Kamis, 29 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 50

BAB L


KETIKA meninggalkan rumah Danglars, Beauchamp menahan Albert sebentar.

"Sebelum kita menemui Count of Monte Cristo sebaiknya engkau berpikir dahulu."

"tentang apa?"

"Tentang akibat dari perbuatanmu ini."

"Aku hanya takut pada satu hal: bertemu dengan orang yang menolak berkelahi."

"Count of Monte Cristo pasti mau berduel. Yang aku khawatirkan, dia akan terlalu tangkas bagimu. Hati-hatilah!"

"Kawan," jawab Albert tersenyum, 

"keberuntungan yang paling membahagiakan bagiku pada waktu ini adalah mati untuk ayah. Kemauanku akan menyelamatkan seluruh keluarga."

"Tetapi ibumu pun akan mati merana!" 

Sambil mengusapkan telapak tangannya ke mata dia berkata perlahan-lahan. 

"Aku tahu. Tetapi lebih baik bagi ibu
meninggal karena sedih daripada karena malu."

"Sudah bulat niatmu itu?"

“Ya."

"Kalau begitu tak ada alasan lagi menunggu. Di mana kaukira kita dapat menjumpainya?"

"Dia akan berangkat beberapa jam setelah aku pergi. Pasti sudah kembali sekarang.”

Mereka bergerak menuju rumah Count of Monte Cristo di Champs Elysees. Baptistin menerima mereka di pintu.

Benar, Monte Cristo baru saja datang. Sekarang sedang mandi dan memerintahkan untuk tidak menerima tamu.

"Apa rencana beliau setelah mandi?" tanya Albert.

"Makan."

"Setelah makan?"

"Beliau akan tidur satu jam."

"Lalu?"

"Menonton opera."

"Kau yakin itu?"

"Yakin sekali. Count telah memesan keretanya disiapkan pada jam delapan malam nanti."

"Baik," kata Albert. 

"Hanya itu yang ingin kuketahui."

Lalu menghadap kepada Beauchamp dan berkata, 

"Kalau ada yang harus engkau Kerjakan, kerjakanlah sekarang, dan kalau ada janji untuk malam nanti, undurkanlah sampai besok. 

Engkau tentu mengerti kalau aku meminta engkau menonton opera bersamaku malam nanti. Bila mungkin, ajak serta Chateau-Renaud."

Beauchamp berpisah dengan Albert setelah dia berjanji akan menjemputnya malam nanti jam delapan kurang seperempat.

Setelah Albert sampai di rumahnya dia menulis surat kepada Franz, Debray dan Maximilien bahwa dia ingin bertemu dengan mereka malam nanti di Gedung Opera.

Setelah itu dia menemui ibunya, yang setelah mendengar kejadian kemarin tidak mau bertemu dengan siapa pun dan tetap mengunci diri di kamarnya. Albert menemuinya di
sana dalam keadaan masih terpengaruh oleh penghinaan masyarakat kepada suaminya.

Ketika melihat anaknya dia memeluknya dan menangis tersedu-sedu. Air mata yang membanjir seperti memberikan ketenangan kepadanya. Albert diam sambil menatap wajah
ibunya. Air mukanya menunjukkan bahwa nafsu membalas dendam agak melemah dalam hatinya.

"Ibu," katanya, 

"apakah mempunyai musuh?"

Mercedes terkejut. Albert tidak mengatakan 

"ayah"

"Orang dengan kedudukan seperti ayahmu mungkin saja mempunyai banyak musuh, bahkan mungkin musuh yang tidak diketahuinya sama sekali."

"Ya, saya tahu itu. Tetapi pasti ibu memperhatikan juga bahwa Count of Monte Cristo selalu menolak minum atau makan dalam rumah kita."

"Count of Monte Cristo" 

Mercedes lebih terkejut lagi.

"Apa hubungannya dia dengan pertanyaanmu?"

"Seperti ibu ketahui, Count of Monte Cristo hampir sudah seperti orang Timur, dan orang Timur tidak pernah mau minum atau makan di rumah musuh-musuhnya."

"Maksudmu, Count of Monte Cristo musuh kita, Albert? Siapa yang mengatakan itu? Mengapa berkata begitu? Engkau gila, Albert! Count of Monte Cristo selalu bersahabat kepada kita, bahkan dia pernah menyelamatkan jiwamu, dan engkau sendiri pula yang memperkenalkan dia kepada kami. 

Buanglah pikiran itu. Dengarkan nasihat ibu
ini... aku minta... tegasnya ,.. jangan bertengkar dengan dia."

"Ibu” jawab Albert dengan tenang, 

"tentu ibu mempunyai alasan pribadi untuk meminta saya tidak bertengkar dengan orang itu,"

"Alasan pribadi?" jawab Mercedes, 

Pipinya tiba-tiba memerah, kemudian dengan cepat berubah lagi menjadi pucat.

"Ya" jawab Albert lagi. 

"Dan alasan ibu tentu bahwa dia tidak berbahaya bagi kita. Begitu bukan?"

Mercedes gemetar. Ditatapnya mata anaknya seperti hendak mengatakan rahasia yang tersembunyi dalam hatinya.

"Sikapmu aneh sekali hari ini," katanya. 

"Apa yang dia lakukan terhadapmu? Baru tiga hari yang lalu engkau berlibur ke Normandia bersamanya. Baru tiga hari yang lalu aku menganggap dia seperti engkau menganggapnya: sebagai sahabat karibmu."

Senyum sinis tersimpul di bibir Albert.

Mercedes melihatnya, dan berkat naluri seorang wanita dan seorang ibu dia dapat menerka segala-galanya. Tetapi dia mencoba menyembunyikan perasaan takutnya.

Albert menghentikan percakapan ini. Beberapa saat kemudian Mercedes berkata lagi, 

"Aku harap engkau mau tinggal di sini bersamaku, Albert. Aku takut menyendiri."

"Ibu tahu, betapa senangnya saya berada dekat ibu, namun malam ini ada suatu hal yang sangat penting yang mengharuskan saya meninggalkan Ibu."

"Baik " 

Jawab Mercedes dengan nada mengeluh. 

"Aku tidak bermaksud mengharapkan ketaatanmu secara berlebih-lebihan."

Albert pura-pura tidak mendengarnya. Dia pamit dan keluar.

Setelah pintu tertutup kembali, segera Mercedes memanggil pelayan kepercayaannya dan memerintahkannya untuk mengikuti gerak-gerik Albert semalam itu. Lalu dia memanggil
pelayan wanitanya, dan sekalipun badannya terasa lemah, dia berganti pakaian siap untuk segala kemungkinan.

Albert kembali ke rumahnya, berdandan serapih-rapihnya. Sepuluh menit sebelum jam delapan Beauchamp datang.

Dia telah menemui Chateau-Renaud yang berjanji akan menggabungkan diri di Gedung Opera sebelum layar diangkat.

Chateau-Renaud telah menunggu ketika mereka datang. Beauchamp telah menceriterakan semuanya, sehingga Albert sudah tidak perlu lagi memberikan keterangan.

Debray tidak datang, padahal Albert tahu dia tidak pernah melewatkan kesempatan menonton opera.

Albert memusatkan pandangannya ke tempat ruang duduk Monte Cristo. Tampaknya masih kosong. Akhirnya, pada permulaan babak kedua, setelah dia melihat arlojinya untuk kesekian ratus kalinya, pintu ruang duduk Monte Cristo terbuka dan Monte Cristo kelihatan masuk dalam pakaian serba hitam. 

Sebelum duduk bersandar dahulu pada
sandaran di hadapannya untuk melihat para pemain orkes. Dia dikawani oleh Maximilien Morrel. Ketika itu dia merasa ada sepasang mata yang terus-menerus menatapnya.

Terlihat olehnya Albert, matanya bersinar-sinar. Melihat air muka Albert seperti itu dia merasa bijaksana untuk pura-pura tidak melihatnya. 

Lalu dia duduk, mengambil teropongnya
dan dengan teropong itu mengarahkan
pandangannya ke arah lain.

Namun, sebenarnya Albert tidak pernah lepas dari perhatiannya. Ketika layar ditutup pada akhir babak kedua matanya yang tajam dapat melihat Albert meninggalkan tempat duduknya diikuti oleh kedua kawannya. 

Monte Cristo merasa badai akan segera mengamuk. Ketika dia mendengar langkah-langkah orang mendekatinya sekalipun dia sedang asyik berbicara dengan Maximilien, dia tahu apa yang akan terjadi dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

Pintu ruang duduknya terbuka. Monte Cristo membalikkan badannya dan melihat Albert, wajahnya kebiru-biruan dan badannya gemetar. Di belakangnya berdiri Beauchamp dan Chateau Renaud.

"Saya kira, akhirnya tercapai juga maksud Tuan
menemui saya," 

Kata Monte Cristo dengan nada dan kalimat sopan, yang berbeda dari cara menghormat orang lain. 

"Selamat malam. Tuan de Morcerf."

Maximilien tiba-tiba teringat kapada surat yang diterimanya dari Albert yang meminta dia tanpa memberi penjelasan untuk melihat opera. Sekarang dia merasakan sesuatu
yang gawat akan segera terjadi, 

"Saya datang ke mari tidak untuk saling memberi salam secara munafik atau memperlihatkan persahabatan yang palsu," jawab Albert. 

"Saya datang untuk menuntut sesuatu"

"Menuntut sesuatu dalam gedung ini?" 

Kata Monte Cristo dengan sangat tenang dan sorot mata yang memancarkan keyakinan diri. 

"Saya kurang faham akan kebiasaan orang
Perancis, tetapi saya kira Gedung Opera bukanlah tempat yang layak untuk itu."

"Apabila seseorang menyembunyikan dirinya" jawab Albert, 

"bila dia tidak mengizinkan orang lain memasuki rumahnya dengan alasan bahwa dia sedang mandi, sedang makan atau sedang tidur, maka dia harus ditemui di mana saja dia dapat ditemui"

"Saya tidak sukar ditemui. Kalau saya tidak salah baru tadi siang Tuan datang ke rumah saya."

“Ya," 

Jawab Albert yang sudah mulai kalap, 

"saya ke rumah Tuan karena saya belum mengetahui apa dan siapa sebenarnya Tuan!" 

Albert mengucapkan kata kata ini demikian
kerasnya sehingga terdengar oleh penonton-penonton lain di sekelilingnya.

"Apa sebenarnya maksud Tuan, Tuan de Morcerf?"

Monte Cristo bertanya tanpa menunjukkan perasaannya.

"Rupanya pikiran Tuan sedang kacau."

"Sepanjang saya sadar akan pengkhianatan Tuan dan sanggup membuat Tuan mengerti bahwa saya menuntut pembalasan, pikiran saya cukup jernih."

"Saya tidak mengerti, Tuan de Morcerf. Dan sekalipun saya dapat mengerti, tetapi Tuan tetap berbicara terlalu keras. Ini ruang duduk saya dan hanya saya sendiri yang berhak berteriak di sini. Silakan keluar, Tuan de Morcerf!"

Monte Cristo menunjuk pintu dengan sikap memerintah. 

"Saya akan memancing Tuan keluar dari ruang ini!"

Jawab Albert masih dengan nada keras, sambil meremas-remas sarung tangannya dengan kaku. Sikapnya ini tidak lepas dari pandangan Monte Cristo.

"Baik," jawab Monte Cristo tenang, 

"Tuan menghasut saya untuk berduel. Ini jelas sekali. Tetapi izinkan saya memberi nasihat: Kurang baik menghasut saya dengan suara hingar-bingar itu. Tidak perlu menarik perhatian orang lain, Tuan de Morcerf."

Albert merasakan sindiran ini. Dia bergerak untuk melemparkan sarung tangannya ke wajah Monte Cristo, tetapi Maximilien sempat menangkap pergelangan tangannya, sedang Beauchamp dan Chateau-Renaud memeganginya dari belakang karena khawatir kelakuan Albert melampaui batas.

Monte Cristo, tanpa berdiri, membungkuk mengambil sarung tangan dari tangan Albert. 

"Tuan de Morcerf," 

Katanya dengan nada acuh tak acuh, 

"saya menganggap sarung tangan Tuan telah dilemparkan dan saya akan mengembalikannya disertai sebutir peluru. Dan sekarang harap keluar dari sini, atau saya akan memanggil pelayan saya untuk melemparkan Tuan."

Dalam keadaan marah, matanya liar dan merah Albert keluar. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Maximilien untuk segera menutup pintu.

Monte Cristo kembali menggunakan teropongnya seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa. Maximilien bersandar mendekatinya lalu berbisik, 

"Apa yang telah Tuan lakukan terhadapnya?"

"Tidak apa-apa... paling tidak secara pribadi" jawab Monte Cristo.

 "Malapetaka ayahnya yang membuat dia kehilangan akal."

"Ada hubungannya Tuan dengan kejadian itu?"

"Haydee menceriterakan kepada Parlemen tentang pengkhianatan ayahnya."

"Ya, saya mendengarnya juga, tetapi saya tidak dapat percaya bahwa gadis Yunani itu, yang pernah saya lihat bersama Tuan dalam ruang duduk ini. anak Ali Pasha."

"Tetapi itulah kebenarannya."

"Sekarang saya mengerti semuanya! Albert menyurati saya untuk datang menonton opera ini. Mesti dia menghendaki saya menyaksikan penghinaan-yang akan dilancar kannya kepada Tuan."

"Mungkin saja," jawab Monte Cristo dingin.

"Apa rencana Tuan terhadapnya?"

"Sepasti Tuan duduk di sini sekarang, saya akan membunuhnya besok sebelum jam sepuluh pagi. Itulah rencana saya."

Maximilien memegang tangan Count Of Monte Cristo, dan darahnya seakan-akan merasakan betapa dinginnya tangan itu. 

"Ayahnya sangat mencintainya!"

"Jangan berkata begitu, sebab kalau saya mengasihaninya juga berarti saya membuatnya menderita!" 

Jawab Monte Cristo dengan nada marah yang baru pertama kalinya kelihatan.

Terdengar pintu diketuk orang.

"Silakan masuk," kata Monte Cristo.

Beauchamp masuk.

"Selamat malam, Tuan Beauchamp," 

Sambut Count of Monte Cristo seakan akan baru kali itu dia melihatnya malam itu. 

"Silakan duduk."

Beauchamp memberi hormat lalu duduk. 

"Seperti tuan ketahui, Count," katanya memulai, 

"saya bersama Albert ketika itu. Saya akui dia salah dengan bertindak bodoh seperti tadi, dan saya datang untuk memintakan maaf baginya atas kehendak saya sendiri. 

Karena permintaan maaf telah diajukan... dan saya ulang atas kehendak saya sendiri. Saya yakin Tuan cukup bermurah hati untuk sudi
memberikan penjelasan kepada saya tentang hubungan Tuan dengan peristiwa Yanina dan gadis Yunani itu."

Monte Cristo memberi isarat untuk diam. 

"Tuan menghapuskan semua harapan saya," katanya sambil tertawa.

"Apa maksud Tuan?"

"Tuan selalu bersikeras menjuluki saya sebagai seorang yang eksentrik menyamakan saya dengan orang-orang yang terkenal eksentrik seperti Manfred atau Lord Ruthwen.

Tetapi sekarang, Tuan mau membuat saya menjadi orang kebanyakan. Bahkan Tuan meminta saya menceritakan tentang diri saya sendiri, suatu hal yang tidak pernah akan
dilakukan oleh seorang eksentrik! Tuan bercanda, Tuan Beauchamp."

"Ada beberapa keadaan," 

Kata Beauchamp mempertahankan diri, 

"di mana kehormatan memerintahkan..."

"Tuan Beauchamp," kata Monte Cristo menyela, 

"Count of Monte Cristo hanya diperintah oleh Count of Monte Cristo. Saya berbuat seperti yang saya sukai, dan, percayalah, saya selalu melakukannya dengan baik."

"Tuan tidak dapat memperlakukan orang terhormat dengan cara demikian " kata Beauchamp. 

"Tuan harus memberikan jaminan untuk kehormatannya."

"Saya merupakan jaminan yang hidup," kata Count Monte Cristo, matanya berkilat mengancam. 

"Setiap kita mempunyai darah mengalir dalam pembuluhnya, dan orang lain ingin sekali menumpahkannya. Itulah jaminan masing-masing.

Sampaikan itu sebagai jawaban saya kepada Tuan Albert de Morcerf dan katakan kepadanya bahwa besok jam sepuluh pagi saya sudah akan melihat warna darahnya."

"Bila demikian', maka satu-satunya yang masih harus dilakukan adalah perjanjian untuk duel itu."

"Hal itu sama sekali tidak penting bagi saya. Di Perancis ini duel dilakukan dengan pedang atau pistol. Di daerah jajahan dengan karabin. Di Arabia dengan belati. Katakan kepada Tuan Albert de Morcerf, sekalipun saya yang dihina, maka agar menjadi orang eksentrik sampai ke akar-akarnya, saya serahkan pemilihan senjata kepadanya dan saya akan menerimanya tanpa bertanya. 

Bahkan saya bersedia berkelahi dengan menarik undian, suatu hal yang sebenarnya bodoh. Saya lain, sebab saya yakin akan
menang."

"Yakin akan menang?”

"Tentu. Kalau tidak masa saya mau melayaninya. Saya harus membunuhnya, dan saya akan melakukannya? Beritahu saya malam ini tentang tempat dan pemilihan senjata."

"Pistol, jam delapan pagi di Bois de Vincennes," kata Beauchamp dengan bimbang karena dia tidak pasti dengan orang macam apa dia berhadapan, apakah dengan seorang pembual kawakan atau dengan seorang manusia
luar biasa.

"Baik, Tuan Beauchamp. Karena sekarang segala sesuatu telah ditetapkan, izinkan saya menikmati sisa pertunjukan ini, dan katakan kepada sahabat Tuan agar jangan kembali
lagi ke gedung ini malam ini. Itu hanya akan merugikan dirinya sendiri Lebih baik dia pulang dan tidur dengan nyenyak."

Beauchamp meninggalkan ruangan dengan rasa heran bercampur kagum.

Monte Cristo berbisik kepada Maximilien, 

"Saya dapat meminta Tuan menjadi saksi, bukan?"

"Tentu saja. Tetapi.."

"Tetapi apa?"

"Saya ingin sekali mengetahui sebab yang sebenarnya!"

"Apakah ini berarti Tuan menolak untuk menjadi pembantu saya?”

"Bukan itu.”

"Sebab sebenarnya?” kata Count of Monte Cristo,

"Albert sendiri tidak mengetahuinya. Hanya saya sendiri dan Tuhan yang mengetahuinya. Tetapi percayalah, bahwa Tuhan Yang Maha Mengetahui akan berpihak kepada kita."

"Cukup bagi saya, Count," jawab Maximilien. 

"Siapa yang akan menjadi pembantu yang kedua?"

"Hanya Tuan dan ipar Tuan di Perancis ini yang dapat saya percayakan menerima kehormatan itu. Menurut perkiraan Tuan apakah Emmanuel bersedia?"

"Saya dapat berbicara untuk dia seperti saya berbicara untuk diri sendiri."

"Baik, dan terima kasih. Datanglah besok ke rumah saya jam tujuh pagi."

"Kami akan datang."





Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...