BAB XLVIII
ALBERT memasuki rumah Beauchamp dengan berlari-lari pada jam delapan pagi keesokan harinya. Pelayan Beauchamp sudah diberitahu untuk menunggu kedatangan Albert sehingga ketika Albert datang langsung dia dibawa
masuk ke kamar tidur majikannya.
"Aku menunggumu, kawan " kata Beauchamp sebagaibpenyambutan.
"Dan aku telah datang," jawab Albert.
"Suratmu menunjukkan kesetiakawanan dan simpatimu. Terima kasih. Sebab itu, ceriterakan saja sampai hal yang sekecil-kecilnya, tak usah dibungkus bungkus ‘'
Albert tercekam rasa malu dan sedih ketika dia mendengarkan cerita Beauchamp ini. Berita itu muncul dua hari lebih cepat di koran lain
daripada dalam koran Beauchamp.
Beauchamp sedang sarapan ketika ia membacanya. Tanpa menyelesaikan
sarapannya ia bergegas pergi ke kantor koran itu. Meskipun politik koran mereka bertentangan dan tidak sama namun beauchamp, sangat mengenal dan bersahabat baik dengan editornya.
"Aku ingin bertanya tentang berita mengenai Morcerf itu,"
Kata Beauchamp langsung ketika bertemu.
"Oh, ya mengherankan sekali, bukan?" jawabnya.
"Begitu mengherankan sehingga engkau mungkin menghadapi resiko dituntut karena memfitnah."
"Tidak mungkin. Orang yang memberi keterangan itu didukung dengan bukti-bukti yang sangat kuat sehingga kami yakin sekali Tuan de Morcerf tak akan berani berbuat apa-apa. Dan adalah merupakan suatu jasa kita kepada negara, kalau kita membongkar rahasia pengkhianat yang tidak pantas menikmati kehormatan kehormatan yang diberikan
negara dan masyarakat kepadanya."
"Siapa yang memberikan keterangan itu?"
"Kemarin, seseorang yang baru kembali dari Yanina datang kepada kami dengan membawa setumpuk dokumen.
Mula-mula kami ragu untuk memuatnya, tetapi dia mengancam akan memberikannya kepada koran lain.
Engkau seorang wartawan, Beauchamp, jadi engkau dapat memahami apa artinya mempunyai bahan berita yang sangat penting.
Kami tidak dapat membiarkannya lepas dari
tangan kami. Sekarang, setelah tembakan dilepaskan, gemanya akan menggaung di seluruh Eropa."
Beauchamp menyadari sudah tidak ada lagi yang dapat diperbuat. Dia meninggalkan kantor itu untuk memberi kabar kepada Albert.
Tetapi apa yang tidak dapat ditulisnya kepada Albert karena terjadi setelah pesuruhnya berangkat ke tempat Albert, adalah pada hari itu juga telah terjadi pembicaraan yang sengit di Parlemen. Hampir setiap anggota datang
jauh sebelum waktu sidang untuk membicarakan perkembangan yang memalukan ini mengenai salah seorang rekan
mereka yang ternama.
Beberapa anggota masih membaca berita itu, yang lain-lainnya saling bertukar pengetahuan
tentang latar belakang de Morcerf sehingga makin memberatkan tuduhan.
Count of Morcerf tidak disukai oleh rekan-rekannya. Seperti setiap orang kaya baru ia bersikap angkuh sekali.
Count of Morcerf sendiri, adalah satu-satunya orang yang tidak membaca berita itu. Pada hari itu dia tidak menerima koran yang memuat berita tentang dirinya dan lagi pula pagi itu dia sibuk menulis beberapa surat dan selanjutnya mencoba kudanya yang baru.
Oleh sebab itu dia datang ke Parlemen pada waktu seperti biasa dengan keangkuhan yang biasa pula, tanpa menyadari keragu-raguan
petugas penerima dan pengantar tamu dan tanpa merasakan salam yang tidak sehangat biasa dari para rekannya.
Sidang sudah berlangsung setengah jam ketika ia masuk.
Sikap Tuan de Morcerf yang tidak berubah karena tidak mengetahui perkembangan terakhir, dirasakan oleh rekan-rekannya
sekarang sebagai keangkuhan yang melebihi dari biasanya. Kehadirannya terasa sebagal suatu sikap menantang sehingga banyak yang menganggapnya sebagai sikap yang gila, sebagian menganggapnya sebagal kurang ajar
dan yang lainnya merasakannya sebagai sikap menghina.
Jelas sekali bahwa sidang ingin segera membuka perdebatan tentang masalah itu. Surat kabar yang memberitakan itu berada di setiap tangan, tetapi sebagaimana biasa, setiap orang ragu-ragu untuk memulai serangan.
Akhirnya, salah seorang bangsawan terhormat yang menjadi musuh bebuyutan Morcerf naik mimbar dan dengan khidmat memberitahukan bahwa saat yang dinantikan telah tiba. Keheningan dalam sidang sangat mencekam. Hanya Morcerf yang tidak mengerti apa sebab perhatian yang begitu besar diberikan kepada pembicara yang biasanya tidak pernah diperhatikan.
Tetapi ketika untuk pertama kalinya pembicara itu menyebut Yanina dan nama Kolonel Fernand Mondego, Morcerf menjadi sangat pucat dan getar badannya seakan-akan menggetarkan seluruh ruangan sehingga setiap mata dipusatkan kepadanya.
Pembicara mengakhiri pidatonya dengan permintaan supaya segera diadakan penyelidikan secepat mungkin, untuk
menghancurkan fitnah itu sebelum menyebar luas dan untuk mengembalikan kehormatan Tuan de Morcerf dalam pandangan masyarakat.
Morcerf sangat tercekam karena bencana besar yang sangat mendadak ini sehingga ia tidak dapat mengeluarkan kata sepatah pun. Matanya terbelalak hampa memandang kawan-kawannya. Rasa malu yang terpancar pada wajah Morcerf biasa timbul baik pada orang yang tidak bersalah
maupun pada orang yang bersalah. Oleh sebab itu keadaannya membangkitkan rasa kasihan juga pada sebagian anggota.
Orang-orang yang memang berwatak baik senantiasa siap untuk memberikan rasa simpatinya kalau kecelakaan yang menimpa musuhnya itu sudah melampaui batas
kebenciannya.
Ketua sidang menawarkan pemungutan suara untuk menetapkan perlu tidaknya penyelidikan. Sidang akhirnya memutuskan untuk melaksanakannya segera mungkin.
Morcerf ditanya berapa waktu yang dia perlukan untuk persiapan membela dirinya. Keberaniannya pulih kembali ketika dia merasakan bahwa dirinya masih hidup setelah menerima pukulan pertama.
"Tuan-tuan,” katanya,
"bukan dengan waktu seseorang harus menangkis serangan seperti yang baru saja
dilontarkan terhadap diri saya oleh musuh-musuh tersembunyi. Saya akan menjawab pukulan yang bagaikan halilintar yang baru saja memusingkan saya sejenak itu, sekarang juga di tempat ini juga.
Saya hanya bisa mengharap bahwa, daripada menangguhkannya saya lebih suka darah saya tumpah untuk membuktikan kepada Tuan-tuan
bahwa saya cukup berharga untuk menganggap diri saya setaraf dengan Tuan-tuan dalam segala hal."
Kata-kata ini menimbulkan kesan yang menguntungkan bagi Morcerf.
"Karena itu saya meminta supaya penyelidikan
dilaksanakan secepat mungkin dan saya akan membantu Sidang dengan menyerahkan semua dokumen yang diperlukan."
"Apakah sidang berpendapat bahwa penyelidikan perlu dilakukan hari ini juga?" Ketua bertanya,
"Perlu!” jawab hadirin berbarengan.
Sebuah komisi beranggotakan dua belas orang dibentuk untuk meneliti bukti-bukti yang akan diserahkan oleh Morcerf.
Rapat komisi pertama direncanakan jam delapan nanti malam dengan mengambil tempat di kantor Parlemen. Apabila diperlukan lagi rapat-rapat lanjutan akan diadakan di
tempat yang sama pada waktu yang sama pula.
Setelah ke putusan itu dibuat Morcerf meminta izin meninggalkan sidang. Dia akan mengumpulkan semua dokumen yang telah dia timbun untuk sekian lamanya untuk menangkis kemungkinan serangan seperti sekarang.
Morcerf yang bersifat cerdik licik dan pantang mengalah memang telah meramalkan datangnya serangan semacam ini.
Pada jam delapan malam ia kembali dengan membawa setumpuk dokumen. Wajahnya tampak tenang dan berlainan sekali dengan kebiasaannya, sikapnya malam ini tidak angkuh bahkan pakaiannya pun sederhana sekali. Kehadirannya memberikan kesan yang baik.
Komisi tidak bersikap keras bahkan beberapa anggota datang menghampirinya untuk menjabat tangannya.
Tiba-tiba seorang petugas penerima tamu masuk mengantarkan sepucuk surat untuk Ketua.
"Saya persilahkan Tuan mengemukakan pembelaan Tuan, Tuan Morcerf,"
Kata Ketua sambil membuka segel surat yang baru diterimanya.
Morcerf memulai pembelaannya dengan fasih dan tangkas sekali. Dia membeberkan suatu bukti bahwa Ali Pasha sampai pada hari terakhirnya masih mempercayainya, ternyata
dari tugas maha penting yang masih dipercayakan kepadanya. Morcerf memperlihatkan sebentuk cincin yang
biasa dipergunakan Ali Pasha untuk menyetempel surat-suratnya. Cincin itu diberikan kepada Morcerf agar sekembalinya
dari pelaksanaan tugas dengan memperlihatkan cincin itu kepada para pengawal ia dapat langsung menemuinya,
sekalipun Ali Pasha sedang berada di antara harem-haremnya, tak peduli siang atau malam.
Sayang sekali, kata. Morcerf misinya itu tidak berhasil dan ketika ia kembali kedapatan Ali Pasha sudah hampir meninggal. Tetapi, kata Morcerf, kepercayaan Ali Pasha kepadanya demikian besarnya sehingga di ranjang kematiannya pun dia masih mempercayakan piaraan tercintanya dan anak perempuannya
kepadanya.
Sementara itu Ketua sudah mulai membaca surat yang baru diterimanya. Kalimat-kalimat pertamanya sudah sangat menarik perhatiannya.
Dia menamatkan membacanya, lalu mengulanginya. Dengan menatap wajah Tuan de Morcerf dia berkata,
"Count, kalau tidak salah, saya dengar Tuan mengatakan bahwa Ali Pasha mempercayakan piaraan dan putrinya kepada Tuan. Betulkah begitu?"
"Benar," jawab Morcerf.
"Tetapi rupanya ketika itu saya selalu dirundung kemalangan. Ketika itu ternyata Va-siliki dan anaknya Haydee, telah hilang."
"Apakah Tuan mengenal mereka?"
"Keakraban saya dengan Pasha dan kepercayaannya yang besar telah memungkinkan saya bertemu dengan mereka lebih dari dua puluh kali.”
"Apa Tuan mengetahui apa yang terjadi dengan
mereka?"
"Ya. Saya mendengar bahwa mereka telah mati karena kesedihan dan mungkin juga karena kemiskinan. Saya sendiri tidak kaya ketika itu, sehingga saya merasa sangat menyesal
tidak dapat mencari mereka."
Hampir tidak kelihatan bahwa Ketua mengerutkan dahinya.
"Tuan-tuan," katanya,
"Tuan-tuan telah mendengar penjelasan Tuan de Morcerf. Tuan de Morcerf, dapatkah Tuan
mengajukan saksi untuk memperkuat apa yang Tuan terangkan ini?"
"Sayang sekali," jawab Morcerf,
"semua orang yang mengenal saya di Istana Pasha telah meninggal atau sudah tidak diketahui lagi di mana mereka berada. Saya kira, sayalah satu-satunya orang dari rekan-rekan seperjuangan yang selamat keluar dari peperangan yang mengerikan itu.
Saya hanya memiliki surat-surat dari Ali Pasha yang sudah saya perlihatkan kepada sidang tadi, dan cincin sebagaI bukti kepercayaannya kepada saya. Namun, bukti terkuat yang dapat saya kemukakan sebagai bantahan terhadap serangan terhadap saya yang entah dari siapa, adalah tidak adanya suatu bukti bahkan petunjuk pun yang membuktikan cacadnya kehormatan saya atau karir saya dalam kemiliteran,"
Suara mufakat banyak terdengar dari anggota-anggota sidang. Para anggota sudah siap untuk mengambil suara ketika Ketua tiba-tiba berdiri lalu berbicara,
''Tuan-tuan, saya kira Tuan-tuan tidak akan berkeberatan untuk mendengarkan keterangan seorang saksi yang mengaku mempunyai bukti yang penting sekali dan yang datang kemari atas kehendaknya sendiri.
Setelah kita mendengarkan keterangan Tuan de Morcerf kita dapat mengharapkan bahwa saksi ini datang untuk membuktikan kebersihan rekan kita. Di tangan saya ada sebuah surat yang baru saja saya terima.
Apakah Tuan-tuan menghendaki saya
membacakannya ataukah menghendaki kita meneruskan sidang kita dengan tidak menghiraukan surat ini?"
Wajah Morcerf mendadak pucat dan tanpa sadar meremas-remas kertas yang berada di tangannya. Komisi menentukan agar surat itu dibacakan. Morcerf sendiri tetap bungkam tidak memberikan pendapatnya. Ketua sidang membacakan surat yang berbunyi;
"Saya dapat memberikan keterangan yang sangat berharga kepada Komisi yang dibentuk untuk menyelidiki tingkah-laku Letnan Jendral de Morcerf di Epirus dan Macedonia. Saya menyaksikan kematian Ali Pasha dan saya mengetahui dengan pasti apa yang telah terjadi dengan Vasiliki dan Haydee.
Saya menyediakan diri untuk membantu Komisi, bahkan lebih dari itu saya mengharapkan mendapat kehormatan untuk di dengar di muka sidang."
"Siapa saksi ini, atau lebih tepat musuh ini?" tanya Morcerf gugup.
"Kita akan segera mengetahuinya," jawab Ketua.
"Saudara penerima tamu, apakah ada yang menunggu di ruang tamu?"
"Ada tuan."
"Siapa?"
"Seorang wanita ditemani pelayannya."
Para anggota komisi berpandangan satu sama lain dengan heran,
"Persilakan dia masuk " perintah Ketua.
Petugas itu keluar sebentar lalu masuk kembali. Di belakangnya berjalan seorang wanita bercadar yang menutupi seluruh wajahnya. Namun demikian dari bentuk tubuhnya orang dengan pasti dapat mengatakan bahwa ia seorang yang masih muda dan seorang yang anggun.
Ketua meminta agar dia membuka cadarnya. Anggota Komisi melihat di hadapannya seorang wanita yang cantik sekali. Morcerf memandanginya dengan heran bercampur takut. Baginya, kehadiran wanita ini berarti hidup-matinya. Bagi yang lain, merupakan pandangan dan pengalaman yang menarik, sehingga nasib Morcerf menjadi pemikiran yang nomor dua.
"Nyonya," kata Ketua memulai,
"dalam surat Nyonya mengatakan bahwa Nyonya dapat memberikan keterangan tentang kejadian di Yanina dan mengatakan pula bahwa Nyonya menjadi saksi mata dalam peristiwa itu “
"Benar, Tuan. Saya berada di sana ketika kejadian itu."
jawab wanita itu dengan nada suara yang haru namun menarik, rendah dan merdu khas suara wanita Timur.
"Izinkan saya menyatakan bahwa Nyonya tentu masih sangat muda ketika itu " kata Ketua.
"Saya berumur empat tahun ketika itu. Tetapi, karena kejadian itu merupakan peristiwa yang sangat penting bagi saya, saya tidak dapat dan tidak akan dapat melupakannya."
"Bagaimana hubungan kejadian itu dengan diri Nyonya? Siapakah sebenarnya Nyonya sehingga kejadian itu memberikan kesan yang mendalam pada diri Nyonya?"
"Saya adalah Haydee, anak Ali Tebelin, Pasha dari Yanina. Dan ibu saya, Vasliki, istri Ali Pasha yang sangat dicintainya."
Keterangan yang diucapkannya dengan penuh
kebanggaan dan rasa bangga itu mewarnai pipinya menjadi merah. Nyala cahaya matanya dan keanggunannya ketika dia menyatakan itu, memberikan kesan yang mendalam kepada para anggota komisi. Sedangkan bagi Morcerf,
keterangan itu lebih mengejutkan daripada halilintar yang menyambar kakinya.
'"Nyonya,"
kata Ketua lagi setelah membungkuk menerima perkenalan diri dari Haydee.
"Izinkan saya mengajukan sebuah pertanyaan sederhana yang bukan didasarkan keragu-raguan: Dapatkah Nyonya membuktikan pengakuan Nyonya?"
"Dapat"
Jawab Haydee sambil membuka sebuah tas satin yang harum.
"Ini surat keterangan kelahiran saya, dibuat
oleh ayah saya dan ditanda tangani oleh pejabat-pejabat yang terpenting. Dan ini, surat pembaptisan saya, karena ayah saya menyetujui saya dibesarkan dalam agama ibu
saya. Surat keterangan itu disahkan oleh Uskup Agung Macedonia dan Epirus. Dan yang terpenting dari semuanya itu, barangkali, inilah surat yang menerangkan penjualan ibu dan saya sendiri, oleh seorang opsir bangsa Perancis kepada saudagar budak belian dari Armenia. Sebagai upah dari pengkhianatannya yang sangat keji, opsir Perancis Ini telah menerima dari orang Turki istri dan anak Ali Pasha sebagai barang rampasan. Dia menjual kami dengan harga empat ratus ribu frank."
Mendengar tuduhan yang dahsyat ini wajah Morcerf menjadi pucat pasi dan matanya merah seakan-akan berlumuran darah. Sidang mendengarkan keterangan Haydee dengan penuh perhatian.
Haydee sendiri, tetap tenang, bahkan ketenangannya Ini lebih berbahaya daripada
kemarahan wanita lain. Dia menyerahkan surat jual beli itu kepada Ketua. Surat tersebut ditulis dalam bahasa Arab.
Tetapi karena Komisi telah memperkirakan bahwa beberapa dokumen mungkin ditulis dalam bahasa Arab, Yunani modern atau Turki, seorang penterjemah sudah dipersiapkan.
Salah seorang anggota, seorang bangsawan
terhormat yang menguasai bahasa Arab dengan baik, menterjemahkan surat jual-beli itu lalu membacakannya untuk sidang:
"Saya El Kobbir, saudagar budak dan pengisi harem Sri Baginda, dengan ini mengaku telah menerima dari Count of Monte Cristo - sebuah permata zamrud bernilai delapan ratus ribu
frank yang harus saya teruskan kepada Baginda Yang Mulia, sebagai harga pembayaran seorang budak bernama Haydee, Kristen, berumur sebelas tahun, anak yang sah dari Ali Pasha almarhum dari Yanina dan istrinya Vasiliki.
Budak bernama Haydee ini dijual kepada saya bersama ibunya yang sekarang sudah meninggal di Istambul, tujuh tahun yang lalu oleh Kolonel Fernand Mondego, seorang opsir Perancis yang pernah berdinas untuk Ali Pasha almarhum.
Saya melakukan jual-beli ini untuk Sri Baginda, surat perintahnya ada pada saya, dengan harga
empat ratus ribu frank. Keterangan ini dibuat dengan seizin Sri Baginda di Istambul pada tahun 1247 Hijriah.
Tertanda EL kobbir
Di samping tanda tangan saudagar itu terdapat pula cap kerajaan. Keheningan yang mencekam menguasai seluruh ruangan sidang. Morcerf memandang Haydee dengan pandangan yang kacau.
"Nyonya,” kata Ketua,
"mungkinkah kami meminta keterangan
kepada Count of Monte Cristo yang kami kira
sekarang sedang berada di Paris bersama Nyonya?"
"Count of Monte Cristo telah berangkat ke Normandia tiga hari yang lalu," jawab Haydee.
"Jika demikian," kata Ketua lagi,
"siapa kiranya yang memberikan nasihat kepada Nyonya untuk melakukan tindakan
ini, tindakan yang sangat kami hargakan dan dapat kami pahami mengingat asal-usul Nyonya dan malapetaka yang pernah menimpa Nyonya?"
"Tindakan saya ini didorong oleh rasa kehormatan dan kepedihan saya. Saya seorang Kristen, tetapi, semoga Tuhan, mengampuni saya, saya senantiasa memimpikan untuk membalaskan dendam ayah saya yang tercinta.
Ketika saya datang di Perancis dan mendengar bahwa pengkhianat itu tinggal di Paris, saya senantiasa membuka mata dan telinga menanti kesempatan yang baik. Saya tinggal terasing dari masyarakat di rumah pelindung saya yang mulia.
Saya hidup secara demikian karena saya
menyenangi keheningan dan kesunyian yang dapat memberikan saya kesempatan berpikir dan mengenangkan masa lampau.
Meskipun demikian, Count of Monte Cristo memperlakukan saya sebagai anaknya sendiri dan memberikan kepada saya segala sesuatu yang diperlukan sehingga saya selalu dapat mengikuti semua kejadian di luar dunia saya.
Saya membaca semua surat kabar dan majalah. Saya mengikuti pula lagu-lagu ciptaan baru. Dengan cara demikian saya mengikuti kehidupan orang lain tanpa turut serta di dalamnya.
Dengan cara itu pula saya mengetahui apa yang sedang terjadi dalam Parlemen pagi tadi dan apa yang akan terjadi malam ini. Itulah sebabnya saya menulis surat kepada Tuan."
"Maksud Nyonya, Count of Monte Cristo tidak mempunyai hubungan sedikit pun dengan tindakan Nyonya sekarang?"
"Beliau tidak mengetahuinya sama sekali. Tegasnya, satu-satunya kekhawatiran saya, beliau tidak menyetujui tindakan saya ini kalau beliau mendengarnya. Namun demikian, hari ini adalah hari yang paling membawa kebahagiaan bagi saya,"
Kata Haydee dengan mata bernyala-nyala,
"karena akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk membalaskan dendam ayah saya."
"Tuan de Morcerf" kata Ketua,
"apakah Tuan mengenal Nyonya ini sebagai putri Ali Tebelin, Pasha dari Yanina?"
"Tidak,"
jawab Morcerf sambil mencoba untuk berdiri.
"Ini hanya merupakan salah satu siasat dari musuh-musuh saya" .
Haydee yang sedang melihat ke pintu keluar seakan-akan menantikan kedatangan seseorang, tiba-tiba mengarahkan pandangannya kepada Morcerf lalu berteriak,
"Tuan tidak mengenal saya! Baik, tetapi saya mengenal Tuan.
Tuan adalah Fernand Mondego, opsir Perancis yang memimpin tentara ayah saya! Tuanlah yang menyerahkan istana Yanina kepada Turki! Tuanlah yang dikirimkan ayah ke Istambul untuk merundingkan hidup-mati beliau, tetapi
kembali membawa berita palsu seakan-akan ayah mendapatkan pengampunan sepenuhnya!
Tuanlah, yang dengan berita palsu itu berhasil mendapatkan cincin kerajaan ayah! Tuanlah yang menjual ibu dan saya kepada perbudakan!
Pembunuh! Pembunuh! Pada dahi Tuan masih mengalir darah ayah saya. Lihatlah dia, Tuan-tuan!"
Kata-kata ini diucapkan dengan semangat kebenaran yang sukar dibantah sehingga mau tidak mau semua mata memandang kepada Morcerf yang tanpa disadarinya menempatkan
tangan kanannya pada dahi seakan-akan benar
merasa ada darah mengalir di sana.
"Yakinkah Nyonya bahwa Tuan de Morcerf ini sama dengan opsir Perancis bernama Fernand Mondego?" tanya Ketua.
"Apakah saya yakin?" jawab Haydee keras-keras.
"Oh, Ibu! Ibu pernah berkata, 'Engkau orang merdeka, engkau mempunyai ayah yang mencintaimu dan sebenarnya engkau sudah hampir menjadi ratu! Perhatikan baik-baik
laki-laki itu, oleh karena dialah yang membuatmu menjadi seorang budak, dialah orangnya yang membenturkan kepala ayahmu ke ujung tombak, dialah yang menjual kita, dialah yang mengkhianati kita! Perhatikan bekas luka pada lengan kanannya. Kalau engkau lupa akan wajahnya, engkau tidak
mungkin lupa kepada tangan yang pernah menerima uang emas dari El Kobbir saudagar budak.
Ya, saya kenal dia! Sekarang suruh dia berkata apakah dia mengenali saya atau tidak!"
Morcerf menyembunyikan tangannya yang memang ada bekas luka. Dia terhenyak ke atas kursinya terpukul oleh bayangan kegelapan di hadapannya.
Ruang sidang gaduh dengan suara anggota-anggota yang berbicara sesama mereka.
'Tuan de Morcerf" kata Ketua Komisi,
"keadilan dalam sidang ini sama bagi setiap orang. Kami tidak akan membiarkan Tuan dipukul oleh lawan-lawan Tuan tanpa memberikan kesempatan untuk membela diri.
Apakah Tuan menghendaki dilakukan lagi penyelidikan yang baru? Atau apakah Tuan menghendaki saya mengirimkan dua orang utusan ke Yanina? Harap dijawab."
Morcerf tetap bungkam. Para anggota komisi berpandangan satu sama lain dengan penuh tanda tanya. Mereka tahu ambisi dan watak Morcerf yang keras. Mereka tahu untuk menumbangkan Morcerf diperlukan pukulan yang dahsyat.
"Bagaimana, Tuan de Morcerf?" tanya Ketua.
"Tak ada yang hendak saya katakan," jawab Morcerf seperti orang dungu.
"Apakah Tuan bermaksud mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh putri Ali Pasha benar? Apakah Tuan mengaku bersalah untuk tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada Tuan?"
Morcerf melihat ke sekelilingnya dengan pandangan putus harapan. Pandangannya itu sangat menimbulkan iba sehingga mungkin dapat melunakkan hati seekor harimau, tetapi tak akan mungkin menggoyahkan mereka yang
sedang mengadilinya.
Dia mengarahkan matanya ke langit-langit
lalu secara cepat menurunkannya kembali, seakan-akan dia merasa takut langit langit akan terbelah lalu pandangannya akan beradu dengan Hakim Yang Maha Adil.
Dia membuka kancing leher bajunya karena terasa baju itu mencekik lehernya, lalu berjalan ke luar seperti orang gila yang lagi bersedih. Suara sepatunya menggema di seluruh ruangan. Tak berapa lama kemudian terdengar suara kereta yang ditarik kuda yang berlari kencang.
"Tuan-tuan,"
Kata Ketua Komisi ketika para anggota
sudah tenang kembali,
"apakah Tuan-tuan berpendapat bahwa Tuan de Morcerf terbukti bersalah melakukan kejahatan besar, pengkhianatan dan perbuatan tercela?"
"Bersalah!'
sahut semua anggota bersama-sama.
Haydee mendengarkan keputusan ini tanpa
menunjukkan rasa gembira ataupun menyesal. Setelah menutup kembali wajahnya dengan cadar dia membungkuk memberi hormat kepada sidang lalu berbalik dan berjalan ke luar ruang sidang dengan langkah-langkah seanggun langkah seorang ratu.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar