Rabu, 28 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 45

BAB XLV


MALAM telah larut ketika Andrea Cavalcanti kembali ke penginapannya di Hotel des Princes. Tetapi baru saja ia menginjakkan kaki di halaman hotel itu dia melihat penjaga hotel berdiri menunggunya dengan topi di tangan.

"Tuan, orang itu tadi ke mari."

"Orang apa?" 

Jawab Andrea acuh tak acuh, seakan-akan
ia tidak ingat lagi kepada orang yang sebenarnya dia kenal betul.

"Orang yang biasa Tuan beri tunjangan."

"Oh, ya," kata Andrea. 

"Pelayan tua ayahku. Apakah sudah kau beri uang dua ratus frank yang kutitipkan
kepadamu?"

"Dia menolak menerimanya, Tuan."

"Apa?"

"Katanya ia ingin berbicara dengan Tuan. Mula-mula ia tidak mau percaya ketika saya katakan Tuan sedang keluar.
Tetapi akhirnya saya dapat meyakinkan dan ia meninggalkan surat ini untuk Tuan"

"Coba lihat," kata Andrea. 

Dia menerima surat itu dan
membaca kalimat ini: 

"Engkau tahu di mana aku tinggal. Aku mengharapkan kedatanganmu besok jam sembilan pagi."

"Nanti ke kamarku kalau engkau telah selesai mengurus kuda," kata Andrea kepada saisnya.

Dia baru selesai membakar surat dari Caderousse ketika sais itu masuk. 

"Badanmu hampir seukuran dengan badanku,
Pierre?"

"Ya, saya mendapat kehormatan itu" jawab sais.

"Aku mempunyai janji dengan seorang wanita malam ini, tetapi aku tidak mau dia mengetahui siapa aku. Coba aku pinjam pakaian mu dan surat-suratmu."

Sais menurut saja. Lima menit kemudian, dengan menyamar sepenuhnya, Andrea meninggalkan Hotel des Princes tanpa dikenal orang. Dia menyewa sebuah kereta dan meminta diantarkan ke penginapan Aurberge du Cheval Rouge di Picpus.

Keesokan paginya dia meninggalkan penginapan itu menuju Rue Menilmontant dan berhenti di muka pintu rumah ketiga di sebelah kiri jalan.

"Mencari siapa?" tanya seorang penjual buah-buahan di seberang jalan.

"Tuan Pailletin."

"Pensiuan pembuat roti itu?"

"Benar."

"Naiklah ke tangga di sebelah kiri, di ujung halaman itu. Dia tinggal di lantai empat."

Andrea mengikuti petunjuk itu lalu membunyikan bel pada pintu di lantai empat. Beberapa saat kemudian wajah Caderousse muncul dari balik pintu. 

"Engkau datang tepat sekali," katanya, lalu dia menutup pintu kembali.

Pada waktu memasuki ruangan itu dengan kesal Andrea melemparkan topinya ke atas sebuah kursi. Lemparannya tidak tepat, topi itu menggelinding di lantai.

"Jangan marah, anak muda," kata Caderousse. 

"Coba lihat makanan yang akan kita makan bersama. Semua kesukaanmu."

Andrea mencium bau bawang putih dan lemak segar. Di ruang berikutnya dia melihat meja yang sudah ditata untuk dua orang, di atasnya ada dua buah botol anggur, sewadah besar brendi dan buah-buahan di atas selembar daun kol yang disusun rapi di atas sebuah piring dari tanah.

"Kalau engkau meminta aku datang untuk sarapan bersama, persetan!" kata Andrea marah.

"Anak muda " kata Caderousse ramah, 

"baik sekali kita berbicara sambil makan. Tidakkah engkau senang bertemu dengan kawan lama? Aku sendiri sangat berbahagia."

"Munafik."

"Seandainya aku tidak menyukaimu, apa kau kira aku akan tetap mau menjalani kehidupan buruk yang disebabkan engkau ini? Aku lihat engkau mengenakan pakaian pelayan-mu. Sebenarnya, aku pun dapat mempunyai seorang pelayan. Aku pun dapat memiliki
kereta seperti milikmu, dan aku pun dapat makan di rumah makan terhormat seperti yang engkau lakukan. 

Dan mengapa aku tidak melakukannya? Karena aku tidak mau menyusahkan kawanku Benedetto. Tetapi engkau harus mengakui bahwa aku pun dapat memiliki itu semua apabila aku menghendakinya. Betul?" 

Sinar mata Caderousse menekankan makna kata-katanya tadi. 

"Sementara itu," katanya selanjutnya, 

"silakan duduk dan mari kita makan."

Andrea membuka botol anggur dan selanjutnya malahap hidangan dengan bergairah. Muda dan sehat seperti dia, nafsu makannya masih mengatasi segala-galanya.

"Enak bukan?" tanya Caderousse.

"Begitu enaknya sehingga aku tidak mengerti mengapa orang yang dapat memasak dan makan makanan selezat ini masih bisa merasa tidak berbahagia."

"Karena kebahagianku dirusakkan hanya oleh sebuah pikiran saja," jawab Caderousse.

"Maksudmu?"

"Pikiran bahwa aku hidup karena pemberian seorang kawan. Aku, yang dahulu selalu dapat menghidupi diriku sendiri"

"Jangan kaupikirkan tentang itu. Aku mempunyai cukup uang untuk kita berdua."

"Sama saja. Hatiku penuh dengan penyesalan. Tetapi aku mempunyai satu gagasan."

Hati Andrea bergetar. Gagasan Caderousse selalu saja menggetarkan hatinya.

"Sangat memalukan kalau engkau selalu harus
menunggu sampai akhir bulan untuk menerima
tunjanganmu," lanjut Caderousse. 

"Kalau aku jadi engkau, aku akan minta tunjangan di muka untuk enam bulan dengan dalih akan membeli sebuah tanah pertanian. Setelah menerima uang itu lalu kabur."

"Mengapa engkau tidak menuruti nasihatmu sendiri? Mengapa engkau tidak meminta tunjanganmu untuk enam bulan atau bahkan untuk setahun di muka, lalu lari ke Brussel?"

"Bagaimana kau dapat mengharapkan aku dapat hidup dengan seribu dua ratus frank? 

Aku mempunyai rencana yang lebih baik. Dapatkah engkau tanpa mengeluarkan sesen pun dari uangmu sendiri, memberi aku lima belas ribu frank? Oh, nanti dulu, tidak cukup . . . aku tak akan dapat menjadi orang jujur kalau kurang dari tiga puluh ribu."

"Tidak, aku tidak dapat," jawab Andrea pendek.

"Kukira engkau tidak mengerti. Aku katakan: tanpa mengeluarkan sesen pun dari uangmu sendiri."

"Engkau meminta aku mencuri sehingga aku merusak segala-galanya dan kita berdua dikembalikan lagi ke dalam penjara?"

"Oh, aku tak peduli apakah kita akan tertangkap atau tidak," jawab Caderousse.

"Memang aku merasa kangen kepada kawan-kawan kita di penjara sana. Hatiku tidak
sekeras hatimu. Engkau tidak pernah mau bertemu kembali dengan mereka!"

Sekali ini, hati Andrea bukan saja bergetar, tetapi wajahnya pun menjadi pucat. Jangan bertindak bodoh, Caderousse!" katanya berteriak.

"Jangan takut, kawanku Benedetto. Yang harus engkau lakukan hanyalah, mencarikan jalan untuk aku mendapatkan uang yang tiga puluh ribu itu tanpa melibatkan engkau dalam bentuk apapun juga."

"Baik, aku akan mencoba. Aku akan membuka mata dan telingaku."

"Sementara itu aku harap engkau menaikkan tunjanganku menjadi lima ratus. Aku mau menggaji seorang pelayan."

"Baik, engkau akan menerima lima ratus frank sekalipun itu sebenarnya berat untuk aku."

"Aku tidak melihat mengapa," kata Caderousse,

"padahal uangmu mengalir dari sumber yang tanpa batas."

Seakan-akan Andrea menantikan pernyataan ini. Seberkas cahaya kebanggaan bersinar di matanya, lalu menghilang lagi dengan cepat.

"Benar," katanya, 

''Count of Monte Cristo memperlakukan
aku dengan baik."

"Dia sangat kaya, bukan?"

"Pasti. Aku sering datang ke rumahnya. Dengan demikian aku dapat melihat dengan mata kepala sendiri.

Beberapa hari yang lalu seorang pegawai bank mengirimkan uang sejumlah lima puluh ribu frank. Kemarin seorang pejabat bank lainnya mengirimkan seratus ribu frank dalam
emas”

“Dan engkau masuk ke dalam rumahnya?" tanya Caderousse ingin tahu.

"Kapan saja aku suka."

Caderousse terdiam sebentar. Jelas sekali bahwa pikirannya sedang berputar-putar, bekerja. Tiba-tiba dia berkata,

"Aku ingin sekali melihatnya! Pasti menakjubkan!"

"Sangat menakjubkan."

“Bukankah dia tinggal di Avenue des Champs Etysee?"

"Ya, nomor tiga puluh."

"Engkau harus membawa aku ke sana suatu waktu."

"Kau tahu, itu tidak mungkin."

"Ya, kukira engkau benar. Tetapi, coba ceritakan kepadaku tentang rumah itu. Besarkah rumah itu?"

"Tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil."

"Bagaimana pembagiannya?"

"Harus kugambarkan agar jelas."

"Ini!" 

kata Caderousse sambil pergi ke sebuah meja
mengambil tinta, pena dan kertas.
Andrea menerima pena itu dengan senyum yang hampir tidak tampak, lalu mulai mendenah. 

"Rumah itu berada antara halaman dan sebuah kebun, begini," katanya.

"Bagaimana temboknya? Tinggi?"

"Tidak. Paling tinggi delapan sampai sepuluh kaki."

"Bagaimana keadaan lantai pertamanya?"

"Di lantai pertama ada dua buah ruang duduk, sebuah ruang makan dan sebuah ruang bilyard."

"Bagaimana bentuk jendelanya?"

"Mengesankan sekali . . . sangat besar sehingga orang seperti aku dapat masuk melalui kotak-kotak kacanya."

"Bagaimana tentang kunci-kuncinya?"

"Jendela itu tidak pernah dikunci. Count of Monte Cristo itu orang yang aneh. Dia senang sekali melihat langit di malam hari."

"Di mana para pelayan tidur?"

"Mereka tidur di bangunan yang terpisah, di sebelah kananmu kalau engkau memasuki halaman. Baru kemarin aku mengatakan kepada Count: Tuan kurang hati-hati. Kalau Tuan pergi ke Auteuil dan membawa semua pelayan, rumah ini kosong samasekali. Pada suatu hari pasti rumah ini dirampok."

"Dan bagaimana jawabannya?"

"Katanya, 'apa peduli saya kalau saya dirampok?’'

"Dia tentu mempunyai sebuah meja bermesin."

"Apa maksudmu?"

"Meja yang dapat menjebak pencuri dan secara otomatis memberikan tanda bahaya. Aku pernah melihat contohnya dalam sebuah pameran terakhir ini."

"Tidak, dia hanya memiliki sebuah meja biasa."

"Dan belum pernah ada orang mencuri sesuatu dari dalam rumahnya?"

'Tidak, semua pelayannya sangat setia."

"Tentu laci meja itu banyak sekali isinya?"

"Mungkin sekali. Tak seorang pun tahu apa isinya."

"Di mana letaknya meja itu?"

"Di lantai kedua."

"Coba gambarkan keadaan lantai dua itu."

"Baik."

Andrea mengambil lagi penanya. 

"Ini ruang tunggu dan ruang duduk," katanya. 

"Di sebelah kiri ruang duduk ada ruang perpustakaan. Di sebelah kanan ruang duduk ada kamar tidur dan kamar hias. Meja itu berada di kamar hias."

"Apakah kamar hias ini berjendela?"

"Ada dua ... di sini dan di sini. Andrea menggambarkan letak jendela itu pada denahnya." 

Caderousse berpikir. 

"Apakah ia sering pergi ke rumahnya di Auteuil?"

"Dua atau tiga kali seminggu. Besok, umpamanya, dia bermaksud menghabiskan hari siangnya di sana dan terus bermalam di sana juga."

"Yakin?"

"Dia mengundangku makan malam di sana."

"Engkau akan memenuhinya?"

“Mungkin."

"Dan kalau engkau datang untuk makan malam, apakah engkau juga akan menginap di sana?"

"Aku mau."

Caderousse manatap wajah anak muda itu dengan tajam seakan-akan ia hendak mengorek kebenaran kata-katanya dari lubuk hatinya. Tetapi Andrea mengambil kotak cerutu
dari kantong bajunya dengan tenang, menyulut sebuah lalu menghisapnya dengan gaya yang wajar sekali. 

"Kapan engkau menghendaki uangmu yang lima ratus frank itu?"

"Sekarang juga, kalau engkau membawanya."

"Aku tak pernah membawa uang lima ratus frank dalam saku"

"Titipkan saja kepada penjaga hotel itu, nanti aku menjemputnya."

"Hari ini?"

"Tidak, besok."

"Dan engkau tidak akan mengganggu aku lagi, bukan?"

"Tidak akan. Tetapi dengarlah nasihat yang bersahabat”

"Apa?"

"Aku nasihatkan agar engkau meninggalkan cincin intan itu padaku. Bagaimana mungkin engkau melakukan kesalahan sebodoh ini? Apakah engkau bermaksud supaya kita tertangkap lagi?"

"Apa maksudmu?"

"Kau berpakaian seperti seorang pelayan, tetapi engkau masih juga memakai cincin intan berharga empat atau lima ribu frank!"

"Penaksiran yang cermat sekali. Seharusnya engkau menjadi seorang juru lelang."

"Aku tahu sedikit-sedikit tentang intan. Pernah aku memilikinya sebuah."

Tanpa menjadi marah karena pemerasan yang baru ini, Andrea dengan patuh menyerahkan cincin itu. Sebenarnya Caderousse khawatir dia akan marah sekali.

"Ada lagi yang kauinginkan?" tanyanya. 

"Perlu jaket ini? Bagaimana dengan topiku? Jangan malu-malu memintanya."

"Baik, aku tak akan menahanmu lebih lama lagi dan aku akan mencoba mengobati sendiri kerakusanku. Tunggu sebentar, aku antarkan sampai di pintu."

"Tak perlu ."

"Harus."

"Mengapa?"

"Karena ada suatu rahasia kecil pada pintu itu, suatu kewaspadaan yang kurasa perlu dijalankan. Kunci buatan Huret and Fichet itu dirombak dan diperbaiki oleh Gaspard Caderousse. Aku akan membuatkan mu sebuah kalau engkau nanti sudah menjadi seorang kapitalis."

"Terima kasih," kata Andrea. 

"Aku akan memberitahu seminggu sebelumnya."

Mereka berpisah. Caderousse tetap berdiri sampai dia melihat Andrea menuruni ketiga buah tangga dan berjalan melintasi pekarangan. Segera dia kembali ke kamarnya.

Dengan hati-hati ia mengunci pintunya dan mulailah dia mempelajari denah yang ditinggalkan Andrea dengan seksama.




Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...