Kamis, 29 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 51

BAB LI


SETELAH pertunjukan usai Monte Cristo dan
Maximilien berpisah dan masing-masing pulang ke rumahnya. Monte Cristo tetap bersikap tenang dan tersenyum. Hanya orang yang sama sekali tidak mengenalnya akan terpedaya oleh nada suaranya ketika dia
berkata kepada Ali, 

"Ali, bawa pistol-pistolku yang bergagang gading ke mari.”

Ali mengantarkan pistol-pistol yang diminta kepada majikannya, yang lalu memeriksanya dengan ketelitian seorang yang hendak mempercayakan mati-hidupnya kepada barang tersebut. Dia sedang memegang salah satu pistol di tangan ketika pintu tiba-tiba terbuka dan Baptistin masuk. 

Sebelum dia sempat membuka mulut, Monte Cristobmelihat seorang wanita bercadar berdiri di belakang Baptistin di ambang pintu. Monte Cristo meminta Baptistin meninggalkan ruangan. Baptistin menurut dan menutup
pintu.

"Bolehkah saya tahu siapa Nyonya?" tanya Monte Cristo kepada wanita bercadar itu.

Sebelum menjawab, tamu itu melihat dahulu ke sekelilingnya, meyakinkan bahwa tiada orang lain kecuali mereka berdua. Dengan suara bernada putus asa tiba-tiba ia berkata,

"Jangan bunuh anak saya, Edmond."

Monte Cristo mundur terkejut dan tanpa disadarinya mengeluarkan suara yang lemah sekali. Pistol di tangannya terlepas dan jatuh di lantai. 

"Nama siapa yang baru Nyonya sebut, Nyonya de Morcerf?"

"Namamu!" 

Jawabnya yakin sambil melepaskan cadarnya.

"Namamu yang asli, yang hanya aku sendiri yang mengingatnya! Edmond, bukan Nyonya de Morcerf yang sekarang datang kepadamu, melainkan Mercedes."

"Mercedes telah meninggal, Nyonya, dan saya tidak mengenal lagi orang yang bernama demikian."

"Mercedes masih hidup, dan dialah satu-satunya orang yang mengenalimu. Sejak itu dia mengikuti segala gerak-gerikmu dan merasa takut kepadanya dan dia tidak perlu bersusah-
payah mencari siapa yang memberikan pukulan maut kepada Morcerf."

"Nyonya maksud Fernand, bukan?" 

Tanya Monte Cristo dengan sindiran yang pahit. 

"Karena kita toh sudah saling mengenal nama kita masing-masing sebaiknya kita ingat juga
kepada nama asli orang lain."

Dia mengucapkan nama Fernand dengan nada 
kebencian sehingga getar ketakutan mengalir di tubuh Mercedes.

"Aku tahu, aku tidak keliru," katanya, 

"kalau aku meminta kepadamu : selamatkan jiwa anakku!"

"Siapa yang mengatakan bahwa saya mempunyai urusan dengan anak Nyonya?"

"Tak seorang pun, tetapi seorang ibu dianugerahi daya lihat ganda. Aku dapat merasakan semuanya. Aku mengikuti ke Gedung Opera dan bersembunyi di ruang duduk. Dari sanalah aku mengetahui apa yang telah terjadi."

"Kalau begitu, tentu Nyonya mengetahui bahwa anak Fernand menghina saya di depan umum."

"Anakku mempersalahkan malapetaka yang menimpa bapaknya kepadamu."

"Yang menimpa bapaknya bukan malapetaka, melainkan hukum. Saya tidak memukulnya. Tuhan Yang Maha Adil yang menghukumnya."

'Tetapi mengapa engkau bertindak sebagai Tuhan?" tanya Mercedes menangis. 

"Apa urusanmu dengan Yanina? Apa kerugianmu karena pengkhianatan Fernand Mondego kepada Ali Pasha?"

"Nyonya benar, itu bukan urusan saya. Saya tidak bersumpah untuk membalas dendam kepada opsir Perancis atau Count of Morcerf, melainkan terhadap Fernand Mondego suami Mercedes."

"Akulah yang salah, Edmond, dan kalau engkau bermaksud membalas dendam, kepadakulah semestinya, karena aku bersalah tidak mempunyai kekuatan menahan ketidak hadiranmu dan kesunyian diriku."

'Tetapi mengapa saya harus menghilang?" teriak Monte Cristo.

"Karena engkau ditangkap, karena engkau dipenjara."

"Dan mengapa saya ditangkap? Mengapa saya dipenjara?"

"Aku tidak tahu," jawab Mercedes.

"Benar, Nyonya tidak tahu. Sekurang-kurangnya saya mengharapkan Nyonya tidak tahu. Baik, akan saya terangkan.

Saya ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara, sehari sebelum saya mengawinimu, karena seorang laki-laki bernama Danglars menulis surat kepada jaksa yang dikirimkan
oleh Fernand sendiri."

Monte Cristo berjalan ke meja tulisnya lalu membuka salah satu lacinya. Dari dalamnya dia mengeluarkan secarik kertas kuning. 

Kertas itu surat Danglars kepada jaksa.

Mercedes mengambil surat itu dan membacanya dengan rasa gentar. 

"Oh, Tuhanku!" 

Dia memukulkan kedua tangannya ke kepala.

"Dan surat ini . .."

"Saya membelinya dengan harga dua ratus ribu frank. Saya menganggapnya murah karena ternyata sekarang dengan itu saya dapat membuktikan kebersihan saya di hadapan Nyonya."

"Apa akibat dari surat ini?"

"Nyonya sudah mengetahui akibatnya. Surat itu membawa saya ke penjara. Tetapi yang tidak Nyonya ketahui, berapa lama saya tersekap dalam penjara itu. 

Nyonya tidak tahu bahwa untuk empat belas tahun lamanya saya berada dalam jarak hanya beberapa ratus meter dari Nyonya dalam sebuah sel di bawah tanah di Penjara Chateau d’If. 

Nyonya tidak tahu bahwa dalam empat belas tahun itu setiap hari saya memperbarui sumpah membalas dendam yang saya tekadkan pada hari pertama masuk penjara. 

Namun demikian saya tidak mengetahui bahwa Nyonya menikah dengan Fernand, orang yang mengkhianati saya. 

Juga tidak mengetahui bahwa ayah saya meninggal dan bahwa dia meninggal karena kelaparan!"

"Ya Tuhan!" 

Sekali lagi Mercedes berteriak. Dengan berlutut dan tersedu-sedu ia berkata, 

"Maafkan aku, Edmond, maafkan demi Mercedes yang masih mencintaimu!"

Monte Cristo mengangkatnya kembali berdiri. 

"Nyonya meminta saya untuk tidak membunuh anak terkutuk itu. 

Nyonya meminta saya untuk tidak mentaati Tuhan yang telah mengembalikan saya dari kematian untuk menghukum mereka. 

Tidak mungkin Nyona, tidak mungkin!"

"Aku memanggilmu dengan nama Edmond," 

kata ibu yang malang itu terisak-isak dan nada putus harapan, 

"mengapa engkau tidak memanggilku Mercedes?"

"Mercedes," Monte Cristo mengulangnya.

"Mercedes ..
Sebuah nama yang masih sedap untuk diucapkan dan yang sudah lama sekali tidak pernah keluar dengan jelas melalui bibirku. Oh, Mercedes, aku selalu menyebut namamu dengan keluh kesedihan, dengan jerit kepedihan dan dengan keluh kesah keputusasaan. 

Aku menyebut-nyebutnya sambil terbungkuk-bungkuk di atas jerami dalam selku, Mercedes.

Aku menderita selama empat belas tahun, aku menangis dan mengutuk selama empat belas tahun. Dan sekarang akan saya katakan, Mercedes, aku harus membalas dendam!"

Supaya hatinya tidak terbawa hanyut oleh permohonan wanita yang pernah dicintainya, dengan seluruh tubuhnya gemetar dia menghimpun kembali semua kepedihan yang
pernah dideritanya untuk memperkuat kebenciannya.

"Balaskanlah dendammu, Edmond," 

teriak ibu yang malang itu, 

"tetapi balaskanlah terhadap yang berdosa!
Terhadap Fernand, terhadapku, tetapi jangan terhadap anakku!"

Monte Cristo mengeluarkan nafas panjang yang hampir serupa dengan raungan, lalu menjepit kepalanya dengan kedua belah tangannya.

"Edmond," lanjut Mercedes, 

"sejak aku mengenalmu aku selalu memuja namamu dan menghargai daya ingatmu.

Edmond, sahabatku, janganlah memaksa aku
memadamkan gambaran yang murni dan mulia yang senantiasa bercahaya dalam hatiku itu. 

Oh, Edmond, kalau saja engkau tahu betapa sering aku berdo'a untukmu selama aku mengharap engkau masih hidup dan setelah aku mengira engkau telah meninggal! Apa lagi yang dapat kulakukan bagimu kecuali menangis dan berdo'a?

Percayalah kepadaku, Edmond, aku merasa berdosa dan aku pun menderita!"

"Apakah engkau dapat merasakan ayah kandungmu meninggal ketika engkau jauh daripadanya? Apakah engkau dapat merasakan ketika melihat wanita yang kaucintai menyerahkan dirinya kepada musuhmu sedangkan engkau sendiri menjerit-jerit menangis dalam kegelapan sel di bawah
tanah?"

'Tidak," jawab Mercedes, 

"tetapi aku melihat laki-laki yang kucintai telah siap untuk menjadi pembunuh anakku."

Mercedes mengucapkan kata-kata ini dengan kepedihan yang mendalam dan keputusasaan yang pasti sehingga menyebabkan Monte Cristo yang keras itu tidak dapat menahan
sedu tangisnya yang bergejolak di tenggorokan.

Singa garang telah terjinakkan. Si Pembalas Dendam sudah tertaklukkan.

"Engkau datang untuk nyawa anakmu," katanya perlahan-lahan. 

"Baik, dia akan hidup."

"Oh!" 

Mercedes berteriak girang. Dia menangkap tangan Monte Cristo dan membawanya ke bibirnya. 

"Terima kasih, Edmond, terima kasih! Engkau masih tetap laki-laki yang kudambakan, laki-laki yang tetap kucintai."

"Engkau tak akan dapat lebih lama mencintainya lagi," jawab Monte Cristo. 

"Orang yang telah mati itu akan segera
kembali ke dalam kuburnya. Bayangannya akan segera menghilang dalam kegelapan malam”

"Apa maksudmu?"

"Maksudku, karena engkau memintanya, Mercedes, aku harus mati."

"Mati? Siapa yang berbicara tentang mati?"

"Engkau tentu tak akan dapat percaya bahwa setelah dihina di muka umum oleh seorang anak muda yang mungkin nanti menggembar-gemborkan telah mendapat maaf dariku, atau menggembar-gemborkan mendapat kemenangan dalam duel melawanku, aku masih tahan untuk hidup.

Yang paling kucintai setelah dirimu Mercedes, adalah diriku sendiri. Tegasnya kemuliaan martabatku dan kekuatan yang membuatku mempunyai kekuasaan atas orang-orang lain. 

Kekuatan itu adalah hidupku, dan engkau
telah mematahkannya dengan kata-kata. 

Karena itu aku harus mati. Duel akan tetap berlangsung, hanya saja, bukan darah anakmu yang akan mengalir, melainkan darahku."

Sekali lagi Mercedes berteriak dan melompat menghampiri Monte Cristo, tetapi tiba-tiba dia berhenti. 

"Edmond," katanya, 

"kenyataan bahwa engkau masih hidup dan kenyataan bahwa aku masih dapat melihatmu lagi, membuktikan adanya Tuhan di atas kita. 

Aku mempercayai Dia dari kedalaman lubuk hatiku. Dengan mengharapkan pertolongan-Nya aku mempercayai kata-katamu. 

Engkau telah mengatakan anakku akan hidup. Dia akan hidup bukan?"

"Betul, dia akan hidup," kata Monte Cristo, 

terkejut merasakan penerimaan Mercedes untuk pengorbanannya.

Mercedes mengulurkan kedua tangannya kepada Monte Cristo. 

"Edmond," 

katanya, matanya basah karena air matanya, 

"engkau baru saja melakukan tindakan yang
mulia dan luhur. Engkau telah mengasihani seorang perempuan yang malang dan datang kepadamu dengan mempunyai banyak alasan untuk percaya bahwa permintaannya tidak akan dikabulkan. 

Aku menua lebih cepat karena kesedihan daripada dimakan usia, dan balikan aku sudah
tidak lagi dapat mengingatkan Edmondku kepada Mercedes yang biasa dia pandang berjam-jam. Oh, percayalah ketika aku mengatakan aku pun menderita. Sungguh sangat mengerikan melihat jiwa seseorang akan menghilang, tanpa harapan secercah pun. 

Aku katakan sekali lagi, Edmond, sungguh mulia dan luhur tindakan memberi maaf seperti yang kaulakukan ini."

"Engkau mengatakan itu tanpa mengetahui betapa besar pengorbanan yang kuberikan untukmu Mercedes. Coba bayangkan, seandainya Tuhan Yang Maha Kuasa setelah
selesai menciptakan sepertiga dari dunia ini menghentikan ciptaan-Nya untuk menghemat air mata malaikat yang akan menangisi dosa-dosa kita kalau dunia ini diselesaikan, seandainya setelah Tuhan mempersiapkan segala-galanya dan menyebarkan benih-benih kehidupan di dunia ini dalam kegelapan abadi... kalau saja engkau dapat membayangkan ini, engkau tetap tidak akan dapat membayang kan apa artinya kehilangan hidupku pada saat ini"

Mercedes menatap wajah Monte Cristo dengan air muka yang mencerminkan keheranan, kekaguman dan rasa terima kasih.

"Edmond," katanya, 

"hanya tinggal ini yang masih dapat
kukatakan. Kecantikanku telah pudar, tetapi engkau akanbmelihat bahwa sekalipun jasmaniahnya telah berubah, hatinya tetap tidak berubah. Selamat tinggal, Edmond. Aku
tidak menghendaki apa-apa lagi, aku telah melihatmu lagi tetap mulia dan berjiwa besar seperti sediakala. Selamat tinggal dan terima kasih, Edmond,"

Monte Cristo tidak menjawab. Mercedes telah pergi sebelum dia sadar kembali dari lamunannya yang dalam dan pedih, yang terjadi karena hilangnya nafsu balas dendam.

"Betapa bodoh aku!" katanya kepada dirinya sendiri,

"karena tidak mengoyak hatiku sendiri pada pertama kalinya aku mengucapkan sumpah balas dendam!"




Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...