Sabtu, 31 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 69

BAB LXIX


YANG pertama-tama dilakukannya setelah terjaga, menarik napas panjang untuk meyakinkan dirinya bahwa tiada luka di badannya. Cara ini diketahuinya dari Don
Quisot, satu-satunya buku yang pernah dia baca sehingga hafal.

"Tidak," katanya, 

"mereka tidak membunuh, juga tidak
melukaiku. Tetapi mungkin aku sudah dirampok?" 

Dengan cepat dia merogoh kantongnya. Uang dua ribu frank yang dia sisihkan untuk bekal perjalanan masih berada di tempatnya.

Juga dompet yang berisi kertas berharga lima juta masih ada. 

"Perampok aneh!" pikirnya. 

"Sangkaanku betul, mereka akan meminta uang tebusan."

Perlukah dia meminta penjelasan dari bandit-bandit itu atau menunggu saja dengan sabar sampai mereka mulai bertindak? Pilihan yang kedua rupanya yang dianggapnya paling baik. 

Dia menunggu. Sementara itu seorang penjaga ditempatkan di muka pintunya. Jam delapan penjaga diganti. Danglars ingin sekali mengetahui siapa yang menjaganya. 

Dia melihat dari Bias-bias cahaya, bukan cahaya matahari melainkan cahaya lampu . . . masuk melalui celah-celah pintu. Melalui
celah itulah dia mengintip ke luar dan melihat penjaga sedang minum brendi Tempat minumnya diperbuat dari kulit.

Itulah sebabnya baunya menjadi tidak sedap. 

Danglars mundur lagi. Tengah hari penjaga diganti lagi. Keinginannya hendak mengetahui timbul lagi. Sekali lagi dia mengintip. Penjaga
yang baru ini seorang yang tinggi dan kekar dengan mata besar, bibir tebal, hidung pesek, rambut merah sepanjang bahu di ikat beberapa buah sehingga kelihatan seperti Ular-ular
bergantungan. 

Orang ini lebih menyerupai raksasa daripada manusia, pikir Danglars. 

"Tapi aku ini sudah terlalu tua dan tidak untuk menjadi santapan yang sedap."

Danglars masih mempunyai sisa kepercayaan diri untuk bergurau.
Pada saat yang bersamaan, seperti hendak membuktikan bahwa dirinya bukan raksasa pemakan manusia, penjaga itu duduk di depan pintu, lalu mengeluarkan dari kantongnya
sepotong roti hitam, beberapa buah bawang dan sekerat keju.

"Semoga setan menyergapku kalau aku dapat mengerti bagaimana orang dapat makan bebusukan serupa itu!" 

pikir Danglars ketika dia mengintip lagi. Dia duduk kembali di atas kulit biri-biri yang mengingatkannya kepada bau brendi penjaga yang lalu.

Betapapun busuknya sesuatu, ia mempunyai daya tarik yang kuat sekali untuk perut yang kosong. Tiba-tiba Danglars merasa lapar. Tiba-tiba pula pandangannya berubah, si penjaga sudah tidak buruk lagi, rotinya tidak hitam lagi dan kejunya pun sudah kurang baunya. Dia berjalan ke pintu dan mengetuknya.

"Che cosa?" tanya penjaga.

"Sudah waktunya aku diberi makan," 

kata Danglars sambil menggedor-gedor daun pintu. Mungkin karena dia tidak mengerti atau mungkin juga dia tidak mendapat perintah untuk mengurus makan tahanannya, penjaga itu kembali meneruskan makan siangnya.

Danglars merasa tersinggung, dan karena tidak mau berurusan lagi dengan orang kasar semacam itu. Dia pun kembali merebahkan dirinya.

Empat jam berlalu. Raksasa sudah diganti lagi dengan yang lain. Perut Danglars sudah melilit-lilit pedih. Dengan perlahan-lahan dia berdiri, lalu mendekati pintu dan mengintip lagi.

Terlihatlah wajah cerdik Peppino. Danglars
mengetuk pintu perlahan-lahan.

"Ya," 

Jawab Peppino yang fasih berbahasa Perancis
berkat seringnya berkunjung ke hotel Signor Pastrini. 

Ketika dia membuka pintu, Danglars mengenalnya sebagai orang yang berteriak 'Destro la testa “ tadi malam. Tetapi sekarang bukan waktunya untuk bertengkar. Danglars berkata dengan senyum seramah mungkin, 

"Maaf Tuan, bolehkah saya mendapat makanan?"

"Makanan?" Peppino seperti terkejut. 

"Apakah Tuan merasa lapar?"

"Ya. Saya lapar. Lapar sekali."

"Kapan Tuan hendak makan, Yang Mulia?"

"Sekarang juga kalau mungkin."

"Tak ada yang lebih sederhana dari itu. Tuan dapat memesan apa saja . . . dengan membayar tentu, seperti layaknya di antara orang-orang Kristen yang jujur."

"Tentu," kata Danglars, 

"sekalipun kalau boleh saya berterus-terang, menurut pendapat saya orang yang menahan
wajib memberi makan tahanannya."

"Itu bukan kebiasaan di sini, Yang Mulia."

"Sebenarnya bukan alasan yang baik, tetapi saya bersedia menerimanya," 

kata Danglars yang berharap dapat
mempengaruhi penjaganya dengan keramahannya.

"Apa yang hendak Tuan pesan? Tuan cukup memberi perintah saja.”

"Ada dapur di sini?"

"Tentu saja, Tuan."

"Tukang masak juga?"

"Yang terbaik."

"Minta goreng ayam, daging ... apa saja asal dapat makan!"

'Terserah Tuan. Bagaimana kalau ayam goreng?"

"Baik.”

Peppino berteriak keras sekali, 

"Ayam goreng untuk Yang Mulia!" 

Tak lama berselang seorang anak muda datang mengantarkan pesanan di atas talam perak.

"Silakan, Yang Mulia," 

kata Peppino setelah mengambil baki dari tangan anak muda tadi dan meletakkan di atas
meja, yang bersama sebuah kursi dan tempat tidur merupakan satu-satunya perabotan dalam kamar itu. Danglars meminta pisau dan garpu.

"Baik, Yang Mulia," 

kata Peppino sambil menyerahkan garpu kayu dan pisau yang tumpul ujungnya.

Danglars memegang garpu di satu tangan dan pisau di tangan lainnya siap untuk mengiris-iris goreng ayam.

"Maaf dulu, Yang Mulia" 

kata Peppino, meletakkan tangannya di bahu Danglars. 

"Kebiasaan di sini membayar sebelum makan."

Danglars berpikir. 

"Mereka akan memerasku, sebaiknya aku berlagak royal. Aku dengar bahwa harga-harga di Italia murah sekali. Seekor ayam mungkin hanya sekitar dua belas sou saja.” 

Dengan bergaya dia memberikan mata uang dua puluh frank kepada Peppino.

Peppino menerimanya dan Danglars menggerakkan pisaunya untuk mulai makan.

"Maaf sebentar, Yang Mulia " kata Peppino lagi, 

"masih kurang."

"Tidak salah dugaanku,” 

pikir Danglars. Dia mengambil keputusan untuk mengalah. 

"Berapa lagi yang harus saya bayar untuk ayam kurus kering ini?"

"Hanya sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus delapan puluh frank, Yang Mulia."

Mata Danglars terbelalak. 

"Lucu sekali," 

katanya sambil menghadapi lagi ayam gorengnya. Tetapi Peppino mencegahnya.

"Engkau mau bergurau rupanya?”

"Kami tidak pernah bergurau, Yang Mulia," jawab Peppino sungguh-sungguh.

"Seratus ribu untuk ayam semacam ini?”

"Tuan tidak akan dapat membayangkan betapa sukarnya beternak ayam dalam gua seperti ini, Yang Mulia."

"Sudah, sudah!" kata Danglars. 

"Lucu memang kelakarmu itu, tetapi aku lapar. Biarkan aku makan. Ini dua puluh frank lagi untukmu sendiri, kawan.”

"Masih sisa sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus enampuluh frank. Dengan sedikit sabar kita akan segera selesai."

''Tidak!" 

Danglars mulai marah. Dia masih tetap menyangka Peppino berkelakar. 

“Persetan! Engkau tidak tahu dengan siapa engkau berhadapan!"

Peppino memberi isarat dan anak muda tadi mengambil kembali ayam itu dan membawanya ke luar. Danglars melemparkan
dirinya ke atas tempat tidur setelah Peppino
keluar dan mengunci pintu lagi. Perutnya terasa lapar sekali sehingga dia mengira tak akan pernah dapat dikenyangkan.

Tetapi dia bertahan sejam lagi. Setelah itu kembali ke pintu dan berkata, 

"Jangan menyiksa lebih lama lagi. Katakan
apa yang sebenarnya kau kehendaki?"

"Tergantung pada Tuan, Yang Mulia, apa yang Tuan kehendaki dari kami," jawab Peppino. 

"Berikan perintah Tuan dan kami akan melaksanakannya."

"Buka dulu pintu."

Peppino membukanya.

"Aku mau makan!"

"Apakah Tuan merasa lapar. Yang Mulia?"

"Engkau tahu betul aku lapar sekali!"

"Apa yang ingin Tuan pesan?"

"Sepotong roti saja karena ayam terlalu mahal."

"Roti!" Peppino berteriak.

Anak muda datang membawa sepotong kecil roti.

"Berapa harganya?"

"Sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus enam puluh frank, karena Tuan telah membayar empat puluh frank tadi."

"Seratus ribu untuk roti sepotong ini?"

"Benar, Yang Mulia."

"Masa sama dengan ayam!"

"Apa pun yang Tuan pesan harganya sama." 

Masih juga engkau bersikeras untuk berkelakar! Mengapa tidak kau katakan saja hendak membiarkan aku mati kelaparan?"

"Sama sekali tidak, Yang Mulia. Tuan sendiri yang bermaksud bunuh diri. Tuan dapat makan kalau bersedia membayar."

"Tetapi dengan apa harus kubayar, bedebah? Kaupikir aku membawa uang sebanyak itu?"

"Tuan mempunyai lima juta frank dalam kantong, Yang Mulia. Cukup untuk lima puluh ekor ayam."

Tubuh Danglars gemetar. Baru dia mengerti bahwa ini benar-benar kelakar, tetapi bukan kelakar yang main-main.

"Baiklah," katanya, 

"aku membayar seratus ribu frank, boleh
aku makan apa yang aku sukai?" 

'Tentu saja, Yang Mulia."

"Bagaimana caranya aku membayar?" Danglars sudah merasa agak bebas bernafas.

"Sederhana sekali. Tuan mempunyai kredit di Firma Thomson and French. Berikan saja surat perintah membayar dan kami akan menukarkannya di sana."

Danglars menerima pena dan kertas yang disodorkan Peppino, menulis surat itu dan menandatanganinya. 

"Ini"

"Dan ini ayam Tuan."

Danglars menghela napas ketika dia memotong-motong ayam itu. Kecil sekali rasanya untuk seharga itu.

Peppino meneliti dahulu surat itu baik-baik sebelum memasukkannya ke dalam kantong.





Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...