KURANG lebih seratus langkah dari tempat Danglars dan Caderousse duduk minum anggur terdapat perkampungan orang-orang Catalan.
Pada suatu hari dahulu kala, serombongan orang tak dikenal datang dari Spanyol mendarat pada sepotong tanah sempit yang merupakan sebuah tanjung. Pemimpin mereka
yang dapat berbicara sedikit bahasa Provencal, meminta kepada masyarakat Marseilles agar suka memberikan kepada mereka tanjung yang kering itu. Permintaan itu dikabulkan dan tiga bulan kemudian orang-orang pengelana tautan itu mendirikan sebuah perkampungan kecil.
Sekarang, tiga atau empat abad sejak itu, keturunannya tetap setia kepada perkampungannya dan mereka tidak mau
bercampur dengan penduduk Marseilles.
Perkawinan mereka terbatas dalam lingkungannya sendiri saja dan mereka tetap mempertahankan kebiasaan dan bahasa tanah
asalnya.
Dalam salah sebuah rumah pada satu-satunya jalan dalam perkampungan itu, seorang gadis cantik berdiri bersandar pada dinding. Rambutnya hitam legam sedangkan sinar matanya redup seredup sinar mata rusa
betina. Di hadapannya duduk seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun. Duduknya agak gugup dan matanya memandang gadis itu dengan pandangan yang penuh kecemasan bercampur kemarahan. Tetapi sorot mata
gadis itu yang teguh dan tetap lebih menguasai keadaan.
'Dengar, Mercedes," kata pemuda itu.
"Sekarang sudah hampir Paskah lagi, saat yang baik sekali untuk perkawinan. Beri aku jawaban!"
"Aku telah menjawabmu beratus kali, Fernand Dengan terus-menerus bertanya seperti itu engkau hanya akan membenci dirimu sendiri. Aku tidak pernah memberimu harapan.
Aku selalu mengatakan: Aku mencintaimu, sebagai saudara, tetapi janganlah mengharapkan yang lain lagi karena hatiku telah menjadi milik orang lain. Bukankah itu
yang selalu kukatakan kepadamu, Fernand?"
"Benar, memang engkau cukup kejam untuk selalu berterus terang seperti itu."
"Terlepas dari itu, mengapa sebenarnya engkau menghendaki aku, seorang yatim-piatu yang miskin. Satu-satunya milikku hanyalah pondok lapuk yang hampir hancur ini."
"Aku tak peduli betapa miskin engkau, Mercedes. Aku lebih senang memilikimu daripada memiliki anak gadis seorang pemilik kapal yang paling dapat dibanggakan atau
anak gadis seorang pemilik bank yang paling kaya di Marseilles ini. Yang dibutuhkan seorang laki-laki hanyalah isteri yang dapat menjaga kehormatan dan pandai mengatur
rumah tangga. Di mana aku akan dapat menemukan gadis lain yang lebih daripada engkau dalam kedua hal itu?"
"Fernand," jawab Mercedes sambil menggelengkan kepala.
"Seorang wanita dapat menjadi pengatur rumah tangga yang buruk dan bahkan dapat disangsikan kehormatannya apabila dia mencintai laki-laki lain selain suaminya.
Kuharap engkau dapat puas dengan kesediaanku untuk bersahabat. Hanya itulah yang dapat aku janjikan dan aku tidak pernah menjanjikan sesuatu yang aku sendiri tidak
yakin akan dapat memenuhinya"
Fernand berdiri, dia berjalan bolak-balik beberapa saat, kemudian berdiri di hadapan Mercedes. Kedua tangannya mengepal dan matanya penuh amarah.
"Katakanlah sekali lagi, Mercedes, katanya
"Itukah keputusanmu?"
"Aku mencintai Edmond Dantes," jawab gadis itu dengan tenang.
"Dan tak akan ada laki-laki lain yang bakal
menjadi suamiku."
"Dan apakah engkau akan selalu mencintai dia?"
"Selama hayat dikandung badan."
Fernand menundukkan kepala karena harapannya putus, sambil menghembuskan napas panjang-panjang ia mengeluh. Tiba-tiba dia memandang lagi kepada Mercedes
dan berkata di antara gigi-giginya,
"Dan bila dia mati?"
"Bila dia mati, aku pun mati."
"Bagaimana kalau dia melupakanmu?"
"Mercedes!!!" terdengar suara penuh kegembiraan dari luar rumah.
"Oh!" teriak Mercedes. Pipinya menjadi merah karena bahagia.
"Lihat, dia tidak melupakan aku! Itulah dia!"
Mercedes berlari ke pintu, membukakannya dan berkata,
"Aku di sini, Edmond!"
Fernand mundur selangkah seperti orang ketakutan melihat ular berbisa, kemudian menjatuhkan diri ke kursi Edmond dan Mercedes saling rangkul. Matahari Marseilles
yang cerah menembus masuk melalui pintu dan menyelimuti mereka sepenuh-penuhnya dengan cahaya.
Mula-mula mereka tidak menghiraukan apa-apa di sekelilingnya. Kebahagiaan telah memisahkan mereka dari dunia lainnya. Tiba-tiba Edmond melihat wajah yang masam yang mengawasinya dari kegelapan kamar. Tanpa sadar Fernand memegang hulu pisaunya yang tergantung pada ikat pinggangnya.
"Maaf" kata Dantes.
"Saya tidak tahu bahwa ada orang ketiga di sini" Sambil memandang Mercedes ia bertanya,
"Siapakah Tuan ini?"
"Dia akan menjadi kawanmu, karena dia kawanku. Dia keponakanku, Fernand, orang yang paling kucintai sesudah engkau. Apakah engkau tidak mengenalnya lagi?"
"Oh, benar juga!" jawab Edmond.
Dengan memegang tangan Mercedes dengan tangan kiri ia mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan Fernand. Tetapi Fernand tetap diam bagaikan sebuah patung.
Edmond melirik penuh tanda tanya kepada Mercedes yang gemetar dan kebingungan.
Kemudian ia melihat lagi kepada Fernand yang
matanya penuh sinar ancaman. Semuanya dia tangkap dalam sekejap. Wajahnya menjadi merah karena marah.
"Ketika aku bergegas-gegas ke mari untuk menemuimu, aku tidak mengira akan menemui musuh dalam rumahmu ini," kata Edmond Dantes.
"Musuh!!!" kata Mercedes dengan mata marah memandang keponakannya.
"Tidak ada musuh di sini! Untukku, Fernand seperti seorang saudara. Dia akan menjabat
tanganmu tanda persahabatan." Mercedes menatap Fernand dengan pandangan yang berwibawa, dan seperti orang yang di sihir Fernand mengulurkan tangan perlahan-lahan
kepada Edmond.
Bagaikan sebuah gelombang yang tak berkekuatan, kebencian Fernand mencair karena sorot mata Mercedes.
Begitu tangannya menjabat tangan Edmond, Fernand sadar hanya itulah yang dapat ia lakukan. Dia membalikkan badan dengan mendadak sekali kemudian berlari ke luar
rumah,
"Oh!!!" keluhnya kepada dirinya sendiri.
Dia berlari seperti orang gila sambil memegang kepala dengan kedua belah tangan.
"Bagaimana aku dapat menyingkirkan dia?
Apa yang dapat kulakukan? Apa yang dapat kulakukan?"
"Mau ke mana engkau bergegas-gegas, Fernand?" seseorang bertanya.
Dia berhenti, melihat sekeliling kemudian
melihat Danglars sedang duduk dengan Caderousse di tempat yang teduh di bawah pohon kedai minum.
"Mampirlah sebentar,” kata Caderousse.
"Ataukah engkau begitu terburu-buru sehingga tidak mempunyai waktu untuk berbincang-bincang dengan kawan?"
"Terutama, dengan kawan yang mempunyai anggur sebotol penuh di hadapannya?" tambah Danglars.
Fernand melihat kedua orang itu penuh kebingungan tanpa berkata sepatah pun..
"Tampaknya dia sedang kehilangan semangat" ujar Danglars menyentuh Caderousse dengan lututnya.
"Mungkinkah kita salah? Apakah ini berarti bahwa Dantes memenangkan perebutan itu?"
"Mungkin begitu," jawab Caderousse.
"Kita lihat saja."
Kemudian dia berkata lagi kepada Fernand,
"Ayo! Bagaimana?"
Fernand menghapus keringatnya yang mengucur di dahi kemudian berjalan perlahan-lahan ke tempat yang teduh itu.
"Hallo," katanya.
"Kalian memanggil aku?" Dia duduk,
merebahkan badan ke atas meja sambil mengeluarkan keluhan seperti orang menangis.
"Kau tahu, Fernand," kata Caderousse.
"Rupamu seperti laki-laki yang ditampik perempuan!" Dia menyertai senda guraunya
ini dengan tertawa kasar.
"Apa katamu?" kata Danglars.
"Pemuda setampan Fernand tak pernah gagal dalam asmara. Tentu engkau hanya berolok-olok, Caderousse,"
''Tidak. Coba dengarkan bagaimana ia berkeluh-kesah. Ayo Fernand, bangkit dan berceriteralah. Tidak sopan membisu kepada kawan yang bertanya tentang kesehatanmu?’
"Kesehatanku baik," jawab Fernand sambil mengepalkan kedua tangan tetapi tanpa menegakkan kepala.
"Nah, Danglars," kata Caderousse sambil berkedip kepada kawannya.
"Beginilah soalnya: Fernand ini, seorang
Catalan yang berani dan salah seorang nelayan yang terbaik di Marseilles, jatuh cinta kepada seorang gadis cantik yang bernama Mercedes. Tetapi sayangnya, Mercedes jatuh cinta kepada Jurumudi Kelas I kapal Le Pharaon. Karena sekarang Le Pharaon telah berlabuh hari ini . . . nah, kau tentu
mengerti."
"Tidak, aku tidak mengerti," jawab Danglars.
"Fernand yang malang ini telah dipersilakan pergi," Caderousse meneruskan.
"Bagaimana kalau benar begitu!" kata Fernand sambil mengangkat kepala dan memandang Caderousse seakan-akan mendapatkan tempat untuk melampiaskan amarahnya.
"Mercedes bebas untuk jatuh cinta kepada siapa pun yang ia kehendaki, bukan?"
"Kalau begitu caramu berfikir," kata Caderousse,
"soalnya menjadi lain! Kukira engkau seorang Catalan. Aku mendengar bahwa seorang Catalan, terutama sekali Fernand Mondego sangat mengerikan pembalasannya."
"Kasihan!" kata Danglars, berpura-pura turut bersedih dari lubuk hatinya.
"Dia tentu tidak mengira bahwa Dantes
akan kembali. Dia berfikir mungkin Dantes mati dalam perjalanan atau sudah tidak setia lagi. Memang, kejadian seperti ini selalu menyakitkan apabila datangnya sangat
mendadak."
'Yang pasti," kata Caderousse yang telah mulai dipengaruhi anggur,
"Fernand bukanlah satu-satunya orang yang dirugikan dengan kembalinya Dantes yang penuh bahagia itu, bukan begitu Danglars?"
"Benar, dan saya cenderung mengatakan bahwa itu akan membawa keburukan bagi dirinya."
"Tak jadi soal. Sementara itu, paling tidak dia akan mengawini Mercedes yang cantik."
Danglars memperhatikan wajah Fernand yang seperti kena timah cair oleh perkataan Caderousse yang bernada sindiran itu.
"Kapan perkawinan itu dilaksanakan?" dia
bertanya.
"Mereka belum kawin!" kata Fernand bergumam.
"Tetapi mereka akan kawin!" kata Caderousse.
"Sama pastinya dengan akan diangkatnya Dantes menjadi Kapten Le Pharaon. Betul bukan, Danglars?"
Danglars terkejut mendengar ucapan Caderousse yang tak disangka ini, yang baginya merupakan sebuah tikaman tajam. Dia memperhatikan wajah Caderousse ingin memastikan apakah ucapannya itu direncanakan atau tidak.
Tetapi dia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan pada wajah orang mabuk itu.
"Baiklah," katanya sambil mengisi gelas-gelas,
"mari kita minum untuk Kapten Edmond Dantes, suami Mercedes yang cantik."
Caderousse mengangkat gelasnya dan menghabiskan isi nya dengan sekali teguk.
Fernand mengambil gelasnya, dan membantingnya ke tanah.
"Hei, hei!" seru Caderousse.
"Apa itu? Coba lihat Fernand. Penglihatanmu lebih baik. Kukira mataku sudah mulai kabur. Engkau tahu bukan, bagaimana anggur merusak pandangan orang. Kukira, aku melihat dua orang sejoli sedang berjalan bergandengan tangan ... Ya Tuhan! Mereka
tidak tahu bahwa kita melihatnya. Mereka berciuman."
Setiap garis kepedihan yang terpancar dari wajah Fernand tidak ada yang luput dari perhatian Danglars.
"Siapa mereka, Fernand? Kau kenal?"
"Ya," jawab Fernand, masa bodoh.
"Dantes dan Mercedes."
"Ah!" teriak Caderousse.
"Benar tidak? Aku sendiri tidak dapat mengenali mereka Hei Dantes! Hei,Nona! Mari ke mari sebentar dan beritahu kami kapan perkawinan akan dilangsungkan. Fernand ini keras kepala, tidak mau mengatakannya
kepada kami."
"Diam!" kata Danglars berpura-pura menahan mulut Caderousse yang karena mabuknya telah berkisar dari tempat duduknya.
"Ayo berdiri dan jangan mengganggu merpati
yang sedang berkasih-kasihan. Lihat Fernand, akalnya lebih sehat."
Danglars memandang kedua teman duduknya. Dalam hati ia berkata.
"Kedua orang tolol ini tiada gunanya bagiku, yang seorang pemabuk yang seorang lagi pengecut. Aku khawatir nasib baik Dantes akan terjadi. Dia akan menikahi gadis itu, menjadi Kapten Le Pharaon dan akan
mentertawakan kami, kecuali . . .” sebuah senyuman tersungging di bibirnya...
"kecuali kalau aku turun tangan."
"Hei!" Caderousse berteriak lagi. Badannya setengah tegak, bertelekan pada meja.
"Edmond! Apa kau tidak melihat kawan-kawanmu, atau engkau terlalu angkuh untuk
berbicara dengan kami?"
"Sama sekali tidak, Caderousse," jawab Dantes.
"Aku tidak angkuh, tetapi aku berbahagia, dan kukira kebahagiaan dapat membuat seseorang menjadi lebih buta daripada angkuh."
"Baik sekali" dalihmu itu," kata Caderousse.
"Apa kabar Nyonya Dantes?"
"Itu belum menjadi namaku," jawab Mercedes tenang,
"Orang bilang, kalau seorang gadis dipanggil dengan nama tunangannya, dia bisa celaka. Sebab itu panggillah saya Mercedes."
"Saya kira perkawinan akan segera berlangsung, bukan?"
kata Danglars sambil membungkuk kepada pasangan remaja itu.
"Secepat mungkin, Tuan Danglars. Hari ini segala persiapan akan diatur di rumah ayah saya, dan besok, atau paling lambat lusa, kami akan merayakan pertunangan kami di kedai ini. Semua kawan kami akan hadir, ini berarti
bahwa tuan kami undang, Tuan Danglars, dan engkau juga, Caderousse."
"Bagaimana dengan Fernand?" tanya Caderousse sambil tertawa bodoh.
"Apakah dia juga diundang?"
"Kawan istriku adalah kawanku juga," jawab Dantes,
"dan kami akan benar-benar kecewa apabila dia tidak hadir."
Fernand membuka mulutnya untuk menjawab, tetapi suaranya tertahan di Penggorokan
"Persiapannya hari ini dan pesta pertunangannya besok atau paling lambat lusa!" seru Danglars.
"Tampaknya Tuan sangat terburu-buru, Kapten!”
"Tuan Danglars," kata Dantes tersenyum,
"saya ingin mengatakan apa yang dikatakan Mercedes kepada Caderousse: jangan memberi saya pangkat yang belum menjadi milik saya. Itu bisa membawa celaka kepada saya”
"Maafkan saya," jawab Danglars.
"saya hanya ingin mengatakan bahwa tampaknya Tuan sangat buru-buru. Padahal waktu sangat banyak Masih ada waktu tiga bulan sebelum Le Pharaon mengarungi lautan lagi."
"Seseorang selalu akan terburu-buru untuk kebahagiaan. Tetapi mengenai diri saya, tidak semata-mata karena ingin mementingkan diri sendiri. Saya harus pergi ke Paris."
"Oh! Apakah Tuan mempunyai urusan di sana?"
"Bukan urusan saya pribadi. Almarhum Kapten LecUre meminta saya melakukan sesuatu baginya. Seperti Tuan pahami, ini merupakan tugas yang suci. Tetapi jangan khawatir. Saya akan segera kembali."
"Ya, saya mengerti," kata Danglars. Kemudian dia berfikir,
"mungkin dia pergi ke Paris untuk menyerahkan surat Marsekal yang dititipkan kepadanya ... Ya Tuhan! Surat itu
memberi aku ilham, suatu ilham yang bagus sekali! Ah, Dantes, kawanku, namamu belum lagi tercatat sebagai orang yang nomor satu dalam buku harian kapal Le Pharaon!"
Ketika Dantes akan pergi meninggalkan mereka, Danglars berkata,
"Selamat jalan!"
"Terima kasih," jawab Dantes sambil membungkuk dengan ramah.
Kedua remaja itu meneruskan perjalanan
penuh bahagia bagaikan dua jiwa menuju surga.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar