Senin, 26 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 27

BAB XXVII


TENGAH hari Monte Cristo menyisihkan waktu
beberapa lama untuk dilewatkan bersama Haydee. Gadis Yunani ini menempati apartemen yang sama sekali terpisah dari tempat Monte Cristo. Ruangannya diperlengkapi dan diatur secara Timur. Lantainya seluruhnya tertutup oleh permadani Turki yang tebal. Dindingnya dihias kain-kain
sutera bersulam emas dan di setiap kamar ada dipan yang lebar dengan bantal-bantal yang dapat diatur menurut keinginan pemakainya.

Haydee sedang berbaring di lantai di atas bantal bersarung satin biru, sedang kedua belah tangannya diletakkan di bawah kepala. Sikapnya yang khas Timur ini mungkin akan
terasa canggung oleh wanita-wanita Perancis. 

Matanya yang hitam sayu, hidungnya yang mancung halus, bibirnya yang merah alamiah dan giginya yang seperti mutiara, semuanya mewakili kecantikan seorang gadis Yunani. 

Usianya tidak akan lebih dari dua puluh tahun.
Monte Cristo memanggil pelayan bangsa Yunani dan menyuruh menanyakan kepada Haydee apakah dia bisa menerimanya. 

Haydee bangkit dan bertopang pada sebuah
siku tangannya ketika Monte Cristo masuk. Lalu mengulurkan tangannya yang sebuah lagi dengan senyum yang manis sekali. 

"Mengapa Tuan harus meminta izin dahulu?" 

suaranya merdu khas seperti yang dimiliki gadis-gadis Atena dan Sparta. 

"Apakah saya sudah bukan lagi hamba Tuan dan Tuan bukan lagi tuan saya?"

"Haydee " jawab Count of Monte Cristo, 

"kita sekarang berada di tanah Perancis, sebab itu engkau bebas."

"Bebas untuk apa?"

"Untuk meninggalkan aku."

"Mengapa saya harus meninggalkan Tuan?"

"Kita akan bertemu dengan banyak orang, dan bila, di antara pemuda-pemuda tampan yang akan kita jumpai nanti ada yang menarik hatimu, tidak adil rasanya kalau aku…”

"Saya tidak akan lagi menemukan laki-laki yang lebih menarik daripada Tuan, kecuali ayah."

"Masih ingatkah engkau akan wajah ayahmu?"

Haydee tersenyum. 

"Beliau berada di sini dan di sini."

katanya sambil menempatkan tangannya di matanya kemudian di dadanya.

"Dan aku berada di mana?" tanya Monte Cristo tersenyum pula.

"Tuan berada di mana-mana."

Monte Cristo menarik tangan Haydee untuk dicium, tetapi Haydee menariknya. Sebagai gantinya ia menyodorkan dahi.

"Nah, Haydee," katanya, 

"engkau tahu bahwa engkau merdeka, bahwa engkau yang menjadi tuan di sini, bahkan ratu. Engkau boleh menentukan sendiri apakah akan
memakai pakaian kebangsaanmu atau
mengesampingkannya. Terserah kepadamu. Engkau bolehbtinggal di sini bila engkau mau dan engkau boleh meninggalkan rumah ini kapan saja engkau suka. Akan selalu tersedia sebuah kereta lengkap dengan kudanya. Ali
dan Myrto akan menyertaimu dan keduanya siap melaksanakan perintahmu. Hanya sebuah saja permintaanku."

"Katakanlah Tuan."

"Tetap rahasiakan kelahiranmu dan jangan bicarakan tentang masa lalumu, jangan sekali-sekali menyebut nama ayahmu yang cemerlang itu atau nama ibumu yang malang."

"Sudah saya katakan, Tuan, bahwa saya tidak akan menemui siapa pun."

"Tidak mungkin engkau akan dapat mengasingkan diri di Perancis ini, seperti di negeri-negeri Timur, Haydee.

Sebaiknya engkau terus mempelajari cara hidup orang di sini seperti yang telah engkau lakukan di Roma, Florence, Milan dan Madrid. Pengetahuan itu akan selalu berguna, tak perduli apakah engkau akan kembali ke Timur atau tetap tinggal di sini."

Haydee mengangkat matanya yang bundar tetapi telah membasah, lalu bertanya, 

"Maksud Tuan apakah kita kembali ke Timur, bukan begitu?"

"Ya. Engkau mengetahui bahwa aku tidak akan meninggalkanmu. Bukan pohon yang suka meninggalkan bunga, tetapi bunga yang suka meninggalkan pohon."

"Saya tidak akan meninggalkan Tuan," kata Haydee,

"karena saya tahu tidak akan bisa hidup tanpa Tuan."

"Manis, sepuluh tahun lagi aku sudah menjadi kakek-kakek sedangkan engkau masih tetap muda. Engkau mencintaiku seperti engkau mencintai ayahmu sendiri"

"Tuan keliru. Saya tidak mencintai ayah seperti saya mencintai Tuan. Cinta saya kepada Tuan sangat berbeda.
Bila ayah meninggal, saya tetap dapat hidup. Tetapi bila Tuan meninggal, saya pun mati."

Monte Cristo mengulurkan tangannya kepada Haydee dengan senyum yang mesra sekali. Haydee menciumnya seperti biasa.

Monte Cristo meninggalkan Haydee sambil mengucapkan sebaris sajak Pindar:

"Remaja adalah bunga
berubah menjadi buah, cinta.
Bahagia dia yang memelihara
dan memetiknya ketika masanya tiba."




Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...