Selasa, 27 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 36

BAB XXXVI


KETIKA malam telah larut Nyonya de Villefort
menyatakan keinginannya untuk kembali ke Paris. Nyonya Danglars tidak berani mendahului pamit sekalipun hatinya sangat resah. Atas permintaan istrinya de Villefort memulai meminta diri kepada tuan rumah, dan yang lain segera menyusul.

Ketika Andrea Cavalcanti hendak menaiki keretanya, sebuah tangan menepuk bahunya. Dia menoleh dengan sangkaan bahwa Danglars atau Monte Cristo hendak
menyampaikan sesuatu. Tetapi bukan salah satu dari mereka yang dia lihat di hadapannya sekarang Seraut wajah coklat karena bakaran sinar matahari dan berjanggut dengan sepasang mata yang berkilat-kilat dibarengi senyum menyindir. 

Senyuman yang memperlihatkan sebaris gigi
putih, tajam-tajam bagaikan gigi anjing hutan. Mungkin karena ia segera mengenali wajah ini atau mungkin juga karena kemunculannya yang mendadak, Andrea terkejut mundur. 

"Mau apa engkau?" tanyanya.

"Aku mau agar engkau tidak membiarkan aku terpaksa jalan kaki ke Paris. Aku sangat letih dan lapar, dan karena aku tidak makan sebaik yang engkau makan tadi di perjamuan, aku hampir-hampir tidak dapat berdiri. Aku mau
agar engkau membawa aku ke kota dalam keretamu yang bagus ini"

Wajah Andrea memucat tetapi ia tidak berkata, 

"Itulah keinginanku," 

Lanjut orang itu sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku bajunya seraya menatap Andrea penuh ancaman. 

''Engkau dapat memahaminya, Benedetto?"

Mendengar nama ini disebut, Andrea mendekati saisnya lalu berkata, 

"Orang ini baru kembali dari tugas yang aku
berikan kepadanya dan akan memberikan laporan. Engkau pergi sendiri dan sewalah sebuah kereta."

Sais memandang keheranan tetapi tidak membantah.

"Baik, masuk!" 

kata Andrea kepada orang yang mendesak itu. Sampai melampaui rumah yang terakhir dalam lingkungan itu ia berdiam tanpa berkata sedangkan kawannya duduk di sebelahnya sambil tersenyum simpul tetapi juga tidak berkata-kata. 

Setelah keluar dari daerah Auteuil, Andrea melihat ke sekeliling untuk meyakinkan bahwa tak ada orang yang akan dapat melihat atau mendengar mereka. Ia menghentikan kudanya laki berpaling kepada orang di-sebelahnya.

"Mengapa engkau datang
mengganggu?"

"Dan engkau, anak muda, mengapa engkau tidak mempercayai aku?"

"Apa sebab engkau berpikir aku tidak mempercayaimu?"

"Karena ketika kita akan berpisah di Pont du Var engkau mengatakan akan pergi ke Piedmont dan Tuscany. Kenyataannya engkau pergi ke Paris."

"Apa salahnya?"

"Tak ada salahnya. Bahkan aku berpikir mungkin baik buatku."

"Aha! Engkau bermaksud memeras?"

"Ucapanmu itu kasar sekali!"

"Engkau keliru, Tuan Caderousse. Awas, aku peringatkan''

"Jangan suka marah kepada kawan lamamu ini, anak muda. Engkau bertanggung jawab untuk tuntutanku sekarang kepadamu."

Jawaban Caderouse membuat amarah Andrea menurun. Dia menjalankan lagi keretanya.

"Apakah salahku kalau aku beruntung sedangkan engkau tidak?"

"Artinya nasibmu telah baik sekarang. Kereta ini bukan sewaan, dan bajumu pun bukan baju sewaan? Bukan main!

Aku tahu hatimu baik. Kalau engkau mempunyai dua buahbmantel aku yakin engkau akan memberikan satu kepadaku.

Dahulu biasa aku memberimu sebagian dari makananku bila engkau lapar."

"Benar," jawab Andrea.

"Nafsu makanmu dahulu baik sekali," kata Caderousse.

"Apakah sekarang masih sebaik dahulu?"

"Tentu" jawab Andrea tertawa. 

"Pasti hidangan di rumah pangeran itu lezat sekali."

"Dia bukan pangeran, hanya seorang count."

"Kaya?"

"Kaya sekali, tetapi jangan engkau berpikir yang bukan-bukan tentang dia. Dia bukan orang yang gampang dipermainkan."

"Jangan khawatir, aku tidak mempunyai niat apa-apa terhadapnya. Engkau boleh menanganinya sendiri. Tetapi,"

tambah Caderousse dengan senyum yang tidak menyenangkan, 

"tidak berarti bahwa engkau boleh
melakukannya dengan cuma-cuma. Engkau mengerti bukan?"

"Berapa yang engkau butuhkan?"

"Aku rasa, seratus frank sebulan sudah cukup, tetapi…”

"Tetapi apa?"

"Tetapi itu hanya pas-pasan saja. Dengan seratus lima puluh sebulan aku akan merasa bahagia."

"Ini dua ratus frank," 

kata Andrea sambil menyerahkan uang.

"Terima kasih " jawab Caderousse.

"Datanglah tanggal satu setiap bulan. Selama aku menerima tunjanganku, engkau pun akan menerima tunjangan dariku."

"Aku tidak keliru," kata Caderousse lagi.

"Memang engkau anak yang baik dan alangkah bagusnya apabila nasib baik selalu menimpa orang-orang seperti engkau. 

Sekarang, ceriterakanlah tentang keberuntunganmu itu."

"Buat apa mengetahuinya?"

"Rupanya engkau masih tidak percaya."

"Bukan begitu ... Aku bertemu dengan ayahku."

"Ayah kandungmu?"

"Tak jadi soal apakah dia ayah kandung atau bukan selama dia mau memberiku uang."

"Siapa nama ayahmu itu?"

"Mayor Cavalcanti."

"Apakah dia merasa puas dengan pertemuan antara ayah dan anak ini?"

"Sampai sejauh ini tampaknya dia merasa puas."

"Siapa yang mempertemukan kalian?"

"Count of Monte Cristo."

"Yang menjamumu malam ini?"

"Ya."

"Dengar, mengapa engkau tidak berusaha agar dia mau menyewaku sebagai kakekmu, karena tampaknya dia berusaha dalam bidang menghubung-hubungkan kekeluargaan?"

"Saya akan membicarakannya nanti dengan dia. Sementara ini, apa rencanamu?"

‘Terima kasih untuk perhatianmu itu," jawab
Caderousse.

"Karena engkau pun menaruh banyak perhatian terhadap diriku," kata Andrea, 

"rasanya aku pun mempunyai hak untuk memperoleh beberapa keterangan tentang diri mu."

"Benar juga katamu. Baik. Aku akan menyewa sebuah kamar di rumah yang terhormat, membeli beberapa helai pakaian yang pantas, mencukur kumis dan janggut setiap hari, lalu membaca koran di salah satu kedai minuman.

Malam hari menonton teater. Aku akan hidup seperti seorang pensiunan pembuat roti sesuai dengan idamanku sejak dahulu."

"Baik sekali. Bila engkau dapat menjalankan rencanamu itu dan berkelakuan baik, segala-galanya akan berjalan dengan lancar. Sekarang karena engkau telah mendapatkan apa yang engkau inginkan silakan turun dan menghilanglah!"

'Tidak, kawan."

"Mengapa tidak?"

"Karena pakaianku compang-camping. Aku sama sekali tidak mempunyai surat keterangan dan aku mempunyai dua ratus frank dalam saku baju. Aku pasti ditangkap di batas kota. 

Untuk membebaskanku dari segala tuduhan aku akan terpaksa mengatakan bahwa uang itu aku terima sebagai pemberian darimu dan ini akan mengakibatkan penyelidikan lebih lanjut. 

Akhirnya tentu mereka akan mengetahui bahwa aku meninggalkan penjara Toulon tanpa
pamit. Lalu mereka pasti akan mengembalikan aku ke sana dan ... berakhirlah impianku untuk hidup sebagai pensiunan pembuat roti. Tidak, kawan, aku lebih senang untuk menetap dengan terhormat di Paris."

Andrea mengerenyitkan dahinya lalu menghentikan kudanya. Sambil melihat ke sekelilingnya tangannya bergerak menelusur saku jasnya, sampai menyentuh pelatuk
sebuah pistol kecil di dalamnya. 

Dalam pada itu, Caderousse yang tidak pernah melepaskan kewaspadaannya, menggerakkan pula tangan kanannya ke pinggangnya, dengan hati-hati mengambil sebilah pisau Spanyol yang selalu dia bawa untuk menjaga segala
kemungkinan. 

Kedua orang itu saling memahami gerakan
masing-masing. Andrea segera memindahkan tangannya ke kumisnya yang merah, lalu mengelus-elusnya untuk beberapa saat.

"Baik," akhirnya dia berkata, 

"kita akan pergi ke Paris bersama-sama. Tetapi bagaimana engkau dapat melampaui perbatasan tanpa mencurigakan. Dengan pakaianmu seperti itu, aku pikir engkau akan lebih aman berjalan kaki daripada berada dalam keretaku."

"Tunggu," kata Caderousse, 

"begini." 

Dia mengambil topi Andrea dan memakainya lalu mengenakan mantel sais yang tertinggal.

"Bagaimana dengan kepalaku?" tanya Andrea. 

"Angin sangat kencang malam ini sehingga dengan mudah dapat menerbangkan topimu."

Mereka dapat melalui perbatasan tanpa kesulitan.
Andrea menghentikan keretanya di pinggir jalan tidak jauh dari perbatasan, lalu Caderousse meloncat turun.

"Kembalikan topiku dan mantel saisku itu."

"Apakah engkau mengharapkan aku sakit kedinginan?"

“Sampai bertemu lagi, Benedetto...” 

Jawab Caderousse Lalu dia menghilang dalam kegelapan malam.

Andrea mengeluh, “Rupanya tidak mungkin orang mendapat kesenangan yang sempurna dalam dunia ini."




Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...