Sabtu, 31 Juli 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 2

DUA


BEBERAPA  MINGGU  KEMUDIAN,  si  ibu  susu  Jeanne Bussie  berdiri  di  pintu  gerbang  biara  Saint-Merri  dengan tangan  menenteng  keranjang  belanja.  Pintu  dibuka  oleh seorang pendeta botak berusia paruh baya  yang  tubuhnya menebar aroma cuka. 

“Bapa  Terrier,”  seru  si  ibu  susu.  “Ini!”  katanya  sembari meletakkan keranjang belanja di muka gerbang. 

“Apa ini?” 

bertanya Terrier sambil membungkuk ke arah 
keranjang  dan  mendengus  membaui, berharap  isinya sesuatu yang bisa dimakan. 

“Ini  anak  haram  milik  perempuan  dari  jalan  Fers  yang tadinya hendak ia bunuh itu.” 

Si  pendeta  dengan lembut  membuka  keranjang itu dengan jarinya sampai terlihat wajah  si bayi yang lelap. 

“Kelihatannya baik-baik  saja.  Pipinya  merona  dan tampak kenyang minum.” 

“Terang  saja  begitu,  karena  ia  menempelkan  dirinya padaku. Memompaku  begitu  kering  sampai  ke  tulang. Aku tak  sudi.  Kini  terserah  kau  mau  disusui  dengan  susu kambing,  bubur,  atau  gula  biang...  aku  tak  peduli.  Haram jadah ini akan melahap apa saja.” 

Bapa  Terrier  dikenal  ramah  dan  supel.  Salah  satu  dari sekian  tanggung jawabnya adalah menangani administrasi kotak  amal  biara  dan  pendistribusiannya  kepada  fakir 
miskin.  Untuk  itu  ia  berharap  agar  orang  tahu  berterima kasih dan  tidak mengganggunya dengan  tetek bengek lain. 

Ia  benci  detail  teknis  karena  detail  baginya  berarti kesulitan  dan  kesulitan  berarti  gangguan  kesehatan  - ia sangat menolak  hal ini.  Ia menyesal  telah membuka  pintu gerbang  dan  berharap  si  wanita  segera  pergi  membawa keranjang itu pulang ke rumah atau apalah, pokoknya tidak lagi  mengganggunya  dengan  remeh-temeh  seperti  ini. 

Perlahan  ia  menegakkan  tubuh  sembari  menghela  napas. Hidungnya menangkap aroma susu dan keju murahan yang ditebarkan tubuh si ibu susu. Bau yang enak. 

“Aku  tak paham apa maumu,” ia berkata. 

“Sungguh, aku tak  mengerti  apa  maksudmu.  Setahuku  tak  ada  salahnya bagi  si  bayi  untuk  bernaung  beberapa  waktu  lagi  di 
dadamu.” 

“Memang  tak  apa  baginya,”  si  ibu  susu  menyalak  balik, 

“tapi  aku  rugi  besar.  Beratku  turun  lima  kilo  dan  harus menanggung  nafsu  makan  tiga  perempuan  digabung  jadi satu. Semua ini demi apa? Demi tiga Franc seminggu?!!” 

“Ah...  begitu  rupanya,”  desah  Bapak terier lega Sekali lagi, ini hanya soal uang, kan?” 

“Bukan!!” jerit si ibu susu kesal. 

“Tentu  saja  iya!”  bantah  si  pendeta.  “Ujung-ujungnya selalu uang. Semua ketukan di pintu gerbang ini selalu soal uang.  Sampai-sampai  aku  berharap  agar  sesekali menemukan seseorang berdiri di sini dengan masalah yang 
sama  sekali  berbeda  - seseorang  dengan  cukup  tenggang rasa  dan  kebijaksanaan  untuk  membawa  oleh-oleh  buah, misalnya.  

Atau  sekadar  kacang.  Lagi  pula,  di musim  gugur begini  pasti  banyak  yang  bisa  dijadikan  hadiah.  Bunga, misalnya.  Atau  sepatah  dua  patah  kata  beramah-tamah, 
'Semoga  Tuhan  memberkatimu,  Bapa  Terrier..  semoga harimu menyenangkan!' dan semacamnya. 

Tapi sepertinya  aku  tak  akan  pernah  menemui  hal  demikian  sampai  aku mati.  Yang  datang  kemari  kalau  bukan  pengemis  pasti saudagar.  Kalau  bukan  saudagar,  pasti  pedagang.  Jika bukan  minta  sedekah,  pasti  menyorongkan  tagihan.  Aku bahkan  tak  bisa  lagi  keluar  jalan-jalan  dengan  tenang. 
Belum tiga langkah  pasti  sudah  ada  saja  yang  menodong minta uang.” 

“Tapi aku kan tidak begitu,” protes si ibu susu.

“Benar,  tapi  biar  kuberi  tahu:  kau  bukan  satu-satunya ibu  susu  dalam  jemaah  kita.  Ada  ratusan  ibu  angkat jempolan yang berebut ingin menyusui bayi mempesona ini 
Untuk  tiga  Franc  seminggu,  atau  memberi  bubur, jus atau makanan lain....” 

“Kalau begitu, serahkan saja ia pada mereka!” 

“...  di  pihak lain,” lanjut  Bapa  Terrier,  “tak  baik  kiranya mengoper-oper seorang bayi seperti itu. Siapa  tahu ia bisa lebih baik menyusu padamu ketimbang orang lain? 

Apalagi kau pasti juga tahu bahwa ia sudah terbiasa dengan aroma tubuhmu, begitu pun dengan degup jantungmu.” 

Sekali  lagi  si  pendeta  menghela  napas  panjang, menghirup  dalam-dalam  kehangatan aroma  tubuh h  si  ibu susu. 

Tapi  saat  menyadari  bahwa  kata-katanya  tak  mempan, segera  ia  menambahkan,  

“Sekarang  bawalah  anak  ini kembali  pulang!  Keluhanmu  akan  kubicarakan  dengan 
kepala biara.Akan kusarankan agar kau diberi empat Franc seminggu” 

“Tidak,” bantah si ibu susu. 

“Baiklah... lima!” tukas si pendeta. 

“Tidak.” 

“Lantas,  kau  ingin  berapa  kalau  begitu?”  bentak  Bapa Terrier. 

“Lima Franc sudah berlebihan untuk tugas seremeh menyusui bayi!” 

“Aku sama sekali tak ingin uang,. timpal si ibu susu. “Aku ingin haram jadah ini keluar dari rumahku.” 

“Tapi kenapa demikian, wahai wanita yang baik?”  tanya Bapa  Terrier  sambil  menjawil  lagi  keranjang  itu  dengan lembut.  

“Lihatlah!  Ia  sungguh  bayi  yang  menggemaskan. Kulitnya segar kemerahan, ia tidak menangis dan juga telah dibaptis.” 

“Anak ini dirasuki setan.” 

Kontan Terrier menarik jarinya dari keranjang.

“Tidak  mungkin!  Sama  sekali  tidak  mungkin  seorang bayi  bisa  dirasuki  setan.  Bayi  adalah manusia  yang  belum lengkap  - makhluk  pramanusia,  yang  karenanya  belum 
memiliki jiwa yang terbentuk sempurna. Oleh karena itu, ia tak mungkin diminati setan. Atau barangkali ia sudah bisa bicara,  ya?  Apa  ia  meronta-ronta,  begitu?  Mampu menggerakkan sesuatu, barangkali? Apa ada bau setan dari badannya?” 

“Tidak, ia sama sekali tidak berbau,” jawab si ibu susu. 

“Nah, itu dia! Itu bukti yang jelas bahwa ia tidak dirasuki setan. Sebab jika iya, mestinya berbau tak sedap.” 

Demi  meyakinkan  si  ibu  susu  dan  menguji 
keberaniannya  sendiri,  Terrier mengangkat  keranjang  dan mendekatkannya ke hidung.

'Aku  tak  mencium  bau  aneh  apa  pun,”  katanya  setelah mengendus  beberapa  kali.  

“Sungguh  tak  ada  yang  aneh. Meski  memang  ada  bau  tertentu  dari  popoknya.”  

Terrier menyorongkan keranjang agar wanita itu yakin. 

“Bukan  itu  maksudku,”  jawab  wanita  itu  kesal  sambil menjauhkan  keranjang  dari  wajahnya.  

“Bukan  bau  popok yang  jadi  masalah.  Kotorannya  memang  bau,  itu  wajar. Masalahnya  si anak  itu  sendiri  ‐  ia  tidak  berbau  sama sekali.” 

“Itu  karena  ia  sehat!”  bantah  Terrier  jengkel.  

“Wajar  ia tidak berbau karena badannya sehat! Hanya bayi sakit yang badannya bau. Semua orang tahu itu. Bukan rahasia bahwa anak yang terserang cacar pasti berbau kotoran kuda, yang terserang  demam  berbau  apel  busuk,  dan  yang  terserang TBC  berbau  seperti  bawang.  Tapi  anak  ini  sehat  walafiat. Apa itu salah? Apa menurutmu ia mestinya berbau, begitu? 
Apa anak-anakmu sendiri bau?” 

“Tidak,” jawab si ibu susu. 

“Anak-anakku berbau seperti normalnya bau anak manusia.”

Terrier  meletakkan  kembali  keranjang  itu  ke  tanah dengan  hati‐hati.  Kejengkelan  mulai  naik  ke  ubun-ubun menghadapi  perempuan  keras  kepala  ini.  

Rasanya  butuh lebih  bebas menggerakkan  tangan  kalau mau melanjutkan debat  tanpa  harus  melukai  si  bayi  dengan  menenteng 
keranjang  terus-menerus.  

Tapi  untuk  sekarang  ia  masih  merasa  cukup  menahan  tangan  di  belakang  punggung, menyorongkan  perut  buncitnya  ke  arah  si  ibu  susu,  lalu bertanya dengan nada tajam, 

“Kau bersikeras kalau begitu, bahwa  kau  tahu  bagaimana  mestinya  bau  seorang  anak 
manusia  - yang  kalau  boleh  kuingatkan  bahwa  begitu seorang anak di baptis maka  ia  adalah  juga  anak  Tuhan. Benar?” 

“Ya,” jawab wanita itu. 

“Dan kau juga bersikeras bahwa jika seorang anak tidak berbau  ‐ menurut engkau, wahai ibu susu bernama  Jeanne Bussie  dari  jalan  Saint-Dennis-maka anak  tersebut  sudah 
pasti dirasuki setan?” 

Tangan  kiri  si  pendeta  berkelebat  dari  balik  punggung menegaskan  pertanyaan  dengan  jari  telunjuk  di  depan wajah si ibu susu. 

Membuat perempuan itu meragu.  Ia  tak 
menyukai  arah  percakapan  yang  sekonyong-konyong berubah  mempertanyakan  keyakinannya,  di  mana  sendiri menjadi pihak yang salah. 

“Maksudku  sama  sekali  tidak  begitu,”  elaknya.  

“Kalian para  pendeta  selalu  saja  seenaknya  memutuskan  apakah segala  sesuatunya  harus  berhubungan  dengan  setan  atau 
tidak,  Bapa  Terrier.  Bukan  hakku  memutuskan  demikian. 

Aku  hanya  tahu satu  hal:  bayi  ini  membuatku  merinding karena ia tidak berbau sewajarnya bau anak manusia.” 

“Aha!”  

jawab  Terrier  puas  sambil  mengibaskan  tangan kembali.  

“Sekarang  kau  menarik  tuduhan  soal  setan  tadi, ya?  Bagus.  Tapi  sekarang  tolong  katakan  padaku:  seperti apa kiranya  bau  seorang  bayi  yang  wajar menurut pendapatmu? Hmm?” 

“Mestinya ia berbau enak,” jawab si ibu susu. 

“Enak  bagaimana  maksudmu?”  desak  Terrier.  

“Banyak hal lain yang baunya juga bisa dibilang enak. Seikat bunga, misalnya.  Taman  bunga  Arab  baunya  juga  enak.  Tapi bagai mana mestinya bau  seorangng bayi yang enak? Itu  yang kutanya.”  

Si  ibu  susu  tergugu.  Ia  tahu  persis  bagaimana  bau seorang  bayi.  Ia  tahu  persis  karena  ia  kenyang  menyusui, merawat, menggendong, dan menciumi mereka.  Ia bahkan mampu  mengendusi  mereka  di  kegelapan  sekalipun.  

Saat ini  pun  ia  mencium  bau  tersebut  dengan  jelas.  Tapi  baru sekarang ia diminta menggambarkannya dengan kata¬kata. 

“Bagaimana?”  desak  Terrier  lagi  sambil  menjentikkan jari tak sabar. 

“Yaah... ini...,” gugu si ibu susu, “...tidak mudah dikatakan, karena... karena masing-masing baunya berbeda, walaupun masing¬masing  juga  baunya  enak.  Bapa,  kau  tahu maksudku,  kan?  Kaki  mereka,  misalnya.  Baunya  seperti batu  halus  yang  hangat - atau...  tidak,  lebih  seperti  susu... 
atau  mentega...  persisnya  mentega  segar.  

Kaki  mereka berbau mentega segar. Dan  tubuh mereka berbau seperti...  seperti kue serabi berbalur susu. Lantas kepala, sampai ke ubun-ubun  dan  bagian  belakang  di  mana  rambut  mulai mengijuk... itu lho,... tahu maksudku, kan? Bagian yang kini tak lagi berambut di kepalamu ...... seraya menepuk bagian yang  botak  di  kepala  si  pendeta - yang  dalam  ketakjuban menyimak,  tanpa  sadar  merundukkan  kepala  dengan 
patuh.  

“Di  sini,  persis  di  sini,  baunya  paling  enak.  Seperti karamel.  Begitu  manis.  Pokoknya  enak  sekali,  Bapa.  Sulit dijelaskan!  Sekali  mampu  mengendusi,  kau  akan menyukainya  tanpa  peduli  itu  bau  anakmu  sendiri  atau 
bukan. Dan begitulah mestinya bau bayi. Tak boleh berbau lain.  Kalau  tidak  begitu - kalau  mereka  tidak  berbau  apa-apa  sama  sekali  di  ubun-ubun  itu  atau  bahkan  nyaris  tak 
berbau seperti si haram jadah ini, maka... terserah kau mau bilang  apa,  Bapa,  tapi  aku  ...,”  ia  bersedekap  dengan  tegas sambil menyalangkan pandangan jijik ke arah keranjang di kakinya  seolah-olah  berisi  katak.  'Aku,  Jeanne  Bussie,  tak sudi menerima benda itu lagi!” 

Bapa  Terrier  perlahan  mengangkat  kepala  sambil melayangkan jemari mengelusi  kepala.  botaknya  beberapa kali  seolah  merapikan  rambut,  lalu  mendaratkan  jemari 
tersebut  ke bawah hidung seperti  tak  sengaja.  Ia mengendus-endus sambil berpikir. 

“Seperti  karamel,  katamu  ...  ?”  ia  bertanya,  sambil mencoba  membangkitkan  ketegasan.  

“Karamel!  Tahu  apa kau soal karamel? Memangnya kau pernah mencicipi?” 

“Tidak  juga  sih,”  jawab  si  ibu  susu,  

“tapi  sekali  aku pernah berada di sebuah rumah besar di jalan Saint-Honore dan  melihat  sendiri  bagaimana  pembuatannya  dari  gula dan krim cair. Baunya begitu enak dan tak terlupakan.” 

“Ya, ya... baiklah,” jawab Terrier sambil menarik jari dari hidung. 

“Tapi  tolong  jangan  bicara  lagi  sekarang!  Aku  capek berdebat. Kuputuskan saja sekarang bahwa dengan ini kau menolak  bayi  yang  telah  diserahkan  oleh  biara  untuk  kau 
rawat  bernama  Jean-Baptiste  Grenouille  dan mengembalikannya  ke  pihak  pelindung  sementara,  yaitu biara  Saint-Merri.  

Terus  terang,  ini sungguh  meresahkan,
tapi sepertinya tak ada pilihan lain. Kau resmi dipecat.” 

Dengan  itu  ia  mengangkat  keranjang,  melepaskan endusan  terakhir  dari kehangatan  dan  aroma  susu  yang menyenangkan  dari  tubuh  si  ibu  susu,  membanting  pintu, lalu langsung menuju ruang kantor.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...