BAB XXIII
KETIKA tamu-tamu lain sudah pergi, Albert berkata kepada Monte Cristo,
''Ijinkan sekarang saya melakukan kewajiban saya sebagai pramugara dengan memperlihatkan rumah yang khas seorang bujangan Paris."
Albert membawa tamunya ke ruang kerjanya yang menjadi ruang kesayangannya. Count of Monte Cristo seorang pengagum yang patut disegani terhadap barang-barang yang
dikumpulkan Albert di situ: buah catur antik porselen Jepang, kain negeri Timur, barang pecah belah dari Venesia dan senjata-senjata dari seluruh penjuru dunia.
Semua barang ini tidak asing bagi Monte Cristo. Dengan selayang pandang ia sudah dapat menyebutkan abad dan negeri asal
dari setiap barang. Albert berharap dapat menerangkan sesuatu kepada tamunya, tetapi kenyataannya tamunya yang sedikit memberikan kuliah kepadanya tentang ilmu
purbakala dan sejarah.
Albert membawa tamunya ke ruang duduk yang dindingnya dihiasi karya-karya pelukis modern. Dia berharap dapat menunjukkan sesuatu yang baru kepada orang yang aneh
ini Sekarang pun dia terheran-heran lagi sebab, tanpa melihat tanda tangannya Monte Cristo dapat menyebutkan pelukis setiap lukisan, dengan cara demikian rupa sehingga mudah diketahui bahwa bukan saja nama pelukisnya yang dia kenali tetapi juga bahwa ia telah dengan cermat mempelajari dan menilai bakat pelukis-pelukis itu.
Dari ruang duduk mereka meneruskan ke kamar tidur. Di sini diketemukan perpaduan antara keindahan dan selera yang tinggi. Satu-satunya lukisan yang menghias dinding adalah sebuah potret karya Leopold Robert. Lukisan ini dengan segera menarik perhatian Monte Cristo.
Potret seorang wanita muda sekitar dua puluh enam tahun dengan warna wajah agak gelap, sinar mata yang menyala-nyala tetapi dengan pelupuk yang merana. Wanita itu berpakaian
seorang wanita nelayan dari Catalan, berwarna hitam merah dan sebuah tusuk konde di kepalanya.
Pandangnya ditujukan ke lautan luas. Profilnya tampak menonjol dengan latar belakang ombak dan langit. Cukup lama Monte Cristo memandang gambar ini. Akhirnya dia berkata
dengan tenang sekali, "
Gundik Tuan cantik sekali, Viscount, dan pakaiannya, yang tentu pakaian samaran,
sangat cocok."
"Ini merupakan kesalahan yang tidak akan dapat saya maafkan seandainya ada gambar wanita lain di sebelahnya," kata Albert
"Itu potret ibu, dilukis enam atau delapan tahun yang lalu. Sepanjang pengetahuan saya pakaian itu merupakan hasil pemikiran beliau sendiri, dan persamaan wajahnya itu begitu bagus sehingga seakan-akan saya melihat beliau pada tahun 1830.
Gambar itu dibuat ketika ayah sedang bepergian, tentu dengan harapan akan
merupakan suatu yang menyenangkan bagi ayah. Tetapi anehnya, justru ayah tidak menyukainya sama sekali Oleh karena tidak hendak berpisah jauh dengan karya seni yang
seindah itu, ibu memberikannya kepada saya.
Maafkan saya karena telah membicarakan soal keluarga. Tetapi, karena saya akan segera memperkenalkan Tuan kepada ayah, saya pikir ada baiknya Tuan mengetahui, dan supaya Tuan tidak memuji lukisan itu di hadapannya.
Saya mengirim surat kepada ayah dari Roma mengabaikan jasa yang telah Tuan lakukan di sana. Ayah dan ibu sangat mengharapkan sekali mempunyai kesempatan untuk menyampaikan rasa terima kasih-nya kepada Tuan secara pribadi,"
Albert memanggil pelayannya dan memerintahkan memberi tahu Count dan Countess de Morcerf bahwa Count of
Monte Cristo akan segera menemuinya.
Albert dan Monte Cristo menyusul pelayan itu setelah dia pergi. Di ruang duduk rumah keluarga Morcerf mereka bertemu dengan Count Morcerf. Seorang laki-laki berumur empat puluhan, tetapi yang tampaknya paling sedikit lima puluh tahun. Misal dan alisnya yang hitam lebat bertentangan sekali dengan rambutnya yang hampir memutih semua, yang dipotong pendek model militer.
"Ayah," kata Albert,
"ijinkan saya memperkenalkan Count of Monte Cristo, kawan baik yang secara beruntung
sekali mulai berkenalan selagi saya berada dalam keadaan yang sulit seperti yang pernah saya ceriterakan."
"Kami sangat bergembira karena kunjungan ini, Tuan,"
kata Count Morcerf tersenyum sambil membungkukkan badan.
"Dengan menyelamatkan jiwa anak kami, Tuan
telah membuat suatu jasa yang membuat kami tidak boleh melupakannya seumur hidup. Istri saya sedang di kamarnya ketika kedatangan Tuan diberitahukan. kepada kami. Dia akan segera turun, saya kira."
"Adalah suatu kehormatan yang besar bagi saya," kata Count of Monte Cristo,
"untuk pada hari pertama datang di Paris dapat berkenalan dengan Tuan yang martabatnya
seimbang dengan jasa-jasanya dan yang secara adil pula dianugerahi kekayaan yang melimpah-limpah. Bukankah ke kayaan yang melimpah itu masih dapat mempersembahkan
tongkat marsekal kepada Tuan?"
"Oh, tidak, saya telah meninggalkan dinas militer," kata Morcerf, wajahnya merah kemalu-maluan.
"Rupanya Revolusi Juli itu begitu berjaya sehingga tidak memerlukan lagi jasa-jasa orang yang tidak pernah berdinas kepada
Napoleon. Sebab itu saya mengajukan permohonan pensiun.
Saya memasuki bidang politik sekarang dan mendalami masalah-masalah industri dan mempelajari seni yang berguna, suatu hal yang telah lama ingin saya kerjakan, tetapi yang dahulu tidak dapat saya lakukan karena tidak mempunyai waktu."
"Itu adalah bidang-bidang yang membuat negri Tuan menonjol dari negri-negri lain," kata Monte Cristo.
"Tuan adalah keturunan bangsawan dan memiliki kekayaan yang melimpah-ruah, tetapi aneh, Tuan mengejar kemajuan dengan menjadi prajurit yang tidak dikenal. Lalu, setelah Tuan mencapai pangkat jendral menjadi bangsawan Perancis dan komandan Legiun Kehormatan, sekarang ingin memulai sesuatu yang baru lagi.
Tentu tanpa mengharapkan imbalan apa-apa kecuali dapat berguna bagi sesama manusia. Itu, Tuan de Morcerf, adalah suatu sikap
hidup yang sangat mulia”
Albert melihat kepada Count of Monte Cristo penuh heran. Dia tidak biasa mendengar Monte Cristo berbicara dengan semangat seperti itu.
"Seandainya saya tidak khawatir melelahkan Tuan," kata Jenderal, yang jelas merasa senang mendengar kata-kata Monte Cristo,
"saya ingin mengajak Tuan ke Parlemen.
Perdebatan hari ini akan sangat menarik bagi mereka yang belum mengenal senator-senator kami yang modern."
"Saya akan sangat berterima kasih apabila Tuan sudi mengundang lagi pada waktu yang lain," jawab Monte Cristo,
"tetapi hari ini saya telah mengharapkan untuk dapat bertemu dengan Nyonya dan saya tidak berkeberatan menunggu."
"Itu ibu!" kata Albert.
Monte Cristo membalikkan badan dengan cepat dan melihat Nyonya de Morcerf berdiri di ambang pintu. Mukanya sangat pucat, dan ketika Monte Cristo melihatnya, ia segera
melepaskan tangannya yang dipergunakan untuk — entah sebab apa - menopang dirinya pada pintu. Telah beberapa saat ia berada di situ, cukup lama untuk dapat mendengar
kalimat-kalimat tamu yang terakhir.
Monte Cristo berdiri dan membungkukkan badan dalam-dalam. Countess membalasnya tanpa berkata dengan anggukan kepala yang lugas.
"Mengapa?" tanya Morcerf.
"Apakah ruangan ini terlalu panas bagimu?"
"Sakitkah ibu?" Albert berlari menghampirinya.
Nyonya de Morcerf mengucapkan terima kasih kepada keduanya dan tersenyum.
"Tidak," katanya,
"saya hanya terharu akan bertemu untuk pertama kalinya dengan orang yang telah menyelamatkan rumah kita dari keadaan berkabung Count,"
katanya selanjutnya sambil berjalan menuju
Monte Cristo dengan keanggunan seorang ratu,
"saya berhutang budi untuk keselamatan jiwa anak saya, untuk itu saya mendoakan semoga Tuan selalu diberkahi Tuhan.
Sekarang saya berterima kasih lagi kepada Tuan karena telah memberikan kesempatan untuk mengucapkan terima kasih - seperti doa saya — dari lubuk hati."
Sekali lagi Monte Cristo membungkukkan badan, lebih dalam daripada yang permulaan. Balikan wajahnya lebih pucat dari Mercedes.
"Saya telah meminta diri kepada Count karena terpaksabharus pergi," kata Morcerf.
"Sidang sudah dimulai sejam yang lalu dan saya harus berpidato."
"Berangkatlah," kata Countess.
"Saya akan mencoba merundingkan sesuatu dengan tamu kita selama engkau pergi."
Kemudian menghadap kepada Monte Cristo ia bertanya,
"Sudikah Tuan memberikan kehormatan kepada kami untuk tinggal sehari ini bersama kami?"
"Saya benar-benar berterima kasih untuk undangan itu, Nyonya, tetapi sayang sekali, saya tiba di Paris ini dan langsung menuju kemari. Bahkan saya belum pernah melihat
rumah saya di sini."
"Kalau begitu bolehkah kami mengharapkan kedatangan Tuan pada waktu yang lain?" tanya Mercedes.
Monte Cristo membungkuk tanpa menjawab. Tetapi gerakan ini dapat diartikan sebagai setuju.
Setelah Albert mengantar Monte Cristo sampai ke pintu, dia kembali lagi menemui ibunya yang telah pergi ke kamarnya.
"Betulkah ibu tidak sakit?" tanyanya sambil
masuk.
"Ketika ibu masuk ke ruang duduk tampak pucat sekali."
Ibunya tidak segera menjawab.
"Nama apa Monte Cristo itu? Nama keluarga, nama sebuah perkebunan atau hanya
sebuah nama saja?"
"Saya kira hanya sebuah nama. Monte Cristo adalah nama sebuah pulau kecil yang dibeli oleh Count. Suatu hal pasti, beliau tidak menuntut kebangsawanan sekalipun pendapat
umum di Roma mengatakan bahwa beliau seorang bangsawan besar."
"Berapa usianya menurut perkiraanmu?" tanya Mercedes, dengan tekanan yang menunjukkan perhatian besar.
"Tiga puluh lima atau tiga puluh enam."
"Semuda itu? Tak mungkin!"
"Tetapi itu benar. Beberapa kali beliau mengatakannya dalam beberapa kesempatan di mana tidak ada alasan untuk bohong."
Kepala Mercedes tertunduk seakan-akan diberati oleh pikiran-pikiran yang pahit
"Apakah dia menyukaimu, Albert?" suaranya bergetar.
"Saya kira demikian."
"Dan engkau sendiri . . . juga menyukainya?"
"Ya, tanpa memperhatikan apa yang dikatakan Franz tentang beliau bahwa Count of Monte Cristo orang yang kembali dari alam kubur”
Countess kelihatan gugup.
"Albert,"
katanya dengan suara aneh,
"aku selalu menasihatimu agar berhati-hati
terhadap kenalan-kenalan baru. Sekarang engkau telah dewasa, mampu untuk memberi dan menerima nasihat. Aku ingin menasihatimu sekali lagi: Hati-hatilah, Albert"
"Seandainya saya akan memanfaatkan nasihat Ibu, saya ingin sekali mengetahui terhadap apa atau siapa saya harus berhati-hati. Count of Monte Cristo bukan penjudi, tidak minum kecuali air dicampur sedikit anggur Spanyol dan dia begitu kaya sehingga tak mungkin akan meminjam uang dari saya. Apa yang harus saya takutkan?”
"Engkau benar," jawab Mercedes,
"ketakutanku sangat bodoh, terutama sekali terhadap orang yang telah menyelamatkan
jiwamu . . . Bagaimana Ayah menerimanya?
Beliau sangat sibuk dan kadang-kadang pikirannya telah penuh sehingga mungkin sekali tanpa disengajanya .. ."
"Ayah baik sekali" sela Albert
"dan lagi beliau kelihatannya senang sekali mendengar pujian-pujian Count of Monte Cristo yang diselipkannya dalam percakapannya, seakan-akan beliau telah mengenal sejak bertahun-tahun.
Mereka berpisah seperti sahabat, bahkan Ayah mengajaknya ke Gedung Parlemen."
Mercedes tidak menjawab. Dia begitu terserap oleh pikirannya sehingga lambat-laun matanya menutup. Albert menatapnya dengan perasaan kasih sayang seorang anak kecil yang ibunya masih muda dan cantik.
Karena mengira ibunya tertidur, dengan berjingkat Albert keluar lalu menutup pintu dengan hati-hati.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar