BAB XI
KETIKA Dantes memasuki sel Faria keesokan harinya, dia mendapatkan Faria sedang duduk dengan tenang sambil memegang secarik kertas di tangan kiri, satu-satunya tangan yang dapat dipergunakan. Dia memperlihatkan kertas itu kepada Dantes tanpa berkata sepatah pun.
"Apa ini?"
"Perhatikan saja baik-baik," sahut Padri tersenyum.
"Saya memperhatikannya sebaik mungkin, dan yang saya lihat hanyalah secarik kertas yang terbakar separoh dengan huruf-huruf yang ditulis dengan tinta yang aneh."
"Kertas yang secarik ini, sahabatku," kata Faria dengan tenang,
"adalah kekayaanku, yang sejak hari ini setengahnya menjadi milikmu."
Keringat dingin membasahi badan Dantes.
Selama berkenalandengan Faria ia selalu menghindari berbicara tentang kekayaan yang menyebabkan Faria selalu dianggap
gila.
Faria tersenyum dan berkata,
"Dari keterkejutanmu aku tahu apa yang kaupikirkan. Jangan khawatir, aku tidak gila.
Kekayaan ini benar-benar ada, dan apabila takdir menghendaki aku memilikinya, engkau pun akan memilikinya juga. Tak seorang pun pernah mau mendengar kepadaku, karena mereka menyangka aku gila. Tetapi engkau tahu aku tidak gila. Sebab itu dengarkanlah baik-baik, kemudian barulah engkau mengambil kesimpulan percaya atau tidak
kepada ceriteraku."
"Bapak yang baik," kata Dantes.
"Serangan penyakit yang kemarin sangat melelahkan Bapak. Tidakkah Bapak perlu istirahat? Saya bersedia mendengarkan ceritera Bapak esok hari, tetapi sekarang saya ingin sekali merawat Bapak. Lagipula," tambah Dantes sambil tersenyum,
"pada saat ini kekayaan itu tidak begitu penting buat kita, bukan?"
''Penting sekali!" jawab Faria agak keras.
"Bagaimana kita tahu bahwa besok aku tidak akan terserang lagi? Aku melihat, engkau tidak percaya kepadaku. Untuk membuktikan kebenaran kata-kataku bacalah tulisan itu, yang belum pernah aku perlihatkan kepada orang lain."
"Besok, Bapak” kata Dantes, jelas berusaha keras menghindari pembicaraan itu.
"Pembicaraan boleh kita tangguhkan sampai besok, tetapi bacalah dahulu sekarang."
'Ssst' Ada orang datang! Saya harus pergi. Selamat tinggal."
Dengan perasaan bahagia ia bisa terlepas dari keharusan mendengarkan ceritera yang mungkin bisa menambah keyakinannya akan ketidakwarasan sahabatnya.
Dantes masuk ke dalam galian dengan kelincahan dan kecepatan seekor ular. Sehari itu dia tetap tinggal di kamarnya. Dengan cara ini ia berusaha menangguhkan datangnya saat yang sangat mengerikan, saat dia mau tidak mau harus mengakui bahwa Faria benar-benar gila seperti yang disangka orang.
Tetapi setelah Sipir melakukan kunjungan malamnya, Faria yang menyadari bahwa Dantes tidak juga kembali menemuinya,
berusaha mendatangi Dantes.
Seluruh badan Dantes menggigil ketika ia mendengar Faria merangkak-rangkak penuh kesakitan dengan tangan dan kaki yang lumpuh. Dia harus menolongnya, oleh karena Faria tidak akan mampu naik ke kamar Dantes
dengan kekuatannya sendiri.
"Inilah, aku dengan berkeras hati dan tanpa ampun mengejarmu," katanya dibarengi senyum yang menunjukkan kemurahan hati.
“Apa kau mengira dapat melepaskan
diri dari kebaikanku? Tidak. Dengarkan baik-baik!"
Dantes tidak mempunyai pilihan lain. Dia mempersilakan Faria duduk di ranjangnya, sedang dia sendiri mengambil tempat di hadapannya, di atas bangku.
"Seperti pernah kukatakan," Faria memulai ceriteranya,
"Aku pernah menjadi sekertaris dan sahabat dekat Kardinal Spada, bangsawan terakhir dengan nama itu. Kepada beliaulah aku berhutang budi untuk segala kebahagiaan
yang pernah kunikmati di dunia ini. Beliau tidak kaya, walaupun kekayaan keluarganya sangat terkenal. Aku sering mendengar ungkapan 'kaya seperti Spada'. Istananya adalah sorgaku.
Aku mendidik kemenakannya, yang sayang sekali pendek umurnya. Oleh karena beliau menjadi sebatang kara, aku mencoba membalas kebaikan budinya dengan Jalan memenuhi segala keinginannya.
Rumah Kardinal dalam, waktu yang singkat sudah tidak asing lagi bagiku dan aku mengetahui segala rahasia yang berada di dalamnya. Seringkali aku melihat beliau menekuni buku-buku tua dan dengan sangat bergairah membongkar dan meneliti catatan-catatan keluarga.
Pada suatu hari aku memperingatkan beliau karena terlalu sering selama semalam suntuk menekuni pekerjaan yang hanya memeras
tenaga dan menghasilkan kemurungan saja.
Terhadap peringatanku itu beliau tersenyum pahit kemudian membuka sebuah buku mengenai sejarah Roma dan memperlihatkannya kepadaku. Di sana, dalam bagian kedua puluh mengenai kehidupan Paus Alexander VI, aku membaca kalimat-kalimat yang sampai sekarang pun masih kuingat betul:
Terang Romania yang besar telah berakhir. Setelah mencapai kemenangan, Kaisar Borgia memerlukan uang yang cukup banyak untuk membeli Italia. Demikian juga Paus memerlukan uang untuk membebaskan diri dari Louis XII yang meskipun belum lama menderita kekalahan masih kuat pengaruhnya.
Oleh sebab itu dianggap perlu sekali melakukan suatu usaha yang menguntungkan, yang sebenarnya makin lama makin sukar melaksanakannya di Italia yang telah menjadi lemah dan miskin pada waktu
itu."
'Sri Paus mempunyai gagasan: beliau memutuskan untuk mengangkat dua orang Kardinal baru. Dengan jalan memilih dua orang yang paling terkemuka dan paling kaya di Roma untuk jabatan Kardinal itu beliau dapat mengharapkan keuntungan yang besar sekali.
Pertama, beliau dapat menjual jabatan dan gelar yang sudah dimiliki sebelumnya oleh Kedua Kardinal baru; kedua, beliau akan me-minta kedua Kardinal baru itu membayar sebagai imbalan untuk kehormatan yang dianugerahkan.
Masih ada satu segi lain dari tindakan ini yang akan muncul kemudian. Paus dan Kaisar Borgia memilih Giovanini Rospigliosi dan Kaisar Spada sebagai calon-calon Kardinal yang tepat.
Giovanini sendiri telah memegang empat dari jabatan tertinggi dalam Wilayah Kekuasan Sri. Paus, sedangkan Kaisar Spada merupakan salah seorang yang paling kaya dan paling terhormat di Roma.
Dalam waktu yang singkat Kaisar Borgia sudah mendapatkan peminat-peminat yang mau membeli jabatan yang akan dikosongkan oleh kedua orang itu. Kesimpulannya, Rospigliosi dan Spada membayar untuk mendapatkan jabatan Kardinal dan delapan orang lainnya membayar untuk mendapatkan kedudukan yang ditinggalkan oleh mereka. Delapan ratus
ribu crown mengalir masuk ke dalam dompet para pencari untung.
"Sekarang mari kita lihat segi ketiga dari gagasan Sri Paus ini. Setelah Sri Paus mengangkat Rospigliosi dan Spada menjadi Kardinal dan mereka sudah menyerahkan
kekayaannya untuk membayar hutang budinya karena mendapatkan kedudukan itu, Sri Paus dan Kaisar Borgia mengundang kedua Kardinal baru itu makan malam bersama.
Tindakan ini menimbulkan sedikit perbedaan faham antara Sri Paus dan puteranya. Kaisar berpendapat lebih baik menggunakan salah satu alat yang biasa dipergunakan untuk menyingkirkan kawan-kawan dekatnya.
Pertama, dengan menggunakan sebuah kunci. Dengan kunci itu orang yang dikehendaki diminta membuka sebuah lemari tertentu. Pada kepala kunci itu ada bagian yang tajam
menonjol yang diakibatkan oleh kurang cermatnya pembuatannya. Pintu lemari itu tidak mudah dibuka, dan memaksa si pembuka sedikit menekan kuncinya. Pada waktu menekan ini tangannya akan tertusuk oleh bagian yang tajam menonjol itu, dan ia akan mati keesokan harinya.
Selain kunci ada cincin kepala singa, yang dipakai oleh Kaisar apabila ia ingin berjabatan dengan seseorang tertentu. Kepala singa itu akan menggores tangan yang dijabat, dan goresan ini sangat berbahaya sehingga
menewaskan yang tergores dalam waktu dua puluh empat jam.
'Kaisar mengusulkan kepada ayahnya, agar beliau meminta kedua Kardinal itu membuka lemari kematian, atau memberikan kepada keduanya jabatan tangan maut, tetapi Alexander VI menjawab, 'Jangan kita menyayangkan biaya makan malam untuk menghormati kedua Kardinal yang berharga ini, karena aku merasa bahwa kita akan menerima
kembali uang kita. Selain dari itu, rupanya engkau lupa bahwa pencernaan makan yang kurang baik akan segera terasa, sedangkan tusukan kunci atau gigitan singa baru akan tampak akibatnya sehari atau dua hari kemudian.’
Kaisar akhirnya menyetujui pendapat ayahnya dan diundanglah kedua Kardinal itu untuk makan malam. Meja makan dipasang di kebun anggur milik Sri Paus dekat San Pietro di Vincoli, sebuah tempat peristirahatan yang indah nyaman.
'Rospigliosi yang masih mabuk kepayang karena jabatannya yang baru, tanpa kecurigaan sedikit pun mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menikmati makan malam itu.
Lain dengan Spada, seorang yang bijak dan waspada, yang tidak mencintai orang lain kecuali kemenakannya sendiri, seorang Kapten dengan masa depan yang cerah, sebelum
berangkat ke undangan menulis dahulu sebuah surat wasiat.
Setelah itu ia mengirimkan pesan kepada kemenakannya itu agar, dia menunggunya di kebun anggur, tetapi sayang sekali pesuruhnya tidak berhasil menemukan kemenakan itu. Spada sudah sangat mengenal makna Undangan-undangan dari Sri Paus. Sejak agama Kristen menanamkan pengaruh peradabannya di Roma, tidak pernah lagi ada
seorang komandan tentera datang kepada kita atas perintah seorang raja dholim dan berkata,
''Kaisar menghendaki kematian Tuan.’ Sebagai penggantinya seorang utusan Sri Paus akan datang dan berkata dengan sopan sekali, 'Sri
Paus mengharapkan sekali kedatangan Tuan untuk makan malam bersama beliau."
Ketika Spada datang di kebun anggur, Sri Paus telah menantinya dan menyambut. Orang pertama yang tertangkap oleh pandangannya, adalah kemenakannya sendiri yang sedang dihadapi oleh Kaisar dengan ramah sekali.
Wajah Spada menjadi pucat seketika itu juga. Kaisar melepaskan pandangan penuh ejekan kepadanya, ingin menunjukkan bahwa ia cukup waspada untuk mempersiapkan perangkap ini secermat-cermatnya.
Mulailah santap malam itu. Spada hanya berkesempatan bertanya kepada kemenakannya apakah ia menerima pesannya. Kemenakannya menjawab tidak, tetapi dapat
memahami apa maksud pertanyaan pamannya. Tetapi itu sudah terlambat karena ia baru saja menghabiskan segelas anggur yang enak sekali yang dihidangkan oleh pelayan Sri Paus. Untuk Spada dihidangkan anggur dari botol yang lain. Sejam kemudian, seorang tabib memastikan bahwa keduanya telah meninggal akibat keracunan jamur.
Spada meninggal di ambang pintu kebun anggur itu, sedang kemenakannya menghembuskan nafasnya yang terakhir di depan pintu rumahnya sendiri ketika hendak memberi sesuatu isyarat kepada isterinya. Sayang, isterinya tidak mengerti
isyarat itu.
Kaisar dan Paus segera berusaha menemukan wasiat Spada dengan dalih memeriksa surat-menyurat beliau.
Wasiat yang diketemukan hanya berupa secarik kertas yang bertuliskan kalimat, '
Aku mewariskan peti tempat menyimpan
barang-barang berharga dan semua buku,
termasuk buku pegangan Padri yang berpinggirkan emas kepada kemenakanku yang tercinta dengan harapan agar dia selalu mengenangkan pamannya yang Selalu
mencintainya.
"Para ahli warisnya mencari wasiat lainnya di
mana-mana, mengagumi buku Misal mengambil perabot rumah tangga, tetapi mereka tetap sangat heran mengapa orang sekaya Spada ternyata tidak memiliki apa apa.
Tidak pernah diketemukan adanya harta kekayaan. Kaisar dan ayahnya pun tak henti-hentinya mencari dan menyelidiki, tetapi mereka pun tidak menemukan apa-apa. Spada hanya meninggalkan dua buah rumah dan sebuah kebun anggur.
Oleh karena barang-barang ini dianggap kurang berharga untuk memenuhi nafsu serakah Paus dan puteranya ahli waris Spada boleh tetap memilikinya.
Waktu berlalu terus. Setelah Pope dan puteranya meninggal, keluarga Spada disangka orang akan meneruskan lagi cara hidup seperti yang telah mereka nikmati dahulu.
Kenyataannya tidak demikian. Mereka tetap hidup dalam kesederhanaan dan rahasia yang menyedihkan itu tetap tidak pernah terbongkar. Masyarakat beranggapan bahwa karena Kaisar lebih cerdik daripada ayahnya, beliau berhasil
merebut semua kekayaan yang diperoleh dari Rospigliosi dan Spada. Terutama kekayaan Rospigliosi yang terkuras habis karena ketidakwarasannya.
''Sampai di sini," kata Faria sambil tersenyum,
"ceritera belum menarik, bukan?"
"Menarik sekali!” kata Dantes.
"Silakan meneruskan."
"Baik, saya lanjutkan: Lambat-laun keluarga Spada melupakan rahasia yang tetap gelap itu. Sebagian dari mereka ada yang menjadi perajurit, sebagian lagi menjadi diplomat, tokoh-tokoh gereja dan bankir; sebagian lagi ada yang berhasil menjadi kaya, yang lainnya bahkan kehilangan kekayaan yang tidak seberapa yang masih ada pada mereka.
“Nah," kata Faria,
"aku sampai kepada keluarga Spada
yang terakhir, yaitu Count Spada, majikanku. Aku menjadi sekertaris beliau. Buku Misal yang termasyur tetap berada pada keluarga, dan Count Spada yang terakhir memilikinya. Buku itu diberikan turun-temurun dari ayah kepada anak. Surat wasiat yang aneh itu telah membuat buku Misal itu menjadi barang pusaka yang sangat dihormati dan dipuja oleh keluarga.
Aku sendiri hampir yakin bahwa baik keturunan Borgia maupun keturunan Spada tidak ada yang berhasil menikmati harta kekayaan itu. Harta itu tetap merupakan harta rahasia tanpa pemilik, seperti harta karun dalam ceritera-ceritera Arab yang tetap tersembunyi di dalam bumi dengan dikawal oleh makhluk-makhluk halus.
Aku menyelidikinya di mana-mana. Berkali-kali aku memperbandingkan penghasilan dan pengeluaran keluarga selama tiga ratus tahun, tetapi semuanya sia-sia. Aku tetap tidak mengetahui apa-apa dan Count Spada tetap melarat Ketika majikanku wafat beliau mewariskan perpustakaannya yang terdiri dari lima ribu jilid buku kepadaku, termasuk buku Misal ditambah uang seribu crown dengan
Syarat bahwa aku bersedia mempersembahkan misa setiap tahun bagi arwah beliau dan menulis sejarah keluarga Spada, Keduanya aku lakukan."
"Pada suatu hari dalam tahun 1807, sebulan sebelum aku ditangkap, atau dua minggu setelah beliau wafat, aku membaca untuk keseribu kalinya surat-menyurat yang harus
aku bereskan karena istana telah dijual kepada orang lain, dan aku sudah akan berangkat meninggalkan Roma untuk menetap di Florence. Letih karena terlalu asyik bekerja dan
mengantuk karena terlampau banyak makan, aku merebahkan diri dengan berbantalkan kedua belah tangan, kemudian jatuh tertidur. Ketika itu jam tiga siang."
"Aku terbangun ketika lonceng berbunyi enam kali. Ternyata ruangan sudah gelap. Aku memanggil pelayan untuk membawa lampu, namun tak ada yang datang.
Dengan meraba-raba aku mengambil lilin, kemudian mencari secarik kertas untuk mengambil api dari bara yang masih menyala di tungku. Sebenarnya aku merasa ragu karena khawatir dalam kegelapan keliru mengambil kertas yang berharga. Tiba-tiba aku teringat bahwa dalam buku Misal yang terletak di atas meja di sebelahku, aku pernah melihat secarik kertas yang sudah menguning karena ketuaan. Rupanya kertas itu berada dalam buku sebagai
penunjuk halaman, dan tetap berada di sana selama berabad-abad penghormatan keluarga Spada terhadap buku itu. Tak ada yang berani membuangnya.
Aku mengambil kertas tua itu, meremasnya dan menyalakan salah satu sudutnya. Tetapi, begitu terkena api, aku melihat huruf-huruf kuning terbaca pada kertas itu. Aku terperanjat dan cepat-cepat memadamkan api yang membakar kertas itu. Kemudian aku menyalakan lilin langsung mengambil api dari
perapian. Dengan perasaan yang tidak terlukiskan akubmenghaluskan lagi kertas yang telah kerisut.
Segera aku mengerti bahwa kertas itu ditulisi dengan tinta rahasia yang tulisannya akan timbul apabila kertas dipanaskan. Kurang
lebih sepertiga bagian daripadanya telah termakan api.
Yang aku perlihatkan kepadamu tadi pagi itulah kertas yang kumaksud. Bacalah sekarang, setelah engkau selesai aku akan memperlihatkan bagian yang terbakar.
Faria menyerahkan kertas itu kepada Dantes, yang sekali ini, membacanya dengan gairah:
Tanggal 25 April 1498, diundang makan ma…
Paus Alexander VI, dan oleh karena kh....
tidak puas dengan pembayaranku untuk jab...
sehingga bermaksud juga menguasai h..
untuk itu mengakali aku mengikuti nasib kar
dinal Crapara dan Bentivoglio yang mati dira
ini aku menyatakan kepada kemenakanku Guido Sp
Satu-satunya ahliwarisku, bahwa di sua
lah pernah dia kunjungi bersamaku, di d
di pulau kecil bernama Pulau Monte Cris
bur semua harta milikku yang terdiri dari bat
mas perhiasan dan uang; bahwa ha
mengetahui akan adanya harta keka
dia dapat menemukan harta i
batu cadas kedua puluh yang terletak se
sebuah sungai yang mengalir ke Ti
gua itu ada dua buah lubang; ke
ka sudut yang terdalam dari lubang yang ke d
riskan seluruh harta kekayaan itu kepada ke
sebagai satu-satunya ahliwarisku.
25 April 1498
KAI
"Sekarang," kata Faria,
"bacalah ini."
Dia memberikan kepada Dantes kertas yang lain juga berisi potongan-potongan kalimat. Dantes menerimanya dan membaca:
lam oleh Sri
awatir bahwa dia
atan kardinal
arta warisanku dan
dina karcun,
dengan
ada satu
tempat yang te
alam sebuah gua
to aku menguangan
enya
aku sendiri yang
yaan itu, dan bahwa
tu dengan jalan mengangkat
jajar dengan
mur. Di dalam
yaan itu terdapat di
ua. Aku mewamenakanku
SAR + SPADA
“Hubungkanlah kedua bagian itu dan tariklah kesimpulan sendiri," kata Faria ketika Dantes selesai membaca.
Dantes menurut, kedua bagian yang telah dihubungkan itu membentuk tulisan ini:
Tanggal 25 April 1498, diundang makan malam oleh Sri Paus Alexander VI dan oleh karena khawatir bahwa dia tidak puas dengan pembayaranku untuk jabatan kardinal sehingga
bermaksud juga menguasai harta warisanku dan untuk itu mengakali aku mengikuti nasib kardinal-kardinal Crapara dan Bentivoglio yang mati diracun, dengan ini aku menyatakan kepada kemenakanku, Guido Spada satu-satunya ahli waris ku, bahwa di suatu tempat yang telah dia kunjungi bersamaku, di dalam sebuah gua di pulau kecil bernama Pulau Monte Cristo aku mengubur semua harta milikku yang terdiri dari batangan emas, perhiasan dan uang; bahwa hanya aku sendiri yang mengetahui akan adanya harta kekayaan itu, dan bahwa dia dapat menemukan harta itu dengan jalan mengangkat batu cadas yang kedua puluh yang terletak sejajar dengan sebuah sungai kecil yang mengalir ke Timur. Di dalam gua itu ada dua buah lubang;
kekayaan itu terdapat di sudut yang terdalam dari lubang yang kedua. Aku mewariskan seluruh harta kekayaan itu kepada kemenakanku, sebagai satu-satunya ahli warisku.
2 5 April 1498 KAISAR + SPADA
"Nah, mengertikah engkau sekarang?" tanya Faria.
"Apakah ini pernyataan kardinal dan merupakan wasiat beliau yang sebenarnya?" kata Dantes, masih tetap tak percaya.
"Ya, ya!"
"Siapakah yang menyusunnya kembali menjadi begini?"
"Aku. Dengan bantuan bagian yang tidak terbakar, aku menyusun sisanya dengan cara mengukur dahulu garis kalimat dengan memperbandingkannya dengan lebar kertas,
kemudian mengisi kalimat-kalimat yang hilang dengan menghubungkannya dengan kalimat-kalimat yang ada padaku."
"Dan apa yang Bapak kerjakan setelah Bapak berhasilbmemecahkan teka-teki itu?"
"Aku segera meninggalkan Roma, dengan membawa serta permulaan karya besarku tentang Persatuan Kerajaan Italia. Tetapi polisi Kaisar, yang pada waktu itu sangat menentang penyatuan Italia, telah lama sekali mengawasi
gerak-gerikku. Kepergianku yang mendadak membangkitkan kecurigaan mereka dan ditangkaplah aku ketika aku akan naik kapal di Piombino."
"Sekarang," lanjut Faria dengan tatapan seorang ayah,
"engkau telah mengetahui rahasia ini sebanyak pengetahuanku sendiri. Kalau kita berhasil melarikan diri, setengah dari kekayaan itu adalah milikmu; apabila aku mati di sini
dan engkau berhasil lari, semuanya menjadi milikmu."
"Tetapi," tanya Dantes ragu-ragu,
"apakah tidak ada yang lebih berhak memiliki harta itu daripada Bapak?"
''Tidak, tentang itu engkau boleh merasa tentram. Dengan meninggalnya Count Spada habislah seluruh keluarga itu. Lagi pula Count Spada yang terakhir telah mengangkat aku sebagai ahli warisnya. Dengan mewariskan buku Misal yang simbolik itu berarti beliau
mewariskan seluruh hak miliknya kepadaku.
Seandainya kita berhasil menguasainya, kita dapat memanfaatkannya tanpa perlu ada rasa khawatir."
Dantes merasa dirinya berada dalam alam mimpi, antara tak percaya dan gembira.
"Sekian lamanya aku merahasiakan soal ini kepadamu," kata Faria selanjutnya,
"pertama, karena aku ingin yakin dahulu tentang dirimu dan keduanya aku ingin memberikan sesuatu hadiah tak terduga."
"Harta karun itu milik Bapak," kata Dantes,
"dan saya tidak mempunyai hak apa-apa atasnya, bahkan saya sama sekali tidak terikat hubungan keluarga dengan Bapak."
"Engkau adalah anakku!" kata Faria dengan keras.
"Engkaulah anakku yang lahir dari pengasinganku. Jabatanku mengharuskan aku hidup membujang seumur hidup, tetapi Tuhan telah mengirimkan engkau kepadaku untuk menghibur aku yang tidak pernah akan menjadi
seorang ayah, dan seorang tahanan yang tidak mungkin mendapatkan kembali kebebasannya."
Faria mengulurkan tangannya kepada Dantes yang merangkulnya sambil menangis.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar