Senin, 26 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 25

BAB XXV


KEESOKAN harinya menjelang jam dua siang, sebuah kereta yang ditarik sepasang kuda Inggris yang gagah indah, berhenti di muka pintu rumah Count of Monte Cristo.

Di dalamnya duduk seorang laki-laki berjas biru, kancing kancingnya terbungkus kain sutra dengan warna yang sama, bercelana coklat dan rompi putih. Sebuah rantai emas yang besar melintang di dadanya. Tetapi jelas sekali rambut yang hitam legam Itu tidak serasi dengan keriput di dahinya.

Pendeknya, ia seorang setengah baya yang ingin tampak muda. Ia mengeluarkan kepala dari jendela kereta lalu memerintahkan pelayannya menanyakan apakah Count of
Monte Cristo ada di rumah. Pelayan itu bertanya kepada penjaga pintu.

"Yang Mulia Count of Monte Cristo memang tinggal di sini, tetapi beliau sekarang sedang sibuk," jawab penjaga pintu.

"Kalau begitu, tolong sampaikan kartu nama majikan saya, Baron Danglars. Tolong katakan pula bahwa dalam perjalanannya ke Parlemen beliau mampir sebentar ingin bertemu."

"Saya tidak berhak menghadap beliau, tetapi pesan ini akan disampaikan oleh pelayannya."

Pelayan itu kembali ke kereta dan melaporkan jawaban penjaga pintu.

"Rupanya dia putera seorang raja, karena dipanggil Yang Mulia dan hanya pelayannya saja yang berhak menghadap!" kata Danglars. 

"Tetapi biarlah, itu urusan dia. Suatu waktu dia mesti menemuiku kalau sudah membutuhkan uang” 

Dia bersandar lagi dan berteriak nyaring sekali sehingga dapat didengar ke seberang jalan.

"Ke Parlemen!"

Monte Cristo yang diberitahu tentang kedatangan baron itu masih sempat melihatnya dari balik tirai jendela dengan
menggunakan teropong yang kuat.

"Ali!" ia berteriak, lalu memukul gong perunggu. 

Ali datang. 

"Panggil Bertuccio."

Dalam sekejap Bertuccio muncul. 

"Yang Mulia memanggil saya?"

"Ya. Apakah kau lihat tadi sepasang kuda yang berhenti di muka pintu?"

"Tentu saja, Yang Mulia Kuda yang bagus sekali."

"Mengapa," 

kata Monte Cristo mengerutkan dahi,

"masih ada kuda lain di luar kandangku yang sama bagusnya dengan kudaku sendiri, padahal aku telah memerintahkan untuk membeli sepasang kuda yang paling
bagus di Paris?"

Melihat majikannya mengerutkan dahi dan mendengar nada suaranya yang keras, Ali menundukkan kepala.

"Bukan salahmu, Ali," 

kata Count dalam bahasa Arab dengan nada yang ramah sekali. 

"Engkau tidak banyak mengetahui tentang kuda Inggris." Wajah Ali kembali cerah.

"Yang Mulia kuda yang Tuan maksudkan itu tidak dijual," kata Bertuccio.

Monte Cristo mengangkat bahu, lalu berkata,

"Tidakkah kau tahu bahwa segala sesuatu akan dijual kepada orang yang berani membayar harganya?"

"Tuan Danglars membayar enam belas ribu frank untuk sepasang kuda itu, Yang Mulia."

"Tawarkan kepadanya tiga puluh dua ribu frank. Dia seorang pengusaha, dan seorang pengusaha tak akan melewatkan kesempatan mendapat untung."

"Apakah Tuan berbicara sungguh-sungguh, Yang Mulia?" tanya Bertuccio ragu-ragu.

Monte Cristo memandang Bertuccio dengan heran seakan-akan ia tidak percaya Bertuccio bertanya seperti itu.

"Aku harus mengunjungi seseorang nanti jam lima sore," katanya. 

"Aku minta supaya kuda itu telah dipasang di keretaku dan menunggu di muka pintu."

"Bolehkah saya mengingatkan bahwa sekarang telah jam dua siang?"

"Aku tahu." 

Hanya itu jawab Monte Cristo. 

Pada jam lima sore Count of Monte Cristo memukul gong tiga kali. Setiap pukulan mempunyai makna. Sekali untuk Ali, dua kali untuk Baptistin, pelayan, dan tiga kali
untuk Bertuccio.

Bertuccio masuk menghadap.

"Bagaimana dengan kuda itu?" dia bertanya.

"Sudah dipasang, Tuan."

Count of Monte Cristo pergi ke luar dan melihat sepasang kuda yang tadi pagi terpasang pada kereta Danglars, sekarang sudah terpasang di keretanya. 

"Benar-benar kuda indah gagah," katanya lagi. 

''Bagus engkau telah berhasil membelinya, sekalipun agak terlambat."

"Saya mendapat banyak kesukaran memperolehnya, Tuan," kata Bertuccio, 

"dan saya terpaksa membayar dengan harga yang tinggi sekali."

"Apakah karena itu keindahannya menjadi berkurang?"

Bertuccio berbalik akan mengundurkan diri.

"Tunggu!" Monte Cristo mencegahnya. 

"Aku memerlukan sebidang tanah di tepi pantai — di Normandia umpamanya - antara Le Havre dan Boulogne. Harus ada pelabuhan kecil yang dapat dimasuki korvet. Kapal itu harus siap setiap saat untuk berlayar kapan saja aku
memerintahkannya. Coba cari keterangan tentang tempat seperti itu, dan bila engkau mendengarnya, lihat. Kalau engkau sendiri merasa puas, beli tanah itu atas namamu.
Korvet itu sekarang sedang dalam perjalanan ke Fecamp, bukan?"

"Saya melihatnya meluncur ke lautan pada hari yang sama kita meninggalkan Marseilles."

"Dan kapal pesiar, di mana sekarang?"

"Di Martigues,"

"Baik. Hubungi kapten masing-masing setiap saat agar mereka tidak tertidur.”

Count of Monte Cristo menaiki keretanya dan memerintahkan sais membawanya ke rumah Baron Danglars.

Ruang tamu berwarna putih dan emas di rumah Baron Danglars sudah sangat terkenal di Rue de la Chaussee-d' Antin, Di ruang itulah dia menerima tamunya, dengan maksud memukaunya sejak pertemuan pertama.

"Benarkah saya mendapatkan kehormatan berhadapan dengan Tuan de Monte Cristo?" katanya ketika dia masuk ruangan.

"Dan benarkah saya mendapatkan kehormatan berhadapan dengan Baron Danglars, Ksatria dari Legiun Kehormatan dan Anggota Dewan Perwakilan?" 

Count of Monte Cristo menyebut semua gelar yang tertulis dalam kartu nama Danglars.
Danglars merasakan sindiran itu dan menggigit bibirnya.

"Saya menerima sebuah surat dari perusahaan Thomson and French," kata Danglars, 

"tetapi maksudnya tidak begitu jelas bagi saya. Itulah sebabnya saya mampir kerumah Tuan
meminta penjelasan."

"Saya siap untuk mendengarkan dan saya senang sekali kalau dapat menolong."

Danglars mengambil surat dari dalam saku bajunya.

"Surat ini meminta saya memberikan kredit tanpa batas kepada Tuan."

"Apa yang aneh dalam hal ini?"

'Tidak ada. Tetapi kata tanpa batas itu . . ."

"Apakah Tuan mengira bahwa Thomson and French tidak dapat dipercaya?" 

Monte Cristo bertanya dengan nada sepolos mungkin.

"Oh, bukan begitu. Perusahaan itu sangat dapat dipercaya!"

jawab Danglars dengan senyum menyindir. 

''Tetapi dalam dunia keuangan kata 'tanpa batas' itu sangat samar-samar. Kesamar-samaran sama dengan keragu-raguan, dan
seorang yang bijaksana akan menjauhkan diri dari perkara-perkara yang meragukan. Maksud saya, ingin sekali mendengar dari Tuan berapa jumlah yang hendak Tuan pinjam dari saya."

"Alasan saya mengapa membuka kredit tanpa batas, karena saya tidak tahu dengan pasti terlebih dahulu berapa jumlah yang akan saya perlukan."

Danglars menyandarkan dirinya ke tempat duduknya. Dengan senyum angkuh dia berkata, 

"Tuan tidak perlu khawatir. Tuan boleh yakin bahwa sekalipun uang saya terbatas jumlahnya, namun akan cukup untuk memenuhi pinjaman yang tertinggi sekalipun, bahkan bila Tuan bermaksud meminta sejuta . . .”

"Maaf, berapa?"

"Saya katakan sejuta," 

kata Danglars tidak menangkap maksud yang tersirat.

"Tetapi apa arti sejuta bagi saya?" kata Monte Cristo.

"Kalau saya hanya memerlukan sejuta, saya tidak perlu bersusah-susah membuka kredit untuk jumlah itu! Di kantong saya selalu ada uang sekurang-kurangnya sejumlah itu." 

Monte Cristo mengeluarkan dari tempat kartu namanya, dua buah surat berharga masing-masing seharga lima ratus ribu frank.


Orang seperti Danglars harus dipukul dengan gada, bukan hanya ditusuk. Dia menatap Monte Cristo dengan pandangan bingung, kagum dan tidak mengerti.

"Barangkali, sebaiknya Tuan berterus-terang saja bahwa tuan tidak mempercayai Thomson and French" kata Monte Cristo selanjutnya. 

"Saya tidak menghilangkan kemungkinan itu, dan sekalipun saya bukan ahli usaha, saya cukup waspada menjaga segala kemungkinan. Ini ada dua buah lagi surat yang sama seperti yang Tuan terima.

Yang sebuah dari Firma Arstein and Eskeles di Wina, ditujukan kepada Baron de Rothschild, membuka kredit tanpa batas bagi saya. Yang satu lagi dengan maksud yang sama dari Firma Baring di London kepada Tuan Lafitte."

Danglars sekarang sudah betul-betul terpukul rubuh. Dia membuka kedua surat itu dengan tangan gemetar dan memeriksa tanda tangannya dengan ketelitian yang dapat
menyinggung perasaan seandainya Monte Cristo tidak mengetahui bahwa dia benar-benar sedang dalam kebingungan.

"Ini, tiga buah tanda tangan yang berharga jutaan frank!" kata Danglars. 

Dia berdiri seakan-akan hendak memberikan
penghormatan kepada kekuasaan emas yang diwujudkan dalam bentuk orang duduk yang di hadapannya. 

''Tiga buah kredit tanpa batas! Maafkan saya, Count, saya sudah tidak curiga lagi, namun masih heran bahwa hal serupa ini ada."

"Nah," kata Count of Monte Cristo, 

"Setelah sekarang ada saling pengertian antara kita, setelah tidak ada lagi kecurigaan, tidakkah sebaiknya sekarang kita menentukan jumlah sementara untuk tahun pertama ini Katakanlah enam juta, umpamanya.”

"Baik, enam juta," jawab Danglars dengan suara parau.

Monte Cristo berdiri.

"Saya harus mengakui suatu hal kepada Tuan, Count," kata Danglars. 

"Saya rasa, saya mengenal semua kekayaan
yang berada di Eropa, tetapi kekayaan Tuan belum pernah saya dengar. Mungkinkah ini kekayaan yang belum lama tergali?"

"Bahkan sebaliknya, kekayaan yang sudah sangat tua. Semacam kekayaan keluarga yang oleh pewarisnya dilarang disentuh sampai suatu saat tertentu. Jumlahnya sekarang
sudah menjadi tiga kali lipat karena bunganya. 

Masa larangan itu telah berakhir beberapa tahun yang lalu, sehingga ketidak tahuan Tuan tentang ini dapat dipahami. Saya pikir dalam waktu yang dekat Tuan mendengar lebih
banyak lagi tentang ini.” 

Monte Cristo menyertai ucapannya dengan senyuman yang membuat Franz 'Epinay bergidik tempo hari.

"Ya, mungkin nanti kalau kita sudah saling mengenal dengan lebih baik," jawab Danglars. 

“Untuk hari ini, saya akan merasa senang sekali bila dapat memperkenalkan Tuan kepada istri saya — maafkan keinginan saya ini — karena langganan seperti Tuan boleh dikatakan merupakan keluarga sendiri."

Monte Cristo mengangguk tanda ia menyetujui maksud tuan rumahnya. Danglars membunyikan bel, seorang pelayan muncul. 

"Apa Barones ada di rumah?” tanya
Danglars.

"Ada, Tuan."

"Ada tamu?"

"Ada, Tuan.”

"Siapa? Tuan Debray?" 

Tanya Danglars dengan kegirangan yang dibuat-buat yang membuat Monte Cristo
tersenyum dalam batin karena ia telah mengetahui rahasia keluarga Danglars yang sebenarnya sudah bukan rahasia lagi.

"Benar, Tuan," jawab pelayan.

Danglars mengangguk. Kembali menghadap kepada Monte Cristo ia berkata, 

“Tuan Debray adalah kawan lama kami. Ia sekertaris Menteri Dalam Negeri. Adapun istri
saya, Nyonya de Sevieres, berasal dari keluarga bangsawan yang telah tua sekali. Dia kawin dengan saya setelah menjanda dari Marquis of Nargonne."

"Saya belum mendapat kehormatan bertemu dengan Nyonya Danglars, tetapi dengan Tuan Lucien Debray, sudah.”

"Di mana Tuan berkenalan dengan dia?"

"Di rumah Tuan Albert de Morcerf “

"Ah, rupanya tuan telah mengenal Viscount muda itu?”

"Kami bertemu di Roma dan bersama-sama selama karnaval."

"Oh, ya. Saya ada mendengar kabar tentang
pengalamannya dengan bandit-bandit Roma dan pembebasannya yang penuh rahasia. Saya rasa dia menceriterakannya kepada istri dan anak saya ketika baru kembali dari Italia."

"Barones sudah menunggu, Tuan,” kata pelayan yang sudah masuk kembali ke ruangan.

“Ijinkan saya menunjukkan jalan," 

kata Danglars kepada Count of Monte Cristo.

Nyonya Danglars yang masih kelihatan cantik sekalipun usianya sudah tiga puluh enam tahun, duduk di depan piano. Lucien Debray duduk melihat-lihat album. Debray telah sempat menceriterakan sedikit tentang Count of Monte Cristo ini. 

Tergugah oleh ceritera Albert ditambah dengan keterangan-dari Debray, keinginan Nyonya
Danglars untuk bertemu dengan Count of Monte Cristo lebih meningkat lagi. Oleh sebab itu ia menerima kedatangan suaminya dengan sebuah senyuman, suatu hal yang jarang sekali terjadi, la menyebut Count of Monte Cristo dengan membungkukkan badan yang anggun sekali.

Debray saling hormat dengan Count of Monte Cristo Seperlunya, sedangkan kepada Danglars ia memberikan salam yang akrab.

"Saya perkenalkan Count of Monte Cristo," kata Danglars.

'Tentang beliau ini saya hanya akan mengatakan sesuatu yang pasti akan membuat beliau menjadi favorit di kalangan wanita kita. Beliau datang di Paris dengan
maksud tinggal selama setahun dan menghamburkan uang sebanyak enam juta frank selama itu. Ini berarti bahwa kita dapat mengharapkan serangkaian pesta dansa, pesta
makan."

"Sayang sekali Tuan memilih waktu yang kurang tepat,"

kata Nyonya Danglars. 

"Paris sangat tidak menyenangkan dalam musim panas. Tak ada pesta dansa, resepsi atau banket. Opera Italia sedang di London dan opera Perancis sedang di mana-mana kecuali di Paris. Satu-satunya hiburan hanya tinggal pacuan kuda di Champ de Mars dan Satory. Tuan menyukai kuda, Count?"

"Saya lama sekali tinggal di Timur, Nyonya, dan seperti Nyonya ketahui orang-orang Timur hanya menghargai dua perkara dalam dunia ini, keindahan kuda dan kecantikan wanita."

Pada saat itu pelayan wanita kepercayaan Nyonya Danglars masuk ruangan dan membisikkan sesuatu ke telinga majikannya. Wajah Barones mendadak pucat. Dia
berteriak, 

"Tak mungkin!" 

Lalu berbalik kepada suaminya,

"Benarkah yang dikatakan pelayan itu?"

"Apa yang dikatakannya?" jawab Danglars, jelas merasa tersinggung.

"Dia mengatakan bahwa ketika sais hendak memasang kuda pada kereta, dia menemukan kedua kuda itu tidak berada di kandangnya. Bolehkah saya bertanya apa artinya semua ini?"

"Dengar dulu baik-baik . . ." kata Danglars.

"Aku akan mendengarkan, karena aku mau tahu apa yang hendak kau katakan. Saya meminta Tuan-tuan ini menjadi hakim dan saya akan memulai dengan memberikan data-data ini. Tuan-tuan, Baron Danglars mempunyai sepuluh ekor kuda Dua di antaranya milik saya, sepasang kuda terindah di Paris. 

Tuan telah mengetahuinya, Tuan Debray,
kuda abu-abu berbintik-bintik hitam. Nah, justru pada saat saya hendak meminjamkannya kepada Nyonya de Villefort
untuk pergi ke Boulogne esok hari, kedua kuda itu tak ada di kandangnya. Tak usah diragukan lagi, Tuan Danglars telah menjualnya karena ada keuntungan beberapa ribu frank. Sungguh menyebalkan orang-orang dagang mata duitan itu!"

"Kuda itu terlalu beringas, sayang," kata Danglars,

"Umurnya baru empat tahun, dan aku selalu khawatir akan keselamatanmu. Aku akan mencari gantinya yang seperti itu, tetapi yang lebih tenang, lebih jinak, yang tidak akan
menegangkan urat sarafku."

Barones mengangkat bahunya dengan air muka menghina.

"Ya Tuhan!" teriak Debray. 

"Saya lihat kuda itu terpasang pada kereta Count of Monte Cristo!"

"Benar?" Nyonya Danglars berlari ke jendela. 

"Betul, itu kudaku!"

Danglars kebingungan.

"Bagaimana mungkin?" kata Count of Monte Cristo menunjukkan keheranan.

Danglars tak berkata sepatah pun. Dia membayangkan suatu bencana besar dalam waktu yang dekat. Debray yang juga mencium akan segera timbul badai, meninggalkan mereka. Monte Cristo yang tidak ingin merusak lagi keuntungan yang timbul dari suasana itu dengan tinggal terlalu
lama, mengangguk kepada Nyonya Danglars meminta diri, lalu pergi meninggalkan Danglars dalam cengkeraman amarah istrinya.

"Bagus sekali'" pikir Count dalam hatinya. 

"Aku telah berhasil. Kedamaian rumah tangga Danglars sekarang sudah berada dalam telapak tanganku, dan aku akan segera pula berhasil menanamkan hutang budi pada keduanya dengan sekali pukul. Aku ingin diperkenalkan kepada Eugenie Danglars, tetapi itu masih dapat menunggu."

Dengan pikiran itu dia naik ke dalam keretanya dan kembali ke rumahnya.

Dua jam kemudian Nyonya Danglars menerima sepucuk surat dari Monte Cristo. Dalam surat itu Monte Cristo mengatakan bahwa ia tidak ingin memasuki Paris dengan mulai menyakiti seorang wanita cantik. 

Dia akan berterima kasih sekali apabila Nyonya Danglars mau menerima kembali kedua kudanya, yang dia kirimkan bersama surat itu, lengkap dengan pakaiannya yang sudah dilihatnya tadi, ditambah dengan sebuah intan yang dipasangkan pada perhiasan telinga setiap kuda.

Danglars pun menerima sepucuk surat, dalam surat itu Count of Monte Cristo meminta ijin memuaskan keinginannya sebagai seorang jutawan dan meminta maaf, mengembalikan sepasang kuda itu dengan cara Timur.

Sore itu Monte Cristo pergi ke rumahnya di Auteuil, dikawani oleh Ali. Esok siangnya, Ali dipanggil. Dia menemui majikannya di ruang kerja.

"Ali," kata Monte Cristo, .

"aku dengar engkau ahli dalam melempar laso. Betul itu?"

Ali mengangguk, lalu tegak kembali dengan bangga.

"Baik. Dapatkah engkau menghentikan seekor sapi jantan dengan laso?’

Ali mengangguk.

"Harimau?"

Mengangguk lagi.

"Singa?"

Ali menirukan cara melempar laso dengan gerakan tangan dan meniru binatang tercekik.

"Yah, aku mengerti. Pernahkah engkau berburu singa?" 

Ali tersenyum.

"Baik. Sekarang dengarkan. Sebentar lagi akan lewat sebuah kereta dibawa kabur sepasang kuda abu-abu berbintik bintik hitam, kuda yang kemarin kugunakan. Sekalipun dengan kemungkinan engkau mati terinjak engkau
harus menghentikannya tepat di muka rumah."

Ali berlari ke luar, lalu menarik sebuah garis dari pintu depan ke jalan. Dia kembali lagi dan menunjukkan garis itu kepada majikannya. 

Monte Cristo menepuk bahunya. Itulah caranya dia mengucapkan terima kasih kepada Ali. Orang Nubla itu keluar lagi, lalu duduk di muka rumah sambil merokok.

Tak lama kemudian terdengar suara kereta mendekat dengan cepat. Sesaat kemudian kereta itu sudah tampak. Saisnya berusaha dengan sekuat-kuatnya menghentikan kuda yang berlari seperti dikejar setan itu, namun sia-sia.

Di dalam kereta, seorang wanita dan seorang anak laki-laki berumur delapan tahun saling berpegangan dengan erat Mereka begitu takut sehingga tidak kuasa lagi bersuara.

Ali meletakkan pipanya, mengeluarkan seuntai laso, lalu melemparkannya ke arah kuda. Kuda yang di sebelah kiri terjerat kedua kaki depannya. Dia terbawa lari beberapa langkah sebelum kuda itu jatuh tersungkur. Kuda yang
seekor lagi terpaksa pula berhenti. Saisnya jatuh terjungkir dari kursinya. 

Ali sudah berhasil menangkap kuda yang
seekor lagi pada hidungnya dengan pegangan sekuat kakatua. Karena kesakitan dan tertarik oleh kawannya kuda itu pun rebah di sebelah pasangannya.

Semua ini terjadi dalam sekejap, tetapi cukup lama untuk seorang laki-laki berlari ke luar dari rumah di depan tempat kejadian, diikuti oleh beberapa pelayannya. 

Segera setelah sais membuka pintu kereta, laki-laki ini mengangkat ke luar wanita yang memegang bantal di sebelah tangannya dan
menekankan anaknya yang telah pingsan ke dadanya dengan tangan yang lain. Monte Cristo mengangkat keduanya ke dalam rumah lalu merebahkan mereka pada sebuah
dipan.

"Nyonya telah selamat sekarang," katanya.

Wanita itu menunjuk kepada anaknya dengan air muka yang lebih berarti dari pada dengan permohonan. Anak itu masih belum sadarkan diri.

"Ya, Nyonya, saya mengerti," kata Monte Cnsto memeriksa anak itu, 

"tidak ada alasan untuk khawatir. Dia tidak terluka, hanya pingsan karena ketakutan."

'"Ah, jangan berkata begitu hanya untuk menenangkan hati saja! Lihat betapa pucatnya dia! Oh, anakku, Edouard! Bicaralah, anakku! Tuan, tolong panggilkan dokter! Saya mau memberikan semua kekayaan saya kepada siapa pun yang bisa mengembalikan anak ini kepada saya!”

Monte Cristo membuka sebuah laci kecil, lalu mengeluarkan sebuah botol berisi cairan berwarna merah darah.

Dikeluarkannya cairan itu beberapa tetes di antara kedua bibir anak itu. Sekalipun masih pucat, Edouard membuka matanya hampir seketika.

Melihat ini ibunya hampir lupa daratan karena gembira.

"Di mana saya? Kepada siapa saya harus berterima kasih setelah selamat melampaui cobaan Tuhan yang berat ini?”

"Nyonya," kata Monte Cristo, 

"Nyonya berada di rumah seorang yang merasa sangat berbahagia memperoleh kesempatan
untuk menghindarkan Nyonya dari bencana."

“Ini semua disebabkan keinginan saya yang tidak baik!. Setiap orang di Paris berbicara tentang kuda yang indah gagah kepunyaan Nyonya Danglars, dan saya cukup gila untuk ingin mencobanya.”

"Apa kata Nyonya?" dengan kepura-puraan yang mengagumkan.

"Apakah kedua kuda itu milik Nyonya Danglars?"

"Ya. Tuan mengenalnya?"

"Saya beruntung sekali telah berkenalan dengan beliau. Kegembiraan saya dapat menolong Nyonya menjadi berlipat ganda, kecelakaan yang diakibatkan kuda itu mungkin dapat Nyonya persalahkan kepada saya. 

Soalnya begini, saya membeli kuda itu dari Baron Danglars kemarin. 
Tetapi, rupanya barones sangat sedih kehilangan kesayangannya itu. Oleh sebab itu saya kembalikan lagi keduanya pada hari itu juga."

"Kalau begitu, tuan mesti Count of Monte Cristo yang diceriterakan Hermine kemarin."

"Benar, Nyonya."

"Saya, Nyonya Heloise de Villefort."

Monte Cristo membungkuk menerima perkenalan itu, seakan-akan baru sekali itu mendengar nama itu.

"Oh, betapa besar rasa terima kasih suami saya nanti! Tuan telah menyelamatkan putra dan istrinya sekaligus.
Bila tidak karena pelayan Tuan yang gagah berani itu, kami pasti sudah mati. Saya harap Tuan memperkenankan saya memberikan penghargaan kepadanya."

''Saya harap Nyonya tidak merusak kesetiaan Ali kepada saya. Ali adalah hamba saya. Dengan menyelamatkan jiwa Nyonya ia hanya mengabdi kepada saya, dan itu adalah
kewajibannya.”

"Tetapi ia telah mempertaruhkan jiwanya sendiri."

"Saya pernah menyelamatkan jiwanya, Nyonya. Sebab itu boleh dikatakan jiwanya telah menjadi milik saya."

Nyonya de Villefort terdiam. Mungkin ia berpikir tentang orang aneh ini yang mempesonakan setiap orang yang pernah melihatnya. 

Dalam kediaman ini the count of  Monte Cristo memperhatikan Edouard yang terus-menerus diciumi ibunya. Perawakannya pendek dan kurus, wajahnya agak pucat seperti biasa terdapat pada anak-anak yang berambut merah. Namun, rambutnya yang hitam lebat dan terurai sampai ke bahunya dan kadang-kadang menutupi sebagian wajahnya, lebih menonjolkan lagi keliaran matanya yang
penuh dengan kelicikan dan kebinalan. 

Anak itu melepaskan dirinya dari dekapan ibunya, lalu membuka laci tempat Monte Cristo menyimpan botol obat tadi. Dengan air muka
seorang anak yang biasa melaksanakan keinginannya dan yang tidak suka dicegah, ia membuka tutup botol-botol yang berjejer di dalam laci tanpa meminta izin kepada siapa
pun.

"Jangan menyentuh itu!" kata Monte Cristo tajam. 

"Ada beberapa yang sangat berbahaya. Jangankan tertelan, terhisap pun sudah mematikan"

Nyonya de Villefort terkejut. la menarik anaknya. Setelah agak reda, ia memperhatikan keadaan ruangan.

"Di sinikah Tuan biasa tinggal?" tanyanya, lalu berdiri.

"Tidak, Nyonya, rumah ini hanyalah semacam tempat menyepi. Saya tinggal di Champs Elysee No. 30 . . . Saya lihat Nyonya telah pulih betul dan rupanya sudah ingin pulang. Saya akan menyuruh memasang kuda pada kereta
saya dan Ali akan mengantarkan Nyonya sampai ke rumah.

Sementara itu sais Nyonya biar memperbaiki dahulu kereta Nyonya di sini dan kalau dia sudah selesai saya akan meminjamkan sepasang kuda saya untuk menariknya langsung ke rumah Nyonya Danglars."

"Tetapi saya takut menggunakan kuda itu lagi."

"Nyonya akan melihat nanti," kata Monte Cristo, 

"di tangan Ali mereka akan jinak seperti biri-biri."

Benar, Ali baru saja menghampiri kuda itu dengan membawa sebuah kain yang telah dicelupkan ke dalam cairan berbau asam. Dia menyapu hidung kuda dengan lap itu dan menyeka buih dan keringatnya. Lalu dia
memasangkannya pada kereta Monte Cristo. 

Setelah itu dia naik dan duduk di tempat sais. Begitu jinaknya pasangan kuda itu sekarang sehingga Ali terpaksa menggunakan cambuknya untuk membuatnya mulai bergerak. Hal ini sangat mengherankan sekali bagi orang-orang di sekitar itu.

Sekalipun hanya dicambuk sekali-sekali, kuda itu tetap berjalan lambat sehingga memerlukan waktu dua jam untuk sampai ke rumah Nyonya de Villefort di Faubourg Saint-Hoftore.



Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...