Selasa, 27 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 32

BAB XXXII


SEKELILING pekarangan rumah Tuan de Villefort yang sangat tuas dibatasi dengan tembok yang tinggi.

Maximilien yang lebih dahulu datang ke pintu besi yang berterali, bersembunyi di keteduhan pepohonan yang banyak tumbuh di sana, menanti terdengarnya suara langkah-langkah halus di jalan yang berpasir.

Akhirnya suara yang dinantikan itu datang, tetapi dia melihat bayangan dua orang, bukan satu. Kedatangan Valentine memenuhi janji bertemu di tempat itu rupanya terhalang oleh kunjungan Nyonya Danglars dan putrinya,
Eugenie, yang datang bertamu lebih lama daripada yang disangkanya. Ia mengajak Eugenie berjalan-jalan di kebun agar Maximilien dapat melihat mereka dan memahami mengapa keterlambatannya tidak terhindarkan.

Anak muda itu segera mengerti, berkat ketajaman naluri orang yang sedang dirundung cinta. Hatinya merasa lega.
Setelah kurang lebih berjalan-jalan setengah jam kedua gadis itu masuk kembali ke dalam rumah. Ini memberikan petunjuk kepada Maximilien bahwa kunjungan keluarga
Danglars sudah hampir berakhir.

Beberapa saat kemudian Valentine muncul kembali sendirian. Namun karena khawatir dilihat orang, dia berjalan dengan tenang sekali. Dia tidak langsung menemui Maximilian, melainkan duduk dahulu di sebuah bangku mengawasi dengan teliti semua semak dan pohon dalam kebun itu dan memperhatikan semua arah. Setelah
dirasanya keadaan aman, segera dia berlari menuju pintu besi. 

"Hai, Valentine."

"Hai, Maximilien. Maafkan aku membuatmu menunggu. Tetapi engkau mengerti apa sebabnya, bukan?"

"Ya, aku melihat Nona Danglars. Aku tidak tahu bahwa kalian bersahabat."

"Siapa mengatakan kami bersahabat?"

"Tak seorang pun, tetapi caranya kalian berjalan dan bercakap-cakap menyebabkan aku mengira begitu. Kalian bercakap-cakap seperti dua orang gadis yang sedang membukakan rahasia masing-masing."

"Memang benar kami bertukar rahasia," kata Valentine.

"Dia menceriterakan bagaimana bencinya dia akan gagasan kawin dengan Albert de Morcerf dan aku pun menceriterakan kepadanya betapa tidak bahagianya aku harus kawin dengan Franz d'Epinay. Selama aku menceriterakan laki-laki yang tak kucintai, hatiku tetap melekat kepada laki-laki yang selalu kucintai"

"Apakah Nona Danglars mencintai orang lain?"

"Katanya tidak. Dia mengatakan tidak berminat kawin. Katanya, dia bersedia mengorbankan apa saja asal dapat menjalankan hidup bebas dan bahkan hampir-hampir mengharapkan ayahnya menjadi miskin supaya dia diizinkan menjadi seniwati seperti kawannya Louise
d'Armilly. 

Tetapi tak usah kita menghabiskan waktu dengan mempergunjingkan orang lain. Waktu kita hanya tinggal sepuluh menit lagi"

"Ada apa, Valentine? Mengapa harus tergesa-gesa?"

"Ibu meminta saya menemuinya. Katanya, ada sesuatu yang akan dibicarakannya dan ada hubungannya dengan sebagian dari kekayaanku. Bagiku, silakan ambil semua
kekayaanku. Aku terlalu kaya. Mungkin dengan demikian mereka tidak akan mengganggu aku lagi. Bukankah engkau akan tetap mencintaiku sekalipun aku miskin, Maximilien?"

"Engkau tahu, aku selalu mencintaimu. Aku tidak peduli dengan kekayaan atau kemiskinan selama Valentineku berada di sampingku. Dan aku yakin tak seorang pun yang akan dapat merenggutmu dariku! Tetapi tidakkah engkau
merasa takut bahwa pembicaraan ibu tirimu itu mungkin mengenai perkawinanmu?"

"Aku kira tidak."

"Walau bagaimana, jangan takut, Valentine. Aku tidak akan memilih wanita lain selama hidupku."

“Engkau tentu mengira aku akan bahagia mendengar itu."

"Maaf, memang aku kurang panjang pikir. Sebenarnya yang ingin kukatakan, aku bertemu dengan Albert de Morcerf kemarin dan ia mengatakan menerima surat dari Franz yang mengabarkan bahwa ia akan segera kembali ke Paris."

Wajah Valentine menjadi pucat dan ia mencari sandaran pada pintu besi. 

"Mungkinkah itu yang akan dikatakan ibu?" katanya. 

"Tetapi tidak, bukan dia orangnya yang akan
mengatakan itu."

"Mengapa tidak?"

"Karena . . . aku tidak yakin . . . sekalipun dia tidak terang-terangan menentang perkawinan itu, aku tetap percaya bahwa dia tidak menyetujuinya,"

"Benar? Dalam hal ini, aku sangat menyukai Nyonya de Villefort! Kalau dia tidak menyetujui perkawinan dengan Franz, mungkin engkau dapat memutuskannya dan dia akan bersedia mempertimbangkan usul-usul yang lain."

"Jangan menggantungkan harapanmu kepada itu, Maximilien Bukan calon suami yang dia tentang, tetapi perkawinannya itu sendiri."

"Bagaimana maksudmu? Kalau dia tidak menyetujui perkawinan, mengapa dia sendiri kawin?"

"Engkau tidak mengerti, Maximilien. Seperti telah kukatakan, aku terlalu kaya. Aku mempunyai penghasilan hampir sebesar lima puluh ribu frank dari mendiang ibuku.

Kakek dan nenekku, Markis dan Markise Saint-Meran, akan mewariskan sejumlah yang sama, dan kakekku yang seorang lagi, Tuan Noirtier, sudah menjelaskan bahwa beliau bermaksud mewariskan semua harta kekayaannya kepadaku.

Akibat dari ini, adikku Edouard, yang tidak dapat mengharapkan apa-apa dari ibunya, akan tetap miskin. Ibu tiriku terlalu mencintai anaknya. Jadi, kalau aku tetap tidak kawin, seluruh kekayaanku akan berpindah kepada ayahku, kalau aku mati, yang akan meneruskannya nanti kepada Edouard."

"Aneh sekali mendengar keserakahan seperti itu pada seorang wanita muda dan cantik!"

"Jangan lupa bahwa itu bukan untuk dia sendiri, melainkan untuk anaknya. Keserakahan yang engkau tidak sukai itu, dilihat dari sudut kecintaan seorang ibu, hampir-hampir merupakan suatu kebajikan."

"Mengapa engkau tidak memberikan saja sebagian kekayaanmu kepada Edouard?"

"Bagaimana aku dapat menyarankan hal demikian kepada seorang perempuan yang terus-menerus berbicara tentang ketulusan... Keikhlasannya . . ? Dengar, ada yang memanggilku."

"Ah, Valentine," kata Maximilien, 

"julurkan kelingkingmu agar aku dapat menciumnya!"

"Apakah itu akan menyebabkan engkau bahagia?"

"Tentu."

Valentine berdiri di atas bangku, lalu menjulurkan, bukan kelingkingnya melainkan seluruh tangannya melalui terali. Maximilien memegangnya erat-erat lalu menekannya
pada bibirnya. Tetapi hanya sejenak. Valentine segera menariknya kembali Maximilien mendengar Valentine berlari cepat-cepat ke dalam rumah.



Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...