Senin, 26 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 28

BAB XXVIII


MONTE Cristo tiba di Rue Meslay 27. Dia mengenali orang yang membukakan pintu sebagai Cocles, tetapi Cocles tidak mengenal Monte Cristo.

Baptistin meloncat dari tempat duduknya untuk menanyakan apakah Tuan dan Nyonya Herbault dan Tuan Maximilien berada di rumah dan dapat menerima Count of Monte Cristo.

"Count of Monte Cristo!" 

Teriak Maximilien gembira setelah mendengar pesan itu. Dia meletakkan cerutunya dan berlari menyambut tamunya.

"Terima kasih banyak, Count, untuk tidak melupakan janji Tuan kepada kami!" 

Perwira muda itu menjabat tangan Monte Cristo dengan hangat sekali sehingga tidak
mungkin ada keraguan lagi tentang ketulusan hatinya.

"Silakan ikuti saya," kata Maximilien, 

"saya ingin memperkenalkan Tuan secara pribadi. Adik saya sedang di kebun mengurusi taman mawarnya sedang suaminya sedang
membaca surat kabar, juga di sana. Di mana saja Nyonya Herbault berada, Tuan boleh yakin bahwa suaminya pasti berada di sekitar itu, dan sebaliknya."

Mendengar suara langkah mereka seorang wanita muda berumur dua puluh limaan, berbaju gaun pagi dari sutera mengangkat kepala. Dia agak terkejut melihat tamu yang
tidak dikenalnya. Maximilien tertawa.

"Kakak saya ini agak keterlaluan dengan membawa Tuan ke mari," 

katanya kepada Monte Cristo. 

"Dia tidak pernah mempertimbangkan perasaan adiknya. . . Penelon! Penelon!"

Seorang laki-laki tua yang sedang bekerja mengurus mawar Bengali meletakkan singkupnya di tanah, lalu menghampiri dengan topi di tangan dan berusaha sebaik-baiknya
menyembunyikan susur di mulut. Wajahnya yang mengkilat dan matanya yang menyinarkan keberanian dan ketajaman jelas menunjukkan ia seorang pelaut kawakan, yang kulitnya coklat karena bakaran matahari tropis dan badannya tangguh karena tempaan badai dan taufan yang berbilang-bilang.

"Nona memanggil saya, Nona Julie?" katanya. 

Dia tetap memanggil putri majikannya dengan 'Nona Julie', dan tidak pernah berhasil membiasakan dari memanggilnya Nyonya
Herbault.

“Penelon! Katakan kepada Tuan Herbault, ada tamu."

Berbalik kepada Monte Cristo, ia menambahkan, 

"Maafkan saya sebentar, Tuan?"

Tanpa menunggu jawaban ia menghilang di antara semak-semak masuk ke dalam rumah melalui pintu samping.
Tak beberapa lama kemudian Herbault datang menyambut tamunya dengan ramah sekali. Setelah mengantar Count of Monte Cristo melihat-lihat kebun sebentar, dia membawa tamunya ke dalam rumah, Udara dalam ruangan yang mereka masuki harum semerbak dari bunga-bunga yang memenuhi sebuah jambangan besar buatan Jepang.

Julie yang sekarang sudah berpakaian rapi, menunggu mereka di sana. Burung-burung dalam sangkar besar yang terletak tidak jauh berkicauan riang. Daun-daun pepohonan yang hijau segar dan tumbuh dekat jendela berdesir mengusap-usap tirai jendela beludru biru. 

Segala sesuatu dalam rumah mungil dan terpencil ini menghembuskan kedamaian,
mulai dari kicau burung sampai kepada senyum pemiliknya. Sejak menginjakkan kakinya dalam ruangan ini Monte Cristo sudah dapat merasakan kebahagiaan yang meliputi seisi rumah. Dia terdiam, lupa bahwa setelah
berbasa-basi, tuan rumah mengharapkan benar melanjutkan percakapan. Baru kemudian dia sadar akan kesunyian yang hampir mengganggu ini, lalu cepat-cepat berusaha
melepaskan diri dari renungannya.

"Nyonya," katanya, 

"maafkan perasaan saya yang mungkin sekali mengherankan bagi Nyonya yang sudah
terbiasa dengan kedamaian dan kebahagiaan. Tetapi buat saya merupakan suatu pengalaman yang aneh sekali dapat
menemukan orang yang berbahagia sehingga sulit bagi saya mempercayainya,"

"Tidak kami pungkiri bahwa kami sangat berbahagia," jawab Julie, 

"namun betapa kami menderita sebelumnya.
Dan hanya sedikit orang yang membayar kebahagiaan dengan harga yang tinggi sekali seperti yang kami lakukan."

Air muka Monte Cristo menunjukkan rasa ingin tahu.

"Apakah Tuhan memberikan hiburan dalam penderitaan itu seperti Dia berikan kepada yang lain?"

"Betul" kata Julie, "

secara jujur kami berani mengata-kan
Dia telah memberikan sesuatu bagi kami yang hanya Dia berikan kepada orang-orang yang dikehendakiNya. Dia telah mengutus salah seorang malaikatNya kepada kami."

Pipi Monte Cristo memerah dan ia pura-pura batuk. Untuk menyembunyikan perasaannya ia menutup batuknya dengan saputangan sehingga wajahnya agak tersembunyi Lalu dia berjalan bolak-balik.

"Mungkin Tuan mentertawakan perasaan yang ada pada kami," kata Maximilien.

"Oh tidak, sama sekali tidak," jawab Monte Cristo cepat.

Ia menunjuk kepada sebuah bola dunia dari kristal yang di dalamnya terdapat sebuah dompet sutera terletak di atas sebuah bantal kecil terbuat dari beludru hitam. 

"Saya sedang bertanya-tanya dalam hati apa arti dompet yang disimpan dengan kehormatan seperti itu."

"Barang itu adalah kekayaan keluarga kami yang paling berharga," jawab Maximilien dengan tekanan suara.

"Isinya, sepucuk surat dan sebuah intan," sambung Julie,

"peninggalan malaikat yang tadi saya katakan."

"Count," 

kata Maximilien, mengeluarkan dompet itu dan
menciumnya, 

"dompet ini pernah berada pada tangan orang
yang menyelamatkan ayah kami dari kematian,
menyelamatkan kami dari kehinaan dan kemiskinan dan menyelamatkan kehormatan nama keluarga kami. Surat ini ditulis oleh orang itu pada hari ketika ayah kami sudah
sampai ke puncak keputusasaan, dan penolong yang tidak dikenal itu memberikan intan ini kepada Julie sebagai hadiah
perkawinan."

Monte Cristo membaca surat itu dengan perasaan bahagia yang tidak terlukiskan. Surat itu dialamatkan kepada Julie dan ditandatangani oleh Sinbad Pelaut.

'Tadi Tuan mengatakan 'tidak kenal," kata Monte Cristo.

"Apakah orang yang telah berbuat itu berarti masih tetap merupakan rahasia bagi Tuan?"

"Benar, kami belum pernah mendapat kesempatan menjabat tangannya padahal kami senantiasa meminta kepada Tuhan agar kami dipertemukan dengan orang Itu. Dia seorang Inggris yang mewakili Firma Thomson and French di Roma. Itulah sebabnya saya sangat terkejut ketika mendengar Tuan mengatakan firma itu sebagai bankir Tuan.
Katakanlah demi Tuhan, kenalkah Tuan dengan orang itu?"

"Sebentar," kata Monte Cristo, 

"apakah orangnya Kira-kira sebesar saya, lebih tinggi dan lebih kurus sedikit,, selalu memakai jas berkerah tinggi dan selalu memegang pensil di tangannya?"

"Tuan mengenalnya kalau begitu!" Julie berteriak, matanya berkilat gembira.

'Tidak, saya hanya menerka-nerka. Saya mengenal seorang bernama Lord Wilmore yang biasa melakukan amal-amal seperti itu tanpa mau diketahui orang. 

Dia seorang aneh yang tidak mempercayai adanya rasa terima kasih yang semurni-murninya pada manusia. Tetapi sejak ia berbuat banyak kebaikan dengan cara itu, ia mendapatkan bukti-bukti bahwa ia keliru."

"Kalau Tuan mengenalnya, tolong kami perkenalkan!"

Julie meminta dengan sangat. 

"Seandainya kami dapat bertemu, dia pasti percaya betapa kami berterima kasih kepadanya!"

"Sayang sekali," kata Monte Cristo. Dia mencoba menekan perasaan dalam suaranya. 

"Seandainya benar yang dicari itu Lord Wilmore, saya khawatir Nyonya tidak akan dapat menemuinya. Ketika saya berpisah dengan dia dua atau tiga tahun yang lalu di Palermo, ia sedang bersiap-siap untuk bepergian ke negeri-negeri yang jauh sekali,
bahkan saya meragukan bahwa ia akan kembali lagi. 

Di samping itu, jangan terlalu bersandar kepada terkaan saya tadi. Lord Wilmore belum tentu orang yang dicari. Dia dan saya bersahabat karib, tetapi dia tidak pernah mengatakan perkara ini kepada saya."

"Walaupun demikian, Tuan segera teringat kepadanya," kata Julie.

"Saya hanya menerka saja."

"Di samping itu, Julie," kata Maximilien memihak kepada Monte Cristo, 

"jangan lupa apa yang sering ayah katakan kepada kita: Bukan orang Inggris itu yang
memberikan kebahagiaan kepada kita."

Monte Cristo terkejut. 

"Ayah Tuan mengatakan ... "

"Benar, Count. Ayah kami melihat sesuatu keajaiban dalam kejadian ini. Beliau yakin bahwa penolongnya itu seorang yang bangkit kembali dari kuburnya. Ini tidak masuk akal. Sekalipun saya sendiri tidak mempercayainya
namun saya tidak berkeinginan merusak keyakinan ayah.

Dan ketika beliau hendak meninggal, kata-katanya yang terakhir adalah: 

Maximilien, yang menolong kita itu, Edmond Dantes!"

Wajah Monte Cristo menjadi pucat sekali Seakan-akan peredaran darahnya terhenti sesaat, dan dia tidak berkata apa-apa. Dia melihat arlojinya, mengucapkan beberapa kata
pujian bagi Nyonya Herbault dengan kaku sekali, lalu berjabat tangan dengan Emmanuel dan Maximilien.

"Nyonya, bolehkah saya kembali lagi pada suatu hari nanti?
Saya menyukai rumah Nyonya, dan saya sangat berterima kasih untuk penerimaan Nyonya. Hari ini setelah beberapa tahun adalah untuk pertama kalinya saya dapat melupakan
lagi diri sendiri." Lalu dia cepat-cepat keluar.

"Orang yang aneh," kata Emmanuel.

“Ya,” jawab Maximilien, 

"tetapi hatinya baik dan saya yakin dia menyukai kita."

"Bagi saya " kata Julie, 

"suaranya langsung menembus jantung. Kadang-kadang saya mempunyai perasaan pernah mendengar suara itu."




Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...