Sabtu, 31 Juli 2021

"THE COUNT OF MONTE CRISTO" BAGIAN 71

BAB LXXI



JAM enam sore sebuah kapal pesiar kecil mungil meluncur cepat sekalipun pada saat itu tidak ada angin yang cukup, bahkan untuk membelai rambut seorang gadis pun.

Di haluannya berdiri seorang pemuda tinggi dengan air muka murung, menatap daratan yang makin lama makin jelas seakan-akan muncul dari bawah permukaan laut.

“Itukah Pulau Monte Cristo?" tanyanya dengan nada sedih.

"Benar, Tuan," jawab kapten kapal. 

Beberapa menit kemudian mereka melihat kilat di atas pulau disusul suara tembakan.

"Itu isarat buat kita, Tuan. Apakah Tuan mau
membalasnya sendiri?"

"Ya."

Kapten menyerahkan karaben yang telah berisi kepada anak muda itu yang dengan perlahan-lahan mengarahkannya ke udara, lalu menarik picunya. 

Tak lama kemudian kapal itu sudah membuang jangkar dan sebuah sekoci dengan empat orang pendayung dikeluarkan. Anak muda itu naik ke sekoci, berdiri di buritan dengan
bersidekap. 

Kedelapan bilah kayu pendayung bergerak
bersama-sama, boleh dikatakan tanpa memercikkan air setitik pun. Sekoci melaju dengan begitu cepatnya, sebab di karenakan di dayung oleh empat orang. 

Sedangkan Maximilie duduk terdiam dengan muka yang masam dan pikiran serta hatinya yang terasa kelam oleh kepedihan."

Sesampainya di ujung dermaga mereka disambut oleh penjaga dan dengan sigap Maximilie melompat terus berjalan mengikuti orang tersebut. 

Sesampainya di sebuah istana yang berada di atas pulau monte Cristo itu, dia segera masuk yang di sambut oleh count dengan senyum yang ceria, serta mempersilahkan Maximilien masuk ke meja makan, Monte Cristo mengambil tempat di hadapannya. 

Mereka berada di ruang makan yang mewah.
Beberapa patung pualam berdiri di sudut-sudut yang tepat, pada masing-masing kepalanya terdapat keranjang penuh bermacam-macam bunga dan buah-buahan.

Maximilien memperhatikan seluruh isi ruangan.

"Sekarang saya mengerti mengapa Tuan meminta saya datang ke istana bawah tanah di pulau terpencil ini, yang akan merupakan kuburan, yang bagi seorang raja pun akan
merasa iri melihatnya, karena Tuan mencintai saya.

Bukankah begitu? Rupanya Tuan bermaksud memberi saya kematian yang nyaman, kematian tanpa penderitaan, kematian yang memungkinkan saya pergi dengan nama
Valentine di bibir dan tangan Tuan di tangan saya."

"Terkaanmu tepat sekali, Maximilien," kata Monte Cristo. 

"Itulah maksudku."

"Terima kasih. Mengingat bahwa penderitaan saya akan segera berakhir membuat saya tenteram sekarang."

"Apakah tak ada yang akan kausesalkan sama sekali?"

"Tidak."

"Juga tidak untuk meninggalkan saya?" 

tanya Monte Cristo dengan perasaan yang mendalam.

Maximilien terdiam. Sebutir air mata tergulir.

"Air matamu itu menunjukkan bahwa di dunia ini ada yang terasa berat kautinggalkan tetapi engkau tetap berniat mati".

"Harap jangan berkata lagi. Tuan. Jangan memperpanjang penderitaan saya."

Monte Cristo yakin Maximilien sudah mulai ragu. Ia ingat kepada keraguannya sendiri yang berhasil ia tundukkan di penjara d'If. 

"Aku bermaksud memberi dia kebahagiaan," pikirnya. "Dan aku anggap maksudku ini
sebagai imbalan kepada keburukan yang pernah aku perbuat. Bagaimana kalau aku keliru? Bagaimana kalau orang Ini merasa tidak berbahagia untuk mengecap kebahagiaannya? Apa yang akan terjadi dengan aku sendiri
yang hanya dapat melupakan keburukan dengan mengingat-ingat kebaikan? Setelah itu dia berkata keras:

"Aku tahu kesedihanmu sangat mendalam, Maximilien, tetapi engkau tetap masih mempunyai kepercayaan kepada Tuhan, tetapi pula tidak mau mengambil kesempatan agar
menolong jiwamu."

Maximilien tersenyum sedih. 

"Tuan telah cukup mengenal saya; saya bukanlah pemain sandiwara. Saya bersumpah
bahwa jiwa saya sudah bukan milik saya lagi."

"Coba dengarkan baik-baik, Maximilien," kata Monte Cristo. 

"Seperti kau tahu, aku ini sebatang kara. Aku menganggapmu sebagai anak sendiri. Aku bersedia mengorbankan diri untuk keselamatan jiwa anakku, berarti juga aku bersedia mengorbankan seluruh kekayaanku."

"Apa maksud Tuan?"

"Maksudku, engkau mau mati karena tidak mengetahui kebahagiaan yang mungkin diberikan oleh harta kekayaan..

Aku memiliki hampir seratus juta frank. Aku akan berikan itu semua kepadamu. Dengan kekayaan sebanyak itu kau dapat memenuhi semua yang kauinginkan. Kalau engkau cukup mempunyai ambisi, semua kedudukan terbuka bagimu.

Kemudian dunia Ini dan rubahlah wajahnya. Jangan biarkan dirimu hanyut dibawa gagasan-gagasan gila. Kalau perlu biarlah jadi penjahat, asal jangan bunuh diri"

"Tuan telah berjanji," jawab Maximilien dingin. 

"Dan sekarang sudah setengah dua belas."

"Maximilien! Tegakah engkau melakukannya di hadapan mataku, di dalam rumahku?"

"Kalau begitu, izinkan saya pergi," 

Maximilien berdiri. Mendengar ini wajah Monte Cristo bersinar. 

"Baik kalau begitu " katanya. 

"Engkau mau mati dan kemauanmu itu
sudah tidak dapat dirubah lagi. Memang, engkau sangat tidak berbahagia, seperti katamu sendiri, hanya suatu keajaiban saja yang akan dapat menyembuhkan harimu. Duduklah Maximilien, dan tunggu."

Maximilien menurut, Monte Cristo berjalan ke sebuah lemari. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah kotak perak, lalu menaruhnya di atas meja. Kotak itu dibukanya dan dikeluarkannya lagi sebuah kotak lain yang lebih kecil yang diperbuat dari emas. Dengan menekan tombol yang kecil dan tersembunyi penutup kotak emas itu membuka.

Di dalamnya terdapat zat berminyak yang setengah padat dan warnanya serasi sekali dengan warna emas, mirah delima dan jamrut yang menghias kotak itu. 

Monte Cristo mengambil sebagian kecil dari zat itu dengan sebuah sendok kecil dan memberikannya kepada Maximilien sambil
menatap wajahnya dengan tetap. Pada waktu itu warna zat tadi berubah menjadi hijau.

"Inilah yang kauminta dan inilah pula yang kujanjikan."

"Saya mengucapkan terima kasih dari lubuk hati, Tuan,"

kata anak muda itu ketika menerima sendok.

Monte Cristo mengambil lagi sedikit dengan sendok lain.

"Apa maksud Tuan?" 

Tanya Maximilien dengan menahan tangan Monte Cristo.

"Semoga Tuhan mengampuniku," jawab Monte Cristo tersenyum. 

"Tetapi aku rasa aku pun sudah bosan hidup
sama seperti engkau. Dan karena sekarang ada kesempatan yang baik…”

"Jangan!" pekik Maximilien, 

"Tuhan masih mempunyai apa yang Tuan cintai, dan dicintai. Tuan masih mempunyai
kepercayaan dan harapan... Janganlah berbuat seperti yang hendak saya perbuat! Bagi Tuan akan berarti kejahatan.

Selamat tinggal, wahai sahabat yang mulia dan sejati. Akan saya ceriterakan kepada Valentine di seberang sana semua jasa Tuan kepada saya."

Dengan perlahan-lahan namun tanpa keraguan
Maximilien menelan zat yang aneh itu. Sedikit demi sedikit lampu-lampu yang berada di tangan patung-patung pualam tampak berkurang cahayanya, demikian juga wangi-wangian menjadi kurang semerbak. 

Di hadapannya duduk Monte Cristo menatapnya. Tetapi Maximilien sudah tidak
dapat melihatnya dengan jelas, kecuali cahaya matanya yang berkilat-kilat.

Maximilien merasa badannya berat. Semua benda di sekelilingnya sudah kehilangan bentuk dan warna. Matanya yang sudah buram seperti melihat banyak pintu dan tirai
terbuka.

"Saya sudah hampir habis, kawan," katanya. 

"Terima kasih." 

Dia mencoba mengulurkan tangannya kepada Monte Cristo tetapi terjatuh lagi di sisinya. Badannya terkulai di kursi dan merasakan dirinya melayang terbang ke alam mimpi. 

Sekali lagi dia mencoba mengangkat tangan. Sekarang bahkan sama sekali tidak berdaya lagi. Dia mau mengucapkan selamat tinggal, tetapi lidahnya sudah kaku.

Monte Cristo membuka sebuah pintu. Samar-samar Maximilien melihat seorang wanita yang sangat cantik masuk.

Dengan wajah yang sedikit pucat dan senyum yang sangat menawan seakan-akan dia seorang bidadari dari kayangan.

"Apakah pintu surga sudah terbuka?" 

Pikir orang yang sudah tidak berdaya itu.

"Tampaknya bidadari itu serupa benar dengan Valentine!"

Wanita itu datang mendekatinya.

'Valentine! Valentine!" 

Pekik Maximilien dari dalam hatinya. Tetapi tak sedikit pun suara keluar dari bibirnya. Dan seperti semua tenaganya terhimpun dalam
perasaannya, dia menarik napas panjang. 

Tertutuplah kedua matanya. Valentine memburunya. Bibir Maximilien bergerak lagi
sedikit.

"Dia memanggilmu dalam tidurnya," kata Monte Cristo.

"Kematian hampir saja memisahkan kalian. Untung sekali aku berhasil menghindarkannya. Valentine, jangan hendaknya kalian berpisah lagi di dunia ini. Kalau itu terjadi dia bersedia membenamkan dirinya ke dalam kubur dan itu
tidak baik. Tanpa pertolonganku, mungkin sekali kalian sudah tiada. 

Aku kembalikan masing-masing kepada hak
masing-masing. Mudah-mudahan Tuhan sudi memperhitungkan kebaikanku ini dengan keburukan-keburukan yang telah aku perbuat!"

Valentine memegang tangan Monte Cristo dan dengan kegembiraan yang tidak terbendung dia menciumnya.

"Berterima kasihlah kepadaku, Valentine!" kata Monte Cristo. 

"Katakanlah berulang-ulang bahwa aku telah membahagiakanmu

. .. Engkau tak akan dapat merasakan betapa perlunya keyakinan itu bagiku."

"Ya, Tuan, terima kasih banyak. Saya mengucapkannya dari kedalaman lubuk hati saya!" jawab Valentine. 

"Kalau tuan masih meragukan perasaan saya, silakan bertanya kepada Haydee, saudara saya yang tulus dan telah membuat saya sabar menantikan saat bahagia ini dengan jalan banyak sekali bercerita tentang hal Tuan sejak kami meninggalkan Perancis bersama-sama."

"Oh, engkau mencintai Haydee, Valentine," 

tanya Monte Cristo dengan perasaan yang tidak berhasil dia sembunyikan.

"Dengan sepenuh hati."

"Kalau begitu, rasanya aku mempunyai hak untuk meminta sesuatu darimu..”

"Kepada saya? Cukup berhargakah saya untuk itu?"

"Engkau menyebut Haydee sebagai saudara yang tulus. Saya minta anggaplah dia sebagai saudara kandung sejati.

Valentine. Bayarkanlah kepadanya segala apa yang kauanggap sebagai hutang budi kepadaku. Lindungilah dia oleh kalian, engkau dan Maximilien, karena ..." 

Suara Monte Cristo hampir tidak terdengar, 

"Sejak sekarang dia akan menjadi sebatang kara."

"Sebatang kara?" tanya suara di belakang Monte Cristo.

"Mengapa?"

Monte Cristo membalikkan badan. Haydee berdiri di belakangnya menatap wajahnya dengan air muka heran dan cemas.

"Karena besok engkau akan menjadi orang merdeka, Haydee," jawab Monte Cristo. 

"Karena mulai besok engkau harus menempati tempatmu yang terhormat dalam dunia ini. Karena aku tidak menghendaki hidupku membuat gelap jalan hidupmu. Engkau putri seorang pangeran. Aku kembalikan kepadamu nama dan kekayaan ayahmu."

Haydee menjadi pucat, dan berkatalah dia dengan suara tertahan tahan.

"Kalau begitu Tuan bermaksud meninggalkan
saya?"

"Haydee! Haydee! Engkau masih muda dan cantik, lupakan aku dan carilah kebahagiaan."

"Baik, Tuan. Perintah Tuan akan saya laksanakan dengan baik dan patuh. Saya akan melupakan Tuan dan mencari kebahagiaan." 

Dia mundur untuk pergi.

"Oh Tuhanku!" Valentine memekik cemas. 

"Tidakkah Tuan lihat betapa pucat wajahnya. Tidakkah Tuan lihat betapa menderitanya?"

"Mengapa engkau mengharapkan beliau mengerti, Valentine?"

Tanya Haydee dengan air muka menunjukkan
putus asa. 

"Beliau adalah tuanku dan aku budaknya. Beliau berhak untuk tidak mau melihat apa yang ada padaku dan terasa olehku."

Monte Cristo bergetar mendengar suara Haydee yang telah menyentuh tali-tali terhalus hatinya. 

''Mungkinkah idamanku menjadi kenyataan? Haydee, apakah engkau merasa bahagia bersamaku?"

"Saya masih muda, Tuan," jawab Haydee perlahan-lahan.

"Saya mencintai kehidupan manis yang telah Tuan berikan kepada saya, dan saya akan merasa menyesal bila harus mati"

"Maksudmu, bila aku meninggalkanmu engkau akan ..."

"Saya akan mati. Benar, Tuan."

"Berarti engkau mencintaiku."

"Oh, Valentine. Beliau menanyakan apakah aku
mencintainya! Tolong menjawabnya, Valentine. Tolong!"

Hati Monte Cristo mengembang karena bahagia. Dia membuka kedua lengannya dan Haydee melemparkan dirinya ke dalam pelukannya sambil menangis bahagia. 

"Saya mencintaimu!" katanya. 

"Saya mencintaimu seperti mencintai
jiwa saya sendiri, oleh karena bagi saya, Tuan adalah laki-laki yang terbaik, yang termulia dan teragung dalam dunia ini!"

''Terima kasih, bidadariku," jawab Monte Cristo. 

"Rupanya, Tuhan yang telah membesarkan aku untuk menghadapi musuh-musuhku dan memberikan kemenangan kepadaku, tidak menghendaki aku menebus dosa pada akhir
kemenanganku. Aku bermaksud menghukum diri sendiri, namun rupanya Tuhan mengampuniku. 

Mungkin cintamu itu akan membuat aku melupakan segala sesuatu yang harus aku lupakan. Sepatah katamu itu, Haydee, telah
membukakan hatiku lebih lebar daripada kearifan selama dua puluh tahun. Hanya engkaulah sekarang yang masih kumiliki dalam dunia ini. Bersamamu aku akan mengarungi
hidup baru. Bersamamu aku akan tahan menderita dan bersamamu pula aku akan merasa berbahagia. 

Betulkah saya telah dapat menangkap kebenaran ini, ya Tuhan? Namun, apakah ini hukuman atau ganjaran, saya ikhlas menerimanya. Mari Haydee, mari."

Sambil menggandeng Haydee, Monte Cristo menekan tangan Valentine lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan itu.

Satu jam lamanya Valentine menunggui Maximilien dengan penuh ketegangan. 

Akhirnya dia melihat dada Maximilien
naik-turun, yang menunjukkan kehidupan telah kembali ke dalam tubuh anak muda itu. 

Lambat laun mata Maximilien terbuka. Mereka saling berpandangan pada mulanya. 

Penglihatan Maximilien makin lama makin terang. Bersamaan dengan pulihnya penglihatannya, perasaannya pun kembali. Namun pedih pun mulai datang.

"Oh!" katanya putus asa. 

"Aku masih hidup! Count of Monte Cristo menipu!" 

Dia bangkit untuk mengambil pisau di atas meja.

"Sadarlah, kekasih, dan pandanglah aku," 

Kata Valentine dengan senyum yang menawan.
Maximilien berteriak lagi. Maximilien meragukan panca inderanya. Kepalanya terasa pening melihat apa yang disangkanya tadi sebagai bayangan. Akhirnya dia jatuh berlutut.

Esok paginya ketika matahari baru terbit Maximilien dan Valentine berjalan-jalan bergandengan sepanjang pantai.

Bintang-bintang terakhir masih berkilat-kilat di langit pagi. Tiba-tiba Maximilien melihat seorang laki-laki berdiri di balik sebuah batu karang, menunggu Maximilien memanggilnya.

Maximilien berkata kepada Valentine sambil
menunjuk, 

"Jacopo, kapten kapal pesiar.”

Valentine memanggil Jacopo.

"Ada apa, Kapten Jacopo?''tanya Maximilien.

"Count of Monte Cristo menyuruh saya menyerahkan surat ini''. 

Maximilien membuka dan membacanya:

Maximilien yang baik, Sebuah kapal telah menantimu di pelabuhan. Jacopo akan
membawamu ke Livorno, di mana Tuan Noirtier menunggu kedatangan cucunya yang ingin beliau berkahi sebelum kaubawa dia ke jenjang perkawinan. 

Segala sesuatu yang berada dalam gua di pulau ini, rumahku di Champs Elysees dan sebuah rumah peristirahatan kecil di Treport adalah hadiah perkawinan dari Edmond Dantes untuk putra majikannya, Tuan Morrel. 

Ajaklah bidadari yang mulai hari ini akan mendampingi hidupmu berdo'a bagi seorang laki-laki yang untuk sesaat seperti Setan pernah merasa dirinya sama dengan Tuhan, tetapi pada akhirnya dengan segala kerendahan hatinya menyadari bahwa
kekuasaan dan kebijaksanaan yang mutlak hanya berada di tangan Tuhan.

Camkanlah ini, Maximilien, rahasia yang kutemukan dan mudah-mudahan dapat menjadi pegangan bagimu: 

sebenarnya dalam dunia ini tidak ada kebahagiaan atau ketidakbahagiaan
itu.

Yang ada hanyalah perbandingan antara sesuatu keadaan dengan keadaan yang lain. Hanya orang yang pernah merasakan puncak kepedihan akan dapat merasakan puncak kebahagiaan.

Ada perlunya suatu saat kita mengharapkan kematian, Maximilien, untuk mengetahui dengan tepat, betapa baiknya sebenarnya hidup ini. 

Hiduplah, Maximilien, dan berbahagialah, wahai belahan hatiku, dan janganlah lupa bahwa, sampai saat Tuhan berkenan membuka tabir masa depan seseorang, seluruh kebijaksanaan kemanusiaan bersimpul hanya kepada dua kata ini: Menunggu dan mengharap.

Sahabatmu

EDMOND DANTES COUNT OF MONTE CRISTO

Maximilien melihat ke sekelilingnya seperti mencari sesuatu,

"Kebaikan Count of Monte Cristo ini sudah sangat di luar jangkauan perkiraan," katanya. 

"Di mana beliau sekarang? Antarkan saya kepadanya."

Jacopo menunjuk ke kaki langit.

"Apa artinya?" tanya Valentine. 

"Di mana beliau? Di mana Haydee?"

"Lihatlah," kata Jacopo.

Kedua muda belia itu melihat ke arah yang ditunjukkan Jacopo. Pada garis hitam yang memisahkan langit dan samudera mereka melihat layar putih.

"Sudah pergi!" kata Maximilien. 

"Selamat jalan, sahabatku, ayahku!"

"Sudah pergi,” ulang Valentine. 

"Selamat jalan, sahabatku! Selamat jalan, saudaraku!"

"Mungkinkah kita akan bertemu kembali?"

"Kekasih,” jawab Valentine, 

"Count of Monte Cristo baru saja menasihati kita bahwa seluruh kebijaksanaan manusia bertumpu hanya kepada dua patah kata:

Menunggu dan mengharap."





                              TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...