BAB XLI
NYONYA de Villefort dan Valentine pergi ke sebuah pesta dansa berdua setelah gagal meminta suaminya menemaninya. Setelah mereka berangkat Jaksa Penuntut Umum itu mengunci diri di kamar kerjanya sesuai dengan
kebiasaannya pada malam hari.
Dia duduk menghadapi setumpuk pekerjaan yang mungkin akan mengejutkan orang lain, tetapi yang dalam keadaan normal masih kurang cukup banyak untuk memuaskan gairah kerjanya.
Sekali ini tumpukan kertas itu hanya merupakan dalih saja karena dia tidak bermaksud bekerja, melainkan untuk merenungi masalah yang dihadapinya.
Setelah dia mengunci pintu dan berpesan untuk tidak diganggu kecuali oleh sebuah hal yang sangat penting, ia duduk di kursinya dan
mulai merenungi kembali semua kejadian yang
menimpanya dalam hari-hari terakhir ini, yang
membawanya kepada masa lalu yang suram dan pahit Ketika ia sedang mengumpulkan kembali kepercayaan pada dirinya sendiri, ia mendengar suara kereta berjalan di pekarangan. Lalu dia mendengar suara langkah orang di tangga dibarengi dengan isak dan ratap tangis.
Dia membuka pintu dan sesaat kemudian seorang wanita tua masuk tanpa memberitahukan lebih dahulu. Matanya bengkak karena menangis.
"Mengerikan sekali!" katanya.
"Aku pun akan mati! Ya, aku akan mati."
Wanita itu terduduk di atas sebuah kursi yang paling dekat dengan pintu lalu menangis sejadi-jadinya.
Villefort menghampiri bekas mertuanya, sebab wanita itu tiada lain dari Nyonya de Saint-Meran, ibu dari istrinya yang pertama.
"Ada apa, Nyonya?" tanyanya.
"Di mana Tuan de Saint- Meran?"
"Tuan de Saint-Meran telah meninggal."
"Meninggal? Begitu ... mendadak?" Villefort keheranan.
"Ya . . . terserang penyakit ayan yang sangat mendadak. Saya sudah tidak dapat mengeluarkan air mata lagi. Rupanya dalam usia setua ini, sudah tidak ada lagi air mata tersisa, padahal apabila orang sedang tertimpa kesedihan ia perlu menangis... Di mana Valentine? Aku ingin berbicara."
Villefort berpikir tidak baik kalau dia katakan bahwa Valentine sedang pergi ke pesta dansa.
Dengan sederhana ia katakan bahwa Valentine sedang bepergian dengan ibu tirinya dan akan segera menyuruh orang untuk menjemputnya.
"Cepat. Secepat mungkin!" kata wanita tua itu.
Villefort membimbing nyonya tua itu ke ruang duduk.
“Nyonya harus beristirahat" katanya.
Lalu, ketika bekas mertuanya bertekuk lutut dan berdo'a dari lubuk hatinya, ia pergi menyuruh pelayannya menjemput istri dan anaknya.
Valentine menjumpai neneknya sudah di kamar tidur. Belaian tangan, hati yang pedih, suara yang tertahan di tenggorokan dan air mata yang hangat sajalah yang dapat mengiringi kedatangan Valentine itu. Neneknya, karena
kesedihan yang sangat mendalam sudah tak sadarkan diri.
Sebuah gelas dan tempat air jeruk yang menjadi kesukaannya diletakkan di atas sebuah meja kecil di samping ranjangnya.
Dia masih terbaring ketika Valentine mengunjunginya keesokan harinya. Demamnya masih belum mereda. Bahkan ia dicekam oleh kegelisahan yang sangat.
"Nenek, tampaknya keadaan nenek semakin buruk."
"Tidak, aku hanya tidak sabar menunggu kedatanganmu sebelum aku memanggil ayahmu. Aku ingin berbicara dengan dia,"
Valentine tidak berani membantah keinginan neneknya. Villefort masuk selang tidak berapa lama.
"Tuan merencanakan menikahkan Valentine kepada Tuan Franz d'Epinay, bukan?"
Tanya Nyonya de Saint-Meran kepadanya tanpa pendahuluan, seakan-akan ia tahu
akan kehabisan waktu.
"Benar, Nyonya," jawab Villefort.
"Dia adalah putra Jendral d'Epinay yang mati terbunuh beberapa hari sebelum Napoleon masuk kembali dari Elba."
"Benar."
"Apakah dia tidak berkeberatan menikah dengan cucu seorang penganut Napoleon?"
"Untung sekali perselisihan antara kita sekarang telah padam. Tuan Franz d'Epinay masih kecil ketika ayahnya meninggal. Dia tidak mengenal Tuan Noirtier dan ia akan
berkenalan dengan beliau, kalaupun tidak dengan perasaan gembira, sekurang-kurangnya dengan sikap masa bodoh."
"Apakah mereka cocok satu sama lain?"
"Dalam segala hal. Tuan d'Epinay seorang anak muda yang terpandang."
Valentine tidak mencampuri percakapan mereka.
"Baiklah,"
kata Nyonya de Saint Meran setelah merenung beberapa saat.
"Sebaiknya dilaksanakan secepat-cepatnya
karena saya merasa tidak akan hidup lama lagi."
"Oh, Nenek!"
Valentine tiba-tiba berteriak.
"Aku tahu apa yang aku katakan," kata wanita tua itu dengan tenang.
"Tuan harus segera melaksanakannya karena
Valentine sudah tidak mempunyai ibu lagi. Sekarang sekurang-kurangnya ia masih mempunyai nenek untuk merestui pernikahannya."
"Akan segera dilaksanakan sesuai dengan keinginan Nyonya," kata Villefort,
"terutama sekali karena keinginan Nyonya itu sejalan benar dengan niat saya. Segera setelah Tuan d'Epinay kembali ke Paris..,.?"
"Tetapi," Valentine menyela,
“bukankah kita masih dalam berkabung! Apakah nenek menghendaki perkawinan dalam keadaan seperti sekarang?"
"Janganlah kita terlalu memperturutkan kebiasaan yang selalu menghambat si lemah membangun masa depannya yang kokoh!"
jawab perempuan tua itu dengan penuh
semangat.
"Aku sendiri kawin segera setelah kematian ibuku, dan aku tidak pernah merasa tidak berbahagia karena itu."
"Nyonya masih saja dipengaruhi oleh bayangan kematian," kata Villefort,
"Sudah saya katakan, saya akan segera mati. Sekalipun Tuan tidak akan percaya, tetapi tadi malam, tepat di tempat Tuan sekarang berdiri benar-benar saya melihat sesosok tubuh putih datang menghampiri dari pintu yang menghubungkan kamar ini dengan kamar hias istri Tuan."
Valentine tidak dapat menahan jeritnya.
"Mungkin Nyonya hanya terganggu demam saja," kata Villefort.
"Silakan meragukannya, kalau mau," kata nyonya itu,
"tetapi saya yakin. Saya melihat sosok putih itu mendekat.
Bukan hanya melihat tetapi juga mendengar dia memindahkan gelas. Gelas itu, yang di atas meja itu. Itulah arwah suamiku datang menjemput"
"Janganlah Nyonya terlalu memikirkan hal-hal yang buruk," kata Villefort
"Nyonya masih akan hidup lama, bahagia, dicintai dan dihormati dan kami akan berusaha
membantu Nyonya melupakan segala kesedihan."
"Tidak! Tidak! Tidak! Sekarang sebaiknya tolong panggilkan notaris untuk mengukuhkan agar semua kekayaanku jatuh ke tangan Valentine, setelah aku mati."
"Nenek!"
teriak Valentine lagi, lalu menekankan kedua bibirnya ke dahi neneknya.
"Rupanya Nenek menghendaki saya pun mati karena kesedihan. Nenek hanya demam.
Bukan notaris yang kita perlukan sekarang, melainkan seorang dokter."
"Dokter?"
Jawab wanita itu sambil menggerakkan kedua
bahunya.
"Aku tidak sakit, hanya haus. Hanya itu."
"Mau minum apa?"
"Air jeruk, engkau tahu itu. Gelasnya di atas meja itu, tolong."
Valentine mengambil gelas itu dengan sedikit ragu, karena gelas itulah menurut ceritera neneknya yang dipindahkan oleh hantu malam tadi.
Nyonya de Saint-Meran meneguknya sekali habis. Lalu, setelah merebahkan lagi kepalanya di atas bantal, ia mengulang lagi,
"Notaris! Notaris!"
Villefort meninggalkan ruangan dan Valentine duduk di sebelah ranjang neneknya. Dua jam telah berlalu, selama itu nyonya tua itu jatuh tertidur dengan pulas. Seorang pelayan
datang memberitahukan bahwa dokter telah menunggu di luar.
Valentine segera berlari ke luar. Dokter d'Avrigny adalah sahabat keluarga dan salah seorang dokter terpandai di Paris.
Dia sangat menyukai Valentine yang ia bantu lahir ke dunia.
"Dokter!" kata Valentine,
"kami sudah tidak sabar menunggu. Nenek... Tuan telah mendengar musibah itu?"
"Tidak.”
"Ah,"
Kata Valentine sambil menahan desakan tangisnya,
"kakek meninggal"
"Tuan de Saint-Meran?"
"Ya. Beliau meninggal karena serangan kelumpuhan yang mendadak. Nenek sangat terpengaruh oleh khayalan bahwa kakek telah datang untuk menjemputnya."
"Bagaimana gejala-gejalanya?"
"Beliau selalu gelisah dan tidurnya pun resah. Katanya tadi malam beliau melihat hantu datang ke kamarnya, bahkan beliau dapat mendengarnya ketika hantu itu mengangkat
gelas."
"Nenekmu bukan orang yang biasa melihat bayangan," kata Dokter d'Avrigny.
"Sangat mengherankan."
“Tolong segera, Dokter."
"Kau turut?"
"Saya takut, karena beliau melarang saya memanggil Dokter. Dan saya pun bingung. Saya rasa lebih baik saya berjalan-jalan di kebun untuk menenangkan diri."
Tak sukar mengira bagian mana dari kebun itu yang dia tuju. Setelah memetik sebuah bunga mawar dan menyematkannya di rambut ia berjalan sepanjang jalan yang teduh menuju pintu gerbang yang berkisi-kisi Selagi berjalan dia mendengar namanya dipanggil orang. Dia
berhenti, terkejut. Suara Maximilien Seakan-akan didorong naluri seorang kekasih dan seorang ibu, Maximilien mencium ada sesuatu yang tidak beres di rumah Villefort Saat itu bukan waktunya ia datang ke tempat itu, jadi hanya kebetulan belaka kalau Valentine datang ke sana.
"Engkau di sini, pada jam begini?" tanya Valentine terperanjat.
"Ya, Aku datang untuk menyampaikan sebuah berita buruk dan ingin bertanya kalau-kalau engkau mempunyai berita bagiku."
"Katakanlah, Maximilien. Hatiku sudah sangat parah untuk dapat disentuh lagi oleh kesedihan yang lain."
"Valentineku yang manis,"
Kata Maximilien, mencoba menguasai perasaannya agar dapat berbicara dengan terang dan jelas,
"dengarkan baik-baik karena apa yang hendak
kukatakan sangat penting. Apakah orang tuamu telah menentukan tanggal perkawinanmu?"
"Aku tidak akan menyembunyikan apa pun kepadamu, Maximilien. Tadi pagi, nenek yang aku perhitungkan akan memihak padaku, menghendaki agar pernikahan segera dilaksanakan begitu Tuan d'Epinay kembali ke Paris."
Sebuah keluhan Sedih terlontar dari dada anak muda itu.
"Berarti besok" katanya,
"karena Tuan d'Epinay telah datang tadi pagi. Sekarang telah datang saatnya engkau
memberikan sebuah jawaban yang akan menentukan hidup atau matiku! Apa rencanamu?"
Valentine menundukkan kepalanya, dadanya penuh dengan segala macam perasaan,
"Sekarang bukan saatnya kita membiarkan diri dihanyutkan oleh kekecewaan yang tidak berguna," lanjut Maximilien.
"Banyak orang yang bersedia menderita dan
menelan air matanya dengan ringan hati dan
mengharapkan Tuhan menghiburnya di surga nanti. Tetapi mereka yang berkemauan keras berjuang membalas pukulan takdir itu. Apakah engkau mempunyai rencana untuk menolak takdir itu, Valentine? Itulah yang hendak
kutanyakan."
Valentine tampak bingung. Ia memandang kekasihnya dengan mata penuh ketakutan. Tak pernah timbul dalam benaknya niat untuk menolak keinginan ayah dan neneknya.
"Apa yang kau katakan tadi, Maximilien?" tanyanya kemudian.
"Apakah betul engkau meminta aku melawan
ayahku, melawan kehendak nenekku yang sedang berada di ambang kematian? Tak mungkin! Hatimu terlalu agung untuk tidak memahami pendirianku.
Tidak, aku tidak akan melawan. Aku akan menguatkan diriku untuk berjuang melawan diriku sendiri, untuk menelan setiap tetes air
mataku seperti yang engkau katakan tadi."
"Engkau benar,"
kata Maximilien dengan ketenangan yang dingin.
"Aku mengerti. Engkau tidak ingin mengecewakan ayahmu atau membangkang terhadap nenekmu, dan esok engkau akan menandatangani surat
pernikahanmu."
"Tetapi apalagi yang dapat kuperbuat?"
"Sungguh-sungguhkah engkau meminta saranku?"
"Tentu! Engkau tahu, betapa perasaan hatiku kepadamu."
"Inilah usulku. Pertama, turutlah aku ke rumah adikku, setelah itu kita pergi ke Aljazair, Inggris atau Amerika, kecuali kalau engkau lebih menyukai tempat lain yang lebih tersembunyi, menunggu sampai hati keluargamu menjadi
lunak lalu kita kembali lagi ke Paris."
Valentine menggelengkan kepala.
"Itu saran yang gila, Maximilien, dan aku lebih gila lagi apabila aku tidak segera menghentikan jalan pikiranmu dengan: tidak mungkin!"
"Benar juga, Valentine. Dengan senang aku mengatakannya sekali lagi. Memang aku gila, seperti yang engkau katakan, dan engkau telah membuktikan kepadaku bahwa cinta benar-benar dapat membutakan seseorang yang biasa berfikir tenang. Terima kasih untuk cara berpikirmu yang jernih tanpa terpengaruh oleh rasa cinta. Yang dapat kulakukan sekarang hanyalah mendo'akan semoga engkau mendapat hidup yang tenang tentram dan bahagia, jauh dari kesepian sehingga tidak ada tempat lagi dalam sudut-sudut hatimu bagiku. Selamat tinggal, Valentine."
"Mau ke mana, Maximilien?"
Valentine terperanjat. Ia melompat menjulurkan tangannya ke luar pintu menangkap tangan kemeja Maximilien.
Valentine merasa bahwa di balik ketenangan Maximilien tersembunyi sesuatu yang
mengkhawatirkan.
"Sebelum pergi, katakan dahulu apa
yang hendak kaulakukan!"
Maximilien tersenyum sedih, tetapi tidak menjawab.
"Katakan, katakan Max. Aku meminta!"
"Jangan khawatir. Aku tidak berniat membuat Tuan d'Epinay bertanggung jawab untuk nasib burukku. Seandainya aku orang lain, mungkin sekali akan mengajaknya berduel, tetapi bagiku tak ada gunanya. Ketika ia menyetujui
perkawinannya denganmu, dia tidak tahu bahwa aku ada. Aku tidak mempunyai perselisihan dengan dia dan aku bersumpah kepadamu bahwa aku tidak akan mengganggunya.
Aku tidak pernah mau bersikap seperti pahlawan cengeng dalam buku-buku cerita, namun, tanpa pidato yang panjang-panjang atau sumpah-sumpah apa pun jua, aku telah menyerahkan hidupku ke dalam tanganmu.
Engkau akan meninggalkanku dan seperti telah kukatakan tadi, sikapmu adalah benar. Bila engkau pergi, kehidupanku akan habis. Inilah yang akan kulakukan.
Aku akan menanti sampai detik terakhir engkau akan menikah, oleh karena aku tidak mau menghilangkan setiap kemungkinan yang tak terduga betapapun kecilnya, kemungkinan yang dapat merubah nasibku.
Bahkan untuk seorang yang dihukum mati pun keajaiban mungkin saja terjadi. Aku akan menunggu sampai aku yakin tak ada lagi obat bagi kesedihanku dan pada saat itulah aku akan membunuh diri seperti layaknya seorang anak manusia yang paling terhormat yang
pernah hidup di Perancis."
Valentine dicekam rasa takut yang sangat. Tangannya jatuh terkulai dan dua buah butir air mata menggulir di pipinya.
"Oh! Kasihanilah aku Maximilien! Engkau tidak akan melakukan itu, bukan?"
"Demi kehormatanku, tak ada jalan lain. Lagi pula apa pentingnya bagimu? Engkau telah dan akan melakukan kewajibanmu, dan tidak perlu engkau mempunyai perasaan bersalah."
Valentine duduk berlutut. Kedua belah tangannya di dada.
"Selamat tinggal, Valentine." Maximilien mengulangi lagi.
"Ya Tuhan,"
Kata Valentine sambil menengadahkan wajah ke langit.
"Engkau mengetahui bahwa saya telah melakukan dengan segala kemampuan untuk menjadi anak yang patuh, tetapi aku lebih suka mati karena malu daripada karena penyesalan.
Engkau harus hidup, Maximilien, dan aku tidak akan menyerahkan diriku selain kepadamu.
Seandainya, Max, aku berhasil menangguhkan perkawinan itu, bersediakah engkau menungguku?"
"Aku bersumpah bersedia. Dan hendaknya engkau pun bersumpah kepadaku bahwa engkau akan mencegah terlaksananya perkawinan itu, bahwa sekalipun mereka memaksa, engkau akan tetap mengatakan tidak."
"Aku bersumpah."
"Aku percaya, Valentine. Tetapi seandainya keluargamu tidak mau mendengarmu, seandainya Tuan d'Epinay esok dipanggil untuk menandatangani perjanjian perkawinan itu, lalu.."
Lalu aku akan datang kepadamu dan kabur bersamamu. Aku akan memberimu kabar tentang setiap perkembangan."
"Terima kasih, Valentine yang manis. Segera setelah aku mengetahui saatnya, aku akan segera datang ke mari. Aku akan membawa sebuah kereta untuk membawamu ke tempat
adikku."
"Pulanglah sekarang," kata Valentine,
"sampai bertemu lagi."
Maximilien menanti sampai suara langkah Valentine hilang dari pendengarannya. Dia menengadah ke langit, mengucapkan syukur kepada Tuhan karena telah diberi kebahagiaan merasakan nikmatnya dicintai. Lalu dia segera
pulang.
Seharian itu dan hari berikutnya dia menanti dan menanti, namun tak ada kabar dari Valentine. Baru pada hari ketiga ia menerima pesan:
Air mata, permohonan dan do’a tidak menghasilkan apa-apa. Perjanjian perkawinan akan ditandatangani jam sembilan nanti
malam.
Aku telah memberikan janjiku kepadamu, Maximilien, dan hatiku adalah milikmu. Aku akan berada di pintu gerbang nanti malam jam sembilan kurang seperempat.
VALENTINE
Maximilien membaca surat itu berulang-ulang sambil selalu membayangkan bagaimana perasaannya nanti pada saat Valentine datang dan berkata,
"Ini aku Maximilien, bawalah aku ke mana pun juga."
Dia mempersiapkan segala sesuatu yang mungkin diperlukan untuk pelarian itu. Dua buah tangga disembunyikannya di luar tembok gerbang dan sebuah kereta telah pula disiapkan.
Jam delapan malam, Maximilien sudah berada di pintu gerbang. Kereta dan kudanya disembunyikan di balik sebuah gedung tua yang hampir runtuh. Dia berjalan hilir mudik
sambil sekali-sekali melemparkan pandangannya ke dalam kebun yang gelap mencari sesosok tubuh bergaun putih atau suara langkah orang berjalan.
Lonceng gereja Saint-Philippe berdentang menandakan jam setengah sembilan. Saat-saat itu sangat menggelisahkan.
Setiap gemerisik dedaunan di dalam kebun atau desir angin menyebabkan dahi Maximilien basah berkeringat dan tanpa sadar menempatkan sebelah kakinya di anak tangga siap untuk naik. Di tengah-tengah ketegangan karena takut dan khawatir
ia mendengar lonceng berbunyi sepuluh kali.
Terbayang di hadapannya Valentine kehilangan kekuatannya selagi dia berlari dan sekarang sedang terbaring tak sadarkan diri di dalam kebun. Setan yang membisikkan pikiran ini tak henti-hentinya bekerja sehingga akhirnya dia yakin sekali. Ketika jam menunjukkan setengah sebelas, ia sudah tak dapat lagi menunggu.
Dia menaiki tembok dan melompat ke dalam
kebun. Beberapa saat kemudian dia dapat melihat bangunan rumah dengan jelas. Keadaannya hampir gelap, tidak terang-benderang seperti selayaknya di rumah yang sedang diselenggarakan suatu upacara penting seperti penandatanganan perkawinan.
Karena kegelapan dan kesunyian itu Maximilien merasa takut, khawatir telah terjadi sesuatu dengan Valentine. Dengan nekad dan cemas ia memutuskan akan mencari Valentine apapun yang harus terjadi.
Dia maju sampai Ujung kebun dan bersiap hendak berlari melintasi halaman terbuka antara dia dan rumah itu. Pada saat itulah dia mendengar orang bercakap-cakap.
Segera ia mengundurkan diri lagi bersembunyi di balik semak-semak. Bulan muncul dari balik awan, dan karena cahayanya itu ia dapat melihat de Villefort berjalan menuju ke arah dia bersembunyi dibarengi orang yang berbaju gelap yang dia kenal sebagai Dokter d'Avrigny.
Langkah kedua orang itu berhenti tidak jauh dari tempatnya. Maximilien mendegar Villefort berkata,
"Ah, Dokter, rupanya Tuhan sedang memurkai kami Tak usah Tuan mencoba menghibur saya. Luka saya terlampau dalam. Dia meninggal! Meninggal!"
Keringat dingin segera membasahi dahi Maximilien dan giginya gemeretak. Siapakah yang mati?
"Saya membawa Tuan ke mari bukan untuk menghibur, Tuan de Villefort," kata dokter,
"justru sebaliknya."
"Apa maksud Tuan?"
"Maksud saya, di balik musibah yang baru saja menimpa Tuan, mungkin sekali akan ada musibah lain yang lebih besar. Saya harus menceritakan sesuatu yang mengerikan."
Dengan lemah sekali Villefort merebahkan diri di atas bangku yang tidak jauh dari situ. Dokter d'Avrigny tetap berdiri. Maximilien memasang kuping dengan penuh rasa khawatir.
"Katakan saja, Dokter," kata Villefort.
"Saya sudah siap untuk segala macam."
"Nyonya de Saint-Meran seorang tua. Ini benar," kata dokter,
"namun kesehatannya sangat baik."
Maximilien menarik napas lega.
"Beliau meninggal karena sedih, Dokter," jawab
Villefort,
"setelah hidup bersama selama empat puluh
tahun.."
"Bukan karena sedih," kata dokter lagi.
"Memang benar kesedihan dapat menyebabkan seorang meninggal dalam
keadaan tertentu, tetapi tidak mungkin dalam satu hari, dalam satu jam, apalagi dalam sepuluh menit! Oleh karena sekarang kita hanya berdua saja, ada sesuatu yang perlu
saya katakan."
"Ya Tuhan, apakah itu?"
"Bahwa gejala yang timbul karena tetanus dan karena keracunan pada makanan, sama benar."
Villefort melompat berdiri, kemudian, setelah berdiri selama beberapa saat ia duduk kembali.
"Demi Tuhan, Dokter," katanya,
"yakinkah Tuan kepada apa yang Tuan
katakan?"
"Saya yakin betul akan kesungguhan kata-kata saya dan juga kepada orang yang saya ajak bicara."
"Apakah Tuan mengatakan hal itu kepada saya sebagai seorang sahabat atau seorang jaksa?"
"Sebagai kawan, setidak-tidaknya sementara ini. Kedua gejala itu serupa benar sehingga saya masih ragu membuat pernyataan tertulis. Saya telah memeriksa mayat Nyonya de Saint-Meran selama tiga perempat jam dan dengan yakin dapat saya katakan bukan saja beliau meninggal karena diracun tetapi juga dapat mengatakan racun apa yang digunakan.
Nyonya de Saint-Meran meninggal karena brucine atau strychnine dalam dosis yang sangat banyak.”
Tanpa disadarinya Villefort memegang tangan dokter erat-erat, lalu berkata seakan-akan berteriak,
"Tidak mungkin! Agaknya aku mimpi! Sungguh menggetirkan mendengar ini dari seorang seperti Tuan. Demi Tuhan, Dokter, katakan bahwa Tuan keliru!"
"Mungkin saya keliru, tetapi..."
''Tetapi apa?"
"Tetapi saya kira tidak. Adakah orang yang berkepentingan dengan matinya Nyonya de Saint Meran?"
"Tidak, tentu saja tidak! Anak saya satu-satunya menjadi ahli warisnya. Hanya Valentine ...
Ya Tuhan! Seandainya sangka buruk timbul dalam pikiranku, aku akan menikam jantungku sendiri sebagai hukuman karena mengandung
pikiran seperti itu!"
"Saya tidak bermaksud menuduh seseorang," kata Dokter d Avngny,
"jangan Tuan salah sangka. Sebab mungkin saja saya salah, namun bagaimana, hati nurani
saya mewajibkan mengatakannya kepada Tuan. Sebaiknya Tuan menyelidikinya."
"Tentang siapa? Bagaimana?"
"Umpamanya saja, selidiki kalau kalau pelayan ayah Tuan karena kekeliruan yang tidak disengaja telah memberikan minuman kepada Nyonya de Saint-Meran yang sebenarnya untuk Tuan Noirtier."
"Tetapi bagaimana mungkin minuman untuk ayah dapat menjadi racun bagi Nyonya de Saint-Meran?"
“Sangat sederhana. Seperti Tuan ketahui, racun itu dapat menjadi obat untuk penyakit-penyakit tertentu. Kelumpuhan adalah salah satu dari penyakit itu. Setelah mencoba semua cara untuk mengembalikan kemampuan gerak dan bicara Tuan Noirtier tanpa hasil, saya
memutuskan untuk mengobatinya dengan brucine. Ini terjadi tiga tahun yang lalu. Dosis terakhir yang saya berikan sebanyak enam senti gram, suatu jumlah yang tidak akan berpengaruh kepadanya oleh karena tubuhnya telah terbiasa berkat pemberian dosis yang secara bertahap meningkat. Tetapi dosis itu dapat mematikan bagi yang lain."
"Tetapi kamar Tuan Nortier sama sekali tidak berhubungan dengan kamar Nyonya de Saint-Meran. Barrois tidak pernah masuk ke kamar Nyonya de Saint-Meran."
"Tuan de Villefort," kata dokter,
"saya akan berusaha menyelamatkan Nyonya de Saint-Meran seandainya mungkin, tetapi beliau sekarang sudah meninggal dan kewajiban saya yang pertama-tama adalah mengurusi yang masih hidup.
Mari kita sembunyikan rahasia ini dalam dasar hati kita masing-masing. Seandainya ada orang lain yang menemukan rahasia ini, saya bersedia untuk menutup mulut dan berpura-pura tidak tahu. Dalam pada itu, hendaknya Tuan jangan berhenti menyelidik, karena persoalan ini tidak akan berhenti sampai di sini.
Seandainya Tuan berhasil menemukan yang berdosa, sayalah orang pertama yang akan mengatakan kepada Tuan:
Tuan adalah jaksa, bertindaklah sesuai
dengan kebijaksanaan Tuan.' "
"Terima kasih, Dokter, terima kasih!"
Dari suaranya ternyata betul kegembiraan de Villefort.
"Saya tidak pernah mempunyai kawan sebaik Tuan."
Lalu, seperti khawatir Dokter d'Avngny akan berubah pikiran, ia segera berdiri dan membimbing dokter itu kembali masuk ke dalam rumah.
Maximilien keluar dari dalam semak-semak dengan menarik napas dalam. Wajahnya sangat pucat. Orang dapat saja mengira dia hantu dalam cahaya bulan.
Ketika meneliti keadaan rumah yang suram itu ia melihat sebuah jendela terbuka. Karena cahaya lilin yang ditempatkan di atas perapian, ia melihat sesosok tubuh keluar ke beranda.
Valentine. Karena takut dilihat orang, karena khawatir akan menakutkan Valentine sehingga
berteriak meminta tolong, dia berlari melintasi pekarangan menuju ke tangga rumah dan membukakan pintu yang tak terkunci. Setelah melalui ruang tamu ia menaiki tangga ke
tingkat atas. Dia sudah nekad benar sehingga kalau pada waktu itu bertemu dengan Tuan de Villefort, ia tidak akan merasa takut lagi.
Untung sekali, tak seorang pun yang
melihatnya. Ketika sampai di puncak tangga isak tangis seseorang yang dikenalnya betul menariknya ke sebuah pintu setengah terbuka.
Melalui pintu itu tampak cahaya remang-remang. Ia masuk. Di bawah kain putih terbaring mayat Nyonya de Saint-Meran. Di sampingnya, Valentine yang telah kembali
dari beranda duduk berlutut sambil mengucapkan do'a secara cepat dan hampir tidak berujung pangkal.
Melihat Valentine menangis sedih, Maximilien tidak dapat menahan diri. Dia menghela napas dan memanggil nama Valentine. Valentine menengadah dan menatap Maximilien tanpa
terkejut. Hati yang telah membengkak karena kesedihan rupanya tidak lagi mampu untuk menyatakan perasaan lain.
'Valentine”
kata Maximilien dengan suara bergetar,
"Aku telah menunggu dua jam lamanya, dan ketika engkau tidak juga muncul, aku merasa khawatir. Aku menaiki tembok lalu masuk ke dalam kebun. Di sanalah aku mendengar
orang berbicara tentang kecelakaan ini..."
"Suara siapa?"
Maximilien bergidik, teringat kepada semua
pembicaraan antara dokter dan Tuan de Villefort.
"Suara pelayan pelayanmu," katanya.
"Kalau engkau ditemukan di sini, celaka," kata Valentine tanpa takut atau marah.
"Sssst,"
bisik Maximilien. Mereka mendengar suara pintu terbuka dan suara langkah orang di tangga.
"Ayah keluar dari kamar kerjanya," kata Valentine.
"Mengantarkan dokter ke luar" tambah Maximilien.
"Bagaimana engkau tahu ada dokter?"
"Aku hanya menduga."
Sementara itu mereka mendengar pintu depan terbuka, lalu menutup kembali dan dikunci. Lalu kedengaran Tuan de Villefort melangkah ke pintu yang menuju kebun, menguncinya dan kembali lagi ke tingkat atas.
"Sekarang," kata Valentine,
"engkau tidak mungkin lagi ke luar melalui pintu depan atau pintu ke kebun. Hanya tinggal satu pintu keluar dan itu melalui kamar kakek.
Mari."
"Ke mana?"
“Ke kamar kakek."
“Hati hati Valentine," kata Maximilien ragu.
"Sekarang baru aku sadar bahwa kelakuanku sangat gila. Apakah engkau yakin tidak kehilangan akal sehatmu?"
"Yakin. Aku hanya menyesal harus meninggalkan nenek di sini."
"Kematian itu suci, Valentine."
"Ya, tetapi aku tidak akan lama. Mari."
Valentine berjalan melalui sebuah tangga kecil menuju kamar Tuan Noirtier. Maximilien mengikutinya dengan berjingkat.
Noirtier yang telah diberi tahu oleh pelayannya tentang segala kejadian, masih duduk di kursi rodanya. Matanya bersinar ketika melihat Valentine.
"Kakek," katanya,
"Kakek tentu telah mendengar bahwa Nyonya de Saint-Meran meninggal sejam yang lalu. Karena itu, selain Kakek, tak ada lagi orang yang akan mengasihi saya."
Mata orang tua itu menyorotkan sinar kemesraan.
“Karena itu pula saya harus mempercayakan semua kesedihan dan harapan saya hanya kepada Kakek. Benar begitu?"
"Benar," jawab Noirtier dengan isarat matanya.
"Kalau begitu, perhatikanlah baik-baik Tuan ini. Kakek,"
kata Valentine lagi sambil menarik Maximilien pada tangannya.
"Dia adalah Tuan Maximilien Morrel, putra
pemilik kapal yang ternama dan terhormat di Marseilles.
Tentu Kakek pernah mendengarnya, bukan?"
"Ya," jawab mata orang tua itu.
"Namanya tidak bercacat. Yang menyebabkan lebih terhormat lagi karena dalam usia tiga puluh tahun dia sudah mencapai pangkat kapten dan menjadi perwira Legiun
Kehormatan."
Noirtier memberi isarat bahwa ia sudah mengetahui semua itu.
"Kakek," kata Valentine selanjutnya,
"saya sangat mencintainya dan saya tidak bersedia kawin dengan siapa pun kecuali dengan dia! Kalau mereka memaksa saya kawin dengan yang lain, saya lebih suka mati atau bunuh diri"
Sinar mata Noirtier menunjukkan kekacauan hatinya.
"Kakek menyukai Maximilien?"
"Ya."
"Dan kakek bersedia melindungi kami dari kemauan ayah?"
Noirtier mengarahkan matanya yang cerdas itu kepada Maximilien seakan-akan hendak berkata,
"tergantung kepada keadaan."
Maximilien memahaminya.
"Valentine," katanya,
"engkau mempunyai kewajiban untuk segera pergi ke kamar nenekmu. Sementara itu ijinkan aku berbicara berdua dengan kakekmu sebentar."
''Ya ya, benar!" kata mata Noirtier.
Kemudian dia menatap Valentine dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Tentu Kakek berpikir bagaimana dia akan dapat memahami Kakek, bukan?"
"Ya."
"Jangan khawatir. Kami sering sekali berbicara tentang Kakek. Maximilien sudah mengetahui bagaimana saya bercakap-cakap dengan Kakek.”
Valentine -berdiri, mencium dahi kakeknya dengan mesra, mengucapkan kata-kata pamitan kepada Maximilien, lalu keluar kamar.
Untuk membuktikan bahwa kata-kata Valentine benar, Maximilien segera mengambil kamus, pena dan secarik kertas lalu meletakkan semuanya di atas meja yang ada lampu di atasnya.
"Pertama-tama, Tuan," katanya,
"ijinkan dahulu saya memperkenalkan diri, menceritakan bagaimana saya jatuh cinta kepada Valentine dan apa rencana saya."
''Saya mendengarkan." jawab Noirtier dengan matanya.
Mengesankan sekali melihat orang tua yang pada lahirnya tampak sebagai beban untuk orang lain, tetapi sekarang menjadi satu-satunya pelindung dan pendukung sepasang
muda belia yang kuat, sehat dan sedang berada di ambang kehidupan.
Maximilien menceriterakan bagaimana
mulanya dia dapat berkenalan dengan Valentine, lalu jatuh cinta kepadanya dan bagaimana pula Valentine menyambutnya.
Lalu dia menceriterakan tentang
keluarganya, kedudukannya dan keadaan keuangannya.
"Setelah saya menceriterakan tentang cinta dan harapan saya," katanya selanjutnya,
"bolehkah sekarang saya menceriterakan rencana kami?”
"Silakan.”
Maximilien mengatakan bahwa sebuah kereta telah menunggu di luar pagar dan bahwa dia bermaksud membawa Valentine ke rumah saudara perempuannya, lalu menikahinya dan selanjutnya menanti dan mengharapkan
restunya dari Tuan de Villefort.
"Tidak!"
Noirtier memberi isarat dengan matanya.
"Apakah tuan tidak setuju dengan rencana kami?"
"Tidak."
"Lalu apa yang harus kami lakukan? Keinginan terakhir dari Nyonya de Saint-Meran supaya Valentine dan Tuan d'Epinay segera dinikahkan. Apakah saya harus membiarkan
itu terjadi?"
Mata Noirtier tidak memberikan isarat apa-apa.
"Saya mengerti, saya harus menunggu."
"Benar."
''Tetapi kalau kami menunggu terlalu lama, segala-galanya akan gagal. Valentine tidak akan berdaya tanpa bantuan. Mereka akan memaksanya seperti kepada anak kecil."
Sebuah senyuman penuh rahasia tercermin dalam sorot mata orang tua itu.
"Apakah Tuan bermaksud mengatakan bahwa
perkawinan itu tidak akan terlaksana?"
"Ya."
''Tidak akan terlaksana?"
Teriak Maximilien heran dan penuh harap.
"Maaf, Tuan, tetapi saya kurang percaya
mendengar berita gembira itu. Apakah Tuan yakin tidak akan terjadi?"
"Ya."
Dengan penegasan ini pun Maximilien masih tetap ragu. Keyakinan yang datang dari seorang tua yang tidak berdaya mungkin saja tidak bersumber dari kekuatan kemauan melainkan bersumber dari pikirannya yang makin lemah.
Mungkin karena dia mengerti keraguan anak muda itu, atau mungkin juga karena dia merasa belum mempercayai sepenuhnya kepada kepatuhannya, Noirtier menatap wajah
Maximilien dengan tajam.
"Apakah Tuan menghendaki saya mengulangi janji saya untuk menunggu?" tanya Maximilien.
"Ya."
"Rupanya Tuan menghendaki saya bersumpah?"
"Ya."
Maximilien mengangkat tangannya lalu berkata,
"Saya bersumpah demi kehormatan saya untuk tidak mengambil langkah-langkah sebelum mendapat keputusan dari Tuan."
"Bagus," kata Noirtier dengan matanya.
"Apakah Tuan menghendaki saya pergi sekarang?"
"Ya."
"Tanpa menemui dahulu Nona Valentine?"
"Ya."
Maximilien menunjukkan sikap patuhnya, mengangguk lalu meninggalkan ruangan.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar