BAB XXXIV
KETIKA Tuan de Villefort dan Nyonya keluar dari kamar ayahnya, mereka diberitahu bahwa Count of Monte Cristo datang berkunjung dan sekarang sedang menanti di ruang tamu.
Setelah saling menyalami Monte Cristo berkata,
"Saya datang untuk mengingatkan Tuan kepada janji Tuan untuk hari Sabtu itu;’'
"Bagaimana mungkin kami melupakannya," kata Nyonya de Villefort.
"Apakah Tuan akan menjamu kami di rumah Tuan di Champs Elysees?" tanya Vlilefort.
"Bukan. Di rumah yang di pinggir kota, di Auteuil."
"Auteuil" kata Villefort sedikit terkejut.
"Oh ya, saya ingat sekarang. Istri saya mengatakan bahwa Tuan mempunyai rumah di sana karena ke rumah itulah dia dibawa setelah mendapat kecelakaan itu. Di jalan apa?"
"Rue de la Fontaine."
"Rue de la Fontaine!" Villefort mengulanginya dengan suara tertahan.
"Nomor?"
"Dua puluh delapan."
"Jadi, Tuanlah yang membeli rumah Tuan de Saint- Meran itu rupanya!"
'Tuan de Saint-Meran," tanya Monte Cristo.
"Apakah rumah itu milik beliau?"
"Benar," kata Nyonya de Villefort,
"dan saya dapat menceriterakan sesuatu yang aneh tentang rumah itu Tentu Tuan menganggapnya sebagai rumah yang menyenangkan, bukan?"
"Saya menganggapnya indah sekali"
"Nah, suami saya tidak pernah mau menempatinya."
"Saya tidak menyukai Auteuil," kata Villefort berusaha menguasai dirinya.
"Saya harap hal itu tidak akan menyebabkan saya kehilangan kebahagiaan menjamu Tuan pada Sabtu malam nanti" kata Monte Cristo.
'Tidak . .. saya harap ... percayalah, saya akan berusaha supaya dapat datang ..." jawab Villefort terbata-bata.
"Saya harap jangan ada dalih apapun juga!"
kata Monte Cristo dengan tekanan suara.
"Saya mengharapkan kedatangan Tuan pada hari Sabtu jam enam sore. Apabila Tuan tidak datang, saya terpaksa menarik kesimpulan bahwa ada sesuatu kisah suram dalam rumah itu yang tidak berpenghuni selama dua puluh tahun terakhir ini"
"Saya akan hadir. Count, saya akan hadir!" kata Villefort cepat-cepat.
"Terima kasih" jawab Monte Cristo.
"Izinkan saya sekarang mohon diri. Saya bermaksud melihat sesuatu yang telah sering kali membuat saya memikirkannya berjam-jam."
"Apakah itu?"
“Telegram. Saya malu mengatakannya, tetapi begitulah,"
"Telegram?" Nyonya de Villefort mengulanginya
"Benar, telegram. Sering sekali saya melihat tiang-tiang hitam menjulang di atas sebuah bukit atau di tepi-tepi jalan. Dan setiap kali saya melihatnya pikiran saya selalu teringat kepada tanda-tanda aneh yang berjalan di udara membawa pesan, dari seorang yang duduk di suatu ujung kepada
orang lain yang duduk di ujung yang lain.
Dia selalu mengingatkan saya kepada jin dan bidadari atau mahluk-mahluk halus lainnya, Pendeknya kepada ilmu gaib, dan ini sangat menyenangkan. Kemudian saya mendengar bahwa operator-operatornya hanyalah seorang biasa dengan gaji seribu dua ratus frank setahun. Saya ingin sekali melihat dari dekat bagaimana dia mempermainkan peralatannya
mengirimkan pesan-pesan kepada kawannya di seberang lain."
"Kantor telegram mana yang akan Tuan kunjungi?" tanya Villefort.
"Yang mana yang Tuan sarankan?"
"Tentu yang tersibuk, saya kira"
"Jalur dari Spanyol, bukan?"
"Ya. Tetapi sebaiknya Tuan bergegas. Sebentar lagi hari akan gelap dan Tuan tidak akan dapat melihat apa-apa."
"Terima masih," jawab Monte Cristo.
"Saya akan menceriterakan kesan-kesan saya pada hari Sabtu nanti."
Keesokan harinya Debray meninggalkan kantornya pergi ke rumah Danglars.
"Apakah suamimu mempunyai saham-saham Spanyol?" tanyanya kepada Nyonya Danglars.
'Pasti. Seharga enam juta frank."
"Dia harus segera menjualnya dengan harga apa pun."
"Mengapa?"
"Karena Don Carlos melarikan diri dari Bourges dan kembali ke Spanyol."
"Bagaimana kau mengetahuinya?"
"Dengan cara biasa aku mengetahuinya," kata Debray sambil mengangkat bahu.
Barones tidak menunggu diberi tahu untuk kedua kalinya. Dia segera berlari kepada suaminya, yang pada gilirannya cepat-cepat pergi menemui penjual saham-sahamnya dan memerintahkan dia segera menjual saham Spanyol dengan harga apa saja yang dapat diperolehnya.
Ketika masyarakat mengetahui bahwa Baron Danglars menjual saham-sahamnya, harga saham-saham Spanyol segera menurun dengan dahsyat. Danglars rugi lima ratus ribu
frank, tetapi dia beruntung dapat menjual seluruhnya.
Kalau tidak kerugiannya akan berlipat-lipat.
Sore harinya dalam koran Le Messager terpampang sebuah berita yang berbunyi;
Berita kawat yang resmi King Don Carlos berhasil melarikan diri dari tempat pengasingannya di Bourges dan telah kembali ke Spanyol melalui perbatasan Catalonia. Barcelona berontak mendukung kedatangannya.
Semalam itu tiada lagi yang dibicarakan orang kecuali ketajaman hidung Danglars sehingga ia hanya merugi lima ratus ribu frank dalam bencana seperti itu. Mereka yang tidak mau menjual saham-saham Spanyolnya dan membelinya dari Danglars, menganggap dirinya sudah hancur dan tidak dapat tidur semalaman.
Keesokan harinya dalam koran Le Moniteur terbaca lagi berita lain:
Berita yang dimuat kemarin dalam harian Le Messager yang mengatakan bahwa Don Carlos melarikan diri dan pemberontakan di Barcelona, adalah tidak benar. King Don Carlos tidak meninggalkan Bourges dan seluruh Spanyol tetap tenang dan aman. Kekeliruan ini disebabkan oleh cuaca buruk yang menganggu kelancaran kantor kawat sehingga timbul salah pengertian.
Harga saham-saham Spanyol naik lagi dua kali lipat. Danglars yang sudah rugi lima ratus ribu frank menggigit jari lagi, karena tidak dapat ikut beruntung dalam kenaikan.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar