BAB XXXVIII
KEESOKAN harinya, pada saat Debray biasanya
singgah sebentar di rumah Nyonya Danglars dalam perjalanannya ke kantor, keretanya tidak muncul. Karena itu Nyonya Danglars memesan keretanya sendiri, lalu berangkat.
Danglars yang bersembunyi di balik tirai jendela, mengawasi kepergian istrinya suatu hal yang memang sudah diperkirakannya. Dia memerintahkan para pelayannya untuk segera diberitahu apabila istrinya kembali. Tetapi sampai jam dua siang istrinya masih belum pulang.
Pada jam dua Baron Danglars pergi ke gedung Parlemen. Sepulangnya dari Parlemen ia terus ke Champs Elysee no.30.
"Ada apa, Baron?" tanya Monte Cristo ketika ia menemuinya.
''Tampaknya Tuan dalam kesukaran, dan ini merisaukan saya. Seorang kapitalis yang risau sama dengan sebuah bintang berekor. Ia memberikan pertanda akan datangnya suatu malapetaka."
"Saya memang sedang dirundung malang dalam beberapa hari ini Tidak ada berita-berita yang saya dengar kecuali berita buruk. Yang terakhir adalah kebangkrutan di Trieste.”
"Apa tuan berbicara tentang Jacopo Manfredi?"
"Tepat sekali! Coba Tuan bayangkan: seorang yang telah bekerja sama dengan saya untuk entah sudah berapa lama, yang tidak pernah salah, tidak pernah menunggak, yang membayar kewajibannya sebagai seorang pangeran. Sekarang saya mempunyai tagihan kepadanya sebanyak satu juta frank.
Dan tiba-tiba saja Jacopo Manfredi
menangguhkan pembayarannya! Digabungkan dengan kejadian di Spanyol, bulan ini merupakan bulan malapetaka bagi saya."
"Apakah Tuan merugi pula di Spanyol?"
"Ya. Tujuh ratus ribu frank ... Berbicara tentang usaha,"
Tambah Danglars yang merasa senang mendapat jalan untuk mengalihkan persoalan,
"barangkali Tuan sudi memberi saran apa yang harus saya lakukan untuk Tuan Cavalcantl"
"Berilah dia kredit apabila Tuan mempercayainya.”
"Saya kira dia dapat dipercaya. Dia telah menemui saya tadi pagi dan saya memberinya kredit lima ribu frank setiap bulan untuk putranya."
"Enam puluh ribu frank setahun!" kata Monte Cristo.
"Apa yang dia kehendaki dari anak muda dengan uang belanja sebanyak itu?"
''Kalau anak itu memerlukan lagi beberapa ribu sebagai tambahan..."
"Jangan Tuan berikan. Ayahnya tidak akan menyetujuinya. Mungkin Tuan belum mengetahui bagaimana sifat jutawan-jutawan Italia. Mereka semua pelit."
"Maksudnya,Tuan tidak mempercayai Tuan
Cavalcanti?"
"Tentu saja saya mempercayainya! Dengan senang hati saya akan bersedia meminjamkan sepuluh juta kepadanya. Kekayaannya tidak perlu diragukan."
"Betulkah orang-orang Italia yang kaya itu selalu menikah dengan kalangannya sendiri saja?"
Danglars bertanya tanpa ragu.
"Saya kira dengan maksud menggabungkan kekayaannya."
"Memang benar demikian. Tetapi Cavalcanti seorang yang eksentrik. Ia tidak mau melakukan apa yang dilakukan orang lain. Saya yakin ia membawa putranya ke sini supaya
dapat memperistri seorang wanita Paris."
"Begitu?"
"Saya yakin."
"Apakah Tuan mengetahui tentang kekayaannya?"
"Boleh dikatakan saya tidak mengenalnya. Yang saya ketahui hanyalah apa yang dia katakan sendiri dan apa yang dikatakan Padri Busoni kepada saya.
Baru tadi pagi Padri Busoni memberitahukan bahwa Cavalcanti sudah merasa jemu melihat kekayaannya mati tertanam di Italia, dan dia ingin mendapatkan suatu jalan untuk menanamnya di Perancis atau Inggris.
Apabila putranya menikah, mungkin sekali ia akan memberinya dua sampai tiga juta frank.
Seandainya putranya itu menikah dengan putri
seorang bankir, umpamanya, ia berharap boleh menanam modalnya dalam perusahaan besannya."
"Mungkin saja, tetapi tentu dia ingin mendapatkan seorang putri ningrat sebagai menantu."
"Tidak perlu. Bangsawan-bangsawan Italia sering sekali menikah dengan keturunan orang biasa. Tetapi apa sebab Tuan mempunyai perhatian kepada soal ini? Apakah Tuan
mempunyai calon untuk Andrea?"
"Terus terang," kata Danglars,
"saya ini seorang spekulator, dan saya rasa menawarkan calon istri bagi Andrea bukanlah suatu spekulasi yang buruk."
"Tuan tentu tidak berpikir menawarkan putri Tuan sendiri, bukan? Lagipula bukankah dia sudah dipertunangkan dengan Albert de Morcerf?"
“Bahwa saya dengan Tuan de Morcerf telah berkali kali memperbincangkan perkawinan mereka, itu benar, tetapi Nyonya de Morcerf dan Albert..”
"Apakah Tuan bermaksud mengatakan bahwa mereka tidak sebanding? Mungkin sekali Albert tidak sekaya putri Tuan, tetapi Tuan tidak akan dapat menyangkal bahwa ia
mempunyai nama yang terhormat."
"Itu tidak saya sangsikan, tetapi saya lebih menyukai nama sendiri," jawab Danglars.
"Saya tidak dilahirkan sebagai seorang baron, namun setidak-tidaknya Danglars adalah nama saya yang asli"
"Rupanya Tuan mau mengatakan bahwa nama asli Count de Morcerf bukan Morcerf?"
"Begitulah. Saya diangkat menjadi baron, dengan demikian saya benar-benar seorang baron. Tetapi dia mengangkat dirinya sendiri menjadi count, dengan demikian dia bukan count yang sebenarnya."
“Tak mungkin”
"Begini, Count," sambung Danglars.
"Saya mengenal Tuan Morcerf sejak tiga puluh tahun yang lalu. Seperti tuan ketahui, saya tidak merahasiakan asal-usul saya. Ketika saya masih seorang pegawai yang sederhana, Morcerf pun seorang nelayan yang sederhana."
"Siapa namanya ketika itu?"
"Fernand Mondego."
"Yakinkah Tuan?"
"Dia sering menjual ikan tangkapannya kepada saya sehingga saya mengenalnya dengan betul."
"Kalau begitu mengapa Tuan hendak mengawinkan putri Tuan dengan anaknya?"
"Oleh karena Fernand dan Danglars keduanya berasal dari keluarga sederhana, keduanya berhasil meraih gelar bangsawan dan keduanya telah menjadi kaya. Oleh sebab itu yang satu sama baiknya dengan yang lain, kecuali tentang cerita orang mengenai dia, yang tidak dapat diterapkan kepada saya."
"Apa maksud Tuan?"
"Tidak apa-apa."
"Sebentar, saya faham sekarang. Apa yang baru saja Tuan katakan menyegarkan kembali ingatan saya. Saya mendengar nama Fernand Mondego di Yunani."
"Dalam hubungan dengan peristiwa Ali Pasha?"
"Tepat sekali,"
"Itulah rahasianya yang terbesar," kata Danglars,
"dan saya akui bahwa saya bersedia mengeluarkan berapa pun biaya untuk mengetahui rahasia itu."
"Sebenarnya tidak akan sukar Tuan bila Tuan benar-benar ingin mengetahuinya. Bukankah Tuan mempunyai relasi di Yunani?"
''Tentu saja."
"Di Yanina?"
"Saya mempunyai relasi di mana-mana."
"Baiklah. Mengapa tidak menyurati relasi Tuan di Yanina, menanyakan peranan apa yang dimainkan seorang Perancis yang bernama Fernand Mondego dalam peristiwa Ali Pasha itu?"
"Tuan benar sekali!" kata Danglars gembira. Lalu dia berdiri.
"Saya akan menyuratinya hari ini juga!"
"Dan apabila Tuan mendengar bagian berita yang bersifat skandal..."
"Saya akan menceriterakannya kepada Tuan."
Danglars bergegas keluar dari rumah Monte Cristo menuju keretanya.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar