BAB LII
ESOK paginya Maximilien dan Emmanuel datang duapuluh menit lebih cepat.
"Maafkan kami, karena datang terlalu pagi. Terus terang saya akui bahwa semalam saya tidak dapat tidur sekejap pun, demikian juga saudara-saudara saya. Saya perlu melihat
Tuan yang senantiasa tabah dan yakin agar saya pun dapat mengembalikan kepercayaan saya kepada diri sendiri.
Count of Monte Cristo tersentuh hatinya. Tidak seperti biasanya mengulurkan tangan untuk berjabatan sekali ini dia merangkul Maximilien sambil berkata,
"Maximilien, aku selalu menganggap sebagai suatu hari yang sangat mulia apabila aku dapat merasakan cinta Orang-orang seperti engkau.
Selamat pagi, Emmanuel. Jadi engkau bersedia menjadi pembantuku, Maximilien?"
"Apakah Tuan meragukannya?"
"Tetapi seandainya . .."
"Saya memperhatikan Tuan sejak awal sampai akhir kejadian tadi malam. Semalam suntuk saya merenungkan keyakinan Tuan dan akhirnya hati saya membisikkan bahwa keadilan akan berada di pihak Tuan. Kalau tidak, berarti kita tidak bisa menarik suatu kesimpulan dari air muka seseorang."
"Terima kasih, Maximilien,"
Jawab Monte Cristo. Latas dia memukul gong sekali dan Ali muncul.
"Antarkan ini kepada notaris. Ini adalah surat wasiatku, Maximilien, dan ada hubungannya dengan engkau setelah aku mati "
“Apa!"
"Kita harus bersiap untuk segala kemungkinan, bukan? Sekarang, ceriterakan apa yang engkau lakukan semalam setelah berpisah dengan aku."
"Saya pergi ke Tortoni di mana, seperti yang saya harapkan, bertemu dengan Beauchamp dan Chateau-Renaud. Saya sengaja mencari mereka."
"Buat apa? Bukankah perjanjian sudah dibuat?"
"Saya mengharapkan mereka mau menyetujui perubahan senjata. Pistol itu buta."
"Berhasil?"
Tanya Monte Cristo dengan harapan yang
hampir-hampir tidak tampak.
'Tidak... keakhlian Tuan bermain anggar sudah banyak diketahui orang."
"Bagaimana mungkin?"
"Dari seorang guru anggar yang Tuan kalahkan."
"Artinya engkau tidak berhasil?"
"Mereka menolak dengan tegas."
"Pernahkan engkau melihat aku menembak dengan pistol?"
"Belum pernah."
Monte Cristo menempelkan sehelai kartu Asret pada sebuah papan, lalu mengambil pistol dan menembak dengan tepat keempat sudut gambar belah ketupat yang berada di tengah-tengah kartu.
Maximilien memeriksa peluru yang digunakan Monte Cristo mendemonstrasikan kemahirannya, dan ternyata peluru itu tidak lebih besar dari peluru biasa.
"lihat Emmanuel!" katanya.
"Luar biasa!"
Lalu menghadap kepada Monte Cristo,
"Demi Tuhan, janganlah membunuh Albert Kasihan, dia mempunyai ibu "
"Betul," jawab Monte Cristo,
"dan aku tidak mempunyainya."
Dia mengucapkan kalimat itu dengan nada yang membuat Maximilien bergidik.
“Tuan adalah pihak yang ditantang."
"Apa artinya itu?"
"Artinya, Tuan mempunyai hak untuk menembak lebih dahulu. Saya menuntut hak itu dan mereka menyetujui karena kita telah banyak sekali memberikan peluang kepada
mereka."
"Jaraknya berapa langkah?"
"Dua puluh."
Senyum yang menyeramkan tersimpul di bibir Monte Cristo,
"Maximilien," katanya,
"jangan melupakan apa yang baru saja kaulihat."
“Tidak. Itulah sebabnya saya mengharapkan kemurahan hati Tuan untuk menyelamatkan jiwa Albert. Tuan yakin betul akan dapat membunuhnya, sehingga saya ingin mengatakah sesuatu kepada Tuan yang bagi orang lain tentu menggelikan: lukai saja dia, jangan sampai dibunuh."
"Dengarkan, Maximilien. Tidak perlu engkau menganjurkan aku berbuat baik kepada Tuan Albert de Morcerf. Memang aku sudah berniat akan berbuat baik sekali sehingga dia dapat kembali ke rumahnya tanpa cedera bersama kedua orang pembantunya, sedang aku ..."
"Sedang Tuan.,..?"
"Akan lain. Aku akan pulang digotong orang."
'Tidakl Tidak Tuan bergurau tentu."
"Akan terjadi seperti yang kukatakan, Maximilien. Tuan Morcerf akan membunuhku."
Dengan mata terbelalak Maximilien menatap wajah Monte Cristo.
"Apa yang terjadi dengan tuan malam tadi,
Count?"
“Sama seperti yang terjadi dengan Brutus semalam sebelum Peperangan Phillipi. Aku melihat hantu. Dan hantu itu mengatakan bahwa aku telah hidup terlalu lama."
Maximilien dan Emmanuel saling berpandangan. Monte Cristo mengeluarkan arloji kantongnya.
"Mari kita berangkat," katanya.
"Sudah jam tujuh lewat lima menit dan perjanjian kita jam delapan."
Kereta telah menunggu mereka di muka pintu. Monte Cristo dan kedua kawannya menaikinya. Mereka tiba di tempat perjanjian tepat pada jam delapan.
"Kita datang lebih dahulu,"
kata Maximilien sambil menjulurkan kepalanya melalui jendela kereta.
"Maaf, Tuan."
Kata Baptistin yang mengikuti majikannya
dengan perasaan yang sangat gentar.
"Saya melihat sebuah kereta di bawah pohon sana."
"Oh, benar juga," kata Emmanuel.
"Dan saya lihat dua orang muda yang seperti menunggu kita."
Monte Cristo meloncat keluar kereta lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Maximilien dan Emmanuel turun. Setelah itu dia menarik Maximilien menjauh.
"Maximilien, apakah hatimu masih bebas?"
Maximilien menatap wajahnya dengan heran.
"Aku tidak memintamu menceriterakan rahasia hatimu. Aku hanya meminta jawaban ya atau tidak."
"Ada seorang gadis yang saya cintai, Count."
"Sepenuh hatimu?"
"Lebih dari nyawa sendiri."
"Sebuah harapan lagi hancur!" kata Monte Cristo. Kemudian dia bergumam.
“Haydee yang malang!"
"Apabila saya tidak cukup mengenal Tuan, saya akan berpendapat bahwa Tuan kehilangan sebagian dari keberanian Tuan."
"Karena saya mengeluh sebab ingat kepada yang ditinggalkan? Tidak, Maximilien, sebagai seorang prajurit tentu engkau mengenal arti keberanian. Di samping itu, kelemahan ini, kalau memang benar ini merupakan suatu kelemahan, hanya engkau sendiri yang tahu.
Aku tahu bahwa dunia adalah tempat Ujian dan tak ubahnya seperti sebuah kasino yang harus kita tinggalkan dengan sopan, artinya, setelah memberi hormat dan membayar semua hutang kita."
"Bagus sekali ungkapan itu! Sebelum lupa, apakah Tuan tidak lupa membawa senjata?"
"Aku harap Tuan-tuan di sana akan membawanya."
"Baik saya tanyakan."
Maximilien berjalan menuju Beauchamp dan Chateau-Renaud. Ketiga orang muda itu saling memberi hormat, sekalipun tanpa keramahan, tetapi bukan pula hormat yang dibuat-buat.
"Maafkan saya, Tuan-tuan," kata Maximilien,
"saya tidak melihat Tuan de Morcerf."
"Beliau memberitahu kami tadi pagi untuk bertemu di medan kehormatan ini," jawab Chateau-Renaud.
"Baru jam delapan lewat lima,"
Kata Beauchamp menambahkan sambil melihat arlojinya.
"Belum banyak waktu yang terbuang, Tuan Morrel."
"Oh, bukan maksud saya untuk..."
"Lagi pula," Chateau-Renaud memotong,
"lihat keretanya sudah datang."
Mereka melihat ke arah datangnya sebuah kereta yang mendekat dengan cepat.
"Oh, bukan Moreerfi" kata Chateau Renaud lagi terkejut.
"Franz dan Debray rupanya."
Kedua orang muda itu turun dari kereta lalu berjalan menghampiri,
"Apa yang membawa Tuan-tuan ke mari?"
Tanya Chateau-Renaud menjabat tangan masing-masing.
"Albert menyurati kami tadi pagi meminta bertemu di sini," jawab Debray.
Beauchamp dan Chateau-Renaud saling bertanya dengan matanya. Tiba-tiba Beauchamp berteriak,
"Nah, itu Albert datang berkuda."
"Bodoh benar dia datang berkuda untuk berduel dengan pistol," kata Chateau Renaud.
"Padahal telah saya nasihati dengan teliti."
Albert menarik kendali untuk menghentikan kudanya, meloncat turun lalu menghampiri sahabat-sahabatnya.
Wajahnya pucat, matanya bengkak dan merah. Jelas sekali bahwa dia tidak tidur semalaman.
''Terima kasih untuk memenuhi permintaan saya, Tuan-tuan," katanya
"Saya benar-benar berterima kasih untuk
bukti persahabatan kita ini"
Maximilien mundur menjauh.
"Ucapan terima kasih saya berlaku juga untuk Tuan, Tuan Morrel. Dekatlah ke mari Kami tidak berkeberatan Tuan hadir."
"Barangkali Tuan lupa bahwa saya sekarang bertindak sebagai salah seorang pembantu Count of Monte Cristo," jawab Maximilien.
"Bahkan lebih baik. Saya menghendaki kehadiran sebanyak mungkin orang-orang terhormat."
''Tuan Morrel," kata Chateau-Renaud,
"Tuan dapat memberitahukan Count of Monte Cristo bahwa Tuan de Morcerf sudah datang dan bahwa kami sudah siap."
Maximilien bergerak untuk menyampaikan pesan itu sedang Beauchamp mengeluarkan kotak yang berisi beberapa pucuk pistol.
"Tunggu sebentar," kata Albert,
"saya ingin mengatakan sesuatu lebih dahulu kepada Count of Monte Cristo.”
"Berdua?" tanya Maximilien.
''Tidak, di hadapan semua”
Para pembantu Albert saling berpandangan lagi dengan keheranan yang meningkat. Franz dan Debray berbisik-bisik bertukar pendapat, dan Maximilien gembira karena perubahan keadaan yang di luar dugaannya. Dia segera berlari menuju Monte Cristo yang sedang berjalan-jalan bersama Emmanuel.
"Apa yang dikehendakinya?" tanya Monte Cristo.
"Saya tidak tahu, tetapi dia meminta berbicara dengan Tuan."
"Ah! Aku harap saja dia tidak bermaksud menghina Tuan lagi dengan meledakkan amarahnya." Kata Emmanuel.
"Saya kira bukan itu maksudnya," kata Maximilien.
Monte Cristo berjalan didampingi oleh Maximilien dan Emmanuel. Albert dan kawan-kawannya pun berjalan menjemput Ketika jarak antara mereka tinggal tiga langkah lagi,
Monte Cristo dan Albert berhenti.
"Silahkan lebih dekat lagi. Tuan-tuan,"
Kata Albert kepada yang lainnya,
"Saya ingin sekali Tuan-tuan pun dapat mendengar setiap kata yang akan saya ucapkan kepada Count of Monte Cristo, oleh karena saya menghendaki Tuan-tuan suka mengulang ulangnya kepada siapa pun yang mau mendengar, betapapun janggalnya mungkin bagi Tuan-tuan."
"Saya siap mendengarkan. Tuan de Morcerf," kata Monte Cristo.
"Count,"
Albert memulai dengan terbata-bata pada mulanya tetapi makin lama kian pasti dan yakin.
"Saya telah mempersalahkan Tuan membukakan rahasia perbuatan ayah saya di Yunani, oleh karena saya berpendapat, betapapun besarnya kesalahan ayah saya, Tuan tidak mempunyai hak untuk menghukumnya.
Tetapi hari ini saya mengetahui bahwa Tuan mempunyai hak itu. Bukan pengkhianatan Fernand Mondego terhadap Ali Pasha yang
membuat saya cepat memahami perbuatan Tuan, melainkan pengkhianatan Fernand Mondego Si Nelayan terhadap Tuan yang menyebabkan penderitaan yang tak terkatakan bagi Tuan.
Oleh sebab itu saya berani mengatakan, bahwa Tuan mempunyai hak untuk membelas dendam terhadap ayah saya, dan saya, anaknya, mengucapkan terima kasih karena Tuan tidak berbuat lebih daripada yang sudah dilakukan."
Seandainya ada halilintar menggelegar mendadak ketika itu, rupanya tidak akan lebih mengejutkan daripada kata-kata Albert yang sama sekali tidak terduga ini.
Monte Cristo sendiri, dengan lambat menengadah ke langit dengan penuh perasaan syukur. Dia mengagumi keberanian Albert ketika Albert berada dalam cengkeraman bandit-bandit Roma.
Kekagumannya makin bertambah karena sekarang dia melihat keberanian itu telah sanggup mengalahkan watak Albert yang keras dan menyerahkannya kepada kejujuran
dan kerendahan hati.
Dia merasakan adanya pengaruh Mercedes dan baru sekarang pula dia memahami mengapa Mercedes tidak menolak pengorbanan jiwanya sebagai pengganti nyawa anaknya.
"Dan sekarang," lanjut Albert,
"seandainya Tuan menganggap permintaan maaf saya ini sudah memadai, izinkan lah saya menjabat tangan Tuan."
Dengan mata basah dan dada berkembang Monte Cristo mengulurkan tangannya kepada Albert yang menyambutnya dengan hangat disertai perasaan takut bercampur kagum.
"Tuan-tuan, Count of Monte Cristo telah memaafkan saya. Saya harap masyarakat tidak akan menganggap saya sebagai pengecut karena saya melakukan apa yang dibisikkan
oleh hati nurani saya. Tetapi,"
Sambung anak muda itu sambil mengangkat kepalanya dengan bangga seakan-akan hendak mengucapkan tantangan,
"seandainya ada orang yang berpikir keliru terrtang alasan saya ini, saya akan mencoba
merobah pendiriannya."
Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar