Jumat, 30 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 62

BAB LXII


SALAH satu sudut dalam penjara La Force yang digunakan untuk menyekap penjahat-penjahat yang paling berbahaya di sebut Istana Saint Bernard. Tetapi penghuninya sendiri menyebutnya ‘Sarang Singa’. 

Mungkin karena para penghuninya mempunyai gigi tajam untuk menggigit jeruji-jeruji besi atau kadang-kadang menggigit para penjaga Tempat itu merupakan penjara dalam penjara.

Dindingnya dua kali lebih tebal dari bagian-bagian lain.

Setiap hari sipirnya memeriksa jeruji-jeruji jendelanya. Para penjaganya yang bertubuh kekar dan bermata cerdik semuanya orang pilihan untuk menguasai segala kehebohan
yang mungkin terjadi.

Pekarangannya dikelilingi lagi oleh dinding tinggi tebal.

Di situlah berkeliaran dari pagi sampai malam orang-orang yang oleh hukum diancam dengan pisau gilyotin.

Seorang anak muda berjalan-jalan dengan tangan di kantong jasnya. Hampir semua penghuni Sarang Singa memperhatikannya dengan seksama. 

Dari pakaiannya, anak muda ini tampak sebagai orang baik-baik dan terhormat, seandainya berada di luar penjara. Pakaiannya
belum lusuh atau cabik-cabik, dibuat dari bahan yang mahal. Sepatunya tetap mengkilap berkat kerajinannya menggosok dengan sudut-sudut saputangannya.

Dari sebuah pintu kecil terdengar orang Berteriak, 

"Benedetto!”

"Engkau memanggilku?" jawab narapidana itu. 

"Ke ruang tamu!"

Andrea terkejut, karena tidak seperti narapidana lain, ia tidak pernah merasa memanfaatkan kesempatan menulis surat ke luar untuk meminta dikunjungi.

"Aku rupanya berada di bawah lindungan suatu kekuasaan tertentu" katanya kepada dirinya sendiri. 

Segala galanya membuktikan itu. Kekayaan yang mendadak, kemudahan mengatasi semua rintangan, keluarga yang tiba-tiba muncul, gelar baru dan kesempatan mengawini seorang putri hartawan. 

Pelindungku meninggalkanku sekarang, namun
aku kira tak akan lama. 

"Mengapa aku harus terburu-buru? Ini bisa mempengaruhi niat baik pelindungku. Ada
dua jalan buat dia menolongku: 

pertama, mengatur pelarian rahasia dengan penyuapan, atau dengan cara apa pun menekan hakim untuk memutuskan aku tidak bersalah. Aku tidak akan berbuat apa pun sebelum aku yakin benar bahwa aku betul-betul ditinggalkan oleh pelindungku, tetapi..."

Andrea telah merancang suatu rencana yang cerdik sekali. Anak muda ini berani dalam menyerang dan ulet dalam mempertahankan diri. Daya tahannya pernah kuat sekali berkat kekerasan dan kekejaman hidup dalam penjara.

Namun demikian, sedikit demi sedikit alam atau mungkin juga kebiasaan telah merubah daya tahannya itu. Dia sudah mulai merasa tersiksa oleh keburukan pakaian, kekotoran
dan kelaparan. Menunggu dan berharap sudah
dirasakannya berat sekali.

Dalam keadaan demikian ia dipanggil. Hatinya melonjak gembira. Dia diantar penjaga ke sebuah ruangan yang dibagi menjadi dua bagian dengan jeruji besi sebagai penyekat. Di bagian yang sebelah lagi dia melihat Bertuccio.

"Hallo, Benedetto," 

katanya dengan nada suara yang dalam.

"Engkau!" 

Andrea terkejut, matanya liar ketakutan.

"Engkau tidak mengenalku lagi, Benedetto?"

"Jangan keras-keras!" 

jawab Benedetto yang tahu bahwa
dinding-dinding berkuping.

"Engkau mau kita berbicara dengan aman?"

"Ya!"

Bertuccio mengambil sesuatu dari dalam sakunya, lalu berkata kepada seorang penjaga yang kelihatan melalui sebuah jendela berterali. 

"Baca ini."

"Apa itu?" tanya Andrea.

"Surat perintah untuk memberimu kamar tersendiri dan yang membolehkan aku berbicara denganmu di sana.”

"Oh!” 

Dan segera pula dia berkata kepada dirinya sendiri.

'Pelindung yang tidak dikenal itu! Dia tidak melupakanku. Bertuccio diutus olehnya.”

Penjaga berunding dengan atasannya. Setelah itu membawa Andrea ke sebuah kamar di lantai dua yang menghadap ke pekarangan. 

Dinding kamar itu putih dikapur, seperti biasanya dalam sebuah penjara. Untuk Andrea merupakan suatu kemewahan yang mempesonakan. Di dalamnya terdapat: tungku api, sebuah ranjang, sebuah kursi dan
meja.

Bertuccio duduk di kursi, Andrea melonjor di ranjang, dan penjaga itu pergi.

"Nah, apa yang hendak kau katakan sekarang?" tanyanBertuccio.

"Dan engkau sendiri?"

"Engkau dahulu."

"Tidak.... engkaulah yang menemuiku."

"Baik. Engkau tidak merubah tingkah lakumu Engkau telah mencuri dan membunuh."

"Kalau itu yang hendak kaukatakan, sebenarnya engkau tak perlu bersusah-payah memberiku kamar tersendiri ini.

Aku tahu aku tidak berubah. Tetapi masih banyak yang tidak kau ketahui. Sebab itu lebih baik kita bicara tentang yang belum kau ketahui itu, kalau engkau tidak berkeberatan.
Pertama-tama, siapa yang mengutusmu ke mari?"

"Rupanya engkau kurang sabar, Benedetto!"

"Betul, jangan-kita-membuang-buang-waktu. Siapa-yang mengutusmu?"

"Tidak ada."

"Bagaimana engkau tahu aku di sini?"

"Aku mengenalimu sebagai laki-laki pesolek yang sombong ketika engkau sering berkereta sepanjang Champs Elysees."

"Champs Elysees! Nah kita sudah makin dekat kepada titik persoalan. Coba ceriterakan tentang ayahku."

"Siapa kaukira aku ini?"

"Ayah tiri, wahai kawan yang baik. Tetapi aku tidak percaya bahwa engkaulah yang memberiku seratus ribu frank yang sudah aku habiskan dalam lima bulan. Bukanlah engkau pula yang tiba-tiba memberiku seorang ayah bangsawan italia. Bukan engkau yang memperkenalkan aku ke dalam masyarakat Perancis dan sebuah pesta makan di
Auteuil. Dan aku kira bukan engkau pula yang mendukung aku dengan dua juta frank, ketika aku akan kawin dengan anak hartawan. Sayang sekali batal karena kecelakaan."

"Apa yang mau engkau dengar?" tanya Bertuccio.

"Karena engkau mengatakan Champs Elysees, mulailah dari sana,"

"Maksudnya?"

"Ada seorang hartawan tinggal di jalan Champs Elysees itu."

"Di mana engkau membunuh dan merampok?" 

"Ya, aku kira begitu."

"Engkau berbicara tentang Count of Monte Cristo. Betul?"

"Tepat sekali. Sekarang tolong katakan, apakah aku harus merangkul dan mendekapnya sambil berkata: 'Ayah! Ayah!?"

"Jangan bergurau," jawab Bertuccio tenang, 

"dan jangan lagi berani berkata begitu."

"Mengapa?" 

Tanya Andrea, sedikit terkejut melihat dan
mendengar ketenangan Bertuccio.

"Oleh karena Count of Monte Cristo orang yang terlalu diberkahi untuk menjadi ayah seorang penjahat sepertimu "

"Kata-kata yang sedap, tetapi... . "

"Akan kubuktikan dengan lebih daripada kata-kata, kalau engkau tidak hati-hati."

"Mengancam rupanya! Aku tidak takut! Aku katakan..."

"Engkau mengira berhadapan dengan orang kerdil seperti dirimu sendiri." 

Bertuccio berbicara dengan ketenangan dan
air muka yang meyakinkan sehingga menyebabkan Andrea bingung dan takut.

"Engkau berada dalam genggaman tangan yang mengerikan, Andrea. Tangan itu bersedia
melepaskanmu. Manfaatkanlah itu. Tetapi jangan mempermainkan tangan yang sekarang dengan sengaja melemahkan pegangannya, yang segera akan menyergapmu lagi kalau engkau mengganggu kebebasan bergeraknya."

"Aku ingin tahu siapa ayahku!" 

tanya anak muda yang keras kepala itu. 

"Dan aku akan mencarinya sampai ketemu, apa pun yang harus terjadi. Siapa ayahku?

"Untuk itulah aku datang ke mari."

''Ah!" 

matanya berkilat gembira.

Tepat saat itu pintu terbuka dan seorang penjaga masuk.

"Maaf, Tuan," katanya kepada Bertuccio. 

"Jaksa pemeriksa sudah menunggu anak muda ini."

"Aku akan kembali besok," kata Bertuccio.

Andrea mengulurkan tangannya untuk salaman, tetapi Bertuccio tetap menyimpan tangannya di sakunya.

Andrea memaksa diri untuk tersenyum, tetapi dia sangat terpengaruh oleh ketenangan Bertuccio yang mengherankan itu.

"Mungkinkah aku keliru?" pikirnya. 

"Kita lihat saja"

Lalu dia berkata keras kepada Bertuccio,

"Sampai besok."

"Sampai besok” kata Bertuccio.







Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...