BAB LIII
YANG pertama-tama dilakukan Albert ketika dia kembali ke rumahnya, menanggalkan potret ibunya dari piguranya. Setelah itu ia mengumpulkan semua koleksi senjata-senjatanya dari Turki dan Inggris, porselen Jepang, piala-piala dan patung-patung perunggu Uang yang ada di sakunya dilemparkan ke dalam laci meja yang terbuka.
Disatukannya juga kepada uang itu semua permata miliknya, lalu mencatat semua kekayaannya itu dengan cermat. Setelah selesai, catatan itu diletakkan di atas meja.
Suara kuda di pekarangan menarik perhatiannya. Dia berjalan ke jendela dan melihat ayahnya menaiki keretanya dan berangkat.
Albert pergi ke kamar ibunya. Dia terhenti di ambang pintu, terpaku oleh apa yang dilihatnya. Bagaikan dua raga dikuasai satu jiwa, Mercedes pun sedang melakukan apa
yang baru saja selesai dikerjakan oleh anaknya. Albert memahami maksud ibunya, sebab itu dia merasa terkejut.
"Ibu!" katanya sambil memeluk ibunya.
"Apa yang Ibu lakukan?"
"Dan apa pula yang engkau lakukan?"
"Ibu,"
Albert terharu hampir-hampir tidak dapat berkata.
"Bagi Ibu lain."
”Aku mau pergi," kata Mercedes pasti.
"Dan aku memperkirakan anakku akan berangkat bersamaku. Atau aku salah?"
'Ibu saya tidak tega Ibu menjalani hidup seperti yang akan saya jalani. Mulai hari ini saya harus hidup tanpa kekayaan.
Untuk bekal belajar hidup seperti itu, saya harus meminjam dahulu roti kawan untuk makan sampai saya dapat menghasilkannya sendiri. Saya bermaksud menemui Franz hari ini juga untuk meminta dia meminjami saya
sejumlah uang yang saya pikir akan mencukupi"
"Anakku yang malang!" Mercedes menangis.
"Apakah engkau bermaksud hidup dalam kemiskinan dan kelaparan?
Jangan begitu, aku takut terpaksa merubah lagi keputusanku!"
''Tetapi keputusan saya sendiri tak akan berubah," jawab Albert.
"Saya masih muda, masih kuat dan saya kira bukan pula pengecut. Sejak kemarin saya mengetahui apa yang dapat dihasilkan oleh kekuatan dan kemauan yang keras.
Banyak orang yang pernah mengalami penderitaan. Bukan saja mereka tetap dapat hidup, tetapi lebih dari itu mereka berhasil mengumpulkan kekayaan di atas puing-puing
kebahagiaan lamanya yang hancur.
Dari kedalaman tempat dia dibenamkan oleh musuh-musuhnya dia berhasil bangkit kembali dengan gagah dan penuh kejayaan sehingga dia dapat menguasai musuh-musuhnya dan akhirnya berhasil menghancurkannya.
Mulai hari ini saya hendak memutuskan
pertalian saya dengan masa lalu saya. Saya tidak mau menerima apa pun dari masa lalu, bahkan nama pun tidak, karena, Ibu tentu paham, putra Ibu tak mungkin menyandang nama ayahnya yang sudah cemar."
"Seandainya hatiku cukup kuat Albert, itulah nasihat yang akan kuberikan. Hati nuranimu sendiri telah membisikkan apa yang tidak mampu aku katakan.
Menjauhlah dari kawan-kawanmu untuk sementara ini, tetapi jangan berputus asa, aku minta. Hidup dan kehidupan masih cerah bagimu. Usiamu belum lagi dua puluh dua. Dan karena hati yang bersih seperti hatimu membutuhkan sebuah nama yang tidak ternoda, pakailah nama ayahku, Herrera. Aku
cukup mengenalmu, Albert, bidang apa pun yang hendak kaumasuki, aku yakin engkau akan dapat mewangikan nama itu."
"Saya akan mentaati apa yang Ibu minta," jawab anak muda itu.
"Dan karena putusan telah bulat, baiklah kita
melaksanakannya sekarang juga. Ayah baru saja meninggalkan rumah, berarti kita mempunyai kesempatan yang cukup banyak untuk menghindarkan kegaduhan."
"Aku menunggu," kata Mercedes.
Albert berlari ke jalan mencari kereta sewaan. Ketika kembali ke rumahnya seorang laki-laki menghampirinya dan menyerahkan sepucuk surat. Albert mengenalinya sebagai pengurus
rumah tangga Count of Monte Cristo, Bertuccio.
Dia membuka surat itu dan membacanya. Setelah selesai dia melihat kepada Bertuccio, tetapi dia sudah tidak ada. Albert segera kembali kepada ibunya dan dengan emosi yang meluap-luap dia menyerahkan surat itu kepada ibunya, tanpa mampu berkata sepatah pun. Mercedes menerimanya dan membacanya:
Albert, engkau akan segera meninggalkan rumah ayahmu dengan membawa serta ibumu. Pikirlah baik-baik sebelum engkau berangkat: Engkau berhutang budi kepada ibumu tanpa engkau mungkin membalasnya.
Hadapilah perjuangan itu seorang diri dan tahankan penderitaan itu seorang diri pula dan cegahlah jangan sampai ibumu mengalami kemiskinan pada hari-hari pertama engkau memasuki perjuangan itu oleh karena beliau sebenarnya tidak sepatutnya turut menanggung akibat musibah yang menimpanya, hari ini Aku tahu bahwa kalian akan berangkat meninggalkan rumah ayahmu tanpa membawa apa-apa.
Tidak perlu engkau menyelidiki bagaimana aku mengetahuinya. Aku tahu dan itu sudah cukup. Dengarkanlah baik-baik, Albert.
Dua puluh empat tahun yang lalu aku kembali ke negriku dengan rasa bangga dan bahagia. Aku punya tunangan; seorang gadis berhati suci yang sangat aku puja dan aku memiliki
tiga ribu frank yang aku kumpulkan dengan susah payah. Uang itu untuk kekasihku, dan karena aku mengenal sekali sifat-sifat lautan aku mengubur kekayaan itu di sebuah kebun kecil di rumah yang pernah ditinggali ayahku di Marseilles. Ibumu mengetahui letak rumah itu.
Baru-baru ini, dalam perjalanan ke Paris aku lewat di Marseilles. Aku singgah ke rumah itu dengan penuh kenangan pedih dan pahit.
Aku menggali tanah tempat aku menguburkan uang kami. Peti besi itu masih ada. Tak seorang pun pernah menyentuhnya.
Tempatnya di sudut kebun di bawah pohon ara
yang ditanam ayahku pada hari lahirku. Uang itu dimaksudkan untuk membahagiakan wanita yang sangat aku cintai.
Engkau tentu dapat memahami mengapa aku lebih suka mengembalikan uang itu kepadanya daripada menawarkan jutaan frank yang
sekarang aku mampu memberikannya.
Aku hanya ingin mengembalikan jumlah yang sangat kecil itu yang telah lama terlupakan sejak aku dipisahkan daripadanya.
Engkau berhati mulia, Albert, tetapi mungkin saja engkau dibutakan oleh kebanggaan diri atau rasa sakit hati. Kalau engkau menolak
tawaran ku ini, kalau engkau meminta bantuan kepada orang lain untuk sesuatu yang sebenarnya aku mempunyai hak untuk
memberikan itu kepadamu, aku akan mengatakan bahwa hatimu tidak mulia, karena berarti tidak memberikan kesempatan kepada
ibumu untuk memasuki kehidupan yang baru yang ditawarkan oleh seorang laki-laki yang ayahnya mati karena kelaparan dan kepedihan yang disebabkan oleh ayahmu.”
Ketika Mercedes tamat membacanya, Albert berdiri tanpa bergerak, menunggu keputusan ibunya.
"Aku menerimanya, Albert.
Dia berhak membayar mas kawin yang sepatutnya kubawa ke biara."
Dengan menekankan surat itu ke dadanya, dia memegang tangan anaknya lalu dengan langkah-langkah yang pasti berjalan menuju tangga.
MONTE Cristo kembali ke kota bersama Emmanuel dan Maximilien. Mereka pulang dengan rasa gembira. Emmanuel tidak menyembunyikan kegembiraannya melihat pertarungan berubah menjadi perdamaian.
Maximilien yang duduk di sudut membiarkan iparnya menyatakan perasaan hatinya dengan serangkaian kata-kata sedangkan dia sendiri yang tidak kurang pula akan bahagia dan senangnya, menunjukkan kelegaan hatinya itu hanya pada sinar matanya saja.
Di Barriere du Trone mereka bertemu dengan Bertuccio yang sedang tegak berdiri menunggu mereka seperti seorang prajurit.
Monte Cristo mengeluarkan kepalanya melalui
jendela dan bercakap-cakap sebentar dengan dia dalam nada rendah. Setelah itu Bertuccio pergi.
"Kalau Tuan tidak berkeberatan, dapatlah saya diantarkan pulang," kata Emmanuel,
"agar istri saya tidak harus mengalami kekhawatiran tentang kita terlalu lama."
Dan setelah agak lama perjalanan, akhirnya mereka sampai.
"Ingin sekali sebenarnya kami meminta Tuan mampir sebentar," kata Maximilien,
"tetapi saya tahu ada orang yang ingin segera Tuan tenteramkan juga hatinya. Kita sudah
sampai, Emmanuel, dan baiklah kita tidak terlalu lama mengganggu Count of Monte Cristo.”
"Tunggu sebentar," kata Monte Cristo,
"jangan aku ditinggalkan kalian berdua sekaligus. Tenteramkan istrimu yang baik itu, Emmanuel, dan sampaikan salamku. Dan engkau, Maximilien, ikutlah ke Champs Elysees."
"Dengan senang hati, terutama sekali karena saya mempunyai urusan pribadi di dekat rumah Tuan."
"Engkau makan malam di rumah nanti?" tanya Emmanuel.
"Tidak," jawab Maximilien. Kereta bergerak lagi.
"Tuan lihat, betapa saya membawa keberuntungan bagi Tuan,"
Kata Maximilien ketika mereka hanya tinggal
berdua.
"Tuan tentu tidak mengira akan terjadi begitu,
bukan?"
"Itulah sebabnya aku memintamu menjadi pembantu."
“Apa yang terjadi tadi itu benar-benar suatu keajaiban. Albert memang berani. Tak perlu diragukan lagi."
"Sangat berani," kata Monte Cristo.
''Pernah aku melihat dia tidur lelap padahal dia tahu ada sebilah pedang terhunus di atas lehernya hampir dalam arti kata sebenarnya."
"Saya tahu dia berjuang melawan dua lawan sekaligus, dan dia menang. Dengan tindakannya itu dia berhasil mendamaikan keduanya."
"Berkat pengaruhmu " kata Monte Cristo tersenyum.
"Untung Albert bukan seorang perajurit."
"Mengapa?"
"Meminta maaf di medan kehormatan!" kata kapten muda itu menggelengkan kepala.
"Nah," kata Monte Cristo ramah,
"jangan engkau tergelincir berpikir seperti orang-orang biasa. Bukankah karena Albert pemberani, dia tidak mungkin sekaligus menjadi pengecut? Dia mesti mempunyai alasan-alasan yang kuatbuntuk bersikap seperti tadi itu. Bukankah tindakannya itu
merupakan tindakan seorang jantan?"
"Benar, benar," jawab Maximilien.
"Engkau makan siang di rumahku, bukan?" tanya Monte Cristo tiba-tiba memutuskan pembicaraan.
"Terima kasih. Saya ada janji jam sepuluh."
"Urusan pribadimu itu janji makan siang rupanya?"
Maximilien menggelengkan kepala.
"Tetapi engkau harus makan, kan?"
"Bagaimana kalau saya tidak lapar?"
"Ah! Aku hanya mengenal dua perasaan saja yang mampu menghilangkan nafsu makan seorang laki-laki.
Kesedihan tetapi, karena kulihat engkau begitu gembira, aku tahu bukan itu sebabnya . . . dan cinta. Setelah aku mendengar pengakuanmu tadi pagi, aku kira..."
''Saya tidak akan menyangkalnya," jawab Maximilien bertambah gembira.
"Engkau tidak pernah menceritakannya,"
kata Monte Cristo dengan nada suara yang jelas menunjukkan betapa besar keinginannya mengetahui rahasia itu.
"Saya telah mengatakan tadi bahwa saya mempunyai hati, bukan?"
Monte Cristo menjawab ucapan itu dengan mengulurkan tangannya kepada anak muda itu.
"Karena hati saya sudah berada di sana, saya ingin meminta diri sekarang saja."
"Silakan, sahabat," jawab Monte Cristo perlahan-lahan.
"Tetapi berjanjilah, seandainya engkau menemukan suatu halangan, ingatlah bahwa aku mempunyai pengaruh tertentu dalam dunia ini yang dengan senang hati mau aku memanfaatkannya untuk menolong orang-orang yang aku sukai, dan bahwa aku sangat menyukaimu, Maximilien."
"Terima kasih," jawab anak muda itu,
"saya akan mengingatnya seperti seorang anak ingat kepada orang tuanya ketika dia memerlukannya. Seandainya saya membutuhkan pertolongan Tuan, dan mungkin sekali saya akan memerlukannya, saya akan menemui Tuan.”
"Aku anggap itu sebagai janji. Selamat jalan."
Mereka telah tiba di depan rumah Count of Monte Cristo di Champs Elysees. Monte Cristo membuka pintu kereta dan Maximilien melanjutkan perjalannya dengan jalan kaki
sedang Monte Cristo menghampiri Bertuccio.
"Bagaimana?" tanyanya.
"Dia akan meninggalkan rumah," jawab Bertuccio.
"Dan anaknya?”
"Florentin, pelayannya, mengira akan melakukan hal yang sama."
"Ikut aku.”
Monte Cristo membawa Bertuccio ke kamar kerjanya, menulis surat, menyerahkannya kepada Bertuccio dan berkata,.
"Sampaikan ini sekarang juga. Sebelum pergi,
beritahu Haydee bahwa aku sudah kembali,"
"Saya di sini,”
kata Haydee dan ketika mendengar suara
kereta Monte Cristo, turun dari lantai atas. Wajahnya bersinar gembira melihat pelindungnya kembali dengan selamat
Bertuccio pergi.
Kegembiraan Monte Cristo, sekalipun tidak tampak sejelas kegembiraan Haydee, sama mendalamnya. Akhir-akhir ini dia merasakan sesuatu yang sebelumnya dia tidak berani
mempercayainya: bahwa ada Mercedes lain dalam dunia ini, bahwa dia dapat merasa bahagia untuk kedua kalinya.
Monte Cristo menatap mata Haydee yang basah dengan penuh kasih. Tiba-tiba pintu terbuka. Monte Cristo mengerutkan
dahinya.
"Count of Morceff," kata Baptistin memberi tahu.
"Oh!”
Teriak Haydee cemas.
"Masih belum selesai juga?"
"Aku tidak tahu,"
Jawab Monte Cristo sambil memegang kedua tangan Haydee.
"Aku hanya tahu, tak ada yang perlu dicemaskan. Orang itu tak akan dapat berbuat apa-apa terhadapku.
Ketika berurusan dengan anaknya itulah yang
perlu ditakutkan.”
”Tuan tidak akan dapat merasakan bagaimana penderitaan saya!” kata Haydee.
Monte Cristo tersenyum.
"Aku bersumpah, apabila ada yang disebut nasib buruk, itu tak akan mengenai diriku."
"Saya percaya, seperti saya mempercayai Tuhan sendiri yang memberitahukan."
Monte Cristo mencium dahi Haydee yang menyebabkan jantung masing-masing berdenyut cepat.
"Ya Tuhan!" pikir Monte Cristo,
"mungkinkah Engkau mengizinkan aku mencintai lagi seorang wanita?"
Lalu dia berbalik kepada Baptistin.
"Persilahkan tamu itu ke ruang duduk.”
Jendral Morcerf sudah berjalan bolak-balik untuk ketigabkalinya ketika Monte Cristo menemuinya.
"Ah, Tuan Morcerf," kata Monte Cristo dengan tenang.
"Saya kira tadi saya salah dengar."
"Betul, saya,” jawab Jendral.
Kata-katanya kurang jelas karena terhalang oleh bibirnya yang gemetar kaku.
"Kehormatan apa kiranya yang menyebabkan saya dapat menerima Tuan sepagi ini?"
'Tuan telah bertemu dengan anak saya tadi pagi.”
"Tuan mengetahuinya?"
"Ya, dan saya pun tahu bahwa dia mempunyai alasan yang baik untuk menantang Tuan dan berusaha membunuh Tuan”
"Benar. Tetapi seperti yang Tuan lihat sendiri sekalipun dia mempunyai alasan yang baik, dia tidak membunuh saya. Tegasnya, bahkan dia membatalkan perkelahian itu."
"Walau demikian, dia beranggapan Tuanlah biang keladi tercemarnya nama saya dan musibah yang menimpa rumah tangga saya."
"Itu pun benar," jawab Monte Cristo dengan ketenangan yang menakjubkan.
"Sayalah penyebabnya sekalipun bukan
penyebab yang utama."
"Karena itu masuk akal kalau Tuan meminta maaf kepadanya atau memberikan penjelasan kepadanya"
"Saya tidak memberikan penjelasan apa pun dan dialah yang meminta maaf kepada saya."
"Apa alasannya, pikir Tuan?"
"Kesadarannya mungkin, bahwa ada orang lain yang lebih bersalah daripada saya."
"Siapa orang itu?"
"Ayahnya sendiri."
"Mungkin," kata Morcerf. Wajahnya pucat.
“Tetapi tentu Tuan juga tahu bahwa orang yang bersalah pun tidak menyukai kesalahannya dicampakkan ke mukanya."
"Ya, saya tahu, dan akibatnya sudah saya perkirakan."
"Tuan mengira anak saya seorang pengecut?" Morcerf marah.
"Tuan Albert de Morcerf bukan seorang pengecut."
"Seorang laki-laki yang berdiri dengan pedang terhunus di depan musuhnya, dan tidak mau melawannya, adalah seorang pengecut. Saya mau dia ada di sini sekarang, supaya dapat mengatakannya kepadanya"
"Saya kira Tuan datang ke sini tidak untuk membicarakan urusan keluarga Tuan," kata Monte Cristo dingin.
"Katakanlah kepada putra Tuan, barangkali dia dapat menjawabnya."
"Tidak, memang bukan itu maksud kedatangan saya,"
jawab Morcerf dengan senyum yang segera pula menghilang dari bibirnya.
"Saya datang untuk mengatakan bahwa saya menganggap Tuan sebagai musuh. Saya datang untuk mengatakan bahwa saya membenci Tuan karena naluri saya membisikkan begitu, bahwa rasanya saya selalu mengenal siapa Tuan dan selalu membenci Tuan, dan akhirnya, untuk mengatakan bahwa karena anak muda dari
generasi sekarang tidak lagi mau berduel, kita harus melakukannya sendiri. Setuju?"
"Tentu. Ketika saya mengatakan memperkirakan akibat, saya maksudkan maksud kedatangan Tuan."
"Baik. Tuan telah siap?"
"Saya selalu siap."
"Tuan tahu bahwa kita akan berkelahi sampai salah seorang dari kita mati,"
kata Jendral itu dengan merapatkan
giginya karena marah.
"Sampai salah seorang mati," kata Monte Cristo perlahan-lahan sambil menganggukkan kepala.
"Baik kita mulai saja. Tidak perlu ada saksi dan pembantu."
"Ya, tak ada gunanya. Kita cukup mengenal masing-masing dengan baik."
"Justru karena kita tidak saling mengenal."
"Begitu?"
Tanya Monte Cristo dengan dingin menjengkelkan seperti tadi.
"Bukankah Tuan, Fernand perajurit yang melarikan diri ketika pertempuran di Waterloo?
Bukankah Tuan Letnan Fernand yang menjadi penunjuk jalan dan mata-mata Tentara Perancis di Spanyol?
Bukankah Tuan, Kolonel Fernand yang mengkhianati, menjual dan membunuh Ali Pasha?
Dan bukankah ketigab Fernand itu kalau digabungkan menjadi Letnan Jendral
Fernand, Count of Morcerf dan bangsawan Perancis?"
"Jahanam!"
Teriak Jendral seakan-akan disulut besi
membara.
"Engkau menghinaku pada saat engkau mungkin membunuhku! Aku tidak mengatakan bahwa aku orang asing bagimu. Aku tahu, bangsat, bahwa engkau selalu menyelinap
dalam kegelapan masa laluku, membaca setiap lembaran hidupku diterangi obor yang entah dari mana.
Namun, barangkali masih lebih banyak kehormatan dalam diriku sekalipun dalam keaibanku sekarang dibandingkan dengan apa yang ada dalam dirimu di bawah kemuliaan
yang tampak.
Tidak, aku bukan orang asing bagimu, aku
tahu, sebaliknya aku tidak tahu sedikit pun tentangmu, engkau petualang yang bergelimang emas dan permata! Di Paris engkau menyebut dirimu Count of Monte Cristo, di Italia, Sinbad Pelaut, di Malta . . . hanya Tuhan yang tahu!
Aku mau tahu siapa namamu sebenarnya supaya aku dapat menyebutnya di medan kehormatan nanti ketika aku menembuskan
pedangku ke jantungmu!"
Mata monte Cristo berkilat marah. Dia berlari ke kamar sebelah lalu membuka jas dan kemejanya. Tak lama kemudian dia kembali dengan mengenakan kaos dan topi pelaut,
lalu berdiri tegak di depan Morcerf dengan kedua tangannya menyilang di dadanya Di wajahnya tercermin kebencian yang sangat.
Gigi Morcerf gemeretak, dia merasa lututnya
melemah dan mundur beberapa langkah sampai dia menemukan sebuah meja untuk menopang dirinya.
"Fernand!" teriak Monte Cristo.
"Salah satu namaku sudah akan cukup untuk membuat hatimu terkoyak, tetapi aku tidak akan menyebutnya. Atau perlu? Ya, engkau telah menduganya, karena sekalipun aku telah melampaui tahun tahun kepedihan dan siksaan, kegairahan membalas dendam membuat wajahku muda kembali, wajah yang pasti sering engkau lihat dalam mimpimu sejak engkau menikahi Mercedes, tunanganku!"
Jendral Morcerf terbelalak matanya dan mulutnya ternganga. Dia mundur lagi beberapa langkah sampai punggungnya bersandar kepada dinding. Dia bergeser selangkah demi selangkah dengan punggung pada dinding sampai mencapai pintu, lalu lari cepat keluar ruangan dengan hanya sanggup mengeluarkan suara seorang yang dalam ketakutan yang sangat, mengucapkan "Edmond Dantes!"
Dengan sikap yang sudah tidak lagi seperti manusia, dia sampai di depan rumah, berjalan terhuyung-huyung di pekarangan seperti orang mabuk dan akhirnya jatuh di pelukan
pelayannya.
“Pulang! Pulang" perintahnya, hampir-hampir tidak jelas.
Udara yang segar dan rasa malu terhadap pelayannya membuat dia cepat dapat menguasai dirinya kembali. Tetapi perjalanan itu tidak jauh, makin mendekat ke rumah
makin cepat lagi ketakutannya kembali menguasai dirinya.
Dia memberhentikan keretanya di muka pintu depan dan turun. Pintu rumah terbuka lebar dan ada sebuah kereta sewaan, yang saisnya merasa heran dapat panggilan ke rumah semegah itu, berdiri di tengah-tengah pekarangan.
Jendral Morcerf mengawasinya sebentar dengan rasa cemas, lalu masuk dan berlari menuju ke kamar kerjanya, tanpa berani bertanyakan sesuatu kepada pelayan pelayan
nya.
Dua Orang berjalan menuruni tangga dari ruang atas. Cepat-cepat dia bersembunyi di balik tirai. Dia melihat Mercedes dipapah Albert. Mereka akan meninggalkan rumah.
''Tabahkan hati, Ibu," dia mendengar anaknya berkata.
"Ini sudah bukan rumah kita lagi."
Kata-kata anaknya dan langkah-langkah mereka menghilang di kejauhan. Morcerf memegang tirai erat-erat, bergelut menahan isak tangis yang bergejolak mendesak keluar dari dada seorang laki-laki yang ditinggalkan oleh istri dan anaknya pada saat yang bersamaan.
Segera dia mendengar pintu kereta tertutup dan sais berteriak melarikan kudanya. Derap kuda dan kereta menggetarkan kaca-kaca jendela. Cepat dia berlari ke kamar tidurnya untuk dapat melayangkan pandangan terakhirnya kepada istri dan anaknya yang sangat dia cintai. Tetapi kereta itu berlalu, tanpa seorang pun penumpangnya mengeluarkan kepala untuk mengucapkan selamat tinggal kepada rumah yang sunyi itu dan kepada suami dan ayah yang ditinggalkan.
Tepat ketika kereta melalui lengkung pintu gerbang, terdengar suara tembakan dan asap hitam mengepul keluar melalui salah satu jendela kamar tidur yang pecah kacanya
karena getaran ledakan.
MAXIMILIEN berjalan menuju rumah Villefort.
Noirtier dan Valentine mengizinkan dia berkunjung sekali seminggu dan sekarang ini ia sedang akan memanfaatkan haknya.
Valentine telah menunggunya ketika dia sampai. Dengan perasaan cemas, bahkan mendekati takut ia memegang tangan
Maximilien dan segera menuntunnya ke kamar kakeknya.
Dia cemas ketika mendengar tantangan Albert kepada Count of Monte Cristo di opera. Dia menduga bahwa Maximilien lah yang akan diminta menjadi pembantubMonte Cristo, didasarkan kepada keberanian anak muda
yang cukup terkenal dan rasa persahabatannya yang mendalam dengan Monte Cristo. Dia khawatir Maximilien tidak akan dapat membatasi dirinya sampai hanya menjadi
pembantu yang pasif saja. Dapat dipahami kalau Valentine membanjiri Maximilien dengan pertanyaan-pertanyaan sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya.
Maximilien melihat kegembiraan yang tak terkirakan pada wajah Valentine ketika dia menceriterakan bahwa pertarungan berakhir dengan perdamaian yang di luar dugaan.
“Sekarang bicaralah tentang dirimu sendiri,"
kata Valentine sambil mempersilakan Maximilien duduk di samping Noirtier. Dia duduk di tangan kursi kakeknya.
“Seperti kauketahui, pernah kakek bermaksud untuk pindah dari rumah ini dan menyewa sebuah apartemen untuk kami berdua. Sekarang niat itu kembali lagi."
"Bagus!" Maximilien berteriak gembira.
"Tahukah engkau, alasan apa yang telah beliau kemukakan untuk meninggalkan rumah ini?"
Noirtier memberi isarat agar Valentine menutup mulut, tetapi Valentine tidak melihat isarat itu. Perhatian dan senyumnya hanya ditujukan kepada Maxirriilien.
"Apa pun alasannya aku yakin pasti baik!" jawab Maximilien.
"Beliau mengatakan bahwa udara di sini tidak baik bagiku."
"Mungkin sekali beliau benar, karena menurut penglihatanku pun kesehatanmu tidak begitu baik dalam dua minggu terakhir ini."
"Memang. Kakek teiah bertindak sebagai dokterku selama ini, dan karena beliau luas pengetahuannya aku mempercayainya."
"Tetapi betulkah engkau sakit?" tanya Maximilien cemas.
"Tak dapat aku katakan sakit. Aku hanya merasa kurang enak badan. Nafsu makanku hilang dan rasanya perut ini sedang berusaha keras membiasakan diri kepada sesuatu
yang asing."
"Bagaimana perawatan untuk penyakit yang tidak diketahui ini?"
"Aku minum sebagian obat yang biasa diberikan kepada kakek. Mula-mula hanya sesendok kecil, sekarang sudah meningkat menjadi empat sendok. Kata kakek, obat itu
panacea, obat untuk segala penyakit"
Valentine tersenyum, tetapi jelas senyum yang sedih.
"Aku kira obat itu dibuat khusus untuk kakekmu."
"Aku hanya tahu rasanya pahit. Begitu pahit sehingga apa pun yang kuminum setelah makan obat itu, semuanya terasa pahit."
Noirtier memandang Valentine. Matanya penuh kecemasan. Rupanya seluruh darah Valentine mengalir ke kepala, karena pipinya mulai kelihatan merah sekali.
"Aneh!" kata Valentine lagi tanpa kehilangan kegembiraannya.
"Apakah karena sinar matahari aku merasa pusing?"
Dia bersandar di jendela.
"Mana ada sinar matahari!" kata Maximilien sambil berlari menghampiri Valentine.
Valentine tersenyum.
"Jangan khawatir, aku sudah baik lagi. Dengar, betulkah itu suara kereta?"
Dia membuka pintu dan berjalan ke jendela dari mana dia dapat melihat pekarangan, dan segera kembali lagi.
"Betul!" katanya.
"Nyonya Danglars dan putrinya datang
berkunjung. Saya akan menemuinya supaya mereka jangan datang ke mari. Tinggal di sini dengan kakek, Maximilien. Aku akan berusaha kembali secepat mungkin."
Maximilien melihat dia menutup pintu dan mendengar dia berjalan di tangga yang menuju ke kamarnya dan kamar Nyonya de Villefort.
Nyonya Danglars dan anaknya dibawa ke kamar Nyonya de Villefort, Valentine memberi hormat ketika mereka masuk.
"Saya datang dengan Eugenie karena ingin menjadi orang pertama yang memberi tahukan perkawinan Eugenie dengan Pangeran Cavalcanti" kata Nyonya Danglars.
Suaminya bersikeras untuk memberi gelar pangeran kepada Cavalcanti karena ditelinganya gelar itu lebih sedap terdengar.
"Saya mengucapkan selamat,"
Jawab Nyonya de Villefort. Pangeran Cavalcanti seorang anak muda dengan
macam-macam kebaikan."
"Benar" kata Nyonya Danglars tersenyum.
"Hatinya baik dan otaknya cerdas. Dan kata suami saya, dia kaya se kaya seorang raja."
"Ibu dapat tambahkan juga," sela Eugenie,
"bahwa ibu pun menyukainya."
"Saya rasa, biasa kalau seorang anak muda disenangi oleh calon istri dan calon mertuanya, bukan?" kata Nyonya de Villefort.
"Saya sendiri tidak menyukainya,"
Jawab Eugenie dingin seperti kebiasaannya.
"Saya tidak mempunyai bakat untuk mengikatkan diri kepada urusan rumah tangga atau kepada keinginan seorang laki-laki, siapa pun dia. Saya dilahirkan untuk menjadi seorang seniwati dan seorang yang merdeka.
Tetapi karena saya terpaksa harus menikah, saya bersyukur tidak jadi menikah dengan Albert de Morcerf. Kalau dengan dia mungkin sekarang saya sudah menjadi istri seorang yang kehilangan kehormatannya."
"Tetapi," kata Valentine agak ragu-ragu,
"apakah dia harus dipersalahkan karena kecemaran bapaknya?"
"Dia harus turut menanggung kecemaran itu,” jawab Eugenie yang keras itu.
"Setelah menantang Count of Monte Cristo di gedung opera di muka umum, dia meminta
maaf tadi pagi di medan kehormatan."
"Mana mungkin!"
Nyonya de Villefort yang tidak mengetahui
persoalannya merasa heran.
“Itu benar,” kata Nyonya Danglars,
"saya mendengarnya dari Tuan Debray yang hadir di tempat kejadian itu."
Valentine pun tahu, tetapi dia tidak berkata apa-apa. Pikirannya sedang melayang ke kamar Noirtier, tempat Maximilien sedang menunggunya. Sentuhan tangan nyonya
Danglars di tangannya membuat dia sadar kembali dari lamunannya.
"Engkau sakit, Valentine?" tanyanya.
"Dalam beberapa menit saja wajahmu berubah dari merah ke pucat dan kembeii merah beberapa kali."
"Mukamu pucat sekali sekarang,” kata Eugenie.
"Oh, tidak ada apa-apa. Sudah beberapa hari memang begini”
Dia sadar bahwa sekarang dia mempunyai alasan untuk meminta maaf meninggalkan mereka. Nyonya de Villefort melicinkan jalan dengan berkata.
"Rupanya engkau kurang sehat, Valentine. Saya rasa tamu kita tidak akan berkeberatan kalau engkau beristirahat saja.”
Valentine merangkul Eugenie, memberi hormat kepada Nyonya Danglars dan keluar. Dia sudah hampir habis menuruni tangga, bahkan sudah dapat mendengar suara Maxmiilien yang sedang bercakap-cakap dengan kakeknya,
ketika tiba-tiba seakan-akan segumpal awan gelap menghalangi penglihatannya sehingga ia jatuh terguling di tangga.
Maximilien berlari keluar pintu dan melihat
Valentine tergeletak di bawah tangga. Segera Valentine dipangku di bawa ke dalam dan didudukkan di sebuah kursi.
Valentine-membuka-matanya.’
"Oh,mengapa-aku-ini!"
katanya dengan gagap.
"Begitu lemahkah aku sehingga tidak
mampu berdiri lagi?”
"Apa yang sakit, Valentine? Oh Tuhan! Oh Tuhan!"
Valentine melihat mata Noirtier berkilat-kilat penuh kecemasan.
"Jangan khawatir, Kakek," katanya mencoba tersenyum.
"Tidak apa-apa. Saya hanya merasa pusing sebentar, hanya itu."
"Hati-hati, Valentine. Aku minta!" kata Maximilien.
"Tidak apa-apa. Aku sudah merasa baik. Ada berita:
Eugenie Danglars akan menikah dalam seminggu ini.”
"Dan kapan giliran kita? Engkau mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap kakekmu. Cobalah pengaruhi beliau untuk menjawab, segera."
"Engkau mengharapkan aku mempengaruhi kakek?“
"Betul, dan bertindaklah Cepat-cepat! Sebelum engkau menjadi milikku, aku selalu merasa akan kehilanganmu."
"Maximilien,"
Jawab Valentine dengan gerakan yang agak kaku,
"sebagai seorang perjurit yang kata orang tidak
pernah merasa takut engkau terlalu banyak kecemasan!"
Valentine tertawa dengan suara melengking mengerikan, kedua tangannya kaku, kepala terkulai dan akhirnya tak sadarkan diri.
Mata Noirtier selalu mengawasinya dan berputar-putar liar, seakan-akan semua rasa takut dan suara hatinya tumpah ke dalam matanya. Maximilien sadar bahwa ia harus
cepat-cepat mencari pertolongan. Dia memijit bel. Pelayan Valentine dan pelayan yang menggantikan Barrois segera masuk berbarengan. Karena melihat Valentine yang begitu pucat, begitu dingin dan begitu lemas, tanpa mendengarkan penjelasan yang diberikan, keduanya sudah dicekam rasa takut yang senantiasa menguasai rumah itu. Tanpa
menunggu perintah mereka berlari keluar berteriak-teriak meminta tolong.
"Ada apa?" tanya Tuan de Villefort dari kamar kerjanya.
Maximilien bertanya kepada Noirtier yang sudah dapat menguasai diri kembali. Dia memberi isarat kepada Maximilien untuk bersembunyi di balik lemari. Dia masih sempat mengambil topinya ketika dia mendengar langkah de Vfllefort mendekat.
Villefort masuk. Begitu melihat Valentine dia berlari menghampirinya dan memeluknya.
"Panggil dokter?” teriaknya.
"Panggil Dokter d'Avrigny . . . tidak biar aku
sendiri yang pergi!" dan dia berlari ke luar.
Maximilien keluar melalui pintu yang lain. Otaknya penuh dengan pikiran yang menakutkan. Ia teringat kepada pembicaraan antara Villefort dan Dokter d’Avrigny di kebun
pada malam meninggalnya Nyonya de Saint-Meran.
Dan tanda-tanda yang nampak pada Valentine, sama dengan yang terjadi pada Barrenis, sekalipun tidak sehebat itu. Pada saat yang bersamaan, seakan-akan dia mendengar
suara Count of Monte Cristo yang baru dua jam yang lalu berkata kepadanya:
"Seandainya engkau memerlukan
sesuatu, datanglah kepadaku, Maximilien. Aku dapat berbuat banyak."
Setelah pikirannya tenang kembali, dia
berlari ke rumah Monte Cristo di Champs Elysees.
Monte Cristo sedang berada di ruang kerjanya ketika Maximilien datang.
'Ada apa, Maximilien? Wajahmu pucat sekali dan dahimu basah.”
Sebelum menjawab, Maximilien menjatuhkan diri di atas kursi.
“Saya berlari secepat mungkin. Ada yang ingin saya bicarakan.”
''Yang di rumah baik-baik semua?"
tanya Monte Cristo dengan keramahan yang jelas sekali.
"Ya, terima kasih. Semua baik-baik."
"Jadi apa yang hendak engkau bicarakan. Apakah saya dapat menolong?"
"Ya, Tuan dapat menolong. Saya datang kemari seperti orang gila dengan pikiran hanya Tuanlah yang dapat menolong saya."
“Ceriterakanlah persoalannya."
"Saya tidak tahu, apakah saya boleh membukakan rahasia ini atau tidak, tetapi sekarang saya hampir terpaksa membukakannya.”
Maximilien berhenti ragu.
"Ada sesuatu yang membisikkan
kepada saya bahwa saya tidak boleh menyimpan rahasia bagi Tuan.”
"Benar, Maximilien. Tuhan telah berbisik ke dalam hatimu, dan hatimu berbisik pula kepada dirumu sendiri.”
“Bolehkah saya meminta Baptistin pergi dengan dalih mencari keterangan mengenai seseorang yang Tuan kenal?”
'Tentu saja. Saya panggilkan dia?"
“Tidak usah, biar saya yang mengatakannya."
Maximilien pergi ke luar, memanggil Baptistin lalu berkata kepadanya dalam suara ditekan.
Baptistin segera pergi meninggalkan rumah.
"Sudah pergi?" Tanya Monte Cristo ketika Maximilien kembali.
"Sudah. Sekarang hati saya agak tenteram'"
"Aku masih menunggu ceritera yang menggelisahkan dirimu itu," kata Monte Cristo tersenyum.
"Dan saya pun telah siap untuk mengatakannya. Pada sualu malam saya berada dalam sebuah kebun. Saya bersembunyi di balik semak-semak dan tak seorang pun tahu saya berada di sana. Dua orang datang berjalan mendekat izinkan saya tidak menyebut nama-nama mereka sementara
ini - dan saya mendengar mereka bercakap-cakap. Salah seorang dari mereka adalah pemilik rumah. Yang seorang lagi, seorang dokter.
Ada seorang yang baru meninggal dalam rumah itu. Pemilik rumah berbicara tentang kesedihan dan kekhawatirannya oleh karena kejadian malam itu merupakan kejadian yang kedua kalinya dalam satu bulan:
ada orang mati mendadak dalam rumahnya."
“Apa kata dokter?" tanya Monte Cristo.
"Dia berkata . . .
bahwa kematian itu tidak wajar dan bahwa kematian itu disebabkan oleh ..."
"Oleh apa?"
"Racun."
"Betul?"
Tanya Monte Cristo lagi dibarengi batuk yang
disengaja untuk menyembunyikan perasaan hatinya.
"Betul Count. Dan dokter itu menambahkan bahwa apabila kejadian semacam itu terulang lagi, dia akan menganggapnya sebagai kewajiban untuk memberitahu polisi.
Namun, tak beberapa waktu kemudian kematian mendadak itu menimpa orang ketiga dan tak seorang pun dari mereka membuka mulut. Sekarang, korban keempat mungkin akan jatuh lagi. Tuan apa yang harus saya lakukan sekarang?"
"Kawan," kata Monte Cristo.
"Saya rasa engkau menceriterakan sesuatu yang sudah menjadi rahasia umum. Aku tahu rumah mana yang kau maksud, atau sekurang-kurangnya aku mengenal sebuah rumah yang tepat seperti yang kaumaksud, di mana pernah terjadi tiga orang mati mendadak dan mengherankan. Sekalipun akubmengetahuinya, apakah hatiku risau? Tidak. Karena itu bukan urusan ku.
Mungkin sekali keadilan Tuhan sedang
berlangsung dalam rumah itu. Kalau itu benar, jangan ambil pusing, biarkanlah keadilan itu berlangsung."
Monte Cristo mengucapkan kata-kata ini dengan nada suara yang khidmat dan hormat, sehingga membuat Maximilien bergidik.
"Dalam pada itu," katanya selanjutnya,
"apa yang membuat engkau mengira akan jatuh korban keempat?"
"Kematian sudah datang mengancam. Tuan. Itulah sebabnya saya datang ke mari."
"Apa yang harus kulakukan? Apakah saya harus memanggil jaksa, umpamanya?”
'Tuan! Tuan telah mengetahui rumah siapa yang saya maksud, bukan?"
"Tahu. Tahu betul. Engkau mendengar rahasia itu di kebun rumah Tuan de Villefort. Menilik ceritamu, aku kira itu terjadi pada malam meninggalnya Nyonya de Saint-Meran. Tiga bulan yang lalu Tuan de Saint Meran mati,
dua bulan yang lalu Nyonya de Saint-Meran, dan beberapa hari yang lalu Bairois. Sekarang, kalau bukan Noirtier tentu Valentine."
"Tuan mengetahuinya, tetapi Tuan tidak berbuat apa-apa?" Maximilien agak marah.
"Apa urusanku?" jawab Monte Cristo dengan mengangkat bahu.
"Apakah mereka sahabat-sahabatku? Apa
perlunya aku mengorbankan seorang dari mereka untuk menolong jiwa yang lainnya? Saya tidak mempunyai pilihan antara si pembunuh dan korban."
"Tetapi saya mencintai dia!"
Teriak Maximilien putus asa.
"Saya mencintainya!"
"Apa!" Monte Cristo terlompat dari kursinya.
"Saya sangat mencintainya! Saya bersedia mengorbankan semua darah saya untuk mencegah dia menitikkan setetes air mata kesedihan! Saya mencintai Valentine de Villefort yang akan terbunuh malam ini.
Tuan dengar? Saya meminta nasihat Tuan bagaimana saya harus menyelamatkannya!"
Melalui tenggorokan Monte Cristo keluar suara seperti suara singa terluka,
"Engkau mencintai Valentine? Engkau mencintai anak seorang yang terkutuk!"
Maximilien belum pernah melihat air muka orang seperti yang tampak pada wajah Monte Cristo sekarang. Dia mundur selangkah karena getir. Monte Cristo menutup kedua matanya, seperti orang yang merasa pusing karena ada semacam kilat menyambar dalam hatinya, dan kini bergelut menenangkan badai yang mengamuk dalam dadanya.
Sesaat kemudian, dia membuka kembali matanya danvberkata dengan nada yang hampir tenang lagi.
"Tuhan menghukum orang yang bersikap acuh tak acuh dan angkuh terhadap kejadian yang mengerikan yang Beliau perlihatkan di hadapannya. Aku tertawa melihat seorang jahat membinasakan yang lainnya, tetapi aku sendiri sekarang terpagut ular jahat yang kutonton itu."
Maximilien mengeluh.
"Kuatkan hatimu dan jangan putus asa," kata
Monte Cristo.
"Aku akan menjagamu."
Maximilien menggelengkan kepala dengan wajah sedih.
"Aku katakan,, jangan putus asa," lanjut Monte Cristo,
"dengarkan baik-baik. Kalau Valentine belum mati sekarang, dia tidak akan mati. Pulanglah dan tunggu sampai ada berita dariku."
"Ketenangan Tuan menakutkan sekali!” kata Maximilien tak tertahan.
"Apakah Tuan menguasai juga kematian?
Apakah Tuan lebih dari manusia biasa?"
Monte Cristo menatap wajah anak muda itu dengan senyum ramah dan kasih.
"Aku dapat berbuat banyak. Pulanglah sekarang karena aku perlu menyendiri dahulu."
Maximilien terkalahkan oleh wibawa Monte Cristo yang sering disaksikannya mempengaruhi orang-orang sekitarnya, tidak dapat membantah. Dia menjabat
tangannya lalu pergi.
Di pintu dia berdiri menunggu Baptistin yang sudah kelihatan kembali bergegas-gegas.
Sementara itu Villefort sudah kembali ke rumah bersama Dokter d'Avrigny. Valentine masih belum sadarkan diri.
Dokter memeriksanya dengan cermat sekali. Villefort dan Noirtier memperhatikannya dengan harap-harap cemas.
Akhirnya dokter berkata perlahan-lahan:
"Masih hidup."
"Masih hidup!" Villefort terperanjat.
"Dokter, mengerikan sekali apa yang Tuan katakan itu!"
"Ya, dan saya ulangi: dia masih hidup. Dan ini sangat mengherankan saya."
"Dapat Tuan menyelamatkannya? "
"Dapat, karena dia belum meninggal." Ketika mengucapkan ini Dokter d'Avrigny melihat mata Noirtier bersinar gembira dan dia dapat membaca bahwa pikirannya sedang penuh.
"Tuan Villefort, sudikah Tuan memanggilkan pelayan Valentine?"
Villefort pergi. Setelah dia menutup pintu, Dokter d'Avrigny mendekati Noirtier.
"Ada yang hendak Tuan katakan?"
Noirtier mengiakan dengan isarat mata.
"Hanya untuk saya sendiri?"
"Ya," jawab mata orang tua itu.
"Baik, saya akan tinggal di sini."
Villefort masuk kembali diikuti oleh pelayan dan di belakang mereka Nyonya de Villefort.
"Mengapa Valentine ini?" tanya Nyonya de Villefort.
"Dia mengeluh tidak enak badan, tetapi saya kira tidak separah itu."
"Dia akan baik kembali setelah beristirahat," kata Villefort.
"Mari kita pindahkan ke sana."
Dokter d'Avrigny melihat ada kesempatan untuk dapat berdua dengan Noirtier. Ia segera membenarkan usul Villefort, tetapi dia meminta dengan sangat agar Valentine
jangan diberi obat apa-apa kecuali yang ditentukan oleh dia sendiri. Lalu dia meminta Villefort untuk pergi sendiri ke rumah obat dan menekankan agar dia menyaksikan
peramuannya.
Setelah melihat tidak ada orang lagi, dokter itu menutup pintu dengan hati-hati.
"Apakah Tuan mengetahui sesuatu tentang penyakit cucu Tuan?"
"Ya."
Dokter d'Avrigny berpikir sebentar, lalu berkata lagi.
"Maafkan, apa yang hendak saya katakan ini, tetapi saya kira kita tidak boleh mengabaikan apa pun dalam keadaan seperti sekarang ini. Tuan telah melihat Barrois meninggal.
Menurut pendapat Tuan, wajarkah kematian itu?”
Suatu gerakan halus semacam senyum tampak di bibit Noirtier.
“Jadi Tuan tahu bahwa Barrois mati sebab racun?"
"Ya."
"Apakah racun itu dimaksudkan untuk dia?"
"Bukan."
"Apa Valentine diracun oleh orang yang sama?"
"Ya."
"Dia pun akan mati, tentu."
"Tidak!" mata Noirtier menyorotkan kebanggaan.
"Artinya Tuan berpendapat dia akan tetap hidup?"
Dokter d'Avrigny heran.
"Ya."
"Menurut perkiraan Tuan apakah pembunuh itu akan membatalkan niatnya?"
“Tidak."
"Jadi Tuan berpendapat bahwa racun itu tidak akan mematikan Valentine?"
"Ya."
"Mengapa?"
Noirtier mengarahkan matanya ke suatu tempat. Dokter d'Avrigny mengikutinya dan tahulah dia bahwa mata Noiertier dipusatkan kepada botol-botol yang berisi obat yang biasa diberikan kepadanya setiap pagi.
"Ah!"
kata dokter terdorong deh suatu pikiran.
"Tuan sudah mengira bahwa Valentine akan diracun karena itu Tuan membiasakannya lebih dahulu?"
"Ya."
"Tuan memberikannya secara berangsur-angsur dan setiap kali bertambah?"
"Ya? Ya!"
Noirtier kelihatan gembira sekali karena jalan pikirannya dapat dimengerti.
"Dan Tuan telah berhasil! Tanpa kewaspadaan itu Valentine sudah mati sekarang.
Serangannya hebat sekali, tetapi dia akan sembuh . . . untuk kali ini sekurang-kurangnya."
Villefort tiba-tiba masuk.
"Ini obatnya, Dokter."
"Diramu di hadapan Tuan sendiri?"
"Ya."
”Tidak terlepas dari tangan Tuan sejak itu?"
"Tidak."
Dokter d'Avrigny mengambil botol obat itu, mengeluarkannya beberapa tetes di telapak tangannya, lalu mencicipinya.
"Bagus. Mari kita lihat Valentine. Saya akan memberikan perintah kepada semua, Tuan de Villefort, dan saya mengharapkan agar Tuan menjaga jangan sampai ada yang tidak mentaatinya."
Ketika Dokter d'Avrigny dan Villefort memasuki kamar Valentine, seorang padri bangsa Italia yang tenang tindak tanduknya dan tegas bicaranya, menyewa rumah yang bersebelahan
dengan rumah Villefort.
Tidak diketahui mengapa ketiga penghuni terdahulunya mendadak pindah dari sana tiga jam yang lalu. Hanya orang-orang di sekitarnya
berbicara tentang fondasi rumah yang sudah tidak kuat lagi sehingga dapat roboh sewaktu-waktu.
Namun demikian, hal ini tidak mencegah penyewa yang baru itu untuk menghuninya,
mulai pada hari itu juga, bahkan dengan membawa serta perabot rumahnya yang cukup banyak. Penyewa baru itu masuk sekitar jam lima sore setelah membayar lebih dahulu uang sewanya untuk enam bulan.
Namanya adalah Padri Giacomo Busoni. Pada malam itu juga orang-orang lewat diherankan oleh beberapa tukang kayu, tukang tembok yang sibuk bekerja memperbaiki rumah itu.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar