BAB XXVI
MALAM harinya, Tuan de Villefort mengenakan jas gelap dan sarung tangan putih, naik ke dalam keretanya dan turun di Champs Elysee No.30.
Seandainya Count of Monte Cristo telah lama tinggal di Paris, dia akan menghargai kunjungan ini. Tuan de Villefort bukan saja seorang jaksa, tetapi juga boleh bisa di katakan seorang diplomat. Dia jarang sekali mau berkunjung ke rumah orang. Sekali setahun keluarganya mengadakan pesta di rumahnya, tetapi dia sendiri tidak pernah hadir
lebih dari seperempat jam.
Tidak pernah ia pergi ke teater, gedung konser atau tempat-tempat umum lainnya. Sekali-sekali, tetapi jarang sekali, ia suka bermain bridge tetapi dengan kawan-kawan yang dipilihnya dengan teliti sekali, umpamanya seorang duta besar, atau seorang pangeran
atau seorang uskup.
Seorang pelayan memberitahukan kedatangan Tuan de Villefort kepada Count of Monte Cristo ketika dia sedang menghadapi sebuah peta lebar mempelajari jalur dari Saint Petersburg ke Cina. Jaksa Penuntut Umum itu memasuki
ruangan dengan langkah-langkah tegap dan teratur Seakan-akan ia memasuki ruang sidang pengadilan.
“Count," katanya memulai,
"jasa yang Tuan berikan kepada istri dan anak saya tadi siang mewajibkan saya mengucapkan terima kasih kepada Tuan. Kedatangan saya sekarang untuk menjalankan kewajiban itu dan menyatakan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya."
Ketika mengucapkan kata-kata ini air mukanya tidak berubah sama sekali, tetap angkuh sebagaimana biasa, bahu dan lehernya tetap kaku. Orang sering menjulukinya sebagai
patung bernyawa.
"Saya sangat berbahagia dapat menolong seorang anak tersayang untuk ibunya," jawab Monte Cristo dingin,
"karena kata orang, kasih sayang seorang ibu merupakan perasaan yang paling suci. Sebab itu, kebahagiaan yang ada pada saya dapat membebaskan Tuan dari kewajiban itu, terlebih lagi karena saya mengetahui bahwa Tuan de Villefort adalah orang yang tidak pernah menghambur-hamburkan kehormatan seperti yang diberikannya sekarang kepada saya.
Betapa berharganya pun kehormatan yang Tuan berikan itu, bagi saya kurang nilainya dibandingkan dengan kepuasan yang ada dalam hati saya."
Mendengar jawaban yang tidak tersangka-sangka, Villefort terperanjat bagaikan seorang serdadu tertusuk di balik baju besinya. Suatu gerak lembut pada bibirnya yang biasa menghina orang, jelas menunjukkan bahwa ia tidak menganggap Count of Monte Cristo sebagai orang yang tahu adat. Dia melihat ke sekeliling ruangan mencari sesuatu
yang dapat dipergunakan sebagai dalih mengalihkan pembicaraan.
Melihat peta yang dihadapi Monte Cristo ia
berkata,
"Apakah Tuan menaruh perhatian kepada ilmu
bumi? Suatu ilmu yang bermanfaat sekali, terutama bagi seorang seperti Tuan yang menurut pendengaran saya, sudah berkunjung ke semua negeri yang tercantum dalam peta."
"Ya," jawab Count,
''saya suka sekali mempelajari watak-watak setiap manusia dan berpendapat bahwa akan lebih mudah mempelajarinya dahulu watak manusia secara umum lalu menjurus kepada watak perorangan dibanding dengan sebaliknya."
"Aha, rupanya Tuan seorang filosof?’
kata Vilefort setelah diam sejenak. Selama diam itu dia mengumpulkan lagi tenaganya sebagai seorang olah ragawan yang menghadapi lawan yang berat.
"Seandainya saya seperti Tuan dan menganggur, saya dapat meyakinkan Tuan bahwa saya akan mencari pekerjaan yang lebih cerah."
"Benar, manusia itu mahluk yang buruk sekali apabila kita mempelajarinya lebih teliti. Baru saja Tuan menyindir bahwa saya tidak mempunyai pekerjaan.
Apakah Tuan berpendapat bahwa Tuan sendiri mempunyai pekerjaan, Tuan de Villefort? Atau tegasnya, apakah yang Tuan kerjakan
sekarang itu cukup berharga?"
Keterkejutan Villefort meningkat lagi menerima tusukan kedua yang dilontarkan oleh lawannya yang aneh ini.
"Perhatian Tuan hanya ditujukan kepada organisasi masyarakat belaka " kata Monte Cristo selanjutnya.
"Yang Tuan lihat hanya mesin-mesin saja, bukan orang-orangnya yang bekerja di belakang mesin itu. Tuan hanya mengenal
mereka yang berpangkat, yang menerima pangkatnya dari seorang menteri atau seorang raja. Tuan tidak dapat melihat mereka yang oleh Tuhan ditempatkan di atas menteri atau
raja. Mereka yang bukan diberi pangkat untuk dijabat, melainkan mereka yang diberi sesuatu tugas untuk dilaksanakan."
"Dan Tuan menganggap diri Tuan sebagai salah seorang dari yang istimewa itu?"
tanya Villefort yang sudah lebih terheran-heran lagi dan tidak dapat memastikan apakah orang yang dihadapinya ini benar-benar orang yang
istimewa atau orang gila.
"Ya, saya salah seorang dari mereka," jawab Monte Cristo dingin,
"dan saya tidak percaya bahwa pernah ada
orang lain yang berada dalam keadaan seperti dalam keadaan saya sekarang ini. Wilayah kekuasaan seorang raja terbatas oleh batas-batas yang alamiah atau oleh perbedaan adat kebiasaan dan perbedaan bahasa.
Kerajaan saya seluas dunia, oleh karena saya bukan orang Italia, bukan orang Perancis, bukan orang Hindu, bukan orang Amerika atau
orang Spanyol. Saya seorang warga dunia.
Saya menerapkan semua adat kebiasaan dan berbicara dengan semua bahasa. Tuan akan mengira saya orang Perancis karena saya berbicara bahasa Perancis selancar dan sebaik
Tuan. Tetapi Ali, hamba sahaya saya orang Nubia, menganggap saya orang Arab.
Bertuccio, pengurus rumah tangga saya,
menganggap saya orang Romawi. Haydee, juga hamba saya, menganggap saya orang Yunani. Oleh sebab itu, karena saya bukan warga negara mana pun juga, karena saya tidak meminta perlindungan negara mana pun juga, dan karena saya tidak memandang seorang pun sebagai saudara, saya tidak pernah merasa terganggu oleh rintangan atau keseganan yang biasa melumpuhkan mereka yang lemah.
Saya hanya mempunyai tiga macam lawan. Yang pertama dan yang kedua adalah jarak dan waktu. Tetapi dengan kegigihan dan ketekunan saya dapat mengatasi keduanya. Yang ketiga, adalah yang paling mengerikan,
yaitu bahwa saya tidak kekal.
Hanya itu yang dapat menghentikan saya sebelum mencapai tujuan. Kecuali kalau maut telah merenggut, saya akan tetap seperti saya
sekarang. Itulah sebabnya sekarang saya mengatakan sesuatu yang belum Tuan dengar sebelumnya, juga tidak dari mulut seorang raja, oleh karena raja memerlukan Tuan dan orang lain takut kepada Tuan.
Siapakah orangnya dalam masyarakat yang menggelikan seperti masyarakat kita ini, yang tidak pernah berkata kepada dirinya sendiri,
"Suatu saat mungkin saya harus berhadapan
dengan Jaksa Penuntut Umum’?"
"Sekalipun Tuan dapat berkata demikian namun selama Tuan berada di Perancis, Tuan harus tunduk kepada hukum yang berlaku di Perancis."
"Saya menyadari itu, Tuan de Villefort Karenanya, saya setiap memasuki suatu negara, terlebih dahulu saya mempelajari
orang-orang yang mungkin menguntungkan atau merugikan sampai saya mengenal mereka seperti mereka mengenal dirinya sendiri, bahkan mungkin lebih.
Akibatnya, setiap jaksa yang mungkin harus saya hadapi akan berada dalam keadaan yang lebih gawat daripada saya sendiri."
"Dengan kata lain," kata Villefort ragu-ragu,
"manusia bersifat lemah dan setiap orang menurut pendapat Tuan melakukan kesalahan."
"Benar, kesalahan dan kejahatan."
"Dan hanya Tuan sendiri yang sempurna?"
"Tidak, tidak sempurna," kata Monte Cristo,
"hanya kebal. Saya menjaga dan mempertahankan kehormatan saya terhadap manusia mana pun juga, tetapi melepaskannya di hadapan Tuhan yang telah menjadikan
saya dari tiada menjadi seperti sekarang."
"Saya sangat kagum," kata Villefort,
"dan kalau benar-benar Tuan kuat, benar-benar unggul dan benar-benar sempurna atau kebal terhadap hukum, seperti yang Tuan katakan
tadi, saya hanya dapat berkata: berbanggalah dan pandai-pandailah memanfaatkannya. Itulah hukum kekuasaan. Tetapi, tentu setidak-tidaknya tuan mempunyai sesuatu cita-cita atau semacamnya."
"Benar, saya mempunyai ambisi itu."
"Bolehkah saya mengetahuinya?"
"Seperti biasa terjadi pada setiap manusia sekurang-kurangnya sekali selama hidupnya, saya pun pernah diangkat setan sampai ke puncak gunung tertinggi di dunia ini Dari atas sana ia menunjukkan seluruh jagat dan berkata
kepada saya, seperti dia berkata kepada Kristus:
‘Wahai anak manusia, apa yang engkau inginkan sebagai upah menuhankan aku?"
Saya berpikir beberapa lama karena suatu keinginan yang dahsyat memenuhi hati saya.
Lalu saya menjawab:
'Saya selalu mendengar tentang Tuhan, tetapi saya belum pernah melihatNya atau sesuatu yang menyamainya, sehingga saya berpikir Tuhan itu tidak ada.
Saya ingin menjadi yang maha kuasa oleh karena yang paling penting dan paling indah yang saya ketahui dalam dunia ini adalah, mengganjar dan menghukum.'
Tetapi setan itu menundukkan kepala dan mengeluh:
'Engkau keliru,' katanya,
'Yang Maha Kuasa itu ada tetapi tak dapat dilihat.
Engkau tidak akan melihat sesuatu yang menyerupainya karena Ia bekerja melalui relung-relung rahasia dan bergerak di jalur-jalur tersembunyi. Yang dapat aku lakukan hanya membuatmu menjadi salah seorang petugas Yang Maha Kuasa.’
Lalu saya membuat perjanjian dengan dia.
Mungkin saya kehilangan jiwa karena itu, tetapi kalau saya mendapatkan lagi kesempatan yang sama saya akan mengulanginya lagi."
Keheranan Villefort sudah tidak dapat dikendalikan lagi, jelas sekali dari suaranya ketika ia bertanya,
''Tidak adakah yang Tuan takuti kecuali mati?"
"Saya tidak mengatakan takut mati. Saya hanya mengatakan bahwa hanya matilah yang dapat mencegah saya."
"Bagaimana tentang ketuaan?"
"Tugas saya akan selesai sebelum saya menjadi tua.”
"Dan kegilaan?”
"Saya pernah akan menjadi gila, dan Tuan tentu mengenal dalil, Non bis in idem, suatu dalil dalam ilmu hukum yang berarti sebuah perkara tidak boleh diadili dua kali!
Dalam hal saya berarti saya tidak akan menjadi gila untuk kedua kalinya."
"Masih ada lagi yang patut ditakuti di samping ketuaan dan kegilaan," kata Villefort.
"Umpamanya, penyakit ayan yang menyerang tanpa menghancurkan, tetapi setelah itu segala-galanya habis. Datanglah ke rumah saya pada suatu waktu, Tuan, dan saya akan memperkenalkan Tuan kepada ayah saya, Tuan Noirtier de Villefort, seorang pengikut Jacobin yang gigih dalam Revolusi Perancis, seorang yang barangkali tidak seperti Tuan pernah melihat kerajaan dunia, tetapi orang yang pernah turut membantu menggulingkan salah seorang raja yang paling berkuasa.
Namun, pembuluh darah otaknya yang pecah, telah merubahnya sama sekali, bukan dalam sehari, bukan pula dalam sejam, melainkan dalam sedetik.
Tuan Noirtier, bekas anggota Jacobin, bekas senator, orang yang mentertawakan ancaman pisau gflyotm meriam maupun belati, orang yang menganggap Perancis hanya sebuah
papan catur lebar belaka.
Tuan Noirtier yang hebat, sekarang telah menjadi Tuan Noirtier yang malang, orang tua yang lumpuh, bisu, mayat hidup yang hanya tinggal menunggu saat-saat membusuknya."
"Apa kesimpulan tuan dari semua itu, Tuan de
Villefort?"
"Saya menarik kesimpulan bahwa ayah saya hanyut terbawa nafsunya melakukan kesalahan-kesalahan dan terhindar dari hukum manusia namun tidak dari Tuhan.
Tuhan telah menghukumnya karena perbuatannya itu."
Dengan sebuah senyum di bibir, Monte Cristo mengaum bagai harimau dalam lubuk hatinya, yang dapat membuat Villefort lari tunggang langgang seandainya dia dapat mendengarnya.
"Saya harus minta diri, Count,” kata Villefort yang sudah berdiri sejak lama,
"tetapi saya pergi dengan perasaan penuh penghargaan yang saya harap dapat menyenangkan Tuan, seandainya Tuan mengenal saya lebih baik, sebab saya bukan seperti orang biasa. Sama sekali tidak. Dan
Tuan telah berhasil membuat Nyonya de Villefort sebagai kawan yang kekal."
Setelah Jaksa Penuntut Umum itu pergi, Monte Cristo berkata kepada dirinya sendiri,
"Karena hatiku penuh dengan racun kebencian sekarang aku memerlukan penawarnya."
Dia memukul gong sekali.
"Aku pergi menemui Haydee," katanya kepada Ali.
"Siapkan kereta setengah jam lagi.”
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar