Sabtu, 31 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 70

BAB LXX


HARI berikutnya Danglars merasa lapar lagi. Tetapi dia tidak mau membayar semahal kemarin. Hemat seperti dia, Danglars menyisakan sebagian goreng ayam kemarin.
Setelah menghabiskannya, dahaga terasa. 

Minum tidak pernah dipikirkannya. Dia bergulat melawan haus sampai lidahnya terasa melekat kepada langit langit mulutnya. Setelah tidak kuat menahannya lagi dia berteriak memanggil
Penjaga membuka pintu. Penjaga yang baru lagi. Karena berpendapat lebih baik berurusan dengan yang sudah dikenal, Danglars meminta Peppino.

"Ada apa, Yang Mulia,” 

kata Peppino menghampiri dengan wajah cerah yang dianggap Danglars sebagai tanda
baik. 

''Apa yang dapat saya lakukan?”

"Aku ingin minum."

"Seperti Yang Mulia ketahui, anggur sangat mahal di kampung sekitar Roma.”

"Bawakan saja air biasa," 

jawab Danglars mencoba menghindari serangan yang akan datang.

"Air pun sama sukarnya dengan anggur, Yang Mulia. Tahun ini kering sekali,"

''Rupanya engkau mau mulai lagi dengan permainan seperti kemarin," kata Danglars. 

Orang yang malang ini memaksakan dirinya tersenyum, tetapi dia merasakan, mengucurnya
keringat di dahi. 

"Aku minta segelas anggur, kawan" 

Lanjutnya setelah melihat Peppino diam saja. 

"Engkau menolak?"

"Kami tidak menjual per gelas, Yang Mulia" jawab Peppino datar.

"Berikan saja satu botol."

"Anggur apa?"

"Yang paling murah."

"Harganya sama semua."

"Berapa?"

"Dua puluh lima ribu sebotol."

"Mengapa tidak kaukatakan saja kalian bermaksud menguras semua milikku?" tanya Danglars pahit. 

"Itu akan lebih cepat berakhir daripada membinasakanku sedikit demi sedikit seperti ini!"

"Barangkali itulah maksud pemimpin kami" jawab Peppino.

"Siapa pemimpinmu itu?"

"Yang tadi malam kita temui”

"Di mana dia sekarang?"

"Ada di sini.”

"Aku mau bicara dengan dia."

"Silakan, Yang Mulia."

Tak lama kemudian Luigi Vampa sudah berdiri di hadapan Danglars.

"Tuan meminta saya datang?"

"Tuankah pemimpin di sini?"

"Benar, Yang Mulia."

"Berapa uang tebusan yang Tuan minta? Katakan saja.''

"Kami menghendaki uang yang lima juta itu."

Danglars merasakan hatinya menciut,

"Itu adalah seluruh milikku," katanya, 

"dan itu merupakan sisa dari kekayaanku. Kalau Tuan mau mengambilnya, ambil sekaligus nyawa saya."

"Kami dilarang menumpahkan darah Tuan, Yang Mulia."

"Oleh siapa?"

"Oleh orang yang kami patuhi."

"Artinya masih ada yang lebih tinggi dari Tuan?"

"Benar."

"Apa masih ada lagi di atas dia?"

"Ada, Yang Mulia"'

"Siapa?"

"Tuhan.”

Danglars berfikir sejenak. 

"Saya tidak mengerti."

"Mungkin sekali."

"Mengapa Tuan diperintahkan memperlakukan saya seperti ini?"

"Kurang tahu."

"Begini" kata Danglars, 

"maukah Tuan menerima satu juta?"

”Tidak."

"Dua juta?"

"Tidak."

"Tiga juta . . . empat juta? Saya akan berikan empat juta kalau Tuan mau melepaskan saya."

"Mengapa Tuan menawar empat juta untuk sesuatu yang berharga lima juta?" tanya Vampa.

"Ambil semua dan bunuh saya!" Danglars berteriak.

"Tenang, Yang Mulia. Kalau tidak, Tuan terpaksa harus makan makanan yang berharga satu juta frank sehari. Harap lebih ekonomis!"

"Apa yang akan terjadi kalau uangku sudah habis?” tanya Danglars masih marah.

"Tuan akan kelaparan.”

"Kelaparan?" Wajahnya memucat.

"Mungkin," jawab Vampa menyindir.

'Tadi Tuan mengatakan tidak akan membunuh saya?"

"Betul"

"Tetapi Tuan hendak membiarkan saya mati kelaparan?”

"Itu lain lagi."

"Baiklah, bangsat," kata Danglars keras, 

"Aku akan hancurkan rencana busukmu itu. Oleh karena aku toh akan mati, lebih cepat lebih baik untukku. Silakan siksa aku, laparkan, tetapi engkau tak akan mendapatkan tandatanganku lagi!"

"Terserah kepada Tuan, Yang Mulia." Vampa keluar dari kamar itu.

Danglars melemparkan dirinya ke atas tempat tidur.

Siapa mereka itu? Siapa pemimpin sebenarnya? Apa maksud mereka? Mengapa tahanan-tahanan lain dilepaskan dengan uang tebusan, sedang dia sendiri tidak?

Barangkali untuk pertama kalinya Danglars ingat akan kematian dan dia memikirkannya dengan takut bercampur harap.

Keputusannya tidak menandatangani surat perintah pembayaran hanya berlangsung dua hari. Setelah itu dia meminta lagi makanan dan terpaksa membayarnya satu juta frank.

Penculiknya memberi dia makanan yang baik dan banyak setelah menerima pembayarannya. 

Sejak itu, karena sudah sangat menderita dan tidak mau menderita lebih hebat lagi Danglars memenuhi semua permintaan mereka.

Dua belas hari kemudian setelah selesai menghabiskan makanan sebaik ketika masa jayanya, dia menjumlahkan semua pengeluarannya dan ternyata uangnya hanya tinggal lima puluh ribu frank lagi.

Timbul sikap yang aneh bagi orang yang baru saja mengeluarkan uang sebanyak lima juta frank. Dia bermaksud mempertahankan uang yang lima puluh ribu itu apa pun yang harus terjadi dan mulailah dia membayang-bayangkan harapan yang berbatasan dengan kegilaan. 

Dia, yang telah melupakan Tuhan sekian lamanya mulai menghibur dan menabahkan diri dengan mengatakan bahwa sewaktu-waktu
Tuhan suka menciptakan keajaiban seperti: tempat pekuburan ini hancur, atau polisi menyergap persembunyian ini lalu membebaskannya. 

Kalau itu terjadi ia masih mempunyai lima puluh ribu frank dan itu cukup untuk mencegah mati kelaparan. Dia memohon kepada Tuhan dengan menangis agar mengizinkan memiliki uang yang lima puluh ribu itu.

Tiga hari berturut-turut nama Tuhan tidak pernah lepas dari bibir Danglars, kalau bukan di hatinya. Hari berikutnya dia sudah tidak menyerupai manusia lagi, sudah seperti
mayat hidup. Untuk menekan lapar dia mulai memunguti sisa-sisa makanan, selanjutnya menyobek-nyobek tikar yang menutupi lantai. 

Karena tidak tahan, akhirnya dia meminta
kepada Peppino diberi sedikit makanan dan
menawarkannya seribu frank. Tetapi Peppino tidak menjawab. Hari berikutnya lagi dia meminta Vampa datang.

''Ambillah sisa uangku ini semua dan biarkan saya hidup di sini, saya tidak minta dibebaskan, saya hanya minta hidup."

"Benarkah Tuan menderita, Yang Mulia?"

"Ya, saya menderita. Saya menderita sekali!"

"Padahal banyak orang yang lebih menderita daripada Tuan."

"Saya pikir tidak ada."

"Ada, mereka yang mati kelaparan."

Danglars mengeluh lalu berkata lagi, 

"Mungkin ada yang pernah menderita lebih dari saya, tetapi mereka itu setidak-tidaknya berkorban untuk orang lain."

"Akhirnya Tuan merasa menyesal juga?"

Terdengar orang bertanya dengan suara yang dalam dan khidmat sehingga membuat berdiri bulu kuduk Danglars. Matanya yang sudah lemah melihat laki-laki berdiri di belakang Vampa, bermantel dan sedikit tersembunyi di bawah bayangan tiang.

"Menyesal karena apa?" tanya Danglars gagap.

"Karena perbuatan jahat yang pernah Tuan lakukan."

"Oh ya, ya, saya menyesal! Saya menyesal!" 

Danglars menangis sambil memukul-mukul dadanya dengan kepalannya yang sudah mengecil.

'Kalau betul begitu, saya maafkan Tuan," 

Kata orang itu sambil melemparkan mantelnya dan maju ke tempat yang terang.

"Count of Monte Cristo!" 

Danglars berteriak heran bercampur takut

"Tuan keliru. Saya bukan Count of Monte Cristo."

"Siapa kalau begitu?"

"Saya adalah yang tuan khianati dan hinakan, orang yang tunangannya Tuan paksa kawin dengan orang lain, orang yang Tuan injak-injak dalam meraih kekayaan, orang yang ayahnya mati kelaparan tetapi yang sekarang memaafkan Tuan karena dia sendiri pun memerlukan pengampunan. Saya adalah Edmond Dantes!"

Danglars memekik lagi lalu jatuh.

"Berdiri," kata Monte Cristo. 

"Nyawa Tuan akan selamat. Kawan Tuan yang dua orang kurang beruntung. Yang satu gila, yang lain mati! Peganglah sisa uang yang
lima puluh ribu frank itu sebagai hadiah dari saya. Adapun yang lima juta, yang Tuan curi dari rumah sakit, sudah saya kembalikan tanpa menyebut nama saya. 

Sekarang, silakan makan dan minum. Tuan tamu saya malam ini. Vampa. kalau tuan ini sudah kuat kembali, lepaskan dia."

Danglars masih tetap lemah tidak berdaya ketika Monte Cristo pergi. Waktu dia mengangkat kepala, dia sudah tidak menemukan apa-apa lagi kecuali bayangan yang menghilang.

Seperti diperintahkan oleh Count of Monte Cristo, Vampa memberi Danglars anggur yang terbaik dan buah-buahan yang terbaik di Italia. 

Setelah itu dia membawanya dengan keretanya sendiri dan melepaskannya di tengah jalan.

Danglars diam di sana sampai keesokan paginya tanpa mengetahui di mana dia berada. Ketika hari telah siang dia sadar bahwa dia berada dekat sebuah sungai kecil. Karena haus, dengan terseok-seok dia mendekatinya. 

Ketika dia bertiarap untuk meneguk air sungai, tahulah dia bahwa rambutnya telah memutih semuanya.





Bersambung.... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...