Sabtu, 24 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 9

BAB IX


SEPERTI layaknya seorang tahanan, Dantes pun mengalami semua tingkat kesengsaraan yang mau tidak mau harus diderita oleh pesakitan yang dilupakan dalam sel
bawah tanah. Pada mulanya, kebanggaan dirinya masih tegak sebagai akibat dari harapan dan kesadaran tidak berdosa.

Kemudian mulai bimbang sekalipun keyakinan
tidak berdosa masih ada; akhirnya kebanggaannya hancur dan mulailah ia memohon, belum kepada Tuhan, tetapi
baru kepada manusia saja. Dia memohon supaya dipindahkan ke sel yang lain, tak jadi soal ke sel lebih gelap pun. Suatu perubahan, sekalipun tidak menguntungkan, akan dapat mengendorkan ketegangan untuk beberapa hari.

Dia memohon diberi buku bacaan dan diizinkan berjalan-jalan di luar sel. Tak sebuah pun yang dikabulkan. Namun dia tidak berhenti meminta.

Akhirnya, setelah menguras habis semua daya kemanusiaannya, barulah dia berpaling kepada Tuhan. Dia ingat kepada do'a-do'a yang diajarkan ibunya. Sekarang dia dapat meresapkan arti setiap kata, padahal dahulu tak diacuhkannya. 

Untuk orang yang berada dalam kesenangan, doa hanyalah merupakan rangkaian kata tanpa makna, sampai pada suatu saat kesedihan dan kepedihan datang menerangkan makna kata-kata agung yang ditujukan kepada Tuhan
itu.

Sekalipun dia telah berdo'a dengan sungguh-sungguh, namun Tuhan mempunyai rencana yang lain. Dia tetap tersekap.

Jiwanya mulai gelap, dan kabut hitam membayang di hadapan mata. Pikirannya hanya dipenuhi deh suatu perkara, bahwa kebahagiaannya telah hancur oleh alasan-alasan yang tidak jelas.

Kemurungannya menimbulkan amarah yang mendalam. Dia berteriak-teriak mengumpat Tuhan sehingga Sipir meloncat mundur ketakutan. Setelah itu menghantamkan
dirinya ke dinding. 

Surat pengaduan yang diperlihatkan Villefort kepadanya, yang pernah dijamahnya pula, kembali terbayang dalam Ukirannya. Seakan-akan dia melihat kembali baris demi baris yang terdiri dari huruf-huruf yang membara. Dalam keadaan demikian, untung masih ada sisa-sisa kesadaran yang meyakinkan dirinya bahwa yang menyebabkan dia sekarang terjerumus ke jurang yang dalam, adalah perbuatan keji manusia, bukan hukuman dari Tuhan. 

Dia mengutuk orang yang tak diketahuinya ini agar mendapat siksaan yang sepedih pedihnya lebih pedih dari siksaan yang dapat dibayangkannya dalam keadaan amarah yang menyala-nyala. Tetapi dia belum puas juga dengan kutukan ini, karena bahkan siksaan yang paling kejam pun masih terlalu lunak, sebab penyiksaan yang kejam itu akan berakhir dengan mati, dan kematian menyebabkan si ter
kutuk, kalaupun bukan mati dengan tenang, sekurang-kurangnya terlepas dari rasa sakit. 

Pikiran bahwa kematian melepaskan orang dari penderitaan, membawa Dantes kepada gagasan untuk membunuh diri. Makin mantap dia memikirkannya, makin terhibur hatinya. Segala kepedihan dan kesedihannya seakan-akan terbuang menghilang ke luar selnya karena menghampiri malaikat maut. 

Hatinya terasa ringan ketika membayangkan bahwa hidupnya dapat dibuang begitu saja, kapan saja, seperti sepotong pakaian yang sudah lusuh.

Ada dua cara untuk mati: pertama, dengan jalan menggantung diri dengan menggunakan saputangannya. Kedua, dengan mogok makan sampai mati. 

Dia tidak menyukai cara yang pertama. Dia dididik untuk mempunyai rasa jijik kepada kaum perompak, yaitu mereka yang karena dosanya digantung di ujung andang-andang sebuah kapal. Oleh sebab itu mati menggantung diri dianggapnya sebagai tidak terhormat dan dia tidak bersedia mati dengan cara itu. Dia memilih cara yang kedua dan
bersumpah akan melaksanakannya sampai selesai. 

"Akan kulemparkan makananku melalui jendela," katanya dalam hati, 

"Dengan demikian akan tampak seperti aku habis memakannya."

Sejak hari itu, dua kali sehari, dia melemparkan semua makanannya melalui jendela kecil berjeruji. Melalui jendela itu tidak dapat terlihat apa-apa kecuali langit. Mula-mula ia melakukannya dengan perasaan gembira, kemudian dengan ragu-ragu dan akhirnya dengan perasaan menyesal. Dahulu ia menganggap makanannya menjijikkan, tetapi sekarang, rasa lapar merubahnya menjadi menggiurkan dan menghidupkan selera.

Kadang-kadang ia memandang berjam
jam kepada sepotong daging atau roti hitam keras sebelum ia membuangnya. Tetapi ia selalu ingat kepada sumpah yang telah dibuatnya, dan keengganan untuk merendahkan martabatnya, selalu mencegah ia melanggar sumpah itu. 

Akhirnya ia kehabisan tenaga juga sehingga
tidak kuat lagi berdiri untuk membuang makanannya. 

Keesokan harinya, penglihatannya sudah kabur, telinganya sudah hampir tidak mendengar. Sipir menyangka bahwa Dantes sakit payah, dan Dantes mengharapkan malaikat maut akan datang menjemputnya setiap saat.

Kekakuan dan kelumpuhan sudah menguasai dirinya Rasa perih di perutnya sudah hilang. Kalau ia memejamkan mata, cahaya-cahaya terang beterbangan di hadapannya.

Tiba-tiba, pada suatu malam menjelang jam setengah sepuluh ia mendengar suara samar-samar datang dari arah dinding yang dekat dengan tempat ia berbaring. Sebenarnya
banyak sekali serangga-serangga yang menjijikkan berkeliaran dalam selnya, tetapi Dantes sudah cukup terbiasa sehingga ia tidak pernah merasa terganggu oleh suara binatang itu.

Tetapi sekali ini, entah karena sarafnya telah menjadi lebih peka sebab berpuasa, entah memang suara itu lebih keras dari suara-suara serangga atau entah karena pada saat itu
segala sesuatu menjadi lebih penting, Dantes mengangkat kepala untuk mendengar suara itu dengan lebih jelas. Ia mendengar suara garukan yang teratur, yang mungkin berasal dari kuku atau gigi binatang yang kuat atau mungkin juga dari sesuatu perkakas. Suara itu terus-menerus terdengar untuk selama tiga jam, sebelum terdengar suara gemerisik seperti jatuhnya barang-barang yang rapuh.

Setelah itu keadaan menjadi sunyi senyap kembali Keesokan harinya, suara itu terdengar kembali dan sangat jelas. 

"Tak syak lagi sekarang," katanya kepada
dirinya sendiri. 

"Karena suara itu tetap ada sekalipun di siang hari, ini pasti suara seorang pesakitan yang-sedang berusaha melarikan diri. Alangkah senangnya bila aku berada bersama dia, aku akan menolongnya dengan senang hati."

Tetapi, tiba-tiba bayangan hitam menghapus lagi harapannya. Bagaimana kalau suara itu berasal dari pekerja-pekerja yang sedang memperbaiki sesuatu dekat selnya?

Tentu saja kepastian itu dapat dengan mudah diperoleh dengan menanyakannya kepada Sipir, tetapi pertanyaan itu dapat membahayakan. Sayang sekali keadaan badan Dantes begitu lemah dan kepalanya pening sehingga ia tidak mampu berfikir secara teratur. 

Tak ada jalan lain yang dapat ditempuh untuk mengembalikan lagi kejernihan berfikirnya, kecuali menjangkau sayur kaldu yang ditinggalkan Sipir dan meminumnya. Seketika juga ia merasakan merasuknya kesegaran secara berangsur-angsur. Setelah beberapa saat ia berkata kepada dirinya sendiri,

"Hanya ada satu jalan untuk dapat meyakinkan itu, tanpa akibat apa pun. Aku akan mengetuk dinding. Kalau yang bekerja itu seorang pekerja biasa, ia akan berhenti sejenak mendengar ketukan itu dan mungkin menerka-nerka dari
mana datangnya suara. Tetapi apabila yang bekerja itu seorang pesakitan yang sedang berusaha melarikan diri, ketukan itu akan membuatnya takut, dia akan berhenti bekerja dan tak akan berani memulainya lagi sebelum malam, setelah ia yakin bahwa semua orang telah tidur."

Dantes berdiri. Sekarang kakinya sudah agak kuat dan penglihatannya sudah mulai terang kembali. Dia berjalan ke salah satu sudut selnya dan menyomot sebuah batu yang
sudah hampir terlepas dari dinding karena kelembaban.

Dengan batu ia mengetuk dinding tiga kali berturut-turut di tempat suara tadi terdengar paling jelas.

Suara dari seberang sana lenyap seketika, Dantes memasang kupingnya baik-baik. Sehari suntuk ia tidak mendengar lagi suara itu. 

"Seorang pesakitan," 

kata Dantes yakin penuh kegembiraan. Daya hidupnya seakan-akan menghembus lagi ke seluruh tubuh. Semalaman ia tidak tidur tetapi suara di dinding tak kunjung terdengar juga.

Keesokan harinya, ia melahap habis sarapannya. Semua perhatiannya ditujukan kepada dinding. Hatinya merasa jengkel karena kehati-hatian pesakitan itu yang tidak mengira
bahwa dia terganggu hanya oleh pesakitan lain yang berkeinginan bebas juga. 

Tiga hari berlalu tanpa suara, berarti tujuh puluh dua jam. Pada suatu malam, setelah
Sipir melakukan pemeriksaan terakhir untuk hari itu, Dantes menekankan telinganya ke dinding untuk kesekian kalinya, dan ia dapat merasakan adanya suatu getaran yang
sangat halus. Dia berjalan hilir-mudik untuk mengendurkan urat syarafnya yang menjadi tegang, kemudian sekali lagi menempelkan telinganya ke dinding. Dia tidak ragu lagi
ada sesuatu yang sedang berlaku di seberang dinding itu.

Orang di seberang telah mencium bahaya dalam usahanya yang pertama dan sekarang sedang mencobanya lagi. Agar supaya lebih aman rupanya ia telah mengganti pahat dengan pengumpil. Itulah sebabnya suara yang terdengar tidak begitu jelas.

Tergugah oleh ketekunannya hati Dantes sudah tetap untuk membantu orang yang tak kenal lelah ini Menurut perkiraannya, orang itu bekerja tepat di bawah tempat tidurnya. Oleh sebab itu dia menggeserkan tempat tidurnya
dan menengok ke sekeliling mencari sesuatu yang kiranya dapat digunakan sebagai perkakas. Tetapi dia tidak menemukan apa-apa. Tak ada pisau atau barang logam
lainnya. Dari penyelidikannya yang telah berkali-kali dilakukan dia yakin betul bahwa jeruji besi di jendelanya dipasang sedemikian rupa sehingga ihtiar membongkarnya akan merupakan pekerjaan yang sia-sia belaka. 

Hanya tinggal satu kemungkinan lagi: memecahkan kendi tempat airnya, dan menggunakan pecahannya yang tajam sebagai
pengorek tembok. Kendi dijumputnya kemudian dijatuhkannya ke atas lantai.

Dia memilih dua atau tiga pecahan yang tajam, menyembunyikannya di bawah tikar dan membiarkan sisanya berserakan.

Kendi yang pecah merupakan kecelakaan yang
biasa sehingga tidak akan menimbulkan kecurigaan apa-apa pada Sipir.

Dantes mempunyai waktu semalam suntuk, tetapi tidak mudah baginya bekerja dalam kegelapan. Lagi pula ia segera sadar bahwa perkakasnya yang hanya berupa tembikar itu cepat menjadi tumpul tertumbuk batu yang
keras pada dinding. 

Oleh sebab itu dia mengembalikan lagi tempat tidurnya ke tempat asalnya dan menanti sampai hari menjelang siang. Sepanjang malam ia mendengarkan pesakitan yang tak dikenal itu melaksanakan pekerjaannya
di bawah tanah.

Ketika Sipir datang esok paginya Dantes menceritakan bahwa kendinya pecah karena terlepas dari tangan. Sipir itu menggerutu dan pergi lagi untuk mengambil kendi yang
baru tanpa mau bersusah-payah membersihkan pecahan-pecahan yang berserakan di lantai. Dia kembali tak lama
kemudian dan meminta Dantes agar lebih berhati-hati. Lalu dia pergi lagi. 

Segera setelah Sipir pergi Dantes menggeserkan lagi tempat tidurnya. Barulah tampak kepadanya bahwa pekerjaannya tadi malam tidak menghasilkan apa-apa, karena ia mengorek-ngoreknya tepat pada batu, bukan
pada adukan tembok di sekelilingnya. Hatinya melonjak gembira ketika ia berhasil mengikis adukan itu, sekalipun hanya sedikit saja Dan benar-benar hanya sedikit Tetapi dalam tempo setengah jam ia dapat mengikisnya segenggam.

Tiga hari kemudian ia sudah berhasil mengikis habis semua adukan di sekeliling batu itu. Tinggal sekarang mencungkilnya. Dia mencoba dengan jari-jarinya, tetapi kekuatannya tidak memadai. Tembikar patah ketika ia mencoba
menggunakannya sebagai pengungkit. Setelah satu jam berusaha tanpa hasil, ia bangkit dengan hati geram. Apakah ia harus menghentikan usahanya, tepat pada permulaan?

Ataukah ia harus menunggu lama tanpa daya dan guna sedangkan pesakitan yang lain bekerja terus?

Tiba-tiba sebuah pikiran melintas di kepalanya, dan dia tersenyum. Setiap hari Sipir mengantarkan sayur dalam sebuah panci bergagang logam.

Rasanya Dantes mau mengurbankan sepuluh tahun dari hidupnya untuk memperoleh tangkai logam itu. Hari itu pun, seperti biasanya Sipir mengisi mangkuk dari panci itu.

Setelah Sipir pergi Dantes meletakkan mangkuknya di lantai antara pintu dan meja. Ketika kedua kalinya Sipir masuk lagi ke dalam sel, mangkuk itu tersepak hingga pecah.

Sekali ini Dantes tak dapat disalahkan. Memang dia salah meletakkan mangkuk itu di lantai, tetapi Sipir pun harus tidak boleh lengah. Oleh sebab itulah Sipir hanya dapat
menggerutu. Sipir melihat-lihat ke sekelilingnya mencari barang lain yang kiranya dapat digunakan sebagai tempat sayur, tetapi tak ada apa-apa.

"Tinggalkan saja panci itu," kata Dantes.

"Besok dapat kau ambil kembali.”

Usul Dantes sangat menyenangkan bagi Sipir yang malas itu, dengan demikian dia tidak perlu kembali ke atas, turun lagi dan kemudian naik lagi. Dengan senang ia meninggalkan
panci itu.

Seluruh badan Dantes gemetar karena gembira. Setelah menunggu satu jam untuk meyakinkan bahwa Sipir tidak akan kembali lagi, Dantes menggeserkan tempat tidurnya
dan mulai mengungkit batu yang sudah hampir lepas itu dengan menggunakan tangkai panci. 

Baru setelah satu jam ia berhasil melepaskannya dari dinding. Dengan terlepasnya batu itu terjadilah sebuah lubang dengan garis tengah sebesar satu setengah kaki. Karena keinginannya yang kuat untuk memanfaatkan malam itu, karena secara kebetulan atau lebih tepat lagi berkat kecerdikannya, sehingga memperoleh
perkakas yang sangat berharga, ia pun meneruskan pekerjaannya dengan penuh gairah.

Esok paginya Sipir meletakkan sepotong roti di atas mejanya.

"Apakah aku tidak diberi mangkuk baru?" tanya Dantes.

"Tidak. Engkau memecahkan semua barang: mula-mula kendi, kemudian mangkuk. Aku akan meninggalkan panci itu dan itulah mangkukmu."

Dantes memejamkan mata tanda bersyukur. Logam yang sepotong itu menimbulkan rasa syukur, yang jauh lebih mendalam dibandingkan dengan keuntungan terbesar yang pernah diperoleh dalam hidupnya.

Tetapi, ia tidak mendengar sesuatu lagi dari seberang dinding. Pekerjaan Dantes telah menyebabkan pesakitan lain menghentikan usahanya. Namun, ini bukan alasan bagi Dantes untuk berhenti juga. Kalau tetangganya tidak mau datang kepadanya, dia yang akan mendatanginya. 

Dia bekerja sehari penuh tanpa istirahat. Menjelang malam, berkat perkakasnya yang baru, dia berhasil lagi mengikis sekurang-
kurangnya sepuluh genggam adukan tembok dan menanggalkan sebuah batu kecil dari dinding. Dia menghentikan pekerjaannya pada saat Sipir harus melakukan pemeriksaan malam. Dantes meluruskan kembali gagang
panci yang menjadi bengkok.

Dia bekerja lagi setelah Sipir pergi. Setelah dua atau tiga jam didapatinya sebuah rintangan. Dia meraba-raba dan ternyata ada sebuah balok kayu melintang lubang yang
digalinya.

"Ya, Tuhan!" dia berteriak kecewa. 

"Telah lama saya berdo'a dan saya mengira Engkau sudah akan mengabulkan do'a saya. Ya Tuhan, kasihanilah saya. Janganlah saya
dibiarkan mati dalam putus asa."

"Siapakah yang berbicara tentang Tuhan dan putus asa dalam satu tarikan napas?"

Terdengar suara bertanya yang agak ditahan-tahan, seakan-akan muncul dari dalam tanah.
Bulu roma Dantes berdiri mendengar suara yang tiba-tiba itu, tetapi dia memaksakan diri berkata, 

"Atas nama Tuhan, berkatalah sekali lagi"

"Siapa engkau?" tanya suara itu.

"Seorang tahanan yang teraniaya."

"Sudah berapa lama di sini?"

"Sejak Pebruari tanggal 28 tahun 1815."

"Apa dosamu?"

"Saya tidak berdosa."

"Kalau begitu, apa tuduhannya?"

"Berkomplot untuk mengembalikan Napoleon."

"Apa! Maksudmu Napoleon sudah tidak berkuasa lagi?"

"Beliau diturunkan dari tahta di Fontainebleau tahun 1814 kemudian dibuang ke Pulau Elba. Tetapi engkau sendiri sudah berapa lama di sini hingga tidak mengetahui semua itu?"

"Sejak 1811."

Badan Dantes bergidik. Orang itu telah disekap empat tahun lebih lama dari pada dirinya.

"Baiklah, jangan diteruskan lagi menggali," kata suara itu lagi. 

“Di mana lubang yang kaugali itu?"

"Sejajar dengan lantai."

'Terlindung oleh apa?"

"Di belakang tempat tidur."

"Apakah pernah ada orang yang memindahkan tempat tidurmu sejak ditahan?"

'Tidak pernah."

"Apa yang di luar selmu?"

"Sebuah gang."

"Menuju ke mana?"

"Ke pekarangan."

"Ampun!"

"Mengapa?" tanya Dantes.

"Saya keliru. Denah yang saya buat sendiri keliru. Satu garis yang tidak cermat dalam gambar ternyata berarti penyimpangan sejauh lima belas kaki. Dan saya menganggap dinding yang saya gali sebagai dinding benteng."

"Dengan demikian engkau hanya akan sampai ke laut."

"Memang itu yang saya kehendaki. Sedianya saya bermaksud meloncat ke dalam laut kemudian berenang ke Pulau Daume atau Pulau Tiboulen, atau mungkin juga ke
daratan Eropah."

"Apakah engkau akan mampu berenang sejauh itu?"

"Semoga Tuhan akan memberikan tenaga yang diperlukan. Tetapi sekarang semua menjadi sia-sia. Sebaiknya tutup lagi lubang yang kaugali itu dengan baik, jangan bekerja
lagi dan tunggu sampai ada berita lagi dari saya."

"Setidak-tidaknya katakan dahulu namamu."

"Saya... saya pesakitan nomor dua puluh tujuh."

"Rupanya engkau tidak percaya kepada saya?" tanya Dantes.

Dari seberang sana terdengar tawa yang pahit. 

"Berapa umurmu? Menilik suaramu, engkau masih muda."

"Tidak tahu, karena saya telah kehilangan hitungan waktu. Yang masih saya ingat ketika ditangkap dalam tahun 1815 itu, saya berumur sembilan belas tahun."

"Belum dua puluh enam," kata suara tadi. 

"Dalam usia itu biasanya orang belum suka berkhianat."

"Oh, tidak!" teriak Dantes. 

"Saya lebih suka dicincang daripada mengkhianatimu!"

"Usiamu meyakinkan saya. Saya akan datang
berkunjung. Tunggulah."

"Kapan akan datang?"

"Saya perhitungkan dahulu akibatnya. Saya akan memberi tanda, nanti."

"Tetapi engkau tidak akan meninggalkan saya, bukan? Kita akan melarikan diri bersama-sama, atau kalau kita tidak dapat melarikan diri, kita akan berbincang-bincang.
Bila engkau seorang muda, saya akan menjadi sahabatmu. Bila engkau seorang tua, saya akan menjadi anakmu."

"Baiklah. Sampai besok."

Dantes bangkit berdiri, menempatkan kembali batu pada dinding dan menggeserkan tempat tidurnya. Sejak detik itu ia menggantungkan harapannya kepada kebahagiaan yang baru. 

Dia tidak akan kesepian lagi, bahkan mungkin dia dapat bebas. Edmond mengira bahwa kawannya akan memanfaatkan kesunyian dan kegelapan malam untuk bercakap-cakap lagi. Ternyata dia salah kira. 

Dia tidak mendengar apa-apa sepanjang malam itu. Baru esok paginya, ia mendengar ketukan tiga kali pada dinding.

"Engkau itu? Saya di sini!"

"Sipir sudah pergi?" suara itu bertanya.

"Sudah. Dia tidak akan kembali lagi sampai malam nanti. Kita bisa bebas selama dua belas jam."

Tak lama kemudian Dantes mendengar suara batu-batu dan tanah berjatuhan lalu terjadilah sebuah lubang. Dari lubang itu mula-mula muncul kepala, kemudian badan, dan akhirnya berdirilah seseorang di dalam sel Edmond Dantes.



Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...