BAB XXXV
DILIHAT dari luar rumah Count of Monte Cristo di Auteuil tidak memberi kesan menyenangkan. Tidak ada sesuatu yang dapat menunjukkan rumah itu milik Count of Monte Cristo yang kaya raya. Kesederhanaan ini sesuai dengan keinginannya. Dengan tegas ia memerintahkan pegawainya agar tidak mengadakan perubahan apa-apa di bagian luar. Baru setelah orang memasuki rumah itu, akan kelihatan dan terasa keindahan dan kemewahannya.
Bertuccio telah menunjukkan seleranya yang baik dan keterampilan yang luar biasa dalam merombak, mengisi dan mengatur rumah tersebut. Kalau tergantung kepada dia sendiri ia mau merombak juga kebunnya Hanya satu ruangan dalam rumah itu yang tidak dijamah
sedikit pun. Keadaannya tetap seperti sediakala. Yaitu, ruang tidur di lantai kedua yang mempunyai pintu tersendiri menuju ke kebun. Para pelayan yang lalu di muka kamar itu selalu diganggu perasaan ingin tahu.
Lain dengan Bertuccio, ia selalu diganggu rasa takut, bahkan sekali-sekali berdiri bulu tengkuknya.
Tepat pada jam enam Kapten Maximilien Morrel datang menunggang kudanya bernama Medeah. Monte Cristo menyambutnya di ambang pintu muka dengan senyum yang
ramah.
"Mudah-mudahan saya datang paling dahulu” kata Maximilien.
"Saya ingin sekali berbicara berdua sebelum
tamu-tamu lain datang."
Tetapi tepat pada saat itu dua orang tamu berkuda dan sebuah kereta yang ditarik sepasang kuda yang berlepotan keringat datang. Lucien Debray segera turun dari kudanya, berjalan ke pintu kereta, membukanya lalu mengulurkan tangannya membantu Nyonya Danglars turun dari dalamnya.
Ketika turun sambil berpegang kepada tangan Debray ia memberikan sebuah isarat yang halus sekali sehingga tidak mungkin tampak oleh orang lain, kecuali oleh Monte Cristo. Tak ada suatu gerakan mereka sekecil apa pun yang luput dari penglihatan Monte Cristo yang tajam.
Ia melihat sebuah kertas kecil berpindah tangan dari nyonya Danglars ke tangan Debray dengan kelancaran yang sempurna dan
menunjukkan bahwa perbuatan seperti ini telah biasa mereka lakukan.
Baron Danglars turun sesudah istrinya. Wajahnya pucat seakan-akan baru keluar dari dalam kubur. Tanpa sadar ia memetik-metik bunga sebuah pohon jeruk.
Duri-durinya menusuk jari-jari tangan Danglars. Ia terkejut, mengusap matanya seperti orang yang baru sadar dari mimpi.
"Mayor Bartolomeo Cavalcanti dan Viscount Andrea Cavalcanti!"
kata Baptistin memberitahukan kedatangan
mereka Mayor Cavalcanti muncul dengan kemeja yang baru saja keluar dari pabrik, janggut yang baru dipangkas, kumis abu-abu
dan sorot mata penuh keyakinan diri, berpakaian seragam mayor dengan dihiasi lima buah bintang kehormatan. Di sebelahnya, putranya tercinta berpakaian serba baru dengan senyum lebar. Viscount Andrea Cavalcanti. Sambil berdiri bercakap-cakap. Mata Maximilien, Debray dan Chateau-Renaud berpindah-pindah dari ayah ke anak. Tentu saja perhatiannya lebih tertarik kepada anaknya.
"Cavalcanti!" kata Debray.
"Nama yang bagus" jawab Maximilien.
"Benar,'' sambung Chateau-Renaud,
"orang-orang Italia rata-rata mempunyai nama yang bagus, tetapi mereka tidak mempunyai selera berbusana."
"Engkau memang orang yang sukar merasa puas," jawab Debray.
"Lihat, bajunya baru sekali dan dibuat penjahit
yang termashur."
"Itulah yang aku tidak sukai,"
kata Chateau Renaud
"Anak muda itu seperti baru sekali ini berpakaian baik seumur hidupnya."
"Siapa mereka itu?" tanya Danglars kepada Monte Cristo
"Mayor Cavalcanti dengan putranya.''
"Belum pernah saya dengar nama itu sebelumnya."
"Tuan memang masih asing dengan bangsawan bangsawan Italia. Cavalcanti adalah keturunan pangeran-pangeran."
"Bagaimana dengan kekayaannya?"
"Sangat banyak."
"Apa yang mereka lakukan di sini?"
"Mereka telah berusaha tanpa hasil membelanjakan seluruh kekayaannya. Mereka mau mengambil kredit dari Tuan. Begitulah katanya ketika mereka datang kepada saya
dua hari yang lalu. Saya mengundang mereka sekarang demi kepentingan Tuan terutama Saya akan perkenalkan Tuan kepada mereka."
"Rupanya mereka dapat berbicara Perancis fasih sekali.”
"Putranya mendapat pendidikan di Perancis. Akan Tuan lihat nanti bahwa ia sangat tertarik kepada wanita-wanita Perancis. Hatinya telah tetap ingin mendapatkan seorang gadis Paris untuk istri."
"Gagasan yang baik sekali !" kata Danglars menyindir.
Nyonya Danglars memandang suaminya dengan sorotbmata yang biasanya diikuti dengan badai kemarahan. Tetapi sekali ini ia dapat menahan diri.
"Tuan dan Nyonya de Villefort!" teriak Baptistin.
Sekalipun telah berusaha keras menguasai dirinya, namun Villefort masih jelas tampak gugup. Monte Cristo merasakan tangannya gemetar ketika mereka berjabatan.
"Hanya wanita yang dapat menyembunyikan
perasaannya,"
kata Monte Cristo dalam hatinya ketika dia melihat Nyonya Danglars tersenyum kepada Villefort dan memeluk istrinya.
Monte Cristo melihat Bertuccio berdiri di ruang sebelah yang lebih kecil. Dia menghampirinya dan bertanya,
"Ada yang kau perlukan, Bertuccio?"
"Tuan belum mengatakan berapa kursi yang harus saya sediakan."
“Ah, benar juga. Tetapi kau dapat menghitungnya sendiri sekarang"
"Apakah semua tamu telah hadir, Tuan?"
"Sudah."
Bertuccio melihat tamu-tamu melalui pintu yang setengah terbuka. Mata Monte Cristo mengawasinya dengan cermat.
"Ya, Tuhan!" Bertuccio berteriak terkejut
"Mengapa?"
"Nyonya itu, Tuan."
"Yang mana?"
"Yang memakai baju putih dan perluasan yang banyak, yang rambutnya pirang."
"Nyonya Danglars?"
"Saya tidak mengetahui namanya, tetapi dialah orangnya, Tuan. Dialah wanita yang di kebun, wanita yang hamil itu! Wanita yang menantikan kedatangan..."
"Kedatangan siapa?"
Tanpa berkata Bertuccio mengarahkan telunjuknya kepada Villefort.
"Oh!Oh!"
Akhirnya dia dapat berkata lagi.
"Apakah Tuan melihatnya?"
"Apa? Siapa?"
"Dia!"
"Tuan de Villefort, Jaksa Penuntut Umum? Tentu saja aku lihat!"
"Bukankah saya telah membunuhnya? Dia tidak mati?"
"Tentu saja dia tidak mati. Engkau melihatnya sendiri. Engkau tidak berhasil menikamnya di antara rusuk keenam dan ketujuh di dada sebelah kiri sebagaimana lazimnya dilakukan
orang-orang Corsica, tetapi mungkin sedikit di atasnya atau di bawahnya.
Sekarang tenangkan dirimu; Tuan dan Nyonya de Villefort’ dua; Tuan dan Nyonya Danglars,
empat; tuan Chateau-Renaud, Tuan Debray, dan Tuan Morrel, tujuh, Mayor Cavalcanti, delapan."
"Delapan," kata Bertuccio mengulang.
"Nanti dulu, Berturicco, jangan cepat-cepat pergi. Engkau mengabaikan seorang tamu lagi Lihat sedikit ke sebelah kiri sana, Tuan Andrea Cavalcanti, anak muda yang sedang menghadap ke sini."
Sekali ini Bertuccio hampir saja berteriak, tetapi pandangan Monte Cristo yang tajam mencegahnya.
"Benedetto!" katanya pelan-pelan.
"Sudah setengah tujuh, Bertuccio," kata Count of Monte Cristo.
"Aku telah meminta supaya hidangan disiapkan
pada waktu ini. Engkau tahu aku tidak suka menunggu."
Monte Cristo kembali ke ruangan tamu, dan Bertuccio kembali ke tempatnya dengan tersaruk-saruk. Sesekali ia berhenti dulu bersandar ke dinding mengumpulkan tenaga.
Lima menit kemudian, pintu ruang itu terbuka lebar-lebar dan Bertuccio muncul lalu berteriak dengan menguatkan diri
"Hidangan sudah siap!"
Monte Cristo membimbing Nyonya de Villefort,
"Tuan de Villefort," katanya,
"sudikah Tuan menemani Nyonya
Danglars?"
Villefort menurut dan tamu-tamu lainnya masuk ke dalam ruang makan.
Hidangannya luar biasa. Tetapi Monte Cristo bermaksud lebih menggugah keheranan tamu-tamunya daripada selera makannya. Dia menjamu tamunya dengan cara Timur seperti
dalam dongeng-dongeng Arab. Segala macam buah-buahan yang dapat didatangkan dari empat penjuru dunia memenuhi jambangan-jambangan Cina dan baki-baki buatan Jepang.
Burung-burung yang langka dan jenis-jenis
ikan tersusun rapi di atas-piring-piring perak. Sedangkan berbagai anggur dari berbagai negeri ditempatkan dalam wadah-wadah yang indah yang dapat menambah selera.
Kesemuanya ini dihidangkan di hadapan mata tamu-tamunya yang keheran-heranan.
''Sangat mengagumkan," kata Chateau-Renaud,
"tetapi yang paling mengagumkan, Count, adalah kecepatan dilaksanakannya perintah-perintah Tuan. Tuan membeli rumah ini barangkali baru lima atau enam hari yang lalu, tetapi dalam waktu yang singkat sekali segala-galanya telah disulap.
Rumah ini pernah tidak berpenghuni sekurang-kurangnya selama sepuluh tahun. Keadaannya menyedihkan sekali, pintu-pintu dan jendela-jendelanya selalu tertutup rumput di halaman tumbuh tinggi tidak terpelihara. Pendeknya,
seandainya saja rumah ini bukan milik mertua
seorang Jaksa Penuntut Umum, orang pasti akan menganggapnya sebagai rumah yang terkutuk karena di dalamnya pernah terjadi kejahatan yang terkutuk pula,"
Villefort yang selama ini tidak mau menjamah tempat gelas anggur yang di hadapannya, ketika mendengar ini cepat-cepat mengambil sebuah dan meminumnya habis sekali teguk.
Monte Cristo menunggu sebentar. Lalu, di tengah-tengah kediaman dia berkata,
"Aneh sekali, tetapi kesan itulah yang ada pada saya ketika untuk pertama kalinya saya
memasuki rumah ini. Ada sebuah kamar, sebuah kamar tidur biasa, yang dindingnya dilapisi kain damas merah, yang entah apa sebabnya menimbulkan sesuatu perasaan
yang menyeramkan.
Karena kita telah selesai makan, barangkali Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya ingin melihatnya. Kita dapat menikmati kopi kita nanti di kebun."
Dia memandang tamu-tamunya satu persatu
seakan-akan bertanya. Nyonya de Villefort berdiri, dan yang lain-lainnya mengikutnya.
Villefort dan Nyonya Danglars tetap duduk untuk sementara sambil saling berpandangan.
"Kita harus ikut mereka," kata Villefort, sambil berdiri dan menawarkan bimbingannya.
Tak ada yang aneh dalam kamar itu, kecuali bahwa sekalipun sudah malam kamar itu tidak diterangi dan berbeda dengan ruangan-ruangan yang lain, kamar ini tidak mengalami perubahan sedikit pun. Segala-galanya masih
tetap seperti keadaan semula. Kotor dan tidak terpelihara.
Tamu-tamu hampir semua sependapat dengan Monte Cristo bahwa kamar ini memang menyeramkan.
"Lihat," kata Monte Cristo,
"bagaimana anehnya letak tempat tidur itu dan betapa suramnya pelapis dinding yang berwarna darah itu. Perhatikan juga kedua potret yang telah menguning itu, bibirnya yang kebiru-biruan dan matanya yang seperti ketakutan, seakan-akan hendak berkata: Aku menyaksikan segalanya!’ Dan ini belum semua."
Monte Cristo berjalan lebih ke dalam lalu membuka sebuah pintu yang agak tersembunyi.
"Perhatikanlah tangga kecil ini, dan bagaimana pendapat Tuan-tuan. Dapatkah Tuan membayangkan seseorang turun dengan hati-hati dalam kegelapan malam, sambil membawa sesuatu yang ingin dia sembunyikan dari pandangan orang lain, kalau
tidak dari pandangan Tuhan?"
Nyonya Danglars bergantung setengah pingsan di tangan de Villefort dan Villefort sendiri terpaksa bersandar kepada dinding.
"Mengapa, Nyonya?" tanya Debray terkejut.
"Wajah Nyonya pucat sekali!"
"Sederhana sekali," jawab Nyonya de Villefort,
"Count of Monte Cristo sengaja menceriterakan sesuatu yang sangat
menyeramkan agar kita semua mati ketakutan".
"Apakah benar Nyonya ketakutan?" tanya Monte Cristo.
'Tidak," jawab Nyonya Danglars,
"tetapi khayalan Tuan itu seakan-akan nyata."
"Saya akui bahwa itu hanya permainan daya khayal saja," jawab Monte Cristo tersenyum.
"Sebenarnya kita dapat dengan mudah mengkhayalkannya sebagai sebuah kamar tidur yang terhormat dari seorang ibu, ranjang ini sebagai saksi lahirnya seorang bayi, dan pintu dan tangga ini semata-mata dibuat agar dokter, perawat atau mungkin juga ayahnya sendiri dapat mengambil bayi itu tanpa mengganggu tidur sang ibu."
Sekarang, Nyonya Danglars benar-benar jatuh pingsan setelah dia memekik sebentar.
"Nyonya Danglars sakit," kata Villefort.
"sebaiknya beliau dibawa ke dalam keretanya."
Dia tidak di bawa ke dalam keretanya, tetapi ke dalam kamar lain yang bersebelahan dengan kamar tidur itu.
Monte Cristo meneteskan cairan merah ke dalam mulutnya, dan Nyonya Danglars segera sadar kembali. Monte Cristo mencari Danglars, tetapi bankir ini yang tidak mempunyai minat mendengarkan khayalan-khayalan sudah berada di dalam kebun berbincang-bincang dengan Mayor Cavalcanti tentang proyek pembuatan jalan kereta api antara Livorno
dan Florence.
Monte Cristo membimbing Nyonya Danglars
ke dalam kebun di mana mereka menemukan Danglars duduk minum kopi di antara Mayor Cavalcanti dan anaknya.
"Benarkah saya telah menakutkan Nyonya?" tanya Monte Cristo.
'Tidak, Count. Seperti Tuan ketahui, segala sesuatu akan memberikan kesan kepada kita sesuai dengan rangka pikiran kita pada waktu itu."
"Dan selanjutnya," kataVillefort dengan tawa terpaksa,
"sebuah kecurigaan yang kecil saja sudah cukup untuk..."
"Tuan boleh percaya atau tidak," kata Monte Cristo,
"tetapi saya yakin bahwa dalam rumah ini sudah terjadi suatu kejahatan."
"Harap Tuan hati-hati" kata Nyonya de Villefort.
"Ada Jaksa Penuntut Umum di antara kita."
"Benar," kata Monte Cristo,
"dan saya akan memanfaatkan kehadirannya dengan membuat pernyataan ini di hadapan saksi-saksi."
"Semua ini menarik sekali," kata Debray.
"Kalau benar pernah terjadi suatu kejahatan dalam rumah ini, hal Ini akan merusak pencernaan makanan kita malam ini."
"Di sini pernah terjadi suatu kejahatan," kata Monte Cristo dengan tegas,
"Mari ikut saya, Tuan terutama sekali Tuan, Tuan de Villefort. Agar pernyataan saya itu sah,
harus saya lakukan di hadapan yang berwenang."
Monte Cristo memegang Villefort dan Nyonya Danglars di tangannya masing-masing dan menarik mereka ke sebuah sudut yang gelap dalam kebun itu. Tamu-tamu yang lain
mengikuti dari belakang.
“Di sini, tepat di tempat ini,"
kata Monte Cristo, menginjak-nginjak tanah dengan ujung sepatunya,
"dengan maksud menyuburkan kembali pepohonan yang telah tua-tua ini, saya menyuruh orang memasukkan kompos ke
dalam tanah. Ketika mereka sedang menggali di sini, mereka menemukan sebuah peti kayu dan di dalamnya ada kerangka bayi yang baru dilahirkan. Saya harap Tuan-tuan tidak menganggap ceritera ini sebagai khayalan."
Monte Cristo merasakan tangan Nyonya Danglars menjadi kaku dan pergelangan Villefort gemetar.
"Bayi yang baru dilahirkan!" ulang Debray.
"Kejahatan yang keji sekali!".
"Apa hukuman untuk pembunuh anak di sini ?”
Mayor Cavalcantt polos.
"Dipenggal kepalanya," kata Danglars.
"Benarkah begitu, Tuan de Villefort ?" tanya Monte Cristo.
"Benar" jawab Villefort dengan suara yang hampir tidak menyerupai suara manusia.
Monte Cristo telah melihat bahwa kedua orang yang sengaja ia jebak untuk menyaksikan pertunjukan ini telah sampai pada kekuatannya. Dia tidak bermaksud untuk
mendorongnya lebih jauh lagi. Karena itu cepat-cepat ia berkata,
”Kita melupakan kopi kita”.
Dia membawa tamu-tamunya menuju ke sebuah meja yang telah ditempatkan di tengah-tengah pekarangan. Villefort mendekati Nyonya Danglars dan berbisik kepadanya,
"Kita harus bertemu besok."
"Di mana?"
"Di kantorku, tempat yang paling aman."
"Aku akan datang."
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar