Jumat, 30 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 63

BAB LXIII


VILLEFORT belum bertemu lagi dengan ayahnya sejak meninggalnya Valentine. Selama ini dia mengunci diri mempersiapkan segala sesuatu untuk mengadili perkara pembunuhan Caderousse. 

Peristiwa ini, seperti juga peristiwa-
peristiwa lainnya di mana nama Count of Monte Cristo terlibat, selalu menarik perhatian masyarakat Paris. 

Sebenarnya, bukti yang ditemukan itu tidak terlampau meyakinkan, oleh karena hanya berupa secarik kertas dengan beberapa kalimat yang ditulis oleh pelarian narapidana yang lagi sekarat, menuduh kawan sepelariannya. Mungkin saja tuduhan itu hanya didasarkan kepada keinginan membalas
dendam belaka. Hanya Villefort sendiri yang percaya bahwa Benedetto benar bersalah.

Pengadilan akan mulai bersidang tiga hari lagi, berkat ketekunan kerja Villefort. Valentine belum lama dikuburkan, sehingga orang tidak merasa heran melihat Villefort terserap oleh pekerjaannya, oleh karena hanya pekerjaan
itulah yang dapat mengalihkan kesedihannya.

Karena merasa letih dan pikirannya pun sudah terasa berat, ia keluar berjalan-jalan ke kebun. Dari kebun itu dia melihat salah satu jendela kamar Noirtier masih terbuka.

Rupanya Noirtier sedang menikmati sinar terakhir matahari musim panas.

Pandangan Noirtier diarahkan kepada sesuatu, air mukanya menunjukkan kebencian dan ketidak sabaran. Villefort mengikuti arah pandangannya, ingin mengetahui siapa yang menjadi sasaran mata ayahnya itu. 

Di bawah serumpun pepohonan dia melihat istrinya sedang duduk membaca di bangku. Sewaktu-waktu dia berhenti membaca
untuk tersenyum kepada Edouard atau melemparkan kembali bola yang terus-menerus dilemparkan anaknya dari dalam rumah ke kebun.

Wajah Villefort menjadi pucat, sebab dia mengerti pikiran Noirtier. Tiba-tiba pandangan Noirtier berpindah dari istrinya kepada dirinya. Sekarang Villefortlah yang harus menerima pancaran mata kebencian itu. 

Perlahan-lahan dia berjalan menuju rumah. Dia dapat merasakan pandangan ayahnya yang senantiasa mengikutinya. Wajah Noirtier
menengadah seakan-akan dia hendak mengingatkan Villefort kepada janjinya.

"Sabarlah, Ayah," 

Kata Villefort yang sudah berdiri di bawah jendela kamar Noirtier.

"Sabarlah untuk sehari lagi saya akan tepati janji saya."

Tampaknya Noirtier menjadi sedikit tenang mendengar ini. 

Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain, sedang Villefort dengan paksa melepaskan kancing lehernya karena terasa sangat mencekik. Setelah itu mengusap dahi, lalu
kembali ke kamar kerjanya.

Pada malam itu, sesuai dengan kebiasaannya, Villefort lambat pergi tidur. Dia bekerja sampai jam lima pagi, menelaah kembali laporan-laporan tentang pemeriksaan kejaksaan terhadap Benedetto dan mempelajari lagi dengan seksama pernyataan para saksi. Setelah itu, menyempurnakan
dakwaan yang akan dibacanya. 

Dakwaan ini merupakan yang paling baik yang pernah dibuatnya. Dia tertidur sebentar, tetapi segera terbangun kembali karena kelap-kelip
lampu yang hampir habis minyaknya. Dia berjalan ke jendela dan membukanya. Cahaya kemerah-merahan telah terbit di kaki langit. Udara yang lembab merasuk kedalam dirinya, dan pikirannya menjadi segar kembali.

"Hari ini," katanya memaksakan diri, 

"orang yang memegang pedang hukum harus menebas siapa saja yang bersalah.”

Tanpa disadarinya pandangannya berpindah ke arah jendela kamar Noirtier. Tirainya masih tertutup namun bayangan wajah ayahnya masih tetap segar sehingga tanpa disadarinya juga dia berkata seakan-akan melihat pancaran
mata ayahnya yang penuh ancaman. 

"Jangan khawatir," katanya.

Dia berjalan hilir-mudik dalam ruang kerjanya beberapa kali, untuk akhirnya merebahkan diri di kursi panjang tanpa mengganti pakaian dahulu. Bukan semata-mata untuk tidur,
melainkan hanya untuk melemaskan otot-otot yang sudah tegang.

Lambat-laun terdengar kehidupan dalam rumah itu. Dari kamar kerjanya Villefort mendengar pintu tertutup dan terbuka, bunyi bel dari kamar istrinya memanggil pelayan
dan teriakan pertama anaknya, Edouard, yang bangun dengan riang seperti layaknya anak-anak seusia dia.

Villefort membunyikan bel. Pelayannya yang baru masuk, mengantarkan koran pagi dan secangkir coklat panas.

"Apa itu?" tanyanya.

"Coklat panas, Tuan."

"Aku tidak memintanya. Siapa yang menyuruh?"

"Nyonya, Tuan. Beliau mengatakan sidang pengadilan yang akan datang mungkin sekali melelahkan Tuan, padahal Tuan memerlukan sekali kekuatan."

Pelayan itu meletakkan cangkir di atas meja, lalu keluar lagi. Villefort memandang cangkir itu dengan air muka kecut, tetapi tiba-tiba mengambilnya dan menghabiskannya sekali reguk. 

Seakan-akan dia mengharapkan coklat itu berisi racun, seakan-akan dia hendak menjemput kematian untuk menghindarkan diri dari kewajiban yang lebih berat dari mati. Dia berdiri, lalu berjalan lagi bolak-balik. Pada
wajahnya tersimpul senyuman yang sangat mengerikan.

Coklat itu tidak beracun, dan Villefort tidak merasakan apa-apa.

Waktu makan siang tiba, tetapi dia tidak hadir di meja makan. Pelayannya masuk dan berkata, 

"Nyonya menyuruh saya memberitahu bahwa sudah jam sebelas dan sidang akan dimulai pada jam dua belas."

"Lalu?"

"Nyonya sudah siap dan menanyakan apakah beliau boleh turut?"

"Ke mana?"

"Ke pengadilan."

"Mengapa?"

"Nyonya mengatakan beliau ingin sekali menghadirinya.

"Ah!" jawab Villefort dengan nada yang keras. 

"Nyonya mau ikut?"

Pelayan itu mundur lalu berkata, 

"Bila Tuan hendak pergi sendiri, saya akan sampaikan kepada Nyonya."

Untuk sejenak Villefort tidak menjawab, menggaruk-garuk pipinya yang pucat.

"Katakan. kepada Nyonya," akhirnya dia berkata, 

"bahwa aku ingin bicara dan supaya beliau menunggu di kamarnya."

"Baik, Tuan."

"Setelah itu kau kembali lagi untuk mencukur dan membantu aku berpakaian."

"Baik, Tuan."

Pelayan pergi, kembali lagi tidak lama kemudian, mencukur Villefort dan membantu mengenakan pakaian berwarna gelap. 

Setelah selesai, baru dia berkata,

"Nyonya mengatakan beliau menunggu bila Tuan telah selesai berpakaian."

"Aku pergi sekarang."

Villefort berhenti di muka pintu kamar istrinya menghapus dahulu keringat yang mengucur di dahi. Pintu dibukanya.

Nyonya de Villefort sedang duduk di atas sebuah bangku rendah berbantal, melihat-lihat dengan kesal koran yang telah disobek-sobek anaknya sebelum dia sempat membacanya. 

Dia sudah siap untuk bepergian. Topinya
terletak di kursi sebelahnya dan sarung tangan sudah dikenakannya.

"Ah! Wajahmu pucat sekali." Nada suaranya wajar dan tenang. 

"Rupanya engkau bekerja semalam suntuk lagi
Boleh aku ikut bersamamu, atau aku berangkat dengan Edouard?"

"Edouard!" 

kata Villefort kepada anaknya dengan nada
memerintah. 

"Pergi bermain di luar. Aku mau bicara dengan
ibumu."

Edouard menengadah dan memandang kepada ibunya. Karena ibunya tidak memberi isarat apa-apa, dia meneruskan lagi perbuatannya mematah-matahkan kepala serdadu
timahnya.

"Edouard!" 

Teriak Villefort, begitu keras sehingga anak
itu bangkit terkejut. 

"Kau dengar? Keluar!"

Anak yang tidak biasa menerima perlakuan seperti itu menjadi pucat. Sukar dikatakan apakah karena marah atau karena takut.

Ayahnya mendekatinya, memegang tangannya
lalu mencium dahinya, 

"Bermain sebentar di luar, anakku!"

Edouard meninggalkan kamar. Villefort mengunci pintunya.

"Apa artinya semua ini?" 

Tanya wanita muda itu. Matanya
menatap tepat ke wajah suaminya sambil mencoba tersenyum.

"Di mana engkau menyimpan racun itu?" 

Villefort bertanya langsung. Dia berdiri di antara istrinya dan pintu. Menerima pertanyaan yang tiba-tiba dan menakutkan
itu, perasaan Nyonya de Villefort tak ubahnya seperti perasaan seekor burung kecil melihat rajawali yang menyudutkannyanuntuk menerkam. Suara yang bukan teriakan
dan bukan pula keluhan terlontar dari dalam dadanya:

"Aku .. Aku tidak mengerti."

"Aku bertanya," 

kata Villefort dengan ketenangan yang mengherankan, 

"di mana engkau menyembunyikan racun
yang kaugunakan untuk membunuh kedua bekas mertuaku, Barrois dan anakku Valentine."

"Oh! Apa yang kaukatakan?"

"Engkau harus menjawab, bukan bertanya."

"Apakah saya berhadapan dengan suami sendiri atau dengan seorang jaksa?" tanya Nyonya de Villefort terbata-bata.

"Dengan jaksa, Nyonya, dengan jaksa!"

"Oh! Oh!" 

Hanya itu yang dapat keluar.

"Engkau belum menjawab, Nyonya!" 

Teriak penanya yang menakutkan itu. Lalu dia berkata lagi dengan senyuman yang lebih menakutkan daripada amarahnya. 

"Tentu saja engkau tidak dapat menjawab, tetapi juga tidak menyangkal.
Dan engkau tidak akan dapat menyangkalnya."

Villefort mengarahkan tangannya ke tubuh istrinya seakan-akan hendak menerkamnya atas nama keadilan.

"Engkau melaksanakan kejahatanmu dengan ketrampilan yang mengagumkan. Orang tidak akan pernah menyangkamu berbuat demikian. Sejak kematian Nyonya de Saint-Meran aku sudah tahu ada pembunuhan dalam rumah ini.
Dokter d'Avrigny memberitahu. Setelah pembunuhan Barrois, kecurigaanku . . . semoga Tuhan memaafkanku ....

jatuh kepada seorang bidadari. Tetapi sesudah Valentine sendiri mati aku sudah tidak ragu-ragu lagi demikian pula yang lain sama yakinnya seperti aku. 

Sudah saatnya sekarang kejahatanmu dibongkar di muka umum. Seperti aku katakan tadi aku bicara tidak sebagai suamimu, melainkan sebagai jaksa."

Wanita muda itu menyembunyikan mukanya di balik kedua telapak tangannya. 

"Oh, aku ... aku mohon, jangan percaya…"

"Rupanya engkau seorang pengecut juga!" 

kata Villefort dengan nada menghina.

"Memang aku sudah lama tahu, bahwa peracun selalu seorang pengecut. Walau demikian engkau masih mempunyai keberanian untuk membunuh tiga orang dan menyaksikan mereka mati di depan matamu."

"Tidak! Tidak!"

"Dengan darah dingin engkau telah menghitung detik-detik terakhir empat orang yang mati tersiksa oleh tanganmu,"

lanjut Villefort dengan perasaan benci yang sudah meningkat. 

"Engkau telah merancang rencana jahatmu dengan ketepatan yang mengagumkan. Tetapi aku sangsi apakah engkau telah siap juga menghadapi akibat dari perbuatanmu itu. 

Aku harap saja masih. Engkau mesti masih mempunyai persediaan racun lain, yang lebih sedap tetapi lebih keras daripada yang telah kaugunakan, untuk memungkinkan engkau menghindari hukuman yang patut dijatuhkan
kepadamu. Aku harap engkau masih punya persediaan itu,"

Nyonya de Villefort menjatuhkan diri berlutut di muka suaminya.

"Aku tahu, aku tahu, engkau mengaku. Tetapi pengakuan kepada jaksa pada detik-detik terakhir di mana sudah tidak mungkin menyangkal lagi, tidak akan dapat menghapuskan hukuman.”

"Hukuman!" teriak Nyonya de Villefort. 

"Sudah dua kali engkau menyebut kata itu"

"Apakah engkau mengira akan terlepas dari hukuman karena engkau istri seorang laki-laki yang berkewajiban menuntut hukuman itu atas nama hukum? 

Tidak! Hukuman mati telah menanti setiap peracun, siapa pun dia orangnya.”

Nyonya de Villefort berteriak mengerikan, wajah dan sinar matanya menunjukkan ketakutan yang sangat.

"Jangan takut" kata Villefort menenangkan. 

"Aku tidak akan menghinamu di muka umum, sebab itu berarti aku menghinakan diriku sendiri. Tidak.... 

Kalau engkau tadi memperhatikan kata-kataku, engkau tentu mengerti bahwa engkau tidak dapat mati di tiang gantungan."

"Aku tidak mengerti maksudmu," tanya wanita yang sudah hancur itu.

"Maksudku, bahwa istri seorang jaksa yang terkemuka di Paris tidak boleh menodai suami dan anaknya dengan kejahatannya."

"Tidak! Tidak!"

"Baik kalau begitu, itu berarti tindakan yang tepat sekali dari pihakmu. Aku berterima kasih untuk itu.”

''Terima kasih? Untuk apa?"

"Untuk yang kaukatakan baru saja."

"Apa kataku? Aku pusing ... Aku sudah tidak mengerti apa-apa lagi. Oh Tuhan, Tuhan!"

"Engkau tidak menjawab pertanyaanku: ‘Di mana racun itu'?"
Nyonya de Villefort mengangkat kedua tangannya.

"Tidak! Tidak!" teriaknya. 

"Engkau tentu bukan menghendaki aku meminumnya."

"Yang tidak aku kehendaki engkau mati di tiang gantungan. Mengerti?"

"Kasihanilah aku!"

"Yang aku kehendaki hukum ditegakkan," kata Villefort tegas. 

"Aku dilahirkan untuk menghukum orang bersalah,"

katanya lagi dengan air muka yang keras. 

"Aku akan menggiring setiap wanita berdosa, sekalipun dia seorang ratu, langsung kepada algojo. Tetapi terhadapmu, aku akan berlaku
lunak. Kepadamu aku hanya berkata, 'engkau masih mempunyai persediaan racun itu, bukan?’"

"Maafkan aku! Biarkan aku tetap hidup!"

“Pengecut!"

"Ingatlah bahwa aku istrimu."

"Engkau pembunuh."

"Atas nama Tuhan ..,.”

"Tidak!"

"Atas nama cinta yang telah kauberikan padaku ..”

"Tidak! Tidak!"

"Atas nama anak kita! Oh, biarkan aku hidup demi anak kita!"

"Tidak! Kalau aku biarkan engkau hidup, pada suatu hari engkau akan membunuhnya juga seperti engkau membunuh yang lain-lain."

"Aku? Membunuh anakku?” 

Kata ibu yang sudah kacau pikirannya itu, melemparkan dirinya kepada Villefort.

"Membunuh Edouard?"

Sebuah tawa orang gila mengakhiri kalimatnya tadi. Dia jatuh di depan kaki suaminya.

"Ingat" kata Villefort, 

"kalau belum kaulakukan sampai aku pulang nanti, aku akan mengadukanmu dengan bibirku
sendiri dan menangkapmu dengan tanganku sendiri."

Nyonya Villefort mendengar kata demi kata suaminya, napasnya terputus-putus, jiwanya terpukul. Hanya matanya saja yang masih menunjukkan kehidupan pada dirinya, berkilat-
kilat liar ketakutan.

"Engkau mengerti, bukan?” kata Villefort. 

"Sekarang aku harus pergi ke pengadilan untuk menuntut hukuman mati bagi seorang pembunuh. Kalau aku menemukanmu masih
hidup ketika aku pulang nanti, malam ini juga engkau sudah akan berada di penjara."

Nyonya de Villefort menarik napas panjang, seluruh tenaganya menghilang dan dia terjatuh lagi ke lantai.

Rupanya hati Villefort tergores juga. Air mukanya sudah tidak kejam lagi. Dia berkata dengan lunak, 

"Selamat jalan, Nyonya selamat jalan."

Kata-kata lunak itu oleh Nyonya de Villefort terasa seperti irisan pisau tajam. Dia pingsan.

Jaksa Penuntut Umum itu keluar, lalu mengunci pintu dari luar.





Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...