Jumat, 30 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 65

BAB LXV


HAMPIR tidak mungkin melukiskan betapa bingungnya Villefort ketika meninggalkan ruang pengadilan, betapa perasaan hatinya yang membuat setiap urat nadinya berdenyut
keras dan kencang, menegangkan setiap sarafnya, membengkakkan pembuluh-pembuluh darahnya sehingga menimbulkan rasa sakit pada setiap titik di seluruh tubuhnya.

Hanya karena kebiasaannya saja ia berhasil keluar dari kantor itu. Hanya saja sekali ini bukan dengan sikap gagah dan angkuh melainkan dengan terseok-seok. Di luar dia
melihat keretanya. Saisnya yang sedang tidur terjaga mendengar pintu kereta dibuka sendiri oleh majikannya.

Villefort menjatuhkan diri di sudut tempat duduk, lalu dengan telunjuknya memerintahkan pulang.

Beban kehancuran hidupnya telah menimpa kepalanya, namun ia belum menyadari benar seluruh akibatnya Terasa sudah, namun belum terkirakan. Dalam lubuk hatinya dia merasakan adanya Tuhan. 

“Tuhan! Tuhan!" 

Katanya berulang-ulang tanpa mengetahui benar apa yang dikatakannya.

Di balik puncak segala kekuasaan yang pernah ia rasakan, di situlah dia memperkirakan adanya Tuhan.

Kereta berjalan dengan cepat. Ketika bersandar pada bantal, Villefort merasakan sesuatu mengganggunya. Ternyata kipas istrinya yang tertinggal dalam kereta. Secepat
kilat yang menyambar dalam kegelapan malam, benda itu membawa pikirannya kembali kepada kejadian tadi pagi di rumahnya Dia ingat kepada istrinya. 

"Oh!" 

Hatinya tersentak seperti tersentuh besi panas. Selama ini dia baru melihat satu segi saja sebagai akibat kehancurannya. Segi lain yang tidak kurang mengerikan baru sekarang disadarinya.

Dia telah bertindak sebagai hakim yang mahakuasa terhadap istrinya sendiri. Dia telah menghukumnya mati.

Mungkin sekali pada detik ini istrinya sedang mempersiapkan diri untuk mati memenuhi hukuman suaminya, sambil dicekam rasa takut, malu dan penuh sesal. Satu jam
yang lalu hukuman dari suaminya telah dijatuhkan.

Mungkin sekali dia sekarang sedang memikirkan kejahatan kejahatan yang pernah diperbuatnya, yang akan dia bayar sekarang dengan nyawanya sendiri, memohon ampunan
Tuhan dan menulis sepucuk surat permintaan maaf kepada suaminya yang mulia.

Villefort berteriak pedih untuk kedua kalinya ketika membayangkan semua ini. Tangannya meremas-remas sarung bantal sutra yang sedang dipegangnya. 

"Dia menjadi jahat karena dekat dengan aku!. Akulah sebenarnya sumber kejahatan. Dia hanya ketularan saja seperti ketularan penyakit. Dan aku telah menghukumnya. Aku telah berani berkata kepadanya: 'Sesali dan matilah!' Aku telah mengatakan begitu! Tidak, tidak, dia tidak boleh mati! Dia harus hidup! Dia harus dan akan ikut aku .. . meninggalkan Perancis. 

Kami akan pergi sejauh bumi kuasa memberi tempat bagi kami . . . Aku telah berbicara kepadanya tentang hukuman mati ... Oh, Tuhanku, betapa mungkin aku berani begitu? Hukuman itu kini menanti aku juga! Kami akan lari

.. . Aku akan mengakui semua dosa-dosaku kepadanya? Setiap hari aku akan menghinakan diri dengan mengatakan bahwa aku pun telah menjalankan kejahatan . . . 

Suatu perkawinan antara harimau dan ular berbisa! Seorang istri yang sepadan bagi laki-laki seperti aku! Dia harus hidup, sehingga semua keburukannya akan menjadi kurang berarti dibandingkan dengan kejahatanku sendiri!"

Villefort menurunkan kaca yang memisahkan dia dengan saisnya. 

"Cepat! Cepat!" 

katanya dengan suara yang membuat
sais tersentak.

"Ya, ya," 

kata Villefort berulang-ulang ketika dia mendekati rumahnya, 

"dia harus hidup, supaya dia dapat menyesali
perbuatannya dan memperbaiki hidupnya dan
membesarkan Edouard dengan baik pula. Dia mencintai Edouard. Untuk Edouard dia melakukan semua ini. 

Hati seorang ibu yang mencintai anaknya tidak mungkin jahat Kejahatan-kejahatan yang telah berlangsung di rumahku dan kini telah membangkitkan kecurigaan orang, akan segera terlupakan ditelan waktu. Tetapi, apabila ada di
antara musuh-musuhku yang akan mengingatnya kembali, aku akan menanggung semua dosanya. 

Istriku akan bebas bersama uang yang cukup banyak, dan terutama sekali bersama anakku. Dia akan tetap hidup dan akan berbahagia
lagi, oleh karena seluruh cinta kasihnya tertumpah pada anaknya dan anaknya itu tak akan pernah meninggalkannya.

Dengan demikian aku telah bertindak mulia yang pasti akan meringankan beban hatiku." 

Dengan pikiran itu Villefort dapat bernapas lebih lega. Kereta berhenti di muka pintu rumah. Dia meloncat lalu berlari menaiki tangga. 

Para pelayan heran melihat majikannya pulang dini, tetapi Villefort tidak melihat sesuatu yang mencurigakan dalam pancaran mata mereka.

Ketika dia melewati kamar Noirtier yang kebetulan pintunya agak terbuka, dia melihat dua orang di dalamnya.

Tetapi dia tidak menghiraukan orang yang sedang berhadapan dengan ayahnya. Pikirannya sedang berada di tempat lain.

''Tak ada yang berubah," katanya kepada dirinya sendiri.

Ketika sudah mendekati ruang tinggal istrinya, dia memegang gagang pintu. Pintu terbuka. 

"Tidak dikunci!" pikirnya. 

"Bagus! Bagus sekali!"

Villefort berada dalam ruang tamu yang tidak begitu besar, tempat Edouard tidur pada malam hari. Matanya berputar ke sekeliling kamar. 

"Tak ada orang," katanya lagi sendiri. 

“Heloise mesti di kamar tidurnya." 

Dia berlari ke sana. Pintunya terkunci. Dia berhenti, badannya gemetar, lalu berteriak, 

"Heloise!" 

Terdengar sesuatu bergeser dalam
kamar. 

"Heloise!"

"Siapa?" Suara istrinya terdengar.

"Buka pintu! Buka! Aku!"

Sekalipun dengan perintah keras pintu itu tetap tertutup.

Villefort menendangnya sekuat tenaga sampai hancur. Nyonya de Villefort sedang berdiri di ambang pintu antara kamar tidurnya dengan kamar duduk. Mukanya pucat, badannya kaku dan matanya menatap suaminya penuh
ketakutan.

"Heloise! Heloise! Mengapa? Katakan!"

"Sudah saya lakukan," 

katanya dengan suara yang seperti
menyobek tenggorokannya. 

"Apa lagi yang kau kehendaki?"

Dia jatuh tersungkur.

Villefort memburunya lalu memegang tangannya. Dia sudah mati. Karena takut dan terkejut Villefort mundur beberapa langkah. Matanya tidak mau lepas dari mayat yang tergeletak di lantai.

"Anakku” teriaknya tiba-tiba. 

"Di mana anakku? Edouard! Edouard!" 

Dia berlari ke luar sambil terus memanggil-
manggil. 

"Edouard ? Edouard!"

Teriakannya begitu keras sehingga semua pelayan berdatangan.

"Anakku! Di mana anakku?" tanya Villefort.

"Bawa dia dan jauhkan dari sini supaya jangan ..."

"Dia tidak ada di bawah, Tuan?" kata salah seorang pelayannya.

"Mungkin sedang bermain di kebun?"

''Tidak, Tuan. Nyonya telah memanggilnya setengah jam yang lalu, dan sampai sekarang belum keluar lagi."

Keringat dingin memancar dari dahi Villefort, lututnya gemetar dan berbagai pikiran berputar-putar di otaknya. 

"Di kamar ibunya?" 

Perlahan-lahan dia kembali ke kamar istrinya sambil menghapus dahi dengan satu tangan dan tangan lainnya berpegang pada dinding menjaga agar jangan sampai jatuh.

Ketika kembali masuk, terpaksa harus melihat lagi mayat istrinya. Untuk memanggil Edouard suaranya pasti akan bergema dalam rumah yang sudah sunyi seperti pekuburan itu. 

Berbicara berarti menyobek-nyobek kesunyian kubur.

Dia merasakan lidahnya kaku. 

"Edouard! Edouard . . .!"

katanya perlahan dengan susah.

Tak ada jawaban. Villefort maju lagi selangkah. Mayat istrinya melintang di ambang pintu antara kamar tidur dan kamar duduk. Mungkin Edouard berada di ruang duduk.

Mayat istrinya seakan-akan mengawal pintu masuk. Matanya melotot, pada wajahnya tersimpul senyum mengejek penuh rahasia.

Villefort maju lagi, melongok ke ruang duduk dan terlihatlah anaknya terbaring di kursi panjang. Anak itu seperti sedang tidur. Laki-laki yang sedang menuju ke titik terdalam
kehancurannya itu menghela napas gembira yang tak terlukiskan. 

Yang harus dikerjakannya sekarang melangkahi mayat istrinya, masuk ke ruang duduk, mengambil anaknya dan kabur jauh, jauh sekali. Villefort sudah bukan lagi warga teladan masyarakat Dia sudah tidak lagi takut
kepada prasangka orang. Dia sekarang takut kepada hantu.

Dikerahkannya seluruh keberaniannya lalu meloncat melangkahi mayat istrinya seperti meloncati arang membara.

Dipangkunya anaknya, didekapnya, lalu digerak gerakkannya sambil memanggil-manggil namanya. Edouard tidak menjawab. Villefort mencium pipinya yang biru dan dingin. Dia merasakan kekakuan anggota badan anaknya.
Lalu dia meletakkan tangannya di dada anaknya. 

Jantung itu sudah berhenti berdenyut.

Secarik kertas terjatuh dari badan Edouard. Villefort terkejut seakan-akan disambar petir, lalu terjatuh. Edouard terlepas dari pelukannya dan terguling ke dekat mayat ibunya. Villefort memungut kertas yang terjatuh. Tulisan itu
dia kenal sebagai tulisan istrinya. Tertera di sana: 

"Engkau tahu, aku seorang ibu yang baik, karena demi kepentingan anaklah aku berbuat jahat. Seorang ibu yang baik tidak akan pergi tanpa membawa anaknya."

Villefort tidak dapat mempercayai matanya sendiri, juga tidak dapat mempercayai kejernihan pikirannya sendiri. Dia mendekati lagi tubuh Edouard dan memeriksanya kembali
dengan teliti. Lalu jerit tangis seakan-akan muncrat dari rongga dadanya. 

"Tuhan!" katanya. 

"Selalu Tuhan!"

Lambat-laun dia merasa ketakutan tinggal bersama dua mayat Beberapa saat yang lalu ia masih sanggup menahan marah dan putus asa. Sekarang hatinya sudah luluh sama sekali. 

Dia, yang tidak pernah merasa kasihan terhadap orang lain, sekarang berjalan ke kamar ayahnya untuk mencurahkan semua kesedihannya. Dia memerlukan seseorang
tempat dia menangis.

Villefort masuk ke kamar Noirtier. Orang tua itu sedang asyik mendengarkan pembicaraan Padri Busoni yang selalu tenang. 

Tanpa disadari tangan Villefort pindah ke dahinya, ketika dia melihat padri itu. Dia ingat kunjungan padri itu ketika Valentine meninggal. 

"Tuan lagi!" katanya. 

"Apakah Tuan datang hanya untuk mengantarkan kematian?"

Padri Busoni menatap Villefort. Melihat wajah Villefort yang kusut dan matanya yang liar, padri mengira bahwa kejadian di ruang sidang itulah penyebabnya. Dia tidak mengetahui
kejadian berikutnya.

"Saya datang untuk berdo'a bagi putri Tuan," jawab Busoni.

"Dan mengapa Tuan datang hari ini?"

"Untuk mengatakan bahwa Tuan telah membayar hutang Tuan kepada saya dan mulai sekarang saya akan berdo'a Semoga Tuhan tidak lagi menghukum Tuan,"

"Ya Tuhanku!" 

Villefort terkejut sehingga terlangkah mundur. 

"Ini bukan suara Padri Busoni!"

"Memang bukan."

Padri melepaskan penutup kepalanya, maka terurailah rambutnya yang panjang dan hitam menghias wajahnya yang penuh kejantanan.

"Count of Monte Cristo?"

"Juga bukan, Tuan de Villefort . . . coba ingat-ingat lagi."

"Suara itu! Di mana saya pernah mendengarnya?"

''Tuan mendengarnya di Marseilles dua puluh tiga tahun yang lalu, pada hari pertunangan Tuan dengan Nona de Saint Meran."

"Tuan bukan Busoni? Bukan pula Monte Cristo? Ya Tuhan! Tuanlah kiranya musuh yang tersembunyi itu.

Mungkinkah saya telah mencelakakan Tuan di Marseilles?"

"Betul," 

jawab Monte Cristo menyilangkan kedua belah
tangannya di dadanya yang bidang. 

"Coba Tuan ingat-ingat lagi."

"Apa yang pernah saya lakukan terhadap Tuan?" 

Pikiran Villefort sudah berada di antara kesadaran dan kegilaan.

"Apa yang pernah saya lakukan terhadap Tuan? Katakan, coba katakan!"

"Tuan telah menghukum saya mati dengan cara perlahan-lahan dan tersembunyi. Tuan telah membunuh ayah saya, dan Tuan telah merenggut cinta, kemerdekaan dan kekayaan dari diri saya!"

"Siapa Tuan sebenarnya? Demi Tuhan, siapa Tuan?"

"Saya adalah hantu seorang laki-laki yang telah Tuan kuburkan di dalam sel bawah tanah di penjara Chateau d’ If, Ketika hantu itu berhasil keluar dari kuburnya, Tuhan menyamarkannya dalam tubuh Count of Monte Cristo dan
membekalinya dengan emas dan intan berlian sehingga Tuan tidak akan mungkin mengenalinya lagi. Sampai hari ini."

"Ah! Saya ingat sekarang! Saya ingat! Tuan adalah ..

"Edmond Dantes!"

"Ya, Edmond Dantes!" kata Villefort keras. 

Sambil memegang pergelangan tangan Monte Cristo dia berkata lagi. 

"Mari ikut saya!"

Villefort keluar lebih dahulu, Monte Cristo mengikutinya dengan heran, karena tidak mengetahui ke mana maksud Villefort. Dia hanya mampu merasakan ada sesuatu yang mengerikan.

"Lihat, Edmond Dantes!" 

katanya sambil menunjuk mayat istrinya dan anaknya. 

"Apakah pembalasanmu sudah sempurna sekarang?"

Wajah Monte Cristo menjadi pucat melihat keadaan yang mengerikan itu. Dia sadar bahwa dia telah melampaui batas, sehingga sekarang dia tidak dapat lagi berkata:

''Tuhan selalu bersamaku!" 

Dia cepat berlari mendekati tubuh Edouard dibarengi dengan perasaan marah kepada dirinya sendiri Monte Cristo membuka mata Edouard, merasakan denyut nadinya, lalu memangku dan membawanya ke kamar Valentine. Pintu segera dikuncinya.

"Anakku!" Villefort berteriak. 

"Dia mencuri anakku!"

Dia mencoba mengejar Monte Cristo, tetapi anehnya bagaikan dalam mimpi, kakinya seakan-akan tertanam dalam lantai. Matanya liar dan terbuka lebar-lebar seperti hendak
terloncat dari kelopaknya. Jari-jari tangannya mencakar cakar dadanya yang terbuka sampai kukunya merah karena berdarah. 

Pembuluh-pembuluh darah pada dahinya membengkak seperti sedang memompakan darah panas dengan deras ke dalam otaknya. 

Dia berdiri terpaku untuk beberapa saat lamanya sampai proses menghilangnya kesadaran terlaksana dengan sempurna. 

Setelah itu baru dia berteriak, diikuti tawa keras dan panjang. Dia berlari menuruni anak
tangga. Seperempat jam kemudian pintu kamar Valentine terbuka, dan Monte Cristo keluar. 

Tingkah lakunya yang tenang dan agung terganggu oleh kesedihan yang sangat. Edouard yang sudah tidak dapat ditolongnya lagi berada dalam pangkuannya. 

Dengan bertekuk pada sebuah lututnya dia meletakkan mayat anak itu dengan kepalanya pada dada ibunya. Setelah itu dia berdiri kembali dan berjalan keluar.

Di tangga dia berpapasan dengan seorang pelayan. 

"Di mana Tuan de Villefort?" tanyanya.

Tanpa menjawab pelayan itu menunjuk ke kebun. Monte Cristo berjalan menuju kebun. Di sana dia melihat Villefort sedang menggali tanah dengan sebuah singkup. Para pelayannya mengelilinginya menyaksikan.

'Tidak di sini!" kata Villefort. 

"Bukan di sini!" 

Lalu dia pindah menggali di tempat lain.

Monte Cristo menghampirinya dan berkata dengan perlahan-lahan, 

''Tuan de Villefort, Tuan telah kehilangan
seorang anak, tetapi. .."

''Tidak, saya akan menemukannya kembali!" 

Villefort cepat memotong. 

"Tak ada gunanya Tuan mengatakan dia
tidak di sini . . . saya akan menemukannya, sekalipun saya harus terus mencarinya sampai Pengadilan Terakhir!"

Monte Cristo terkejut. 

"Oh! Dia sudah gila!"

Seperti takut rumah terkutuk itu akan runtuh menimpa kepalanya Monte Cristo berlari ke jalan. Untuk pertama kalinya dia merasa sangsi apakah dia berhak melakukan apa yang telah dilakukannya.





Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...