertuccio mengeluh keras, lalu berjalan di muka. Tangga itu benar menuju ke kebun. Ketika ia sampai di pintu keluar Bertuccio berhenti, pikirannya kacau-balau, bahkan hampir pingsan.

"Mengapa?" tanya Count

"Tidak, Tuan, maaf,” setengah menangis. 

"Saya tidak sanggup terus!"

"Apa maksudmu?" tanya Monte Cristo dingin.

"Aneh sekali, Tuan. Dari sekian banyak kota pinggiran di Paris, Tuan memilih Auteuil, dan dari sekian banyak rumah di Auteuil, Tuan membeli rumah di Rue de la Fontaine No.28. Seperti tidak ada lagi rumah lain kecuali yang ini, di mana pernah terjadi pembunuhan!"

"Engkau ini benar-benar orang Corsica tulen, Bertuccio. Selalu penuh rahasia dan takhayul! Ayo terus, ambil lentera itu dan mari kita periksa kebun itu."

Bertuccio memungut lentera dan menurut. Monte Cristo berhenti di dekat serumpun pepohonan. Bertuccio sudah tidak dapat menahan dirinya lagi. 

"Jangan berdiri di sana, Tuan. Saya mohon dengan sangat. Tuan berdiri tepat di tempat yang sama."

"Tempat apa?"

"Tempat di mana ia terjatuh."

"Aku khawatir engkau menjadi gila, Bertuccio. Coba tenangkan dirimu dan terangkan apa sebenarnya yang engkau maksud."

"Seumur hidup baru sekali saya menceriterakannya," jawab Bertuccio, 

"dan itu kepada Padri Busoni. Hal demikian
hanya dapat diungkapkan dalam pengakuan dosa saja, Tuan."

"Kalau demikian, Bertuccio, aku terpaksa mengembalikanmu kepada penerima pengakuan dosamu. Aku tidak menyukai anggota rumah tanggaku yang takut masuk ke
kebun rumahku di malam hari. Juga, harus kukatakan bahwa aku tidak akan merasa senang harus menerima kedatangan polisi yang akan menangkapmu. Aku tahu bahwa
engkau pernah menjadi penyelundup, tetapi tidak pernah tahu bahwa masih ada kejahatan lain yang menghantuimu.

Engkau, terpaksa kuberhentikan, Bertuccio."

"Oh, Yang Mulia!" Bertuccio menangis. 

"Bila imbalannya saya boleh tetap bekerja pada Tuan, saya bersedia berbicara. Saya akan menceriterakan segalanya."

"Soalnya menjadi lain, kalau begitu," kata Monte Cristo.

"Tetapi harap diingat, kalau engkau bermaksud bohong, lebih baik tidak berbicara sama sekali."

"Tidak, Tuan, saya bersumpah demi keselamatan roh saya bahwa saya akan mengatakan seluruhnya menurut apa yang sebenarnya. Dari manakah saya harus mulai?"

"Sekehendakmu, karena aku tidak mengetahui apa-apa tentang apa yang akan kaukatakan itu."

"Saya kira Padri Busoni telah menceriterakannya kepada Tuan."

"Benar, tetapi hanya sedikit sekali, lagi pula itu terjadi tujuh atau delapan tahun yang lalu sehingga aku sudah hampir lupa semuanya."

"Semua ini mulai terjadi dalam tahun 1815. Seluruhnya masih jelas dalam ingatan saya seakan-akan baru terjadi kemarin. Saya mempunyai seorang kakak laki-laki yang menjadi anggota tentara Napoleon. 

Pangkatnya letnan dalam resimen yang semuanya terdiri dari orang-orang Corsica. 
Kakak itu merupakan satu-satunya orang yang terdekat kepada saya, katakanlah satu-satunya sahabat. Kami telah menjadi yatim-piatu ketika saya berumur lima tahun.

Dialah yang membesarkan saya sebagai anaknya sendiri. Dia kawin dalam tahun 1814 waktu Perancis masih dikuasai keluarga Bourbon. Ketika Napoleon kembali dari Pulau
Elba dia kembali menggabungkan diri. Pada suatu hari saya menerima surat darinya. Saya lupa mengatakan bahwa kami tinggal di sebuah desa kecil di Corsica. 

Surat itu mengabarkan bahwa pasukan Napoleon telah dibubarkan dan ia sedang dalam perjalanan kembali melalui Chateauroux, Clermont-Ferrand, Le Puy dan Nimes. Dia meminta agar saya mengirimkan sejumlah uang ke Nimes kepada seorang pemilik hotel yang telah ada hubungan usaha dengan saya, dan dia akan menjemputnya
di sana."

"Apakah dalam usahamu itu termasuk penyelundupan?" Monte Cristo menyela. 

"Kami harus makan, Tuan."

"Ya, ya, tentu saja. Teruskan,"

"Saya sangat mencintai kakak saya, seperti saya katakan tadi. Sebab itu saya memutuskan untuk mengantarkan uang itu sendiri. Waktu itu saya mempunyai seribu frank.

Setengahnya saya tinggalkan untuk ipar saya, Assunta, lalu berangkat ke Nimes dengan membawa yang setengahnya lagi”.

"Waktu itu bertepatan sekali dengan terjadinya pembunuhan besar-besaran yang tersohor di Perancis Selatan.

Gerombolan pembunuh yang diatur rapi membunuh setiap orang yang dicurigai pernah menjadi pengikut Napoleon Bonaparte. 

Seakan-akan saya harus mengarungi lautan
darah ketika saya memasuki Nimes. Mayat bergelimpangan di mana-mana. Para pembunuh merampok dan membakar rumah-rumah. Melihat itu hati saya cemas, tidak untuk diri sendiri karena saya hanyalah seorang nelayan Corsica sederhana, tetapi untuk kakak saya dan masih mengenakan seragam Napoleon.

Saya berlari menemui pemilik hotel. Ketakutan saya memang terbukti. Kakak saya datang ke Nimes malam sebelumnya dan dibunuh tepat di muka pintu hotel. Saya lakukan apa yang mungkin dilakukan untuk menemukan
pembunuhnya, tetapi orang-orang di sana begitu takut sehingga tak seorang pun berani mengatakan nama-nama pembunuh. 

Lalu saya menghadap Jaksa Penuntut Umum,
namanya Villefort Dia berasal dari Marseilles dan belum lama diangkat menjadi jaksa di sana. Orang-orang Nimes mengatakan bahwa jaksa itulah yang paling dahulu memberi kabar kepada raja tentang penyerangan kembali Napoleon dari Elba.

''Kakak saya dibunuh kemarin,'' saya laporkan kepadanya.

''Saya tidak tahu siapa pelakunya, dan itu adalah kewajiban Tuan untuk menemukannya.''

''Siapa kakakmu itu?'' Villefort bertanya.

''Letnan dalam resimen Corsica.’'

“Tentara Napoleon, kalau begitu.''

“Tentara Perancis.”

''Setiap revolusi membawa bencana,” kata Villefort, 

"dan kakakmu merupakan seorang korban dari bencana itu, yang tentu saja kita sesalkan. Seandainya Napoleon tetap berkuasa, lalu pejuang-pejuangnya membunuh pejuang-pejuang kerajaan, dan setiap pembunuh harus dihukum, maka kakakmu juga harus dihukum mati. 

Apa yang terjadi sekarang adalah hal yang wajar. Begitulah hukum balas dendam.''

Saya terperanjat. 

''Bagaimana, sebagai seorang petugas
hukum, Tuan dapat berkata begitu?’'

''Kalian orang Corsica gila semua,’' kata Villefort. 

"Kau bermimpi teman senegrimu itu masih jadi kaisar. Seharusnya engkau datang dua bulan yang lalu. Sekarang sudah terlambat.

Tinggalkan tempat ini, kalau tidak, aku akan
perintahkan melemparmu ke luar.”

''Baik,'' kata saya kepadanya, 

''karena ternyata Tuan mengenal orang Corsica dengan baik, Tuan tentu mengetahui pula bagaimana mereka memegang teguh ucapannya.

Tuan berpikir bahwa kakak saya patut dibunuh karena dia seorang Bonapartis dan Tuan seorang kaum kerajaan. Saya pun seorang Bonapartis, dan saya hanya akan mengatakan
vendetta terhadap Tuan. Dalam pertemuan kita yang berikut, berarti bahwa detik-detik terakhir untuk Tuan telah tiba'." 

Lalu melanjutkan, 

"Sebelum dia pulih dari keterkejutannya saya membuka pintu dan berlari ke luar."

"Apa?" 

kata Monte Cristo. 

"Dengan wajah jujurmu seperti ini, kau berani mengatakan kata-kata itu kepada seorang
jaksa? Dan mengertikah ia apa arti kata vendetta?”

"Dia mengerti betul sehingga sejak saat itu dia tidak pernah lagi berjalan tanpa pengawal dan dia meminta polisi mencari saya di mana-mana. Untung sekali saya mempunyai tempat persembunyian yang baik sehingga tidak pernah diketemukan. 

Akhirnya ia merasa takut tinggal di Nimes febih lama lagi. Dia mengajukan permohonan pindah dan karena ia orang yang berpengaruh, dia diangkat menjadi jaksa di Versailles. Tetapi, seperti Tuan ketahui, tidak ada jarak yang terlalu jauh bagi seorang Corsica yang telah mengikrarkan vendetta yang berarti sumpah
membalas dendam. 

Dalam perjalanan ke Versailles saya selalu berada dalam jarak setengah jam perjalanan di
belakang keretanya Yang terpenting dalam urusan ini bukan membunuhnya — saya telah mempunyai kesempatan lebih dari selusin kali
— tetapi membunuhnya tanpa diketahui atau ditangkap.

Hidup saya bukan milik saya sendiri lagi karena saya mempunyai seorang kakak ipar yang harus diurus dan dilindungi.

Saya mengawasi Villefort terus-menerus selama tiga bulan. Akhirnya saya mengetahui bahwa ia sering mengadakan perjalanan rahasia ke Auteuil ke rumah yang ini. Dia tidak pernah masuk melalui pintu depan. Selalu dia
meninggalkan kuda atau keretanya di kedai dan masuk rumah ini melalui pintu kecil yang Tuan lihat itu.

Saya meninggalkan Versailles pindah ke Auteuil, karena berpendapat akan mempunyai kesempatan yang lebih baik di sini. Saya temukan juga bahwa rumah ini milik Marquis
Saint-Meran, dan bahwa Marquis itu mertua Villefort. Karena Marquis itu tinggal di Marseilles, rumah ini disewakan kepada seorang janda baion yang hanya dikenal dengan sebutan bareness' saja.

Pada suatu malam ketika saya mengintip lewat benteng, saya melihat seorang wanita cantik berjalan-jalan dalam kebun. Seketika itu juga saya lihat bahwa dia sedang hamil tua. Tak lama kemudian pintu kecil itu terbuka dan seorang laki-laki masuk. Wanita itu berlari menjemputnya. Mereka berpelukan dengan mesranya lalu bergandengan masuk ke dalam rumah. Laki-laki itu Tuan de Villefort. Segera
terpikir oleh saya bahwa kalau nanti ia pulang, mungkin sekali ia akan melalui kebun lagi sendirian."

"Berhasilkah engkau mengetahui nama wanita itu?"

"Tidak, Tuan. Nanti Tuan akan dapat memahami bahwa saya tidak sempat menyelidikinya."

"Teruskan."

"Sebenarnya saya dapat membunuhnya pada malam itu, tetapi saya belum mengenal betul keadaan kebun itu sehingga takut tidak akan dapat melarikan diri seandainya dia sempat berteriak meminta tolong.

Tiga hari kemudian, kira-kira jam tujuh malam, saya melihat seorang pelayan meninggalkan rumah itu cepat-cepat dengan naik kuda. Dia kembali tiga jam kemudian, badannya penuh debu. Sepuluh menit setelah itu, seorang
laki-laki lain membuka pintu kebun lalu masuk ke dalam.

Saya tidak melihat wajahnya, tetapi saya yakin orang itu Villefort karena jantung saya berdetak lebih keras dan seakan-akan seperti ingin memberitahukannya. Saya mencabut pisau dan masuk ke kebun dengan menaiki benteng. Lalu saya bersembunyi di balik semak-semak yang saya perhitungkan akan dilalui Villefort pada waktu dia pulang.

Sesudah menunggu dua jam baru Villefort keluar. Saya melihat dia membawa sesuatu yang pada mulanya saya sangka sebuah senjata atau semacamnya. Nyatanya hanya
sebuah singkup; dia berhenti dekat semak-semak tempat saya bersembunyi dan mulai membuat lubang di tanah. Ia melepaskan jasnya dan sesuatu yang dibawa di balik jas itu
untuk memberikan keleluasaan bergerak. 

Kebencian saya bercampur dengan keinginan tahu. Sebab itu Saya menunggu dan melihat apa yang hendak dilakukannya.

Beberapa saat kemudian dia mengambil sebuah peti berukuran sedang dari bawah jasnya tadi, lalu menguburnya. Sehabis itu saya menyergapnya, menikamkan pisau pada
dadanya sambil berteriak, 'Giovani Bertuccio, Kematianmu buat kakakku dan hartamu buat istrinya! Pembalasanku ternyata lebih sempurna daripada yang aku perkirakan.

Saya tidak tahu, apakah ia mendengar kata-kata saya itu atau tidak. Saya kira tidak, karena ia langsung rebah tanpa berkutik. Saya menggali kembali lubang itu kemudian lari
membawa peti melalui pintu kebun."

"Banyakkah isi peti itu?" tanya Monte Cristo.

"Ternyata isinya bukan uang, Yang Mulia. Saya berlari sampai di sebuah sungai. Di tepinya saya membuka peti. Yang saya dapatkan seorang bayi yang baru dilahirkan.
Mukanya yang kebiru-biruan menunjukkan ia hampir mati seperti tercekik, tetapi saya masih dapat merasakan denyut jantungnya yang sudah lemah sekali. 

Saya menghembuskan udara ke dalam paru-parunya lewat mulutnya dan seperempat
jam kemudian dia menangis. Saya sendiri pun
menangis, tetapi karena gembira 'Tuhan tidak mengutuk, saya katakan kepada diri sendiri, " 

buktinya Dia memperkenankan saya memberikan hidup kepada seorang manusia sebagai pengganti hidup yang saya renggut dari manusia lain.''

Dari kain halus yang membungkus badannya, jelas bahwa orangtuanya termasuk golongan kaya. Pada kain itu tersulam dua buah huruf. Saya menyobeknya menjadi dua bagian sedemikian, rupa sehingga pada tiap bagian terdapat satu huruf. Satu bagian saya ambil. Kemudian saya meletakkan bayi itu di muka pintu sebuah rumah yatim-piatu, membunyikan lonceng pintunya lalu lari secepat-cepatnya. 

Dua minggu kemudian saya sudah kembali di Rogliano, desa kami di Corsica. Kalimat pertama yang saya katakan kepada Assunta adalah, 'Semoga terhiburlah engkau, Israel
telah mati, tetapi saya telah membalas kematiannya.' Lalu saya ceritakan segala yang telah terjadi..

'Giovani,' kata Assunta, 

"sebaiknya kauambil kembali bayi itu. Kita harus menjadi orang tuanya dan kita akan
menamakan dia Benedetto sebagai peringatan terhadap karunia yang diberikan Tuhan kepada kita.''

Satu-satunya jawaban saya kepada permintaannya ini, menyerahkan potongan kain pembalut kepadanya yang sengaja saya bawa dengan maksud sebagai bukti untuk meminta
kembali bayi itu nanti apabila kami sudah cukup kaya,"

"Huruf-huruf apa yang tersulam pada kain itu?" tanya Monte Cristo.

"Huruf H dan N yang masing-masing di atasnya dibubuhi mahkota kebangsawanan."

"Aku ingin sekali mengetahui tentang dua soal."

"Yaitu?"

"Bagaimana kejadiannya dengan anak laki-laki itu - tadi kau katakan bayi itu laki-laki, bukan?"

"Tidak, Yang Mulia, saya rasa tidak mengatakan demikian. Tetapi memang, anak itu laki-laki. Dan soal yang lain?"

"Aku ingin mengetahui kejahatan apa yang dituduhkan kepadamu ketika engkau meminta seorang padri untuk menerima pengakuan dosamu di penjara di Nimes. Yang datang Padri Busoni, bukan?"

"Kisahnya agak panjang, Yang Mulia.'."

"Tidak apa. Sekarang baru jam sepuluh. Seperti kau tahu, aku tidur sedikit sekali dan aku kira sekarang ini engkau pun belum mau tidur."

Bertuccio mengangguk lalu meneruskan ceriteranya.

"Sebagian karena ingin mengenyahkan bayangan balas dendam yang terus saja menghantui dan sebagian lagi dengan maksud mencukupi kebutuhan janda Israel, saya kembali kepada kegiatan penyelundupan dengan semangat yang lebih besar daripada yang sudah-sudah. Karena kakak saya
terbunuh di Nimes saya tidak pernah mau kembali ke kota itu. Akibatnya, hubungan kami dengan pemilik penginapan di Nimes terputus. 

Akhirnya dia yang menghubungi kami dan membuka sebuah penginapan baru dengan nama Pont du Garde, terletak di jalan antara Bellegarde dan Beaucaire.

Kami mempunyai kurang lebih selusin tempat semacam itu, tempat kami menyimpan barang-barang dan menyembunyikan dari pemeriksaan bea cukai dan polisi, kalau perlu.

Suatu hari saya harus berangkat lagi. Assunta berkata kepada saya, 'kalau kau kembali nanti saya mempunyai sesuatu bagimu.' Saya tanya apa itu, tetapi dia tidak mau mengatakannya. 

Ketika saya pulang enam minggu kemudian,
barang pertama yang saya lihat di rumah adalah sebuah ranjang bayi dengan bayi di dalamnya. Rupanya selama saya bepergian itu Assunta telah pergi ke Paris dan meminta
bayi itu Saya mengakui, Yang Mulia, bahwa ketika saya melihat mahluk kecil tak berdaya itu tidur dengan lelap di ranjangnya, seakan-akan dada saya mengembang dan air mata berlinang. Saya katakan kepada Assunta, 'Baik sekali engkau, Assunta. Semoga Tuhan memberkahimu.'

Tetapi, rupanya dengan memilih anak itu Tuhan bermaksud menghukum saya. Belum pernah saya menemukan watak yang lebih buruk pada anak semuda dia. Walaupun demikian, tak seorang pun dapat mengatakan bahwa itu
disebabkan karena pendidikannya, sebab Assunta telah memperlakukannya seperti anak seorang pangeran. 

Ketika ia berumur sebelas tahun kawan-kawan bergaulnya adalah orang-orang yang berumur antara delapan belas dan dua puluh tahun yang telah sering melakukan perbuatan yang tidak senonoh dan telah sering pula diperingatkan oleh polisi. 

Suatu saat, saya harus pergi lagi untuk suatu perjalanan yang penting. Setiap kali kami memperbincangkan Benedetto, Assunta selalu melindunginya, sekalipun dia mengakui bahwa ia sering kehilangan uang dalam jumlah yang
cukup besar. Saya menunjukkan suatu tempat di mana ia dapat menyembunyikan harta kami yang tak seberapa banyak itu. Lalu saya berangkat ke Perancis.

Kami bermaksud menurunkan muatan di Teluk Lyon. Pada waktu itu tahun 1829. Usaha penyelundupan sudah semakin sukar. Ketertiban sudah mulai kokoh dan patroli-patroli dilakukan dengan lebih cermat dan ketat dibandingkan dengan sebelumnya.

Pada permulaannya operasi kami berjalan dengan lancar. Kami menambatkan kapal kami yang berdasar dua lapis di antara kapal-kapal lain yang berjejer sepanjang kedua tepi Sungai Rhone. Di sana kami menurunkan muatan lalu
meneruskannya ke kota oleh sekutu-sekutu kami. 

Mungkin karena keberhasilan, kami kurang waspada atau mungkin juga karena ada yang berkhianat, pada suatu saat ketika kami hendak makan, pelayan kabin kapal kami datang berlari memberitahukan bahwa sepasukan petugas bea cukai dan polisi sedang bergerak menuju ke tempat kami, Kami
semua serentak berdiri, tetapi terlambat, kapal sudah dikepung.

Saya berlari ke ruang bawah, menyelinap ke luar melalui jendela bundar lalu berenang di bawah permukaan air sampai ke sebuah terusan kecil yang menghubungkan Sungai Rhone dengan terusan lain yang mengalir dari
Beaucaire ke Aigues-Mortes. 

Bukan kebetulan saya memilih jalan ini. Saya rasa. Yang Mulia, saya sudah menceriterakan tentang orang dari Nimes yang membuka
penginapan di jalan antara Beaucaire dan Bellegarde."

"Siapa nama orang itu?" tanya Monte Cristo yang kelihatannya mulai menaruh perhatian kepada kisah Bertuccio.

"Caspard Caderousse. Ia seorang yang berbadan tegap sekitar empat puluhan yang telah beberapa kali membuktikan keberanian dan ketabahannya dalam keadaan-keadaan
yang gawat" 

"Kau katakan tadi tahun 1829," kata Count. 

"Masih ingat bulannya?"

"Juni. Tanggal tiga Juni."

"Juni tanggal tiga tahun 1829. Ya. Teruskan lagi."

"Saya bermaksud bersembunyi di penginapan Caderouse. Dalam keadaan biasa pun kami tidak pernah masuk penginapan itu melalui pintu depan. Apalagi waktu itu karena saya khawatir mungkin saja ada tamu-tamu yang
menginap. Saya menyelinap masuk melalui pagar kebun dan segera sampai di sebuah kamar kecil. 

Telah sering saya tidur di tempat itu apabila saya tidak mendapatkan ranjang yang lebih baik. Kamar itu terpisah dari bangunan induknya dengan dihalangi sebuah dinding kayu. Pada dinding itu dibuat beberapa lubang pengintip untuk melihat kesempatan yang baik untuk memberitahukan kehadiran
kami kepada Caderousse. Dari lubang itu saya melihat Caderousse masuk bersama seorang yang tidak saya kenal.

Saya diam dan menunggu.

Rupanya tamu Caderouse itu seorang jauhari yang hendak menjual perhiasan di pasar malam Beaucaire.

"Padri itu tidak menipu,'' kata Caderousse kepada isterinya.

''Intan ini asli, dan Tuan ini, salah seorang jauhari termashur dari Paris, bersedia membayar lima puluh ribu frank. Tetapi
untuk meyakinkan bahwa intan ini benar milik kita, beliau ingin sekali mendengar dari engkau bagaimana kisahnya sampai jatuh ke tangan kira. Sementara itu, Tuan, silakan duduk dan saya akan mengambil minuman untuk pelepas
dahaga.'' 

'Silahkan ceriterakan, Nyonya,' kata Jauhari itu. 

Jelas sekali ia ingin memanfaatkan ketidak hadiran Caderousse untuk memperbandingkan ceriteranya dengan ceritera isterinya. 

'Yah,' kata Nyonya Caderousse, 

'ini benar-benar merupakan rejeki dari langit yang sama sekali di luar dugaan. Empat belas tahun yang lalu suami saya mengenal seorang
pelaut bernama Edmond Dantes yang karena sesuatu sebab dipenjarakan. Dalam penjara itu ia bertemu dengan seorang Inggris kaya yang memberinya sebuah intan ketika orang Inggris itu dibebaskan. Dantes tidak beruntung, karena ia mati dalam penjara. Sebelum ia meninggal dia mewariskan intan ini kepada kami dan meminta padri yang tadi pagi datang ke mari menyampaikannya kepada kami "

'Ceritera Nyonya sama dengan apa yang dikatakan suami Nyonya,' kata Jauhari Itu, 

‘dan saya kira ceritera itu benar, meskipun selintas terdengar tidak masuk akal. Sekarang
yang harus kita bicarakan soal harganya.'

'Apa!' kata Caderousse. 

'Saya kira kita sudah setuju dengan harga yang saya minta!'

'Saya menawar empat puluh ribu.’

'Empat puluh ribu'. kata Nyonya Caderousse. 

'Kami takkan melepaskannya untuk harga itu. Padri itu mengatakan harganya lima puluh ribu.”

'Saya hanya berani sampai empat puluh lima ribu, tidak lebih.'

“Tak apa,'  kata Caderousse, 

'kami akap menjualnya kepada orang lain.'

"Silakan. Seperti Tuan lihat, saya sudah membawa uangnya.' Dia mengeluarkan segulung uang kertas dan segenggam emas murni yang berkilauan di hadapan mata Caderousse. Caderousse bimbang Dia menoleh kepada isterinya dan berbisik,

'Bagaimana pendapatmu?’

'Berikan saja,” jawabnya. 

'Kalau tidak, mungkin ia mengadukan kita dan kita tidak akan dapat menemui kembali padri itu untuk membenarkan keterangan kita.'
'Begitulah,' kata Caderousse kepada Jauhari, 

'silakan ambil intan ini untuk empat puluh lima ribu frank.' 

Jauhari itu membayar lima belas ribu rank dengan emas dan tiga puluh ribu lagi dengan uang kertas.

'Tunggu sebentar, saya akan rnengambil lampu” kata Nyonya Caderousse. 

"Sudah agak gelap dan jangan sampai kita membuat kesalahan.” 

Sementara mereka berunding hari makin malam, dan bersamaan dengan itu awan mendung yang telah mengancam semenjak setengah jam yang lalu, meledak menjadi hujan angin yang lebat. 

Tetapi ketiga orang itu seakan-akan tidak memperdulikannya,

'Sudikah Tuan makan malam di sini?” tanya Caderousse.

“Terima kasih, saya harus segera kembali ke Beaucaire. Istri saya mungkin sudah gelisah.'

“Tuan mau pulang dalam cuaca seburuk ini?' tanya Caderousse,

'Saya tidak takut halilintar”

'Bagaimana terhadap penyamun? Kalau ada pasar malam biasanya jalan kurang aman.'

'Untuk para penyamun,' jawab Jauhari, 

"saya sediakan ini.' Dia memperlihatkan dua pucuk pistol.

'Kalau begitu,' kata Caderousse, 'selamat,jalan.”

”Terima kasih.” 

Jauhari itu mengambil tongkatnya lalu membuka pintu. Berbarengan dengan pintu terbuka angin yang keras sekali bertiup ke dalam hampir memadamkan
lampu.

'Wali, dan saya harus menempuh jarak satu kilometer dalam cuaca begini” Jauhari itu menjadi ragu-ragu.

'Menginap saja di sini,” kata Caderousse.

'Betul Tuan, menginap saja,' sambung istrinya. 

'Jangan khawatir, kami akan menyediakan semua keperluan Tuan.'

Tidak, saya mesti kembali malam ini juga ke Beaucaire.

Selamat malam.’

'Mengapa engkau menahan?' tanya istrinya ketika tamunya telah pergi.

'Mengapa, supaya dia tidak kembali ke Beaucaire malam ini,' jawab Caderousse terkejut mendengar pertanyaan itu.

’Oh, aku kira ada maksud lain,’

'Apa sebab engkau berpikir begitu?' tanya Caderousse keras.

 'Kalau engkau punya maksud lain, tak usah aku diberi tahu. Tahukah engkau, pikiranmu itu menentang Tuhan.’

Guntur menggelegar dan kilat bercahaya. Suara guruh melemah lalu hilang seakan-akan menyesal harus meninggalkan rumah terkutuk itu. Nyonya Caderousse membuat tanda salib di dadanya. Di tengah-tengah kesunyian yang biasa menyusul sebuah guruh, terdengar orang mengetuk pintu. Mereka terkejut, lalu berpandangan satu sama lain.

'Siapa!' Caderousse berteriak, sambil menyembunyikan uang yang terletak di meja dengan tangannya.

'Joanes, Jauhari.'

'Kaukatakan aku menentang Tuhan,' kata istrinya,

'sekarang ternyata Tuhan mengembalikan dia kepada kita!’

Caderousse menjadi pucat dan merebahkan dirinya ke kursi. Dengan langkah-langkah yang pasti istrinya berjalan ke pintu dan membukanya.

 'Silakan duduk, Tuan.'

'Rupanya setan tidak menghendaki aku pulang ke Beaucaire malam ini,' kata Jauhari yang sudah basah kuyup.

'Saya terima tawaran untuk menginap di sini, Tuan Caderousse.’

Caderousse menggumamkan kata-kata yang tidak jelas dan mengusap keringat yang mengucur di dahinya. Istrinya menutup kembali pintu,

"Apakah ada tamu-tamu lain?'

‘Tidak ada.’

'Mudah-mudahan saya tidak menyusahkan kalian.'

"Menyusahkan? Sama sekali tidak, Tuan’ kata istri Caderousse seperti gembira. 

Caderousse memandang istrinya dengan perasaan heran.

Sementara Joanes memanaskan badannya di muka perapian, istri Caderousse menyediakan sisa-sisa makanan malam itu di meja, menambahnya dengan dua tiga butir telur
segar. 

'Nah” 

katanya sambil menaruh botol anggur di meja,

'Silakan makan kalau Tuan sudah siap’ Jauhari duduk untuk makan dan Nyonya Caderousse melayaninya dengan penuh perhatian. Setelah dia, selesai makan, istri Caderousse berkata, Tuan mesti rnerasa lelah, kamar telah saya siapkan. Silakan naik dan selamat tidur.' 

Jauhari Joanes masih duduk-duduk selama seperempat jam menunggu kalau kalau hujan mereda. Hujan bahkan bertambah deras. 

Akhirnya dia naik ke kamarnya. Nyonya
Caderousse mengikutinya dengan pandangan penuh perhatian, sedangkan Caderousse sendiri memunggunginya.

Hal-hal kecil ini saya ingat kembali kemudian, padahal pada saat-saat terjadinya tidak mempunyai arti apa-apa bagi saya. Kecuali soal intan, yang lainnya saya anggap sebagai
wajar saja. Karena saya merasa lelah saya bermaksud tidur untuk beberapa jam untuk kemudian berangkat lagi nanti tengah malam. 

Saya sedang tidur lelap ketika terbangunkan oleh suara pistol yang disusul dengan teriakan yang mengerikan. Lalu terdengar suara orang mengerang dibarengi suara gedebag-gedebug
seperti orang sedang berkelahi. Teriakan melengking yang sangat mengerikan menyebabkan saya terjaga betul-betul.

Keadaan sunyi kembali. Kemudian saya mendengar langkah orang menuruni tangga, masuk ke lantai bawah berjalan mendekati perapian dan menyalakan lilin, Caderousse. 

Mukanya pucat dan bajunya berlumuran
darah. Dia naik lagi ke atas, membawa lilin itu dan tak lama kemudian turun lagi dengan intan di tangannya. Dia membungkusnya dengan saputangan merah yang melilit di lehernya. 

Sesudah itu dia membuka lemari, mengambil
uang dan emas, lalu lari ke luar dan menghilang dalam kegelapan.

Saya mengerti benar apa yang telah terjadi. Saya menyesali diri seakan-akan sayalah yang berdosa. Dalam kesunyian itu saya mendengar orang mengerang. Mungkin Jauhari itu masih hidup. Saya mendorong dinding pemisah ruangan dengan balm dan dinding itu bergeser cukup lebar untuk saya lalui. Saya mengambil lilin yang masih menyala yang ditinggalkan Caderousse lalu menaiki tangga ke ruang atas,
tetapi tangga itu terhalang oleh sesosok tubuh. 

Ternyata mayat Nyonya Caderousse. Pistol itu diarahkan kepadanya Saya melangkahi tubuhnya dan masuk ke dalam kamar. Keadaan kamar acak-acakan. Jauhari yang malang itu
tergeletak di lantai dalam gelimangan darah yang memancar dari luka-lukanya di dada. 

Sebuah pisau dapur masih menancap di dadanya. Yang kelihatan hanya gagangnya saja. Saya mengambil pistolnya yang sebuah
lagi. Ternyata mesiunya basah. Dia belum mati. Mendengar langkah saya dia membuka matanya, menggerakkan bibirnya seakan-akan hendak mengatakan sesuatu, lalu mati.

Keadaan yang mengerikan itu mengacaukan pikiran saya. Karena sudah tak ada lagi yang dapat saya lakukan, hanya tinggal sebuah lagi keinginan saya lari. Saya berlari menuruni tangga, sambil memegang kepala dengan kedua belah tangan.

Ternyata di bawah telah ada enam orang pejabat bea cukai dan dua orang serdadu. Mereka menangkap saya. Saya sangat terkejut hingga tak berdaya melawan. Saya mencoba berbicara tetapi tak sepatah pun keluar dari mulut saya, kecuali suara-suara tak menentu. 

Akhirnya saya mencoba melepaskan diri dari pegangan mereka sambil berteriak. 'Aku tidak melakukannya! Aku tidak melakukannya!'

Kedua serdadu itu mengarahkan bedilnya kepada saya sambil berkata, 'Kalau bergerak kau-mati Kau dapat menceritakan soalmu kepada hakim di Nimes nanti.'

Mereka memborgol saya dan mengikatkan saya kepada buntut-kuda mereka dan membawa saya ke Nimes. 

Rupanya saya diikuti oleh seorang pejabat pabean yang seterusnya kehilangan jejak saya di penginapan itu. Karena memperhitungkan saya akan menginap di sana dia kembali
dahulu meminta bantuan. Mereka datang tepat ketika pistol Caderousse meletus, dan menangkap saya di tengah-tengah bukti yang seketika itu juga saya pahami betapa akan memberatkannya nanti di pengadilan. 

Satu-satunya harapan saya, meminta kepada hakim agar mencari Padri Busoni yang namanya saya dengar tadi dari suami istri Caderousse. Bila ceritera Caderousse itu hanya karangan belaka, kalau padri itu merupakan tokoh khayal belaka, saya betul-betul akan
celaka, kecuali kalau Caderousse sendiri tertangkap dan mengakui semua perbuatannya.

Dua bulan berlalu, dan selama itu berkat kesediaan hakim, semua usaha dijalankan untuk menemukan Padri Busoni. Dan pada tanggal delapan September, lima hari sebelum hari pengadilan Padri Busoni datang ke sel saya.

Tuan dapat memahami betapa gembira hati saya ketika itu. Saya ceriterakan semua yang saya lihat dan dengar dalam penginapan itu, dan bertentangan sekali dengan sangkaan
saya Padri Busoni membenarkan semua ceritera Caderousse. 

Pada saat itulah, setelah saya mendapat keyakinan akan perhatian dan pengertian beliau, didorong pula oleh harapan beliau dapat memaafkan satu-satunya
kejahatan yang telah saya perbuat, saya menceriterakan di bawah sumpah pengakuan dosa, dan semua kejadian di Auteuil.

Pengakuan dosa yang secara spontan itu, rupanya meyakinkan beliau bahwa saya tidak bersalah dalam tuduhan yang sekarang. Beliau berjanji akan berusaha sedapat dapatnya untuk meyakinkan hakim bahwa saya
tidak berdosa.

Saya melihat bukti usaha padri itu ketika sidang pengadilan diundurkan. Dan sementara Caderousse berhasil ditangkap di sebuah negri asing dan dikembalikan ke Perancis. Dia mengakui semua perbuatannya tetapi bersikeras bahwa gagasan pembunuhan itu berasal dari istrinya. Dia dihukum kerja paksa seumur hidup dan saya dibebaskan."

"Lalu engkau mengunjungiku dengan surat dari Padri Busoni itu?" tanya Monte Cristo.

"Betul, Yang Mulia. Rupanya beliau sangat memperhatikan keadaan saya. 

''Penyelundupan akan menghancurkan
engkau,' kata beliau kepada saya. 'Jangan dilakukan lagi kalau engkau nanti bebas.' 'Tetapi bagaimana saya dapat menghidupi ipar saya?' saya bertanya, 

''Salah seorang yang penah bertobat kepadaku dan sangat menghargaiku, meminta tolong mencarikan seorang yang dapat dipercaya untuk menjadi pengurus rumah tangga. Kalau engkau berhasrat aku mau memberikan surat perkenalan, asal saja engkau bersumpah tidak akan mengecewakan aku.’

Saya mengangkat tangan untuk bersumpah, tetapi beliau mencegah, 'tidak perlu, aku cukup mengenal watak orang Corsica dan aku menyukai mereka’ Beliau menulis surat yang saya serahkan kepada Tuan dahulu. Yang Mulia.

Bolehkah sekarang saya bertanya, Yang Mulia, apakah Tuan mempunyai alasan untuk merasa kecewa terhadap saya?”

"Tidak," jawab Count of Monte Cristo, 

"dengan senang hati dapat kukatakan bahwa engkau seorang yang setia, Bertuccio, meskipun engkau masih kekurangan kepercayaan kepadaku."

"Saya?"

"Ya, engkau. Mengapa engkau tidak pernah mengatakan mempunyai seorang kakak ipar dan seorang anak angkat?"

"Ah, Yang Mulia, saya masih belum menceriterakan bagian yang paling pahit. Saya kembali ke Corsica, tetapi ketika tiba, rumah berada dalam suasana berkabung. Ada
kejadian yang sangat getir yang tidak akan pernah dapat dilupakan oleh tetangga-tetangga saya. Assunta menuruti nasihat saya, menolak permintaan Benedetto agar ia menyerahkan semua uang yang ada di rumah. 

Pada suatu hari dia mengancam Assunta, lalu menghilang sehari itu. Assunta menangis, karena walaupun bagaimana ia mempunyai hati seorang ibu sejati. Pada jam sebelas malam Benedetto kembali dengan dua orang kawannya Mereka menangkap Assunta. Salah seorang di antara mereka.. 

--saya selalu bergidik kalau terpikir bahwa mungkin Benedetto sendiri yang melakukannya — berkata, 'Kita siksa dia supaya menunjukkan tempat menyembunyikan uang itu!’

Wasilop, tetangga saya, sedang berada di Bastia ketika Itu, tetapi istrinya di rumah sendirian. Dialah satu-satunya orang yang melihat dan mendengar apa yang terjadi di rumah kakak ipar saya itu. Dua orang anak muda itu memegangi Assunta dan yang seorang lagi mengunci pintu dan jendela.

Dengan tidak menghiraukan jeritan ketakutan
Assunta mereka mengangkat kaki Assunta ke atas api.

Dalam usaha melepaskan diri, baju Assunta terbakar, dan mereka melepaskannya karena takut turut terbakar. Assunta diketemukan esok paginya, setengah terbakar tetapi masih
bernafas. Lemari telah dibongkar dan uangnya telah tiada.

Sejak itu Benedetto meninggalkan Rogliano dan tidak pernah kembali lagi. Saya sendiri pun tidak’pernah lagi melihat atau mendengar kabar tentang dia. Setelah mendengar
kejadian yang sangat menyedihkan inilah saya datang kepada Tuan, Yang Mulia. 

Saya tidak pernah menceriterakan tentang kedua orang ini kepada Tuan karena Benedetto
telah hilang dan Assunta telah meninggal."

"Padri Busoni itu telah bertindak bijaksana dengan mengirimkan engkau kepadaku," kata Monte Cristo, 

"dan engkau pun bijaksana dengan menceriterakan seluruh kisahmu. Dengan demikian aku tidak akan beprsangka buruk lagi terhadapmu.

Sekarang, camkanlah kata-kata ini yang sering
sekali aku dengar dari mulut Padri Busoni: 

Untuk setiap kejahatan ada dua macam obat, waktu dan diam."

Setelah berkeliling sebentar melihat-lihat kebun, Count of Monte Cristo kembali ke keretanya. Bertuccio yang melihat majikannya tiba-tiba menjadi murung, tanpa berkata
sepatah pun naik dan duduk di sebelah sais. Kereta bergerak menuju paris. 





Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...