BAB XXXVII
DALAM perjalanan pulang dari rumah Monte Cristo di Auteuil, Debray tiba di muka pintu rumah keluarga Danglars beberapa saat setelah Nyonya Danglars datang.
Seperti layaknya seorang yang sudah mengenal betul keadaan rumah itu ia segera memasuki pekarangan lalu menyerahkan kudanya kepada seorang pelayan dan dia
menyodorkan tangan untuk membantu Nyonya Danglars turun dari keretanya.
Di muka pintu kamar tidurnya mereka bertemu dengan Cornelie, pelayan kepercayaan Nyonya Danglars.
"Apa kerja anakku selama kutinggalkan?" tanya Nyonya Danglars.
"Belajar dan sekarang telah tidur."
“Tetapi aku mendengar suara piano?"
"Nona d'Armilly. Dia bermain untuk nona Eugenie."
"Oh," kata Nyonya Danglars.
"Tolong bantu aku mengganti pakaian."
Mereka memasuki kamar tidur. Debray merebahkan diri di atas kursi panjang.
"Tuan Lucien,"
teriak Nyonya Danglars dari kamarnya,
"benarkah Eugenie selama ini tidak mau berbicara dengan Tuan?"
"Aku bukan satu-satunya orang yang mengeluh tentang itu,"
Jawab Debray sambil bermain-main dengan anjing kecil yang tampaknya sudah mengenal betul tamu keluarga ini.
“Ya, aku tahu. Tetapi aku kira ia akan segera berubah dalam beberapa hari ini dan aku yakin dia akan datang ke kantormu."
"Mengapa?"
"Untuk meminta diantar menonton opera! Aku tidak pernah melihat orang yang begitu tergila-gila kepada musik. Rasanya agak aneh bagi gadis muda sebaya dia!"
Debray tersenyum dan menjawab,
"Suruhlah dia datang dengan seijin orang tuanya dan kami akan mengusahakan
karcis baginya sekalipun sebenarnya kami tidak mempunyai uang berlebihan untuk membelikan karcis bagi gadis berbakat
seperti dia!"
"Kurasa aku tidak memerlukanmu lagi, Cornelie" kata Nyonya Danglats.
Cornelie keluar. Beberapa saat kemudian Nyonya Danglars pun keluar dari kamarnya dalam pakaian tidur yang bagus sekali, kemudian duduk di sebelan Debray.
Dia mengusap-ngusap anjing kecilnya, sedangkan pikirannya entah di mana. Debray memperhatikannya tanpa mengucapkan kata sepatah pun untuk beberapa saat. Akhirnya
dia berkata,
"Jawablah terus terang, Hermine. Kukira ada
sesuatu yang mengganggu pikiranmu. Benar?”
"Tidak. Tak ada apa-apa."
Nyonya Danglars berdiri menarik napas panjang-panjang kemudian memperhatikan
dirinya dalam cermin di tembok.
"Rupaku kusut sekali malam ini," katanya.
Debray sudah akan berdiri juga ketika tiba-tiba pintu terbuka dan Baron Danglars masuk ruangan. Nyonya Danglars membalikkan badannya lalu melihat kepada suaminya tanpa usaha menyembunyikan kekagetannya.
"Selamat malam, Nyonya," kata Danglars.
'Selamat malam Tuan Danglars."
Nyonya Danglars mengira bahwa kedatangan suaminya yang tiba-tiba ini untuk menyesali kata-kata dan sikapnya yang kusut sehari itu. Dengan tidak mengacuhkan suaminya, Nyonya Danglars berkata kepada Debray,
“Tolong bacakan sesuatu bagiku, Tuan Debray."
Debray yang merasa kikuk karena kedatangan yang tiba-tiba itu, kini menjadi tenang kembali setelah dia melihat Nyonya Danglars pun tetap tenang. Dia bergerak hendak mengambil sebuah buku.
"Maaf, Nyonya," kata Danglars,
"engkau akan letih sekali kalau tetap jaga sampai larut sekali dan harap diingat bahwa Tuan Debray tinggal jauh sekali dari sini."
Debray bagaikan mendengar geledek. Tidak karena nada suara baron yang tenang sekali atau karena kata-katanya yang sopan berlebihan, tetapi di balik ketenangan dan
kesopanannya itu ia dapat merasakan sesuatu yang tidak biasa ada pada Danglars. Yaitu keteguhan hatinya untuk sekali ini tidak menurut kepada keinginan istrinya.
Nyonya Danglars pun terkejut. Keterkejutannya itu tergambarkan pada sorot matanya. Kalau saja Danglars melihat sorot mata ini pasti ia akan merubah sikapnya lagi.
Tetapi kebetulan sekali ketika itu perhatiannya sudah ditujukan kepada berita-berita keuangan dalam surat kabar.
Pandangan Nyonya Danglars yang keras itu tidak berpengaruh apa-apa.
'Tuan Debray," kata Nyonya Danglars,
"saya ingin meyakinkan Tuan bahwa saya sama sekali tidak mengantuk dan saya ingin membicarakan banyak hal dengan Tuan pada malam ini. Saya harap Tuan mau mendengarkannya sekali pun Tuan terpaksa tertidur sambil berdiri."
"Saya siap, Nyonya," jawab Debray dengan tenang dan dingin,
"Tuan Debray yang baik," kata Danglars menyela,
"saya harap Tuan jangan memaksakan diri mendengarkan kedunguan istri saya malam ini. Tuan dapat menangguhkannya sampai esok hari. Malam ini biarlah saya yang mengawaninya karena saya mempunyai banyak hal yang penting yang ingin saya bicarakan dengan dia."
Sekali ini pukulan Danglars langsung sekali sehingga keduanya, baik Nyonya Danglars maupun Debray sangat terkejut tanpa berkata sepatah pun. Mereka saling berpandangan
seakan-akan masing-masing mengharapkan bantuan dari yang lainnya untuk menangkis serangan Danglars ini. Namun kepala keluarga ini tetap unggul.
"Jangan Tuan berpikir saya mengusir Tuan," kata Danglars selanjutnya.
"Soalnya, kebetulan sekali ada beberapa hal yang tidak diduga menyebabkan saya perlu sekali berbicara dengan istri saya malam ini Keinginan saya ini jarang sekali terjadi, sehingga saya yakin Tuan tidak akan berkeberatan’'
Debray mengucapkan beberapa kata dengan
terbata-bata, membungkuk lalu pergi meninggalkan mereka.
"Tak masuk akal," katanya sendiri,
'bagaimana suami yang tampaknya sangat dungu itu masih dapat menunjukkan
kekuasaannya dengan mudah?"
Setelah Debray pergi, Danglars mengambil tempat di atas kursi panjang. Ia menutup buku yang ditinggalkan terbuka lalu dengan sikap acuh tak acuh bermain-main dahulu dengan anjing. Tetapi anjing itu tidak seramah seperti kepada Debray, bahkan ia mencoba menggigitnya.
Danglars mengangkatnya pada tengkuknya lalu melemparkannya ke kursi yang lain. Anjing yang terperanjat dan ketakutan itu menciutkan badannya bersembunyi di balik bantal.
"Ada kemajuan sekarang," kata Nyonya Danglars menyindir.
”Biasanya engkau hanya kasar, malam ini sudah meningkat tidak sopan."
"Sebabnya karena perasaan hatiku sedang tidak enak."
Nyonya Danglars menatap suaminya dengan pandangan menghinakan. Biasanya Danglars yang angkuh itu menjadi lunak apabila ia menerima sorot mata seperti itu, tetapi sekali ini ia seakan-akan tidak memperhatikannya.
"Apa urusanku dengan perasaanmu itu?"
Tanya Nyonya Danglars tersinggung oleh sikap suaminya yang acuh tak acuh.
"Bawalah perasaanmu itu ke kamar tidurmu atau ke kantormu, dan karena engkau mempunyai pegawai-pegawai, muntahkanlah kepada mereka."
"Nasihat buruk yang tidak akan kuturuti," jawab
Danglars.
"Pegawai-pegawaiku semuanya orang jujur yang bekerja demi keuntunganku dan yang telah aku bayar di bawah semestinya dibandingkan dengan keuntungan-keuntungannya yang mereka hasilkan bagiku.
Tidak, aku tidak akan melampiaskan amarahku kepada mereka. Aku akan memuntahkannya kepada mereka yang memakan makananku, menggunakan kuda-kudaku dan menghancurkan keuntungan-keuntunganku."
"Dan siapakah orang-orang ini? Katakan dengan jelas."
"Engkau telah cukup mengetahuinya, tetapi bila engkau bersikeras menyangkalnya baiklah aku jelaskan bahwa aku baru saja merugi sebanyak tujuh ratus ribu frank dalam saham-saham Spanyol."
"Salahkukah kalau engkau merugi tujuh ratus ribu frank?"
"Yang jelas bukan salahku."
"Sekali lagi dan untuk terakhir kalinya,"
kata Nyonya Danglars dengan keras dan tajam,
"aku minta jangan engkau membicarakan lagi soal keuangan dengan aku, karena itu adalah bahasa yang tidak pernah dipelajarkan baik oleh orang tuaku maupun oleh suamiku yang
pertama."
"Aku yakin mereka tidak mempelajarkannya, karena mereka orang-orang miskin. Sekalipun demikian aku kira engkau mempunyai perhatian terhadap kegiatan keuanganku."
"Apa yang membuat engkau berpikir begitu?"
"Oh, tidak sukar menjelaskannya. Contohnya, bulan Februari yang lalu engkau membicarakan tentang saham-saham Haiti. Engkau mengatakan bahwa engkau bermimpi, ada sebuah kapal yang berlayar menuju Le Harve
membawa berita bahwa pembayaran-pembayaran untuk saham itu yang diperkirakan orang akan ditangguhkan, akan dibayar segera sepenuhnya.
Aku percaya kepada mimpimu itu. Karena itu secara diam-diam aku membeli semua saham Haiti yang dapat kuperoleh dan aku beruntung sebanyak empat ratus ribu frank.
Dari keuntungan itu engkau menerima seratus ribu frank. Apa yang kaulakukan dengan uang itu, bukan urusan ku.
"Dalam bulan Maret, pemerintah akan menentukan pilihan siapa yang berhak mengelola sebuah jaringan kereta api. Ada tiga buah perusahaan yang dicalonkan, ketiganya memberikan jaminan yang sama kepada pemerintah.
Engkau mengatakan kepadaku bahwa nalurimu
memberitahukan hak itu akan diberikan kepada perusahaan yang bernama Societe du Midi, dan sekalipun engkau mengatakan tidak mempunyai perhatian kepada dunia usaha, aku mempercayai nalurimu yang memang sudah
kuketahui sangat tajam dalam hal-hal lain.
Karena itu aku membeli dua pertiga dari seluruh saham perusahaan itu. Hak itu diberikan pemerintah sesuai dengan bisikan
nalurimu sehingga nilai sahamnya meningkat menjadi tiga kali lipat.
Aku beruntung sebanyak satu juta, dan engkau kuberi sebanyak dua ratus ribu lima ratus sebagai komisi.
Bagaimana engkau menggunakan uang itu?"
''Apa pokok soalnya?"
kata Nyonya Danglars. Suaranya bergetar karena marah dan tidak sabar.
"Sabar sebentar. Aku hampir selesai. Bulan April engkau makan malam di rumah kediaman menteri. Di sana diam-diam engkau dapat mendengar pembicaraan rahasia tentang
pengusiran Don Carlos, raja Spanyol.
Aku membeli semua saham Spanyol, dan pengusiran itu terjadi. Aku beruntung lagi enam ratus ribu frank. Engkau menerima dariku seratus lima puluh ribu yang engkau belanjakan menurut seleramu.
Aku tidak akan meminta pertanggung jawaban tentang penggunaan uang itu, tetapi yang hendak kukatakan adalah fakta bahwa engkau telah menerima setengah juta frank dalam tahun ini
"Tetapi sekarang, keadaan sudah tidak selancar yang lalu. Tiga hari yang lewat engkau berbicara soal politik dengan Tuan Debray dan engkau menarik kesimpulan dari pembicaraan itu bahwa Don Carlos akan kembali ke Spanyol.
Aku menjual semua saham Spanyol. Berita kembalinya Don Carlos tersebar dan terjadilah kepanikan. Aku sudah bukan menjualnya lagi, melainkan membagikannya dengan cuma-cuma. Keesokan harinya
ternyata bahwa berita itu palsu, dan itu menyebabkan aku merugi tujuh ratus ribu frank."
"Oleh karena aku selalu memberimu seperempat bagian dari keuntungan yang kudapat, sepatutnya engkau pun turut menanggung seperempat dari kerugianku.
Seperempat dari tujuh ratus ribu frank adalah seratus tujuh puluh lima ribu frank."
"Engkau mengigau. Dan aku tidak melihat apa hubungannya Tuan Debray dengan kejadian ini"
"Kalau kebetulan engkau tidak mempunyai lagi uang yang seratus tujuh puluh lima ribu itu, engkau dapat meminjamnya kepada kawan-kawanmu, dan Tuan Debray adalah salah seorang dari kawan-kawanmu."
"Ini sudah keterlaluan!" teriak Nyonya Danglars marah.
"Jangan kalap, nanti aku terpaksa mengatakan bahwa Tuan Debray berpesta pora di atas tumpukan setengah juta frank yang engkau berikan kepadanya sambil berpikir bahwa ia telah berhasil menemukan sesuatu yang tidak
akan mungkin ditemukan oleh seorang penjudi kawakan sekalipun, yaitu sebuah permainan tanpa modal yang tidak mengenal kalah."
"Apa kau berani mengatakan bahwa engkau sendiri tidak mengenal permainan semacam itu?"
"Aku tidak akan mengatakan ya dan juga tidak akan mengatakan tidak. Aku hanya akan mengatakan: perhatikanlah sikapku selama empat tahun terakhir ini setelah kita bersikap tidak lagi sebagai suami isteri, dan engkau akan menemukan bahwa sikapku tidak pernah berubah.
Beberapa saat setelah perpecahan engkau memutuskan belajar musik pada penyanyi bariton tersohor itu yang telah membuat debutnya di gedung Teater Italia. Dan aku sendiri, memutuskan belajar dansa pada penari yang telah berhasil mentenarkan dirinya di London.
Untuk itu aku harus membayar seratus ribu frank untuk kita berdua, tetapi aku tidak berkata apa-apa karena aku berpendapat
keserasian sangat penting dalam suatu rumah tangga, dan seratus ribu itu bukan jumlah yang terlampau banyak untuk seorang suami dan isterinya untuk belajar dansa dan bernyanyi
dengan baik.
Segera engkau merasa jemu dengan menyanyi lalu memutuskan belajar diplomasi kepada
Sekertaris Menteri itu. Aku membiarkan kehendakmu, lagi pula apa peduliku selama engkau membiayai pelajaranmu dengan uangmu sendiri.
Tetapi sekarang aku sadari bahwa engkau sudah mulai menggerogoti keuanganku dan aku harus membayar kesukaanmu itu tujuh ratus ribu frank sebulan.
Sudah saatnya sekarang aku menghentikannya
kecuali kalau diplomat itu mau memberimu pelajaran secara cuma-cuma. Kalau tidak, tidak akan aku biarkan dia menginjakkan kakinya lagi di rumah ini. Kau mengerti?"
"Ini sudah keterlaluan!"
Nyonya Danglars berteriak sekali lagi. Napasnya tersendat-sendat karena marah.
"Engkau telah melampaui batas kesopanan!"
Danglars mengangkat bahunya.
"Orang-orang aneh," katanya,
"itu perempuan-perempuan yang menganggap,
dirinya pintar karena dapat melangsungkan petualangan-petualangan cintanya tanpa menjadi buah bibir masyarakat Paris.
Tetapi sekalipun engkau berhasil menyembunyikan dosa-dosa kecil itu terhadapku yang sebenarnya bukan sesuatu yang sukar karena pada umumnya aku tidak mau melihat hal-hal seperti itu, namun sebenarnya engkau tidak sepandai seperti kawan-kawanmu sendiri.
Tidak satu pun kelakuanmu terlepas dari pengetahuanku selama enam belas tahun ini padahal selama itu engkau merasa bangga
karena mengira berhasil mengelabui aku..
Sebagai akibat dari sikapku yang pura-pura tidak tahu itu, tidak seorang pun dari kekasih-kekasihmu itu, mulai dari Tuan Debray sampai kepada Tuan de Villefort, yang tidak gemetar bila berhadapan dengan aku.
Aku membiarkan engkau berkelakuan yang menjijikkan, tetapi aku tidak akan membiarkan
engkau membuat aku menjadi cemoohan orang.
Dan di atas segala-galanya aku tidak akan membiarkan engkau menghancurkan kekayaanku."
Sebelum suaminya menyebut nama de Villefort, Nyonya Danglars masih kuat mempertahankan kepercayaan kepada dirinya sendiri tetapi setelah itu, mukanya menjadi pucat lalu meloncat sambil berteriak,
"Tuan de Villefort? Apa maksudmu?"
Dengan pertanyaan itu seakan-akan ia ingin
mengorek semua pengetahuan suaminya tentang rahasianya.
"Maksudku, bahwa suamimu yang pertama yang mungkin sekali merasa tidak akan mampu melawan Jaksa Penuntut Umum, meninggal karena sedih dan marah ketika
mendapatkanmu hamil enam bulan, padahal ia baru kembali dari bepergian selama sembilan bulan.
Mengapa dia mati dan bukannya membunuh kekasih isterinya?
Karena dia tidak mempunyai kekayaan untuk
diselamatkannya. Lain dengan aku. Aku mempunyai kekayaan yang harus kupikirkan.
Dan Tuan Debray, kawan kita itu, telah membuat aku merugi sebanyak tujuh ratus ribu frank. Suruh dia mendengar pernyataanku ini dan membayar bahagian kerugiannya.
Dengan demikian kita akan tetap berkawan. Kalau tidak, enyahlah dia dari sini. Ia seorang muda yang baik, selama berita-berita rahasianya mengandung kebenaran. Bila tidak, sekurang-kurangnya masih ada lima puluh orang lagi di dunia ini yang lebih berharga daripada dia."
Nyonya Danglars terpukul, dia tidak, dapat berkata apa-apa lagi. Dia terhenyak ke atas sebuah kursi. Pikirannya melayang kepada Villefort dan kejadian-kejadian di rumah Monte Cristo dan kepada rangkaian musibah yang datang bertubi-tubi dalam beberapa hari ini.
Danglars tidak mengacuhkannya sekalipun ia melihat. Tanpa sepatah kata pun, sedangkan isterinya. Sadar dari keadaan setengah meyakin-yakinkan dirinya bahwa apa yang dialaminya itu hanya mimpi buruk belaka.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar